HUKUMAN BAGI ORDO KESATRIA DAN MASA DEPANKU

Penerjemah: Hikari


Benno meninggalkan ruangan dan Damuel mengarah ke tempat duduk yang kini kosong. Aku bangkit berdiri, berpikir bahwa sebagai seorang rakyat biasa seharusnya aku duduk di ujung meja, tapi Kepala Pendeta menghentikanku.

“Tetap duduk di tempatmu tadi, Myne.”

“Apa? Tapi…”

Aku melirik pada Damuel tapi dia hanya memandangiku, sudut-sudut mata kelabunya berkerut dengan seulas senyum menenangkan saat dia duduk. Akan sedikit keterlaluan kalau aku memaksanya pindah tempat duduk supaya aku bisa duduk di situ, jadi aku kembali ke tempatku semula.

Begitu semua orang di kursinya masing-masing, Kepala Pendeta memandangi semua orang yang berkumpul.

“Nah sekarang, Myne. Aku akan menjelaskan padamu hukuman apa yang Archduke tetapkan setelah diinformasikan mengenai peristiwa saat pembasmian trombe.”

“Hukuman?”

Aku sudah mengira bahwa Shikza akan dihukum, tapi aku tidak mau mengetahui hukuman apa yang akan diterimanya. Yang kuinginkan hanyalah tidak pernah lagi melihatnya. Dan seakan merasakan hal itu, Kepala Pendeta menurunkan pandangan.

“...Tidak sulit membayangkan bahwa ini bukanlah informasi yang ingin kau ketahui, dan aku sendiri ragu-ragu memberitahukanmu tentang masalah kaum bangsawan. Tapi informasi ini akan jadi hal yang sangat penting dalam mempersiapkanmu untuk masa depanmu nanti.” Dia menghela napas, kemudian melihat Karstedt dan Damuel sebelum dengan serius melanjutkan penjelasannya.

“Sang Archduke luar biasa tidak senang bahwa seorang kesatria yang ditugaskan untuk melindungi seorang suster magang tidak hanya melukainya, tapi bahkan membuat pembasmian menjadi semakin sulit. Pertama, dia memerintahkan Karstedt untuk lebih tegas dalam melatih pendatang baru, dan memotong gajinya selama tiga bulan. Dia juga memerintahkan dia untuk menyediakan seperempat dari biaya yang dibutuhkan untuk jubah barumu.

“Sekarang, untuk Shikza… Seorang kesatria yang menolak untuk mendengarkan perintah dalam peperangan hanya akan mendatangkan bahaya bagi sesamanya, dan dengan menyerang orang yang ditugaskan untuk dia lindungi, dia telah mencoreng aib pada dirinya sendiri sebagai seorang kesatria. Archduke telah menilai bahwa seorang prajurit dari Ordo Kesatria yang tidak mematuhi perintah dan mengabaikan tugasnya pantas mendapatkan hukuman berat.

“Dengan demikian, Archduke memerintahkan agar Shikza dieksekusi. Dalam kondisi normal, seluruh keluarganya akan ikut dihukum dengannya, tapi mengingat hal sepertinya hanya akan membuatmu mendapat lebih banyak kemarahan, Myne, sang Archduke memberikan ayah Shikza dua pilihan: Dia bisa memilih keluarganya ikut dihukum, atau dia bisa menandatangani kontrak untuk tidak pernah berurusan denganmu lagi dan membayar denda yang besar. Jika dia menandatangani kontrak dan membayar dendanya, maka keluarganya akan lolos dari hukuman, dan Shikza akan tercatat telah tewas secara terhormat dalam pertempuran.”

Aku menelan ludah. Tidak sedetik pun aku pernah mengira bahwa sang Archduke akan mengeksekusi Shikza. Mengingat bahwa Shikza adalah seorang bangsawan dan aku adalah seorang rakyat jelata, aku mengira paling parah dia akan mendapat hukuman ringan.

“Ayah Shikza membayar denda dan bersumpat untuk tidak melibatkan dirinya denganmu—denda tersebut digunakan untuk membayar setengah biaya jubahmu. Dan dengan demikian, tertulis bahwa Shikza tewas terhormat dalam pertempuran selagi melayani Ordo Kesatria.”

Aku menyadari bahwa eksekusi telah telah terjadi. Aku secara refleks melihat Damuel, tahu bahwa dirinya yang sedang duduk di sini berarti dia telah lolos dari eksekusi. Tapi mungkin dia diberikan hukuman berat lainnya.

