PENYERBUAN DUNGEON
(Translater : Zerard)

“Aku nggak pernah setuju dengan ini!”
“Ah… Ah-ha-ha-ha-ha-ha…”
Pagi berikutnya, High Elf Archer sedang berjalan menuruni pegunungan…terukurun di dalam sebuah kerangkeng kayu. Priestess berada di sampingnya, tersenyum canggung. Mereka berdua berpakaian lusuh.
Telinga panjang sang elf mengepak marah; dia menggenggam jeruji kerangkeng dan menggoyangkannya.
Jeruji tersebut menyambung hingga ujung atas kerangkeng, agar kerangkeng ini dapat di bawa, membuatnya tampak menjadi seperti seorang “tahanan” sungguhan.
“Kenapa harus kami yang menjadi tahanannya?!”
“Karena aku dan yang lain tidak akan bisa menjadi tahanan.”
Dengan pria sebagai tahanan, acting ini tidak akan begitu meyakinkan. Goblin Slayer sama sekali tidak berusaha menenangkan sang elf.
Goblin Slayer telah mewarnai armornya yang selalu kotor dengan warna hitam dari kepala hingga kaki; merupakan pemandangan yang aneh. Seseorang dapat salah mengira dirinya sebagai pasukan yang telah wafat yang bangkit kembali dari kuburnya.
“Ho! Oh! Petualang wanita bofoh ini mulai mengoceh lagi!” kata seorag dwarf yang terlihat jahat yang membawa kerangkeng dari depan. “Master monk, mungkin kita harus memberikan mereka pelajaran…”
“Heh-heh-heh! Betapa bagusnya mereka untuk di jadikan tumbal Dewa Pengetahuan. Saya akan membiarkan anda melakukan apapun yang anda ingingkan.” Jawaban itu berasa dari seorang dark lizard monk yang berjalan di depan mereka, tersenyum jahat. Dia sudah merasa senang sejak dia menggunakan penyamaran yang telah di siapkan dan dia telah mengecat wajah dan sisiknya, menggunakan pigmen dengan bentuk pola tertentu.
High Elf Archer menggigit bibirnya dengan geraman dan mengubah sasarannya.
“Hei, kamu tahu, nggak apa-apa buat sedikit lebih marah!!”
“Oh, aku rasa…aku sudah lumayan terbiasa dengan hal seperti ini…” Priestess duduk di salah satu sudut kerangkeng, memeluk lututnya, tersenyum pasrah. Ekspresi itu bergabung dengan tubuhnya yang kurus dan indah, membuatnya tampak seperti tahanan yang sesungguhnya. Sebuah akting yang sangat bagus. Tentu saja, permasalahan utamnya bukanlah pada akting.
“…”
Kerangkeng tersebut memilki satu lagi penghuni, seseorang yang tidak mengatakan apapun. Adalah Noble Fencer.
Dia juga, duduk di sudut kerangkeng dengan kakinya yang terangkat higga dadanya—yang di mana dia manatap melamun dan tidak sedikitpun bergerak.
Akan tetapi, kulitnya yang indah, telah kehilangan cahayanya; bibirnya yang berwarna merah jingga kina telah berubah menjadi biru.
Priestess mendatanginya perlahan, menggunakan tangan dan kakinya.
“Um, apa kamu kedinginan…?”
“…Aku baik-baik saja.” Noble Fencer berkata pendek.
Biasanya, jawaban seperti itu sudah cukup untuk Priestess, namun kali ini dia hanya tertawa kecil.
Adalah jawaban yang jauh lebih baik di banding Ya atau Benarkah? Atau Begitu.
Priestess mengenang akan bagaimana sikap dia ketika pertama kali mereka bertemu; pria itu hanya akan menjawab dengan salah satu dari kata itu.
“Aku, aku kedingingan… Jadi aku akan duduk dekat kamu ya, oke?”
“…..Terserah kamu.”
Noble Fencer mengalihan pandangannya. Priestess mengangguk, walaupun Noble Fencer tidak dapat melihat anggukannya, kemudian Priestess memeluk lututnya seperti gadis lainnya.
Jalan bersalju tampak sangat panjang. Kerangkeng berayun ke kiri dan kanan di dalam badai.
Mereka berjalan menuju benteng yang berdiri di atas pegunungan bersalju. Adalah sesuatu yang tidak akan mudah ataupun menyenangkan bagi para wanita jika mereka harus berjalan kaki.
Jadi…mereka berusaha memperhatikan kami dengan membuat kami berpura-pura jadi tahanan?

“Hachooo!” Seseorang bersin di karenakan dingin.
Dia berusaha menutupi wajah merahnya dengan mulutnya, namun sudah terlambat. Telinga tajam elf telah mendengar arah suara tersebut, yang membuatnya terlihat menyeringai. Noble Fencer menatap Priestess dengan tatapan yang tidak seperti wanita sama sekali.
“Mau…mau bagaimana lagi. Di sini dingin sekali.”
“……..Iya benar.” Noble Fencer bergumam, namun terdapat tanda sebuah senyuman kecil pada ujung bibirnya. Priestess yakin sekali.
Ohhhh…
Sebagian dari dirinya bangga karena telah berhasil mengundang reaksi itu—namun Priestess merasa malu jika menyebut itu sebagai keberuntungan.
“Kamu memang benar,” High Elf Archer berkata, warna wajahnya sama pucatnya. “Benar-benar dingin di sini, apalagi dengan pakaian seperti ini.” Telinga panjangnya mengepak gelisah. “Aku rasa telingaku bakal membeku.”
“Mereka nggak salah kalau menyebut ini gunung bersalju.” Goblin Slayer berkata dari luar kerangkeng. Dia memberikan tanda kepada Dwarf Shaman untuk berhenti. Kemudian dia merogoh isi tas peralatannya dan menarik sebuah selimut, walaupun kegunaannya dalam menghalau dingin sangatlah minimal.
“Anginnya memang menggigit,” Dwarf Shaman berkata. “Bagaimana menurutmu, Scaly—er, monk?”
“Saya sendiri harus berpakaian hangat agar saya terus dapat bergerak.” Sang lizardman menggunakan pakaian biasanya di lapisi dengan mantel yang sangat tebal. Dia menyipitkan matanya. “Beberapa orang mengatakan bahwa naga yang menakutkan telah punah di karenakan dingin.”
“Kelemahan ras eh? Apa boleh buat kalau begitu. Bagaimana kalau kita nyalakan api dan hangatkan tubuh kita?”
Dwarf Shaman merogoh tas katalis miliknya, mencari korek, bersama dengan satu atau dua batu besar.
“Dansa api, salamander tersohor. Berikan kami sedikit bagian dari ketenaranmu”
Tidak lama setelah dia melantunkan kalimat itu, batu di tangannya mulai bercahaya samar dari dalamnya. Penyalaan api ini telah mengkonsumsi salah satu dari mantranya—namun tidak satupun dari mereka yang menganggap ini sebagai percuma.
“Batu ini nggak akan terbakar, Cuma menghangatkan saja, jadi—aduh! Panas, panas! Nggak jelek buat hangatkan tubuh.”
“Aku punya kenangan buruk dengan mantra itu.” High Elf Archer berkata, secara reflek melindungi kakinya. Dwarf Shaman mendengus.
“Kalau kamu nggak suka, aku nggak harus memberikanmu satu.”
Tidak lama kemudian, batu itu telah menjadi panas; Dwarf Shaman membalut batu itu dengan kain dengan gerakan yang terlatih dan meletakkannya di dalam kerangkeng. Bahkan High Elf Archer yang tampak tidak begitu menyukainya sebelumnya, menerima batu itu.
“Er, terima kasih. Kamu cukup perhatian juga, untuk seorang dwarf.”
“Te-terima kasih…!” Priestess berkata.
“…”
Masing-masing dari mereka memiliki reaksinya sendiri. Dwarf Shaman hanya menepuk perutnya dengan berkata ‘Nggak masalah!’, membuat High Elf Archer menghela.
“Coba kamu sedikit membuka perasaanmu,” sang dwarf berkata. “Beardcutter, punya sesuatu buat kita?”
“Hmm. Rencananya aku akan menggunakannya ketika kita sampai di benteng itu, tapi…” Dia mengambil segenggam akan sesuatu dari dalam tas peralatannya dan menarinya keluar. Dia melemparnya masuk ke dalam kerangkeng, yang di mana Priestesss menangkapnya.
Di tangannya adalah beberapa cincin kecil, masing-masing terhias dengan permata biru.
“Cincin-cincin itu mempunya mantra Breath di dalamnya,” Goblin Slayer berkata dengan tenang. Mantra itu adalah mantra yang dapat membuat seseorang untuk bernapas dengan lebih mudah. (TL Note: Breath = napas.)
Satu-satunya pembaca mantra yang Priestess pikir dapat melakukan sihir ini adalah Witch. Bahkan memikirkan penyihir montok tersebut membuat Priestess sadar akan betapa kurus tubuhnya.
Priestess mengesampingkan masalah itu, “Pak Goblin Slayer, kalau kamu memberikan kami cincin untuk bernapas di bawah air, apa itu artinya…?”
Di dalam pikirannya, Priestess membayangkan reruntuhan yang pernah mereka kunjungi, reruntuhan yang di kuasai oleh ogre. Kala itu Goblin Slayer menggunakan sebuah gulungan yang bertuliskan mantra Gate untuk meluncurkan semburan air bertekanan tinggi yang berasal dari dasar laut mengarah pada monster tersebut.
“Pastinya kamu punya itu,” Priestess berkata.
“Cincin itu nggak akan berfungsi lama,” Goblin Slayer berkata tajam. “Tapi cincin itu akan membantumu menghalau dingin, walaupun di tempat bersalju ini.”
“Mantap! Kenapa kamu nggak bilang dari tadi, Orcbolg?!”
High Elf Archer menepuk tangannya, mengepak telinganya, dan dengan riang dia memakai cincin itu di jarinya.
“Mmmm!” dia berkata. Memang benar, cincin tersebut telah membantu menghalau dingin. Cukup masuk akal: salju hanyalah air yang membeku belaka.
“Cincin itu sendiri nggak terlalu banyak gunanya, tapi di gabungkan dengan batu dwarf itu, rasanya cukup hangat” sang elf berkata.
“Oh, uh… kalau begitu aku juga coba…” Dengan bimbang, Priestess memasang cincin di jarinya. Ketika dia melakukannya, hawa dingin yang mengelilingi tubuhnya menghilang, seolah tubuhnya terlapisi dengan selimut.
“Oh!” dia tidak sengaja berteriak. “Ini luar biasa sekali!”
“Iya kan?” High Elf Archer berkata, menutup matanya dan terlihat bangga seolah dialah yang memberikan cincin tersebut.
Dwarf Shaman mendengarkan semua ini, mendengus tertawa.
“Hei, kenapa?” gerutu High Elf Archer, cemberut.
“Ya ampun…” Priestess menghela dan melihat pada Noble Fencer yang duduk di sampingnya. Priestess mendapatkan tatapan tajam dan dingin darinya. “Ini, kenapa nggak coba kamu pakai juga?”
“……….Aku nggak butuh,” Noble Fencer membalas, menggelengkan kepalanya dengan kuat hingga membuat rambut emasnya berkibas. “……….Aku tidak kedingingan.”
“Ayolah, kok bisanya kamu bicara seperti itu…?”
Tiba-tiba, Priestess mengingat gadis-gadis muda di kuil. Adalah hal yang akan mereka katakana secara langsung (apapun alasannya) ketika mereka keluar dalam musim dingin dengan pakaian yang sangat tipis, bahkan seraya ingus menetes dari hidung mereka.
Secara perlahan Priestess memegang tangan Noble Fencer. Seperti dugaan, tangannya dingin membeku.
“Sini, biar aku bantu pasangkan.”
“…….Aku sudah bilang, aku tidak—achoo!” Noble Fencer bersin, dan kemudian dengan cepat mengalihkan pandangannya dari Priestess yang terkejut. “…….Aku tidak kedingingan.”
“….Iya, iya.” Priestess berusaha menahan tawa. “Nanti aku pastikan mereka semua tahu kamu nggak kedinginan. Tapi aku akan tetap memakaikan cincin ini ke kamu.”
