Aku Yang Baru

(Translator : Hikari)


Para kesatria pun sibuk, mengikat Uskup Kepala dan para pelayannya untuk membawa mereka pergi. Aku menanyakan apakah ada yang bisa kulakukan untuk membantu, kemudian melihat Dirk yang masih lemas di pelukan Delia.

“Um, saya khawatir tentang Dirk. Jika memungkinkan, saya ingin pergi ke panti asuhan dengan Delia untuk menginformasikan Wilma tentang situasi ini.”

“Itu tidak penting. Biarkan orang lain yang menanganinya,” Sylvester membalas, lengannya bersilang dan kakinya berdiri tegap saat menunduk menatapku. “Hal yang paling penting di sini adalah memastikan apa yang akan terjadi padamu, dan kita bahkan belum memulainya. Ferdinand, pinjamkan kami ruanganmu.”

“Seperti yang Anda inginkan. Tolong berikan saya waktu untuk mempersiapkan.” Pastor Kepala dengan mulus berbalik dan kembali ke ruangannya, bersiap untuk menyambut Sylvester, sang archduke.

Delia memeluk Dirk. “Terima kasih, Suster Myne. Saya akan baik-baik saja sendirian. Selamat tinggal,” bisiknya sebelum mulai berjalan ke panti asuhan. Aku menyaksikan dia pergi.

“Apa kau ayah Myne?”

“Ya, tuan. Nama saya Gunther.”

Aku berbalik dan melihat Ayah berlutut di hadapan Sylvester, yang ekspresinya cukup datar sampai-sampai aku sama sekali tidak bisa menerka apa yang sedang dia pikirkan.

“Panggil keluargamu. Hanya kau yang kami perlukan untuk menyelesaikan surat adopsi, tapi aku akan memberikan kalian semua kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal.”

“...Saya sangat menghargainya,” kata Ayah sambil berdiri, kakinya goyah dan tinjunya mengepal erat. Dia pun memperlihatkan raut wajah datar, status rendahnya mencegah dia menunjukkan badai emosi yang mengamuk dalam dirinya.

“Gunther, sebentar. Aku akan meminta seseorang untuk menunjukkanmu jalan ke gerbang,” kata Fran sambil berdiri juga. Dia mengeryit kesakitan, kemudian menginstruksikan biarawan abu-abu terdekat untuk memandu Ayah ke gerbang. Dia tidak lupa menginstruksikan seseorang untuk menunggu di gerbang juga, karena Ayah akan kembali dengan keluarganya segera.

“Baiklah, kelihatannya Ferdinand sudah selesai. Ayo, Myne.” Sylvester mulai berjalan begitu dia melihat salah satu pelayan Pastor Kepala keluar untuk memanggil kami. Karstedt mengikuti selangkah di belakang, baru saja selesai memberikan instruksi pada Ordo Kesatria. Saat aku mulai berjalan juga, Fran dengan langkah terhuyung-huyung ikut maju untuk mendampingiku.

“Fran, kau bisa kembali ke kamarku dan beristirahat kalau kau terlalu kesakitan…”

“Tidak, saya adalah kepala pelayan Anda, Suster Myne. Saya tidak bisa membiarkan nona saya menghadapi diskusi penting seperti ini sendirian,” katanya. Tidak ada yang bisa kulakukan dengan tatapan penuh tekad di matanya. Aku mengizinkan dia untuk mengikuti, dan dia berjalan sambil berjuang sebaik mungkin agar ekspresi kesakitan tidak muncul di wajahnya.

Begitu sampai di ruang Pastor Kepala, aku dipandu ke meja, yang sudah dipersiapkan untuk pengunjung. Aku duduk di kursi yang disediakan untukku, tapi Sylvester dan Karstedt pergi ke meja kerja Pastor Kepala untuk mendiskusikan sesuatu.

