Dan begitulah aku memulai kehidupanku di Wilayah Bangsawan, namun tempat ini benar-benar berbeda dari apa pun yang pernah kualami di kota bawah maupun kuil. Hari-hariku dipenuhi oleh berbagai kejutan yang membuatku nyaris tak percaya bahwa hanya satu dinding yang memisahkan dua sisi kota yang begitu kontras ini.
Perbedaan besar pertama adalah kamar mandinya. Kami tidak buang air di ember yang harus dikosongkan lalu dipakai ulang—tidak, di sini ada kamar mandi dalam ruangan lengkap dengan toilet. Tapi, tentu saja bukan toilet yang bisa disiram air. Itu cuma lubang dalam di lantai, dan di dasarnya ada sesuatu yang licin dan berlendir menggeliat-geliat. Sejujurnya, aku berteriak saat pertama kali melihatnya. Katanya makhluk itu bisa melarutkan kotoran, tapi aku butuh waktu untuk terbiasa.
Serius, itu menjijikkan! Dan bayangan kalau makhluk itu bisa naik ke atas benar-benar membuatku merinding!
Aku masih belum berani ke kamar mandi sendirian saat malam, jadi setiap kali mau ke sana aku selalu minta seseorang menemaniku. Untungnya aku masih terlihat cukup muda, jadi tidak ada yang merasa aneh karena itu. Dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku sungguh bersyukur telah menjadi gadis bangsawan yang selalu diikuti paling tidak seorang pelayan sepanjang waktu.
0 Comments
Posting Komentar