“…………Hrm.”
Dan dengan itu, tidak lagi menerima jawaban tidak, Priestess menyelipkan cincin itu pada tangan Noble Fencer.
Batu biru itu berkelip pada tangan gadis itu.
“Heh! Aku rasa aku nggak akan melarikan diri lagi setelah memakai ini.” Bahlan High Elf Archer tampaknya mulai menikmati perjalanan ini, tertawa kecil seraya dia berbicara.
“……”
Noble Fencer tetap terdiam dan tidak bergerak, tidak mempedulikan mereka, namun mereka bertiga terkurung bersama dengan batu hangat di dalamnya. Efek menghangatkan yang di berikan cincin mereka dengan batu biru cantik ini mungkin tidak akan bertahan lama—namun cincin itu sendiri tidak akan menghilang.
“Heyo, gadis-gadis. Sudah cukup bicaranya. Kembali bearkting terlihat ketakutan lagi.” Dwarf Shaman berusaha terlihat sekejam yang dia mampu dengan harapan untuk memperkuat akting mereka.
“Ayolah dwarf, kamu nggak harus merusak suasana juga!”
“Suasana? Ngaca Telinga Panjang. Budak macam mana yang tertawa-tawa dan bergosip?”
Jika sang dwarf berkata seperti itu, High Elf Archer tidak dapat mendebatnya. High Elf Archer memanyunkan bibirnya dengan kesal dan terdiam.
“Ambil garis depan,” Goblin Slayer berkata. “Pengelihatan malamku terlalu jelek.”
Bahkan, akan sangat tidak biasa bagi agen kekacauan untuk membawa sebuah obor. Goblin Slayer memapah gagang kerangkeng pada pundaknya, mengikuti Lizard Priest sekarang.
“Serahkan pada saya. Akan sangat baik jika anda tetap berada di dekat saya, wahai knight pengelanaku.” Dengan sebuah desisan, dan tawaan kecil, Lizard Priest bergerak ke depan dengan langkah yang lebar.
Gerbang hitam besar benteng sebentar lagi berada di depan mereka, adalah mustahil untuk melewatinya dalam pegunungan penuh akan salju ini.
*****
“Kami memohon ijin untuk masuk!”
Suara lantang Lizard Priest dapat terdengar bahkan di antara lolongan badai. Benar-benar sebuah raungan naga. Adalah mustahil bagi penghuni benteng untuk tidak mendengarnya.
“Tamu anda adalah pelayan dewa pengetahuan eksternal, seorang priest dari mata akan bulan hijau! Saudaraku, apakah kalian tidak akan membuka gerbangmu untuk saya?!”
Lizard Priest adalah (memang benar) seorang cleric, dan seseorang yang rajin dan taat hingga dapat mencapai tingkat Silver. Lizard Priest memiliki kualitas untuk menjadikannya anggota tingkat tinggi dari agama manapun.
Seraya gema terakhirnya menghilang di telan badai, Dwarf Shaman menarik sikut Goblin Slayer.
“Sulit di percaya kalau dia cuma berakting ya? Aku rasa gadis-gadis kecil kita nggak akan bisa sebagus dia.”
“Benar.”
“Berhubung biasanya perawan kuil akan dewa kejahatan biasanya sangat jarang, ini cukup menarik loh.”
“Benarkah?”
“Kok? Aku kira kamu suka melihat penampilannya pada waktu festival? Kamu nggak mau mendandaninya?”
“Aku nggak tertarik.”
Mereka berdua berbicara cepat dan pelan, menghadap ke depan agar mereka masih dapat tampak seperti murid setia Lizard Priest.
Setelah beberapa saat, Dwarf Shaman berkata, “Aku penasaran apa benar ini goblin paladin atau makhluk kuat lainnya. Bagaimana menurutmu Beardcutter?”
“Aku nggak tahu,” dia bergumam. “Tapi kita harus beroprasi dengan asumsi bahwa dia lebih kuat dari kita.”
“Jadi maksudmu apapun kenyataannya, kita akan sudah siap?”
“Ya.”
“Aku rasa kalau kita menganggap dia bodoh dan dia mengalahkan kita, itu artinya kitalah yang bodoh.”
Goblin sangatlah bodoh, namun mereka tidak tolol. Adalah hal yang di pegang teguh oleh Goblin Slayer. Goblin Slayer mengangguk mendengar Dwarf Shaman.
“Hmmm.” Tidak ada jawaban balasan dari sahutan Lizard Priest. Gerbang masih tertutup rapat, satu-satunya yang menjawab hanyalah hembusan angina.
Lizard Priest melipat lengan baju dari mantelnya yang penuh akan warna dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya: sebuah mata yang terukir dari kayu, merupakan buatan tangan dari Dwarf Shaman, imitasi dari lambang yang mereka temukan. Inilah yang di pegang oleh Lizard Priest.
“Mata biru akan dewa pengetahuan eksternal melihat anda! Saudaraku, kalian yang berbagi akan pengetahuan, bukalah gerbang ini sekarang!”
Pada akhirnya, sesuatu terjadi.
Sebuah celah kecil muncul di antara gerbang. Di ikuti dengan decitan tuas, dan roda gigi yang berputar, dan erangan pintu yang mulai terbuka.
Goblin Slayer memperhatikan gerbang dengan konsentrasi penuh. Berapa banyak Goblin yang di butuhkan untuk membuka pintu ini? Berapapun jumlahnya, musuh mereka adalah pasukan yang besar. Sekarang semuanya menjadi menarik.
“Um… Ini akan berjalan lancar…kan?”
Mendengar suara lembut namun tak terduga dari belakangnya, Goblin Slayer hanya menggerakkan matanya dari balik helmnya. Dari sisi lain jeruji, Priestess melihat padanya dengan penuh kebimbangan.
“Apa menurutmu mereka…bakal langsung melempar kami masuk ke dalam dungeon atau…atau yang lainnya?”
“Kemungkinan besar.” Goblin Slayer sedikit mengangguk—para goblin dapat melihat dirinya. “Lebih baik daripada di jadikan tumbal.”
“Be-benarkah?”
“Ya.”
“Tapi…kamu akan menyelamatkan kami, kan?”
“Itu memang tujuanku.”
Mulut Priestess terbuka untuk mengatakan sesuatu, namun kemudian tertutup kembali. Ekspresinya melemas seolah dia telah pasrah.
“Yah… Baiklah kalau begitu.”
Dengan itu, Priestess menghela lembut. Bahkan dengan berbagai macam pemanas sihir di dekatnya, hela napasnya menjadi kabut seusai keluar dari mulutnya.
Goblin Slayer bisa saja berkata Semua akan baik-baik saja, atau Kamu bisa percaya padaku, atau Aku nggak akan membiarkan goblin menyentuhmu—apapun yang dapat memberikan ketenangan pada para gadis. Namun dia tidak mengatakannya. Tidak satupun.
Tentu saja, jika Goblin Slayer secara tiba-tiba menjadi penuh perhatian, Priestess akan mengira bahwa seseorang telah mencuri armor pria itu. Namun tetap saja…
Dia ini benar-benar terlalu, Priestess berpikir. Priestess tidak mengetahui mengapa ini membuatnya ingin tersenyum, namun dia menahan rasa itu. Priestess dapat merasakan Noble Fencer di sampingnya, tubuhnya kaku; dari kegugupan atau ketakutan, Priestess tidak mengetahuinya.
“Nggak apa-apa,” Priestess berkata. “Goblin Slayer ada di sini. Semua ada di sini.”
“Mereka datang,” High Elf Archer berkata tajam, telinganya berdiri.
“GROOOBR!”
Makhluk yang muncul di samping gerbang sangatlah kecil, dan teriakan makhluk tersebut tidak bisa di bandingkan dengan Lizard Priest.
Adalah seekor goblin, berpakaian dengan jubah priest yang usang. Goblin itu berusaha terlihat mengintimidasi sebisa yang dia mampu, namun langkah kecilnya terlihat cukup komikal. Akan tetapi, walaupun dengan penampilan yang konyol, seolah dirinya seekor high priest yang bangga, membuatnya terlihat cukup mengesankan.
“GORARO! GORBB!!”
Sang goblin berhenti di depan Lizard Priest dan memberi tanda dengan angkuh, melambaikan tangannya dan berteriak akan sesuatu. Lizard Priest, masih menggenggam lambang suci itu, mengangguk mengikuti.Goblin Slayer dan Dwarf Shaman menundukkan kepala mereka layaknya murid yang baik, diam tidak berkata-kata.
“Apa yang dia bilang?” High Elf Archer berbisik pada Priestess.
“Aku nggak tahu,” Priestess bergumam menjawab, menggelengkan kepalanya. Bagaimana mungkin dia dapat mengetahui bahasa goblin? “Apa kamu pikir dia itu goblin paladin?”
“Dia lebih kelihatan seperti high priest bagiku.”
“……..Kalian salah.” Suara Noble Fencer menghalau bisikan mereka. “…………..Itu…..bukan dia.”
Api kemurkaan membara di mata Noble Fencer; Priestess dapat melihatnya.
Oh….
Sebuah pikiran kecil membuat semuanya menjadi jelas tentang dari manakah goblin itu mendapatkan jubah priest itu.
“Semua akan baik-baik saja…” dia berkata, memeluk Noble Fencer. Priestess tidak yakin apakah perasaannya telah tersampaikan, namun dia berharap perasaannya dapat di rasakan Noble Fencer.
Sekarang.
“Jika begitu, dapatkah kami mengajukan permintaan untuk bertemu dengan penguasa benteng ini? Dengan sang paladin?”
“GORA! GORARARU!”
“Oh, mereka? Mereka adalah pelayan setia saya. Dan sedangkan yang lainnya adalah…hadiah dari saya.” Lizard Priest melebarkan tangannya di depan kerangkeng; dia tampak begitu agung. “Kami telah berhasil menangkap beberapa petualang gadis bodoh. Dan salah satunya, telah memiliki lambang untuk di jadikan tumbal.”
“ORRRG! GAROOM!”
 “Ah, benar sekali, saya mengerti. Bimbinglah kami mengarah penjaranya. Kita harus memotong kaki dan tangan mereka agar mereka tidak dapat melarikan diri.”
Sang goblin priest mengangguk, dan dengan gerakan imitasi meniru Lizard Priest, yang membuatnya terlihat komikal, dan kemudian memberikan arahan pada party untuk masuk ke dalam.
Tentu saja, Lizard Priest tidak dapat memahami bahasa goblin, seperti rekan lainnya. Namun bahasa goblin sering terdengar seperti anak kecil yang mengambek, dan memiliki arti yang kurang lebih sama:
Aku mau itu, berikan ke aku. Dia berhasil. Itu salah dia.
Jika begitu, apa yang harus di lakukan? Lidah lenturnya mendesis sebuah doa:
“O Mapusaurus, penguasa bumi. Ijinkanlah kami bergabung dengan kelompokmu, seberapapun singkatnya.”
Adalah sebuah keajaiban komunikasi, sebuah telepati. Dengan meminjam sedikit kekuatan dari leluhurnya, yang berburu secara berkelompok, Lizard Priest dapat memahami bahasa mereka.
“Semua tidak aka nada gunanya jika kedua sisi tidak dapat saling memahami, Biasanya mantra ini di gunakan untuk penginjilan, namun….”
Adalah apa yang Lizard Priest katakan kepada rekannya pada meja di penginapan malam sebelumnya, duduk di samping Dwarf Shaman, yang sedang menjahit.
“Aku rasa ini akan di perlukan bagi kita untuk mempelajari beberapa kata dari lidah goblin.”
Adalah apa yang di katakan Goblin Slayer sebagai jawaban. Dan sekarang….
“Phew! Sepertinya semuanya berhasil.” Dwarf Shaman berkata.
“Kita baru melewati gerbang. Jangan lengah.”
“Kamu nggak perlu beritahu aku dua kali.”
Sang dwarf menghela napas pendek. Goblin Slayer memandanginya, dan kemudain melihat sekitarannya.
Goblin.
