JANTUNG YANG BERDEBAR BAGIAN 1

Penerjemah: Zerard

“Salam sejahtera, priest bersisik.”

“Mm. Dan semoga anda juga menemukan medan perang yang baik.”

Wanita bermata satu yang merupakan komandan di sini mengucapkan salam perpisahannya kepada para petualang, dan kemudian kereta kuda mereka berlari melintasi perbatasan dan memasuki Mid-world.

Sudah lewat seminggu semenjak mereka pergi dari kota perbatasan. Langit begitu biru, angin membawa aroma lahan, dan secara keseluruhan, perjalanan ini cukup menyenangkan. Dan yang terbaik, para kuda dan kereta yang di dapatkan Female Merchant adalah kualitas terbaik.

Ketika Priestess membayangkan sebuah kereta, bagasi dan tirai adalah batasan yang hanya dia dapat bayangkan, oleh karena itu dia terbengong oleh kendaraannya sekarang. Kendaraan ini mempunyai bantalan bangku sutra bergaris yang mudah memantul, dan bangku itu cukup lebar untuk meluruskan kakinya. Dan bangku ini sama sekali hampir tidak bergetar! Terdapat pegas di bawah lantai, yang di jelaskan oleh Female Merchant, yang memegang tali kuda. Reaksi Priestess ada sebagai berikut:

“Pegas”

Hanya itu saja.

Ketidaknyamannya atas tidak mengetahui mekanisme seperti apa yang terlibat sama sekali tidak bertahan lama. Itu karena, dari yang sebelumnya berkendara di tengah-tengah barang bagasi dan berpindah ke kereta yang paling mewah membuat dirinya menjadi seperti permaisuri.

Ada juga kereta yang di kendarai archbishop itu, tapi itu di buat secara rahasia…

Ini—Ini berbeda. Ini adalah kereta terbaik yang dapat di peroleh oleh Kepala Asosiasi Pedagang. Priestess tengah menikmati momen langka ini.

“Hrrm…” Sebaliknya, High Elf Archer tengah mengembungkan pipinya. “Kelihatannya dia sangat bersahabat denganmu.” Dia menggoda Lizard Priest, telinga panjangnya berkedut. “Sangat bersahabat. Kamu kenal dia dari suatu tempat?”

“Oh, seorang kenalan saya dahulu kala,” Lizard Priest berkata dengan anggukan pelan, tidak terusik oleh nada High Elf Archer. “Ahem—walau saya mengatakannya dahulu kala, bukan berarti satu atau dua abad.”

“Yeah, yeah, aku paham maksudmu,” High Elf Archer membalas, membusungkan dada sedangnya. “Kalian orang-orang bernyawa pendek berpikir kalau lima puluh tahun itu waktu yang lama kan?”

“Ha-ha-ha-ha-ha-ha-ha!” Lizard Priest tertawa terbahak-bahak pada kebenaran ini. Atau mungkin dia terkejut mendengar High Elf Archer membuat lelucon. “Saya menggangap beliau sebagai mantan rekan seperjuangan…atau mungkin mantan atasan.”

“Jadi temanmu?”

“Benar.”

“Huh, beneran,” High Elf Archer bergumam, kemudian merosot bersandar pada kursinya. Hal itu mungkin tampak tidaklah sopan, namun sang elf membuat gerakan itu sangat terlihat elegan. Dia tampak seperti berada di dalam ruamhnya sendiri.

Oleh karena itu bukanlah sikap gadis itu yang membuat Dwarf Shaman mendengus, melainkan pakaiannya. “Kamu nggak bisa benerin pakaianmu itu kah, gadis?”

“Huh? Nggak ada yang salah dengan pakaianku,” dia membalas. Dia mengangkat kakinya dan secara sekejap menjadi lurus kembali. Pakaian yang yang gunakan sangat berbeda dari apa yang biasanya dia pakai.

Mereka sedang pergi ke Negara asing dan berpetualang di dalam gurun. Masing-masing dari mereka mempersiapkan perlengakapan mereka. Goblin Slayer menggunakan mantel di atas armor biasanya untuk memblokir matahari sebisa mungkin. Cahaya akan memanaskan baja, hal terbaik yang bisa dia harapkan adalah sedikit terpangang, namun jika dia tidak berhati-hati, dia dapat mati di dalam armor itu.

