RETREAT PERPISAHAN HASE KANNA
(Bagian 4)

(Penerjemah : Hikari)


“Haa… … Aku benar-benar capek…”

Begitu dia kembali dari tempat pemandian, Kanna melompat ke sofa besar di ruang keluarga sambil mengenakan yukata besar.

Ngomong-ngomong, sulit rasanya diseret-seret oleh Misaki. Ini adalah pengalamannya yang pertama seumur hidupnya untuk pergi ke tempat-tempat ini. Bahkan hanya dengan mengingatnya pun, wajahnya memerah.

Hari ini dia benar-benar kelelahan mengikuti Misaki sepanjang waktu dari awal hingga akhir. Jantungnya tidak pernah berdebar secepat ini. Terutama baru-baru ini, dia tadinya mencoba untuk menjalani hidup yang tenang dan tidak terlihat dalam peristiwa apapun, jadi dia tidak merasa tidak nyaman dengan situasi ini. 

“Kapan kita akan pulang…?”

Retreat perpisahan Sorata sekitar empat hari dan tiga malam.

Jika sesuai dengan jadwal tersebut, ini akan menjadi sisa tiga hari yang mengerikan.

Dengan pemikiran tersebut, awan-awan melankolis memenuhi kepala Kanna.

Akan tetapi, ada juga hal-hal yang bisa dibilang bagus, untuk sementara waktu.

Di perjalanan kembali ke kamar dari pemandian umum, dia bertemu dengan Sorata di toko suvenir hotel.

Gadis itu sangat senang ketika dia dipuji karena wajahnya yang tidak memakai kaca mata.

Saat mengangkat wajah dari sofa, wajah Kanna terpantul di kaca jendela. Dia mencoba memperbaiki rambutnya dengan tangan, tapi dia tidak memakai kaca mata jadi dia tidak bisa melihatnya dengan baik.

Sebagai gantinya, Kanna mengambil kemasan kertas yang dia bawa-bawa sejak tadi.

Sorata membelikan dia gantungan hiasan handphone yang membuatnya penasaran saat di toko suvenir.

Dia melepaskan selotip dan mengeluarkan isinya.

Karakter beruang. Ini adalah “beruang iblis” Hokkaido yang terbatas model beruang putih.

Dia mengeluarkan handphone dari dalam keranjang baju gantinya dan memutuskan untuk memasangnya.

Rasanya sedikit membuat frustrasi saat memasukkan tali tipis itu melewati lubang. Walau awalnya tidak masuk dengan mulus, tapi sekarang hasilnya cukup bagus.

Saat dia menyentuh beruang yang bergantung di handphone dengan jemarinya, benda itu berayun maju mundur dengan manisnya.

"Wow!"

Kemudian dia mendengar suara aneh yang mengekspresikan perasaannya.

“Jangan bersuara aneh.”

“Kau sengaja, ‘kan?”

"Kau berhasil melakukannya, ya?"

"Apa maksudmu?"

“Karena, suasana hatimu sedang bagus. Apa kau baik-baik saja?”

Saat diberitahu begitu, dia menyadari bahwa mulutnya sedang terbuka dan membiarkan kakinya menjuntai keluar (TL: Mungkin, maksudnya Kanna keliatan santai dan riang banget)

“Ini seperti seorang gadis yang sedang memperhatikan hadiah yang dia dapat dari pacarnya! Sadar! Kau seharusnya bukan gadis cantik seperti itu! Kembalilah!”

“Kalian ini ~!”

Kanna melampiaskan rasa frustrasinya dan merutuki Iori.

Akan tetapi, bell berdering menyela kata-kata berikutnya.

Kelihatannya ada seseorang yang datang berkunjung.

Kanna mendekati pintu masuk sambil merapikan lipatan kerah yukatanya.

Dengan sedikit waspada, dia membuka pintunya perlahan.

Adalah seseorang yang mengenal Kanna yang berdiri di koridor.

Tetangga sebelah kamar Kanna di Sakurasou…. Kelas tiga departemen Seni yang tinggal di Kamar 202. Shiina Mashiro.

Kulitnya putih seakan transparan seperti langit berbintang Hokkaido.

