BAB 4
(Translater : Fulcrum)


Tatsuya dan yang lain sudah kembali dari Nara. Dan, pada sore itu. Keluarga Shiba, Keluarga Kudou, Keluarga Kuroba, maupun SMA 1, bahkan kuil Kyuuchouji pun belum ada yang melanjutkan pencarian mereka terhadap Zhou Gongjin.

Sebuah rumah mewah dekat jantung kota Tokyo. Tempat itu dibangun menyesuaikan dengan rumah-rumah biasa di dekatnya, kemegahannya persis seperti rumah-rumah barat lainnya. Pemilik rumah, Saegusa Kouichi, telah memanggil pelayan kepercayaannya yang menjadi pengawal anak perempuannya, Nakura Saburo ke ruang belajarnya.

“Apa kau ingat anak itu, Shiba Tatsuya?”

Majikannya langsung melontarkan pertanyaan begitu ia masuk.

“Adik kelas Mayumi-ojou-sama di SMA nya.”

Nakura menjawab sekenanya dan tidak menyinggung seperti biasa. Tentu saja, Nakura mengingat lebih dari itu tapi dia tidak mengatakannya.

Kouichi mengarahkan tatapannya pada Nakura sekilas. Jawabannya tidak sesuai dengan pendapatnya, meski begitu Kouichi tidak menegurnya.

“Adik kelas Mayumi itu memiliki hubungan dengan si kembar Kuroba.”

“Mereka berdua bermandikan kejayaan di Kompetisi Sembilan Sekolah tahun ini, hmm. Kembar Kuroba yang laki-laki bisa menarik perhatian banyak orang dan di waktu yang sama bisa menghindari sorotan dari mereka yang punya hubungan dengan sihir.”

“Entah bagaimana caranya.”

Sikap Kouichi seakan berkata “Aku tahu ada yang disembunyikan”, namun, ia tidak mengatakannya secara langsung.

“Dua minggu lalu, kembar Kuroba itu mengunjungi rumah Shiba Tatsuya. Dan kemarin dan kemarin lusa, Shiba Tatsuya mengunjungi Keluarga Kudou. Tampaknya, dia bertemu dengan Sensei.”

“Dia berbicara langsung dengan Kudou Retsu-sama. Itu bukanlah hal sepele.”

Sekali lagi, Kouichi melirik Nakura.

“Nakura, berhentilah berpura-pura bodoh.”

Kali ini, dia tidak meliriknya.

“Shiba menyampaikan pesan dari kembar Kuroba kepada Sensei. Hanya ada satu alasan yang sampai bisa membuat Keluarga Yotsuba meminta kooperasi Keluarga Kudou.”

Kouchi tahu bahwa Keluarga Kuroba gagal menangkap Zhou Gongjin di Chinatown Yokohama.

Nakura lah yang menyampaikan berita itu kepadanya.


Nakura tidak akan mengoreksi majikannya kalau sebenarnya yang menghubungi Keluarga Kudou bukanlah kembar Kuroba, melainkan Shiba Tatsuya. Kouichi tidak menyatakan itu terang-terangan tapi Nakura tahu majikannya telah menyimpulkan hubungan Shiba Tatsuya dengan Keluarga Yotsuba.

“Bagaimanapun juga, orang itu tidak akan bisa lari dari jeratan Keluarga Yotsuba dengan adanya bantuan Keluarga Kudou.”

Kata ‘orang itu’ yang digunakan Kouichi mengacu pada Zhou Gongjin. Keluarga Kudou dan Keluarga Yotsuba bersekutu untuk menangkap Zhou adalah pikiran berlebihan dari Kouichi menurut Nakura sekarang. Di tangannya sudah ada data dan bukti yang mendukung. Namun, Nakura tidak mengatakannya kepada Kouichi.

“Aku tidak peduli jika orang itu dihancurkan Keluarga Yotsuba. Namun, jika dia sampai ditangkap, kemungkinan besar Keluarga Saegusa akan jatuh ke posisi yang tidak enak.”

Nakura menunduk menyampaikan tanda setuju terhadap perkataan majikannya tanpa banyak bicara.

“Keluarga Yotsuba tidak boleh tahu tentang hubungan Keluarga Saegusa dan Zhou Gongjin.”

Nakura dan Kouichi memiliki pendapat yang berbeda tentang itu. Nakura telah mengkonfirmasi bahwa Keluarga Yotsuba telah sadar bahwa Keluarga Saegusa memberikan akomodasi kepada Zhou Gongjin.

Mereka mungkin belum mengantongi satupun bukti. Namun, Keluarga Yotsuba dan Kuroba yang ada di bawahnya tidak membutuhkan yang namanya bukti. Keluarga Yotsuba tinggal dalam balik bayang-bayang dengan orang-orang seperti Nakura. Meski mereka yang tinggal dalam bayang-bayang senang bermain api, cara pandang mereka terhadap suatu hal berbeda dari orang-orang yang ada dalam sorotan publik seperti Kouichi. Nakura berpikir seperti itu, tapi karena dunia tempat mereka tinggal berbeda, dia rasa tidak mungkin hal itu dapat dimengerti hanya dengan penjelasan verbal.

“Kau telah mendapat lokasi dari Zhou Gongjin?”

“Tolong, maafkan saya. Saya tidak tahu dimana dia sekarang.”

Amarah terkumpul di wajah Kouichi.

Majikannya sudah hampir kehilangan kendali, Nakura melanjutkan dengan pernyataan untuk menenangkannya.

“Namun, kita telah mengamankan jalur komunikasi. Kita bisa menghubunginya.”

Kouchi terdengar menggertakkan gigi belakangnya. Dia merasa bahwa dia sedang diejek oleh Nakura. Namun, dia cepat-cepat menyingkirkan perasaan itu dan kembali tenang. Mungkin itu memang sudah sifatnya, sikap elegannya tidak hilang sedikit pun.

“Kalau begitu panggil keluar Zhou Gongjin. Lalu selesaikan dengan baik.”

“Seperti yang Tuan minta.”

Dia menjawab perintah pembunuhan itu, tidak ada keraguan dari sikapnya. Sejak awal, pekerjaan seperti ini merupakan keahliannya, sebelum dia dipekerjakan oleh Keluarga Saegusa, mayoritas kerjanya sebagai seorang pembunuh.

“Jika butuh bantuan, bawa saja yang kau pilih untuk menemanimu. Kau tidak perlu mengkhawatirkan keamanan rumah ini.”

“Tidak, saya seorang diri sudah cukup.”

Kouichi sedikit kesal mendengar kata-kata percaya diri dan kesombongannya, Nakura dengan santai menyampaikannya.

“Zhou Gongjin mampu lepas dari blokade Keluarga Kuroba. Aku yakin kalau kau sendiri yang bilang itu padaku?”

Perkataan Kouichi tidak merusak kepercayaan diri Nakura.

“Itu memang benar. Maafkan saya atas ketidaksopanan saya tapi saya yakin bahwa dengan kemampuan mereka, para penjaga rumah hanya akan mati sia-sia. Daripada memperlancar, mereka hanya akan menghambat.”

Kata-kata itu kasar, tapi Kouichi tidak terlihat marah mendengarnya.

“Aku mengerti. Terserah mau kau urus bagaimana hal ini.”

“Saya minta maaf atas kelancangan saya.”

