Pasar

(Penerjemah : Hikari)


Setelah keluar dari ruang dimensi, Chelsie dan Ruri berencana untuk pergi ke pasar di Negeri Raja Naga, tapi…

“Chelsie-san, pasarnya ada di mana? Apa kau punya mobil atau semacamnya?”

“Mobil… Maksudmu kereta kuda? Tentu saja tidak. Memangnya kau lihat ada kuda di sekitar sini?”

“Kalau begitu bagaimana caranya kita ke sana?!” Ini adalah tempat yang dikelilingi hutan. Luar biasa sulit untuk membayangkan bahwa pasar yang Chelsie bicarakan ada di dekat sini.

“Kalau kita berjalan kaki, akan perlu waktu lima hari hanya untuk sampai ke desa terdekat.”

“Lima hari?! Kita harus berjalan selama itu?!”

“Itu hanya jika kita berjalan kaki, tapi tidak ada yang bilang soal itu. Selain itu, pasarnya bukan berada di desa, itu ada di kota yang lebih jauh lagi.”

“Lebih jauh daripada itu tanpa ada cara transportasi selain berjalan kaki… Ah! Jangan-jangan kita akan melakukan warp seperti yang ada di cerita fantasi atau semacamnya?”

Membiarkan Ruri yang asyik sendiri dengan antusiasmenya yang semakin menjadi-jadi, Chelsie menyingkir ke sebuah area kosong tanpa penghalang. Dia kemudian dalam sekejap dibungkus cahaya. Ruri sama sekali tidak tahu apa yang sedang terjadi sementara dia menyipitkan mata karena cahaya yang membutakan itu yang makin lama makin besar sampai itu lebih tinggi daripada rumah dan pepohonan di sekitar mereka. 

“Woah woah woah woah!” Begitu cahaya itu memudar, Chelsie menghilang dan menggantikannya adalah sesuatu yang lain—seekor reptil raksasa yang ditutupi sisik-sisik keras dengan ekor dan sepasang sayap yang sama besarnya. “Chelsie-san berubah menjadi kadaaaaal!” Ruri berteriak panik, tapi Chelsie menegurnya seperti biasa.

[Aku bukan kadal; aku naga! Jangan samakan ras sehebat naga dengan kadal biasa. Itu benar-benar tidak sopan.]

Suara itu tidak terdengar lewat telinganya tapi bergema langsung ke dalam kepalanya.

“Suara barusan… Apa itu kau, Chelsie-san?”

[Aku menggunakan apa yang disebut ‘telepati’ untuk berbicara langsung ke dalam kepalamu. Aku tidak bisa bicara dengan normal dalam wujud nagaku.]

“Naga… Jadi kau selama ini ras naga kalau begitu.”

Ruri tadi berpikir Chelsie adalah seekor kadal besar awalnya, tapi saat dia mengelilingi wujud naganya dan mengamati dengan cermat, dia melihat dengan jelas betapa keliru dirinya. Chelsie bukanlah makhluk mirip ular dari kisah-kisah Timur tapi seekor naga bersayap dari legenda Barat. Meski begitu, wanita ini sangat… menyeramkan. Ruri bisa memperlakukan dia dengan normal karena dia tahu itu benar-benar adalah Chelsie, tapi kalau dia tidak fokus dengan fakta tersebut, aura mengintimidasi reptil raksasa ini akan membuatnya gemetar.

[Ayolah, berhenti bengong seperti dan naik ke atas.]

Kelihatannya, mereka tidak akan pergi lewat jalan darat tapi langit. Mereka jelas tidak perlu mobil kalau begini.

“Uh, bagaimana caranya? Memanjat ke atas lebih mudah untuk dikatakan daripada dilakukan…”

Saat ini, Chelsie menjulang melampauinya setinggi bangunan berlantai lima, dan sisik-sisik yang menutupi tubuhnya terlalu halus untuk agar bisa memanjat dengan mudah.

[Kau punya sihir, ‘kan? Gunakan kekuatan peri angin untuk mengangkat tubuhmu.]

