Epilog


“Apakah ini juga salah satu resep Rozemyne? Rasanya berbeda dari yang kita makan saat Doa Musim Semi” komentar Eckhart sambil memakan kudapan yang disebut “kukis” yang disajikan di kediaman Ferdinand.

“Sepertinya mereka tidak memiliki peralatan memasak yang tepat selama di perjalanan. Belum lagi yang ini diberi rasa daun teh,” jawab Ferdinand. Dia cukup menyukai kukis aroma teh, jadi setiap kali Rozemyne meminta juru masaknya membuat kukis di kuil, dia selalu membuat ekstra khusus untuknya.

“Dia memaksakan cukup banyak kudapan ke tanganku ketika aku mengatakan bahwa aku akan bertemu Karstedt di kediamanku,” lanjut Ferdinand. “Kukis buatan Rozemyne memiliki berbagai macam rasa, sehingga dia bisa menyesuaikannya dengan selera siapa pun yang akan dia temui. Menurutnya, pound cake ini dipanggang dengan buah yang direndam anggur, yang merupakan kesukaan Karstedt. Aku juga kadang memakannya, karena tingkat manisnya rendah dan rasa anggurnya kuat.”

Eckhart merasa agak aneh diberi tahu fakta tentang selera ayahnya yang bahkan dia sendiri tidak ketahui. Rozemyne ​​dulunya adalah rakyat biasa dengan kondisi Pelahap hingga baru-baru ini, ketika dia dibaptis sebagai saudara perempuannya. Tak lama setelah itu, dia diadopsi oleh archduke dan archduchess demi membawa kekayaan bagi Ehrenfest melalui mana dan perkembangan industri percetakan.

“Rozemyne dibesarkan di kuil dan karena itu hanya beberapa kali saja bertemu dengan Ayahanda,” kata Eckhart, mengikuti cerita samaran bahwa Karstedt adalah ayah kandungnya. “Namun dia mengetahui selera Ayahanda dengan sangat baik. Saya tidak memahaminya.”

Lanjutan--->