Nakura dengan hormat menundukkan kepalanya pada perintah yang diberikan.

“Ah. Aku akan mencari ganti orang yang akan mengawal Mayumi seperti biasa.”

“Terima kasih atas pengertian Tuan.”

Nakura menjawab dengan kepalanya yang masih menunduk dan pergi dari ruangan itu tanpa menatap mata Kouichi.

◊ ◊ ◊

Kunjungan terakhir mereka ke Nara tidak memberikan hasil dalam pencarian Zhou Gongjin, tapi dia berhasil memperoleh persetujuan kerja sama dari Tetua yang memiliki pengaruh besar di kalangan masyarakat sihir Jepang meski sudah pensiun sekalipun. Mereka telah menangkap penyihir Cina Daratan yang menyerang mereka. Dia perlu menunggu dulu dari divisi informasi, tapi saat ini dia juga tidak sedang terburu-buru sampai perlu menyelinap ke dalam divisi informasi guna mendapat petunjuk dari tahanan mereka.

Tatsuya menghabiskan hari Sabtu yang padat, tapi kalau dia bisa pulang sekolah di siang hari maka ada urusan lain yang menunggunya. Hari ini, dia membantu Isori, di aula, dia menunjukkan hasil dari CAD bersegel sihir di proyektor, data itu mereka peroleh dari perangkat percobaan yang mereka ciptakan.

“…Jadi intinya, yang jadi masalah adalah bagaimana cara kita tahu margin of error segel yang tertanam di dalamnya, bukan?”

“Tepat. Sampai seberapa wujud itu terdistorsi dan apakah setelah itu masih bisa digunakan untuk membantu penggunaan sihir? Itu bagian penting dari tesis ini.”

“Tidak apa-apa bukan menunjukkanku data eksperimen yang telah kau kumpulkan?”

“Tentu saja, ini.”

Miyuki tampak bangga dan Honoka terpesona saat melihat Tatsuya berinteraksi seperti itu dengan Isori.

“Honoka, Miyuki, aku akan kembali berpatroli.”

Mendengar suara Shizuku datang dari sampingnya membuat Honoka mulai dan kembali sadar.

“Ah ya, hati-hati di jalan.”

“Shizuku, terima kasih atas kerja kerasmu.”

“Terima kasih. Honoka, Miyuki, sampai nanti.”

Saat Honoka melihat Shizuku pergi, Miyuki mengatakan “Kita juga harus kembali” padanya.

Setelah memilih waktu yang pas untuk undur diri agar tidak sampai menggangu pekerjaan Tatsuya, mereka berdua kembali menuju ke ruang OSIS. Dalam perjalanan, Miyuki bertanya kepada Honoka seolah tidak terjadi apa-apa.

“Sampai sekarang, kau belum merasa ada yang mengikuti atau mengawasimu?”

“Ya, aku baik-baik saja. Oji-sama benar-benar mengkhawatirkanku, bahkan sampai menyewa jasa keamanan untukku.”

“Penyedia jasa keamanan penyihir?”

“Ya…sebenarnya, itu bisnis keluarga Morisaki-kun.”

Mendengar kata-kata itu membuat wajah Miyuki sedikit berubah, itu bukanlah hal aneh. Keluarga Morisaki menjalankan bisnis penyedia jasa keamanan yang sangat dihormati oleh masyarakat biasa maupun penyihir. Miyuki sadar akan hal itu juga, tapi kesan pertamanya tidak terlalu bagus.

“Ja-jadi, Oji-sama sudah menyewa jasa itu, maka dari itu kurasa aku akan baik-baik saja.”

“…Baiklah. Pilihan ayah Shizuku tidak akan salah.”

Suasana bosan muncul di antara mereka berdua. Hal itu hilang oleh pertanyaan yang dilontarkan Honoka.

“Miyuki… berapa lama aku harus tinggal di rumah Shizuku?”

Hal yang tidak disangka-sangkanya membuat Miyuki sampai mengedipkan matanya.

“Apa keluarga Shizuku mengatakan sesuatu?”

“Bukan seperti itu! Ini karena Oji-sama, Oba-sama, dan orang yang bekerja di keluarga Shizuku telah sangat baik padaku!”

Teriakan refleksnya itu membuat Honoka memasang ekspresi “Ah…”.

“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud seperti itu.”

“Ti-tidak, Miyuki! Maafkan aku. Cara bicaraku salah!”

Honoka terlihat tidak ingin membuat temannya ini merasa bersalah.

“Umm, aku tidak bermaksud seperti itu, maksudku hanya berapa lama lagi aku harus mempunyai pengawal yang melindungiku…”

Kegelisahan Honoka adalah hal masuk akal. Karena dia bukan keturunan penyihir yang dihasilkan dari laboratorium, dia tidak dibesarkan untuk bertempur.

Miyuki merasa pemikirannya tidak keliru.

“Walaupun ini mungkin cukup lama, kurasa sampai Kompetisi Thesis berakhir.”

Seolah-olah Honoka tidak mendapat jawaban jelas. Dia memandang balik wajah Miyuki dengan ekspresi “Huh?”. 

“Tidak apa-apa. Tidak akan terjadi apa-apa.”

Miyuki tetap tersenyum lembut seperti untuk meyakinkan anak kecil, dalam kasus ini Honoka, saat dia menjawab. Wajah Honoka memerah dan menunduk malu.


Sampai Sabtu kemarin, mereka tidak tahu bahwa rumah Mizuki dan Mikihiko benar-benar dekat.

Rumah Mizuki berjarak satu stasiun dari pusat kota Atsugi.

Rumah Mikihiko ada di kota Isehara di kaki gunung Tanzawa.

Jarak merek memang tidak sedekat itu tapi karena adanya cabinet rute Atsugi menuju Isehara, mereka hanya butuh waktu sekitar lima menit dari stasiun terdekat rumah Mizuki menuju stasiun terdekat rumah Mikihiko.

“Um, Yoshida-kun. Sampai di sini saja tidak apa-apa.”

“Tidak, tidak ada gunanya kalau begini.”

Mereka baru saja pulang sekolah saat gerbang akan ditutup karena persiapan Kompetisi Thesis. Karena topik itu, yang Isori pilih kali ini, lebih fokus pada grafis komputer daripada perangkat kerasnya; Klub Seni, yang diikuti Mizuki, bekerja mati-matian. Keahlian khusus Mizuki ada pada pelukisan air gaya kuno tapi dia juga cukup mahir dalam CG yang diperlukan dalam proyek ini.

Oleh karena itu, dia tidak bisa pulang sampai saat-saat terakhir. Tapi, berkat itu, mengatar Mizuki pulang tidak mengganggu tugasnya sebagai Ketua Komite Moral Publik.

Ini sudah bulan Oktober dan hampir tanggal sepuluh. Sejak dulu, berlalunya autumnal equinox[1] menandakan bahwa hari-hari musim gugur mulai berakhir. Langit mulai terlihat bintang-bintangnya. Tidak peduli seberapa banyak pejalan kaki yang ada atau berapa banyak cabinet dari stasiun ke rumah mereka; dia tidak mungkin menganggap kalau mengucapkan “Sampai jumpa” ke seorang gadis di stasiun sama seperti mengantarnya sampai di rumah. Begitulah perasaan Mikihiko.