Kepala Pendeta ikut melihat Damuel, sepertinya menyadari pandanganku.

“Damuel membayar seperempat biaya dari jubahmu, dan diturunkan jabatannya menjadi seorang magang selama setahun. Hukumannya diperingan hanya karena pembelaanmu terhadapnya.”

“Pembelaanku?”

Aku tidak ingat telah membelanya, terutama tidak dalam kondisi resmi. Aku menelengkan kepala dengan bingung, dan Damuel tersenyum sambil tertawa ramah.

“Anda melindungi saya di depan Tuan Besar Ferdinand, ingat? Anda mengatakan bahwa saya telah bersikap baik pada Anda, memperingatkan Shikza, dan mencoba untuk membantu Anda. Jika Anda tidak melakukannya, saya sudah dihukum sama kerasnya seperti Shikza.”

Sepertinya dalam situasi normal, dia seharusnya ikut dieksekusi karena telah gagal melindungiku. Tapi kata-kataku menyediakan bukti bahwa Damuel telah mencoba menghentikannya, tapi tidak bisa melakukan apapun karena statusnya lebih rendah daripada Shikza, sehingga itu mengurangi hukumannya. Dia telah diturunkan jabatannya ke tingkat magang meskipun akhirnya telah masuk usia dewasa, tapi mengingat alternatifnya adalah dieksekusi bersama Shikza, itu sama sekali bukan masalah.

“Keluarga saya adalah yang terbawah bahkan di antara para bangsawan kelas bawah, dan seumur hidup saya, saya telah diinjak-injak oleh orang-orang yang statusnya lebih tinggi daripada saya. Hampir tidak pernah ada orang yang berani mengambil resiko membantu saya sebelumnya. Sulit untuk menggambarkan betapa senangnya saya ketika saya mengetahui bahwa Anda telah meminta Tuan Besar Ferdinand untuk memperingan hukuman saya.”

Aku merasa dia melebih-lebihkan maksud dari apa yang telah kulakukan, tapi dinilai dari nampak betapa tidak adilnya lingkungan hidupnya, aku bisa menduga bahwa bahkan bangsawan kelas rendah pun mengalami masa-masa sulit meskipun dirinya bangsawan.

Kepala Pendeta berbicara. “Terlebih lagi, Damuel telah ditugaskan menjadi pengawalmu selama tahunnya sebagai seorang magang.”

“Apa? Pengawal?!”

“Kau benar-benar dalam bahaya besar,” kata Kepala Pendeta, melihatku dengan mata keemasan cerah sebelum beralih ke Karstedt. “Tapi kau tidak punya kesadaran untuk melindungi diri sendiri, jadi kami akan perlu menjelaskan.”

Karstedt bertemu pandang dengannya dan mengangguk pelan sebelum bertatap mata denganku. Mata biru cerahnya yang terlihat sedikit lebih lembut beberapa saat yang lalu kembali mengeras.

“Sekarang sudah diketahui para bangsawan kelas atas bahwa terdapat seorang suster magang dengan nilai yang bisa dieksploitasi,” Karstedt memulai. “Kau diberikan jubah biru meskipun kau orang biasa, kau ditemani oleh Ordo Kesatria, dan kau menyelesaikan tugasmu dengan memperlihatkan kekuatan sihir luar biasa yang disaksikan oleh semua anggota Ordo. Kenyataan bahwa sang Archduke sendiri mengizinkanmu untuk mengenakan jubah biru itu hanya semakin menambah bobot pada rumor mengenai nilaimu”

Ordo Kesatria adalah kumpulan para bangsawan; jika mencemoohku sebagai seorang rakyat biasa dan memperlakukanku seperti itu akan membawa kemalangan bagi keluarga mereka seperti yang terjadi pada Shikza, maka mereka harus memandangnya dari sudut lain. Kelihatannya adalah hal yang lumrah bagi para bangsawan untuk segera mempertimbangkan cara-cara untuk  bisa mengeksploitasiku begitu mereka mengetahui apa yang Kepala Pendeta telah katakan dan berapa banyak kekuatan sihir yang kupunya.

