HIBERNASI MUSIM DINGIN DAN KERAJINAN TANGAN

Penerjemah: Hikari


Ayah dan Tuuli membawaku ke kamarku di kuil, dimana Fran menyambut kami dengan mata terbelalak. Dia melihat antara aku dan mereka, mengerjapkan mata dengan sangat cepat.

“Apa telah terjadi sesuatu, Suster Myne?”

“Maaf datang begitu saja seperti ini, Fran.”

Dia mulai memanduku untuk masuk, tapi aku menghentikan dia dan mengatakan bahwa aku tidak ingin Delia mendengar ini sebelum mulai menjelaskan situasinya di pintu depan pintu. Aku menjelaskan bahwa kepala Serikat Tinta sedang mengincarku, bahwa Lutz dikeroyok oleh sekumpulan pria, dan bahwa aku akan mulai tinggal di kuil sedikit lebih awal daripada yang direncanakan demi keamanan.

Aku juga mengatakan bahwa walaupun kami tidak tahu apa yang kepala Serikat TInta incar (aku pun tidak tahu namanya), kami tahu bahwa dia memiliki hubungan dengan para bangsawan dan ada banyak rumor buruk tentang dirinya, yang berarti kami sebaiknya menghindari menyebutkan soal ini pada Delia.

Fran mendengar semuanya dengan ekspresi berkerut, kemudian mengangguk tenang. “Mengerti. Saya minta Anda untuk menceritakan pada Kepala Pendeta apa yang baru saja Anda beritahukan.”

“Fran,” Ayah mulai bicara, mempererat tangannya di bahuku, “kami akan mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Untuk saat ini, kutitipkan Myne padamu. Tapi aku akan datang kembali untuk memeriksa keadaannya.”

Fran mengangguk, balas memandangnya. “Anda bisa mengandalkan saya. Kunjungan Anda tidak diragukan lagi akan menjadi kehangatan yang membuat Suster Myne melewati musim dingin.”

“Myne, jangan terlalu merepotkan mereka. Dan pastikan untuk memberitahu Kepala Pendeta tentang semuanya. Tidak ada hal baik yang muncul dari kurangnya komunikasi dengan atasanmu.”

Ayah memberiku nasihat yang khas dari seorang prajurit, yang kutanggapi dengan seulas senyuman dan dua tepukan kepalan tangan kanan ke kiri dadaku. Ekspresinya melunak, kemudian memberiku salam yang sama.

Tuuli memelukku erat-erat kemudian memandangiku, mata biru besarnya yang bergetar gelisah.

“Sampai nanti, Myne. Aku akan datang di hari liburku berikutnya. Jadilah anak baik selama aku pergi, mengerti?”

“Baiklah. Aku akan menunggumu.”

Setelah melihat kepergian Ayah dan Tuuli, aku menuju ke kamarku. Walaupun aku mempunyai kamar sendiri di sini, menghabiskan malam di kuil membuatku sedikit gugup.

Pelayan-pelayanku semuanya terkejut melihatku datang begitu saja tepat sebelum makan malam.

“Apa yang membuatmu ada di sini, Suster Myne?”

“Karena suatu keadaan, masa menginapku selama musim dingin di kuil dimajukan lebih awal dan dimulai hari ini.”

“Keadaan apa?” tanya Delia, kepalanya meneleng ke satu sisi.

Aku menggelengkan kepala. “Aku tidak bisa memberitahu secara rinci karena bangsawan mungkin saja terlibat.”

Delia mulai mengganti bajuku ke jubah biru, tapi aku menghentikannya karena aku tidak punya rencana apapun untuk pergi ke luar hari ini. Lagipula, aku tidak punya hal lain untuk dilakukan. Aku melihat ke sekeliling ruangan, memikirkan bagaimana aku biasanya ada di rumah di jam segini.

“Apa yang kalian semua lakukan saat selarut ini?”

Aku bisa tahu apa yang Rosina lakukan bahkan tanpa melihatnya—dia sedang memainkan harspiel-nya. Dia benar-benar memainkannya selama mungkin sebelum jam malam bel ketujuh.

Delia sedang membawa air panas dari dapur, kemungkinan mempersiapkan tempat mandi. Kelihatannya waktu mandi adalah saat di mana wanita memoles pesona mereka; aku harus belajar banyak dari kekuatan gadis Delia.