Mizuki, sendiri, bukan tidak senang Mikihiko melihat rumahnya. Namun, dia tidak tahu harus berbicara apa ketika mereka berduaan di cabinet. Mereka tidak terlalu punya banyak hal untuk dibicarakan bersama, mereka sudah membicarakan banyak topik di hari Sabtu dan semuanya sudah habis di hari Senin.

Berduaan dalam satu mobil kecil tanpa berbicara sedikitpun. Dengan sedikit rasa malu Mizuki, perjalanan mereka terasa agak menyiksa.

Saat mereka menunggu antrean cabinet di depan stasiun tidak ada sepatah katapun yang terlontar, tapi karena saat itu tidak sedang berduaan di ruang tertutup, keheningan mereka tidaklah jadi masalah.

“Omong-omong, bukankah keahlianmu melukis air, Shibata-san?”

“Uh, ya.”

Namun, Mikihiko telah memikirkan apa yang akan mereka bicarakan dan tidak sabar untuk membicarakannya saat di dalam cabinet. Tapi tetap saja, Mizuki sama sekali tidak menganggapnya sebagi orang yang tidak peka .

“Benar. Aku suka mewarna halus dengan cat air… aku sekarang sudah bisa mewarna dengan CG, tapi aku termasuk orang yang lebih senang melukis manual dengan kuas.”

Ini merupakan kebiasaan Mizuki untuk menjawab pertanyaan, yang ditanyakannya, sejelas mungkin.

“Tapi, meski begitu kau hebat dalam CG, luar biasa.”

“Itu bukan apa-apa, keahlianku melukis air masih rendah.”

Wajah Mizuki yang rendah hati dan malu berubah drastis memerah dan mimik wajahnya seolah berkata “Jangan memujiku”. Sayangnya, Mikihiko tidak punya ilmu kebatinan untuk mengetahuinya.

“Tapi, ketua klubmu memujimu. Dia bilang talentamu luar biasa, Shibata-san. Kalau dipikir-pikir, bukankah nilai Geometri Sihirmu bagus, Shibata-san?”

“Y-Ya. Itu satu-satunya penolong nilai ujianku.”

Mizuki tersenyum bercanda.

“Haha, sama sepertiku. Berkat Sejarah Sihir dan Linguistik Sihir, aku bisa mendapat peringkat yang tinggi. Namun, tidak peduli apapun yang kulakukan aku masih kesulitan Rekayasa Sihir.”

“Keahlianmu di mantra, Yoshida-kun… eh, kalau dipikir-pikir Yoshida-kun, kau tidak belajar Geometri Sihir. Kenapa?”

“Karena Farmakologi Sihir lebih berguna untuk sihirku. Sebenarnya aku juga ingin belajar Geometri Sihir.”

“Jadi itu alasan kau kadang-kadang pergi ke kantor Tsudzura-sensei.”

“Bukan, itu karena Sensei memang memanggilku…”

Meski mereka kelihatan tidak sedang dalam bahaya, semua itu bisa saja terjadi kapanpun.

Namun, tidak peduli seberapa dia menikmati pembicaraannya dengan Mizuki, Mikihiko tidak lupa untuk mengawasi lingkungan sekitar.

Bahkan sampai sekarang, Mikihiko sedang menggunakan shikigami untuk mengawasi sekitaran. Agar Mizuki tidak menyadarinya, dia tidak menghentikan pembicaraan mereka sambil menggunakan shikigaminya, dia menggunakan sihir pencarian.

Area yang jangkauan sihirnya meluas secara signifikan. Semua tatapan pada Mizuki yang memancarkan gelombang sihir terekam di pikiran Mikihiko. Tidak peduli tatapan itu berisi niat baik atau buruk, meski sebenarnya kebanyakan merupakan tatapan mesum. Mizuki kini tidak mencolok seperti saat dia bersama Miyuki dan Erika tapi Mizuki sendiri adalah gadis yang sangat manis di atas rata-rata. Selain itu, sejak dia jadi anak kelas dua, tubuhnya yang sudah dewasa bisa menarik perhatian mata orang.

Kebanyakan tatapan yang dirasakannya memancarkan gelombang sihir, tapi ada beberapa tatapan nonsihir yang gagar terfilter dan membuatnya kesulitan. Dengan kondisi seperti itu, Mikihiko melacak targetnya tanpa disadari Mizuki atau penyihir lain.

Fujibayashi pernah sekali mengatakan bahwa Mikihiko mempunyai aura seorang jenius. Sebelum dia mengenal Tatsuya, dia menghabiskan waktu setahun menganggap dirinya merupakan suatu kegagalan. Sejak dia mengenal Tatsuya, ia telah terlibat dalam peristiwa-peristiwa mengerikan dan citra dirinya telah kembali dan berubah di tahun itu. Kemajuannya selama dua tahun terakhir ini setara dengan apa yang biasanya dilewati dalam waktu sepuluh sampai dua puluh tahun bagi orang biasa.

Ketika mereka sedang asyik berbicara, giliran mereka tiba. Cabinet di depan mereka membuka pintunya secara otomatis, menunggu mereka untuk masuk. Mikihiko mempersilakan Mizuki masuk terlebih dahulu, melihat ke sekitarnya, lalu menggunakan mantra Juhou ‘Return’, sebuah Sihir Kuno untuk mengembalikan shikigami ke orang yang melepasnya.

◊ ◊ ◊

Di adegan itu ada sesuatu yang terjadi di balik layar. Semua ini terjadi di pintu belakang sebuah gedung.

Menyebut pintu belakang itu sebagai ‘jalan masuk’ akan terdengar aneh awalnya, pintu ini letaknya ada di sisi belakang gedung dari sisi yang biasa dimasuki pengunjung, bahkan di era sekarang, masih ada saja gang di belakang gedung. Sampah-sampah akan secara otomatis dibuang melalui sebuah pipa bawah tanah khusus, mesin pembersih yang dibeli distrik lokal akan membersihkan jalanan sehingga tidak ada sampah berserakan yang menimbulkan bau tak sedap. Namun, tempat ini tidak terjangkau oleh cahaya lampu jalan.

“Sialan, dasar anak itu!”

Mengintai dari kegelapan gang, seorang pria berusia empat puluhan tahun menjatuhkan tangannya sambil memaki.

Tangan kananya menutupi jari kirinya yang meneteskan darah.

“Dia mengusir kembali shiki-ku. Bukankah anak kedua Keluarga Yoshida seharusnya kehilangan kemampuan mistiknya!”

Berbicara sendiri merupakan kebiasaannya, dia biasanya tidak bekerja sendirian

“Tapi perlakuannya kasar… aku hanya mengawasi mereka saja.”

Darahnya mengalir lebih lama dari dugaannya, orang itu sementara melepaskan tangan kirinya dan mengambil selembar kertas yang pasti bukan untuk sapu tangan, dia sudah mengeluarkan jimat.

“Kalau begini, akan kupakai darahku sebagai persembahan.”

Saat dia berkata seperti itu, ia menekan jimat di lukanya tadi dan menyebutkan kutukan. Mendengar kalimat terakhir mantranya ‘Kyuu kyuu nyoritsu ryou”, mungkin dia adalah seorang onmyouji atau mungkin semacam okultis Cina. 

“Akan kubikin kau mengingatku, dasar Yoshida sialan. Darahku ini bukan main-main.”

