Serikat Tinta dan Suksesi

(Translator : Hikari)


“Myne, Master Benno bilang padaku untuk bertanya kapan lagi kau senggang,” kata Lutz.

Sekarang sudah sepuluh hari setelah kelahiran Kamil saat Firma Gilberta meminta pertemuan denganku. Kurasa Benno sudah menemukan lokakarya lilin untuk mengajakku pergi—atau tepatnya, hanya itu satu-satunya alasan yang bisa kupikirkan kenapa dia menghubungiku.

“Dia mau membawaku ke sebuah bengkel lilin, ‘kan? Lebih baik kalau aku mengajak Fran denganku, jadi bagaimana kalau lusa saat pagi hari?”

“Bukan, sepertinya ada orang yang mau bertemu denganmu.”

“...Apaaaa? Aw.” Semangatku padam dalam sekejap. Aku inign ke lokakarya lilin secepat mungkin, tapi mimpiku itu tidak terwujud. Aku setuju untuk pergi, meski dengan bibir cemberut.

“Kau mungkin mau mengajak Gil daripada Fran. Master Benno bilang orang itu adalah seorang perajin dari sebuah bengkel tinta.”

Kata-kataku itu membuat semangatku kembali melambung seperti burung phoenix yang lahir kembali. Aku sudah menunggu untuk bertemu seseorang dari lokakarya tinta untuk membicarakan tentang pengembangan tinta baru; ini akan jadi kesempatan bagus untuk berbicara membuat tinta berwarna.

“Eheheh. Aku tidak sabar lagi, Lutz.”

“Suasana hatimu cepat berubah.” Lutz melemparkan pandangan jengkel padaku, yang membuatku menyadari sesuatu. Almarhum kepala Serikat Tinta dulu telah mengorek-ngorek informasi tentang aku. Mungkin kepala yang baru juga mengikuti jejaknya.

“...Um, tunggu, apa aku benar-benar akan bertemu dan berbicara dengan seseorang dari Serikat Tinta?” tanyaku cemas.

Lutz melihatku, kemudian sibuk berpikir sebentar sebelum membalas: “Kalau Master Benno pikir itu baik-baik saja, mungkin memang begitu.”

“Baiklah. Aku akan menantikannya kalau begitu.”


Pada pagi yang dijadwalkan, Lutz datang untuk menjemputku, dan kami berangkat ke Firma Gilberta bersama Damuel dan Gil. Walaupun Mark kelihatan sangat sibuk, dia masih datang ke luar begitu melihat kami lewat jendela toko.

“Selamat pagi, Lady Myne. Para pengunjungmu sudah ada di sini.”

“Selamat pagi, Mark. Bisakah kau berbaik hati untuk menyempatkan diri sejenak dari harimu yang sibuk ini untuk memandu kami pada mereka?”

Dengan senyum tenangnya yang biasa, Mark mengantar kami ke kantor Benno di bangunan Firma Gilberta, di mana aku menemukan seorang kepala tukang yang terlihat tidak asing lagi dan seorang wanita muda yang tidak kukenal sedang menunggu. Si kepala tukang mengerutkan alisnya dengan cara yang sama seperti yang kulihat terakhir kali.

Aku bisa tahu bawah wanita muda tersebut telah berusia dewasa karena dia menata rambutnya yang berwarna cokelat kemerahan itu diikat ke atas, walaupun itu hanyalah satu utas kepangan rambut yang dipuntir-puntir menjadi sebuah sanggul, jadi aku bisa menebak kalau orang itu tidak begitu peduli dengan penampilan. Cara matanya yang kelabu dipenuhi rasa ingin tahu melihat ke sana-sini membuatnya terlihat sangat muda.

“Hei, hei, Ayah. Itu dia, ya?”

“Dia kaya. Jangan menunjuk.”

Kelihatannya, mereka adalah ayah dan anak. Pria itu memperingatkan dengan suara rendah, dan wanita itu segera menyembunyikan tudingan jarinya ke balik punggung. Tapi matanya—dua bola kecil dengan rasa penasaran tanpa henti—tetap terkunci padaku.