Gil sedang menulis laporan pada lempeng batu tulisnya tentang aktivitas Lokakarya Myne hari ini dan produk yang telah diselesaikan. Itu adalah laporan yang didasarkan pada cara Firma Gilberta menangani stok barangnya, dan Lutz menyuruh Gil menuliskannya sebagai bagian dari latihannya.

Fran menyelesaikan laporan tentang makanan dan suplai yang digunakan panti asuhan dan kamarku sehingga dia bisa menyiapkan pesanan untuk lebih banyak stok. Dia sibuk setiap harinya dengan berbagai pekerjaan dokumen yang berbeda. Tetap saja, dia berkata bahwa semuanya lebih mudah untuknya karena dia bisa membagi pekerjaan dengan Rosina dan Wilma.

“...Kurasa aku akan menulis surat untuk Kepala Pendeta untuk meminta bertemu dengannya.”

Aku duduk di mejaku dan mulai menulis surat untuk Kepala Pendeta, meminta untuk berbicara dengannya supaya aku bisa mengatakan padanya apa yang telah terjadi. Perlu beberapa hari sebelum dia membalasnya walau begitu, jadi siapa yang tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan sebelum kami bisa bicara.



Setelah menyelesaikan surat, aku mulai merencanakan buku bergambar berikutnya. Dibantu oleh saran Freida, aku memutuskan untuk membuat kitab suci anak-anak dengan kisah para dewa bawahan Lima Yang Abadi, diatur berdasarkan musimnya.

Aku menyantap makan malam yang tidak sederhana yang dibawa ke mejaku, mandi air panas yang mewah dengan bantuan Delia, dan kemudian berbaring di ranjangku yang hangat sendirian. Tempat tidur ini sangat besar sampai aku bisa merentangkan kaki dan tanganku selebar mungkin. Di sebelahku bisa kulihat ada sebuah meja dengan seteko air, sebuah cangkir dan sebuah bel untuk memanggil pelayanku.

“Selamat tidur, Suster Myne.”

“Selamat tidur, Delia. Selamat tidur, Rosina.”

Tirai di sekeliling ranjang berkanopiku pun menutup, meninggalkanku sendirian dalam kegelapan total tempat tidurku yang luas. Walaupun makanannya enak, bak mandinya diisi dengan air hangat di mana tidak ada orang yang memarahiku ketika menggunakannya, dan kasur nyaman yang luas… Aku lebih suka makan duduk mengelilingi meja dengan keluargaku, mandi di bak dangkal yang hanya menampung sedikit air panas sambil bermain-main dengan Tuuli, dan tidur di tempat tidur yang lebih kecil sambil berpelukan dengan keluargaku demi lebih banyak kehangatan.

...Merasa rindu rumah hanya setelah satu hari benar-benar payah.

Aku memiliki pelayan-pelayan, tapi ada sebuah batas yang tegas antara kami—aku adalah majikan mereka dan mereka adalah hamba-hambaku. Mereka akan memperlakukanku dengan hormat, tapi aku tidak diperkenankan untuk terlibat secara emosional dengan mereka. Aku terbaring di ranjang, merasa lebih sedih dan sendirian daripada yang bisa kugambarkan, didera rasa takut terhadap entah siapa yang sedang mengincarku.



Pagi di kuil datang dengan lambat. Atau lebih tepatnya, pagi hari datang lebih awal bagi para pelayan sementara aku, di sisi lain, terjebak di ranjang menunggu mereka selesai menyiapkan sarapan. Kalau aku mencoba bangun sebelum mereka selesai, Delia akan mengomeliku, dengan marah mengatakan aku harus kembali tidur sampai mereka memanggilku. Di situlah aku belajar bahwa putri-putri bangsawan harus berpura-pura tertidur di ranjangnya sampai para pelayan siap untuk mereka.

Apa dia akan marah kalau aku diam-diam membaca buku untuk menghabiskan waktu?


“Nah sekarang, marilah kita mulai latihannya.”

Setelah sarapan ringan, sekarang waktunya untuk berlatih harspiel dengan Rosina. Dia menyiapkan alat-alat musik sambil tersenyum, berkomentar betapa senangnya dia tidak perlu menungguku tiba di kuil lagi.