“Sia-sia, sia-sia. Dengan kemampuanmu, pak tua, efek kutukanmu akan berbalik kepadamu.”

Dengan tatapan menakutkan, orang itu menoleh ke arah sumber suara. Dia bukan amatir. Dia sudah memasang sebuah pelindung agar orang tidak menyadari keberadaannya sehingga ia dapat konsentrasi pada kerjaannya. Dia tidak lupa untuk membuat lingkaran yang akan mengingatkannya jika ada seseorang yang mendekat. Meski begitu, ia terkejut dengan adanya orang ini.

Tanpa buang waktu, dia mengeluarkan jimat baru. Tidak mungkin sembarangan orang bisa menembus pelindungnya begitu saja. Mengingat perkataannya barusan, orang di hadapannya ini jelas merupakan musuh.

Namun, sihirnya tidak keluar.

“Kau tidak memperhatikan belakangmu.”

Perhatian orang yang menoleh itu tertuju pada seorang lelaki muda yang mendekatinya dari belakang. Dia terkena serangan yang menyebabkannya hilang kesadaran. Faktanya, sihir itu tergolong berbahaya dengan potensi efek samping yang tidak dapat diabaikan. Namun, mereka tidak menunjukkan keraguan sedikit pun.

“Orang ini terlalu lemah untuk standar orang terlatih. Apa memang sebegitu perlunya ada penjaga?”

“Hei, jangan berbicara seperti itu. Menahan diri juga bagian dari latihan.”

Kedua anak muda itu melihat satu sama lain yang sama secara fisik dan wajah. Hal ini tidak ada saat mereka lahir, mereka makan nasi yang sama, mereka melewati siksaan yang sama, baru setelah itu semua mereka menunjukkan kemiripan.

Dan yang lebih penting, kepala mereka sama-sama dicukur bersih.

◊ ◊ ◊

Keesokan harinya saat jeda antara jam pelajaran pertama dan kedua. Tatsuya datang mengunjungi markas Komite Moral Publik memenuhi panggilan Mikihiko.

“Ah, Tatsuya. Maaf memanggilmu kesini.”

Tatsuya melihat Mikihiko, yang sudah sampai lebih dulu, mengoperasikan konsol genggamnya, saat dia memasuki ruangan.

Dia mengunci pintu dan memasang status ‘Sedang Digunakan’.

“Tidak apa-apa. Jadi ada apa.”

“Waktunya tidak panjang, jadi aku singkat saja. Kemarin saat pulang, Shibata-san ditarget.”

Tatsuya terkejut mendengar informasi yang diberikan Mikihiko.

“Mizuki? Tapi, dia tidak kelihatan seperti habis ditarget.”

“Shibata-san tidak sadar. Dia hanya diawasi oleh shikigami dari jarak jauh dan aku sudah menghancurkan semua sihirnya.”

“Oh, aku mengerti.”

Tatapan Mikihiko terlihat kesal saat ia mendengar suara lega Tatsuya.

“Ini seperti dugaanmu, Tatsuya.”

“Ah. Terima kasih sudah menemaninya.”

“Tapi, bukankah ini aneh.”

Tatsuya pura-pura tidak mengerti apa yang dimaksud Mikihiko dan mendengarkan perkataannya.

“Mengapa Shibata-san harus ditarget oleh orang-orang itu? Mereka bukanlah preman biasa. Menurutku mereka tidak begitu hebat, tapi rasanya mereka bukan amatir.”

“Jadi mereka kriminal profesional?”

“Mereka adalah penyihir ‘kelas bawah’.”

Untuk sesaat, Mikihiko tersendat menentukan cara bicaranya tapi dia tidak diam saja.

“Mengapa orang seperti itu mentarget Shibata-san? Jika tujuan mereka adalah Kompetisi Thesis mereka seharusnya mentarget Isori-senpai atau Nakajou-senpai atau Minakami-senpai. Tatsuya kau tidak menyembunyikan sesuatu, ‘kan? Rangkaian Aktivasi shikigami yang kau tunjukkan padaku tidak mungkin kau temukan secara tak sengaja. Orang yang menyerangmu ada hubungannya dengan yang menyerang Shibata-san, bukan?”

Tidak ada jawaban dari Tatsuya.

Mikihikolah orang pertama yang memalingkan muka.

“Tatsuya… kau dapat menolakku dengan berkata seperti ‘Ini bukan urusanmu’, tapi aku berhutang kepadamu. Berkat dirimu kepercayaan diri dan kemampuanku sebagai seorang penyihir kembali.”

Tatsuya berusaha untuk menyangkal itu, tapi Mikihiko terus melanjutkan kalimatnya.

“Jadi, aku tidak akan jadi beban. Aku akan melakukan apapun yang aku bisa untuk menolongmu dan jika kau ingin merahasiakan ini, aku tidak akan mengatakannya kepada siapapun.”

Dia kembali menatap Tatsuya dengan keputusasaan. Tatapan matanya pada Tatsuya seperti hewan yang sudah terpojokkan.

“Namun, kalau aku tidak tahu apa yang terjadi, aku tidak akan dapat melindungi Shibata-san!”

Baru saja, Mikihiko mengatakan kepada Tatsuya bahwa dia memiliki perasaan spesial terhadap Mizuki, tapi dia sendiri, mungkin tidak sadar akan itu. Tatsuya tidak bermaksud untuk memanfaatkan hal itu untuk mengelak.

“Aku tidak bisa menjelaskan rinciannya.”

“Tatsuya!”

Mikihiko menaikkan suaranya dan mendekat ke Tatsuya

“Seorang penyihir luar negeri yang bekerja sebagai pemandu operasi musuh di Insiden Yokohama tahun lalu sedang dilindungi oleh ‘Traditionalist’. Aku sedang mengejarnya.”

Namun, perkataan Tatsuya memberikannya sedikit informasi, Mikihiko terdiam dan wajahnya berubah pucat.

“Maaf. Hanya itu yang bisa aku katakan.”

“Aku mengerti… Kau.”

Mikihiko berhenti berbicara sebelum dia mengatakan ‘JSDF’ dan menutup mulutnya. Bahkan, walau di dalam ruangan kedap suara sekalipun, itu bukanlah sesuatu yang boleh dikatakan sembarangan.

“Akulah yang seharusnya meminta maaf… dan, terima kasih sudah memberitahuku.”

Mikihiko benar-benar salah paham. Tepat seperti tujuan Tatsuya.

Dan, Tatsuya tidak merasa bersalah tentang itu. Keadaan sebenarnya dari situasi ini, hubungannya dengan Keluarga Yotsuba, bukanlah sesuatu yang boleh diketahui siapapun. Masih berbahaya untuk diketahui orang-orang. Ini masih terlalu cepat untuk menyeret Mikihiko jadi kaki tangannya.

“Tatsuya, kau bilang ‘Traditionalist’.”

“Ya, aku tahu merekalah yang melindungi target.”

“…Mungkin aku dapat membantu. Sepulang sekolah… ah tidak bisa. Bagaimana kalau malam ini? Setelah aku mengantarkan Shibata-san, aku akan kembali lagi ke sekolah.”

“Baiklah.”

Belum ada batasan waktu yang ditetapkan Maya dan dari perspektif Tatsuya tidak ada gunanya juga terburu-buru. Lagipula dia juga tidak punya dendam pribadi terhadap Zhou Gongjin. Sebenarnya membiarkannya begitu saja tidak membuat Tatsuya khawatir sama sekali.