Tubuhnya halus dan ramping. Terlihat rapuh sehingga memunculkan keinginan untuk melindunginya, atmosfir lembut yang terlihat memancar dari seluruh tubuhnya. Tapi, di saat yang sama, Kanna dapat merasakan kekuatan dari inti diri yang bermartabat di matanya.

Dari banyak pertemuan Kanna, gadis ini jelas adalah orang yang sepertinya yang paling menakutkan.

Bahkan sekarang setelah tiga minggu berlalu sejak dia pindah ke Sakurasou, ketika dia berdiri di depan mata gadis itu, rasanya menakutkan bagi Kanna untuk menatap mata Mashiro.

Dia memiliki sesuatu di tangannya. Sehelai kain putih. Dari bentuknya, apakah itu sebuah gaun?

"Kanna"

Mashiro berbicara dengan suara yang mirip sebuah bel.

“Oh, maaf. Tunggu sebentar.”

“Di mana Misaki?”

“Dia di dalam, silakan masuk.”

Saat Kanna Merapat ke dinding untuk membuka jalan, Mashiro masuk ke kamar tanpa bersuara.

Ketika kembali ke ruang keluarga, Misaki tanpa disangka menghubungkan perangkat game ke TV layar lebar, dan mulai bertarung dengan Iori di game itu. Dari mana sebenarnya dia membawa itu?

"Misaki"

"Oh, Mashiron, mau ikut main?"

"Okay"

“Oh, aku lupa bilang, tapi aturannya adalah yang kalah harus melepaskan bajunya satu persatu, Iorin!”

“Benarkah! Yahoo! Apa ini, pembunuhan instan!?”

Di layar terpampang huruf KO. Ronde kedua juga diselesaikan dalam hitungan detik.

"Memalukan, Iorin!"

“Karena aku pemula, tolong belas kasihannya.”

“Yah, Oke deh! Jadi, ayo lepaskan, Iorin!”

"Ya..."

Iori menaruh tangannya ke pengikat yukata tempat pemandiannya. Dia mencoba melepaskannya tanpa ragu, jadi Kanna menarik tali pengikat itu dengan kekuatan penuh supaya itu terikat erat.

“Oh, kau. Apa yang kau lakukan!”

“Apa kau mengerti betapa menyebalkannya kalau kau melepaskan itu? Apa hampir mustahil untukmu mengerti?”

“Tidak seperti kau, aku memakai celana dalam, jadi aku masih bisa melakukannya. Kau menghalangiku!”

Berkata demikian, Iori menarik ke atas bagian bawah yukatanya. Dia sepertinya membeli itu di toko suvenir, dan menunjukkan celana pendek dengan corak beruang asli.

"......."

Meskipun ingin memprotes sebanyak bintang di langit, Kanna memiliki alasan untuk kehilangan kata-kata. Mungkin Iori hanya asal bicara, tapi Kanna memang tidak memakai celana saat ini, karena dia memakai yukata...

Juga ada alasan lainnya. Setelah apa yang terjadi, dia merasa ingin melepaskan rasa stress yang dia dapat hari ini, jadi ketika berganti baju, dia mengenakan yukata tanpa apa-apa di dalamnya.

“Misaki-san, tolong berikan aku waktu untuk berlatih!”

Benar-benar serius, Iori menundukkan kepala pada Misaki. Dia benar-benar bersujud. Kanna melihat hal ini untuk pertama kali seumur hidupnya.

"Baiklah!"

"Yosh! Lakukan yang terbaik diriku! Puja dada hingga hari terakhir!" (TL : Aq pengen ngubur hidup-hidup ni bocah mesum… -_-)

Iori mulai berlatih game itu sendirian dengan penuh kepercayaan diri. Akan tetapi, saat melihat layar, jalan untuk menuju kemenangan sepertinya tak berujung.

"Jadi, ada apa Mashiron?"

"Besok, Sorata dan Otaru"

"Oh, kencan! Aku suka itu, aku suka itu!"

“Baju, menurutmu ini tidak apa-apa?”

Dia membentangkan gaun terusan yang ada di tangannya dan mencocokkan ke tubuhnya.

"Yeah, manis, Mashiron!"

"Oh, ini bagus."

Ekspresinya sedikit melembut seakan dia merasa lega.

“Sebagai tambahan, kau sebaiknya juga memakai topi!”