Mereka berada di halaman kastil tua ini. Dahulu kala, sebuah mata air telah membawa air pada tempat ini, dan sebuah pesta munkin di selanggarakan pada plaza marmer ini. Namun sekarang, mata air telah mengering; dan tertutupi oleh salju, semua rumput dan pepohonan sirna dari halaman ini, tidak ada satupun tanda akan seorang kbight ataupun bangsaawan. Sekarang tempat ini menjadi rumah para goblin, dan dengan itu, tempat ini telah menjadi penuh dengan tumpukkan kotoran yang bercampur dengan darah dan tahi.
“Ini benteng dwarf dari Jaman para Dewa? Lihat sekarang apa jadinya…”
Bagi seseorang yang mencintai petualangan dan tempat misterius seperti High Elf Archer, rasa perih pada bisikannya dapat di mengerti.
“Mereka nggak tahu seberapa berharganya tempat ini…”
“Coba lihat mereka semua,” Priestess berkata, menggigit bibirnya mencoba menahan getaran pada suaranya. “Kita harus melakukan sesuatu terhadap ini…”
Adalah sebuah keberuntungan bahwa goblin yang melihat mereka hanya menganggap mereka sebagai tumbal menyedihkan. Monster kecil ini mengetahui secara pasti akan bagaimana cara untuk membuat tahanan seperti ini menjadi menangis dan memohon ampun, tidak peduli seberapa angkuhnya mereka terlihat atau terdengar.
Gerombolan goblin berjumlah beberapa lusin.
Goblin tengik berada di keseluruhan tempat ini: taman, dinding, dan dalam menara pengawas. Masing-masing dari mereka menggunakan perlengkapan yang menyedihkan—walaupun bagi goblin perlengkapan mereka tampak seperti perlengkapan tingkat tinggi—dan masing-masing dari mereka memperhatikan pendatang baru dengan seksama.
Tatapan mereka mengandung rasa penasaran dan hasrat, namun kebanyakan dari mereka mengandung rasa lapar yang sangat. Mata akan para hewan dari binatang tidak berotak akan jauh lebih baik dari ini. Paling tidak binatang liar tidak akan menatap mereka dengan penuh kemurkaan dan niat jahat.
“…..”
Priestess secara reflek berusaha melindungi Noble Fencer dari tatapan mereka; dia memeluk gadis itu dengan kuat. Priestess mengetahui dari pengalaman bahwa ini hanya akan membuat para goblin semakin menjadi, namun dia tetap melakukannya.
“…..”
Sedangkan saat ini, Goblin Slayer secara hati-hati memperhatikan lingkungan sekitar dari balik helmnya. Geografi tempat ini, arsitekturnya tempat ini; jika dia tidak menyerap semunya, maka hampir dapat di pastikan dia akan mati ketika mencoba melakukan rencananya.
Kematian sama sekali tidak mengusiknya; namun apa yang tidak dapat dia biarkan adalah pikiran akan para goblin ini yang terus melakukan pekerjaan jahat mereka.
“GORARA.”
“Mm. Ayo. Dia meminta kita untuk mengikutinya.” Sang Lizard berkata, mengikuti di belakang sang goblin.
“Baik, master priest. Ayo, manusia kaleng.”
Mendengar Dwarf Shaman. Goblin Slayer mengangkat gagang dari kerangkeng.
Mereka meninggalkan halaman penuh akan goblin, menuruni sebuah tangga yang penuh akan sampah yang membusuk. Langkah kaki mereka bergema mengerikan di dalam ruang bawah tanah berbatu. Ruangan ini sangatlah remang dan suram, dan sebuah aroma busuk yang sulit di jelaskan tercium dari suatu tempat. Mereka ragu jika ini adalah gudang para goblin. Mengapa menyimpan makanan dalam sebuah kurungan?
Mereka berada di dalam dungeon.
Palang dan gembok yang di buat kaum dwarf sangatlah kokoh nan indah. Rantainya pun juga sama indahnya. Mengkin benda-benda ini pernah di gunakan di jaman dahulu, untuk mengikat agen kekacauan, atau para pelaku kejahatan yang mengancam benteng ini.
Namun sekarang, tempat ini sudah berada di bawah kendali goblin, dan ruangan ini merupakan tempat tinggal terakhir seorang wanita muda yang tidak beruntung. Bayangkan jiwa menyedihkan itu di rantai di sini, berusaha menahan hidungnya untuk tidak mencium aroma mayat yang membusuk…
“…”
Priestess mendengar sebuah suara. Adalah Noble Fencer, yang mengeratkan giginya dan mengeluarkan geraman kecil. Tubuhnya terasa kaku di lengan Priestess.
“ORAGARR.”
Sang goblin membuka gembok yang telah berkarat, dan pintu sel-pun terbuka.
Lantainya sangat licin dan di penuhi oleh beberapa cairan yang tidak di ketahui. Rantainya hampir menjadi merah di karenakan karat.
Berada di bawah tanah, hawa udara terasa dingin, walaupun masih lebih baik di banding berada di luar. Aroma membusuk mengambang bersama hawa dingin.
Hanya terdapat satu lubang untuk buang air besar, dan lubang itu sudah di penuhi oleh tahi. Dan jika itu masih belum cukup, sebuah lengan manusia telah di buang begitu saja masuk ke dalam lubang itu.
High Elf Archer tersedak nyaring. Kita tidak perlu membahas perihal indra tingkat tinggi kaum elf bukan…?
Walaupun mata manusia tidak dapat melihat sebaik para elf, aroma dan hawa tempat ini mengingatkan kembali pengalaman Priestess. Priestess menghirup sedikit udara. Dia sudah terbiasa dengan ini—mungkin, mudahan,  atau itulah apa yang dia pikir—namun walaupun begitu…
“…Eugh…” 
Walaupun begitu, dia tidak dapat menghalau ingatan akan petualangan pertamanya. Warrior muda yang berjalan di depannya, kemudian racun mematikan yang berada tepat di depan matanya. Wizard yang dia telah bantu bunuh. Dan sang fighter,  di kerumuni oleh goblin, di nodai dengan cara paling keji.
Dan semua itu menimpa dirinya. Mereka semua telah mati sedangkan dirinya selamat. Walaupun dirinya hidup sekarang, namun bukankah gilirannya untuk mati akan tiba suatu hari?
Nggak apa-apa. Nggak apa-apa. Semua…baik-baik saja.
Priestess mengulangi nama Ibunda Bumi di balik napasnya untuk menjaga agar giginya berhenti bergetar. Priestess melirik kepada pria itu.
Atau paling tidak, Priestess mencoba.
“GAROU!”
“Hh—ahh!”
Priestess merasakan sesuatu menggenggam kepalanya; dia menjerit. Sang goblin priest telah mendekati kerangkeng dan menarik rambutnya dengan kasar.
“ORAGARAO!”
Buka kandangnya dan masukan gadis ini ke dalam sel!
Dewa manapun yang meminta mereka untuk di jadikan tumbal, tampaknya semua akan di mulai dari Priestess.
Dwarf Shaman dan Goblin Slayer bertukar pandang dan mengangguk, kemudian menurunkan kerangkeng.
Lizard Priest berkata serius, “Baik, tentu saja. Namun, jika anda ingin untuk…menikmati persembahan ini, pertama saya harus bertemu dengan sang paladin, dan—“
“Hrrraaaaaahhhhhh!”
Seraya pintu kerangkeng di buka, Noble Fencer melakukan hal yang tidak terduga sama sekali: dia memaksa keluar dari kerangkeng, mendekati goblin yang sedang bersenang-senang dengan Priestess dan melilitkan tangannya di sekitar goblin.
“OGA….?!”
“Hraah! Haaaaahhhhh!” Melolong layaknya binatang liar, keuntungan tubuh Noble Fencer yang besar membuatnya dapat membanting monster itu.
“GORARA…?!”
“Eep!” Priestess menjerit. Goblin priest yang marah menarik sebuah pisau batu dari ikat pinggangnya dan menyayat Priestess. Sebuah garis merah tipis muncul pada pipinya, dan Priestess memundurkan tubuhnya. Ketika dia melakukan itu, Noble Fencer mementalkan pisau itu dari tangan makhluk itu.
“ORAGAGAGAGA?!?!”
“Goblin… Goblin! Goblin!!”
Noble Fencer menindihnya, melancarkan tinjunya. Setiap kali dia berteriak dan meninju, sebuah memar baru tampak pada kulit pucat Noble Fencer, namun dia tidak mempedulikannya.
“Aaaaagh! Mampus! Mampus kamu tai anjing!”
Hidung patah; mata hancur. Gigi bengkok. Dan dagu retak.
“GARAO?!”
Bahkan para goblin-pun tidak mungkin membiarkan kekacauan seperti ini. Makhluk lainnya yang berada di ruang bawah tanah ini, yang tengah menunggu dengan antisipasi untuk bersenang-senang dengan tawanan mereka, meneriakkan suara mereka.
Kemudian sang goblin penjaga melakukan hal layaknya goblin biasanya; daripada menyerang musuh, dia berlari ke atas tangga untuk memanggil rekannya.
“Feh.” Goblin Slayer menjentikkan lidahnya. Gerakannya cepat dan tepat.
Membuang kerangkeng ke lantai—dan menghiraukan keluhan dari High Elf Archer—dia menarik pedang dari pinggulnya dan menerbangkannya.
Mata pedang itu memotong udara tanpa suara sebelum akhirnya tertanam pada kepala goblin yang berada di tangga.
“ORAG?!”
Makhluk itu berguling kembali ke bawah tangga, kejang-kejang, tidak mengetahui apa yang terjadi padanya. Goblin Slayer dengan segera menerjang padanya.
“Hmph” Dia memberikan putaran pada pedangnya, mematahkan saraf tulang belakangnya, dan ketika serangan terakhir ini selesai di lakukan, dia mencabut pedangnya dan menendang tubuh itu menjauh. Tubuh itu kembali berguling ke bawah tangga, mendarat pada genangan kotoran dan tenggelam masuk ke dalamnya. Dengan itu tubuhnya akan tersembunyi.
Akan tetapi, Goblin Slayer tidaklah pernah lengah, memperhatikan dengan seksama pada atas tangga, jalan mereka menuju permukaan.
“GORA?”
Seperti dugaannya. Seekor goblin yang berpatroli mendengar keributan di tangga dan datang untuk memeriksa.
Goblin Slayer dengan cepat mengatur genggaman pada pedangnya dan memanggil rekannya. “Kita sudah ketahuan. Ada satu lagi yang datang.”
“Aaaaaaghhh! Aaahhhhhh!”
Noble Fencer masih menghajar mayat goblin priest yang telah mati. Gigi yang tidak rata makhluk menjijikkan ini telah meluaki kepal tangan Noble Fencer, namun dia tidak mempedulikannya sama sekali. Hanya dalam hitungan detik, kedua tangannya berlumuran dengan darah.
“Hen-hentikan! Tolong berhenti!” Priestess memeluk punggung Noble Fencer.
Batu dingin yang menyentuh bokongnya terasa cukup meyakitkan, namun Priestess mengesampingkan sensasi itu dan berkata, “Er, ah apa aku perlu memakai Silence…?”
“Ah, gadis, nggak ada suara sama sekali sama mencurigakannya dengan kebanyakan suara,” Dwarf Shaman berkata. “Kalau begitu, ahem…”
Dwarf Shaman mulai merogoh isi tasnya, bergumam seraya dia mencari.
“Sepertinya nggak ada pilihan,” Goblin Slayer bergumam, menggenggam pedangnya lebih erat. Pada saat dia mengurus goblin yang datang mengarah mereka, keadaan sudah di pastikan akan menjadi lebih buruk. Apakah dia perlu menghadapi goblin sekarang? Tidak… kemungkinan mereka menang masihlah tipis.
Seraya dia memikirkan semua ini dengan cepat, Lizard Priest, yang dari tadi tidak berkata apa-apa, berbicara. “Nona ranger, menjeritlah!”
“Hah? Er, siapa, a-aku?”
High Elf Archer, yang sedang berusaha menghentikan Noble Fencer, terhenyak karena namanya di sebut tiba-tiba, telinganya memantul terkejut.
Lizard Priest memukul ekornya di lantai dengan sedikit merasa kesal. Terdengar nada marah pada suaranya seraya dia berkata. “Lakukan seperti apa yang saya bilang dan menjeritlah! Kita tidak mempunyai waktu lagi!”