Namun, pikir Tatsuya, apa Mikihiko akan puas dengan itu.


19.30. Sesuai perkiraan, di jam itu, pekerjaan untuk Kompetisi Thesis sudah berhenti. Hanya para murid laki-laki yang masih tersisa, tapi itu bukan masalah Komite Moral Publik dan penjaga sekolah.

Seperti biasa Isori, yang mantan anggota OSIS sekaligus ketua tim tesis ini, yang akan mengunci gerbang nantinya. Namun, sejak awal, Ketua OSIS sudah menunjuk Tatsuya untuk menggantikannya mengawasi jalannya persiapan. Oleh karena itu, kehadiran Tatsuya di sana sepulang sekolah bukanlah sesuatu yang aneh.

Karena tidak ada waktu luang, semua masalahnya, seperti tugas sekolah, menumpuk banyak. Tatsuya melihat tugas-tugasnya di terminal OSIS dan mengerjakan tumpukan tugas itu dalam sekejap.

Segera setelah dia menyelesaikan tugasnya, bel berbunyi menandakan ada tamu yang berkunjung ke ruangan OSIS.

“Pixie, tolong.”

“Ya, Tuan.”

Tatsuya memerintah Pixie yang telah menjadi robot pelayan OSIS. Dia mengkonfirmasi biodata pengunjung dan segera membukakan pintu. Mikihiko masuk dan Pixie keluar dari pintu yang sama, Tatsuya sudah menyuruhnya begitu.

“Maaf membuatmu menunggu, Tatsuya.”

Selagi duduk di kursi yang ditarikkan Pixie, Mikihiko menyampaikan salamnya.

“Tidak apa-apa, bagus juga aku bisa beristirahat.”

Mikihiko kelihatan ragu dengan jawaban Tatsuya. Tatsuya sudah meninggalkan terminal saat mereka berbicara. Mikihiko dapat melihat daftar laporan di layar monitor dari tempat ia duduk.

Namun, kalau dia mencoba melucu di sini maka suasananya akan jadi tidak enak.

“Ini mungkin terasa agak terburu-buru, tapi ayo kita lanjutkan pembicaraan tadi pagi.”

Mikihiko menilai bahwa menjaga pikirannya tetap segar lebih penting daripada mencairkan suasana dan langsung masuk ke topik utama.

“Aku ingin memastikan satu hal. Tatsuya apa kau yakin kalau targetmu dilindungi oleh Traditionalist?”

“Sumber informasiku terpercaya.”

“Baiklah kalau begitu…”

Mikihiko diam sesat, hanya beberapa detik saja, tenggelam dalam pemikirannya.

“Pertama-tama, mari kita luruskan posisiku. Mereka yang mengklaim sebagai Traditionalist adalah kelompok besar yang terdiri dari Penyihir Kuno yang baik dan jahat. Lebih tepatnya Penyihir Kuno bisa dibagi ke dua kelompok; yang mendukung dan yang menentang Traditionalist.”

“Benarkah? Master bilang kalau mereka dibenci oleh penyihir pewaris tradisi asli.”

Dia sebenarnya tidak mendapat informasi itu dari Yakumo, namun Tatsuya merasa kalau meminjam nama Yakumo akan menghilangkan kecurigaan padanya.

“Memang benar. Namun sebaliknya, banyak penyihir yang merasa terkekang oleh hierarki dan disiplin dan rendahnya status, menaruh simpati pada Traditionalist yang tidak berhubungan dengan tradisi.”

“Bagaimana dengan Keluarga Yoshida?”

Di awal, Mikihiko sempat bilang ‘luruskan posisiku’. Singkatnya, dia mungkin ingin menjelaskan posisinya atau keluarganya dalam perkasa Traditionalist ini.

“Keluarga Yoshida telah lama disebut keluarga dengan ordo religius. Hal itu dikarenakan kami yang mencari sihir untuk memuja dan mendekatkan kami pada Dewa.”

Itu adalah ciri-ciri penyihir yang bersekutu dengan Traditionalist.

“Sehingga jelas saja, Keluarga Yoshida bertentangan dengan Traditionalist.”

Namun, jawaban Mikihiko berbanding terbalik dari bayangannya.

“Traditionalist yang bekerja sama dengan Ninth Institute dan kami, Keluarga Yoshida, pada dasarnya punya cara pandang berbeda terhadap sihir. Tujuan Keluarga Yoshida selalu tertuju pada sihir yang membawa kami lebih dekat dengan Dewa. Sehingga tidak mungkin kami bersekutu dengan orang yang hanya ingin menjadi lebih kuat dengan cara apapun.”

Sebenarnya apa yang dikatakan Mikihiko ini adalah opininya atau memang itulah nilai yang ditanamkan oleh orang tuanya; dari perkataannya, hal itu masih belum jelas. Namun, bisa dilihat jelas kalau dia bangga dengan itu terlepas dari itu opininya atau nilai orang tuanya.

“Karena itu, terlepas dari semua itu, kau bisa meminta bantuanku. Kalau kau mau, Tatsuya kurasa aku bisa meminta bantuan dari Keluarga Yoshida juga.” 

“Tidak, rasanya itu agak… jika aku meminta kerja sama Keluarga Yoshida maka ini sudah bukan rahasia lagi.”

“Betul juga.”

Tatsuya dan Mikihiko punya pemahaman yang berbeda akan kata ‘rahasia’, tapi Tatsuya lah satu-satunya yang menyadari itu.

“Aku mengerti kalau begitu kita perlu membuat rencana. Karena Tatsuya tidak bisa membocorkan informasi lain, aku harus memikirkan rencana tanpa memaksamu mengatakan lebih banyak hal lagi.”

Sambil mengatakan itu Mikihiko menunjukkan sebuah seringaian yang tidak cocok dengan wajahnya.

“Aku tidak tahu harus bilang ini beruntung apa tidak, tahun ini Kompetisi Thesis diadakan di Kyoto, basis utama Traditionalist.”

Apa yang dikatakan Mikihiko kepadanya tidak sesuai dengan informasi yang diterimanya dari Fujibayashi dan Minoru di Nara tapi Tatsuya tidak memiliki sumber informasi yang cukup untuk menentukan siapa yang benar.

“Tampaknya seperti itu.”

Namun, terlepas dari siapa yang benar, Tatsuya tetap mendengarkan Mikihiko.

“Awalnya, aku mau mengirimkan tim keamanan untuk memeriksa kondisi tempat pelaksanaan, tapi mungkin aku juga akan ikut.”

“Lalu?”

“Tatsuya,kau bisa ikut jadi anggota tim keamanan di bawah pimpinanku, bukan?”

Mikihiko menjawab pertanyaan Tatsuya dengan pertanyaan lain.

Tatsuya tidak bermasud mengelak pertanyaan Mikihiko.

“Aku bisa.”

“Lalu, kau akan bisa keluar-masuk kota dan sekitarnya dengan bebas. Dengan tujuan memastikan tidak terjadi apa-apa seperti tahun lalu, area pengawasannya akan diperluas.”

“Terima kasih untuk itu. Lalu, bagaimana denganmu, Mikihiko?”

