SERIKAT TINTA DAN PERMULAAN MUSIM DINGIN

Penerjemah: Hikari


Saat musim gugur datang mendekat, kami menyelesaikan putaran kedua percetakan kitab suci anak-anak. Aku menyisihkan dua puluh buku yang akan kami gunakan sebagai buku teks dan menjual sisanya sebanyak empat puluh buku ke Benno, mendapatkan enam keping emas besar. Setelah berbulan-bulang berjuang di garis kemiskinan, aku mendadak jadi kaya.

Tidak lama kemudian, Fran dan Rosina datang ke rumah untuk berbicara dengan keluargaku tentang kesehatanku di musim dingin yang akan datang, dan di hari-hari berikutnya aku menggunakan uang yang kudapat dari buku bergambar untuk mengisi persediaan musim dinginku lebih jauh. Dan dengan demikian, aku, keluargaku, dan panti asuhan, semuanya menyelesaikan persiapan musim dinginnya masing-masing, tepat saat cuacanya cukup dingin sampai-sampai sepertinya salju bisa turun kapan saja.

Lutz memberiku laporan saat kami berjalan pulang dari kuil.

“Myne, Master Benno bilang kepala Serikat Tinta dan penyelia dari lokakarya tinta datang menemuinya pagi ini.”

“...Kurada mereka menyadari tinta baru yang kita gunakan?”

Sesuai dugaan, orang-orang kaya yang memiliki koneksi dengan bangsawan mulai membeli buku-buku kitab suci anak-anak dari Firma Gilberta. Kau bisa mengetahuinya dengan sekali lihat bahwa tinta yang digunakan bukanlah tinta yang biasanya; ada perbedaan besar antara tinta gallnut yang agak kebiruan dengan tinta lukis hitam legam yang terbuat dari jelaga dan minyak.

Sudah pasti, Serikat Tinta langsung menyadari hal ini dan mulai mencari orang yang membuat ini, tapi tidak ada satupun orang di serikat yang tahu. Tidak ada kecuali si penyelia dari lokakarya tinta yang pernah kukunjungi, tentunya.

“Mereka bilang seorang anak kecil dari Firma Gilberta tahu bagaimana caranya membuat jenis tinta yang lain.”

Pemahaman itu membuat kepala Serikat Tinta dan si penyelia yang bertanya-tanya langsung datang ke Firma Gilberta—secara khusus menanyai Benno apakah dia berniat membuat Serikat Tinta lainnya untuk tinta barunya.

Firma Gilberta memiliki riwayat membuat serikat-serikat baru. Mereka telah melawan Serikat Perkamen untuk membuat Serikat Kertas Tumbuhan dan lokakarya-lokakarya penyertanya, yang mana kini mengisi pasar dengan kertas yang agak lebih murah daripada perkamen. Walaupun ada kesepakatan bahwa perkamen akan tetap digunakan untuk kontrak-kontrak resmi, kertas tumbuhan terjual luas berkat fakta bahwa itu bisa diproduksi secara masal; sudah jelas bahwa mereka yang berkecimpung dalam tinta akan menjadi waspada setelah Benno mulai menggunakan tinta yang berbeda pada kertas tumbuhan itu untuk menjual buku.

“Master Benno ingin kau datang ke toko besok. Dia ada sesuatu yang harus dibicarakan denganmu.”

“Baiklah.”

Itu adalah urusan standar untukku, dan hari berikutnya Lutz dan aku pergi ke Firma Gilberta lebih dulu sebelum pergi ke kuil.

“Pagi, Benno.”

“Kau sudah sampai, Myne. Syukurlah kau datang.”

Benno mengisyaratkan padaku untuk duduk sementara Lutz naik ke lantai atas. Sebagai seorang leherl, Lutz sedang mempraktikkan bagaimana menyeduh dan menyajikan teh pada tamu.

Aku duduk setelah melihat kepergian Lutz, dan kemudian Benno meletakkan pena dan menuju mejaku. Dia duduk di depanku dan langsung memulainya.

“Seperti yang kuduga, Serikat Tinta datang berkunjung. Kau bilang kau ingin mengajari mereka bagaimana caranya membuat tinta dan kemudian membiarkan mereka membuat semuanya, ya 'kan?"