“Kau adalah seorang rakyat biasa dengan Pelahap yang belum membuat kontrak dengan siapapun, tapi semua orang tahu bahwa kau berada dalam perlindungan Tuan Besar Ferdinand. Kami yakin sejumlah besar bangsawan akan mulai mencari perhatian dengan Tuan Besar Ferdinand dan Archduke sambil mendekatimu dengan cara yang nampaknya ramah sehingga mereka suatu hari nanti bisa mengeksplotasimu.”

Jika kita mengasumsikan bahwa Wolf, kepala dari Serikat Tinta, berhubungan dengan para bangsawan itu, maka Karstedt punya pemikiran apa yang mungkin akan terjadi.

“Seorang bangsawan yang ingin mengeksploitasimu mungkin menyuruh Wolf untuk menculikmu sehingga dia bisa kemudian menyelamatkanmu, membuatmu merasa berhutang budi padanya. Ketika berurusan dengan bangsawan, seseorang harus selalu beranggapan bahwa dia sedang mencoba untuk mengambil keuntungan dari orang lain, dan kalau kau tetap mengingat hal itu, dan hidupmu seharusnya tidak dalam bahaya kecuali dalam kondisi yang tertentu. Tapi tidak ada jaminan seperti itu yang berlaku bagi keluarga dan teman-temanmu…"

Kepala Pendeta melanjutkan untuknya. "Sebagai contoh, mungkin saja orang-orang yang bekerja di sekitar Wolf akan menculikmu, kemudian menjualmu ke archduke di duchy lawan, yang akan kemudian akan mengklaim bahwa kau adalah putrinya selama ini. Kalau begitu, keluargamu yang sebenarnya hanya akan menjadi penghalang—sebuah pengingat hal yang sebenarnya. Mereka kemudian akan dibungkam, dengan cara apapun."

Prediksi Kepala Pendeta begitu kelam sampai-sampai aku tersentak kaget. Pemikiran bahwa aku menempatkan keluargaku dalam bahaya membuatku merinding sampai ke tulang punggung. Aku mengepalkan tanganku erat-erat di atas pangkuan, tapi aku tidak bisa menghentikannya gemetar.

Dan di atas segalanya, Damuel menjelaskan padaku dari sudut pandangnya sebagai seorang bangsawan kelas rendah apa yang para bangsawan pikirkan tentangku.

“Sebagian besar bangsawan masih sangat menghina dan membenci Anda. Mereka tidak ingin menerima bahwa seorang rakyat jelata biasa memiliki begitu banyak kekuatan sihir. Dan sejujurnya, saya sendiri akan sangat sulit mempercayai bahwa seorang rakyat biasa dengan Pelahap bisa memiliki kekuatan sihir sebanyak itu  jika saya tidak melihatnya secara langsung.”

Kelihatannya para bangsawan kelas rendah lebih sibuk membenciku karena iri daripada mengeksploitasiku.

“Tapi tidak ada bangsawan kelas rendah yang akan melawan Tuan Besar Ferdinand secara langsung,” Damuel melanjutkan, melirik Karstedt dan Kepala Pendeta dengan gugup. “Jika mereka melakukan apapun, itu akan dilakukan lewat para bangsawan kelas atas. Dan menurut pendapat saya, Anda paling mendapat risiko dari orang-orang yang memiliki alasan pribadi untuk membenci Anda.” 

“Ayah Shikza lebih mencemaskan keberlangsungan keluarga mereka daripada apapun, tapi tidak demikian dengan ibunya,” kata Karstedt. “Mereka pernah dipaksa untuk menyerahkan Shikza ke kuil karena kondisi dan jumlah kekuatan sihir yang sedikit, dan ibu Shikza merasa sangat senang ketika dia akhirnya pulang ke rumah ketika perang Kerajaan. Aku telah mendengar bahwa dia… dia membencimu dari lubuk hatinya, Suster Myne.”

Aku menggigil. Dari pengalamanku pribadi, aku dapat cukup bersimpati dengan kemarahan hebat yang seseorang bisa rasakan akibat kehilangan seorang anggota keluarganya. Aku sendiri bahkan tidak bisa membayangkan betapa murkanya kalau ada yang menyakiti keluargaku. Dan saat ini, kemarahan itu sedang tertuju padaku. Aku tidak masalah jika amarah itu hanya mengarah padaku, tapi aku takut jika itu diarahkan pada teman-teman dan keluargaku.