Akan tetapi, High Elf Archer, benar-benar berubah total. Dia sedang menggunakan baju berlengan panjang, berkeliman panjang yang terbuat dari kain tipis hingga menutupi kakinya. Bahkan terdapat kain yang terlipat di sekitar kepalanya. Sebuah sabut di sekitar pinggul untuk menjaga semuanya menjadi satu. Pakaian itu terlihat mudah untuk bergerak, tetapi…

“Aku tahu kamu sibuk membeli sesuatu di ibukota. Dan kamu selalu penasaran kenapa kamu nggak punya uang sama sekali.”

“Koin itu seperti benih, dwarf sayang. Kalau kamu menyimpannya, mereka akan membusuk. Menggunakan mereka, adalah apa yang membuat mereka menjadi berguna.”

“…Aku benci mengakuinya, tapi sesekali kamu benar-benar mengucapkan sesuatu yang masuk akal.”

“Bakal aneh kalau nggak membiarkan mereka tumbuh,” High Elf Archer bergumam di balik napasnya, dan Dwarf Shaman akhirnya melemparkan handuk menyerah. Dwarf Shaman mengangkat bahu, sebuah gerakan yang di anggap High Elf Archer sebagai pengakuan kekelahan. Dia menjentikkan telinganya senang dan menjulurkan kepalanya keluar menuju bangku kusir. “Terima kasih sudah mendapatkan ini semua,” dia berkata, membentangkan lengannya untuk menunjukkan pakaiannya. “Aku pikir kalau kita akan pergi ke Negara lain, aku ingin terlihat seperti aku pantas untuk berada di sana. Aku suka banget!”

“Oh, er, tentu saja…” Female Merchant berkata, terkejut oleh ucapan tiba-tiba itu. “Tidak perlu di pikirkan. Aku sama tidak tahunya tentang tempat ini seperti dirimu… Kalau kamu suka pakaiannya, itu adalah yang terpenting.” Telinganya yang sedikit memerah menandakan bahwa dia tidaklah sepenuhnya tidak senang dengan pujian High Elf Archer. Priestess tersenyum, kemudian memutuskan untuk membantu teman tersayangnya. Itu karena, dirinya sendiri juga sangat tidak terbiasa dengan pujian.

“Aku nggak tahu banyak tentang perdagangan, tapi bukannya kamu menangani banyak hal dari Negara asing?”

“Aku banyak menangani dan melihat berbagai macam hal. Tapi aku jarang untuk mencoba dagangan…” Wajah Female Merchant tampak lega karena mereka telah kembali pada subyek yang dia ketahui. “Apalagi, lebih jarang lagi aku…ahem…” Dia terdiam sesaat untuk mencari kata. “…pergi ke toko dan meminta sesuatu di buatkan untuk seorang teman.”

“Itu bukan hal yang sama?”

“Sama sekali tidak sama. Aku gugup.”

Priestess tertawa seraya Female Merchant menggosok tengkuk lehernya sendiri, menunduk malu. Tidak ada seorangpun di sini yang mengetahui tanda yang ada di titik itu. Namun hanya untuk alasan itu, dia bisa sesantai dengan mereka, dan itu membuatnya lebih bahagia dari apapun.

“Aduh, aku seharunya mengundangmu saat kakakku nikah.” High Elf Archer menendang kakinya penuh kekecewaan. Apakah perubahan subyek tiba-tiba itu karena ketidak mampuannya untuk fokus pada satu hal dalam jangka waktu yang lama, di karenakan dirinya adalah seorang elf atau hanya karena dia adalah dia?

Kayaknya sedikit dari dua-duanya,mungkin, Priestess berpikir dan tersenyum, menangkap mata Female Merchant. Female Merchant menyeringai membalas.

“Hmm?” High Elf Archer berkata.

“Oh, nggak apa-apa. Nggak apa-apa kan?”

“Nggak, nggak. Nggak apa-apa sama sekali.”

“Oh yeah? Baiklah, baiklah.” Sang elf bergumam dan melihat keluar jendela, namun kemudian dia menepuk kedua tangannya, berteriak. “Itu dia! kamu harus pergi kerumahku sehabis ini. Mereka sedang di tengah perayaan dan aku yakin mereka akan senang melihatmu!”

Female Merchant terlihat tidak nyaman. “Er, ah… Kamu yakin?”