Seperti yang diinstruksikan, Ruri membayangkan dirinya melayang di udara dan menggunakan sihirnya; tubuhnya mulai terangkat. Akan tetapi, dia mendapati ternyata sulit untuk menjaga keseimbangannya dan tidak bisa menahan dirinya tetap di satu tempat, malah berputar-putar di tengah udara.

[Aku tahu sulit untuk menjaga keseimbanganmu pada awalnya, tapi begitu kau terbiasa, aku yakin kau akan bisa terbang berdampingan denganku tidak lama lagi. Hanya saja ingat bahwa terbang menguras kekuatan sihir, jadi pastikan untuk mengawasi persediaan kekuatan sihirmu. Meski begitu, itu mungkin sesuatu yang tidak perlu kau cemaskan.]

Begitu dia dengan canggung mencapai kepala Chelsie, dia mencengkeram tanduk di atasnya.

[Baiklah, kita akan terbang, jadi berpeganglah yang erat.]

“Ya, Bu!”

Ruri membalas Chelsie dengan penuh semangat, yang kemudian membawa tubuh raksasanya ke langit. Dalam sekejap mata, mereka membumbung cukup tinggi sampai bisa melihat banyaknya pohon di bawah sana. Ruri tidak pernah nyaman naik roller coaster, tapi meski berada di atas Chelsie tanpa tali pengaman dan hanya tanduk wanita itu yang bisa diandalkan, dia di luar dugaan tidak merasa takut. Tidak diragukan lagi itu berkat sihir para peri angin yang dia rasakan melingkupi dirinya, yang memberinya rasa kepastian bahwa dia tidak perlu cemas akan mati karena jatuh sekalipun dia terlempar.

Selain itu, mungkin Chelsie sudah memasang sebuah dinding pelindung di sekitar mereka karena angin yang bertiup melewatinya hanya sekuat hembusan angin lembut. Cuacanya cerah sekali dan jarak pandangnya bagus. Di bawah mereka, hutan tempat rumah Chelsie berada itu membentang jauh. Melihat dari atas, hutan luar biasa luas itu tidak berujung. Jika seseorang dilempar ke sini tanpa perlengkapan sama sekali, mereka sudah pasti tidak akan bisa bertahan. Itu adalah pengingat yang serius bagi Ruri bahwa adalah sebuah keajaiban dia bisa selamat.

Dia seharusnya sudah tewas saat ini jika bukan karena para peri. Mengatakan bahwa dirinya beruntung adalah pernyataan yang meremehkan. Dan kemungkinan besar orang-orang di Nadasha tidak mengira bahwa Ruri akan selamat di hutan itu juga. Meski begitu, Ruri berharap mereka akan berpikir bahwa dirinya sudah mati dan menganggap kasus itu sudah selesai…

Mereka sudah melewati desa yang seharusnya memerlukan waktu lima hari untuk dicapai dalam waktu beberapa jam saja. Begitu mereka terbang melewati beberapa pemukiman kecil, pemandangan sebuah kota yang terbentang luas mulai terlihat. “Kita sampai,” Chelsie memberitahu sembari mendarat di sebuah tempat yang cukup jauh dari pintu masuk kota. Walaupun dia lebih suka untuk mendarat sedikit lebih dekat ke pintu masuk, Ruri turun dari kepala Chelsie. Begitu Ruri menginjak tanah, tubuh Chelsie sekali lagi diselimuti cahaya dan dia kembali ke wujud manusianya yang biasa.

Berikutnya, dia menarik keluar wig cokelat Ruri dari ruang dimensinya dan memberikan itu pada gadis tersebut, membuat Ruri bingung. “Aku hampir saja lupa, tapi turuti aku dan pakai itu sebelum kita memasuki kota. Dan pastikan kau tidak pernah melepaskannya sementara kita di sana.”

“Tidak masalah, tapi bisa katakan alasannya?”