“Y-yeah, baik, oke. Teriak… teriak…”
Dia menarik napas dalam, membuka mulutnya, dan…
“Ti-tidaaaaaaaak! Hentikan! Hentikaaaaaaaaaaannnn!”
Suaranya begitu bening.
Suara elf itu terbawa udara. Teriakannya bergema di keseluruhan ruang bawah tanah, naik ke tangga, dan mencapai permukaan.
“GORARA.”
Sang goblin yang berada pada puncak tangga tampaknya memahami apa yang sedang terjadi. Dia berhenti, membayangkan wanita itu sedang di siksa. Dia membuat gerakan yang vulgar dan melirik pada Goblin Slayer yang berdiri di tangga.
“GORARURU?”
Goblin Slayer mengangguk, dan goblin itu hanya memberikan tawaan hina dan melambaikan tangannya pergi manjauh.
“Kamu akan mampir nanti, kan?”
Goblin Slayer melototi makhluk itu seraya goblin itu pergi dengan senyum menjijikkan yang masih menempel di wajahnya.
Mereka telah berhasil mengulur sedikit waktu yang telah mereka sia-sia kan. Goblin Slaye tidak akan menyia-nyiakannya lagi.
Rencana aslinya adalah untuk membawa “tumbal” kepada master dari benteng ini untuk di periksa. Jika ada kesempatan untuk membunuh goblin paladin—jika benar ada!—maka di situlah mereka akan melakukannya.
Namun sekarang rencana itu telah kacau balau.
“Yah, kurang lebih seperti perkiraanku.” Goblin Slayer bergumam datar seraya dia menutup pintu, memasang kuncinya, dan kembali menuruni tangga.
Tubuh sang penjaga mengapung kembali di atas genangan kotoran; tanpa ragu dia menendangnya masuk ke dalam lagi.
Goblin Slayer melihat tempat di mana Noble Fencer masih menghajar mayat goblin priest. “Bawagoblin itu ke sini juga. Walaupun nggak seberapa, tapi kita sembunyikan dia juga,” gumpalan daging berat itu telah berubah menjadi lenyek. (TL Note : Lenyek = hancur sampai lembek.)
“Ayolah…sudah cukup!” High Elf Archer berkata, menarik Noble Fencer dari mayat. Dia menggenggam pundak gadis itu dan menariknya menggunakan berat tubuhnya. High Elf Archer mungkin terlihat kurus, namun  seperti itulah perbedaan kekuatan di antara tingkat Silver dan Porcelain yang membuatnya mampu melepaskan warrior itu.
“Maaf ya, tapi apa sih yang kamu lakukan?” High Elf Archer bertanya. “Aku kira kita sudah menjelaskan bagaimana jalannya rencana kita!”
Noble Fencer, sekarang terduduk di lantai yang kotor, menatap sang archer dengan mata yang gela. “….Aku harus bunuh para goblin.”
“Awww, astaga…!”
Akan percuma untuk mencoba menyakinkan Noble Fencer untuk tidak melakukannya. High Elf Archer memanyunkan bibirnya, membuat rasa tidak senangnya tampak jelas. Telinganya berdiri kesal di antara rambutnya yang berantakan. Hal-hal tidak terduga seperti inilah yang sangat dia sukai tentang manusia. High Elf Archer mengakui bahwa dia cukup menyukai ketika dia mengeluh tentang semua keputusan aneh Orcbolg. Paling tidak terkadang. Sedikit saja…!
Petualang yang duduk di depannya—kedua tangannya berlumur dengan darah namun ekspresi tentram pada wajanya—sangatlah berbeda. Bagaimana bedanya dia, High Elf Archer kurang memahaminya juga.
“Itulah kenapa aku nggak setuju dengan ini…!”
“Kurasa aku sudah senang kita bisa lepas dari ini tanpa harus memakai mantra…” Dwarf Shaman berkata, menghela dan mengocok botol anggur pada pinggulnya. Mendengar guncangan dari dalamnya, dia membuka tutupnya dan meneguk panjang. Kemudian dia mengelap tetesan anggur dari jenggotnya dan bersendawa sekali. Roh anggur terasa nyaman dari bahaya yang baru saja mereka hindari.
“Ini bukanlah apa yang kita rencakan, tapi kita harus melanjutkannya dengan apa yang ada.”
“Ya, saya itu benar. Akan lebih baik untuk membawa dia bersama kita di banding meninggalkannya sendiri untuk membuat keributan yang tidak di perlukan.” Lizard Priest terdengar sangat tenang.
High Elf Archer mengangkat alisnya. “Dan gimana kalau dia membuat kita terlibat sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih buruk?” dia meletakkan tangan pada pinggulnya dan melotot pada Noble Fencer. Kemarahannya pada wanita muda itu, yang masih berdiri di sana dengan tangan yang berlumur darah seolah dia tidak mempedulikannya sama sekalu, tampaknya mulai membara lagi.
Priestess, sensitive dengan apa yang sedang terjadi, berusaha untuk menenangkan keadaan. “Te-tenang,  tolong, tenangkan diri! Ini bukan waktunya untuk marah…!”
“Kamu yang seharusnya paling marah di antara kita!”
“Apa?!”
High Elf Archer tiba-tiba menjulurkan tangannya dan membelai pipi Priestess. Gadis itu menggeliat tidak sengaja di karenakan rasa sakit yang mnusuk. Senjata goblin mungkin memang usang, namun senjata tetaplah senjata.
Garis merah pada pipinya masih meneteskan darah.
Gadis itu memutuskan untuk melancarkan serangan kejutan, dan kamu yang kena imbasnya!”
Mata Priestess berkedip. Dia menekan pipinya dengan tangannya.
“Aku baik-baik saja.” Dia berkata. Setelah beberapa saat, ekspresi pada wajahnya menjadi sebuah senyuman, sebuah senyuman yang mengatakan bahwa ini hanyalah goresan kecil. Walah berani Priestess tampak semakin membuat marah High Elf Archer.
“Kamu nggak baik-baik saja, kamu terluka—!”
Paling nggak—ya, paling nggaK, petualang itu harus minta maaf pada Priestess.
hIgh Elf Archer menjulurkan tangannya seolah ingin menarik Noble Fencer, yang berdiri melamun—
“Tenang.”
“Orcbolg…!”
—dan menadapati sebuah pelindung tangan kotor menghentikannya.
Air mata kecil muncul pada ujung mata High Elf Archer. Adalah emosinya yang gelisah lah yang menyebabkannya. High Elf Archer tidak dapat menenangkan dirinya hanya karena mereka menyuruhnya untuk tenang.
“Tapi—tapi dia bilang dia mau ikut dengan kita, dan sekarang lihat—!” High Elf Archer berkata, menujuk pada Noble Fencer. Dia hanya ingin dirinya di mengerti.
Namun Goblin Slayer menggeleng kepalanya. “Aku bilang tenangkan dirimu.”
Dia meraih goblin yang telah terbunuh dan menyeretnya, masuk ke dalam genangan kotoran. Dengan suara yang menjijikkan, mayat itu masuk ke dalam genangan.
Goblin Slayer mengalihkan pandangannya dari High Elf Archer, yang pundaknya menegang di karenakan amarah.
“Hei.”
“Oh, y-ya!” Priestess berkata, dengan cepat berdiri.
“Obati dirimu sendiri, kemudian berikan gadis itu P3K. Tangan itu akan membusuk nantinya.”
Terdapat momen keheningan, di ikuti dengan sebuah dengusan. Goblin Slayer tampaknya menyuruhnya untuk melakukannya.
Kemudian: “Bekas lukanya akan ada juga nanti.”
“…Baik. Apa aku perlu memakai potion…?”
“Mulai dari herba.”
Priestess mengangguk dengan “Baik, pak,” kemudian berlari kecil menuju Noble Fencer. Antiseptic dan herba penghilang rasa sakit tidak akan memberikan efek drastic layaknya sebuah potion, namun kedua benda itu masihlah berfungsi. Goblin Slayer memastikan Priestess telah mengoleskan salep pada lukanya dengan benar, kemudian dia mengangguk.
“Maaf merepotkan, tapi tolong periksa apakah ada yang masih selamat di antara para tahanan.”
“Langsung.” Dwarf Shaman meneguk anggur seraya dia menjawab. Dia selalu cepat untuk menanggapi sebuah perintah. “Ikut denganku, Scaly. Aku akan butuh bantuan kalau aku harus menyeret seseorang keluar dari selnya.”
“Ha-ha-ha-ha-ha-ha-ha! Ya, tampaknya memang benar bahwa konon pembaca mantra memiliki kemampuan fisik yang lemah, bukan!” Lizard Priest berkata. Hanya sebagai gurauan kecil: untuk melawan atmosfir menekan penjara yang ada di sekitar mereka.
Menyentuh ujung hidung dengan lidah panjangnya, Lizard Priest berkata kepada Goblin Slayer, “Saya rasa anda tidak akan keberatan jika kamu merawat siapapun yang kami temukan terluka?”
“Simpan keajaibanmu,” Goblin Slayer berkata. “Nggak peduli apapun yang kamu lakukan, nggak akan ada satupun tahanan yang mempunyai kondisi cukup baik untuk bergabung dalam pertarungan.”
“Benar, saya paham maksud anda,” sang lizrd berkata, membuat gerakan aneh pada tangannya.
Seraya dia pergi, dia berbisik, “Saya memahami perasaan anda, namun mungkin sudah saatnya bagi anda untuk mengesampingkan emosi itu.”
Telinga elf berdiri mendengar gumamnya.
“Aku rasa kita memang nggak punya pilihan dan harus mengesampingkan ini.” Dia berkata setelah beberapa saat, wajahnya masih cemberut. Goblin Slayer berdiri di depannya tanpa berkata-kata, tangan terlipat.
Goblin Slayer merasakan sesuatu yang janggal—sebagian di karenakan “goblin priest,” makhluk menjijikkan dan kontradiktif, jika makhluk itu memang nyata—namun para tahanan lebih mengkhwatirkan. Seharusnya, tidak ada gadis yang di culik dari desa. Yang artinya bahwa mereka telah di bawa kemari dari suatu desa lainnya yang telah di serang oleh goblin.
“…”
Apakan para goblin  telah memaksa tahanannya untuk berjalan melewati salju? Apakah itu mungkin?
Seberapa besar daerah di mana para goblin beroperasi? Dan apakah “goblin paladin” ini memimpin mereka?
“Aku nggak suka ini.” Goblin Slayer berkata.
Dia hanya berbicara pada dirinya sendiri, namun High Elf Archer menjawab dengan merajuk, “Sama.” Maka, tidak berusaha untuk menyembunyikan perasaan tidak senangnya, dia menatap pada helm pria itu dan berakta, “Kenapa kamu bawa gadis itu sama kita?”
Seperti biasa, helm itu membuat ekspresinya tidak dapat di baca, namun dia menjawab datar, “Karena kita butuh dia.”
“Oh, kita butuh dia kah?” sang ranger berkata, mengeluarkan sedikit tawaan mengejek. “Yah, kalau begitu mungkin kamu bisa kasih dia sedikit pelajaran.”
“Apapun itu, kalau kita nggak keluar dari sini, kita nggak akan bisa kembali pulang. Dan,” dia menambahkan, dengan tenang seperti biasanya, “selalu ada goblin untuk di basmi. Kita sudah menerima tantangan ini. Kita bisa saja berhasil, atau gagal.”
“Ini… Ini bukan waktunya untuk berbicara seperti itu…!”
“…Aku tahu.”
Tapi.
“Aku tahu…percaya aku, aku tahu.”
Suaranya terdengar begitu lelah. High Elf Archer tiba-tiba tidak dapat berkata apa-apa.
“…….”
Orcbolg? Dia bergumam pelan.
Mungkin ucapannya tidak terdengar oleh pria itu. Pria itu menghela napas. “Aku akan berjaga. Kalau kalian sudah selesai memeriksa tahanan dan menolong siapapun yang terluka, siapkan perlengkapan kalian.”
“…Di sini?”
“Ya.”
“………”
“Aku rasa kamu nggak akan bisa bertarung baik dengan pakaian seperti itu.” Dia berkata kepada elf.
Terutama, di penjara bawah tanah yang di kelilingi dengan kotoran dan mayat busuk.