“Pastinya!” telinga High Elf Archer menegak  dan dia menggambar sebuah lingkaran di udara dengan jarinya. “Aku akan tulisan surat pengantar untukmu! Karena aku nggak tahu apa aku bisa pergi bersamamu. Kita bisa buatkan kamu gaun dan segalanya!”

“Te-terima kasih…banyak.”

Female Merchant menundukkan kepalanya menghormati sementara High Elf Archer memikirkan banyak rencana. Priestess memperhatikan mereka berdua, berpikir. Sebuah surat pengantar. Dengan kata lain, bukti bahwa dia teman dengan permaisuri elf.

Priestess hanya dapat membayangkan bagaimana raja elf muda itu bereaksi. Setidaknya istrinya, Priestess yakin, akan cukup merasa senang. Itu karena, bagaimana mungkin mereka tidak mencintai adik kecil tak berdosa ini?

Hal itu terjadi di saat Priestess sedang memikirkan ini.

“Wow…” Matanya melebar seraya dia melihat pemandangan di luar kereta. Lahan hijau yang menemani mereka dalam perjalanan tiba-tiba berubah menjadi pasir putih yang membentang. “Luar biasa… Aku kira perubahannya akan bertahap.”

“Aku juga. Aku belum pernah melihat ini secara langsung,” Female Merchant membalas dengan anggukkan.

Pemandangan telah berubah secara drastis.

Kita sudah berjalan sangat jauh. Di hadapi dengan langit biru di atas kepala, sebuah langit yang tampak dekat dan jauh, Priestess tidak dapat melawan hasratnya untuk menjulurkan kepalanya keluar jendela, dia mendapati udaranya panas dan kering, benar-benar, dia telah begitu jauh dari perbatasan barat dari kerajaannya.

“…Mungkin ini sudah saatnya untuk memasang sepatu salju di roda,” sebuah suara bergumam. Itu adalah, tidak di ragukan, seseorang yang terdiam hingga momen ini :Goblin Slayer. High Elf Archer menegurnya karena tiba-tiba ikut campur dalam percakapan, namun tampaknya pria itu tidak pedulu.

Pria itu meluruskan lengan dan kakinya perlahan, kemudian mulai mengencangkan pengencang pada armor kotor dan helmnya. Priestess dengan cepat mengikuti, memastikan baju besi, yang telah dia longgarkan selama perjalanan, terikat kencang. Melonggarkan pengencang selama masa istirahat adalah aturan pasti yang telah lama dia pelajari dari pria itu.

“Ka-kamu dari tadi terbangun?” Priestess bertanya.

Pria itu membalas dengan anggukkan cepat. “Aku cuma istirahat sebentar. Di saat kita meninggalkan Negara kita, kemungkinan serangan goblin itu akan sangat besar… Hei.”

“Yeah, segera.” Adalah Female Merchant yang menjawabnya kali ini. Dengan gerakan pada tali pelana, dia menyuruh para kuda untuk memperlambat larinya dan kemudian berhenti. Di belakang mereka, kereta  yang membawa bagasi juga turut berhenti. Goblin Slayer melihat keluar jendela untuk memastikan, kemudian berputar mengarah Dwarf Shaman dan Lizard Priest.

“Apa yang harus kita lakukan?” dia bertanya.

“Seharusnya sudah jelas kan, eh, Scaly?”

“Benar, hanya terdapat satu hal…”

Ketiga pria saling bertukar pandang, kemudian membentangkan kepal tangan mereka, membuat berbagai macam bentuk.

“…Hrm.”

Adalah Goblin Slayer yang mendengus, meninggalkan kereta. Adalah tugasnya untuk memasang sepatu salju pada roda kereta.

*****

High Elf Archer memperhatikan seekor burung yang berputar di atas dirinya di langit. “Sepatu salju. Kenapa kita butuh sepatu salju?”

Dengan cepat menjadi bosan di dalam keretanya yang tidak bergerak, dia telah memanjat keluar dan naik kea tap. Dia menghabiskan waktunya dengan mengatakan betapa damainya saat ini, namun dengan cepat dia menjulurkan lehernya untuk melihat apa yang sedang terjadi dengan roda-roda.

“Aku nggak pernah menggunaknnya di atas pasir sebelumnya. Tidak ada jaminan.”