“Ya. Kalau kau terus mengembangkan bisnismu ke begitu banyak bidang yang berbeda, kau hanya akan berakhir dengan lebih banyak musuh, dan membuat tinta sama sekali tidak ada kaitannya dengan bisnis utama Firma Gilberta lagipula. Selama mereka membiarkan Lokakarya Myne membuat tintanya sendiri, aku tidak akan keberatan menjual proses produksinya dan membiarkan mereka mengurus sisanya.”

Produksi massal tinta akan jadi hal penting untuk menyebarluaskan percetakan ke seluruh dunia, tapi mencoba mengatur proses keduanya sendirian mungkin saja akan jadi terlalu menyulitkan. Lebih masuk akal bagiku untuk membiarkan orang lain mengambil alih pekerjaan ini jika memungkinkan.

“Berapa banyak uang yang kau pikirkan?”

“Mmm, sekitar sebanyak yang kuberikan ke kuil, jadi... Bagaimana kalau sepuluh persen dari keuntungan?”

Usulanku membuat Benno menggelengkan kepala sambil meringis. “Kau menghargainya terlalu rendah.”

“Tapi keuntungannya akan melambung saat tintanya tersebar, dan aku ingin mereka menjual tintanya dengan harga murah sama halnya seperti kertas tumbuhan.”

Proses berpikirku didasarkan sepenuhnya pada penyebarluasan produk sejauh mungkin, tapi Benno menolak ide tersebut dengan sebuah lambaian tangannya.

“Setidaknya naikkan sampai tiga puluh persen untuk sepuluh tahun pertama. Kemudian kau bisa menurunkannya jadi dua puluh tahun untuk sepuluh tahun sesudah itu, lalu sepuluh persen untuk seterusnya. Itu adalah penawaran adil yang sepadan untuk kau tawarkan. Kau sebaiknya tidak menjual teknologi baru begitu mudahnya.”

“Baiklah. Akan kuserahkan persentasenya padamu.”

Benno tidak ragu dengan tiga puluh persen alih-alih sesuatu yang lebih tinggi untuk membantuku. Aku tahu dia memikirkan yang terbaik untukku, jadi aku merasa nyaman mempercayakan semua itu padanya.

“Ini tehnya.” Lutz datang menuruni tangga, terlihat tegang saat dia menyajikan cangkir-cangkir di depan kami.

Benno mengambil cangkirnya, memeriksa isinya dengan tatapan tajam sebelum menyeruput sedikit.

“...Masih belum sesuai.”

“Ini jelas tidak benar-benar bagus, tapi dia semakin baik. Lutz, apa kau mau Fran membantumu sedikit? Dia guru yang baik; Gil maupun Delia jauh lebih baik dalam menyeduh teh sekarang.”

“Kedengarannya bagus... Haaah.”

Lutz sedang bekerja keras di bawah pengawasan Mark, tapi tehnya belum cukup baik untuk disajikan pada tamu lainnya. Untuk saat ini dia mempraktikkannya padaku.

“Berarti tinggal kontrak sihirnya.”

“Menurutmu kita sebaiknya menggunakan itu?”

Kontrak sihir cukup mahal sampai-sampai pada umumnya hanya digunakan ketika para bangsawan terlibat. Benno telah melakukan kontrak sihir denganku dua kali sebelumnya, tapi di kedua waktu itu dia berpikir untuk jangka panjang dan memberikan dasar untuk melindungiku dari para bangsawan. Tapi kali ini kami hanya akan berurusan dengan Serikat Tinta, jadi sejauh yang kutahu tidak ada hubungannya dengan bangsawan.

“Kesepakatan yang akan kita buat akan berlangsung untuk waktu yang lama dan melibatkan banyak uang. Ini sepadan, dan secara pribadi, aku tidak percaya dengan kepala Serikat Tinta sama sekali. Lebih baik berjaga-jaga dengan kontrak sihir—ini akan jadi kontrak dengan Serikat Tinta itu sendiri, bukan dia.”

“Kontrak dengan Serikat Tinta?”

Kelihatannya kelompok dipandang sebagai entitas legal yang terpisah di dunia ini juga. Aku menelengkan kepala sambil berpikir dan Benno mengangguk pelan.

“Yup. Akan jadi hal yang penting untuk memastikan bahwa kontraknya tetap berpengaruh bahkan ketika kepala serikat akhirnya berubah.”