Pada saat dia dan aku mulai berlatih, Delia dan Gil membersihkan kamar dan menimba air sementara Fran pergi ke Kepala Pendeta untuk mengirimkan suratku dan memberikan ringkasan situasi. Saat dia kembali, dia mengatakan bahwa Kepala Pendeta telah memberiku perintah tegas untuk tetap berada di kamarku sampai pemberitahuan berikutnya sementara menginvestigasi situasi. Kelihatannya aku akan menghabiskan hari-hariku tidak hanya di kuil, tapi terperangkap di kamarku juga.

Latihan musik berakhir pada dentang bel ketiga. Karena aku tidak bisa meninggalkan kamarku, aku melewatkan waktuku dengan mengajari Delia huruf-huruf dan matematika sederhana sambil mengerjakan rencanaku untuk buku bergambar berikutnya.

“Kau di luar dugaan adalah guru yang hebat, Suster Myne. Jaaaaaauh lebih mudah untuk dipahami daripada Gil.”

“Menurutmu begitu? Mungkin aku sebaiknya mengajar di sekolah kuil juga,” kataku, suaraku terdengar sedikit malu-malu karena aku tidak terbiasa dengan Delia yang memujiku

Fran memperhatikanku dengan tatapan ragu dan menanyakan apa yang dimaksud “sekolah kuil”.

“Sebuah tempat pendidikan di mana aku akan mengajari anak-anak untuk membaca dan menulis.”

“... Apa rencana ini sudah pasti?”

“Ya, aku sudah membuat rencana untuk mengadakan beberapa sesi selama musim dingin.”

Fran mengerjapkan mata beberapa kali dengan terkejut, kemudian perlahan menggelengkan kepala. “Suster Myne, saya tidak yakin Anda sudah menginformasikan saya tentang hal itu. Tolong jelaskan apa tepatnya yang ingin Anda lakukan dan dengan cara apa.”

“Hah? Tapi itu semua tertulis di sini.”

Aku menarik keluar lembar jadwal musim dinginku dan menyerahkannya pada Fran. Dia memperhatikannya, kemudian bergumam “Ini akan menjadi kegiatan sekolah kuil…?” dengan pandangan menurun.

Kelihatannya dia tidak begitu memahamiku ketika aku mengatakan aku akan mendidik anak-anak. Dia mengira hanya sebatas kelas menjahit Tuuli dan Lutz yang mengajari mereka pekerjaan tangan musim dingin yang akan menjadi pendidikan mereka

“Tapi apa kau tahu,” Gil menimpali,” aku tidak tahu seberapa banyak yang akan harus kau ajarkan pada mereka, Suster Myne. Mereka sudah bisa sedikit membaca berkat karuta dan buku bergambar yang kau beri.” Dia mengangkat bahu dan aku pun goyah, kata-kataku jadi terbata-bata.

“A-aku ingin mereka belajar menulis juga. Akan lebih mudah bagi mereka untuk bekerja bagi para bangsawan sebagai pelayan kalau mereka tahu bagaimana caranya membaca dan menulis, tentunya. Dan kalau mereka tahu bagaimana caranya berhitung dan melakukan matematika, mereka bahkan akan bisa menjalankan sendiri lokakarya dan panti asuhan. Kurasa mengetahui semua ini lebih baik daripada tidak mengetahuinya.”

Aku membahas laporan lokakarya yang Gil tulis kemarin, yang mana membuat alasanku diterima semua orang. Gil masih lemah dalam membaca angka-angka besar, jadi dia telah menulis laporan-laporannya dengan bantuan para frater abu-abu.

“Suster Myne, di mana Anda berniat untuk mengadakan sekolah kuil ini?”

“Dia aula ruang makan panti asuhan, jadi anak laki-laki dan perempuan bisa ikut serta. Aku akan menjadi gurunya.”

“Tolong serahkan pengajarannya pada para frater abu-abu. Cara berjalannya aktivitas ini tidak pantas untuk Anda lakukan, Suster Myne.”

Fran dan Rosina sama-sama menolak ideku mentah-mentah. Aku terperangkap untuk bekerja di belakang layar, seperti biasanya.

Pada akhirnya, aku memutuskan untuk membuat sesuatu yang mirip dengan kurikulum sekolah, yang akan aku ajarkan pada Delia lebih dulu di kamarku. Fran dan Rosina akan belajar dari contohku, kemudian mengajarkannya sendiri di aula makan. Mereka akan melatih para frater abu-abu yang tadinya adalah para pelayan untuk mengajar juga, kemudian berhenti kapan pun waktunya tepat, dengan demikian mendirikan sekolah kuil.