“Saya senang melihat Anda baik-baik saja setelah semua itu, Suster Myne,” Arno berkata dengan lembut sambil dia mendorong sebuah kereta saji yang membawa perlengkapan minum teh ke dekatku. Fran bergerak untuk membantu seperti biasa, tapi mengeluarkan erangan kecil kesakitan setelah mencoba mengulurkan lengannya. “Mungkin kau sebaiknya kau kembali ke kamarmu, Fran? Kau sepertinya sangat kesakitan, dan nona mempunyai pelayan lain yang bisa berada di sini,” gumam Arno dengan nada menegur.

Aku seharusnya tidak terlibat dengan percakapan antara pelayan, tapi aku khawatir dengan luka-luka Fran juga dan ingin memberikan dukungan penuh pada saran Arno.

“Tidak, aku harus tetap di sini. Aku sudah meminta Suster Myne untuk mengizinkanku menemaninya di sini.”

“Kau sama sekali kurang fleksibel, Fran”

Benar, Arno! Terus desak dia! Buat Fran setuju untuk istirahat!

Aku menyemangati Arno dalam hati. Aku membiarkan Fran ikut denganku karena dia selalu rajin dan berdedikasi dengan pekerjaanya, tapi aku benar-benar lebih suka kalau dia kembali ke kamarnya untuk beristirahat.

“Aku tidak mau mendengar itu darimu, Arno. Kau bisa memberitahu kami bahwa Pastor Kepala sedang di ruang rahasianya alih-alih tetap dengan cerita bahwa dia tidak sedang ada di tempat. Sedikit fleksibilitas akan sangat dihargai,” keluh Fran, rasa frustrasi terdengar jelas dari nada bicaranya.

Dia benar, sungguh—Arno terkadang lebih tidak fleksibel daripada seharusnya. Mungkin itu karena dia adalah pelayan Pastor Kepala dan mereka semua jadinya seperti itu. Aku tersenyum tipis.

“Hanya teh yang kami perlukan. Pergilah.” Pastor Kepala mengosongkan ruangan, mengirim semua pelayan kami keluar. Yang tersisa hanyalah aku, Pastor Kepala, Sylvester, dan Karstedt. Keluargaku akan bergabung dengan kami nantinya, tapi untuk saat ini hanya kami yang diperlukan.

Figur archduke Sylvester langsung hilang begitu para pelayan pergi. Dia merosot kelelahan dan menundukkan kepala. “Haaaah, aku capek. Aku tidak mau lagi menempatkan siapapun di keluargaku dalam pengadilan lagi.”

“Semuanya akan lebih mudah untuk kita setelah ini. Untuk sekarang, ingat saja bahwa ini belum selesai. Tetap tegakkan punggungmu,” kata Karstedt, memberi Sylvester yang lesu sebuah pukulan di punggung.

Sylvester mengerucutkan bibirnya dengan wajah berkerut dan melotot ke arahku. “Karstedt, coba pikir ini—apa gunanya berpura-pura hebat di depan Myne di saat ini? Dia sudah memahamiku.”

“Kalau kau akan menjadi ayah angkatnya, kau paling tidak harus tetap terlihat gagah di awalnya,” tegur Karstedt. Dia sebenarnya kelihatan akan jadi ayah angkat yang jauh lebih bisa diandalkan daripada Sylvester—itulah yang kupikirkan untuk kesekian ratus kalinya sambil menyaksikan percakapan mereka.

“Jika Uskup Kepala adalah pamanmu, dan Pastor Kepala yang begitu akrab denganmu adalah adik tirimu dari ibu yang berbeda, bisa dikatakan kau berhubungan darah dengan Lord Karstedt juga?” tanyaku. Karstedt cukup dekat dengan Sylvester sampai bisa memukulnya—sang archduke—di kepala bersama dengan Pastor Kepala. Kemungkinan besarnya dia juga masih berkerabat.

“Yeah, Karstedt adalah sepupuku—putera dari kakak laki-laki ayahku.”