Kelihatannya ada banyak kasus bersejarah di mana orang-orang mendapat kekuatan dari posisinya tidak menghargai kontrak yang pendahulu mereka telah tandatangani. Ini terjadi cukup sering  sehingga sistem peradilan di sini mengembangkan konsep badan hukum.

“Kita akan menjual proses produksi tintanya pada serikat. Mereka akan membiarkan Lokakarya Myne tetap membuat tintanya sendiri. Kita akan membuat harga tintanya murah sehingga itu akan tersebar luas bersama dengan kertas tumbuhan. Kita mendapatkan tiga puluh persen dari keuntungan mereka atas tinta. Jumlah itu akan berubah setiap sepuluh tahun. Bagaimana?”

“Pastikan untuk mengatakan pada mereka bahwa tintanya tidak bagus untuk digunakan pada perkamen karena itu tidak terlalu meresap.”

Setelah memastikan rinciannya dengan Benno dan Lutz, Mark mengetuk pintu dan melangkah masuk.

“Master Benno, dua tamu dari Serikat Tinta ada di sini.”

“Persilakan mereka masuk begitu aku membunyikan bel.”

“Baiklah, Master.” Mark meninggalkan ruangan.

Benno segera berdiri dan menurunkanku dari kursi dengan ekspresi muram. Dia kemudian dia mengedikkan dagu pada Lutz, yang menanggapi dengan anggukan diam, sebelum membuka pintu bagian menuju tangga.

“Myne, aku akan bernegoisasi dengan Serikat Tinta. Kau tidak boleh membiarkan mereka melihatmu. Tinggallah bersama Corinna, dan aku akan mengirimkan kontrak sihirnya padamu untuk ditandatangani begitu semuanya tertulis.”

“...Kenapa sampai repot-repot menyembunyikanku?”

Kurasa akan cukup aneh untuk menandatangani kontrak di mana salah satu pihaknya tidak hadir. Aku mengerjapkan mata dengan kaget, dan setelah memandang tajam ke arah tamu yang mungkin menunggu di ruang sebelah, Benno menjelaskan dengan suara rendah dan berat.

“Penyelia dari lokakarya itu mungkin tidak masalah, tapi kepala serikatnya memiliki koneksi dengan pedagang bangsawan dan aku tidak banyak mendengar hal yang baik tentang dirinya. Ada banyak rumor buruk. Kau akan lebih baik tidak membiarkan dia melihatmu.”

“Baiklah. Aku akan percaya padamu soal ini.”

Aku benar-benar penasaran soal orang dari Serikat Tinta ini, tapi aku pergi dan menaiki tangga menuju ruangan Corinna dengan Lutz. Begitu sampai, dia segera kembali menuruni tangga, karena adalah tugasnya untuk mengirimkan kertas kontrak sihir.

“Lutz, nanti katakan padaku seperti apa kepala Serikat Tinta, ya?”

“Ya, tentu.”

Setelah melihat kepergian Lutz, aku beralih pada Corinna. “Maaf soal ini, Corinna. Aku datang dan masuk begitu saja.”

“Tidak apa-apa, Myne. Ayo gunakan kesempatan ini untuk melakukan jahitan sementara pada jubahmu.”

“Baik. Maaf memberimu pekerjaan sebesar ini yang perlu dilakukan secepat mungkin.”

Corinna memanduku ke ruang tamu dengan ekspresi lembut. Di tengah perjalanan kami melihat Otto di aula, yang menemui kami dengan lambaian ramah. Dia pasti sedang libur kerja seperti Ayah.

“Ya ampun, Mybe. Aku tidak percaya kau akan membuat Corinna bekerja keras untuk seorang bangsawan kelas atas saat dia hamil seperti ini.”

“Otto, sudah berapa kali aku mengatakan padamu untuk tidak ikut campur dengan pekerjaanku?”

“Aku hanya mengkhawatirkanmu, Corinna.”

Otto tidak menyerah bahkan setelah menerima tatapan keras dari Corinna. Mereka sama mesranya seperti biasa.

Aku menyaksikan Corinna mengusir Otto keluar dari kamar seakan-akan dia adalah seorang anak pemarah, penasaran apakah sakit kepalanya yang sering muncul lebih  karena disebabkan oleh Otto daripada kehamilannya.

“Aku khawatir tentang kau juga, Corinna. Apakah Otto bersikap berlebihan akhir-akhir ini? Dia dan Ayah terkenal di gerbang sebagai pencinta-gila. Apakah dia begitu antusias dengan bayi pertamanya ini sampai menyebabkan masalah?”