“Selamat pagi, Lady Myne,” Benno menyambutku ke dalam kantornya dan memberi isyarat agar aku duduk di sebelahnya. Aku mengangguk dan melihat Damuel, yang dengan mulus memanduku ke sana dan membantuku duduk dengan keanggunan yang terlatih. Benar-benar seperti yang kubayangkan dari seorang bangsawan.

“Aku Bierce. Wolf meninggal, dan sekarang aku adalah kepala yang baru dari Serikat Tinta. Aku tidak mau ini, tapi karena sekarang aku sudah mengambil pekerjaannya, aku mau melakukannya sebisa mungkin untuk membantu menyelamatkan Serikat,” si kepala tukang berkata sebelum mengusap alisnya dan menjelaskan apa yang terjadi di Serikat Tinta.

Kelihatannya, situasi kematian Wolf sangatlah mencurigakan, dan tidak ada satu pun kepala tukang di Ehrenfest menginginkan pekerjaan itu. Tidak ada yang mengajukan diri, malah sebaliknya mencoba mendorong tanggung jawab itu pada orang lain sampai akhirnya Bierce yang menanggungnya.

Turut bersimpati.

“Aku tidak suka berbicara buruk tentang orang yang sudah mati, tapi… Wolf bertindak terlalu jauh dan terlibat dalam hal-hal yang tidak seharusnya,” kata Bierce, kepalanya tertunduk dalam. Kelihatannya dia mengalami saat-saat yang luar biasa berat membereskan semua kekacauan Wolf, yang tanpa ampun dibebankan padanya.

Dia melanjutkan, agak menggumam dengan kata-katanya seperti seseorang yang tidak biasa banyak bicara. “Aku ingin semua lokakarya tetap berjalan dan menyatukan mereka semua. Tapi aku bukan orang yang pintar bicara, seperti yang kau lihat. Aku bukan penjual.”

Biasanya, lokakarya-lokakarya tinta hanya perlu membuat tinta; penjualan yang sebenarnya dilakukan oleh para pedagang dari Serikat Pedagang atau toko-toko lokal. Tapi hanya ada satu toko alat tulis di kota bawah yang menjual tinta, dan Wolf telah menggunakan cara-cara kasar untuk memonopoli bisnis dengan para bangsawan.

“Para perajin tidak masalah soal membuat tinta tidak peduli bagaimana cara dijualnya, tapi ada orang yang harus berurusan dengan bangsawan begitu Wolf meninggal. Kau tidak bisa mengharapkan orang tua yang menjalankan toko alat tulis untuk mendadak mulai berurusan dengan bangsawan begitu saja, bukan begitu?”

Berurusan dengan bangsawan membawa banyak keuntungan, tapi ada lebih banyak lagi masalah yang mengimbanginya. Dari sudut pandangku, Benno mungkin telah berurusan dengan bangsawan tanpa ada masalah, tapi kenyataannya dia benar-benar tegang kapan pun dia bertemu Sylvester atau Pastor Kepala, dengan sakit kepala parah akibat stress setelah itu. Itu masuk akal—ada banyak hal yang harus kau hafalkan hanya untuk menyapa bangsawan, dan satu kesalahan saja bisa menghancurkanmu secara finansial.

Akan menjadi hal yang kejam mengharapkan sebuah toko yang biasanya dengan santai berurusan dengan demografis orang-orang yang lebih kaya di kota bawah untuk mendadak harus berurusan dengan bangsawan. Si pemilik toko tidak akan tahu bagaimana caranya berurusan dengan mereka, dan begitu pula para leherl ataupun penerusnya. Mereka tidak punya kesempatan nyata untuk belajar tentang bangsawan, dan mereka akan menggantikan seseorang yang telah tewas dengan cara yang misterius sambil berurusan dengan mereka. Tidak ada satu pun yang setuju dengan itu. 

…Siapapun akan kabur kalau mereka memikirkan bangsawan yang terlibat.

Kenyataannya, hanya para pemilik dari toko-toko terbesar di kota yang memiliki hubungan langsung dengan bangsawan. Tidak banyak, dan jika kau memikirkan toko mana dari toko-toko itu yang bisa berjualan tinta secara masuk akal, jumlahnya akan menyusut lebih jauh lagi.