“...Bangsawan berbahaya, yang bisa saja mencoba melakukan pembunuhan. Meski begitu, apa ada bangsawan yang cukup bodoh mengikutsertakan keluarganya?” tanya Kepala Pendeta. Aku mengepalkan tinjuku di atas pangkuan, menunggu jawaban Damuel.

Dengan ekspresi sedih, dia berbisik: “Saya tidak tahu. Jika ibu Shikza ternyata benar mencelakakan Suster Myne, maka keluarga mereka sudah pasti akan tamat. Tapi kemarahan seorang wanita tidak mengenal batas, dan saya tidak tahu apakah itu akan mendorong dia untuk melakukannya. Saya tidak bisa mengetahuinya.”

Alis Karstedt mengerut makin dalam. “Jika dia bersedia untuk menghancurkan keluarga demi memuaskan nafsu balas dendamnya, situasi akan lebih buruk daripada yang kita pikirkan.”

Kelihatannya para bangsawan pada umumnya terkekang rasa takut akan menghancurkan nama besar keluarga, kehormatan leluhur, kehidupan anggota keluarga mereka.

“Saya tidak pernah berpikir Wolf ataupun ibu Shikza akan jadi begitu berbahaya,” kata Damuel.

Ternyata Wolf secara teratur pergi ke Area Bangsawan untuk menjual tinta. Dia cukup dikenal di antara para bangsawan karena mereka yang paling banyak membeli dan menggunakan tinta. Akan tetapi, tidak ada satu pun dari mereka yang tahu bahwa dia dikenal di kota bawah sebagai seorang kriminal yang akan melakukan apapun demi memperkuat koneksinya dengan kaum bangsawan.

“Rencanaku adalah membesarkanmu di sini sebagai seorang suster magang sehingga kau suatu hari nanti bisa menikah ke dalam sebuah keluarga bangsawan, tapi sekarang rencana itu harus berubah,” kata Kepala Pendeta.

“Apa?”

Dia tadi mengatakan akan membuatku menikah dengan seorang bangsawan? Kurasa aku tidak akan setuju dengan hal itu; itu jelas bukanlah sesuatu yang pernah kupikirkan!

Aku mengerjapkan mata dengan bingung, gagal untuk sepenuhnya memahami apa yang Kepala Pendeta katakan. Lebih baik dia tidak mencoba merencanakan kehidupanku seperti itu, terutama saat itu adalah sesuatu yang penting seperti pernikahan. Pikirkan saja orang menyedihkan seperti apa yang dipaksa untuk menikahiku karena takut melawan otoritas Kepala Pendeta. Aku akan merasa sangat tidak enak hati padanya.

“Saya tidak berencana untuk menikahi bangsawan manapun.”

“Aku yakin sudah memberitahumu bahwa walaupun kau berniat untuk melakukan kontrak dengan seorang bangsawa, kau suatu hari nanti akan melahirkan anak seorang bangsawan. Aku telah memikirkan budayamu di sini dan memberimu pengalaman sebagai seorang suster magang supaya seseorang bisa menerimamu sebagai isterinya, tapi situasi telah berubah.”

Aku memang ingat dia pernah mengatakan sesuatu semacam itu saat kami membicarakan tentang Rosina yang menjadi pelayanku. Kelihatannya bahkan pada saat itu Kepala Pendeta telah berniat menjadi pencari jodoh untukku. Sejauh mana pria ini suka sekali memberi dirinya sendiri pekerjaan ekstra?

Sementara aku tercengang dengan betapa sungguh-sungguhnya Kepala Pendeta dan bertapa ekstrimnya rasa tanggung jawabnya itu, dia melirik Karstedt.

“Myne, sepertinya kemungkinan besar dirimu, teman-temanmu, dan juga keluargamu akan berada dalam bahaya kalau kau tetap begini. Ini demi kebaikan semua orang agar kau diadopsi oleh seorang bangsawan sesegera mungkin.”

Diadopsi oleh seorang bangsawan berarti memutus hubunganku dengan keluargaku dan tinggal dengan para bangsawan di Area Bangsawan.

...Aku akan harus meninggalkan keluargaku lagi?

Sebuah getaran menjalar di jantungku. Rasa takut telah menggelora dalam diriku ketika kesendirianku di kuil terus berlanjut—takut bahwa ikatanku dengan keluargaku melemah saat mereka tidak ada—dan semua rasa takut itu membuncah sekaligus.