“Aku yang akan jadi umpan. Aku akan menggunakan shiki pengawasan yang mencolok di Pusat Konferensi Internasional Baru, akan kucoba sebisa mungkin untuk menarik perhatian para Traditionalist.”

“Aku mengerti.”

Tatsuya menyeringai tanda mengerti dengan penjelasan Mikihiko.

“Jika Traditionalist mengejarku maka aku bisa menggunakan alasan pembelaan diri secara legal. Kalau itu sampai terjadi itu sudah bukan urusan Tatsuya karena mereka mengusik Keluarga Yoshida.”

“Perbedaan kemampuan bertarung tidak akan jadi masalah?”

“Jika satu lawan satu, maka aku pasti tidak akan kalah dari segi kemampuan. Jika Traditionalist mencoba untuk mengalahkan seorang anggota Keluarga Yoshida hanya dari segi jumlah saja maka kelompok-kelompok okultis tradisional lainnya tidak akan diam begitu saja. Yang terpenting Traditionalist lah yang mulai duluan. Karena para kelompok tradisi kuno mengutamakan gelar. Kalau aku yang mulai duluan mungkin mereka akan tutup mata, tapi kalau Traditionalist yang mulai tidak mungkin mereka akan diam begitu saja.”

Tatsuya dengan cepat menjalankan simulasi hal itu di kepalanya. Dia takut kalau sesama anggota kelompok okultis kuno akan menimbulkan perang sihir besar-besaran dan membuat kota itu dan sekitarnya jadi medan perang. Polisi dan militer pasti akan turun tangan dan Zhou Gongjin akan memanfaatkan kesempatan itu untuk lari.

Namun, jika Traditionalist yang mulai duluan dan penyihir okultis kuno ikut campur menengahi itu semua dia akan dapat kesempatan untuk menginvestigasi ke dalam Traditionalist. Bagi Tatsuya itu adalah perkembangan yang sangat diinginkan.

“Kalau Traditionalist tidak termakan?”

“Maka shiki-ku akan menemukan target Tatsuya. Musuhmu penyihir okultis dari Cina Daratan, bukan? Gelombang Psion-nya akan berbeda. Setelah semua yang terjadi, kepekaanku terhadap gelombang Psion jadi tinggi. Aku yakin di antara Penyihir Kuno lainnya tidak ada yang melebihiku.”

“Dasar sombong.”

Saat Tatsuya tersenyum, Mikihiko tidak menyangkal kalau dia menyombongkan dirinya. Dia bisa membedekan teknik-teknik Penyihir Kuno. Dia tidak menemukan hal tersebut di gelombang Psion Penyihir Modern. Karena itu tidak ada gunanya, sekalipun ia mengamati gelombang Psion yang belum menjadi sihir. Terlalu banyak metode yang lahir dari kerangka Sihir Modern untuk dipelajari. Contohnya, bahkan Stars tidak punya seorangpun Penyihir Modern yang bisa mendeteksi gelombang Psion seakurat dia.

Mikihiko memiliki kemampuan dasar yang kuat sampai bisa seyakin itu.

“Lalu bagaimana dengan Mizuki?”

Wajah Mikihiko yang penuh kepercayaan menjadi ragu seketika. Tatsuya terkejut dengan perubahannya secepat itu, tapi dia tidak menertawakannya.

“…Terlalu berbahaya untuk Shibata-san pergi denganku.”

“Kalau begitu akan kuatur penjagaan Mizuki.”

“Kau bisa mengurusnya?”

“Tentu saja. Lagipula, ini sebenarnya masalahku.”

Mikihiko menarik napas lega, tenang.; dia mungkin berpikir Tatsuya akan meminta bantuan JSDF.

Sebenarnya ia telah meminta murid Yakumo untuk melindungi Mizuki, tapi dia menambahkan tim dari sumber yang berbeda dari bayangan Mikihiko.

“Kapan kita akan melakukannya?”

“Kalau melihat tugasku sebagai Ketua Komite Moral Publik… Jumat?”

“Baik. Akan kuberitahu Miyuki untuk mengurus semua urusan OSIS diam-diam.”

“…Tapi, kau juga anggota OSIS, Tatsuya? Lakukanlah sendiri.”

Tatsuya tidak menjawab itu, hanya menyeringai.

Mikihiko juga hanya membuat senyum terpaksa dan berdiri. 

◊ ◊ ◊

11 Oktober 2096, Minggu malam, suatu tempat di perbatasan Kyoto.

Langit dipenuhi awan hitam dan sudah akan turun hujan dari gelapnya langit malam.

Meski taman ini dipadati orang untuk beristirahat di siang hari, di malam hari sepert ini tempat itu sudah tidak ada orang sama sekali. Dan di malam ini, hanya ada dua orang di sana.

“Nakura-sama. Apa aku membuatmu menunggu?

Zhou Gongjin memanggil Nakura yang berdiri di pinggir sungai sambil berjalan dari arah hulu.

“Tidak, kau tepat waktu, Zhou-san.”

Nakura mendongak dan menjawab dengan sapaan akrab.

Walau jarak mereka hanya serentang lengan, mereka tetap berhati-hati menjaga jarak.

“Sudah sekitar dua bulan.”

Zhou membuka percakapan,

“Ya, aku belum menghubungimu akhir-akhir ini. Walaupun aku mau berkunjung, aku tidak tahu tempat tinggal barumu, aku minta maaf.”

Nakura membalas Zhou dengan keterusterangan.

“Bulan lalu, aku dikejutkan dengan masalah yang tiba-tiba muncul dan tidak ada pilihan selain kabur. Kalau kau sudah tahu itu, seharusnya kau beritahu aku dulu.”

“Tidak, aku tidak tahu harus bilang bagaimana lagi masalah itu. Mengingat siapa lawan kita ini, tidaklah mungkin kita bisa mendapat petunjuk.”

Zhou kejar-kejaran dengan Keluarga Kuroba sesuai perintah langsung Nakura dan sindirannya ini dimaksudkan atas ketidakmampuan Keluarga Saegusa untuk mendapat intel tentang Keluarga Yotsuba. Zhou membuat senyuman anggun terkesan jujur yang membuat Nakura geram. Beginilah interaksi mereka selama ini.

“Kalau begitu, Nakura-sama, apa urusanmu hari ini.”

Senyuman Zhou tidak hilang seolah wajahnya tidak tahu ekspresi selain senyum saat dia bertanya kepada Nakura. Sikapnya tampak sabar. Situasi ini tidak cocok untuk percakapan yang lama.

“Zhou-san, apa kau tahu bahwa Keluarga Kudou bekerja sama dengan Keluarga Yotsuba.”

Alis Zhou berkedut terkejut mendengarnya. Tapi tetap saja, senyumannya tidak hilang. “Tidak…apa mungkin itu karena aku?”

“Aku yakin seperti itu, Zhou-san, Keluarga Yotsuba tahu bahwa Traditionalist melindungimu, sehingga mereka meminta kerja sama dari Keluarga Kudou yang bermusuhan dengan Traditionalist.”

“Hahahahahaha…”

Tiba-tiba Zhou tertawa terbahak-bahak.

“Aku sudah terlalu menonjol. Bukan hanya Keluarga Yotsuba yang terkuat di puncak dunia modern bahkan mantan pemegang gelar ‘terkuat’, Keluarga Kudou juga mengejarku.”

