AKAN BAGAIMANA SEBELUM DUNIA TERSELAMATKAN

(Translator : Zerard)

 

Tiga petualang berlari di antara tumpukan salju. Bahkan Harefolk Hunter, memimpin grup mereka, tengah terengah-engah menarik napas, tentu saja, dua orang lainnya sedang dalam kondisi yang lebih buruk.

Apa yang sangat mereka butuhkan sekarang adalah waktu.

Mereka telah bersiaga terhadap para sasquatche yang melarikan diri ke dalam gunung. Makhluk-makhluk itu sangatlah bodoh sehingga mereka tidak tahu kapan harus menyerah.

Yang sangat membebani pikiran mereka adalah kejadian tak terduga yang terjadi di kaki gunung. Kecemasan tentang teman mereka yang telah pergi untuk menginvestigasi, mengisi hati mereka.

Kemungkinan ini bukan masalah besar.

Namun, masalah besar adalah definisi dari seorang petualang. Bahkan para dewa pada meja mereka di surga tidak mengetahui bagaimana dadu akan berguling.

Rookie Warrior merasakan sarafnya menegang. Benar, salju dan angin telah reda, namun bubuk putih salju yang ada di kakinya masih belum meleleh, dan tidak akan meleleh. Kemungkinan di sini telah bersalju semenjak awal terbentuknya dunia.

Seharusnya aku lebih mempertimbangkan tentang sepatuku.

Sudah sedikit terlambat untuk menyesali pilihan itu, namun Rookie Warrior tidak dapat mengenyahkan pikirannya. Kenyataan bahwa dia telah menjaga dirinya tetap hidup selama pertarungan di gua itulah yang dapat membuatnya merasa menyesal sekarang. Dia akan mensyukuri keberuntungan baik itu, merasakan penyeselannnya hingga puas, dan menjadikan dirinya lebih bijak di kedepannya.

Walaupun dengan rasa perih akan kegagalannya dalam persiapan, Rookie Warrior tidak berhenti bergerak seraya dia mengintip dari balik pundaknya. “Hei, kamu nggak apa-apa?”

“Kurang….lebih…!” Napas Apprentice Cleric sengau. Pedang dan timbangannya telah menjadi tongkat berjalan. Pakaian hangatnya, yang dia gunakan dalam bukit terjal, telah membuat wajahnya merah, butir keringat mengalir di dahinya.

Sang bocah tersenyum samar; dia pasti terlihat tidak lebih baik dari gadis itu. Dia mengulurkan tangannya.  “Ini.”

“…Makasih.”

Apakah keringkasan jawabannya berasal dari keseganan atau kelelahan? Tatapan gadis itu berpaling dari Rookie Warrior, namun bocah itu menarik tangan kecil Apprentice Cleric dan membantunya keluar dari salju. Rookie Warrior melirik ke depan kembali dan mendapati Harefolk hunter sudah berada jauh di depan mereka.

“Heei! Maaf, tapi apa kami bisa istirahat—“

--sebentar, Rookie Warrior hendak mengatakan itu, namun dia mengurungkan niatnya. Harefolk Hunter telah berhenti. Telinga panjangnya berayun dalam angin, Dan dia menunjuk pada suatu arah dengan tapak putih besarnya.

“—? …Kenapa?”

“Ada sesuatu yang datang kemari!” Harefolk Hunter berteriak.

Mendengar peringatan itu, para petualang dengan segera mengambil postur bertarung. Mereka sudah sangat kelelahan, tidak berpengalaman, dan ini adalah petualang pertama Harefolk Hunter.

Namun mereka tetaplah petualang.

Mereka tidak memiliki mantra, mereka sudah menggunakan keajaiban mereka, namun mereka dapat berdiri dan bertarung dengan senjata yang mereka miliki—adalah hal yang paling alami dalam dunia ini. Rookie Warrior berdiri di depan, melindungin Apprentice Cleric yang ada di belakangnya. Harefolk Hunter melompat ke atas, menyiapkan busur silangnya.

Dan kemudian mereka menunggu—semenit? Dua menit? Atau mungkin hanya beberapa detik. Bagi Rookie Warrior, ini terasa sperti satu jam.

Tidak lama kemudian, Harefolk Hunter berkedip. Rookie Warrior dapat melihat banyak sosok mendekat. Pada awalnya, hanya sosok. Namun kemudian sosok itu semakin jelas. Dua bayangan kecil.

Satu, memang, sangat kecil—seorang rhea. Dan seseorang berambut merah—

“Ka—Kamu…!”

“Buh? Hei ngapain kamu ada di sini?” bocah wizard berambut merah berkedip kebingungan, merasa sok penting seperti biasanya. Gadis rhea yang datang berlari mendekatinya—Rhea Fighter—memberikan bocah itu tendangan menegur pada punggung bocah itu.