...Sial. Aku lumayan ingin menjadi seorang guru karena aku kelihatannya sangat pintar melakukannya.

Untuk sekolah kuil, aku menetapkan sebuah tujuan pengajaran pada semua anak-anak untuk menulis abjad dan melakukan penjumlahan serta pengurangan dengan angka satu digit. Aku sudah menyiapkan banyak lempengan batu tulis dan pena batu tulis, belum lagi kitab-kitab suci anak-anak sebagai buku teks.

Bel keempat berdentang tidak lama setelah aku selesai mengerjakan garis besar bagaimana semuanya akan dilakukan. Aku menyantap makan siang dan sedang minum teh ketika Lutz berkunjung.

“Kau baik-baik saja, Myne?”

Dia akhirnya diberi izin untuk datang berkunjung setelah Benno melakukan pemeriksaan cermat untuk memastikan tidak ada satu pun orang mencurigakan yang mengikuti dia.

Aku bergegas menuruni tangga dan berlari ke arah Lutz saat dia melambai padaku dari pintu masuk.

“Lutz, peluk aku!”

“Woah?!”

Aku melompat ke lengan Lutz, menuntut sebuah pelukan; aku sudah begitu kelaparan akan kehangatan yang kuperlukan untuk mengisi ulang diriku. Saat aku masih Urano, aku baik-baik saja tanpa apapun selain buku dalam hidupku, tapi mungkin karena penyesuaian dengan tubuh anak kecil ini, atau mungkin karena jadi terbiasa dengan keluargaku yang suka memeluk, aku sekarang mendambakan kehangatan orang lain. 

“Aku begitu kesepian tanpa keluargaku di sini. Aku mau pulang.”

“Ini baru satu malam, ‘kan?” Lutz memberikan sebuah cengiran frustrasi pada keluhanku dan menggeleng kepala, tapi aku mau bagaimana lagi kalau aku merasa begitu.

“Aku akan terbiasa dengan ini nantinya. Ini adalah saat paling kesepian bagiku sepanjang musim dingin.”

“Entah lah soal itu. Siapa tahu bisa saja nantinya malah semakin parah?”

“...Kalau lebih parah dari ini, aku bisa-bisa mati kesepian.”

Aku terperangkap di kamarku bahkan tanpa opsi untuk pergi ke ruang buku untuk membaca, dan tidak ada buku di kamarku selain kitab-kitab suci anak-anak. Kalau aku harus tetap tinggal tanpa keluargaku di sini, aku mungkin saja kehilangan semangat hidup.

“...Kedengarannya itu bukan candaan, karena kau memang berakhir nyaris sekarat saat aku lengah mengawasimu.”

“Aku akan bersabar menghadapinya dan selamat dari rasa kesepian ini, jadi aku ingin kau bersabar juga dengan ini dan biarkan aku memelukmu.”

“Iya, iya.”

Lutz membiarkan aku memeluknya sampai aku puas. Kemudian, dengan lenganku masih melingkar padanya, dia memperhatikan laporan yang Gil telah tulis dan membandingkannya dengan laporan miliknya sendiri, menunjukkan kesalahan-kesalahan perhitungannya.

Aku mendapat banyak keluhan dari para pelayanku saat aku menstabilkan emosi dengan menempel pada Lutz. Sedikit yang kuingat: 

“Tidak tahu malu!”

“Wanita baik-baik tidak akan pernah…”

“Isssh! Kau seharusnya paling tidak mengejar anak laki-laki bangsawan kaya dengan banyak uang.”

“Kenapa kau tidak mengandalkanku seperti itu, Suster Myne…?”

Tapi aku mengabaikan itu semua. Musim dingin di depanku akan panjang dan dingin; demi kesehatan mentalku, aku perlu mendapatkan kehangatan di manapun aku bisa menemukannya.

“Oh iya. Myne, lokakarya kehabisan bahan untuk dilakukan. Apa langkah kita berikutnya? Mulai pekerjaan tangan musim dingin?”

Ronde kedua percetakan telah selesai, dan walaupun kami memiliki stensil untuk mencetak lebih banyak lagi, tidak ada lagi kertas untuk diubah jadi buku. Kami juga tidak bisa membuatnya lagi karena sungai terasa dingin membekukan sekarang. Belum lagi saat ini dengan persiapan musim dingin yang sudah selesai, kami akan kehabisan jelaga untuk tinta kami.

