Masa Remaja itu Rumit
(Bagian 5)

(Penerjemah : Nana)


Setelah mereka selesai berbicara, Sakuta berjalan pulang ke apartemennya sendiri. Saat ini sudah pukul tujuh malam. Matahari sudah terbenam, tetapi langit belum sepenuhnya gelap.

Saat ia melewati taman terdekat, ia bisa mendengar bunyi suara cicada tepat di sebelahnya. Bunyi dari tangisannya itu sangat khas dan berasal dari cicada besar yang berwarna cokelat. Saat siang hari, ada banyak jenis cicada, dan suara tangisannya bisa sangat mengganggu, tetapi anehnya, tangisan tersebut terdengar agak pilu.

“…Rasa hampa, ya?”

Kata-kata tersebut terus terngiang-ngiang di benak Sakuta. Rasanya seperti langsung menusuk dirinya ketika Fumika mengatakannya. Seperti pisau yang tertancap di jantungnya.

Jika perkataan Fumika benar, Futaba sedang tersiksa oleh perasaan seperti itu.

“Dia memang bukan tipe orang yang bisa menyesuaikan diri dengan cewek lain.”

Dalam tatanan komunitas yang menekankan keselarasan dan empati, diri Futaba yang berpikir logis akan menjadi bumerang balik baginya. Ia sendiri yakin kalau Futaba sendiri lebih tahu hal itu dari orang lain. Karena itulah dia selalu diabaikan oleh teman-teman sekelasnya.

Hanya Sakuta dan Kunimi yang pernah bicara dengannya. Apa itu masih belum cukup? Atau perasaan hampanya itu berasal dari masalah di luar sekolah?

“Masalah di rumahnya?”

Berdiam diri di sini sambil melihat cicada tidak akan membantunya menjawab itu, jadi ia memutuskan untuk berjalan pulang.

Sakuta sendiri belum pernah berkunjung ke tempat tinggal Futaba. Ia bahkan tidak tahu seperti apa rupanya, tidak yakin apakah sebuah rumah atau apartemen sepertinya. Dia juga tidak pernah memberi tahu pekerjaan orang tuanya.

Satu-satunya yang ia tahu adalah tempat tinggalnya berada dekat di stasiun Hon-Kugenuma, dan tempat itu berada satu stasiun sebelum terpisah dengan Jalur Odakyu Enoshima dari Stasiun Fujisawa.

Rasanya seperti agak telat untuk menyadari tentang seberapa sedikit yang ia tahu tentang Futaba. Dia juga bukan tipe orang yang banyak menceritakan dirinya sendiri, dan bahkan jika ia menanyakannya, Futaba hanya akan memberinya jawaban minimal, jadi kesempatannya hanya sedikit untuk mencari tahu informasi pribadinya saat Sakuta berbicara dengannya.

“Yah, kalau Aku tak tahu, Aku hanya harus menanyakannya.”

Menonton dari kejauhan tidak akan menyelesaikan apa pun. Bahkan jika ia harus sedikit memaksanya, Sakuta harus mengawasinya sedekat mungkin.

Dengan pendirian seperti itu di benaknya, ia melihat ke arah langit dan menguap selebar mungkin.


“Aku pulaaaang,” serunya saat masuk pintu rumahnya.

Tetapi tidak ada jawaban sama sekali. Kaede biasanya berlari keluar untuk menyambutnya. Untuk sesaat, Sakuta menatap ke arah ruang tamu tetapi tetap tidak ada tanda-tanda keberadaan adiknya.

“Dia sedang tidur?”

Sakuta melepas sepatunya dan masuk ke dalam. Ia berhenti untuk mencuci tangannya dan berkumur sebelum akhirnya melangkah ke ruang tamu.

Kaede dan kedua kucing mereka sedang tertidur di depan TV.

“Selamat datang kembali.”

Suara itu datang dari dapur, jadi Sakuta berjalan ke arahnya. Di sana, Futaba sedang berdiri di depan panci yang terletak di atas kompor. Dia sedang mengaduk isi dari panci dengan sendok sayur agar makanan yang dia masak tidak gosong bawahnya.

“Apa yang sedang kau lakukan, Futaba?”

“Membuat kari.”

“Dengan pakaian seperti itu?”

Futaba saat ini sedang mengenakan jas lab putihnya.

“Aku tak ingin terkena cipratan kari.”