High Elf Archer bergumam menyetuji. Dia menekan alis dengan jarinya seraya untuk menahan rasa sakit kepalanya. “Aku mau pastikan lagi tentang ini: di sini?
“Ya.”
“Dan kamu mau kami untuk ganti pakaian kami?”
“Ya.”
Argh, ya ampun. Orcbolg sama sekali nggak berubah sedikit pun ya?!
“Maaf ya,” sang archer berkata dengan helaan, “tapi kami para elf mempunyai sesuatu yang di sebut sopan santun…”
“Kalau kamu nggak suka, gunakan ini sebagai penutup.”
“Ergah?! ….Gah! Kamu!”
Goblin Slayer mengambil sebuah selimut dari kerangkeng dan melempar kepada sang elf; selimut itu mendarat di kepalanya.
Ekspresi marah High Elf Archer hanya tampak sesaat belaka; dengan cepat dia ingin membalasnya, namun sudah terlambat. Goblin Slayer sudah membalikkan punggungnya menjauh.
High Elf Archer berusaha mengikat selimut itu di sekitar lehernya, kemudian mengganti pakaian dari balik selimut itu. Dia merasa keadaannya sungguh menyedihkan.
Dengan lincah dia membuang pakaian kotor yang sebelumnya dia gunakan sebagai samara, menggantinya dengan pakaian berburu biasanya. Dia mengenakan armornya untuk tetap menjaganya aman dalam pertarungan; menggantung busur di punggungnya; dan untuk pakaian dalamnya…yah lupakan saja. Lagipula dia tidak dapat memahami mengapa ada orang yang mempedulikan pakaian dalam.
Astaga… aku ini marah karena apa sih?
Ini tidaklah seperti dirinya. Sama sekali tidak seperti dirinya. High Elf Archer mulai merasakan amarahnya mulai padam.
Huh?
High Elf Archer terdiam, terbengong seraya dia memeriksa armornya. Orcbolg bersikap ketus kepadanya, akan tetapi, dia sama sekali tidak merasa marah tentang itu. Sebagian alasannya mungkin di karenakan di sudah terbiasa dengan ini, namun…
Kalau itu saja, aku nggak akan peduli kalau dia menghiraukanku perihal gadis itu juga.
“Hrmm…” Telinga High Elf Archer berkedut berpikir seraya dia memikirkan teka-teki ini.
Jadi…ada sesuatu yang beda tentang gadis itu dan Orcbolg.
Apakah itu? Apakah yang berbeda?
Dia memikirkan ini lagi dan lagi di kepalanya hingga membuat kepalanya pusing.
High Elf Archer masih tidak menemukan jawabannya—yang hanya dia dapatkah hanyalah, mereka berdua memiliki sesuatu yang sama.
“Goblin.”
Goblin, goblin, goblin,goblin,goblin,goblin!
High Elf Archer mendapati dirinya sendiri merinding: kata itu mengiang di kepalanya layaknya sebuah kutukan.
“Ahhh, ihhh! Ini nggak asik…!” Dia menepuk pipinya dengan kedua tangan, menggosok ujung matanya. Tampaknya dia tidak dapat menenangkan dirinya.
Dia tidak dapat mengusir perasaan ini menjauh.
Dia tidak dapat menemukan jawaban.
Keadaan benar-benar sangat buruk.
Ya, namun.
“…….Memang benar-benar cuma ada satu yang bisa di lakukan ya?” Sang archer mendengus, telinga berkedut, kemudian memunculkan kepalanya dari balik selimut.
Goblin Slayer sedang berdiri di atas tangga, memperhatikan seksama pintu yang berada di sana, dengan perlengkapan yang telah siap.
High Elf Archer berbicara dengan pelan pada punggungnya. “Maafkan aku, Orcbolg.” Dia membuka mulutnya namun merasa tidak dapat mengutarakan apa yang ingin dia katakana. Dia berusaha mencari kalimatnya, kemudian mencoba kembali. “Aku…sudah sedikit berlebihan.”
“Itu pasti terjadi,” Goblin Slayer berkata, tidak memutar tubuhnya. “Padamu, pada gadis itu, padaku.”
Ucapannya begitu tenang seperti biasanya, bahkan terdengar sedikit dingin. High Elf Archer merasakan pipinya hampir melemas menjadi senyuman.
“Bahkan kamu, Orcbolg?”
“Ya.”
“Aku rasa aku nggak pernah melihatnya.”
“Benarkah?”
“Benar.”
“Begitu,” dia bergumam tanpa rasa tertarik, kemudian memutar kepalanya.
Dalam sekejap. High Elf Archer mengingat sesuatu yang pernah di katakan oleh Priestess kepadanya. Akan bagaimana ketika pria itu sedang berpikir, ketika pria itu akan mengatakan sesuatu—dia akan terdiam lebih dulu.
“Aku akan beritahu yang lain,” pria itu berkata pelan. “Kalau kamu nggak keberatan.”
High Elf Archer mengeluarkan tangan dari balik selimut dan memberikan lambaian seolah ingin mengatakan, Nggak usah.
“Nggak perlu. Aku yang akan kasih tahu mereka secara langsung.” Sang elf terdiam, kemudian berkata, “Terima kasih.”
Dia menarik selimutnya dengan kibasan, merasa senang bahwa gerakan itu telah menyembunyikan wajahnya pada saat itu—menyembunyikan senyuman hangat yang tercetak pada wajahnya.
“Ternya…kamu perhatian juga, Orcbolg.”
“…Benarkah?” Goblin Slayer bergumam. Kemudian dia berkata, “Cepat selesaikan. Aku mau gadis lainnya untuk ganti pakaian juga.”
“Yeah, yeah.”
Sang elf tidak dapat melihat wajah pria itu—akan tetapi, High Elf Archer merasa dia mengetahui seperti apa ekspresi pria itu.
Dan itu sudah cukup bagi dirinya.
*****
“Nggak ada siapa-siapa di sana.”
“Baiklah.”
Ketika High Elf Archer telah memasukkan kepalanya kembali ke dalam pintu dan memberikan laporannya, party mereka dengan cepat bergerak keluar dari penjara bawah tanah.
Aroma memualkan dari goblin bukanlah hal yang menyenangkan. Kasil batu ini pun tidak sama menyenangkannya dengan ruangan bawah tanah itu, namun entah mengapa, Priestess mengambil napas dalam, bersyukur.
“Apa benar-benar…nggak masalah meninggalkan orang-orang itu di sana?” Priestess berbisik.
“Mereka akan jauh lebih aman di sana di bandingkan harus ikut dengan kita, saya rasa.” Lizard Priest berkata.
Untungnya—atau mungkin lebih tepatnya, sayangnya—mereka menemukan beberapa gadis yang di tahan, penuh luka namun masih hidup. Mereka telah membebaskan wanita muda itu, namun seperti ucapan Lizard Priest, adalah mustahil untuk membawa mereka.
Dan waktu merupakan hal yang sama pentingnya seperti keajaiban bagi party ini, hingga mereka tidak dapat menyembuhkan wanita muda itu…
“Kita harus kembali lagi ke sana dan menolong mereka secepat mungkin,” Priestess berkata, melihat ke belakang dengan penyesalan.
“Saat ini aku lebih khawatir apa kita bisa menolong diri kita sendiri,” Dwarf Shaman bergumam, berjalan mengikuti pada dinding batu.
Dwarf Shaman adalah yang memimpin party mereka berjalan. Benteng batu ini tidak memiliki celah ataupun keretakkan, sungguh benar-benar hasil pekerjaan dari kaum dwarf. Ketika berhadapan dengan serangan bandit, hasil pekerjaan tangan kaum dwarf inilah yang akan berbicara.
Party mereka berjalan dengan formasi saat ini, dengan High Elf Archer yang memeriksa keberadaan musuh dan Dwarf Shaman yang membuat bagan seraya mereka berjalan. (TL Note : Bagan = bisa di bilang peta atau skema rancangan.)
“Ngomong-ngomong Beardcutter, rencananya kita akan kemana? Apa kita akan langsung pergi ke ruangan utamanya?”
“Nggak,” Goblin Slayer berkata, menggelengkan kepalanya. “Masih terlalu dini untuk menyerang pemimpin musuh.”
“….”
Noble Fencer merinding mendengar deklarasi datar itu. Untuk menghindari kejadian yang tidak di inginkan lagi dari gadis itu, saat ini gadis itu berada pada baris kedua dari terakhir; Priestess berdiri bersamanya.
Semenjak menerima permohonan maaf tulus singkat dari High Elf Archer, Noble Fencer hampir tidak berkata apapun.
“Nggak pernah lihat pedang yang seperti itu,” Dwarf Shaman berkata kepada Noble Fencer. “Pedangnya kelihatan bagus—tapi metal apa itu?”
Kemudian, dan hanya karena itu, Noble Fencer bergumam menjawab, “………Aluminium…… pedang ini di tempa dari permata merah dengan palu petir.”
“Aluminium ya? Aku belum pernah dengar. Bisa aku lihat?”
Alih-alih jawaban, Noble Fencer memberikan lototan mata menolak. Dwarf Shaman hanya bisa mengangkat bahunya.
“Hmm,” Goblin Slayer mendengus. “Ayo kita pergi ke gudang mereka dulu.”
“Gudang senjata, atau makanan?”
“Dua-duanya. Tapi kita mulai dari senjata dulu.”
“Lewat sini kalau begitu.”
Party mereka berjalan melewati benteng layaknya bayangan, tanpa suara. Tidak satupun dari grup mereka yang membawa barang yang dapat menimbulkan banyak suara. Hanya Priestess dan Goblin Slayer yang memakai armor metal, dan dalam kasus Priestess armor itu hanyalah sebuah baju rantai tipis. Sedangkan Goblin Slayer menggunakan baju besi bersama dengan armor kulitnya.
Satu-satunya suara yang ada di koridor ini hanyalah suara gesekan langkah kaki mereka, dan napas mereka masing-masing.
Para petualang berjalan dengan formasi berbaris. Mereka waspada akan jebakan, memperhatikan daerah sekitar mereka dan juga rekan mereka, namun mereka tidak gugup, dan mereka tidak pernah lengah.
Itu karena, dari enam petualang yang berada di sana, empat dari mereka adalah Silver, peringkat ketiga. Bernavigasi di dalam labirin sama normalnya seperti mereka bernapas.
“….Ada sesuatu yang mendekat,” High Elf Archer berkata, berhenti di tempat di berdiri dengan telinganya yang naik dan turun. Dia berjongkok dan menarik busur besarnya, mepersiapkan panahnya dan menariknya. Dia membidik pada sebuah sudut tepat di depannya.
Tanpa kata, Goblin Slayer meraih pedang pada pinggulnya, bergerak ke depan Dwarf Shaman. Dari posisi barunya dalam barisan, sang pembaca mantra meraih tas katalisnya, sementara Priestess menggenggam erat tongkatnya. Lizard Priest mengayunkan ekornya dan melihat ke belakang dari balik pundaknya; Noble Fencer mengeratkan giginya.
Pada akhirnya mereka mendengar dua langkah kaki yang mendekati sudut itu.
“…”
Hanya terdengar suara sama dari bisikan tali busur ketika di tarik. Panah High Elf Archer terbang melintasi udara, menembus satu goblin tepat di matanya dan menancapkannya di dinding.
“GROAAB?!” Melihat rekannya yang tertancap di dinding, goblin kedua berteriak kebingungan.
Sebelum dia dapat memproses apa yang telah terjadi, sebuah pedang terbenam pada tenggorokannya. Goblin Slayer telah melemparnya tanpa sedikitpun rasa ragu.
“Kita harus sembunyikan mayatnya,” dia berkata.
“Kalau kita sampai harus melakukan itu, kenapa kita nggak sembuyi aja dari awal?” High Elf Archer berkata.
“Ini lebih baik daripada mereka menemukan kita dan suara pertarungan membuat mereka menyadari keberadaan kita.”
Goblin Slayer mendekati mayat dengan langkah sigapnya; dia menekan sepatu boot pada mayat itu dan menarik pedang dan panah, melempar panahnya kepada High Elf Archer.