“Kakak laki-laki? Tunggu, jadi bagaimana urusan penerus keluarga ditetapkan di sini?” Sepertinya tidak ditentukan oleh umur. Mungkin putera termuda yang mengambil alih?

Sementara aku mengerjapkan mata dengan kaget, Sylvester melihatku dengan ekspresi heran. “Apalagi kalau bukan ditentukan oleh mana? Hal terpenting bagi seseorang yang memerintah duchy adalah memiliki cukup mana untuk menjaganya tetap berjalan, jadi para penerus pada dasarnya dipilih dari anak-anak dari isteri pertama, terutama karena dia akan memiliki banyak pengaruh politik dari pihak keluarganya.”

“Aku mengerti… Bahkan memerintah duchy memerlukan mana.”

“...Aku lupa karena kau berbicara dengan santainya dengan kami, tapi kau benar-benar tidak tahu apapun tentang tempat ini, ya?”

Apa yang menjadi hal yang lumrah bagi bangsawan ini bahkan tidak diketahui oleh para orang dewasa yang lahir dan dibesarkan di kota bawah, jadi sangat tidak masuk akal mengharapkanku untuk tahu hal-hal ini. Aku cemberut, dan Sylvester mengeraskan ekspresinya sambil masih duduk dengan letih.

“Myne, ayo serius sedikit untuk sebentar saja.”

“Baik.”

“Adopsinya kurang lebih sudah rampung saat kau mencap darahmu ke kalung kontrak yang kuberikan padamu, tapi kita akan perlu melakukan suatu trik untuk memastikan ini berhasil.”

Kelihatannya, mereka pertama-tama akan membuatku menjadi puteri Karstedt dan kemudian Sylvester mengadopsiku. Ini seperti pencucian uang, tapi untuk identitas.

“Apa ada hal yang signifikan dengan membuatku menjadi puteri Karstedt?”

“Tentu saja. Tidak bisakah kau melihat ada perbedaan besar antara rakyat jelata yang diadopsi archduke dan puteri seorang bangsawan kelas atas yang berasal dari archduke sebelumnya yang kemudian diadopsi oleh sang archduke?”

“Itu benar, tapi apa gunanya saat begitu banyak orang dari Ordo Kesatria yang sudah tahu bahwa aku adalah seorang rakyat jelata?” Mereka akan bisa menarik hubungan antara biarawati jubah biru rakyat jelata dan puteri angkat archduke begitu melihatku. Tentu saja mereka akan mempertanyakan bagaimana bisa tahu-tahu aku menjadi puteri Karstedt.

“Itu hanya Ordo Kesatria. Karstedt dan Ferdinand bisa mengurus itu. Ceritanya akan menjadi kau adalah puteri kesayangan Karstedt.”

“Um, ‘ceritanya’? Aku sama sekali tidak bisa mengerti bagaimana ini bisa dilihat seperti itu. Apa aku yang kurang waras di sini?” Ada sekitar dua puluh kesatria yang telah melihatku saat pemusnahan trombe; menurutku sudah sangat terlambat untuk mengatakan kalau aku adalah puteri kandung Karstedt.

“Heh, di luar dugaan sebenarnya mudah untuk mengacaukan ingatan orang-orang. Karstedt sangat menyatangi mendiang isteri ketiganya, dan kau adalah puterinya,” ujar Sylvester dengan nada datar sambil menggelengkan kepala.

“Puteri dari isteri ketiga?”

“Benar. Isteri ketiga Karstedt berasal dari bangsawan tingkat menengah biasa, tapi dia memiliki banyak sekali mana. Itu membuat kedua isterinya yang lain yang berasal dari golongan bangsawan tingkat atas menjahatinya tanpa henti.”

Wow, cerita buatan ini mulai kedengaran seperti opera sabun. Seberapa serius aku harus menanggapinya…?