“Itu karena warna rambutmu amatlah langka di dunia ini. Kalau kau tidak bertindak dengan hati-hati, ada kemungkinan pedagang budak akan mengincarmu, jadi berhati-hatilah untuk tidak melepaskannya di depan umum apapun yang terjadi.”

“Apa ada perbudakan di dunia ini?!” Berita itu merupakan pukulan telak bagi Ruri karena dia dibesarkan di dunia di mana konsep perbudakan sangatlah asing. Keamanan publik di dunia ini pastilah lebih  buruk lagi daripada yang Ruri tadinya pikirkan.

“Tidak di sini, tapi ada beberapa negara di mana perbudakan adalah hal yang legal. Mereka yang berasal dari ras yang tidak bisa atau memiliki warna yang langka bisa dijual untuk harga yang lebih tinggi, jadi kasus-kasus penculikan bukanlah hal yang tidak biasa. Kau kelihatannya berasal dari tempat yang damai, tapi kau perlu berhati-hati. Terutama di sekitar manusia.”

Ruri tidak begitu senang diajari begitu seperti anak balita, tapi dia menahan diri untuk tidak memprotes. Sesuatu yang Chelsie katakan barusan menarik perhatiannya.

“Terutama manusia?”

“Itu benar, manusia.” Menangkap tanda bahwa Ruri tidak mengerti peringatan ini, Chelsie memperhatikan sekitar Ruri. Ruri mengikuti arah pandangan Chelsie dan hanya menemukan para peri, yang mengikuti dia seperti biasa. Ruri menelengkan kepala, sama sekali kebingungan. Chelsie melihat ini dan menjelaskan sambil menghela napas. “Satu-satunya orang yang akan mencoba menyerang seseorang dengan peri sebanyak ini berkeliaran di sekitarnya adalah manusia dengan cukup kekuatan sihir untuk melihat peri atau seseorang yang ingin mati.”

“Bukankah ada setengah-manusia dengan kekuatan sihir yang lemah juga?”

“Bahkan sekalipun tidak bisa melihat mereka, setengah-manusia memiliki indera yang ratusan kali lebih tajam daripada manusia, jadi mereka akan setidaknya dapat merasakan para peri sebanyak ini di satu tempat. Meski demikian, hanya sedikit manusia dengan kekuatan sihir yang besar yang bisa melihat mereka. Karena itulah aku mengatakan padamu untuk berhati-hati supaya kau tidak berakhir menjadi target.”

“Aku bukan anak kecil; kau tidak perlu mengulanginya lagi, terima kasih banyak.”

Jika bahaya akan menimpa Ruri, maka bahaya yang sebenarnya akan menimpa segala sesuatu di sekitar dia. Sementara mereka berjalan ke pintu masuk kota, Chelsie terus memberikan Ruri begitu banyak peringatan sampai-sampai dia merasa telinganya akan jatuh.

Begitu mereka melewati gerbang utama, mereka menemukan diri mereka berada di… sebuah surga bulu halus dan empuk. Ada bangunan-bangunan dan jalan berbatu bergaya Barat khas Eropa dengan tempat-tempat usaha berbaris di ujung kedua jalan, yang dipenuhi pembeli. Setidaknya, itulah yang terlihat sedang mereka semua lakukan. Tanpa adanya tas atau barang belanjaan di tangan membuatnya sulit untuk dipastikan, tapi kemungkinan besar itu karena sihir ruang dimensi yang Ruri baru saja pelajari hari ini.

Pemandangan kota ini, melihat begitu banyak orang di satu tempat untuk pertama kalinya setelah sekian lama, membuat Ruri yang awalnya sudah sangat bersemangat menjadi semakin antusias. Ada manusia-hewan yang sangat mirip manusia tapi memiliki telinga dan ekor hewan. Ada pula manusia-hewan yang justru kebalikannya, yang mirip hewan yang berjalan dengan dua kaki. Berbagai macam makhluk dari jenis yang berbeda sedang berjalan di sini, sana, dan di mana-mana.