“Ugh,” Sang archer berkata seraya dia menangkapnya, seolah panah itu telah membuanya tidak nyaman; dia membersihkan darah yang menempel dengan cepat. Darah dari binatang liar mungkin merupakan hal biasa, namun darah goblin merupakan hal yang tidak dapat di tolerir.
“Berapa banyak mantra dan keajaiban yang kalian punya?” Goblin Slayer bertanya, melirik pada rekannya.
“Um…” Priestess menempelkan jari pada bibirnya berpikir. “Aku belum menggunakannya sama sekali, jadi aku masih punya tiga.” Dia menghitung dengan jarinya: Kindle yang mereka gunakan di jalan, dan Communicate yang mereka perlukan untuk dapat memasuki benteng. “Yang lainnya masing-masing sudah memakai satu, jadi mereka berdua masih punya tiga, jadi…. Semuanya Sembilan?”
“Hey, ayolah,” Dwarf Shaman berkata dengan riang. “Kamu belum menghitung teman baru kita di sini.” Dia menunjuk kepada Noble Fencer.
Noble Fencer tengah berdiri di kejauhan, menghiraukan percakapan mereka seraya dia melototi mayat goblin dengan seksama, namun sekarang dia bergumam, “…Dua lagi.”
Itu saja? Priestess berpikir—bukan mantranya, melainkan ucapan yang akan dia gunakan.
Priestess mengernyit namun berkata, “Terima kasih banyak,” dengan se-antusiasme yang dapat dia lakukan. Akan tetapi, Noble Fencer, hanya mengalihkan pandangannya, tidak sedikitpun melirik mengarah party mereka.
“Hmmmm…” Gumam kecil terlepas dari bibir Priestess. Gerakan itu mengingatkannya pada seorang murid gadis yang ada di Kuil—dan terutama, dia menginggatkannya pada gadis yang paling bermasalah di Kuilnya.
“Jadi, semua ada sebelas, kan?”
“Hmm. Tampaknya kita persediaan kita masih jauh dari habis,” Lizard Priest berkata. “Saya rasa anda tidak akan keberatan jika kami membuat sebuah jimat di sini atau di sana?”
“Jangan,” Goblin Slayer berkata. “Anggap saja kita punya sembilan mantra.”
“Mengapa?” Lizard Priest berkata, berkedip. “Dari manakah anda mendapatkan nomer itu?”
“Kita harus menyimpan dua mantra petir kita.”
Noble Fencer merinding mendengar ini. Matanya, sebening sebuah kaca, menatap pada Goblin Slayer. Suaranya begitu pelan dan sangat samar.
“…………..Apa aku….bisa bunuh goblin?”
“Kalau semuanya lancar.”
Ucapannya begitu singkat. Noble Fencer terus menatap pada helm tidak berekspresi itu, hingga akhirnya, dia menganggu kecil.
“Kita nggak bisa bunuh goblin lainnya sampai kita selesai menyingkirkan goblin yang kita incar kan?” High Elf Archer, tampak menghiraukan diskusi perihal mantra dan keajaiban, menepuk salah satu monster yang mati dengan panah yang masih di genggamnya. Walaupun dengan hawa yang dingin, monster itu hanya memakai bulu pada pinggul dan kaki mereka. Tombak usang adalah senjata mereka. Mereka tampak seperti tidak mempunyai apapun di dunia ini.
“Apa kamu punya ide untuk melakukannya?” Goblin Slayer bertanya, merogoh isi tas peralatannya seraya dia berbicara.
“Ide? Hmmm…. Yah… Oh!” Telinganya melompat girang. Dia melirik pada Dwarf Shaman dengan kilau cahaya di matanya layaknya seorang anak kecil yang nakal. “Dwarf, kemarikan anggurmu. Satu botol penuh.”
“Oh-ho.” Dwarf Shaman tersenyum, seolah itu adalah sebuah lelucon. “Tumben Telinga Panjang? Mencoba cari inspirasi dengan minum?”
“Kasih saja sini.”
“Yeah, baiklah. Masih tersisa sedikit. Jangan di minum semua.”
“Nggak usah khawatir. Aku nggak akan meminumnya.” Dia menarik tutup botolnya dan mengendus aromanya, mengernyit mencium aroma tajam dari para roh. “Aku janji aku nggak akan minum setetespun.” Dan kemudian dia membalikkan botol itu dari atas ke bawah dan menumpahkan isinya pada lantai.
“Oh tidak!” Dwarf Shaman mengerang seolah dunia telah berakhir. Kenyataan bahwa dia tidak berteriak adalah sebuah bukti instingnya sebagai seorang petualang.
Akan tetapi, Dwarf Shaman tampak akan segera melompat dari lantai hingga setinggi dada kecil High Elf Archer untuk mengambil kembali botolnya.
“Lihat apa yang kamu lakukan, dasar dada papan bodoh—“
“Aku minta baik-baik kan? Ayolah, ini di perlukan—kita harus melakukan apa yang harus di lakukan.”
“Bagaimana bisa ini di perlukan?! Bagaimana mungkin ini yang harus kita lakukan?! Ang—anggurku!”
“Nggak, dia membantu kita.” Goblin Slayer sudah bergerak. Dia sudah menebak apa yang di pikirkan oleh High Elf Archer; sekarang Goblin Slayer mengelap bersih darah yang menetes dengan sebuah kain dan mendudukkan kedua mayat itu dengan bersandar pada dinding. Dia menundukkan kepala mereka agar luka mereka tidak tampak jelas, dan menendang salah satu tombak yang di jatuhkan goblin agar mendekat pada sisi mereka.
“Hrrrrrrgh….!” Dwarf Shaman mengeluh.
“Heh! Lihat? Aku membantu. Oh, jangan khawatir. Aku belikan kamu botol baru nanti.” Terlihat bangga akan dirinya sendiri, High Elf Archer meletakkan botol anggur di samping kedua goblin tersebut.
“Oh…!” Priestess berkata. Matanya mulai bercahaya, dan dia mengangguk memahami. “Nggak ada satupun goblin hidup yang bekerja dengan serius ya?”
“Begitulah idenya.” Sang ranger membalas. Dia berkedip dan membuat tawa kecil pada tenggorokannya.
Sekarang kedua mayat itu tampak tidak lebih dari sekedar dua goblin yang mabuk. Aroma tajam dari para roh akan membantu menyamarkan aroma darah.
Beberapa goblin yang minum dalam kewajiban tugas jaganya dan kemudian tertidur—tentunya bukanlah hal yang luar biasa.
“Kalau kita nggak bisa merahasiakan mereka, kita bisa menyembunyikan mereka di tempat terbuka,” High Elf Archer berkata.
“Tapi kenapa kita harus menggunakan angguku untuk melakukannya?” Keluh Dwarf Shaman, menggigit kukunya dengan penyesalan seraya dia melihat tetesan cairan yang mengalir lantai batu.
Lizard Priest memberikan tepukan bersahabat pada punggungnya. “Jangan biarkan ini membuat anda gundah, saya juga akan mentraktir anda. Kita perlu bersulang untuk kecerdikan rekan ranger kita.”
Dwarf Shaman melihat pada sang lizrd dengan dengusan tidak senang, namun Lizard Priest memutar mata di kepalanya.
“Bukankah anda berpikir demikian pula, tuanku Goblin Slayer?”
“Ya.” Dia mengangguk. “Minumannya biar aku yang bayar.”
Setelah penawaran ini, tidak ada lagi celah untuk mengeluh. Dwarf Shaman mendengus dan bergumam kembali dan akhirnya mengela napas panjang.
“Hrm. Erm. Yah… kalau Scaly dan Beardcutter merasa seperti itu…”
“Benar,” Lizard Priest berkata. “Namun sekarang, kita harus bergegas. Di manakah gudang senjatanya?”
“Ya, baik. Sebelah sini.” Dwarf Shaman memimpin party dengan lambaian tangannya.
High Elf Archer berada di sampingnya dengan cepat, tertawa kecil bangga.
“Dasar telinga panjang berdada papan…! Kalau kita kembali ke bar, kamu akan traktir aku sampai kepalamu pusing!”
“Yeah, terserah. Kamu minum sepuasnya nanti, jadi jangan marah.”
Syukurlah.
Di ruang bawah tanah sebelumnya, telah terjadi agurmen yang sesungguhnya. Adalah hal yang tidak baik untuk melihat rekanmu berkelahi. Karena itu sekarang…
Aku benar-benar senang.
Dengan pikiran itu, Priestess berlutut tepat di mana dia berdiri. Dia memegang tongkatnya dengan kedua tangan. Lizard Priest melihatnya dan mengangguk. Kami akan duluan, dia tampak berkata.
Kemudian Priestess menutup matanya, seperti yang selalu dia lakukan.
“…….Apa yang kamu lakukan?”
Suara pelan, datang secara tak terduga dari sampingnya.
“Oh, uh, a—yah…” Priestess merasa jantungnya berdebar lebih kencang, namun dia mengangguk tanpa berdiri. “Aku mendoakan jiwa mereka untuk berisitirahat… Walaupun aku melakukan dengan cepat, karena kita nggak punya banyak waktu.”
Tiba-tiba, Priestess merasakan tangan dia, melilit di sekitar tongkatnya, di genggam oleh Noble Fencer. Priestess terlihat bingung, namun Noble Fencer menggeleng kepalanya.
“…..Itu tidak perlu.”
“Huh? Tapi….”
Sebelum dia dapat mengatakan bahwa kematian adalah adil bagi semua, Noble Fencer memberikan sebuah tendangan pada salah satu mayat itu.  Goblin yang tengah bersandar pada dinding,  terjatuh ke lantai.
“…………Itu tidak perlu. Tidak untuk….makhluk …….bajingan seperti mereka….!”
Noble Fencer tampak akan memaksakan dirinya berbicara lagi ketika dia mendengar:
“Ayo.”
Pelan dan tajam dan datar—seperti biasanya.
Mereka mendongak dan melihat party mereka telah berjalan lebih dulu; hanya Goblin Slayer yang tinggal bersama mereka. Pedang dan perisainya di siapkan, dan helmnya berputar pelan, memeriksa sekitarannya.
Apa dia…menunggu kita?
Tentu saja, Priestess tidak mempertanyakan itu secara terang-terangan. Dia tidak perlu melakukannya.
Goblin Slayer selalu menunggu mereka. Dia telah memahami itu dengan baik dalam tahun terakhir.
“Oke…. Kami akan ke sana.” Cepat namun hati-hati, Priestess menutup matanya dan berdoa agar goblin yang telah mati dapat tenang di kehidupan selanjutnya. Dia berdiri, membersihkan debu dari lututnya, kemudian tersenyum pada Noble Fencer.
“Ayo pergi?”
“………..”
Noble Fencer tidak berkata apapun dan hanya mengalihkan pandangannya, dan kemudian dia pergi menuju party mereka dengan langkah yang kaku.
Yah, sekarang. Ekspresi Priestess telah berubah menjadi senyum kebingungan, Priestess menggaruk pipinya dan menggeleng kepalanya. “Apa dia…nggak suka sama aku?”
“Aku nggak tahu.” Goblin Slayer menggeleng kepalanya, namun kemudian memiringkan kepalanya penasaran. “Apa kamu mau berteman dengannya?”
“Hmm…” Karena sekarang pertanyaan itu telah muncul, Priestess menempelkan jari pada bibirnya dan melihat ke tanah dan berpikir.
Aku cuma…nggak bisa membiarkan orang seperti itu sendirian.
Pikiran itu cukup, walaupun tidak seluruhnya, mirip dengan apa yang dia rasakan pada petualang yang ada di depannya sekarang.
Priestess tersenyum, Ekspresinya layaknya bunga yang mekar.
“Kamu tahu, kurasa aku mau.”
“Benarkah?” Dia mengangguk. “Kalau begitu kamu harus berteman dengannya.”
Hanyalah itu yang di katakana Goblin Slayer sebelum dia berputar dan berjalan. Ucapan “Baik!” dari Priestess mengikuti setelahnya.
Di depan mereka, di dalam terowongan yang gelap, rekan mereka tengah menunggu mereka.
Gudang senjata sudah tidak begitu jauh lagi sekarang.