“Dia wafat tidak lama setelah melahirkanmu, dan untuk menyelamatkanmu dari nasib yang sama dengan ibumu, Karstedt membesarkanmu secara sembunyi-sembunyi di biara. Dia menutupi asal-muasalmu demi keamanan, dan pamanku salah paham mengira kau adalah seorang rakyat jelata. Dia memperdaya banyak orang dengan keluhannya, dan karena kebohongannya seorang kesatria tidak bersalah bahkan sampai dieksekusi. Kejahatan pamanku tidak mengenal batas.”

...Kejahatan Uskup Kepala jadi semakin panjang dengan hal yang tidak dia lakukan! Mulutku menganga karena kenekatan tidak tanggung-tanggung Sylvester, dan setelah mengerjapkan mata karena kaget sebentar, aku memandang Karstedt dan Pastor Kepala. Mereka sama-sama terlihat jengkel.

“Tapi Lord Karstedt dan aku jelas memperlihatkan kalau itu adalah pertemuan kami yang pertama saat pemusnahan trombe.”

“Tentu saja komandan dari Ordo Kesatria akan memisahkan antara urusan pribadi dan publik—tidak ada komandan yang mengakrabkan diri dengan puteri rahasianya saat misi. Kita hanya perlu mengatakan kalau dia melakukan pekerjaannya dengan baik.” Sylvester kelihatan berniat untuk tetap dengan cerita itu, tapi rasanya sulit untuk meyakini orang-orang akan percaya begitu saja. Rasanya janggal, dan karena aku tidak bisa percaya Sylvester, aku menoleh pada Pastor Kepala untuk meyakinkan diri.

“Apa cerita setengah matang seperti itu bisa diterima oleh kalangan bangsawan?”

“Myne, kau mungkin tidak ingat ini, tapi Christine dulu berada di biara untuk alasan yang serupa.”

Kata-kata dingin Pastor Kepala membuat ingatanku kembali. Kesan utamaku tentang Christine adalah dia seorang biarawati artistik dan mantan majikan Wilma dan Rosina, tapi aku sepertinya ingat sesuatu tentang dirinya yang adalah seorang puteri bangsawan yang dibesarkan di biara karena isteri pertama ayahnya tidak menyukai dia. Ayahnya mengirimkan dia uang dan pendidik supaya dia bisa disambut kembali ke lingkungan bangsawan saat situasi sudah lebih aman untuknya.

“Yah, contoh nyata seperti itu membuat cerita ini kelihatan lebih bisa dipercaya. Tapi apa kau benar-benar mau seorang puteri dengan latar belakang seperti itu, Lord Karstedt?”

“...Itu tidak masalah untukku. Berkali-kali sebelumnya aku dulu berharap memiliki seorang puteri dengan Rozemary sebelum dia meninggal.” Ternyata, dia memang dulunya memiliki isteri ketiga yang nampaknya meninggal setelah dijahati oleh isteri-isterinya yang lain.

Apa aku akan dijahati begitu aku menjadi seorang bangsawan?

Ngh. Yah, jika kau tidak masalah dengan itu, Lord Karstedt, aku pun demikian. Tapi bukankah aneh memperkenalkan seorang anak begitu lama setelah kelahiran mereka? Bukankah orang-orang melakukan perayaan untuk anak mereka ketika mereka lahir?” Saat Kamil lahir, hal pertama yang kami lakukan adalah mengadakan pesta dan menunjukkan dia pada siapapun yang bisa kami perlihatkan. Kudengar ini agar semakin banyak orang yang bisa mengingat kapan dia dilahirkan, karena dunia ini tidak memiliki catatan kelahiran, tapi mungkin para bangsawan berbeda.