“Baiklah. Aku akan menjelaskan bagaimana pekerjaan musim dingin akan dilakukan, jadi bisakah kau mengambil peralatan dan papan-papan untuk reversi dari lokakarya?”

“Tentu. Ayo, Gil.”

“Baiklah.”

Lutz dan Gil datang kembali dengan membawa papan-papan dan peralatan. Mereka menaruhnya di atas meja aula dan aku mulai menjelaskan bagaimana caranya membuat papan reversi dan keping-kepingnya.

“Papan-papan tebal ini yang akan kita gunakan sebagai papan permainan. Gunakan penggaris dan pena jelaga, buatlah garis lurus sampai kau mendapatkan delapan kali delapan persegi,” aku menjelaskan, mengeluarkan garis contoh pada papan menggunakan pena jelagaku sendiri.

“Begitu garis-garisnya tergambar, kalian potong lekukannya dengan salah satu benda itu.” Aku menunjuk pada sebuah alat pahat dengan bilah segitiga. Aku telah memesannya dari pandai besi setelah bertanya pada seorang tukang kayu tentang peralatan berbilah segitiga. “Begitu lekukannya, lekukannya dicungkil, gambarlah lagi garis-garis itu dengan menggunakan tinta. Kalian hanya perlu mengikuti lekukan jadi kurasa tinta seharusnya tetap berada di dalam situ cukup bagus, tapi tetaplah berhati-hati agar tidak ada yang terciprat keluar.”

“Baik.”

“Potong papan-papan tipis ini menjadi enam puluh empat persegi agar sesuai dengan ukuran persegi papan permainannya, kemudian poles potongan-potongan itu agar menjadi halus dan aman untuk disentuh. Setelah itu, kalian hanya harus menutupi salah satu sisinya dengan tinta, jadi begitu kalian selesai memotongnya, semua kerja kerasnya selesai. Juga…” 

Aku menjelaskan bahwa untuk tiruan-shogi, atau tepatnya tiruan-catur, kau harus memotong papan-papannya seperti yang kau lakukan dengan reversi. Tapi sebagai ganti mengecat salah satu sisinya, kau menuliskan sebuah huruf di atasnya. Itu membuat Lutz meringis.

“Hei, Myne. Menurutmu kita bisa mencetak huruf-huruf itu sebagai gantinya?”

“Kenapa?”

“Tidak banyak orang di panti asuhan yang tahu bagaimana caranya menulis, dan tidak semua dari mereka yang bisa itu bisa melakukannya dengan bagus. Huruf-huruf ini akan berukuran kecil dan kupikir akan jadi masalah kalau tulisannya terlalu jelek untuk dibaca.”

“Mmm, benar juga… Kurasa aku akan membuat stensil untuk itu.”

Lutz menulis semua tahapan-tahapannya dalam diptych sembari aku melanjutkan. Aku sendiri menuliskan hal-hal yang akan harus kuperbaiki atau pikirkan di diptych-ku sendiri.

Gil, yang sedari tadi menyaksikan diskusi standar kami, memelototi Lutz dengan mata ungunya. “...Kau selama ini diajari semua hal seperti itu oleh Suster Myne, Lutz?”

“Yeah. Dia tidak bisa bekerja di lokakarya karena dia adalah seorang suster jubah biru, jadi dia harus mengajariku lebih dulu apa yang harus dilakukan supaya aku bisa memastikan lokakarya melakukannya dengan benar.” 

“Kupikir kau tahu semuanya dan kurasa kau itu hebat, tapi ternyata Suster Myne yang hebat,” Gil cemberut, pipinya menggembung.

Aku mencolek pipi-pipi itu dengan jariku. “Gil, Lutz benar-benar hebat. Dia hanya perlu mendengarkan penjelasanku sekali sebelum dia bisa mengulanginya di lokakarya dan menyelesaikannya. Kau barusan mendengarkannya juga, tapi kau tidak akan bisa mengajari orang lain apa yang harus dilakukan, ya ‘kan?

“...Aku tidak akan bisa.” Gil menunduk memandangi lantai, kemudian mendongak kembali dan menuding diptych Lutz. “Tapi itu hanya karena aku tidak punya diptych! Aku juga akan jadi hebat kalau aku punya!”

