Sedikit Kegelisahan

(Penerjemah : E-Chan)


Sebulan setelah menaklukan sekumpulan Wyvern, Amou dan Sorano memutuskan untuk mengambil ujian kenaikan tingkat B. isi dari ujian ini adalah mereka harus berhasil menyelesaikan misi pengawalan yang ditentukan oleh guild. Selama ujian, tidak hanya memberikan keamanan pada target pengawalan sebagai prioritas utama, Guild juga akan memeriksa apakah mereka bisa bekerja sama dengan para petualang lainnya atau tidak.

Saat Eto mengambil ujian promosi ke tingkat B, pedagang yang harus dia kawal sebenarnya sudah menyewa beberapa prajurit bayaran sebagai pengawalnya. Dan para prajurit bayaran itu terus mengatakan kalau mereka tidak percaya pada para petualang. Seandainya Eto kehilangan kesabarannya saat itu, misi pengawalan akan berakhir dengan kegagalan. Kesimpulannya, kunci dari ujian ini sebenarnya adalah untuk melihat bagaimana peserta ujian bekerja sama dengan para prajurit bayaran yang tidak repot-repot menyembunyikan rasa tidak suka mereka terhadap petualang dan menyelesaikan misi tersebut.

Tapi Eto tidak begitu khawatir tentang Amou, karena dia dulunya adalah seorang petualang tingkat B. Meskipun dia memang tidak begitu sering bicara, Amou masih bisa berkomunikasi dengan petualang dan prajurit bayaran lainnya saat dibutuhkan. Sebagai tambahan tidak hanya memiliki kekuatan tempur yang tinggi, Amou juga selalu tenang dan tidak terlalu emosional, membuatnya sangat cocok untuk ujian ini.

Masalahnya adalah Sorano. Tumbuh besar di sebuah desa para elf, Sorano cenderung bertindak berdasarkan emosinya. Untungnya, setelah berulang kali dibujuk Eto untuk tidak seperti itu, karena hal tersebut dapat membuat party sulit untuk bekerja sama dengannya, gadis itu kini mampu mengendalikan emosinya di dalam party mereka. Meski demikian, tidak diketahui seberapa banyak Sorano bisa mengendalikan emosinya di depan petualang dan pedagang lain yang dia temui untuk pertama kali. Tentu saja, bukan berarti dia pasti akan melukai parah pihak lainnya, tapi Eto berpikir gadis itu mungkin saja benar-benar meninju seseorang sekali dan kembali.

Karena hanya budak-budaknya yang akan mendaftar untuk ujian ini, Eto menandatangani kontrak, mengatakan bahwa dia akan menanggung sepenuhnya tanggung jawab jika kedua orang itu membuat masalah di tengah-tengah misi. Tentu saja, Eto berniat memberitahu Sorano agar setidaknya mengendalikan emosi selama itu tidak membahayakannya, tapi Eto masih tidak tahu akan seperti apa hasilnya. Dan saat Eto berkonsultasi dengan Kohaku tentang hal ini, dia hanya tertawa dan berkata, “Sorano akan baik-baik saja. Kau terlalu khawatir.”

Untuk sesaat, Eto berpikir bahwa Sorano mungkin lebih dewasa yang dia pikirkan selama ini, tapi saat dia mengingat bagaimana gadis itu biasanya bertindak di sekitar mereka, Eto menggelengkan kepala.

“Tidak, aku yakin kau tahu kalau Sorano punya sisi yang kekanak-kanakan, ‘kan? Seperti memakan bulat-bulat daging tanpa memotong-motongnya atau mengabaikan apapun yang ada di depannya saat ada sesuatu yang dia inginkan.”

“Kalau kita membicarakan tentang dirinya yang biasa, maka itu benar. Bukankah itu tidak masalah? Tapi sebagai seorang petualang, kurasa Sorano sedikit luar biasa. Bagaimana menjelaskannya, ya? Ambisi? Dia punya ambisi yang sangat besar, lho?”

“Ambisi? Dia punya ambisi seperti apa?”

“Itu rahasia!”

Setelah itu, tidak peduli berapa kali Eto menanyakan tentang ambisi Sorano, Kohaku tidak pernah memberitahukannya.

☆☆☆

Di perkemahan tempat ujian tingkat B dilaksanakan, para prajurit bayaran yang dipekerjakan oleh si pedagang dari para petualang yang menjalani ujian sedang berada dalam suasana yang sangat tegang. Kelihatannya, isi dari ujian ini mirip dengan ujian yang dijalani Eto. Suasana ini dimulai karena seorang prajurit bayaran yang berkata pada para petualang bahwa mereka akan jaga malam sendiri, jelas menyiratkan bahwa mereka tidak peduli apa yang para petualang itu lakukan, karena para prajurit tersebut tidak mempercayai mereka. Dan salah satu petualang melawan, yang mana menyebabkan konflik.

Tapi saat itu konflik tersebut memanas hingga ke titik yang menyulitkan bagi mereka untuk mundur, sebuah tangan besar menyentuh punggung mereka berdua, memisahkan mereka. Saat mereka menoleh ke samping, berpikir apa yang terjadi, mereka melihat seorang pria besar sedang tersenyum pada mereka. 