Karstedt yang menjaawab pertanyaanku. Dia menempatkan sebelah tangannya di dagu dan menyipitkan matanya sedikit, seakan berpikir dari sebanyak mungkin sudut pandanga. “Kami merayakan kelahiran anak-anak dari isteri pertama, tapi adalah hal yang umum untuk tidak repot-repot menginformasikan orang lain tentang kelahiran dari isteri kedua dan ketiga. Dalam lingkungan bangsawan, hanya di saat pembaptisanlah anak-anak diperkenalkan sebagai anggota keluarga. Sedikit yang tahu berapa banyak anak yang orang lain miliki kecuali hubungan mereka sangat dekat.”

“Oh, aku mengerti.” Aku mengangguk, dan kemudian Pastor Kepala melanjutkan dengan senyum tipis.

“Alasannya, anak-anak yang kekurangan mana yang sesuai dengan kelurga mereka itu diadopsi oleh keluarga dari tingkatan lebih rendah sebelum pembaptisan mereka atau dikirim ke biara. Semakin tingkatan seorang bangsawan, semakin kurang alasan bagi mereka untuk mengumumkan sebuah kelahiran sebelum mereka memastikan anak tersebut memiliki cukup mana untuk mereka.”

….Astaganaga! Lingkungan bangsawan ternyata menyeramkan! Sepertinya lingkungan itu dibangun sepenuhnya tentang memiliki mana, dan pola asuhku di kota bawah sama sekali tidak relevan di sini. Ada banyak perbedaan budaya hanya dengan bergabung di biara, tapi aku bisa memperkirakan bergabung dengan lingkungan bangsawan akan jauh lebih parah.

“Jadi begitulah,” Sylvester menambahkan, “kalau kau ingin membesarkan anakmu sebagai seorang bangsawan, paling lambat kau bisa menunggu untuk memperlihatkan mereka adalah saat pembaptisan mereka. Karstedt akan memanfaatkan pembaptisanmu untuk mengumumkan bahwa kau lahir dengan jumlah mana yang luar biasa, sama seperti ibumu, dan aku mengadopsimu. Dengan begitu dia bisa memberikan puteri tersayangnya status yang dia layak dapatkan sambil melindunginya dari para isterinya…. Dan begitulah ceritanya. Sudah mengerti?”

Aku mengangguk, memikirkan semua yang baru saja dia sampaikan padaku. “Jadi lingkungan bangsawan dibenar-benar seperti (opera sabun). Apa aku bisa membukukan cerita ini?”

“Kau bisa memasukkannya dalam otobiografimu kalau kau menulisnya nanti.”

“...Ngh. Kurasa aku akan melewatkannya, terima kasih.”

Aku hanyalah gadis kecil lemah yang suka membaca buku. Aku tidak akan pernah menulis otobiografi. Aku langsung menolak ide tersebut, membuatku mendapatkan sebuah cengiran dari Sylvester dan sebuah komentar bahwa, karena dia sudah bersusah payah merancang cerita itu, kami sebaiknya menyebarluaskannya.

“Bagaimanapun, intinya, kita akan mengadakan upacara pembaptisanmu musim panas ini. Itu akan dilakukan di kediaman Karstedt, dan kita akan mengumumkan adopsimu di saat yang bersamaan. Karstedt, kapan waktu yang tepat untukmu?”

“Bagaimana kalau tepat sebelum Upacara Ikatan Bintang? Kita akan memerlukan waktu untuk persiapan—pakaian, makanan, undangan, dan semacamnya,” kata Karstedt.

Pastor Kepala terdiam berpikir, kemudian menggeleng. “Aku yakin akan lebih baik merencanakan upacara itu beberapa hari lebih awal daripada tepat sebelum Upacara Ikatan Bintang. Mempertimbangkan kesehatan Myne yang buruk, kita tidak pernah bisa yakin kapan dia akan tergeletak di tempat tidur. Kita perlu waktu tambahan untuk mengawasi dia.”

“Aku mengerti, kita akan perlu cadangan waktu untuk berjaga-jaga kalau dia sakit. Hm. Mempersiapkan lebih awal akan membuatnya sulit,” ujar Karstedt dengan wajah berkerut bingung.