“Wah wah, itukah yang orang-orang bilang tentang dia? Kurasa ibumu sama-sama kesulitannya denganku kalau begitu.” Corinna tertawa dan membawa beberapa kain biru, yang mulai dia bentangkan di atas sebuah meja besar.

“Menurutmu kau akan bisa menyelesaikan jubah upacara ini? Kau benar-benar tidak diberi cukup waktu.”

“Ini pastinya akan menjadi sebuah perjuangan; Toko sangat sibuk. Tapi tetap saja adalah hal langka bagi kami untuk mendapat pesanan dari bangsawan kelas atas, jadi para penjahit kami mengusahakan yang terbaik. Kami membayar mereka cukup banyak lagipula.”

Kelihatannya saat mewarnai kain untuk jubahku yang pertama, mereka telah mewarnai kain ekstra dengan warna yang sama untuk digunakan pada pesanan lain yang dibuat orang lain. Mereka menggunakan kain lebih itu sekarang, dan kelihatannya semua orang di lokakarya sedang bekerja dengan kecepatan penuh dalam penyulamannya.

“Kami masih harus melakukan pengepasan awal untuk pesanan lainnya, yang mana memberi kami cukup waktu untuk mewarnai kain baru sebelum tenggat waktu. Tapi diminta untuk menyelesaikan jubah ini sesegera mungkin, dan meskipun kami tidak punya waktu untuk menggunakan kain berbeda untuk pengepasanmu yang pertama, aku tidak bisa membayangkan kau bertumbuh cukup cepat sehingga ukurannya akan terlalu berbeda dibanding yang terakhir kali.”

Sambil berbicara, Corinna menempatkan kain biru itu padaku dengan jarum-jarum pentul menusuk menembusnya. Sulit baginya untuk melakukan itu dengan perutnya yang besar, dan kelihatannya semua yang dia lakukan itu adalah sebuah perjuangan.

“Maaf, Myne. Aku harus memanggil seorang pelayan untuk membantu. Agak susah bagiku untuk melakukannya sendirian.”

“Perutmu benar-benar besar sekarang. Sudah hampir waktunya?”

“Ya, aku sudah diberitahu perkiraannya sekitar pertengahan musim dingin. Bayinya sangat bersemangat—dia selalu menendang-nendang di sekitar sini. Mungkin ini laki-laki?” Corinna mengelus perut besarnya sambil membunyikan bel untuk memanggil seorang pelayan.

Tapi yang datang ke dalam adalah Otto, berkata “Kau membunyikan bel?” dan kelihatan sangat antusias untuk membantu. Aku mau tidak mau jadi menertawakan ekspresi jengkel Corinna.

“Asal kau tahu, sekarang setelah Myne membawa pergi Benno dari kita, kurasa sekarang waktunya aku menyerah dan menerima kehidupan baruku bekerja di Firma Gilberta.”

“Um, Otto. Apa maksudmu aku telah membawa pergi Benno darimu?”

Aku bahkan tidak punya kekuatan lengan untuk mengangkat Benno, apalagi membawanya pergi.

“Maksudnya seperti yang kau dengar. Sebagai wali keuanganmu, Benno berencana untuk terus mengembangkan bisnisnya. Karena itulah dia sedang habis-habisan mengajariku Firma Gilberta berjalan,” kata Otto sambil mengangkat bahu sedikit sambil mulai membantu Corinna. Dia ternyata melakukan pekerjaan yang cukup bagus—sebuah tanda bahwa dia telah bekerja keras mempelajarinya.

“Otto, kau kelihatan terampil sekali di sini sampai-sampai aku hampir lupa kalau kau adalah seorang prajurit. Kalau seperti ini mungkin tidak akan lama lagi kau akan membuka tokomu sendiri dengan Corinna, ya?”

“...Yah, itu mungkin akan beberapa tahun lagi setidaknya. Aku akan bekerja keras demi Corinna dan bayi kami.”

“Ya ya, sayang. Tanganmu yang bekerja, bukan mulutmu.”

Corinna menyelesaikan jahitan sementaranya sambil memberi instruksi pada Otto. Panjangnya tidak masalah, jadi kami memutuskan untuk memakai hasil pengukuran yang sama dengan yang terakhir kali. Dia kemudian mengusir Otto lagi dan merapikan rambutku, yang jadi berantakan karena penjahitan sementara.