Bagi setengah-manusia yang memiliki wujud manusia utuh seperti Chelsie, sulit untuk menebak wujud lain yang mungkin mereka miliki—atau mungkin saja mereka malah sama sekali  bukan setengah-manusia, tapi, untuk sebagian besar, kota ini bisa dibilang seluruhnya terdiri dari setengah-manusia. Anak-anak yang mereka lihat di jalan semuanya memiliki telinga dan ekor hewan atau seperti hewan di bagian atas atau bawah tubuh mereka.

Ada setengah-manusia yang masih terlalu kecil untuk memiliki wujud manusia sepenuhnya; anak-anak kecil yang berbulu halus dan lucu itu benar-benar menggemaskan. Ruri benar-benar ingin mengelus mereka… Dia secara impulsif mendekati salah satu anak-anak yang sedang bermain dan berjongkok untuk menatap matanya. Ruri memperhatikan ekor kucing panjang lembut yang berdiri tegak di belakangnya. Gadis kecil lucu ini kelihatannya tidak berpengalaman mengambil wujud manusianya, jadi selain telinga dan ekor, dia juga memiliki ciri khas kucing lain seperti hidung dan misai di wajahnya. Gadis tersebut berhenti bermain dan menatap Ruri.

“Hei, boleh tidak aku membelaimu sedikit?”

“Baiklah~”

Ruri tadinya yakin anak itu akan waspada dengan orang aneh yang tidak pernah mereka temui sebelumnya yang mendadak meminta izin untuk menyentuh mereka, tapi, yang membuat Ruri kaget, anak ini setuju dengan cukup santai. Ruri sendiri cemas dengan kurang hati-hatinya anak ini, tapi penampilannya yang lucu ditambah dengan bulunya yang megar membuat Ruri tersenyum senang. Dia memberi telinga anak kecil itu elusan lembut; kedua telinga itu hangat disentuh dan berkedut seakan geli, tidak ragu ini membuktikan bahwa ini bukanlah kostum. Ruri pun melanjutkan, melakukannya pada seorang anak kecil berkepala kelinci seperti yang ada di Alice in Wonderland dan mengelusnya juga.

Penampilan mereka yang menggemaskan membuat Ruri terpesona. “Ya ampun, ini benar-benar membahagiakan…”

“Apa yang sedang kau lakukan, Ruri? Ayo pergi.”

“Lihat, Chelsie-san! Mereka benar-benar luar biasa manis!”

“Mereka anak-anak; tentu saja mereka manis. Nanti saja pergi berkelilingnya setelah kita selesai melakukan tujuan kita ke sini,” Chelsie bilang, menarik lengan Ruri.

Walaupun enggan untuk pergi, dia berpisah dengan anak-anak itu, yang balas melambaikan tangan padanya. Dia kemudian mengikuti Chelsie dekat-dekat, supaya tidak terpisah di kota yang ramai ini, dan menuju ke area pasar. Di perjalanan mereka ke sana, Ruri tidak bisa menyembunyikan kekagetannya pada beberapa manusia-hewan yang dia lihat melintas di jalan itu, tapi anehnya, mereka juga sama-sama terlihat kaget ketika melihat Ruri, yang membuatnya bingung.

Di alun-alun kota, ada banyak sekali pilihan toko dan penjual. Tidak hanya ada makanan, seperti buah dan sayuran yang tidak pernah Ruri lihat sebelumnya, ada juga beragam jenis barang lainnya dengan kegunaan yang misterius. Beberapa membuka kios dan ada pula yang hanya memajang barang dagangan mereka di atas permadani yang dibentangkan di atas tanah.

Meskipun yang dijual tidaklah sama, tempat ini semakin tidak mengingatkan Ruri dengan pasar biasa dan lebih seperti pasar barang loak yang sering dia kunjungi di akhir-akhir pekan di dunia asalnya.