High Elf Archer mungkin memanglah tidak sabaran, namun Goblin Slayer, tampak tetap tenang. Dia memaparkan sebuah papan dengan semacam pipa putar yang menempel pada papan itu tepat di depan roda kereta, kemudian memberikan tanda kepada Female Merchant dengan lambaian tangannya. Wanita itu mengangguk dan membuat kereta bergerak maju, memprovokasi sebuah “Yipes!” dari High Elf Archer di atap. 

“Dalam pegunungan salju, roda kereta, seperti kaki seseorang, dapat tersangkut di dalam salju dan nggak dapat bergerak. Itu mungkin juga berlaku untuk pasir.”

“Yeah, mantap. Kamu sudah taruhan berapa Orcbolg?” Seraya pria berarmor ini menarik ujung dari papan agar terkait dengan roda, High Elf Archer melompat turun melewati kepala berhelmnya. Dia bahkan tidak menghambur pasir di saat dia mendarat, hanya mengambil beberapa langkah dansa ke depan. Tentunya tidak meninggalkan jejak—itu karena, dia adalah seorang high elf. “Kurasa kita nggak akan membutuhkannya sih.”

“Maka kita akan tahu untuk di waktu berikutnya.”

“Iya, iya.” High Elf Archer menyeringai dan mengangkat bahu. Ketelitian dari petualang aneh ini bukanlah sesuatu yang baru.

“Bagaimana kelihatannya, Beardcutter?” Dwarf Shaman memanggil dari dalam jendela, walaupun dia tidak merasa bahwa pertanyaan itu benar-benar di perlukan. Sepatu salju ini telah di buat oleh para dwarf, dan dia sangat yakin bahwa tidak akan ada masalah dengan sepatu ini.

“Kita harus mencobanya untuk bisa yakin,” Goblin Slayer menjawab dengan gelengan kepala. “Aku bisa saja salah memasangnya.”

“Aku yakin kamu mengikuti instruksinya, tapi instruksi itu nggak selalu sempurna.”

Mereka telah menggunakan beberapa tali bagasi untuk mengamankan kereta ini dari bebannya sendiri, namun tidak ada cara yang jelas untuk mengikat mereka. mungkin akan terlihat lucu jika mereka gagal, namun pergoyangan dari bagasi dapat dengan mudah membalikkan kereta ini. Jika kamu hanya mentertawakan ini atas nama kebodohan, maka kamu tidak akan membuat kemajuan atau mencari cara untuk lebih baik. Para dwarf sangat paham lebih dari siapapun bahwa baja hanya dapat di tempat dengan di panaskan, di pukul, dan kemudian di dinginkan.

Dwarf Shaman mencondongkan tubuh gemuknya keluar jendela sejauh dia bisa untuk memeriksa roda kereta, kemudian memberikan anggukan menyetujui. “Lebih bagus lagi kalau kita bisa ganti sepatu kudanya juga…”

“Sepatu kuda,” Goblin Slayer mengulangi pelan. Tentu saja dia mempunyai pengetahuan untuk itu, tapi dia tidak mengetahui caranya. “Apa sepatu kuda perlu di ganti di gurun?”

“Dari yang aku dengar, pengelana pasir menggunakan sepatu bundar untuk kuda mereka. Mungkin untuk menjaga kuda mereka agar nggak tenggelam di pasir atau mungkin untuk meringankan beban di kaki kuda.”

“Hmm.” Goblin Slayer mendengus mendengar ini. Jika da ketika dia kembali, dia akan bertanya tentang ini kepada pemilik kebun. Orang itu mengetahui jauh lebih banyak mengenai hewan domestik di banding dirinya. “Untuk sementara, mungkin kita bisa lilitkan tapak mereka dengan penutup tapak alang-alang.”

“Pastikan mereka minum juga. Dan biarkan mereka merumput dulu sekarang, selagi mereka bisa.” Kemudian Dwarf Shaman menatap pada terik matahari di atas mereka. “Dan lakukan itu sebelum kamu masak di dalam armormu itu.”

“Rencananya begitu.”

Di kejauhan, High Elf Archer dapat terdengar mengeluh tentang betapa panasnya sekarang.