Saat aku mengenakan kembali lapisan luar bajuku, sebuah ketukan terdengar dari pintu luar, diikuti dengan suara Mark yang memberitahukan kedatangannya. Kami bisa mendengar langkah-langkah kaki seseorang yang membiarkan Mark masuk; aku buru-buru merapikan diri dan mengangguk tepat ketika Mark mengetuk pintu ruang tamu.

“Ya, silakan masuk.”

“Permisi, Corinna.” Mark masuk ke dalam dengan sehelai kertas kontrak dan Lutz mengikuti di belakang dengan sebotol tinta. Dia membentangkan kontrak sihir itu di meja bundar dan memastikan setiap poinnya denganku. Ini sangat persis dengan apa yang telah kudiskusikan dengan Benno, dan nominal yang tertera menguntungkan kami, menunjukkan bahwa Benno telah memenangkan negoisasi.

Hanya ada satu poin yang tidak kukenali. Sebuah kalimat yang menyatakan : “Isi dari kontrak ini akan dicatat dalam regulasi Serikat Tinta.”

“Mark, apa maksud dari bagian ini tentang regulasi Serikat Tinta?”

“Regulasi Serikat harus dipatuhi oleh semua lokakarya yang berada dalam sebuah serikat. Singkatnya, isi dari kontrak ini yang dicantumkan pada regulasi Serikat TInta ini pun berlaku pada Serikat-Serikat Tinta dan lokakaryanya di kota-kota lain.”

Kontrak sihir sendiri hanya secara sihir bersifat mengikat di Ehrenfest, tapi regulasi serikat dipatuhi di kota-kota lain. Dengan demikian, walaupun ada beberapa Serikat Tinta yang berbeda, mereka semua mengikuti regulasi yang sama—walaupun ada sedikit variasi dalam aturan-aturannya tergantung kota dan lokakarya yang terlibat. Dari caraku melihatnya, regulasi serikat sangat mirip dengan hukum federal yang ada di atas hukum regional.

“Tapi bagaimana Serikat TInta di kota-kota lain tahu bagaimana menerapkan aturan-aturan ini? Apa ada semacam jalur komunikasi antar mereka?”

“Mereka membeli proses produksi tinta ini tepatnya karena ini akan menguntungkan mereka. Tidak diragukan lagi Serikat Tinta ini akan mengirimkan pesan kepada sesama Serikat Tinta di kota-kota tetangga. Mereka akan memperbaiki salinan regulasi mereka setelah mempelajari proses produksinya.”

Aku mengangguk menanggapi penjelasan Mark dan meraih tinta itu. Di kontraknya sudah tercantum nama Benno dan Serikat Tinta, tapi bukan nama kepala dari serikat itu sendiri. Aku menulis namaku sedekat mungkin dengan bagian bawah.

“Jadi, Lutz. Orang seperti apa kepala Serikat Tinta?”

“...Dia punya tatapan yang licik. Dia tadi sedang mencarimu.”

“Bwuh?”

Lutz mengepalkan tinjunya dan menjelaskan, berbicara dengan pelan. “Dia mengatakan pada Master Benno bahwa dia tahu seorang anak kecil telah membahas tinta baru ini ke lokakarya. Dia bilang ‘Biarkan aku melihatnya kalau dia ada di sini.’ Kurasa adalah hal yang tepat Master Benno menyembunyikanmu… Dia terasa jauh lebih buruk daripada ketua perserikatan (TL : Kakeknya Freida).”

Kalau Lutz mengatakan pria ini jauh lebih buruk daripada ketua serikat, dia pasti benar-benar gawat. Lutz dan Benno sama-sama bersikap waspada di sekitar dia adalah tanda bahwa aku juga harus waspada.

“Ngomong-ngomong, Myne. Ulurkan tanganmu,” kata Lutz, menyiapkan pisaunya.

Aku berjengit, teringat bahwa kontrak sihir membutuhkan darah, dan kemudian mengulurkan tanganku. Sebuah rasa perih yang tajam dan mendadak muncul di ujung jariku dan darah pun keluar. Aku menekankannya pada kontrak yang kemudian meledak menjadi api emas, membakar kertas itu dan menyegel kesepakatannya. Ini terlihat luar biasa seperti biasa.

“Myne,” kata Mark, “silahkan menunggu di sini dengan tenang sampai Master Benno memanggilmu.”