Tawa Zhou Gongjin terlihat sangat bahagia.

Dia tidak putus asa; ini bukan kegilaan dari seseorang yang terpojok.

Sejak awal, dia memang sudah segila ini, bisa dilihat dari cara tertawanya.

“Keluarga Kudou mungkin sudah menginvestigasi mereka sejak dulu mengingat permusuhan mereka dengan Traditionalist. Aku seratus persen yakin tidak akan butuh waktu yang lama untuk mengetahui tempat persembunyianmu.”

Nakura tidak bergeming dengan keanehan Zhou dan melanjutkan analisanya.

Zhou menghentikan tawanya dan menjawab dengan sinis.

“Betul sekali. Para orang Traditionalist sudah membantuku selama hampir 2 bulan ini, namun, ini adalah waktu yang pas bagiku untuk pergi. Jadi apakah Anda, Nakura-sama, atau lebih tepatnya Keluarga Saegusa ingin berkata kalau kalian bisa memberiku persembunyian baru?”

“Ya”

Itu bukanlah jawaban yang diharapkannya. Zhou menunjukkan mata penuh keraguan terhadap jawaban Nakura.

“Mari kita bicara terus terang. Keluarga Saegusa tidak bisa membiarkanmu jatuh ke tangan Keluarga Yotsuba, Zhou-san. Karena hubunganmu, Zhou-san, dan Keluarga Saegusa tidak boleh terbongkar.”

“Jadi kau sudah menyiapkan rute pelarianku sebelumnya?”

“Ya.”

Zhou menggunakan kata ‘rute pelarian’ daripada ‘persembunyian’ saat dia bertanya kepada Nakura untuk konfirmasi.

“Aku akan mengawalmu ke tempat yang tidak bisa diketahui Keluarga Yotsuba.”

“Benarkah…apa boleh aku tahu apa nama itu…”

Zhou memasukkan tangan ke dalam sakunya.

Nakura sudah diam-diam menggenggam CAD yang berbentuk seperti ponsel.

“…..Sesuatu seperti bara api!”

“Tidak, nama tempat itu adalah Neraka!”

Mereka berdua secara bersamaan mundur menjaga jarak. Zhou mengeluarkan jimat hitam yang berpendar dari sakunya, yang di tangannya adalah kartu bertuliskan mantra dan Nakura melepaskan Rangkaian Aktivasi dari CADnya.

Zhou mungkin sudah memiliki sihir yang siap sedari awal. Sihir mereka berdua aktif dalam waktu yang bersamaan.

Sesuatu bertubuh hitam, dengan empat kaki muncul dari kartu milik Zhou, sebuah tubuh sintetis yang mirip anjing muncul. Anjing hitam itu langsung melompat dari tanah untuk menerkam tenggorokan Nakura.

Sepuluh jarum transparan aneh menembus bayangan hewan itu dari bawah.

Kaki Nakura tenggelam ke dalam sungai. Jarum yang menusuk hewan itu ditembakkan dari dekat kakinya.

“Jarum air, huh…”

Mata Zhou dapat merasakan sifat jarum transparan itu dalam kegelapan.

“Kau ceroboh. Kau salah mengajak bertemu denganku di pinggir sungai. Dataran tinggi akan lebih menguntungkanmu.”

“Itu adalah sihir yang membentuk binatang sintetis dengan bayangan sebagai medium.”

“Ya. Nama membosankannya sangat memalukan tapi, guruku menyebutnya, ‘Shadowbeast’. Sihir ini merupakan sihir campuran yang menggabungkan ilmu sihir Barat sehingga terlalu memalukan untuk dibicarakan.”

“Sihir Barat… ‘Hell Hound’, huh. Jadi, aku salah waktu mengajak bertemu di jam ini, huh. Aku harusnya mengajakmu ketemuan saat malam bulan purnama.”

Mereka berdua tidak sedang santai-santai membicarakan sihir mereka. Sambil berbicara, hewan itu memuntahkan kartu di tangan Zhou dan Nakura berusaha mencegatnya dengan jarum air.

Zhou tidak terlihat mengeluarkan sihir baru. Singkatnya, kartu yang dipegang Zhou mungkin masih punya lebih banyak hewan di dalamnya. Dia sudah mengeluarkan lebih dari sepuluh hewan, tapi ia sama sekali tidak kelihatan kelelahan. Memangnya berapa banyak sihir yang tersimpan di kartu itu, kapasitasnya seakan-akan tak terbatas.

“Namun, aku tidak mengerti.”

“Apa”

Meski demikian, orang pertama yang bertanya adalah Zhou.

Ekspresi Nakura tidak berubah; dia menyerang hewan bayangan itu, yang dikeluarkan Zhou. Jawabannya, untuk Zhou, hampir sepenuhnya tanpa emosi.

“Fokus pengembangan dari Seventh Institute adalah sihir kontrol koloni. Setidaknya, sihir kontrol koloni seharusnya dapat memindahkan seratus objek di waktu bersamaan. Jumlah objek yang dimanipulasi seharusnya tidak serendah ini. Apa mungkin kau meremehkanku.”

“Lucunya. Kau bukanlah musuh yang dapat aku remehkan, Zhou-san.”

Nakura menjawab dengan suara menyesal. Perhatian Zhou lebih tertuju pada emosi yang tersembunyi dalam suara tersebut.

“Zhou-san, apa kau tahu namanya angka Extra.”

Jarum air terbang menuju Zhou. Walaupun mereka tidak mungkin terlihat dalam kegelapan dengan mata manusia, Zhou dengan mudah menghindari semuanya dengan berseger ke kanan-kiri.

Kecepatannya bukanlah kecepatan manusia normal. Itu mungkin sebuah Sihir Kuno Cina Daratan yang memiliki efek yang sama dengan Sihir Akselerasi Diri.

“Aku tahu. Penyihir keturunan dari penyihir yang diberikan angka oleh laboratorium pengembangan yang membuat Sepuluh Master Clan tapi kemudian kehilangan angka mereka.”

Jarum air terbang satu per satu. Meskipun Zhou sibuk menghindar, timingnya menggunakan ‘Shadowbeast’ tidak terganggu sama sekali. Posisi menyerang dan bertahan langsung terbalik.

“Jadi, apa alasan mereka kehilangan angka?”

“Aku pribadi tidak terlalu tahu. Tapi, satu-satunya alasan yang aku tahu adalah ketidakmampuan mengembangkan kemampuan yang diinginkan.”

Jarum-jarum itu menjadi hujan. Zhou mengeluarkan sapu tangan dari saku dadanya.

Sapu tangan putih itu membesar untuk menutupi seluruh tubuhnya, melindunginya dari hujan jarum air.

Nakura menghentikan serangannya.

Zhou mengintip dari balik kain.

“Aku tanpa diragukan lagi adalah penyihir yang tidak bisa mengembangkan kemampuan yang diharapkan oleh Seventh Institute.”

“Aku turut sedih mendengarnya.”

Nakura menggunakan CADnya dan nyaris berhasil mengenainya.

Zhou menurunkan tangannya yang memegang kartu itu.

Nakura terus mengoperasikan CADnya, sambil melanjutkan pembicaraan Extra.

“Model dasar dari sihir kontrol koloni adalah untuk menyiapkan proyektil terlebih dahulu dengan sihir untuk manipulasinya.”