“Karstedt akan bisa melindungimu sampai tingkat tertentu jika dia mengadopsimu, dan aku bisa menjamin kekuatan karakternya. Apa kau akan melakukannya, Karstedt?”

“Apapun bagi seorang teman, Tuan Besar Ferdinand.”

Percakapan terus berlanjut tanpa diriku sementara aku menyaksikan dengan linglung.


Karstedt mencondongkan diri untuk melihatku lebih dekat. Dia adalah seorang bangsawan kelas atas, matanya berkerut hangat, dan tubuh berototnya siap untuk melindungiku. Mengingat betapa besar kepercayaan yang Kepala Pendeta berikan padanya, aku bisa menebak bahwa aku tidak akan menemukan ayah angkat yang lebih baik lagi di manapun.

“Myne, maukan kau menjadi puteri angkatku?”

“Tidak.”

Aku menolak mentah-mentah niat baiknya dengan satu kata. Semua orang menatapiku, mata mereka melebar dengan campuran rasa kaget dan tidak percaya.

“Suster Myne,” Damuel mulai bicara dengan panik, “adopsi seperti ini lebih baik dari apapun yang bisa Anda harapkan! Mengapa Anda menolak kebaikan Tuan Besar Ferdinand dan Tuan Besar Karstedt?!”

“Tenanglah, Damuel. Myne, kenapa kau menolaknya?” Suara tenang Kepala Pendeta diwarnai kemarahan. Tapi tetap saja, aku tidak bisa berkata ya.

“Hanya saja ini tidak mungkin. Menghabiskan seluruh musim dingin sendirian di kuil sudah menghancurkan hati saya; saya tidak tidak bisa setuju meninggalkan keluarga saya seumur hidup. Saya tidak bisa.” Aku menggelengkan kepala sekuat mungkin, dan saat aku melakukannya aku bisa merasa kekuatan sihirku bergejolak bersamaan dengan membengkaknya emosiku. Itu meluap dari dalam diriku. “Aku mau pulang. Aku tidak mau meninggalkan keluargaku lagi!”

“Tenang, Myne!” seru Kepala Pendeta sambil berdiri dengan berisik dari kursinya, segera menekankan sebuah permata bening seukuran ibu jari ke dahiku. Batu itu berubah warna menjadi kuning terang dalam beberapa saat—perubahan seketika yang membuat Kepala Pendeta membentak.

“Karstedt, Damuel—apa kalian punya feystone kosong?!”

“Ya!”

Karstedt dan Damuel serempak buru-buru mengeluarkan feystone, yang disambar Kepala Pendeta sebelum mengangkat dan melangkah ke ruangan rahasianya.

“Aku akan membawanya ke ruanganku untuk mengurangi dampaknya!”

Begitu masuk ke dalam ruangan, dia duduk di bangkunya, menempatkanku di depannya, dan kemudian menaruh feystone lain di dahiku. Batu demi batu berubah warna, dan aku bisa merasakan kekuatan sihir yang bergejolak dalam diriku dihisap.

“Aku tahu kita begitu dekat dengan Ritual Dedikasi, tapi tetap saja, kau sudah membiarkan begitu banyak kekuatan sihir terbentuk dalam dirimu. Bodoh sekali.”

“...Itu karena aku terkurung dalam kamarku akhir-akhir ini, dan tidak mempersembahkan kekuatan sihirku.”

Rasanya emosiku ikut diserap bersama dengan kekuatan sihirku. Aku menyeka air mataku dan menghela napas. Tetap saja, meski begitu, hawa panas yang mencoba mengamuk dalam diriku tidak sepenuhnya mereda, dan aku kekurangan tenaga untuk mendorongnya kembali masuk ke dalam kotak.

“Harus kukatakan, mentalmu terlihat sangat tidak stabil di sana. Apa terjadi sesuatu?”

“Ini semua salahmu. Kalau saja kau tidak menggali-gali ingatanku…”

Berkat alat sihir Kepala Pendeta, aku jadi mengingat dengan sangat jelas dunia dan waktu di mana aku tidak akan bisa kembali lagi. Aku melihat ibuku yang dulu, berbicara padanya, dan merindukan keluarga yang telah kutinggalkan. Aku begitu sibuk di sini berusaha sebaik mungkin untuk tidak memikirkan keluargaku yang lama, tapi dia telah menggali kembali ingatanku dan meninggalkan sebuah lubang dalam hati yang tidak akan pernah sembuh.