“Aku tahu, Mark.”

Dengan kontrak yang sudah ditandatangani, aku menghabiskan waktu mengobrol dengan Corinna tentang bayinya dan mengabaikan rengekan Otto tentang aku yang tidak akan bisa membantu pekerjaannya saat musim dingin.

Kira-kira sekitar waktu makan siang ketika Benno bergegas menaiki tangga dengan sorot mata geram.

“Myne, aku mengirim Mark untuk membawa Lutz pulang dan memanggil ayah dan kakakmu untuk datang menjemputmu. Jangan pernah berpikir untuk pergi sampai mereka tiba di sini!”

“...Apa?! Apa terjadi sesuatu?!” Aku berdiri dan cepat-cepat mendekati Benno, yang melihat ke luar jendela dengan alis berkerut.

“Aku menyuruh Lutz pergi mengantar barang ke Serikat Pedagang, dan di tengah jalan ada beberapa pria yang mengeroyoknya. Mereka mulai menanyakan tentang ‘gadis Firma Gilberta’. Mereka bilang dia pasti tahu tentang dirimu karena dia adalah seorang leherl dan mengurus kontrak itu.”

“Pasti itu artinya mereka adalah…” Suaraku melemah, dan Benno mengangguk mantap.

“Mereka pasti berasal dari Serikat Tinta, tapi aku tidak bisa mengerti kenapa mereka mulai memburu info setelah menandatangani kontrak.”

Masuk akal kalau mereka ingin mengumpulkan informasi lebih dulu untuk membantu mendapatkan kesepakatan yang lebih baik untuk mereka sendiri atau sesuatu semacam itu, tapi kontraknya sudah ditandatangani. Mereka telah memojokkan Lutz meskipun itu sudah jelas akan membuat kami waspada, dan kami tidak tahu kenapa. Dan tidak ada rasa takut yang lebih besar daripada rasa takut karena ketidaktahuan.

“...Mungkin ada sesuatu yang terjadi di balik layar di sini. Buka mata dan telingamu lebar-lebar di luar sana.”

“Baik.”


“Myne, kami sampai.”

“Ayah! Tuuli!”

Mereka berdua sama-sama baru saja pulang kerja, dan dilihat dari bagaimana mereka terengah-engah, pastilah terburu-buru ke sini dengan kecepatan penuh.

“Aku minta maaf karena memanggilmu ke sini,” kata Benno pada Ayah, berdiri dari kursinya.

“Sudahlah, aku menghargai usahamu yang repot-repot melindungi puteriku. Apa kau keberatan kalau aku bertanya apa yang sedang terjadi di sini?”

“Serikat Tinta sudah jelas mengincarnya, tapi aku tidak tahu siapa yang menjadi dalangnya,” jelas Benno. “Kenyataan bahwa mereka memburu informasi setelah kontrak ditandatangani ini adalah hal yang aneh, dan pengejaran mereka terhadap Lutz tidaklah masuk akal.”

Aku bisa melihat mata ayahku mengeras. Tuuli, terlihat gelisah, memelukku erat-erat.

“Kurasa Myne akan paling aman kalau kau mengirimnya ke kuil sekarang,” Benno melanjutkan. “Akan kuserahkan keputusannya padamu dan isterimu, tapi mereka tidak akan bisa melakukan apapun padanya kalau dia ada di dalam kuil. Itu juga akan memberi kita  waktu untuk menggali informasi.”

“...Benar.”

Dad mengangguk muram, kemudian mengangkatku dengan alis yang berkerut dalam. “Bagaimana menurutmu, Myne? Kau mau pergi ke kuil? Atau kau mau pulang ke rumah?”

Sejujurnya, aku ingin Ayah membawaku pulang sehingga aku tidak akan kesepian. Tapi itu akan membuat orang-orang itu lebih mungkin mengejar Lutz dan keluargaku.

“...Aku tidak ingin pergi secepat ini, tapi aku lebih tidak mau terjadi sesuatu pada Ayah ataupun Lutz. Aku akan pergi ke kuil. Salju juga akan segera turun, lagipula.”

Aku memperlihatkan raut wajah berani, tapi pemikiran tinggal di dalam kuil membuatku luar biasa gugup. Aku meremas kemeja Ayah erat-erat.

Dan begitulah, musim dinginku di kuil dimulai.



Sebelumnya | Daftar Isi | Selanjutnya