*****
Bahkan goblin cukup pintar untuk mengunci sebuah pintu. Termasuk sebuah pintu metal besar yang mereka temukan di salah satu sudut labirin batu. Bahkan terdapat sebuah anak tangga kecil yang di tempatkan di dekatnya,  di karenakan gagang itu tidak akan sampai di raih para goblin yang kecil.
“Oke, saatnya gantian,” Dwarf Shaman berkata.
High Elf Archer maju ke depan berusaha berhadapan dengan pintu. “Oke, serahkan aja padaku…itu yang mau aku bilang sih, tapi aku nggak begitu percaya diri…”
Pertama, dia menggosok permukaan pintu dengan panah bermata kuncup yang dia tarik dari tempat panahnya. Memastikan tidak terdapat apapun di sana, dia mengepakkan telinganya, mencoba mendengar suara apapun yang berada di dalam ruangan.
Dia tidak mendengar apapun yang bergerak. Jika di nilai dari betapa lembab dan berpolusinya tempat bersembunyi goblin ini, sangatlah mengejutkan bahwa tidak terdengar sedikitpun suara tikus yang berkeliaran. Tentu saja, Goblin pasti menganggap tikus sebagai camilan yang enak—sebuah subyek yang tidak ingin di pikirkan High Elf Archer, walaupun dia harus mengakui bahwa dia sedikit bersyukur akan hal itu.
“Aku lumayan yakin nggak ada siapapun di dalam…kayaknya,” dia berkata.
“Buka,” Goblin Slayer menginstruksikan. “Hancurkan pintunya kalau perlu.”
“Jika keadaan mengharuskan kita menghancurkannya,” Lizard Priest berkata. Membuat gerakan aneh pada tangannya, kemudian mengeluarkan sebuah taring naga yang berfungsi sebagai katalis. “Kita tidak ingin ada goblin yang menyelinap di belakang kita, oleh karena itu kami akan berjaga.”
“Baiklah,” Dwarf Shaman menjawab, dan ketiga pria mengelilingi para wanita.
High Elf Archer menarik sebuah cabang setipis jarum dari suatu tempat pada pakaiannya dan mulai mencari lubang kunci. Gerakannya kecil dan tidak cekatan. Dia adalah seorang ranger, bukanlah seorang scout ataupun thief. Seorang petualang di kota telah mengajarinya cara melepaskan perangkap sederhana dan cara menjebol sebuah kunci—bersama dengan sedikit cara berjudi. Memang benar, semua ini telah berguna dalam memuaskan rasa penasarannya…
“Hati-hati oke?” High Elf Archer melirik ke samping seraya dia bekerja, menjentikkan lidahnya. “Kalau kamu berdiri di sampingku seperti itu, kamu bisa saja kena perangkap apapun yang jadi aktif setelah ini.”
“Tapi aku juga bisa langsung memberikanmu P3K dengan segera,” Priestess berkata dengan senyum yang riang. Dia duduk di lantai di samping High Elf Archer. Dia menggenggam erat tongkatnya agar dia dapat berdoa di saat yang di butuhkan.
“Sejujurnya, aku berharap aku punya Precog atau Keajaiban Luck.” (TL Note: Precog = semacam ramalan, atau “pengelihatan”, Luck = keberuntungan.)
Kekhawatiran perihal temannya High Elf Archer hanyalah sebagian dari alasannya. Sebagiannya lagi adalah di karenakan kekecewaannya atas ketidakberdayaannya dirinya sendiri.
“Yah, itu bukan salahmu. Adalah dewa yang menentukan keajaiban mana yang kamu terima, kan?”
Adalah baik sekali bagi High Elf Archer untuk berkata seperti ini, namun tidak dapat melakukan apapun untuk membantu tetap terasa pedih di hati.
Mungkin elf itu merasakan apa yang sedang di pikirkan oleh Priestess, karena dengan tetesan keringat gugup, dia berkata, “Kita benar-benar butuh seorang scout sungguhan ini…”
“Mm,” Priestess berkata, “Tapi kamu tetap saja berbaik hati mencari perangkap dan menjebol kunci untuk kita…”
Kami berharap padamu, oke?
Dengan itu, telinga High Elf Archer mengepak senang.
Sekarang, dia harus berkonsentrasi. Goblin mungkin tidaklah cukup cerdas untuk membuat sebuah perangkap yang tersembunyi, namun sebuah benteng dwarf peninggalan dari Jaman para Dewa mungkin menyimpan lebih banyak trik di banding dengan apa yang di pasang oleh iblis kecil ini.
Sebuah lubang kunci yang menyemburkan gas beracun, atau gagang pintu yang menjadi panas adalah perangkap terbaik yang mereka harapkan. Beberapa pintu dapat menghapuskan ingatan siapapun yang membukannya bahkan tanpa menggunakan kalimat mantra sama sekali.
Dan apakah takdir mengerikan tengah menunggu mereka ataupun tidak, kekejaman goblin adalah hal yang sudah sangat terkenal…
“…….”
High Elf Archer melirik dari balik pundaknya. Noble Fencer sedang melamun.
Apa dia baik-baik saja?
Tidak, tentu saja dia tidak baik-baik saja. High Elf Archer mengetahui bahwa dia tidak dapat membayangkan hal mengerikan seperti apa yang gadis itu telah lalui. Adalah sebuah keajaiban bahwa akal sehatnya tidak menghilang.
Ahh, bukan saatnya untuk itu. Konsentrasi, konsentrasi!
Sang elf menggigit bibirnya, berfokus pada jarinya seraya dia memeriksa lubang kunci.
Setelah beberapa menit, dia merasakan sesuatu yang bergerak, dan kunci terbuka dengan sebuah klak.
“….Phew. berhasil.”
“Kerja bagus” hanyalah ucapan Goblin Slayer. Bahkan seraya elf itu tertawa kecil dan membusungkan dadanya, Goblin Slayer mengangkatkan kakinya dan memberikan pintu itu sebuah tendangan.
Tidak ada reaksi.
“Tampakknya aman.” Lizard Priest merayap masuk ke depan barisan grup. Menendang pintu hanyalah untuk berjaga-jaga jika ada sesuatu di dalam ruangan, adalah taktik sekuno-kunonya waktu.
“Yah, pastnya aman. Aku memeriksanya, kan?”
Kamu bilang sama kami kalau kamu nggak tahu apa yang kamu sedang lakukan.” Dwarf Shaman menggerutu, mengikuti High Elf Archer yang berbangga.
Goblin Slayer, yang terus berjaga di lorong setelah menjebol pintu, mengangguk pada Priestess.
“Oh, cahaya,” Priestess berkata. “Baik.”
“Terima kasih.”
Priestess mengambil sebuah obor dari dalam tasnya dan menyalakannya seperti apa yang sering dia lakukan sebelum-sebelumnya.
Sebuah benteng goblin. Larut malam, sebuah badai salju yang melolong di sekitarnya; bahkan cahaya bintang-bintang tidak dapat mencapai mereka. Goblin dapat melihat dengan baik di kegelapan, oleh karena itu kondisi ini tidak mengusik mereka sama sekali, namun tidak bagi manusia. Paling tidak, mereka akan membutuhkan api sementara mereka mengeksplorasi gudang…
“Ini, sudah.”
“……”
Priestess menghela napas, sebuah api merah berdansa pada obor di tangannya. Api itu bergoyang seraya hela napas Priestess mengenainya.
Kemudian Priestess berputar dan berjalan menuju Noble Fencer, yang sedang mencari dengan seksama.
“Pegang ini oke?”
“Pegang pada….apa?”
Noble Fencer terkejut karena seseorang berbicara padanya; Noble Fencer tampaknya berpikir bahwa Priestess tidak bermaksud jelek kepadanya. Namun Priestess memaksa, dengan tenang dan pelan, “Obornya, jagain obornya, oke?”
“……”
Noble Fencer tidak berkata apapun, hanya menatap pada cahaya yang di tawarkan kepadanya, namun Priestess mengambil tangan gadis itu dan melilitkannya di sekitar gagang obor.
Noble Fencer merinding melihat api yang berada di depannya. Seraya Noble Fencer melihat sekitarannya dengan ragu, Pada waktu yang sama, Priestess mengira bahwa dia melihat seorang gadis kecil yang ketakutan.
“……”
Wanita muda itu membuka mulutnya; sebuah suara kecil terlepas darinya seolah dia inging mengatakan sesuatu, dan kemudian dia memegang obor itu dengan kedua tangannya, melihat pada api.
“……..Aku mengerti.”
Hanyalah itu yang di ucapkannya, dengan berbisik, dan kemudian dia berkeliaran di sekitar gudang.
Lorong menjadi gelap sekali lagi. Akan tetapi Priestess, dan merasakan sebuah senyuman yang merayap pada wajahnya.
Goblin Slayer berjalan ke sampingnya dengan langkap sigap biasanya.
“Kenapa kamu menyuruh dia untuk memegangnya?”
“Hanya…sebuah firasat.”
Pertanyaan itu cukup terdengar tajam, namun jawaban Priestess sangatlah lembut. Sekarang Priestess dapat mengetahui dari suara pria itu bahwa dia tidaklah marah.
“Aku pikir dia pasti merasa…yah, bosan, dan aku nggak mau dia merasa seperti itu.”
“Benarkah?”
Lagipula aku yakin kamu pasti punya rencana lain juga…
Adalah apa yang di pikirkan Priestess namun tidak di utarakannya.
Untuk secara tiba-tiba masuk ke dalam suatu tempat yang baru, berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain. Berdiri melamun, tidak yakin harus melakukan apa. Itu—itu adalah sesuatu yang sangat di pahami oleh Priestess. Itu karena Priestess adalah seorang yatim piatu yang telah di besarkan di Kuil. Seorang anak yang tidak di inginkan.
“Apa kamu nggak menyadarinya?”
“Menyadari apa?”
“Ketika aku memberikannya obor, dia kelihatan sedikit malu.”
“Benarkah…?”
Dengan gumam itu, Goblin Slayer dan Priestess masuk ke dalam gudang.
Aroma lumut yang menggelitik hidung, dan debu yang mengancam mereka untuk bersin. Mereka menutup pintu di belakang mereka. Dengan cepat, Dwarf Shaman mendekati engselnya, dan memukulkan sebuah pin pada engsel.
“Biasanya, aku akan membiarkannya terbuka,” Dwarf Shaman berkata, mengganti pasak dan palu di tasnya. “Tapi kita nggak mau ada monster kecil menjijikkan ini menyelinap di belakang kita sekarang kan?”
“Sungguh benar sekali, namun sekarang jika musuh muncul di depan kita, jalan keluar kita akan terblokir.”
Seseorang mengeluarkan tawaan, namun apakah itu Lizard Priest ataupun Dwarf Shaman, tidak ada yang mengetahuinya.
“Sudahlah.” High Elf Archer mengernyit, namun Priestess bergabung dalam tawa canda itu.
Hanya Goblin Slayer dan Noble Fencer yang terdiam. Wanita muda itu masih menggenggam obor, mengangkatnya perlahan ke atas kepalanya. Setiap gerakan dari api menghasilkan bayangan yang berdansa. Dalam cahaya yang tidak menetap, Goblin Slayer memeriksa perlengkapan yang ada di gudang ini.
“Untuk gudang senjata…” Seraya dia berbicara, dengan santai dia meraih sebuah drum terdekat dan menarik seseuatu keluar dari dalamnya. Adalah sebuah beliung usang, terlihat murahan, berlumur dengan lumpur dan karat, tentunya sudah sering di pakai. Jika di lihat dengan cepat terdapat sebuah sekop yang juga terdapat di dalamnya, dan perlatan lainnya yang berfungsi untuk menggali. “…Nggak ada terlalu banyak senjata dan armor di sini.”
“Apa menurutmu mereka menggali lubang saja? Mereka kan goblin.” High Elf Archer tampak tidak tertarik. Dia tidak begitu mempedulikan perihal senjata ataupun armor. Sebagai gantinya, dia menggunakan telinga, mendengarkan dengan seksama, mencari suara langkah kaki dari luar.
“Atau mungkin mereka menggali untuk menambang.” Lizard Priest menjulurkan tangannya, ekornya mengayun di udara. Dia mengangkat sebuah tombak yang telah di letakkan secara sembarangan di antara beliung dan berkata, “Jika apa yang di sebut sebagai goblin paladin ini benar ada, saya berasumsi bahwa dia memiliki niatan lebih dari sekedar memperbesar sarangnya.”
