“Sekarang benar-benar akan di-patch…” Aku menahan kegelisahan di hatiku dan bersiap untuk login menyambut kedatangan patch baru.
Ngomong-ngomong, hari itu Neurotic dan DanDan ikut kembali ke Infinite City bersama kami untuk melihat-lihat. Sepanjang jalan mereka terus menatap ke sekeliling dengan takjub, memuji Infinite City sekaligus diriku. Hatiku dipenuhi kebanggaan, tetapi juga sedikit malu mendengar pujian yang berlebihan itu. Pada akhirnya, aku tidak tahan untuk bertanya, “Neurotic, sebentar lagi waktunya patch. Apa tidak masalah kalian masih berkeliaran di Benua Tengah?”
Neurotic menggaruk wajahnya dan berkata, “Tentu saja tidak! Sudah waktunya kami kembali untuk bersiap menyerang kota! Kelompok kami sudah menghubungi kami seperti orang gila, bahkan hampir memasang poster buronan untuk kami.”
“Tidakkah menurutmu ini terasa sangat membatasi?” tanyaku sedikit gelisah. Tanpa menunggu jawabannya, aku mulai bergumam, “Dulu, tim kami pergi ke mana saja sesuka hati, melakukan apa pun yang kami inginkan. Semua orang memperlakukanku sebagai teman, bahkan seperti adik kecil. Tapi sekarang mereka selalu memanggilku ‘Liege Lord’, dan bahkan kemarin mereka berlutut untuk bersumpah setia padaku… Itu jadi membuatku merasa, merasa …”
“Tidak terbiasa, ya?” tanya Neurotic singkat, dengan kedua tangan menopang di belakang kepala.
“Yah, saat teman-teman berubah menjadi bawahan, rasanya sangat kesepian,” gumamku.
“Tapi mereka tetap temanmu. Kalau kau perhatikan dengan baik, sebenarnya tidak ada yang berubah.” Neurotic menatapku dengan ekspresi serius.

0 Comments
Posting Komentar