“Visualnya sangat tak menggugah selera…”

Dia benar-benar terlihat seperti penyihir ilmu pengetahuan. Seorang penyihir logis dengan ekspresi wajah datar dan teori-teori yang diucapkannya. Susah bagi Sakuta memercayai kalau Futaba tidak sedang meracik ramuan berbahaya di dalam panci itu.

“Aku mengikuti resepnya dengan tepat, jadi seharusnya baik-baik saja.”

Sebuah buku masak terbuka di sebelah panci. Buku masak yang Sakuta beli ketika ia dan Kaede mulai tinggal bersama dan ia perlu belajar caranya memasak. Ia sudah tidak menggunakannya akhir-akhir ini dan tidak yakin di mana ia menaruh buku itu terakhir.

“Uh, jadi Mai…?”

Kaede sedang tidur nyenyak di lantai ruang tamu, tetapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Mai.

“Dia sedang membaca naskah di kamarmu. Dia bilang kau bisa masuk kalau sudah pulang.”

“Oke, Aku ganti baju dulu.”

Ia tidak merasa nyaman mengenakan seragam sekolahnya di rumah. Entah kenapa rasanya menjijikkan.

“Aku selalu buka baju begitu sampai rumah.”

“Aku tak perlu tau informasi itu,” ucap Futaba tanpa pernah mengalihkan pandangannya dari kari yang dimasaknya.

Sakuta berjalan ke pintu kamarnya dan mengetuk, “Mai-san, Aku boleh masuk?” tanyanya.

“……”

Tidak ada jawaban.

Ia sudah mengetuk pintu, jadi jika Mai kebetulan sedang mengganti pakaiannya, itu berarti salahnya sendiri.

Berharap kalau sesuatu seperti itu akan terjadi, Sakuta membuka pintu kamarnya.

“……”

Kemudian, ia langsung melihat Mai. Dia sedang berbaring di kasur Sakuta. Dengan postur tubuh yang benar-benar santai, matanya sedang membaca naskah yang sedang dipegangnya.

Dia sedang mengenakan sebuah hoodie dan pakaian santai yang panjangnya tepat selututnya. Betis telanjangnya yang langka tanpa stocking hitam yang biasa dipakainya dapat terlihat jelas.

“……”

Ekspresi wajahnya sangat serius. Fokusnya seperti sebuah laser, sampai-sampai hal itu dapat memengaruhi situasi ruangan tersebut, menjadikan suasananya sangat tegang. Tidak mungkin Sakuta bisa mengganggunya sekarang ini.

Mencoba agar tidak mengganggunya dengan tidak membuat suara, Sakuta melangkah masuk dan dengan hati-hati menutup pintu di belakangnya. Lalu, ia menunggu dengan duduk bersimpuh di sudut ruangan. Aura yang Mai pancarkan membuatnya untuk melakukan itu.

“……”

Ia melihat dadanya naik-turun dengan irama yang normal. Tanda kalau Mai masih hidup. Dia juga berkedip beberapa kali, jadi sudah pasti kalau tidak sedang tertidur dengan mata terbuka.

Karena tidak mau mengganggunya, Sakuta mencari cara untuk menghabiskan waktu. Ia melihat ke sekeliling ruangan, dan barang-barangnya sudah tertata rapi. Mai benar-benar sudah merapikan ruangan ini. Bahkan majalah manga yang sudah tiga bulan ia tinggalkan di sudut ruangan sudah tersusun rapi di mejanya.

Karena bosan, ia meraih majalah manga tersebut dan membacanya. Seperti yang Mai bilang saat di telepon, di sampul majalah tersebut terpampang sebuah grup idol. Ada tujuh gadis remaja dengan usia sekitar 15 atau 16 tahun. Mereka semua punya senyum cerah dan gaya pakaian yang dikenakannya agak sedikit khas seperti gaya rock. Tetapi gaya tersebut juga dipadupadankan dengan gaya idol, dan hasilnya seperti kostum Halloween yang sangat bagus. Perpaduan gaya yang bagus antara modis dan imut.

Ia membalik halaman selanjutnya dan melihat foto dari para anggota grup idol itu. Dan sebuah artikel yang masing-masing memperkenalkan mereka. Grup idol tersebut disebut dengan ‘Sweet Bullet’. Apa mereka idola besar berikutnya? tulisnya dengan huruf-huruf yang berkilauan.