Kusir dari kereta bagasi di belakang mereka sedang melakukan persiapan sama untuk gurun. “Mau aku yang menjaga kudanya?” High Elf Archer bertanya ketika dia melihat ini. Dia di sambut dengan jawaban datar “Tolong” dari Goblin Slayer. High Elf Archer melompat ke atas kuda dan berbicara beberapa kata dalam sebuah bahasa yang tidak di kenal manusia.

Goblin Slayer tanpa bersuara menyibukkan dirinya sendiri dengan memasang sepatu salju pada roda kedua dan ketiga. Masing-masing fase dari pekerjaan itu di iringi dengan decitan kereta yang bergerak maju dan mundur, dan di dalam Priestess menekan alis dengan jarinya, mencoba untuk mengingat segalanya dalam ingatan. Suatu hari—suatu haru, dia mungkin akan mendatangi gurun seorang diri untuk melawan goblin. Bukan berarti dia dapat benar-benar membayangkannya, namun itu juga bukan berarti tidak akan terjadi.

Dan kalau memang terjadi, aku harus siap.

Tidak ada persiapan apapun yang dapat membuat diri seseorang merasa benar-benar puas—yang artinya, benar-benar menghilangkan kecemasan. Namun tetap saja, itu akan berguna. Tidak selalu atau di setiap situasi, namun dia akan senang jika terkadang itu membantu.

“…Tapi, aku kira itu bakal lebih…kamu tahulah, seperti seluncuran.” Ini adalah salah satu teka-teki yang ingin dia pecahkan.

Lizard Priest memutar kedua mata di kepalanya dan mencondong ke depan, terhibur oleh gumaman gadis itu. Pertanyaan dari generasi berikutnya adalah selalu memuaskan. “Terkadang terdapat lebih dari satu cara untuk menyelesaikan masalah.” Dia berkata.

Kereta, sebagai contoh, mungkin mempunyai dua atau empat roda, mereka mungkin akan di tarik oleh satu hewan atau beberapa. Mereka mungkin di desain khusus untuk membawa bagasi atau fokus pada kecepatan yang di inginkan sang pemilik. Terdapat jumlah kemungkinan variasi yang tak terbatas.

“Pilihan tertentu yang kita pilih tidaklah benar maupun salah. Seperti itulah jalannya dunia.”

“Begitu…” Priestess mengangguk. Ini masuk akal baginya.

“Terlebih, terkadang sebuah batu api dari surga dapat dengan tiba-tiba jatuh menghantam kita.”

Maksud dari ucapan itu adalah hal tak terduga dapat terjadi dalam kehidupan. Setelah mengatakan ini, Lizard Priest mengambil beberapa persediaan pangan—tidak, mungkin lebih tepat di sebut sebagai sebuah jajan ringan—yang terdiri dari sedikit keju dan mulai mengunyahnya.

Priestess memperhatikan dia yang sedang berteriak di tengah makanannya dengan senyum ramah, kemudian dia memutuskan untuk mempertanyakan pertanyaan berikutnya. “Kira-kira ada berapa banyak orang yang tinggal di sini.”

“Hmm… Mungkin kita akan mengetahui jawaban itu ketika kita tiba. Sebagai contih, kuda tidak dapat hidup tanpa rumput. “Lizard Priest memiringkan leher panjangnya dalam pemikiran, namun akhirnya dia melingkarkan ekornya dengan nyaman. “Sebuah kaki kuda membutuhkan air dan rumput. Jadi mungkin orang-orang ini mempunyai cara lain untuk berkendara. Mari kita lihat nanti…”

“…Aku dengar mereka mempunyai keledai dengan punuk untuk di kendarai,” Sebuah suara kecil berkata dari samping bangku kusir. Priestess menoleh untuk melihat Female Merchant yang sedang mengotak-atik tali pelana. “Dan sepertinya seperti kuda yang tidak bisa hidup di sini,” dia melanjutkan, “Keledai mereka tidak bisa hidup di lahan kita.”

“Oh-ho,” Lizard Priest bergumam, sangat merasa tertarik. “Apakah anda pernah menghadapi makhluk seperti ini sebelumnya?”

“Baru sekali,” Female Merchant berkata. “Hewan ini tidak bisa berjalan dengan sangat baik dan sangat mudah sakit…”

Priestess berpikir keras, namun tidak dapat mencari cara untuk merespon pertanyaannya sendiri, dia bertanya dengan nyaring. “Um, apa punuk ini, ada di…kepala keledainya?”