“Karstedt, undang orang sebanyak yang kau bisa ke upacara pembaptisan. Mengingat kita akan mengumumkan adopsi di waktu yang sama, lebih banyak orang yang hadir, akan lebih baik.”

“Ah, itu membuatku teringat—kau sebaiknya memberikan dia seorang pendidik etika sebelum pembaptisan, Karstedt. Dia tahu hal-hal mendasar berkat instruksi dari para pelayanya, tapi dia tidak pernah mendapat guru yang sepantasnya.”

Mereka bertiga mengabaikanku, perlahan melanjutkan rencana mereka sementara aku duduk di sana, terpaku.

“Um, tapi aku sudah melakukan upacara pembaptisanku setahun yang lalu… Bukankah itu berarti kita akan berbohong soal umurku?” Pembaptisan dilakukan di usia tujuh tahun, dan pembaptisanku sudah terjadi tepat setahun yang lalu.

Aku tidak mau harus melakukannya lagi dan kembali menjadi tujuh tahun. Rasanya seperti tinggal kelas setahun di sekolah.

Aku mengerucutkan bibir, cemberut, dan Sylvester memelototiku dengan mata hijau gelapnya. “Jangan menggerutu soal perbedaan satu tahun. Ini untuk memastikanmu bisa sesuai di lingkungan bangsawan, dan mengingat betapa mudanya penampilanmu, kita bahkan bisa menundanya setahun lagi, tidak masalah.”

“Setahun lagi? Sekarang kau benar-benar keterlaluan. Aku sudah semakin besar, asal kau tahu saja…!”

Karena ini adalah hal yang esensial agar aku diterima di lingkungan bangsawan, kembali ke umur tujuh tahun sudah tidak bisa diubah lagi. Mereka mengabaikan rasa frustasiku dan melanjutkan diskusi.

“Ngomong-ngomong, soal kehidupanmu setelah pembaptisan… Kau akan berpatisipasi dalam urusan bangsawan sebagai puteri sang archduke—yaitu aku—dan saat tidak ada apa-apa, kau akan menghabiskan waktumu di biara. Sama seperti Ferdinand.”

Bwuh?!” Itu kedengarannya gaya hidup yang sangat sibuk, sampai-sampai aku bisa merasakan wajahku berkedut ketakutan.

“Dengan semua masalah mana kita, akan menyebabkan beban yang terlalu besar untuk Ferdinand jika membawamu keluar sepenuhnya dari biara. Belum lagi lokakaryamu. Rencananya adalah kami akan mengambil produksi bukumu sebagai urusan resmi duchy, tapi orang-orang di kota bawahlah yang nantinya akan membuat buku. Akan lebih mudah bagiku membuat hal ini terjadi kalau kau terus mempertahankan koneksi dengan kota bawah. Aku sudah membicarakan ini dengan Firma Gilberta,” kata Sylvester dengan cengiran licik khas seseorang yang sudah terlibat dalam banyak hal.

Kapan itu terjadi?! Pikirku, kemudian teringat saat Benno yang diseret oleh Sylvester saat kunjungan lokakaryanya dan betapa letihnya dia terlihat setelah itu. Semoga beruntung, Benno. Aku mendukungmu!

“Umm, jadi singkatnya, setelah pembaptisanku yang kedua kali, aku akan memainkan tiga peran sekaligus? Aku akan menjadi puteri archduke, novis jubah biru, dan pengusaha? Itu akan sangat melelahkan,” kataku sambil menghitung dengan jari.

Sylvester menggeleng. “Tidak juga. Kau tidak akan menjadi seorang novis lagi. Kau akan menjadi Uskup Kepala.”

“Apa?” tanyaku, menelengkan kepala menanggapi Sylvester. Aku mungkin salah dengar. Aku pasti salah mendengarnya. Ahaha, konyolnya, aku benar-benar harus memperhatikan saat mendengarkan.