Lalu, pandangan Sakuta tertuju ke salah satu anggota dari grup idol tersebut. Biodata dirinya menuliskan tinggi, kota kelahiran, dan daftar kesukaannya. Dan di daftar itu tertulis nama Mai Sakurajima.

Nama anggota yang menarik perhatiannya itu adalah Nodoka Toyohama. Berusia 16 tahun. Semua anggota lainnya mempunyai warna rambut hitam, jadi rambut pirangnya benar-benar mencolok. Biasanya, orang-orang akan menuliskan hal seperti “Stroberi,” ketika ditanya hal apa yang mereka suka… karena enam anggota lainnya begitu.

Merasa konyol dengan analisa mendalam dari biodata seorang idol yang bahkan tidak pernah dirinya dengar, ia menutup majalah tersebut dan menaruhnya kembali di mejanya.

Ia kembali menatap Mai dan kali ini bibirnya bergerak. Mungkin dia sedang berlatih kalimatnya.

“…Mai-san?” ucapnya dengan lirih karena sudah tidak sabar menunggu.

“……”

Tidak ada perubahan.

“Mungkin tak apa-apa jika kujahili.”

“Aku bisa mendengarmu.”

Akhirnya, tatapannya sudah tidak tertuju ke naskah dan sedang menatap ke arah Sakuta.

“Apa Aku mengganggu?”

“Jika Aku tidak mau diganggu, Aku tidak akan membaca naskah di sini. Selamat datang kembali.”

“Senang bisa pulang.”

Dia menutup naskah itu dan duduk di tepi tempat tidur dengan kaki yang menjuntai di tepinya.

Sakuta duduk di sebelahnya.

“Di bawah,” ucapnya sambil menunjuk seperti lantai adalah tempat Sakuta untuk duduk seperti di rumah anjing.

“Aku tak akan menyerangmu,” gerutu Sakuta tetapi ia tetap pindah dan duduk di lantai. “Manajermu sudah datang?” tanyanya menebak tentang apa yang ingin dia bicarakan.

“Ya. Dan dia sudah pulang.”

“Kalian membicarakan yang di telepon pagi ini?”

“Yep. Karena itu dia datang menemuiku.”

Sudah jelas sekali.

Mai tampaknya agak kesal, jadi ia bisa membayangkan bagaimana pembicaraan mereka berdua.

“Apa katanya?”

“Dia tidak bilang kita harus putus, tapi dia ingin agar kita tidak kencan dulu.”

Kurang lebih sama dengan apa yang Sakuta prediksi.

“Aku boleh tanya alasannya?”

“Karena Aku baru saja mulai bekerja lagi, jadi jika muncul skandal secepat ini dapat merusak reputasiku. Dan Aku baru saja menandatangani kontrak untuk suatu iklan, jadi Aku harus sadar akan dampak yang ditimbulkan pada para sponsor. Jika para wartawan mendapatkan kabar kalau Aku punya pacar, kerugiannya tidak hanya akan berdampak ke reputasiku saja tapi juga produk-produk yang terkait denganku.”

“Jadi jika kau punya pacar, penjualan minuman olahraga akan merugi? Kekuatanmu sangat besar!”

Ia merasa kalau penjualan hal-hal seperti itu tidak akan terpengaruh banyak.

“Aku mengerti para penggemar bisa kesal jika pria ganteng dari kelompok boyband punya pacar dan kenapa aktor pria yang selingkuh dengan istrinya menjadi masalah besar, tapi jika berpacaran dengan kohai dari sekolah yang sama---dan juga hubungan kita benar-benar normal---dapat merusak reputasiku dan yang lainnya, maka dunia ini akan hancur.”

“Aku sangat setuju.”

“Ryouko tampaknya salah mengira diriku sebagai idol yang punya larangan berpacaran.” 

Tatapan Mai melirik sesaat ke majalah yang ada di atas meja Sakuta.

“Ryouko nama manajer barumu?”

“Yep. Ryouko Hanawa. Rupanya, dia membenci nama belakangnya. Karena nama panggilannya Holstein saat kecil.”

Nama Hanawa ditulis dengan kanji bunga dan cincin, tetapi jadinya malah terdengar seperti cincin hidung, dan gambaran yang seketika muncul setelah mendengar itu adalah Sapi Holstein.