Karena itulah aku bertekad untuk melakukan yang terbaik memastikan aku tidak kehilangan keluargaku yang baru, dan karena itulah rasanya menyakitkan bahwa segera sesudah aku membuat keputusan itu, aku dipaksa untuk tinggal di dalam kuil. Aku masih diliputi perasaan kehilangan karena aku tidak punya waktu untuk menyembuhkan diri dengan menghabiskan waktu dengan keluargaku.

“...Jadi karena itu.”

Kepala Pendeta mengalihkan pandangan, alisnya mengerut dengan penyesalan. Itu menyadarkanku bahwa dia tidak menggunakan alat sihir itu karena dia menginginkannya, dan dia juga terkena beban dari emosiku saat kami bersinkronisasi. Aku mengomeli diri sendiri karena bersikap kurang sopan.

“Aku minta maaf. Itu bukan salahmu,” kataku, mencengkeram lengan baju Kepala Pendeta sementara dia menekankan batu feystone lain ke dahiku. “Kau harus melakukannya untuk memastikan kalau aku bukanlah sebuah ancaman, dan berkat hal itu aku masih hidup. Aku tahu kau melakukan hal yang benar.

“Hanya saja, saat aku memikirkan tentang keluarga yang tidak akan pernah kulihat lagi, aku teringat betapa pentingnya keluarga baruku ini bagiku… Tapi aku harus menghabiskan seluruh musim dinginku di sini, sendirian. Rasanya begitu kesepian sampai-sampai aku bisa saja mati. Dan kalau sekarang kau mengatakan aku tidak akan pernah bisa melihat mereka lagi, mungkin aku akan…”

Hatiku mulai terasa sakit saat aku mengungkapkan apa yang kurasakan, dan air mata yang menggenang di mataku membuat wajah Kepala Pendeta mengerut di depanku.

“Myne, tahan dirimu!”

“Aku tidak akan pernah melihat keluargaku lagi kalau bangsawan mengadopsiku!”

“Myne!” Kepala Pendeta, dengan suara yang meninggi karena panik, menyambar lengan dan menarikku ke arahnya. Aku jatuh ke pelukannya, dan dengan segera terbungkus dalam lengan bajunya yang panjang menjuntai.

Aku mendongak pada Kepala Pendeta, mengerjapkan mata dengan kaget, dan melihatnya meringis saat dia balas melihatku.

“Sebuah...pelukan seperti ini akan menenangkanmu, benar?”

“...Ya.”

Posisi kami kebalikan dari apa yang terjadi setelah menggunakan alat sihir. Mendengar Kepala Pendeta berjuang mengatakan “peluk” adalah hal yang cukup lucu, dan aku pun terkekeh sedikit. Tapi rasanya agak kurang nyaman baginya untuk memelukku sementara aku berdiri, jadi aku duduk di pangkuannya dan mencari-cari posisi yang lebih nyaman.

“...Myne, kelihatannya kau sudah tenang.”

“Belum.”

Aku tidak bisa melingkarkan lenganku pada Kepala Pendeta seperti yang bisa kulakukan pada Lutz atau Tuuli; yang bisa kulakukan hanyalah bersandar padanya sambil duduk di atas pahanya.

“Ini sempurna. Terus peluk aku.”

“Aku sama sekali tidak berpikir ini sempurna,” katanya dengan ekspresi berkerut, tapi melakukan apa yang kuminta tanpa melepaskan dirinya dariku. Kehangatan dan napasnya yang mantap menenangkan badai dalam hatiku.

Hanya setelah melihat bahwa aku baik-baik saja dan benar-benar sudah tenang barulah Kepala Pendeta bergumam jengkel “Apa yang bisa kulakukan denganmu…” Kemudian, seperti menghukum anak bandel, dia menjelaskan padaku kenapa aku tidak punya pilihan selain diadopsi oleh seorang bangsawan.

“Tidak seperti anak dengan Pelahap pada umumnya, kau memiliki jumlah kekuatan sihir yang luar biasa. Sangat terlalu banyak untuk diabaikan.”

“...Apakah aku benar-benar punya kekuatan sihir sebanyak itu?”

Aku bisa membayangkan kalau aku punya lebih banyak kekuatan sihir daripada kebanyakan orang berdasarkan reaksi para kesatria saat Ritual Penyembuhan, tapi aku tidak berpikir kalau itu jumlah yang “luar biasa”. 