Nakura membuka Rangkaian Aktivasi.

Zhou menyiapkan kain putihnya.

“Namun, aku rasa itu efektif dalam pertarungan. Pertarungan tidak dimenangkan hanya dengan memiliki sesuatu yang besar di tangan. Terlepas dari kenyataan pengembangan alat bantu yang dikenal sebagai CAD yang bisa digunakan setiap saat, untuk alasan tertentu kau tetap harus menyiapkan yang lain.”

“Perkataanmu akan membuat telinga Penyihir Kuno yang tidak bisa menggunakan sihir tanpa alat kutukan panas. Namun, aku yakin CAD bukanlah satu-satunya ‘alat yang dapat kau gunakan setiap saat’? Ada juga jenis yang terlihat seperti pistol besar.”

“CAD bentuk pistol merupakan model khusus. Aku juga tidak merasa itu efektif dalam pertarungan.”

Nakura dan Zhou tetap di ambang menggunakan sihir, mereka berdua sedang mencari celah dari pertahanan satu sama lain. Mungkin, bahkan setiap perkataan mereka, mengandung taktik untuk membuka kesempatan.

“Bagaimanapun juga aku tetap tidak paham apa rencana laboratorium. Karena itu, aku membuat sebuah Rangkaian Sihir yang bisa menggunakan sihir kontrol koloni sewaktu-waktu. Di saat yang sama, jumlah target yang bisa kukendalikan kurang dari 100, tapi sebagai gantinya, teknikku bisa merubah cairan menjadi proyektil.”

“Sayang sekali.”

“Akibatnya, angkaku hilang.”

Pada titik ini, urutan berbicara mereka berubah.

Zhou Gongjin menaruh perangkap.

Sebagian pikiran Nakura terkecoh.

Zhou melempar kartu itu pada Nakura.

Saat dia lengah, Nakura menghujaninya dengan jarum air. Serangannya tidak bertubi-tubi, dia menciptaan lingkaran yang mengorbit.

Sebuah hewan bayangan keluar dari kartu itu di udara.

Nakura mengeluarkan sihir baru untuk menghadapinya.

Kain putih itu jatuh. Zhou sudah tidak ada di situ.

Hewan bayangan itu, terkena jarum air, hilang ke dalam kegelapan malam.

Sekumpulan jarum air yang membentuk busur tak berhasil mengenai apapun.

Kartu tersebut jatuh ke permukaan sungai mengeluarkan bayangan hitam.

Nakura, yang melihat itu di ujung matanya, menggunakan sihir lompat.

Nakura menghindari semprotan air yang tersemprot dari rahang hewan itu dengan elakan yang begitu kecil jaraknya.

Nakura, yang mendarat di seberang sungai, menyiapkan serangan selanjutnya saat dia berdiri. Saat mata Nakura melihat kegelapan sungai dari tepi, perutnya tertusuk dari belakang oleh sebuah tanduk hitam.


Tanduk itu, menusuk perut Nakura, membuatnya terjatuh ke sesuatu mirip tar lengket yang tertiup angin malam yang melewati permukaan sungai. Kehilangan kesempatan, Nakura pun tumbang.

Dia dapat mendengar suara langkah kaki menginjak kerikil di sungai dari arah kepalanya. Dengan susah payah, ia melihat ke arah itu; hal pertama yang dilihatnya adalah Zhou yang tertutup oleh kain putih. Zhou sedang berjalan dari sisi seberang. Dia sendiri bukan tidak terluka sama sekali. Kain di bahu kiri dan kanannya ternodai oleh darah.

“Sepertinya kau tidak tertipu dengan ‘Shadowbeast’.”

Nakura mengerti apa yang dimaksud. Dia melompat ke seberang sungai bermaksud untuk melarikan diri dari Zhou, tapi Zhou sudah ada di sana, dia memunggungi musuhnya ketika ia mendarat.

“Ya, aku, sendiri, ikut masuk ke dalam permainanmu.”

“Sihir…..Kuno…..pengecoh…….arah…..Kimon…..Tonkou?”

Sangat sulit untuk mengerti perkatan Nakura yang putus-putus tapi, kemampuan Zhou untuk memahaminya tidak perlu diragukan.

“Ya. Namun, sudah lama sekali sejak darahku keluar segini banyak. Aku harus jujur kalau kemampuan seorang Nakura Saburo melebihi Kuroba Mitsugu.”

“Ha…ha…ha….aku…..tersanjung.”

Zhou berjongkok di sebelah Nakura dan berbicara dengan suara yang lembut.

“Kita sudah cukup dekat sampai sudah sakazuki[2]. Apa kau punya permintaan terakhir?”

“Permintaan…ya…aku…punya………satu.”

“Apa itu?”

“Kalau…..kau…..”

“Ya.”

“Matilah denganku!”

Nakura mengerahkan kekuatan terakhirnya untuk berteriak.

Sihir itu bisa dibilang semacam kutukan.

Tubuh Nakura robek dari dadanya dan jarum yang terbuat dari darahnya menyerang Zhou Gongjin.

Zhou berdiri.

Dia cemberut melihat jarum merah yang menembus lengan yang melindungi wajahnya.

“Ada banyak permintaan, yang akan kukabulkan karena ini merupakan permintaan terahirmu, namun….”

Dia menggenggam jarum yang telah menyelinap lolos celah kedua lengannya sampai ke telinga.

Jarum itu mencair kembali menjadi darah dan luka kecil tetap ada di telinganya. Zhou menghela napas dan mengambil kartu baru dari saku jaketnya.

Saat jarum darah itu mencapai batas waktu modifikasi, mereka mencair seperti semula.

Dia meneriakkan sebuah sihir pendek.

Luka yang ada pada kulit Zhou Gongjin hilang seperti foto lompatan waktu (regenerasi kecepatan tinggi).

“Sayangnya, sihir setingkat ini tidak dapat membunuhku.”

Zhou berdiri dan menghela napas saat melihat kulitnya. Dia mungkin sudah mengira Nakura akan menggunakan semacam sihir penghancur diri. Dia mengangkat tangannya tepat waktu untuk melindungi wajahnya karena dia melihat serangan jarum air.

“Aku tidak bisa berlama-lama di sini. Bahkan di malam hari sekalipun, penampilanku seperti ini tetap akan menarik perhatian.”

Namun, itu karena dia tidak menyangka Nakura akan menggunakan darahnya sendiri untuk menyerangnya. Dia melihat ke bajunya yang terkena darah korban dan  menghela napas.

Zhou mengeluarkan sapu tangannya, yang telah dimasukkan ke dalam kantongnya secara tidak sadar.

Tidak, ini bukan yang sudah dimasukannya tadi. Ini jelas berbeda dari sebelumnya.

Warnanya bukan putih, ini hitam.

Dia membuka sapu tangan itu, menyelimuti tubuhnya dengan bayangan yang besar.

Sapu tangan yang berubah menjadi kain hitam berubah menjadi bayangan, hanya menyisakan jasad Nakura yang tergeletak.




[1] Tanda astronomis Ketika matahari berada tepat di atas ekuator sekitar tanggal 23 September setiap tahunnya. Hal ini menjadi tanda bahwa sedang musim gugur di belahan utara dan musim semi di belahan selatan bumi.
[2] Bertukar cawan sake yang menyimbolkan kesetiaan, perjanjian, kesepakatan