“Oh, benar, kau sudah belajar membaca dan menulis sekarang. Kurasa kau mungkin akan memerlukan satu untuk dirimu sendiri tidak lama lagi kalau kau akan menulis laporan-laporan lokakarya itu. Aku tidak bisa pergi keluar sekarang, tapi aku akan membuatkan satu untukmu saat musim semi tiba.”

“Benarkah?! Baiklah, aku pasti akan mengalahkan Lutz!” Gil mengangkat kepalanya tinggi dan menyatakan bahwa dirinya adalah saingan Lutz, membuatnya mendapatkan balasan santai “Semoga beruntung menang sebelum musim semi”. Kelihatannya Lutz akan pergi dengan Benno ke kota tetangga musim semi berikutnya untuk memantau lokakarya kertas tumbuhan, jadi dia ingin Gil yang menjalankan Lokakarya Myne sebelum itu.

“Oh iya,” Lutz menambahkan. “Di saat berikutnya aku datang kemari, akan ada seorang magang denganku. Aaah, dia sebenarnya sebentar lagi menginjak usia dewasa, tapi yah.”

“Kenapa? Apa dia akan mengambil alih tempatmu sementara kau pergi?” aku menelengkan kepala dengan bingung, dan Lutz mengerutkan wajahnya sedikit.

“Di kertas dia di sini untuk membantu lokakarya sepertiku, tapi Master Benno sebenarnya ingin dia belajar bersikap seperti seorang pelayan.”

“Oh, benar. Dia pernah bilang kalau dia ingin pramusaji untuk restoran Italianya.” Aku menambahkan sebuah catatan pada diptych-ku untuk membuat rencana tentang hal itu juga.

“...Hei, Myne. Aku dapat reversi dan semacamnya, tapi bagaimana dengan kartu mainnya?”

“Kuharap kita punya tinta berbeda warna untuk digunakan di sini, tapi tidak ada gunanya mengharapkan sesuatu yang mustahil. Kita hanya akan menggunakan tinta hitam polos untuk saat ini.”

Aku menggambar empat setel kartu dan sembilan angka untuk digunakan di lempeng batu tulisku, kemudian menggambar tiga wajik di tengah-tengah persegi panjang besar sebagai contoh.

“Kita akan membuat empat set kartu yang berbeda, satu untuk setiap simbol, dan membedakan kartu-kartu dari tiap set menggunakan angka.”

“Akan ada banyak kartu.” kata Lutz.

“Hei, simbol yang itu sedikit mirip dengan instrumen suci,” Gil mengamati dengan bangga sambil menunjuk pada simbol wajik. “Itu agak mirip tombak Leidenschaft. Dan satu lagi mirip tongkat Flutrane.”

Menurutnya, wajik terlihat seperti tombak Dewa Api, sementara sekop seperti tongkat Dewi Air. Sekarang setelah dia mengatakannya, dekorasi sekitar ujung tombak dan feystone tongkat suci memang mirip dengan bentuk-bentuk itu. Kebetulan, menyebut batu sihir dengan nama “feystone” telah benar-benar ditanamkan ke dalam kepalaku karena itu adalah pengetahuan penting untuk Ritual Dedikasi yang akan datang. Para bangsawan dan kebawelan mereka tentang detail tidak pernah memberiku waktu istirahat sedikit pun.

“Kalau begitu, Gil. Bagaimana dengan Dewi Angin Schutzaria?”

“Perisainya berbentuk lingkaran, jadi tidak ada satu pun yang di sini sesuai. Simbol Dewi Tanah Geduldh adalah cawan, jadi kira-kira seperti ini…”

Itu terlihat seperti sebuah lingkaran yang menyimbolkan perisai Dewi Angin, sementara sebuah segitiga  terbalik menyimbolkan cawan Dewi Tanah. Semua itu dengan baik melengkapi keempat setel kartu, dan perubahan mungkin akan membuat semua yang ada di kuil jadi lebih menerimanya.

Dengan rekomendasi Gil, aku mengubah setelan kartu menjadi sekop, wajik, lingkaran, dan segitiga terbalik.

“Kurasa aku akan membuat kartu jack, queen, dan king menjadi simbol juga, kalau begitu. Menggambar ilustrasi seni untuk setiap kartu akan sangat merepotkan lagipula.”