Ruri dan Chelsie menemukan sebuah area terbuka dan membentangkan sebuah permadani besar di tanah, menaruh tumbuhan-tumbuhan obat dan buah-buahan mereka di atasnya. Akan tetapi, tatapan-tatapan tajam yang mereka terima dari orang-orang di sekitar mereka tidaklah nyaman. Tatapan ini terus berlanjut sejak mereka memasuki kota. Orang-orang akan terlihat jelas terkejut begitu mereka melihat Ruri dan Chelsie, atau mereka akan memandangi Ruri dan mulai saling berbisik.

Dia memeriksa untuk memastikan kalau dia tidak secara tidak sengaja mengacaukan rambutnya, tapi itu baik-baik saja. Rambut palsunya terpasang pas, jadi warna rambut aslinya tidaklah masalah di sini. (Apa menurut mereka bajuku ini aneh? Mungkin bajuku ketinggalan zaman, atau semacamnya.) Ruri meminjam baju yang dia pakai ini dari Chelsie, tapi menurut Ruri, Chelsie tidak begitu mengikuti tren fesyen karena wanita itu tinggal sendirian di hutan yang luas, jadi gaya pakaiannya yang ketinggalan zaman sangatlah mungkin.

Begitu dia merasa itulah masalahnya, dia mendengar suara seorang anak kecil. “Lihat, Ibu! Kakak itu punya banyak peri di sekitarnya!”

Para peri yang biasanya berkeliaran di sekitar kedua bahu dan kepalanya adalah pemandangan sehari-hari untuk gadis itu sekarang, tapi dia ingat apa yang pernah Chelsie katakan tentang hal itu adalah langka. Sekarang Ruri mengerti kenapa semua orang memandanginya selama ini. 

“Hanya tebakan saja, tapi apa mereka menganggapku sebagai semacam hewan langka?”

“Semacam itu, ya,” Chelsie membalas bisikan pertanyaan Ruri, membuatnya terguncang.

Dia telah menjadi bahan tontonan bahkan tanpa menyadarinya. Walaupun dia ingin menjalani hidup yang biasa-biasa saja sebisa mungkin, dia terlalu menyayangi peri-peri yang manis ini sampai tidak tega mengusir mereka. Dia tidak mungkin melakukan itu sekarang. Dia pun menenangkan diri, fokus untuk menata barang dagangannya, dan pada saat semuanya siap, permadani tempat Ruri berjualan dikerumuni banyak orang.

“Apa kau memetik tumbuhan-tumbuhan obat ini sendiri?”

“Ya, benar.”

“Kalau begitu, aku beli ini.”

“Aku akan membeli yang ini!”

“Hei, jangan nyalip, sialan!”

Mereka baru buka untuk semenit sebelum itu berubah menjadi zona perang, dengan para pembeli yang saling dorong.

“Nona, tolong bungkus yang ini dan yang ini.”

“Baik! …Um, Chelsie-san, bisa minta tolong urus yang itu?” tanya Ruri, melihat dirinya begitu sibuk melayani orang lain, tapi si pembeli yang meminta Ruri untuk membungkus barang yang dia beli cepat-cepat menyela.

“Ah, tidak, tidak. Aku ingin nona yang melakukannya.”

Dia merasa curiga kenapa mereka ngotot, tapi karena tidak ada waktu untuk memperdebatkannya dengan banyaknya pembeli yang berdatangan, dia lanjut memenuhi permintaan mereka. 

“Nona, tumbuhan obat ini untuk apa?”

“Itu? Umm, apa ya waktu itu? Chelsie-san?”

“Setelah kau mengeringkannya, giling sampai menjadi bubuk, larutkan dalam air panas, dan minum sebagai obat batuk.”

“Dan itulah kegunaannya.”

Para pembeli terus berbicara ke Ruri untuk semuanya. Entah untuk mengurus dagangan, menerima pembayaran, menjelaskan barang dagangan—mereka tidak pernah sekalipun, tanpa terkecuali, meminta Chelsie. Karena dia begitu kewalahan, dia akan meminta Chelsie untuk membantu, tapi semua orang akan mencoba untuk mencegahnya. 

(Tapi kenapa~?!)