“Toko kepala perserikatan berbisnis barang-barang untuk bangsawan, bukan? Kenapa kau tidak meminta dia?” Benno bertanya dengan sebelah alis terangkat. Fakta bahwa dia tidak menawarkan untuk menjual tinta dan malah melemparkan tawaran itu ke ketua perserikatan mungkin artinya bisnis tinta sangat tidak menarik, memiliki banyak masalah yang mengikutinya, atau hanya karena Benno tidak tertarik untuk mengembangkan bisnisnya ke sana.

Bierce, yang tadinya terlihat berharap Benno akan mengambil pekerjaan itu, merosot ke depan dengan kecewa dan menggelengkan kepala. “Kuharap aku bisa, tapi bisnis ini dulunya ditangani kepala perserikatan. Kemudian Wolf memonopolinya begitu menjadi kepala Serikat Tinta. Kau bisa menebak apa yang akan terjadi kalau aku menemuinya, ‘kan?”

Benno meringis, langsung membayangkan seperti apa kepala perserikatan akan bersikap. “Dia akan memerasmu sampai kering. Aku sudah bisa melihat cengiran licik kakek tua itu.”

“Yah. Karena itulah aku ingin memintamu.”

Tidak akan aneh bagi Firma Gilberta untuk menjual tinta karena mereka sudah menjual buku-buku yang dibuat Lokakarya Myne, yang menemukan tinta baru sejak awal dan dipastikan akan menjadi pelanggan besar. Tapi Benno hanya mengusap pelipisnya dan menggeleng.

“Tidak semudah itu. Akan ada bangsawan yang ingin untuk tetap melakukan hal-hal mencurigakan yang dulu Wolf lakukan, dan kalau aku mulai menjual tinta, kepala perserikatan akan memberiku lebih banyak kesulitan daripada sebelumnya.”

Aku menatap Benno. “Jadi kau akan membiarkan orang lain mengambil bisnis ini?”

Aku bisa mengerti keraguan Benno, tapi jika toko lain mulai melakukan bisnis dengan Serikat Tinta, aku akan harus melakukan bisnis dengan mereka juga. Memikirkannya saja sudah melelahkan tentang berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat mereka tidak menilaiku berdasarkan penampilan dan mulai melakukan bisnis yang sebenarnya denganku.

“Kita sudah tahu bahwa kita akan membutuhkan banyak tinta saat aku ingin mulai mencetak dengan Lokakarya Myne. Aku lebih baik berbisnis denganmu daripada orang lain, Benno.”

“Lihat? Gadis itu juga berkata begitu. Ayolah, Benno.”

“Mmm, tapi, kau tahu…” Benno memprotes, wajahnya memperlihatkan ekspresi pertentangan, tapi penolakannya lebih lemah daripada sebelumnya. Merasakan itu, Bierce melihatku dan memohon mati-matian.

“Bisakah kau mendesaknya sedikit lebih jauh untukku, nak?”

“...Aku tidak keberatan membantu meyakinkan Benno, tapi hanya jika kau membantuku mengembangkan tinta berwarna.”

“Tinta berwarna? Apa yang sedang kau bicarakan?”

Sementara Bierce mengerjapkan mata dengan bingung, gadis di sebelahnya langsung mengangkat tangan. “Aku akan melakukannya! Karena itulah aku di sini!”

“Umm… Maaf, tapi bisakah aku menanyakan siapa namamu?”

“Namanya Heidi. Dia adalah puteriku, dan dia akan menjalankan bengkelku suatu hari nanti. Dia sangat suka membuat tinta dan menemukan hal-hal yang baru. Dia bahkan tidak lebih tenang saat dia berumur dua puluh tahun. Dia dan suaminya adalah orang-orang yang membuat tinta yang kau ciptakan untuk kertas tumbuhan.”

Meskipun dia seklias kelihatannya baru berumur lima belas tahun, dia ternyata sudah lebih dari dua puluh tahun dan sudah menikah.

Woweee.

“Tintamu sangat baru dan segar, itu benar-benar mengguncangkan duniaku. Semoga kita bisa bekerja sama ke depannya.”

“Namaku Myne. Kurasa kita akan melakukan hal-hal yang hebat bersama-sama.”

“Saat ini, tidak ada yang membeli tinta kertas tumbuhan kecuali lokakaryamu. Beli yang banyak dan gunakan yang banyak, ya?”