“Bukan, ada di punggung mereka,” Female Merchant mengklarifikasi. “Bentuknya seperti dua bukit.”

Wow… Priestess menghela, takjub, mencoba untuk membayangkannya. Sepertinya bayangan dirinya tentang unicorn yang mirip keledai telah salah. “Kamu tahu tentang banyak hal. Hebat banget.” Priestess terkesan.

Female Mercant tidak menjawabnya, namun telinga wanita itu menjadi merah. Priestess tertawa, yang hanya membuat temannya semakin malu.

Tidak lama setelah itu, Goblin Slayer memanjat masuk ke dalam kereta dengan “Aku selesai.” Dan dengan sebuah whoosh. Kereta melaju di atas pasir, membuat jalan di mana tidak ada jalan sebelumnya. Satu-satunya penanda yang dapat terlihat adalah patung Dewa Perdagangan yang setengah terkubur. Mereka tidak punya banyak pilihan selain bergantung pada tanda itu, tanpanya mereka mungkin akan terputar-putar di gurun dan mati kehausan.

Walaupun dengan resiko ini, Priestess—di temani oleh High Elf Archer dan Female Merchant juga—terpukau oleh pemandangan ini. Matahari mulai terbenam, cahayanya menjadi merah dan mencat warna pasir menjadi jingga lembut. Merah dan biru langit bercampur menjadi ungu, dan awan yang menangkap cahaya terakhirnya berubah menjadi putih bening.

Sementara angin tidak hanya membawa panas membara, namun juga sebuah aroma manis misterius dari suatu tempat.

“Bau ini seperti…bunga,” High Elf Archer berkata, pikirannya tampak jelas sedang berada di tempat lain. “Seperti bunga yang hanya mekar setelah hujan. Nggak ada yang tahu kapan terakhir kali mereka mekar di sini? Tapi baunya tidak pernah hilang.”

Adalah sulit untuk di percaya, namun elf itu benar. Ini adalah aroma dari sebuah bunga.

Siapa yang tahu ada bunga di gurun? Priestess dapat menciumnya juga, aroma flora samar di tengah pasir yang berhembus. “Itu…benar-benar sesuatu.” Dia berkata.

“Iya… Benar.” Bisikan itu berasal dari Female Merchant di bangku kusir. Dia melihat keseluruhan dunia merah samar, kemudian menggosok ujung kedua matanya. Sesuatu berkelip pada pipinya yang merona.

Entah mengapa, hal ini membuat Priestess sangat senang.

*****

“…Huh, menurutmu apa itu?” Pertanyaan tiba-tiba Female Merchant seraya senja semakin dekat dan sekelilingnya berubah menjadi bayangan. Tidak ada penginapan di dalam Mid-World. Mereka harus berkemah.

Akan tetapi, di saat itu, di dalam kegelapan di depan, mereka menemukan semacam sosok yang menghalangi jalan.

“Goblin?” Goblin Slayer bertanya dengan segera, mencondongkan dirinya ke bangku kusir. Sosok itu semakin menjadi jelas seraya mereka mendatanginya. Sosok itu memang memiliki bentuk seperti manusia.

“Sepertinya bukan…” Female Merchant menghiraukan bau tajam dari helm baja itu, menggeleng kepalanya yang membuat riak pada rambut emas madu miliknya. “Tapi aku tidak terlalu yakin. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas.”

“Masuk akal,” dia berkata. Kemudian dia memanggil, “Hei, kamu!”

“Hei, siapa?” High Elf Archer menggerutu, telinganya mengepak kesal, namun dia bertukar tempat dengan pria itu di dekat bangku kusir. Di balik gerbong penumpang, Goblin Slayer dengan cepat memeriksa pengencang di armornya. 

“Apa menurutmu kita harus bertarung…?” Priestess bertanya, seperti pria itu, dia juga memastikan segalanya yang dia perlukan. Mungkin dia sedang membayangkan kemungkinan mereka harus melompat dari atas kereta yang melaju kencang. Gerakan gadis itu cepat dan efisien.

“Entahlah—yang pastinya aku nggak suka ini,” Dwarf Shaman berkata, meneguk anggurnya dan kemudian menjilat tetesan pada jemarinya. Dia tampak tak gentar seperti biasa. “Mungkin seorang pria, mungkin seekor monster. Di sekitar sini, kalung peringkat dari Guild Petualang sama sekali nggak ada gunanya.”