Ruri tidak bisa membedakan antara satu tumbuhan atau buah dengan yang lainnya, sama sekali tidak tahu harga atau bahkan mengerti tentang nilai mata uang, dan karena itu jadi tidak bisa menghitung nilai totalnya. Itu artinya dia harus melewati proses yang memakan waktu menanyai Chelsie tentang setiap hal sambil bekerja. Selain itu, dia terus melakukan permintaan yang tidak berkaitan dengan bisnis juga, seperti berjabat tangan dan permintaan untuk mengelus kepala anak-anak mereka. Stok barang dagangan mereka habis dalam sekejap. Keributan itu pun  selesai dan Ruri yang tersisa—satu-satunya yang jelas sangat kelelahan.

[Kau melakukannya dengan sangat baik, Ruri.]

[Kerja bagus!]

“Ya ampun, kenapa hanya aku…? Chelsie-san tepat di sebelahku sepanjang waktu.”

“Sudah kubilang kalau seseorang yang disayangi para peri sepertimu adalah hal yang tidak biasa, ya ‘kan? Mereka mencoba mendapatkan sedikit pun kekuatan peri yang bisa mereka dapat dengan menyentuh entah dirimu atau apapun yang kau ambil sendiri.”

“Kau bisa menerima kekuatan peri dengan berjabat tangan?”

“Tidak, tidak sama sekali. Sebut saja itu masalah perasaan daripada logika. Tapi tetap saja, itu saja cukup menunjukkan padamu seberapa besar kekuatan para peri menggerakkan dunia ini; ini pada dasarnya adalah sebuah agama. Para setengah-manusia yang bisa melihat peri menganggapmu sebagai sosok yang berharga dan suci, jadi mereka ingin berinteraksi denganmu sebanyak yang mereka bisa.”

“Yah, lebih baik disukai daripada dibenci, tapi kurasa aku tidak bisa tahan kalau ini terjadi setiap waktu…”

“Aku yakin ini akan mereda kalau kau mengunjungi kota ini beberapa kali lagi. Tapi tetaplah waspada, walau begitu. Ini bukan berarti orang-orang hanya merasa sayang padamu. Jangan lupa bahwa selalu akan ada mereka yang mencoba untuk memanipulasimu, jadi jangan begitu mudah percaya dengan orang asing.”

“Ya, Bu. Aku mengerti, Bu,” balas Ruri, muak bahwa dia lagi-lagi mendapatkan peringatan yang tak ada hentinya.

Sementara Ruri pergi berkeliling kota, mencari barang-barang yang perlu dibeli dengan uang yang dia dapatkan dari hasil penjualannya, dia tidak sengaja melakukan kontak mata dengan seorang pria tua yang berdiri di toko yang menjual buah. Pria itu melambai padanya, dan Ruri dengan waspada mendekatinya.

“Bagaimana dengan ini, nona muda? Kujamin rasanya enak.”

Si penjual memiliki banyak sekali buah yang tidak pernah dia lihat sebelumnya di dunia asalnya, semuanya berjejer rapi. Pria itu merekomendasikan satu buah, memastikan bahwa ini sedang musimnya dan sudah matang, tapi dengan warna bintik-bintik besar merah dan biru yang seperti beracun, kelihatannya buah itu benar-benar membutuhkan keberanian besar bahkan untuk gigitan pertamanya. Sementara Ruri bertanya-tanya dalam hati apakah buah ini benar-benar bisa dimakan, dia memutuskan untuk membeli sebutir untuk memuaskan rasa penasarannya.

“Baiklah, aku beli satu.”

“Oh, jangan hanya ambil satu, ambil saja yang banyak,” balas si penjaga toko, sementara Ruri terus menyaksikan orang itu memasukkan buah satu demi satu ke dalam sebuah kantong, membuat Ruri panik.