Satu-satunya masalah yang sebenarnya dengan tinta biasa adalah tinta itu agak berlebihan merusak kertas tumbuhan—itu tidaklah tidak berguna atau semacamnya, yang berarti bahwa bahkan sekalipun orang-orang mulai membeli kertas tumbuhan yang lumayan lebih murah, sebagian besar mungkin akan tetap menggunakan tinta yang biasa mereka gunakan. Tidak perlu repot-repot membeli tinta yang berbeda. Dan yang paling penting, apa yang kuajari ke Serikat Tinta adalah tinta lengket yang secara khusus dibuat untuk percetakan; sulit untuk membayangkan orang lain selain aku akan menginginkannya saat ini.

“Kurasa aku akan harus bergegas membuat buku bergambarku yang kedua, jika begitu.”

“Yep. Dan ngomong-ngomong, aku memikirkan ini sambil membuat tinta untuk kertas tumbuhan, tapi jelas kelihatan sepertinya kau bisa membuat tinta berwarna dengan cara yang sama.”

Heidi sudah menyadari bahwa dia bisa membuat tinta berwarna, tapi tidak bisa bereksperimen sendiri. Ini karena ayahnya, Bierce, sudah memberitahu dia bahwa Firma Gilberta telah menandatangani kontrak sihir yang mahal untuk memindahkan hak atas tinta hitam, dan mungkin mereka sudah melakukan hal yang sama dengan tinta berwarna. Tapi wanita itu begitu ingin membuat tinta berwarna sampai-sampai dia membujuk ayahnya untuk berbicara dengan Benno agar berdiskusi apakah mereka bisa atau tidak untuk bereksperimen. Benno sama sekali tidak tahu tentang pembuatan tinta, karena itulah pertemuan ini diadakan.

“Memang memungkinkan untuk membuat tinta berwarna. Silakan, buatlah sebanyak yang kau mau.”

“Yah, ini maksudnya, seperti…bahan apa yang sebaiknya kugunakan? Aku datang ke sini berharap kau memiliki ide untukku. Aku punya banyak bahan untuk cat dan pewarna kain, tapi yang mana yang bagus untuk tinta?” tanya Heidi, mata kelabunya berbinar saat menatapku langsung.

Aku mulai membuka mulutku untuk menjawab, tapi Benno mencengkeramkan sebelah tangannya ke bahuku. “Myne. Kau sudah tahu bagaimana cara kerjanya sekarang, bukan begitu?” Matanya seakan berbicara lantang dan jelas: Jangan bicara secara gratis.

Aku menutup mulut dan memberi Benno sebuah anggukan sebelum kembali melihat Heidi. “Aku akan mengambil sepersepuluh dari semua keuntungan tinta berwarna sebagai bayaran atas informasiku.”

“Itu terlalu banyak! Perlu sangat banyak yang untuk mengembangkan produk bahkan sebelum kami bisa mulai menjualnya!” seru Heidi, nyaris menjerit. Dia punya perkiraan sangat jelas tentang berapa besar biaya penelitian dan pengembangannya.

Aku menelengkan kepala sembari berpikir. “Aku akan mengambil sepersepuluh dari keuntungan tinta berwarna, tapi akan menutupi setengah dari biaya penelitian dan pengembangannya.”

“Baik! Sepakat!” Heidi mengulurkan sebelah tangannya saat itu juga, wajahnya berbinar. Negosiasi selesai.

Tapi saat aku akan berjabat tangan, Benno mencengkeram kepalaku sementara Bierce menjitakkan sebelah tangannya ke kepala Heidi. “Bukan kalian yang menentukan!”

Heidi dan aku sama-sama melihat wali kami masing-masing, dengan tangan di kepala kami.

“...Tapi kenapa tidak? Bukankah itu kesepakatan yang adil?”

“Sama sekali tidak. Kau dengan bodohnya sangat bermurah hati. Kalau kau akan memberikan informasi, kau hanya perlu menutupi paling banyak seperempat biaya pengembangannya.”

“Yah, itu lebih masuk akal.” Bierce mengangguk setuju dengan koreksi Benno.