Ekspresi Kepala Pendeta mengeras saat menunduk melihatku.

“Itu jumlah kekuatan sihir yang terlalu banyak untuk dimiliki rata-rata bangsawan, bahkan setelah melakukan kontrak denganmu. Dan perlu diingat bahwa kapasitas kekuatan sihirmu akan berkembang seiring pertumbuhanmu. Kau akan harus belajar mengendalikan kekuatan sihir yang terdapat dalam dirimu, dan menguasai teknik yang diperlukan untuk memanfaatkannya dengan baik.”

Kelihatannya, aku perlu menjadi seorang anak angkat bangsawan supaya aku bisa pergi ke Akademi Kerajaan dan belajar tentang kekuatan sihir, tentang sihir, dan cara menggunakannya. Seorang bangsawan yang melakukan kontrak denganku harus menyiapkan alat-alat sihir yang bisa mengkonsumsi begitu banyak kekuatan sihirku supaya tidak membahayakan orang-orang di sekelilingku. Tapi hampir tidak ada bangsawan di kota yang memiliki alat-alat sihir yang dapat menahan kekuatan sihirku yang amat besar.

“Kekuatan sihirmu terlalu banyak untuk dimiliki satu keluarga bangsawan saja. Itu harus digunakan demi duchy. Demi kebaikan negeri.”

“...Aku tidak yakin mengerti.”

Sejak aku mengetahui bahwa aku sakit karena Pelahap, aku diberitahu bahwa aku harus melakukan kontrak dengan seorang bangsawan untuk meredakan hawa panas itu dan bertahap hidup. Sulit untuk percaya aku mempunyai begitu kekuatan sihir sampai-sampai hal itu pun tidak bisa menjadi pilihan untukku. Rasanya tidak nyata. Rasanya seakan hal itu terjadi pada orang lain, bukan aku.

“Kau harus menghadapi kenyataan, Myne. Kau membahayakan nyawa orang-orang di sekitarmu hanya dengan terbawa emosi. Kalau kau tidak belajar mengendalikan emosi, kemungkinan besar suatu hari nanti kau bahkan akan menyakiti keluargamu yang berharga.”

“...I-Itu tidak akan terjadi selama aku dengan mereka. Alasan aku jadi seperti ini sejak awal adalah karena aku merindukan mereka.”

Masalahnya aku dipisahkan dari keluargaku. Selama aku bersama mereka, aku bisa hidup dengan tenang.

“Jadi tolong, jangan bawa aku pergi dari keluargaku,” kataku.

Kepala Pendeta memejamkan matanya rapat-rapat, mengerutkan alis. Jelas terlihat dari wajahnya bahwa dia sedang menahan sakit kepala-akibat-Myne yang membuatku merasa sedikit bersalah. Aku tahu aku meminta hal yang mustahil darinya, tapi aku tidak bisa tetap stabil tanpa keluargaku. Tidak ada yang bisa kulakukan soal itu. Hatiku benar-benar menginginkannya. 

“...Umur sepuluh tahun,” gumam Kepala Pendeta, sepertinya memilih sebuah umur begitu saja.

Aku mendongak melihatnya dengan bingung, dan Kepala Pendeta menggelengkan kepala dengan jengkel sambil menurunkanku dari pangkuannya.

“Akademi Kerajaan mulai menerima murid saat mereka berumur sepuluh tahun. Itulah saatnya kau harus pergi. Sampai saat itu, kau boleh tetap bersama keluargamu, mendatangi kuil untuk menyerahkan kekuatan sihirmu seperti biasanya. Akan tetapi,“ Kepala Pendeta menambahkan, ekspresinya mengeras untuk menunjukkan ketegasannya, “aku tidak akan menerima protesmu setelah itu. Kalau kau memutuskan untuk menjadi bahaya bagi orang lain, kau akan dieksekusi, kau dan keluargamu. Tidak seorang pun yang dilepaskan. Ingat ini baik-baik.”

“...Baik.”

Kelihatannya Kepala Pendeta tidak akan berubah pendapat tentang aku diadopsi saat berumur sepuluh tahun. Aku menaruh sebelah tangan di dada saat beban tentang jumlah waktu yang tersisa dengan keluargaku menghantamku.



Sebelumnya | Daftar Isi | Selanjutnya