“Tidak, tunggu! Satu saja cukup, aku tidak mungkin bisa membeli ini semua sekarang lagipula…” Ruri berencana untuk membeli barang lain setelah ini dan, karena dia tidak tahu berapa harganya, dia tidak ingin melakukan pengeluaran yang sia-sia. Akan tetapi, pria tua itu menyodorkan kantong berisi penuh buah itu dengan senyum hangat.

"Tidak perlu membayarku. Ini adalah hadiah kecilku untukmu."

"Huh? Tapi, uh… aku tidak mungkin…”

"Tidak apa-apa. Tidak apa-apa. Sebagai gantinya, datanglah lagi ke kota ini, ya? Kalau kau tetap mengingatku dan belanja di tokoku lagi, aku akan sangat menghargainya!"

Ruri kebingungan, tapi Chelsie menyuruhnya dari samping, "Terima saja, nak."

Ruri dengan ragu-ragu menerimanya dan mengucapkan terima kasih dengan senyum sopan. "Baiklah kalau begitu, aku menerimanya dengan senang hati. Terima kasih banyak."

"Datang lagi, ya."

Ruri melambai pamit pada si pria penjual buah yang murah hati itu dan melanjutkan urusannya. Setelah itu, dia melirik-lirik toko dan kios lain—dan setiap kali dia melakukannya mereka memberinya sambutan yang paling hangat—sembari Chelsie terus-terusan menegur dia karena berkeliaran penasaran. Walaupun mereka semua memberi banyak barang yang melebihi apa yang bisa bawa, Ruri tidak membayar satu koin pun untuk semua itu.

"Apa ini juga karena aku memiliki para peri di sisiku?"

"Tempat manapun di mana para peri berkumpul akan jadi subur; tanahnya jadi kaya dan bencana alam menghilang. Jadi, menjawab pertanyaanmu: itu karena kalau kau datang ke sini, para peri akan datang, dan jika para peri datang, tanah di sini akan makmur. Semua ini adalah harga yang kecil jika artinya membuatmu datang ke sini lagi."

"Oh wow…" Para peri di dunia ini hampir seperti dewa, seperti Buddha di dunia asalnya. Tapi mengingat kau bisa melihat peri di sini dan sihir berbaur begitu erat dengan kehidupan sehari-hari orang di dunia ini, kekaguman dan penghormatan mungkin tidak terukur. Ruri akhirnya mulai paham betapa besar dampak yang para peri miliki di dunia ini—begitu pula kekuatan berbahaya yang dia miliki, hanya karena sangat disayangi oleh para peri-peri itu.

(Semoga aku tidak terseret dalam lebih banyak masalah lagi, meski begitu…)

Tapi kecemasan itu terbang melayang dalam sekejap saat dia sadar ini adalah perjalanan belanjanya yang pertama. Mereka memiliki baju-baju yang dia inginkan dan jumlahnya banyak. Bukan gaun-gaun mewah dengan banyak renda seperti yang diberikan padanya di Nadasha, tapi baju praktis yang memudahkannya bergerak. Pilihannya membuat Ruri menghela napas lega. Meski begitu, fesyennya berbeda dengan yang ada di dunianya, dan tidaklah umum bagi para gadis untuk memakai celana di sini, dengan sebagian besar mengenakan rok atau gaun. Walau demikian, karena Rudi tinggal di hutan, celana panjang di mana dia bisa bergerak aktif adalah sebuah kebutuhan.

Bukannya mereka tidak punya pilihan celana panjang, tapi tidak ada satu pun yang kelihatannya manis. Itu membuatnya berpikir untuk membuatnya sendiri saja, tapi dia tidak terlalu pintar dalam menjahit dan memesannya khusus akan membuatnya jadi mahal.

Kehabisan pilihan, Ruri menetapkan sepasang celana panjang longgar sederhana. Sebagai tambahan untuk barang-barang pribadinya yang lain, seperti sepatu dan pakaian dalam, dia membeli suplai makanan yang diawetkan serta bumbu dapur. Begitu dia selesai, dia naik ke atas Chelsie, yang kembali ke wujud naganya, dan mereka terbang pulang ke rumah mereka di hutan.