Saat aku mencoba menghindari kenyataan, Sylvester menghela napas. “Tidak ada yang akan mau menggantikan Uskup Kepala yang menyalahgunakan kekuasaannya dan berakhir dengan dieksekusi. Semua yang mereka lakukan akan berada dalam pengawasan, yang berarti tidak ada kesempatan untuk tindakan yang dipertanyakan legalitasnya. Ini adalah pekerjaan yang tidak ada untungnya. Selain itu, ada puteri dan adik tiri sang archduke—siapa yang mau mengambil pekerjaan itu dengan kewarasan yang semakin terkikis setiap harinya?”

Um. Um. Tapi kalau begitu, bukankah sebaiknya Pastor Kepala yang menjadi Uskup Kepala? Dia jauh lebih tepat untuk pekerjaan itu daripada aku,” kataku, mengerling ke arahnya, tapi Sylvester hanya mengangkat bahu dengan jengkel.

“Dari sudut pandang luar, tidak terlalu masalah siapa dari antara kalian berdua yang mengambil pekerjaan itu, tapi pekerjaan yang sebenarnya yang diharapkan dari kalian berdua sama sekali berbeda. Ferdinand melakukan yang terbaik saat mengerjakan hal-hal yang sangat penting dan mengendalikan para biarawan secara keseluruhan. Kau tidak akan pernah bisa bertahan lama sebagai Pastor Kepala, Myne.”

Memang benar tugas Pastor Kepala melingkupi banyak bidang. Kalau kau bertanya padaku apakah aku bisa melakukan pekerjaannya, jawabannya sudah jelas tidak. Tapi Uskup Kepala adalah pemegang otoritas tertinggi di biara; itu adalah jabatan yang terlalu besar untuk kupegang.

“Aku tidak bisa menjadi Uskup Kepala. Aku ini seorang anak kecil yang baru saja dibaptis setahun yang lalu.”

“Pamanku yang gagal itu berhasil melakukannya. Kau akan baik-baik saja. Yang perlu kau lakukan hanya duduk dan biarkan semuanya berjalan. Sejujurnya, mengingat yang pamanku pernah lakukan hanyalah melanggar hukum, kau akan menjadi Uskup Kepala yang lebih baik daripada dia dengan tidak melakukan apapun sama sekali. Tentunya menyenangkan menindaklanjuti sebuah kegagalan,” ujar Sylvester, tapi kurasa bukan itu masalahnya.

Sementara aku berusaha keras dengan kebingungan, Pastor Kepala mengetuk pelipisnya dan mulai bicara. “memang benar akan jadi luar biasa mudah bekerja tanpa si bodoh itu yang menghalangi jalanku; itu saja sudah cukup bagiku untuk menerima Myne sebagai Uskup Kepala. Aku sendiri akan menangani sebagian besar pekerjaan sulit, tapi Myne selalu lebih dari bersedia untuk membantu ketika diminta. Aku akan lebih suka dia ada di sini daripada seseorang tertentu yang menyerahkan semua pekerjaannya pada orang lain dan kemudian menghilang,” katanya, sambil jelas-jelas memelototi seseorang tertentu itu.

Sylvester mendengus dan mengatakan bahwa Pastor Kepala dipersilakan untuk terus mempekerjakanku sepuasnya seperti yang telah dia lakukan selama ini. Aku mengabaikan komentar tidak sopan Sylvester dan memutuskan untuk berterima kasih saja pada Pastor Kepala atas pujiannya itu.

“Myne, kau benar-benar berpikir memperlakukanku seperti itu? Aku tadinya berniat membiarkanmu tetap menggunakan kamar pengurus panti asuhan sebagai tanda terima kasih karena mengambil pekerjaan itu, dan aku akan menutup mata saat kau sesekali menemui para rakyat jelata di sana, tapi aku jadi tidak begitu yakin sekarang.”

“Lord Sylvester, aku menyayangimu.” Aku menekuk jariku membentuk hati di depan dada, mataku berbinar.