“Masuk akan buatku.” Dwarf Shaman berkata, melihat sekitarannya, namun dia tidak terlihat senang. Tempat ini mungkin memang kotor, namun bangunan batu ini masih menunjukkan sentuhan ahli dari kaum dwarf; tidak ada sembarang orang dapat menirunya. “Ini adalah benteng dwarf. Pastinya setidaknya ada bijih besi yang di simpan di sekitar sini.”
“Tapi,” Goblin Slayer berkata, “apa goblin tahu cara menempa pedang?”
Apa alasan mereka menggali? Tidak ada yang mempunyai jawabannya.
Bayang-bayang goblin paladin, musuh yang belum mereka ketahui, membayangi mereka semua.
Bahkan Goblin Slayer tidak mengetahui jawabannya. Siapa lagi yang dapat mengetahui jawabannya jika dia saja tidak mengetahuinya?
“Apapun itu….” Priestess bergumam, menggenggam tongkatnya seolah ingin menekan atmosfir yang menekan ini. Ketika dia dapat mengucapkan beberapa kata awal itu dari mulutnya, keberaniannya mulai bangkit. “Apapun itu, kalau goblin ini merencanakan sesuatu, kita nggak bisa membiarkan mereka.”
Ucapannya menghasilkan anggukan persetujuan dari petualang lainnya.
“Kita juga harus melakukan sesuatu dengan senjata dan perlengkapan ini…”
“Ahh, serahkan pada saya,” Lizard Priest Berkata. “Saya mempunyai mantra untuk saat-saat seperti ini.”
Dia melempar beberapa taring naga dan membuat gerakan aneh pada tangannya.
“Yah apa boleh buat kalau begitu,” Dwarf Shaman berbisik mendengar itu. “Mm. hei kamu, gadis.”
“…! …?”
Noble Fencer yang dari tadi berfokus membawa obor, terlompat terkejut. Noble Fencer melihat pada jenggot Dwarf Shaman, yang sedang  di belainya; dia memberikan dengusan kecil dan kemudian mengindikasikan perlengkapan terdekat dengan dagunya.
“Bantu aku. Kita akan perlu membawa beberapa senjata itu.” Kemudian, seolah dia sudah mengetahui apa yang dia cari, Dwarf Shaman menggapai masuk tumpukkan perlengkapan yang bercampur dan menarik sebuah pedang. “Beardcutter suka main lempar. Dan dia akan cukup hanya dengan belati itu saja.”
Terdengar dengusan—dari Goblin Slayer tentunya. “Aku yakin aku menggunakan perlengkapanku dengan benar.”
“Heh-heh!” Tidaklah salah jika mengira tawa kecil itu sebagai tanda kekesalan, namun kenyataannya High Elf Archer memang tertawa.
Bagi Noble Fencer, dia memerlukan beberapa detik untuk memahami mengapa di minta untuk membantu. Namun ketika dia memahaminya, dengan cepat dia mengumpulkan perlengkapan goblin itu. Sebuah pedang, tombak, pentungan… Ini semua adalah perlengkapan goblin. Namun walaupun begitu, terdapat sebuah batasan akan berapa banyak yang dapat dia bawa. Dan terlebih lagi…
“Aku rasa pelindung dada goblin nggak akan cukup untukmu,” Dwarf Shaman berkata.
Dada ranum Noble Fencer lebih besar dari pelindung dada yang di temukan itu.
Melihat dari samping, High Elf Archer sedikit menggerutu dan menyarankan dengan kesal, “Tekan aja kan bisa? Paksa masuk ke dalamnya.”
“Dasar kau telinga panjang ndeso! Seorang gadis berdada papan kayak kamu mungkin nggak tahu, tapi armor yang tidak muat itu sama sekali nggak membantu!”
Dwarf Shaman menghiraukan High Elf Archer yang menjawab Siapa yang papan?!, sebagai gantinya dia melihat kepada Noble Fencer.
Noble Fencer dapat menggunakan pedang dan sihir, dan dia menggunakan armor ringan yang memberikannya kemudahan dalam melakukan dua hal itu. Pada saat ini, satu-satunya senjata yang dia miliki hanyalah sebuah belati. Bukanlah suatau benda yang akan menjadi senjata utama seseorang.
“Lebih baik di mulai dari pedang kalau begitu…”
“…!”
Noble Fencer tampak mengernyit  dan mengambil langkah mundur dari Dwarf Shaman.
“Hmm?”
“…..Aku nggak…..”
“…..”
“…Aku nggak butuh….senjata…!”
Suaranya masih sangatlah pelan, namun tidak salah lagi terdapat nada marah pada suara itu. Wajahnya yang sebelumnya tidak berekspresi mulai luntur.
“Hmm.” Dwarf Shaman, mungkin sedikit terheran, berkedip dan membelai jenggotnya. Kemudian tersenyum lebar, seolah seadng memakan makanan yang lezat. “Begitu, begitu! Jadi kamu nggak tertarik dengan perlengkapan. Mantap! Sekarang itulah awal dari persahabatan!”
“……”
Kali ini adalah giliran Noble Fencer yang terheran.
Seraya Noble Fencer berdiri menatapnya, Dwarf Shaman terus mengoceh seolah ini adalah hal yang paling wajar sedunia baginya: “Bagaimana kamu bisa berteman, kalau kamu nggak mengatakan apa yang ingin kamu katakan? Hmm?” Kalau begitu, paling nggak pakaian lain. Dwarf Shaman bergumam, mengubrak-abrik isi konten dari gudang.
Mungkin memang hanyalah light armor goblin saja yang terdapat di sini, namun hampir semuanya merupakan barang curian. Semuanya berlumur dengan tanah dan kotoran, namun masih layak untuk di gunakan.
Sebuah pakaian kulit. Sarung tangan berlapis baja. Mungkin sedikit metal untuk melindungi kepala….
“…? …?!”
Noble Fencer mendapati dirinya di seret kesana kemari dan membuatnya kebingungan. Dwarf Shaman memasangkan perlengkapan padanya satu persatu. Tidak ada ras lain yang dapat mengalahkan seorang dwarf jika menyangkut masalah untuk mengevaluasi kualitas dari senjata dan armor.
Ini, kemudian itu, satu benda, kemudian benda lainnya. Perlengkapan di pasang, perlengkepan di lepas, perlengkepan baru, Hingga kepala Noble Fencer menajdi pusing.
“Hei, ayolah, pelan-pelan, oke? Jangan melakukan semuanya sekaligus…” Priestess menawarkan pertolongannya setengah tulus, mencoba untuk menolong Noble Fencer, namun nadanya tidak terdengar meyakinkan.
Gadis itu entah mengapa terasa seperti seorang kakak perempuan… Atau mungkin lebih tepatnya, seseorang yang berusaha keras untuk dapat terlihat seperti itu. Priestess meletakkan tangan pada pinggunya dan mengayunkan jarinya, mengulangi, “Ayolah, hentikan.” Priestess berusaha untuk terdengar keras namun tidak begitu berhasil. “Kamu cuma membuat masalah untuknya.”
“Hrm…” Dwarf Shaman mendengus, kemudian melihat kepada wajah Noble Fencer. “Apa aku menyusahkanmu?”
Untuk beberapa saat, Noble Fencer tidak berkata apapun. Hanya mengalihkan pandangannya. Hening. Kemudian lebih hening lagi. Kemudian akhirnya: “………Sedikit.”
“Kan?” Priestess berkata, mencoba menyembunyikan senyumannya.
“Yah, astaga, maafkan aku,” Dwarf Shaman berkata, juga berusaha untuk tidak menyengir. Dari cara mulutnya yang sedikit membengkok ke atas cukup terlihat mempesona.
Dwarf Shaman mengumpulkan semua perlengkapan dan mengangkatnya ke atas punggungnya dengan gerakan yang lincah walaupun dengan tubuhnya yang kecil. Kemudian melirik mengarah para wanita muda.
“Tapi aku belum selesai mengutarakan apa yang ingin aku katakan. Beardcutter yang ada di sana, dia lain dari yang lain, kamu mengerti?”
“Dan itu belum termasuk sikap anehnya,” High Elf Archer berkata dengan sebuah tawa kecil yang tidak dapat di tahannya. “Orcbolg nggak pernah mengatakan apapun selain ‘Benarkah?’ dan ‘Benar’ dan ‘Goblin.’”
Sang archer melirik pada Goblin Slayer yang sedang bersandar pada dinding, dan memberikan sebuah senyum layaknya seekor kucing.
Priestess memberikan salah satu tatapan Sungguh terlalu darinya dan berkata, “Dia memang seperti itu.”
Pada akhirnya, Goblin Slayer tidak dapat menahan dirinya untuk berkata, “Benarkah?”
Bukanlah suatu hal yang jelek bagi grup petualang ini, untuk dapat tertawa walaupun berada jauh di dalam jantung bahaya—Dan itu juga berlaku bagi party petualang lainnya.
Kalau dengan serius adalah cara untuk menang, maka dia akan serius, Priestess berpikir. Tapi kalau nggak, yah…akan lebih baik kalau dia bisa sedikit lebih santai…
“Saya yakin tuanku Goblin Slayer cukup sadar akan kebiasaannya sendiri. Kalau begitu sekarang,” adalah Lizard Priest, desis napasnya menutup ruang canda ini dengan waktu yang tepat. Dia menepuk ekornya sekali pada lantai, kemudian melihat grupnya. “Apakah semua sudah siap?”
“Aku rasa kita bisa simpan ejekan kita buat nanti. Semua siap, Scaly.”
“Mm.” Lizard Priest mengangguk, kemudian membuat gerakan aneh pada tangannya.
“O para leluhur yang tertidur di bawah lapisan batu, dengan semua waktu yang telah bertumpuk di atasmu, bimbinglah semua benda ini.”
Tidak lama setelah dia berucap, taring naga yang tersebar di lantai mulai meleleh.
Dan kemudian, saksikanlah: senjata dan perlengkapan mulai berkarat dan hancur tepat di depan mata mereka, di mulai dari senjata apapun yang terpapar udara.
“W-wow…” Priestess pernah mendengar kemampuan ini, namun kemampuan ini di anggap sebagai keajaiban jahat dan tidak sering terlihat. “Apa ini keajaiban Rust…?” (TL Note: Rust = karat.)
“Ah, anda mengetahuinya?” Lizard Priestes tampak terkejut dan tertarik dengan pertanyaannya. “Benar sekali. Menghancurkan benda dengan keajaiban Weathering akan terlalu makan waktu yang lama.” (TL Note: weathering = cuaca/pengendalian cuaca.)
“Aku belum pernah melihatnya. Bagaimana dengan peralatan kita?”
“Keajaiabn ini tidak akan berpengaruh pada kita. Walaupun ini bukanlah doa yang akan saya gunakan di sebuah pertarungan.”
Priestess merasa lega mendengar itu. Baju besi tipis di bawah pakaiannya sangatlah penting baginya.
Aku tahu ini barang sekali pakai, tapi.
“Sangat memerlukan waktu panjang untuk mempersiapkannya, namun sangat berguna untuk saat-saat seperti ini.” Lizard Priest menjelaskan kepadanya, mengayunkan ekornya seolah merasa senang dengan dirinya sendiri. “Ahem. Jadi kita telah membebaskan tahanan di penjara dan menghancurkan perlengkapan musuh kita. Saya percaya semuanya telah berjalan sesuai rencana, bukankah begitu, Tuanku Goblin Slayer?”
“Ya.” Goblin Slayer berkata, mengangguk perlahan. Dia mengeluarkan kantung air dari tasnya, membukanya, dan meminumnya di antara celah helmnya. “Tapi, kita tetap nggak boleh lengah. Nggak ada yang tahu apa yang akan terjadi nantinya.”
Adalah sesuatu yang sudah sangat di pahami oleh semua petualangan di sini. Tidak seorangpun di dunia ini yang mengetahui apakah dadu yang di lempar oleh para dewa mengontrol takdir atau kemungkinan.
Kemungkinan akan yang tidak terduga adalah mengapa ini di sebut sebagai petualangan.