(Quick note: Nose ring atau cincin hidung udah literal banget, dan untuk yang udah sering baca Doujin dengan genre human cattle udah tau lah apa ya  ( ͡° ͜ʖ ͡°).)

Nama seperti itu pasti disebut pertama kali oleh seorang bocah bodoh. Sakuta agak menyukainya kalau boleh jujur.

“Dan kalau kau penasaran, Ryouko punya tubuh yang ramping.”

“Aku belum bilang apa-apa, kan?”

Dengan nama panggilan seperti Holstein, Sakuta langsung berasumsi kalau manajer Mai punya dada yang besar, tetapi ia seharusnya tidak langsung berasumsi seperti itu.

“Dia bilang ironisnya hanya semakin memperburuk hal itu.”

“Boleh Aku tanya yang agak kasar?”

“……” Mai jadi terdiam sambil menatapnya dengan sinis.

“Aku cuma mau tanya umurnya.”

Ia tentu saja tidak mempertimbangkan untuk menanyakan tentang ukuran payudara manajer Mai.

“Umurnya 25 tahun. Sudah kerja di agensiku selama tiga tahun.”

“Jadi kau setuju dengan usul Hanawa yang berumur 25 tahun ini?”

“Yang seperti ini bukan hal yang bisa kuputuskan sendiri, jadi kutunda dulu tadi.”

“Maksudmu karena ini memengaruhi kita berdua?”

“Ya. Karena ini masalah kita berdua.”

Sakuta senang mendengar hal itu. Masalah mereka berdua.

Tetapi solusi dari masalah itu bukanlah hal yang bisa diganggu gugat lagi. Tidak peduli bagaimana, mereka hanya punya satu pilihan.

Dan Mai tahu itu, karena itu sekarang ini dia sedang kesal.

“Kurasa kita harus menurutinya, ya? Setidaknya untuk sementara waktu ini.”

Hanya itu pilihan yang mereka punya.

Jadi Sakuta pikir dengan mengucapkan hal itu secara langsung akan mengakhiri pembicaraan mereka.

“Apa maksudmu, kita harus menurutinya?”

Ekspresi wajahnya terlihat semakin marah saat ini.

Rasa kesalnya sebelum ini ditujukan ke agensi dan manajernya. Tetapi sekarang diarahkan ke Sakuta langsung.

Dirinya memang terlihat tenang, tetapi dia jelas-jelas sangat marah.

“Huh? Kenapa kau marah? Apa kau marah ke diriku?” tanya Sakuta dengan rasa takutnya yang dilebih-lebihkan. Ia merasa kalau menganggap perkataan Mai dengan serius, hal ini akan menjadi pertengkaran yang sebenarnya.

Mai mencoba untuk tenang tetapi tetap menatap sinis ke arah Sakuta.

“Jangan coba menghindar dari ini,” ucapnya.

Yang seperti ini juga menakutkan, tetapi tidak sama menakutkannya. Lebih seperti jengkel.

“Ini cuma strategi mundur sementara.”

“Kau sangat berani ya.”

“Aku tak mau melawan di pertarungan yang tak bisa kumenangkan.”

“Bohong. Kau akan melawan sebisa mungkin.”

“Kau membuatku terdengar keren.”

“Jadi tidak keren lagi kalau kau mengatakannya langsung, Sakuta.”

Mai melempar naskahnya dan memantul dari kepala Sakuta.

“Ow. Jika ini membuatku mendapatkan fetish baru, kau yang salah.”

“……”

“Maaf, lelucon buruk ku.”

“Apa kau tidak keberatan dengan ini? Tidak bertemu denganku?”

“Maksudku, jika dipikir-pikir lagi, kita sudah tak sering bertemu akhir-akhir ini.”

“Kau masih bilang begitu setelah tadi malam?”

Mata Mai menatap langsung ke Sakuta. Yang seperti ini sangat mengkhawatirkannya, jadi ia bersikap serius lagi.

“Jujur saja, Aku benci usulan itu.”

“……”

“Tapi…manajermu ada benarnya. Kau baru saja kembali dari hiatus. Memang masuk akal kalau kau harus menjaga sikap agar mendapat kepercayaan dari semua pihak.”

“Membosankan sekali,” gerutunya.