Misaki mengeluarkan sebuah kotak berbentuk lingkaran dengan sebuah topi besar di pakaian Kanna dan menaruhnya di atas kepala Mashiro.

Dipasangkan dengan gaun putih itu, kesannya menjadi berbeda.

“Aku mau minta bantuan Misaki.”

"Apa, apa?"

“Ajari aku dandan.”

"Oke!"

Berkebalikan dari Kanna yang sedikit kaget dengan kata-kata Mashiro, Misaki menerimanya saat itu juga.

“Nah, ayo, Mashiron!”

Misaki menarik tangan Mashiro dan menuju ke ruangan di sebelah jacuzzi. Ini benar-benar Royal Deluxe Suit di mana ruangannya terpisah dari toilet yang biasa. Segalanya dibangun dengan mewah, ada terlalu banyak sampai rasanya sia-sia.

Dia tidak repot-repot berusaha memahami kenapa ini diperlukan.

Semuanya ini demi besok. Karena Mashiro akan mengelilingi Otaru dengan Sorata… ….

Dengan demikian, dia mencoba untuk mempercantik diri meski hanya sedikit. Dari sudut pandang Kanna, Mashiro sangatlah cantik sekalipun tidak berdandan. Dia terlalu cantik, itu menakutkan… …. Tapi tetap saja, demi Sorata, dia tetap mencoba untuk menjadi lebih cantik.

Dengat erat, inilah perasaan saat jatuh cinta. Tidak ada rasa aman dengan hal ini, dan selalu ada sesuatu untuk dikhawatirkan di suatu tempat.

Saat dia menyaksikan penampilan Mashiro yang dengan penuh antusias menerima pelajaran dari Misaki, Kanna merasa hatinya semakin lama semakin tidak nyaman. Dia merasa sesak dan harus mengalihkan pandangan.

“Benar-benar menang, Misaki-san!”

Saat berbalik, ada Iori yang sedang melakukan latihan khusus game dalam sosok yang mati-matian.

Tetap terdiam dan mematikan perangkat game.

“Oh, apa yang kau lakukan… Apa kau akan menghentikan mimpiku? Aku akan menghancurkanmu sejak awal, Dada Rata!”

“Keluar dari kamar.”

"Eh? Kenapa?"

“Aku akan tidur.”

“Memangnya kenapa kalau kau mau tidur?”

“Aku tidak bisa tidur di ruangan ini denganmu. Keluar sekarang atau aku akan menghubungi polisi.”

Dia mengambil handphone dan menekan”1", "1", "0". Suara "Pi", "Pi", "Po" terdengar mengiringi.

“Hei, barusan kau benar-benar menekan 110?”

“Seperti yang diduga dari departemen musik, hanya telinganya saja yang bagus.”

“Aku tidak bisa lolos Suiko kecuali aku punya kepekaan nada yang absolut!”

“Oke, jadi silakan pergi lebih awal atau kau mau aku menekan tombol panggilnya?”

“Yah, jangan tekan, sama sekali jangan menekannya! Bukankah kau terlalu memaksa?”

"Yeah"

Kanna menaruh jarinya di tombol panggil.

“Tunggu, tunggu, tunggu — aku mau keluar — aku mau keluar. Sial! Ingat saja, kau….”

“Aku mengerti kau paham.”

Iori keluar dari kamar dengan mata sedikit berair sambil terus melemparkan pandangan hingga akhir pada Kanna… ….

Begitu Iori menghilang, suasana di sekeliling menjadi sunyi.

Di ruang dandan, Mashiro sedang berusaha keras mencoba berdandan. Kanna pindah ke kamar tanpa melihatnya hingga akhir.

Dia berbaring di tempat tidurnya, membenamkan wajahnya di bantal.

Ini hanyalah sebuah kemarahan yang tidak beralasan pada Iori, tapi pikirannya jadi lebih ringan dari perkiraannya.

Karena ini adalah perlakuan yang sangat kasar, ayo coba bersikap lebih lunak saat esok hari. Dia memikirkan hal ini dan memejamkan mata. Karena begitu lelahnya hari ini, kesadaran Kanna langsung menghilang ke alam mimpi.




Sebelumnya | Daftar Isi | Selanjutnya