Mereka berdua mulai menyusun detailnya, tapi aku hanya ingin mulai berbicara dengan Heidi tentang tinta berwarna. Dia kelihatannya juga memikirkan hal yang sama, dinilai dari tatapan penuh harap yang dia tujukan padaku sambil menggeliat di tempat duduknya.

“Nona, mau datang ke bengkelku? Aku sudah menyiapkan semua bahan yang bisa kupikirkan untukmu. Walaupun Ayah benar-benar marah padaku karena itu.”

“Kedengarannya sangat bagus! Tentu saja aku ingin datang!”

Aku sudah bisa memperkirakan bahwa Heidi dan aku akan cocok. Kami berdua serempak berdiri, tapi ditahan dan dipaksa duduk lagi oleh wali kami masing-masing.

“Kami belum selesai bicara!”

“Tahan dirimu, bodoh!”

Wali kami benar-benar kompak.

Benno menghela napas berat sambil masih menahanku. “...Baiklah. Aku akan menangani penjualan tinta untuk saat ini. Tapi yang akan kami monopoli hanyalah tinta untuk kertas tumbuhan yang digunakan Lokakarya Myne. Itu termasuk tinta berwarna. Yang lainnya bisa diperebutkan siapa saja yang berniat bergabung dengan pasar. Memberikan ketua perserikatan lebih banyak target untuk difokuskan.”

“Baiklah. Terima kasih, itu sangat membantu.”

Diskusi alot melelahkan Benno dan Bierce akhirnya rampung, dengan para penjual tinta yang ditetapkan.

“Bisakah aku pergi ke bengkel sekarang?”

“Ayo mengerjakan tinta itu.”

Heidi dan aku berdiri, mendesak Benno untuk memanggil Lutz. Dia menaruh sebelah tangan di bahunya. “Awasi mereka baik-baik, Lutz. Kelihatannya kita mendapat dua Myne yang harus kita urus sekarang.”

“Master Benno, itu terlalu berlebihan bahkan untukku. Aku sudah sangat sibuk hanya dengan satu Myne.”

Sebuah ekspresi amat gelisah muncul di wajah Benno, dan aku melambai pergi dengan seulas senyum lebar sembari kami melangkah pergi ke bengkel tinta. Tapi tidak lama kemudian Heidi kehabisan kesabaran dengan kecepatan jalanku dan langsung lari duluan, berkata bahwa dia akan menyiapkan semuanya untuk kami. Bierce memucat dan meminta maaf mewakilinya, tapi aku tidak keberatan. Itu bukan sesuatu yang membuat kesal.

“Jadi, Lutz. Bagaimana menurutmu tentang Heidi? Kurasa dia orang yang lucu dan pekerja keras, tapi agak aneh.”

“...Lihat siapa yang bicara.”

Bengkel tempat Bierce membawa kami terlihat seperti laboratorium kimia di sekolah daripada sebuah tempat untuk membuat tinta; ada banyak sekali peralatan yang bergeletakan, dengan para perajin yang menggunakan timbangan untuk mengukur dengan cermat material yang akan digunakan untuk membuat tinta gallnut. Tinta kertas tumbuhan sedang dibuat di salah satu sudut. Ada beberapa toples yang sarat dengan tinta yang sudah jadi, di mana di sanalah aku menemukan Heidi sedang diomeli oleh seorang pria berusia sekitar dua puluhan. Sepertinya omelannya itu bisa dirangkum menjadi, “Selesaikan pekerjaanmu sebelum bermain-main.”

“Bierce, apa Heidi sibuk?”

“....TIdak, itu bukan sesuatu yang perlu dicemaskan. Hei, Josef! Jangan khawatir soal Heidi sekarang. Dia mendapat pelanggan untuk ditangani hari ini,” Bierce berteriak di tengah hiruk-pikuk bengkel. Heidi berbalik dengan senyum cerah, sementara pria bernama Josef mengerjapkan mata dengan tertegun kaget,

“Bos, apa kau gila?! Kau membiarkan Heidi berurusan dengan pelanggan?”

“Ini dia patron penting yang mau tinta berwarna dan bersedia membayar seperempat biaya pengembangannya. Kita tidak perlu menghentikan penelitian Heidi hari ini. Awasi saja dan pastikan dia tidak melakukan hal-hal yang tidak sopan.”