“Aduhh?!”

“Hei, lama nggak ketemu! Gimana kabar kalian?”

Cuekin saja dia ini, Rhea Fighter berkata dengan lambaian tangan, menghiraukan jeritan Wizard Boy.

Apprentice Cleric memperhatikan wajah gadis itu, kemudian perlahan tersenyum. Dia menggerakkan jemari kakunya, meremas tangan dengan pedang kecil itu.  “Terima kasih…! Ya, kabar kami baik! Bagaimana dengan kalian? Kalian baik-baik saja?”

“Kamu sudah melakukan seratus petualangan secara langsung!” Rhea Fighter pamer dengan senyum malu. “Sedikit sulit buat menetap. Semuanya adalah latihan buat kami.” Kemudian matanya, berkilau dengan karakteristik rasa penasaran akan seorang rhea, menatap kepada Harefolk Hunter. “Yah! Sepertinya kalian punyai cerita kalian sendiri. Lihat saja teman imut kalian ini!”

“Er…” teman yang imut itu berkata dengan keraguan. “Kamu kenal mereka?”

“Mereka teman,” Rookie Warrior menjawab segera. “Ya kan?”

“…” Wizard Boy diam untuk beberapa saat, namun kemudian dia membalas  dengan enggan, “Yeah.” Itu membuat Rhea Fighter cekikikan, dan bocah itu melotot kepadanya sebelum mengganti subyek pembicaraan. “Jadi apa ni ceritanya? Lagi semacam quest?”

“Benar, yah…” Berbicara cepat, Rookie Warrior menyimpulkan situasi seraya mereka berdiri. Dengan helaan, Apprentice Cleric memberikan detil yang terlewatkan dari penjelasan bocah itu yang terburu-buru. Kemudian Harefolk Hunter menambahkan satu atau dua hal, dan akhirnya yang lain mengangguk.

“Aku paham,” Rhea Fighter berkata. “Jadi gara-gara itu kenapa orang-orang ini di panggil.”

“Di panggil? Orang-orang ini…?” Apprentice Cleric memiringkan kepala, bingung.

“Uh-huh,” Rhea Fighter berkata. “Pak guru tua, dia bilang ada sesuatu yang harus dia lakukan di sini.”

“…Dan dia bilang sampai ini selesai, kami harus menyibukkan diri kami sendiri, mungkin dengan menolong orang-orang itu.”

“Tapi dia itu bukan masterku sih,” Wizard Boy bergumam pada dirinya sendiri, terlihat cemberut.

“Orang-orang itu…” Telinga Harefolk Hunter semakin memanjang. “….Maksudmu mereka yang ada di sana?”

Sebelum di singgung oleh sang kelinci, Rookie Warrior sama sekali tidak memahami itu semua. Apprentice Cleric juga. Gadis itu tidaklah lebih tanggap dari gadis lain seumuran dia. Bahkan Harefolk Hunter juga baru saja menyadari hal ini.

Pada punggung gunung bersalju tampak tiga petualang. Seorang warrior dan seorang wizard—mereka berdua adalah wanita. Dan memimpin mereka adalah, gadis kecil berambut hitam. Dia memiliki pedang yang sangat besar di pinggulnya, namun dia berlari melintasi salju layaknya anak kecil, senyumnya cerah bagaikan mentari.

“Ada masalah apa?” Apprentice Cleric bertanya. “Ada yang terjadi?”

“Er, yah, teman…ku…” Wizard Boy melotot mengarah Rhea Fighter yang menyengir. “Mereka…”

Wizard oy berlanjut menjelaskan situasi dengan jauh lebih singkat di bandingkan Rookie Warrior sebelumnya, sang gadis mengangguk mengikuti.

“Kedengarannya bagus kan?” sang gadis berkata, berputar mengarah rekannya. “Kurasa aku bisa membuat perbedaan di sini!”

“Nggak ada banyak pilihan,” sang warrior wanita berkata dengan anggukan, dan sang wizard bergumam, “Sudah kuduga.”

“Yang di butuhkan cumalah seseorang yang kesulitan untuk membuatmu terlibat,” sang warrior berkata.

“…Ya. Aku sudah menduga bakal jadi seperti ini,” sang wizard menambahkan.

Gadis itu memainkan hidungnya dengan tawaan malu. Kemudian memberikan Rookie Warrior tepukan bersahabat pada pundak, membusungkan dada kecilnya bangga.  “Mantap banget cuy, menjaga dua gadis cantik ini sepanjang waktu! Serahkan saja sisanya padaku!”

“…Huh? Huh?!” Seraya Rookie Warrior mulai memahami maksud gadis itu, matanya terbelalak. Harefolk Hunter tertawa.

Sedangkan untuk apa yang terjadi berikutnya, tentunya tidak perlu di ceritakan.