Karstedt mencolek Sylvester di sebelah kepalanya. “Dia membuat seakan-akan dia berbaik hati padamu, tapi jangan terkecoh. Dia hanya berencana untuk membuat biara sebagai markasnya supaya dia bisa berkeliaran di kota bawah.”

Bwuuuh?!

“Karstedt, kau membuatnya jauh lebih buruk daripada yang sebenarnya. Aku mengadopsi puteri tersayang sepupuku. Apa salah kalau aku mau datang mengunjunginya?” tanya Sylvester dengan ekspresi serius, tapi jika diamati lebih dekat lagi, jelas terlihat di wajahnya kalau dia hanya ingin pergi berburu lagi. Tidak diragukan lagi rencananya ini hanyalah untuk memudahkan dia pergi bermain-main di kota bawah.

“Sylvester, kau akan membiarkan Myne berurusan dengan rakyat jelata? Kurasa itu akan terlalu berbahaya, mengingat dia akan menjadi puteri Karstedt,” komentar Pastor Kepala dengan cemas.

“Kalau kita akan mengembangkan pembuatan buku sebagai bisnis pemerintah, kita memerlukan koneksi dengan Firma Gilberta. Apa kau tahu berapa banyak pekerjaan yang dibutuhkan untuk menghancurkan toko itu dan membangun yang baru dari awal?” balas Sylvester dengan santainya.

“Um...Kau akan menghancurkan Firma Gilberta?”

“Jangan langsung menyimpulkan. Aku tidak berencana melakukan apapun pada mereka. Pemiliknya cepat tanggap, dan dia tahu bagaimana caranya menyimpan rahasia. Yang mengejutkan adalah hanya sedikit orang yang tahu siapa kau yang sebenarnya, Myne, dan sebagian besar dari mereka adalah karyawan Firma Gilberta. Yang lainnya berpikir kau adalah puteri Benno atau sekadar gadis kaya, jadi tidak akan ada masalah jika kita mengatakan kau sebenarnya adalah seorang bangsawan.”

Walaupun buku-buku akan diproduksi di bawah otoritas archduke, Gutenberg-kulah yang sebenarnya nanti membuat mereka, dengan aku sebagai pusatnya. Dengan demikian, akan lebih baik menjaga sebuah tempat di mana para rakyat jelata dapat masuk dengan bebas daripada harus terus-menerus memanggil mereka semua ke Area Bangsawan.

“Kau bisa menemui para rakyat jelata itu di kamarmu seperti yang kau lakukan selama ini,” kata Sylvester, dan wajahku pun menjadi cerah. “Tapi kau tidak akan diperbolehkan untuk menemui keluargamu sebagai keluarga. Kau akan menjadi puteri Karstedt dan puteri angkatku. Adalah hal yang penting kau meninggalkan keluarga lamamu sehingga kau bisa bergabung dengan kami; kalau kau tidak bisa melakukan itu, aku tidak bisa membiarkanmu bertemu dengan keluargamu lagi.”

Wajahku menggelap lagi. Rasanya seperti angin dingin berhembus ke dalam hatiku. Aku tidak yakin apakah aku harus merasa senang diperbolehkan menemui mereka semua, atau merasa takut bahwa dengan melakukan itu akan membuatnya jadi lebih menyakitkan.

“Tidak akan ada masalah dengan ayahmu yang prajurit itu untuk menemanimu sebagai pengawal ketika kau berpergian, atau membuat kakak perempuanmu terlibat dalam pembuatan kertas. Hubungan kerja tidaklah masalah. Tapi aku harus membuat kalian berumpah dengan kontrak sihir bahwa kalian tidak lagi saling memanggil satu sama lain sebagai keluarga,” kata Sylvester. Dia melihatku dengan tatapan mata tegas, dan aku bisa merasakan jantungku berdegup menyakitkan di dalam dadaku.