Percakapan mereka lebih dari cukup bagiku untuk menyimpulkan bagaimana Heidi biasanya diperlakukan di sini.

“Lady Myne, ini adalah Josef. Dia adalah suami Heidi dan pada dasarnya adalah penerus dari bengkel ini. Kuharap kau dan dia bisa cukup akrab.”

“Aku Myne, pimpinan dari Lokakarya Myne. Aku datang untuk membeli tinta kertas tumbuhan yang sudah kalian buat dan juga membantu pengembangan tinta berwarna baru,”kataku, yang membuat Josef menghela napas lega. Kelihatannya kurangnya pembeli untuk tinta kertas tumbuhan membuatnya gugup.

“Sebanyak inilah yang sudah kami buat sejauh ini.”

“Tolong bawa ini ke toko kami pada akhir esok hari,” kata Lutz. Dia membeli tinta sebagai seorang leherl dari Firma Gilberta untuk kemudian menjualnya ke Lokakarya Myne nantinya. Ini kelihatannya merepotkan dan tidak diperlukan, tapi sepertinya adalah proses yang penting.

Aku meninggalkan urusan bisnis pada Lutz dan sebaliknya melihat-lihat sekeliling bengkel. Damuel dan Gil datang bersama kami dan memperhatikan sekitar juga, penasaran seperti apa kehidupan di kota bawah.

“Lady Myne, sini, ke sini.”

Aku pergi ke tempat Heidi memanggilku dan melihat sejumlah kecil dari begitu banyak pilihan material ditempatkan di atas sebuah meja. Semuanya sudah diubah menjadi bubuk, yang menjadikannya mustahil untuk mengetahui perbedaan satu dengan yang lainnya. Ada juga beragam jenis minyak.

“Heidi, minyak-minyak apakah ini?”

“Aku mengambil semua jenis yang bisa kudapat. Hanya minyak linseed mungkin tidak akan cukup, ya ‘kan?”

“Benar. Aku juga memikirkan hal yang sama.”

Komponen paling penting dari tinta adalah minyak pengering, tapi satu-satunya hal seperti itu di kota ini yang kutahu adalah minyak linseed—sesuatu yang bisa kutebak keberadaannya saat melihat rami dan linen di dunia ini, yang terbuat dari tumbuhan yang biji-bijiannya dijadikan minyak. Tapi tidak ada banyak minyak linseed di sini dan harganya pun mahal. Aku tadinya hanya berpikir ingin mencari minyak yang bisa digunakan sebagai penggantinya, dan sekarang merupakan sebuah kesempatan bagus untuk belajar tentang berbagai jenis minyak di dunia ini.

“Beberapa minyak mengeras saat terkena udara dan beberapa tidak, tapi yang mengeras itulah yang bagus untuk membuat tinta,” kataku. “Itu disebut minyak pengering.”

“Mm, tidak ada banyak minyak seperti itu selain minyak linseed. Hanya minyak mische, pedgen, eise, dan turm,” kata Heidi, mengambil toples-toples minyak tersebut dari barisan. Aku cepat-cepat mengeluarkan diptych-ku dan menuliskan nama-nama bunga dan biji-bijian yang dia sebutkan.

“Tinta yang kukenal sebagian besarnya dibuat dengan menggiling mineral menjadi bubuk dan kemudian mencampurkannya dengan minyak. Coba kulihat… Tanah liat kuning ini seharusnya menjadi tinta berwarna antara kuning dan coklat.”

“Baiklah, ayo kita coba. Josef, bantu kami sebentar.” Heidi memanggil Josef dan langsung bekerja mencampur minyak dan tanah liat di atas sebuah lempengan batu granit.

“...Huh? Ini tidak jadi warna coklat!”

“Ta-Tapi kenapa?”

Tanah liat kuning dicampur dengan minyak seharusnya menjadi warna kuning kecoklatan. Tidak masuk akal itu berubah menjadi warna lain, dan meski demikian campuran itu menjadi warna biru langit cerah di depan mataku sendiri. Aku memandanginya, terperangah.

“A-Ayo coba minyak jenis lainnya.”