Tetapi Sakuta sendiri cukup yakin kalau Mai sudah memutuskan hal yang sama. Dia tahu kalau akhirnya akan jadi seperti ini sejak awal. Tetapi dia membuat pilihan untuk membicarakannya dan menganggap hal ini sebagai masalah yang dapat memengaruhi mereka berdua.

Dengan konflik yang sudah terselesaikan, pintu kamar Sakuta perlahan terbuka. Kaede mengintip mereka dari ambang pintu dan dia sudah terbangun dari tidurnya.

Onii-chan sudah pulang?” ucapnya.

“Yep.”

“Kalian berdua sudah selesai bicaranya?”

“Sudah.”

“Kalau begitu, Futaba bilang sudah waktunya untuk makan kari.”

“Sebagai pengganti waktu makan malam?”

“Oh, aromanya sedap.”

Kata-kata Mai memang benar. Ia bisa mencium bau rempah-rempah yang muncul.


Futaba membuat kari yang benar-benar dimasak dengan lambar.

“Futaba, kau akan jadi istri yang hebat suatu hari nanti.”

“Rasa kari akan tetap sama siapa pun yang membuatnya.”

Futaba tampaknya tidak tersipu malu mendengarnya, seperti sudah biasa.

“Yah, tapi caramu membuatnya seperti sedang melakukan percobaan gila.”

Dia menggunakan berbagai sendok ukur sementara Sakuta biasanya hanya mengira-ngira seberapa banyak yang diperlukan. Ia bisa membayangkan Futaba menimbang setiap bahan yang diperlukan sampai butuh berapa miligram seperti yang dia lakukan seperti biasanya di lab sains.

Sakuta sangat yakin kalau itulah yang dia lakukan bahkan ketika ia belum pernah melihatnya dengan mata kepala sendiri. Antara itu dan jas labnya yang dijadikan pengganti celemek, ia mengira kalau kari yang dibuat Futaba akan lebih seperti obat.


Ketika mereka berempat selesai makan malam, Sakuta mengantar Mai pulang. Mereka berdua turun dengan lift yang sama dan melangkah keluar dari apartemen.

Langit di atas mereka sudah menjadi gelap sekarang ini. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan lewat. Tetapi tidak ada awan malam yang terlihat, jadi warna langit yang berwarna biru tua cukup mencolok perhatian.

Mai tinggal di gedung apartemen di seberang jalan, jadi perjalanan mereka hanya memakan waktu kurang dari semenit.

Mereka berhenti tepat di depan pintu gedung apartemennya.

“Selamat malam, Mai-san.”

“Mm. Selamat malam, Sakuta.”

“Bye,” ucapnya sambil melambaikan satu tangannya dan baru saja akan berbalik pulang.

“…Oh, tunggu,” ucap Mai dengan suara yang kecil.

“Mau pelukan selamat tinggal?”

“……”

“Tunggu, kau serius?”

“Tidak… Yah, tidak seperti itu sih, tapi…”

Mai melihat ke sekitar mereka.

“Mai-san?

“Hanya saja, kita tidak akan bisa bertemu untuk sementara waktu ini.”

“Yeah.”

Sakuta tidak bisa bilang kalau ia senang dengan keputusan itu, tetapi mereka berdua sudah membicarakannya dan setuju kalau itu perlu dilakukan.

“Sekarang mungkin terakhir kalinya kita bertemu sampai semester baru dimulai.”

“Jangan khawatir. Aku akan mencari tempat terpencil di sekolah agar tak akan ada yang bisa melihat kita berdua.”

“Tapi kau sudah puas hanya dengan ini?”

“Huh?”

“Hanya mengucapkan selamat tinggal seperti ini?”

Mai menatap langsung ke mata Sakuta dan tatapannya itu sangat menggoda. Kemudian, wajahnya sedikit menunduk seperti tersipu malu tetapi tatapannya tetap tidak terlepas dari matanya.

“Um…”

Sakuta yang pertama kali memutuskan kontak mata. Ia melirik ke arah jalan yang menuju ke stasiun.

“Tidak ada siapa-siapa di sini,” ucap Mai sambil melihat ke sekeliling.

Sakuta gemetaran.

“Dan tidak ada mobil mencurigakan yang berhenti di sekitar.”

Mereka tidak perlu khawatir tentang pejalan kaki yang lewat, dan tidak ada paparazi yang terlihat. 

Sakuta tidak bisa mundur dan melewatkan kesempatan ini. Karena sudah tidak ada tempat untuk lari.