“Ha-ha-ha, benar, benar. Ini memang sebuah lahan tak berhukum…” Bahkan Lizard Priest tetap tenang pada situasi ini, yang di mana membuat Priestess mengernyitkan alisnya. Ini bukanlah rasa takut. Ataupun keraguan. Kecemasan, mungkin.

Aku nggak suka ini.

Itulah pikirannya. Jika memang perlu, dia mungkin akan membandingkannya dengan momen petualangan di mana dia berdiri di depan pintu masuk sebuah gua. Adalah sensasi menggelitik sama yang menjalar di lehernya.

“Aku melihat armor. Perisai… tombak, mungkin.” High Elf Archer sedang melihat dengan seksama, berbisik kepada yang lain. “Sepuluh orang. Ada sebuah kereta yang berhenti di sana.”

“Ada?”

“Mereka melambai ke kita—mereka mau kita berhenti juga.”

“Kedengarannya seperti sebuah titik pemeriksaan,” Female Merchant berkata lega.

Daerah ini bukanlah milik kedua Negara, namun kedua Negara sama-sama mengirimkan patrolinya. Bahkan di sini di dalam Negara lain, oemandangan dari seorang prajurit itu setidaknya cukup menenangkan. Para pengelana mungkin tidak mempunyai dukungan dari Guild Petualang di sini, namun Female Merchant memiliki perlindungan dari negaranya. Female Merchant membawa sebuah surat perjalanan dengan segel dari raja sebagai bukti akan identitasnya. Dia hanya perlu memberikan dan menjelaskan bahwa dia adalah pedagang yang berjalan dengan pengawalnya…

Female Merchant berputar untuk berbicara melalui celah dari bangku kusir. “Mereka mungkin mau bagian dari apa yang kita bawa. Beberapa koin seharusnya sudah cukup.” Seperti itulah jalannya dunia. “Pertama, kita akan pergi ke kota terdekat. Kita mungkin tidak akan tiba malam, ini, tapi setidaknya kita bisa sampai ke sana besok. Lalu kita akan cari tahu tentang—“

Seraya dia mulai memperlambat keretanya, High Elf Archer berteriak, “Percepat!” Female Merchant melihat elf itu dengan bingung. “Lakukan saja!”

“Apa? Tapi… Tapi bagaimana dengan titik pemeriksaannya…?”

“Lupakan saja,” Goblin Slayer berkata menunjuk dari dalam kereta. “Jalan!”

“Ba-baik!” Tanpa terus mendebat, Female Merchant mencambuk tali. Suara tajam itu di ikuti dengan lenguhan dan kemudian suara tapak kaki kuda seraya kereta semakin mempercepat lajunya. Priestess hambir terjadi, terduduk menghantam kursinya di karenakan akselarasi tiba-tiba itu. Dia melihat keluar jendela untuk melihat para prajurit meneriakkan sesuatu dan datang mengejar untuk menghentikan mereka. namun kereta ini sangatlah kencang, Priestess tidak dapat mendengar apa yang para pria itu katakan.

Anehnya, bahkan para elf dan rhea pada kereta yang berhenti di sana juga ikut meneriaki mereka.

Tunggu… Apa?

Ada sesuatu yang tidak benar. Priestess berkedip. Apakah dia merasa ada sesuatu yang janggal ketika melewati titik pemeriksaan? Merasa ada yang aneh? Tidak, bukan itu. Mereka adalah—

“Perampok?!”

“Syukurnya mereka yang di sana meneriaki kita untuk lari.” High Elf Archer berkata, masuk kembali ke dalam gerbong penumpang dan mengambil busur dan panahnya. “Apa rencananya? Kamu mau melakukan ini?” dia bertanya kepada Goblin Slayer.

“Kalau mereka mengejar kita.” Dia adalah pemimpin party,  jawabannya cepat. Dia sangat paham bahwa adalah lebih baik untuk bertindak sekarang di banding memikirkan rencana brilian nantinya. “Kita datang ke sini untuk membasmi goblin. Bukan pencuri.”