“Bertengkar itu tidak baik. Suara berisik bisa menarik perhatian monster dan hewan liar. Soal jaga malam, kenapa kita tidak membuatnya menjadi penjagaan dua lapis? Para prajurit bisa mengawasi lapisan dalam sementara kami menjaga lapisan luar. Dengan begitu, ini akan sama seperti biasanya. Bukan begitu?” kata Amou, menatap langsung mata si prajurit bayaran dan si petualang. Sama sekali tidak siap dengan usulan Amou, keduanya menerima, berkata, “Itu benar.”, bahkan meskipun Amou tidak benar-benar mencoba mengintimidasi mereka.

Sejak saat itu, setiap kali seorang petualang akan bertengkar dengan prajurit bayaran, Amou akan muncul dan menyelesaikan perselisihan itu. Bahkan ada saat di mana si pedagang berkata kasar pada para petualang, tapi berkat Amou, itu benar-benar terselesaikan. Bahkan sekalipun dia tidak benar-benar mencoba menakut-nakuti mereka, entah bagaimana penampilan Amou mengalihkan kedua pihak dari perselisihan mereka. Di tengah-tengah semuanya itu, Sorano tetap tidak mempedulikan situasi di belakang Amou, dan saat gilirannya untuk berjaga, dia menjauhkan monster apapun dengan kemampuan pencarian tingkat tingginya dan serangan jarak menengah busurnya.

Kenyataannya, Amou dan Sorano, yang berada di party yang sama yang dipimpin Eto, sangat terkenal di Guild. Dan melihat skenario ujian yang ditulis ulang oleh keberadaan Amou, si penguji yang menyertai mereka berpikir bahwa, kalau terus begini, ini bahkan tidak bisa disebut ujian.

Dan saat giliran Sorano yang berjaga, tidak peduli siapa yang ikut berjaga bersamanya, monster-monster yang mendekat dalam jarak tertentu akan dikalahkan begitu saja, tanpa pihak lain melakukan apapun. Dengan perbedaan kemampuan seperti itu, sulit bagi si penguji untuk mengukur kemampuan petualang lainnya. 

Karena itulah, berkat Amou dan Sorano, ujian ini akan berakhir tanpa masalah apapun. Akan tetapi, saat mereka tinggal satu desa lagi jauhnya dari ibu kota, sesosok Hobgoblin muncul di jalan raya dari hutan di sebelah kanan mereka.

Itu sebenarnya sangatlah aneh. Karena mereka berada dekat dengan ibu kota, para Kesatria dan petualang seharusnya sudah secara rutin menaklukkan monster-monster di dekat jalan raya, yang membuat bahkan Goblin, yang adalah monster yang umum, langka sekali terlihat di sini. Tapi sekarang, sesosok Hobgoblin, muncul di hadapan grup ini, meskipun jumlah mereka kecil dan bagaimana biasanya mereka berburu mangsa di kedalaman hutan. Saat Amou dan Sorano mengamati Hobgoblin itu, salah satu petualang bergegas maju dan menebas tubuh bagian atas si Hobgoblin dengan greatsword-nya.

“Bagaimana! Aku akhirnya mengalahkan seekor monster!”

Petualang tersebut berteriak sambil memegang pedangnya. Sebenarnya, jika seorang petualang ingin menjadi petualang tingkat B, orang tersebut harus sensitif  terhadap hal-hal aneh yang terjadi di hutan untuk memastikan keamanan target pengawalan mereka. Dari situ, bisa disimpulkan bahwa meskipun petualang itu memiliki kemampuan untuk mengalahkan Hobgoblin dengan satu ayunan pedangnya, dia kekurangan kemampuan untuk memperkirakan isi ujian. Bagaimanapun, dengan kemunculan si Hobgoblin, Amou dan yang lainnya tetap waspada dengan sekeliling. Akan tetapi, bahkan setelah menunggu beberapa saat, Hobgoblin barusan adalah satu-satunya yang muncul. 

Setelah menguliti monster tersebut dan memproses bangkainya, karavan mulai menyusuri jalan lagi. Dan pada saat itulah, Sorano mendadak merasakan yang terarah pada mereka dari kedalaman hutan di sebelah kanan mereka. Akan tetapi, tatapan tajam itu dipenuhi dengan hawa membunuh yang menghilang dalam sekejap. Kemudian, Sorano segera berjalan mendekati Amou, yang masih tetap waspada dengan sekitarnya di garis depan.

“Amou, apa kau tadi merasakan tatapan misterius dari dalam hutan itu?”

“Aku tidak merasakannya. Tapi, aku memang merasakan firasat buruk, yang tidak bisa kujelaskan, karena kita memasuki jalan raya…”

“Aku mengerti.”

Karena informasi itu tidaklah pasti, mereka menunda melaporkan itu pada si penguji, tapi mereka memutuskan untuk lebih waspada.

Bahkan setelah berpikir beberapa lama, Sorano tidak tahu apakah tatapan tajam yang dia rasakan barusan. Itu jelas bukan sesuatu yang bisa dia abaikan begitu saja dengan berpikir bahwa itu hanya halusinasinya, tapi karena tidak ada bahaya nyata untuknya dan yang lain, dia tidak punya pilihan lain selain melanjutkan ujian.

Dengan sesosok Hobgoblin yang tidak biasanya orang lihat di jalan raya dan tatapan membunuh yang dia rasakan, Sorano kembali ke ibu kota dengan perasaan sedikit gelisah yang membayangi pikirannya.