Ia meletakkan kedua tangannya di bahu Mai.

“……”

“……”

Mereka saling menatap satu sama lain untuk beberapa detik, lalu Sakuta mendekat dan Mai memejamkan matanya. Apa memang sudah refleks? Pikirnya. Mai menurunkan dagunya, seolah-olah dirinya gugup. Sakuta menekuk lututnya sedikit, agar wajah mereka sejajar, dan akhirnya bibir mereka saling bersentuhan.

“Mm…”

Suara yang lembut dapat terdengar keluar dari hidungnya. Sakuta merasakan kehangatan napas Mai di pipinya. Rasanya geli, pikirnya. Ia begitu fokus dengan bibirnya sampai ia lupa bernapas. Ketika ia mulai membutuhkan udara untuk bernapas, ia melepaskan ciumannya.

Mai menatanya seperti tidak terjadi apa-apa. Tetapi dia tidak bisa menyembunyikan pipinya yang berubah merah.

“……”

“……”

“K-katakan sesuatu.”

“Rasanya enak.”

“Dasar bodoh.”

Mai sangat tidak jujur.

“Boleh lagi?”

“Kau benar-benar bodoh.”

Kali ini dia bersungguh-sungguh mengatakannya. Dia menggelengkan kepalanya ke Sakuta. Suasana yang canggung perlahan memudar. Ia sendiri sudah merindukan hal itu.

“Lain kali,” ucap Mai.

“Aw. Kau membuatku bersemangat/terangsang, dan Aku sudah tak dapat menahannya lagi!”

“Sekarang bukan musim kawin, dan kau bukan seekor monyet, jadi kau bisa dan harus menahannya.”

“Itulah Aku yang sebenarnya. Seekor monyet dengan libido tinggi, dan ini semua salahmu, Mai-san.”

“Aku tidak butuh monyet sebagai pacar.”

“Aku hanya melakukan yang kau pinta.”

“Aku tidak memintanya!”

Dia menatap sinis ke Sakuta.

“Apa kau yaaakin?”

“Ya.”

“Tapi kau sangat imut, Mai-san.”

“Yang seperti itu tidak akan menyelamatkanmu. Kau terlalu terbawa suasana.”

“……”

“Tatapan ikan matimu itu juga tidak akan menyelamatkanmu.”

“Padahal Aku berniat untuk tatapan anak anjing yang memohon.”

“Kau tidak punya bakat untuk berakting. Kemungkinannya di bawah nol.”

Sebuah kritik yang sangat pedas.

“Yah kalau begitu, selamat malam.”

“……” Sakuta mencoba protes diam.

“Sakuta, kau juga harus mengatakan selamat malam,” ucapnya seperti sedang menegur tingkah laku seorang anak kecil.

“Selamat malam,” ucap Sakuta dengan nada kaku seperti robot.

“Nanti sering-sering kutelepon setidaknya.”

“Wow. Jadi tak sabar.”

Mai menghela napas panjang dan mengeluh putus asa.

“Baiklah, hanya kali ini saja Aku akan membiarkanmu lolos dari ini,” ucapnya dengan cepat.

Lalu, Mai melangkah maju mendekati Sakuta. Dia jinjit sedikit dan mendaratkan ciuman lembut di bibirnya. Ciumannya sangat singkat, hampir seperti sentuhan.

“Ciuman ‘lain kali’-nya sudah hangus.”

“Apa?! Ada batasnya?!”

“Tentu saja.”

Mai tersenyum lebar setelah dirasa sudah cukup untuk menggoda Sakuta sekarang ini. Dia berbalik seperti seorang penari yang berputar dan melangkah masuk ke pintu gedung apartemennya. Sakuta melihatnya sampai dia sudah masuk ke lift.

“Sial, sekarang Aku benar-benar bersemangat/terangsang. Apa yang harus Aku lakukan dengan semua libido ini?!”

Sakuta tidak bisa terus terangsang sampai matahari terbit. Situasinya saat ini tidak mengizinkannya. Ia masih ada hal yang perlu dilakukannya malam ini.

Ia harus pulang ke rumah dan berdiskusi serius dengan Futaba.

“Mungkin Aku bisa menunda masalah Futaba sampai besok…”

Tetapi, sepertinya tidak mungkin. Sambil mengeluhkan hal itu, ia berbalik pergi.