Josef dan Heidi mencoba mencampurkan tanah liat itu dengan minyak lainnya, satu demi satu. Pertama mische, kemudian pedgen, eise, dan akhirnya turm. Eise adalah satu-satunya minyak yang menghasilkan warna sesuai perkiraanku, sementara yang lain menjadi warna merah dan biru kehijauan, sama sekali di luar dugaanku. Yang kami bisa lakukan hanyalah mengerjapkan mata dengan kaget sambil memandangi lima warna berbeda di permukaan lempeng batu itu.

“Ini sama sekali tidak masuk akal, ‘kan?”

“Benar. Aku tidak pernah menyangka jenis minyak yang kita gunakan akan mengubah warna tinta. Ini mengejutkan, tapi kurasa kita sebaiknya merasa senang bahwa kita bisa membuat begitu banyak warna berbeda hanya dengan menggunakan satu jenis material?”

Josef, yang sekarang sedang memutar-mutar bahunya yang lelah untuk meregangkan ototnya, menatapku dengan ekspresi kelelahan. “Kau lebih optimis daripada yang kupikirkan.”

“Yah, yang kuinginkan hanya tinta berwarna, jadi aku senang selama itu tidak tembus pandang.”

Aku melanjutkan dan menuliskan hasil kami pada diptych-ku. Mungkin ada sebuah metode untuk kegilaan.

Smeentara itu, Lutz memperhatikan tinta tersebut dengan tangan di dagunya. “Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Apa yang terjadi di sini?”

“Kau juga penasaran? Ini sangat aneh, ya ‘kan? Kau juga mau mengetahuinya, apapun yang terjadi, ya ‘kan?!” seru Heidi, dengan penuh semangat menggenggam tangan Lutz dengan cengiran tergila-gila di wajahnya. Kelihatannya dia adalah jenis gadis yang amat sangat ingin mengetahui apapun yang tidak dia mengerti.

Aku menutup diptych-ku. “Heidi, tidak masalah kenapa ini terjadi sekarang. Yang penting adalah warna apa yang bisa kita buat dari memadukan material-material ini.”

“Apaaaa?! Sesuatu yang misterius terjadi tepat di depanmu, dan kau bahkan tidak mau mengetahui apa penyebabnya?” mata kelabu Heidi terbuka lebar, dan dia memandangku dengan tatapan kaget bercampur merasa dikhianati.

Josef segera mengulurkan tangan dari samping untuk menyambar kepalanya. “Hentikan itu! Nona anggun ini bukan orang aneh sepertimu!”

“Aneh? Itu tega sekali. Kupikir dia dan aku akan sangat cocok.”

Aku bersimpati dengan Heidi, tapi aku tidak begitu berminat memecahkan misteri sains ini. Aku hanya ingin membuat buku bergambar berwarna untuk adik kecilku yang manis, Kamil. Dan ngomong-ngomong, sementara aku sendiri tidak begitu tertarik melakukan penelitian, aku menerima dengan tangan terbuka segala jenis buku yang dikumpulkan sebagai hasil dari penelitian apapun.

“Aku lebih tertarik dengan hasil daripada proses yang memunculkan hasil tersebut. Eise memberi kita warna yang kubutuhkan, dan itulah yang penting. Mari coba mencampurkan bubuk biru itu dengan eise berikutnya. Kita mungkin akan menemukan beberapa hubungan penting dan perbedaannya selagi melakukan itu.” Aku menunjuk pada bubuk biru dan Heidi mengangguk kuat.

“Aku bisa setuju denganmu soal itu. Ayo kembali melakukannya.”

Eise memberi kami warna kuning yang kuinginkan, tapi mencampurkannya dengan bubuk biru yang warnanya mirip lapis lazuli entah kenapa menghasilkan warna kuning terang. Itu akan sempurna untuk melukis padang bunga matahari, tapi kuning bukanlah warna yang kucari. Pada akhirnya, minyak linseed yang memberi kami warna biru lapis lazuli.

“...Ini mungkin akan jadi sulit,” kataku, memelototi hasil yang tertulis di diptych. Celah antara pengetahuanku dan pengetahuan dunia ini amat sangat besar. Jumlah material yang sangat banyak dan lima jenis minyak yang berbeda membuat jumlah kemungkinan warna yang tak terbatas. Ini mungkin sulit, pasti.