Aku mengganti jack dengan pedang untuk menyimbolkan Dewa Kehidupan, queen dengan mahkota untuk menyimbolkan Dewi Cahaya, dan king dengan mantel hitam untuk menyimbolkan Dewa Kegelapan. Tujuan utama di sini adalah untuk membuat desainnya sesederhana mungkin.

Aku memikirkan apa yang harus kulakukan dengan joker, dan akhirnya menetapkan cincin berlekuk untuk menyimbolkan Dewi Kekacauan, yang jatuh cinta pada Dewa Kegelapan meskipun itu adalah tabu, dan mendorong kecemburuan Dewa Kehidupan yang mengubahnya menjadi seorang penguntit.

“Baiklah, sempurna. Sekarang semua ini benar-benar terlihat mirip dengan kartu-kartu yang dibuat di kuil.”

“Ya, dan ini akan mudah dimengerti karena simbol-simbol ini juga muncul di karuta.”

Gil dan aku bergembira atas desain kartu-kartu ini, tapi Lutz memperhatikan batu tulisku dengan raut wajah berkerut.

“Myne, kau benar-benar harus membuat stensilnya untuk mencetak ini. Tidak mungkin ini semua ini akan cocok kalau kita mencoba menggambarnya sendiri.”

“...Benar juga. Aku akan membuat stensilnya.”

Aku membuat stensil dari kertas tebal—sebuah proses yang sekarang sangat terbiasa kulakukan—sehingga kita bisa mencetak tintanya secara langsung ke papan. Aku punya waktu lebih dari cukup lagipula, dan membuat stensil untuk sesuatu sesederhana kartu mainan adalah hal yang sangat mudah.



“Baiklah, Myne. Aku harus pulang sekarang.”

Aku tidak mau Lutz pergi, tapi aku jelas tidak bisa memintanya untuk menginap.

“Baik…” Aku mengangguk sedih, dan Lutz mencubit pipiku dengan senyum miris. Aku memegangi pipi dan memelototinya.

“...Jangan terlihat terlalu sedih. Aku akan kembali besok dengan Tuuli.”

“Sebaiknya begitu, kalau kau tidak mau aku mati kesepian.”

Setelah melihat kepergian Lutz, Gil memandangiku dengan cemas.

“Kau merasa kesepian, Suster Myne?”

“Uh huh. Aku sangat terbiasa hidup dengan keluargaku sampai-sampai aku sekarang merindukan mereka.”

Aku tahu tinggal di kuil adalah hal yang lebih aman untukku, tapi aku ingin pulang. Sudah menjadi pilihanku untuk datang ke sini, tapi aku malah merasa seakan aku telah dibuang.

“Mau memelukku sepeti kau memeluk Lutz?” tanya Gil, mencoba membantu. Tapi bahkan sebelum membalas, aku mendengar “Tentu saja tidak!” yang lantang dari belakangku.

Aku berbalik dengan kaget untuk melihat Fran berdiri di sana dengan ekspresi menyeramkan. Dia berjalan mendekati Gil dan menegurnya dengan tenang.

“Gil, Suster Myne adalah tuanmu. Menghiburnya bukanlah hal yang pantas bagi seorang pelayan. Lutz adalah seorang teman yang dia anggap seperti seorang keluarga, dan kau tidak di posisi yang sama dengannya.”

“...Aku mengerti.” Gil mengangguk, gigi-giginya mengetat frustrasi.

Melihat hal itu, ekspresi Fran melunak sedikit. Dia kemudian berlutut di depanku untuk menatapku secara langsung, eksprsinya mengeras sekali lagi.

“Suster Myne, saya mengerti bahwa kondisi ekstrim ini membuat Anda merasa gelisah. Karena memperhatikan Anda, saya akan mengabaikan Lutz dan keluarga Anda yang menghibur Anda. Akan tetapi, saya minta supaya Anda mempertahankan jarak yang sepantasnya antara Anda dan pelayan-pelayan Anda.”

Dia secara tegas mengingatkanku untuk tidak terlalu akrab dengan pelayan-pelayanku, dan aku mau tidak mau menatap ke arah Lutz berada beberapa saat yang lalu. Dia sudah pergi, dan angin dingin berhembus masuk dari pintu masuk yang kosong. Angin tersebut menyengatku saat menyapu pipiku, tapi aku lebih mencemaskan betapa sepinya musim dingin ini daripada betapa dingin hawanya.



Sebelumnya | Daftar Isi | Selanjutnya