“Hmm,” High Elf Archer berkata, namun tetap saja mulai menarik busur besarnya. Kesiapan sudah bagaikan napas bagi seorang elf. Namun tidak bagi Priestess. Gadis itu membuka dan menutup kepal tangannya yang memegang tongkat deriknya dengan cemas. “Bukannya kita harus menolong orang-orang itu…?” dia berkata.

“Eh, aku ragu kalau nyawa mereka dalam bahaya.” Dwarf Shaman membalas, membelai jenggotnya. “Tapi aku akui ini bukan pilihan mudah,” dia menambahkan dengan mengernyit. “Bandit-bandit itu mau repot-repot berdandan seperti seorang prajurit untuk memudahkan pencurian mereka. kurasa mereka nggak akan melakukan sesuatu yang terlalu gila.”

“Benar,” Lizard Priest menyetujui. “Seseorang bahkan mungkin dapat menyangka bahwa jika kita mengganggu, mereka mungkin akan mulai mengambil Sandra atau bahkan mulai membunuh.”

“Mungkin…”

Apakah yang lain benar? mungkin ini adalah salah satu dari hal yang bergantung dari lemparan dadu. Kalimat ini selalu terjadi melintas di pikiran Priestess. Apakah itu memang benar? dia telah mempertanyakan ini pada dirinya sendiri selama dua atau tiga tahun sekarang. Dan dia masih tidak memiliki jawaban.

Beberapa orang mengatakan sebuah jawaban yang mudah di temukan adalah bukan jawaban sama sekali, tetapi…

“Kita tetap masih punya masalah,” Female Merchant berkata dengan suara yang bercampur rasa khawatir. Keringat mengucur di pipinya seraya dia melajukan kereta melewati kegelapan. “Kita sudah berlari dengan kuda-kuda ini sepanjang hari. Dan malam hari di sini itu cukup dingin…atau begitulah yang aku dengar.”

Situasi ini sangat berbahaya, dan tidak ada ruang untuk kesalahan. Tidak heran mengapa dia terdengar cemas. Dan malam hari memang sudah dekat. Jika mereka tidak segera mencari tempat berkemah yang bagus—yah, mereka mungkin akan tetap selamat mala mini, namun pada hari berikutnya mereka akan mati. Dan di lahan gurun yang asing, bahkan malam ini pun tidaklah terjamin…

“Astaga, kalian para manusia ini rapuh sekali dan kalian tetap ini coba untuk tinggal di tempat seperti ini,” High Elf Archer berkata, suaranya terdengar ringan walau di tengah situasi ini. Dia selalu dapat meringankan suasana.

Priestess menyemangati dirinya dengan ucapan sang elf. Di antara banyak hal yang dia pelajari selama berpetualang adalah pentingnya untuk memiliki sedikit perdebatan ringan. Tempat yang para elf tinggali sepertimu itu terlalu sempit,” Priestess berkata.

“Kami hidup di dalam alam loh. Kalian para manusia itu doyan sekali mengubahnya.”

High Elf Archer tersenyum, terlihat lebih riang dari dirinya saat berada di kota. Mungkin memang tidak ada pepohonan di gurun ini, namun ini masihlah sebuah alam dan oleh karena itu masih serasi untuk seorang elf.

Akan tetapi kemudian, ekspresi elf itu menjadi muram dan telinganya menjentik.

“Kenapa Telinga Panjang?”

“Diam.” High Elf Archer menutup kedua mata dan mengernyit, berkonsentrasi.”…Mereka datang. Dari depan.”

“Depan?”

Mereka bukan pengejar? Party mereka saling bertukar pandang. Sebuah grup terpisah? Namun jarak mereka sudah terlalu jauh dengan para pencuri itu untuk bisa bertemu dengan komplotannya.

Goblin Slayer menarik senjata tanpa bersuara, dan Lizard Priest mengambil posisi bertaring. Priestess mulai bisa mendengarnya juga: sesuatu bertabuh di atas bumi dengan terburu-buru, seperti kereta mereka sendiri.

Prajurit berkuda?

Tidak—dia pernah mendengar suara ini sebelumnya. Itu bukanlah suara tapak kuda. Itu adalah kaki serigala. Dia mendengar suara lolongan. Dan Priestess hanya dapat berpikir satu makhluk yang mengendarai binatang seperti itu.

“Goblin!”

Di seberang gurun hitam datanglah aura peperangan.

*****


Sebelumnya | Daftar Isi | Selanjutnya