Apa Yang Harus Dilakukan Tentang Dirk

(Translator : Hikari)


Jika Dirk memiliki kasus berat Pelahap, nyawanya akan berada dalam bahaya kecuali dia diberi akses ke peralatan sihir yang bisa menghisap sejumlah besar mana dari dirinya. Aku memerlukan apapun yang bisa kudapatkan untuk memastikan keamanannya, meski hanya sedikit.

“Lutz, aku bisa memintamu melakukan sesuatu? Aku ingin kau pergi ke hutan dan mengambil beberapa buah taue. Buah-buah itu akan bertahan lama kalau kau menaruhnya di bagian tanah di lantai bagian gudang bengkel, ‘kan?” Aku memanggil Lutz dari bengkel ke lantai dua kamarku, kemudian membisikkan permintaanku supaya Damuel yang ada di depan pintu tidak bisa mendengarku. Kelihatannya akan lebih baik jika bangsawan tidak tahu tentang buah taue.

Aku melirik ke arah Dirk, dan Lutz mengangguk kecil sebelum segera berlari ke hutan, telah memperkirakan keadaan hanya dari gerakan kecilku. Begitu dia kembali, kami akan bisa menghentikan Dirk dari kehilangan kendali mana-nya dan tewas karena itu.

“Suster Myne, saya sudah mendapat izin untuk melakukan pertemuan.” Fran kembali, memperlihatkan ekspresi kelelahan. Baik Arno dan Pastor Kepala terlihat kesal karena mendapat dua pertemuan mendesak berturut-turut, tapi urusan mendesak adalah urusan mendesak; aku harus bertemu Pastor Kepala untuk tahu apakah Dirk benar-benar memiliki Pelahap, berapa banyak mana yang dia miliki, dan apa yang harus kami lakukan dengannya.

“Kurasa kita sebaiknya belum memberikan Dirk pada Wilma, karena kita akan membawanya ke ruangan Pastor Kepala. Fran, apa kau bisa menggendongnya?”

Aku berniat pergi ke ruangan Pastor Kepala dengan Drik karena segala sesuatu berhubungan dengan anak itu, tapi Delia memeluknya dengan sangat melindungi dan Fran menggeleng pelan.

“Suster Myne, kita tidak bisa membawa anak yatim yang belum dibaptis keluar dari panti asuhan.”

Kamarku terhitung sebagai bagian dari panti asuhan karena tempat ini berada di bangunan yang sama, tapi sepertinya membawa Dirk ke ruangan Pastor Kepala tidak diperbolehkan. Aku lupa kalau kami seharusnya tidak boleh membawa dia ke luar karena kami secara diam-diam membawa anak-anak ke hutan, tapi sekarang begitu kupikir lagi, anak-anak yang belum dibaptis seharusnya tetap berada di dalam panti asuhan sehingga biarawan biru tidak akan melihat mereka.

“...Kupikir membawa Dirk akan menjadi hal yang penting untuk berdiskusi dengan Pastor Kepala, tapi mau bagaimana lagi jika kau berkeras.”

Aku membawa Fran dan Damuel denganku ke ruangan Pastor Kepala, seperti yang biasanya kulakukan. Begitu berada di dalam, Pastor Kepala memperlihatkan wajah sedikit masam karena kesal dan bertanya, “Apa lagi kali ini?”

“Masalah yang ingin kudiskusikan ini sangat penting. Apakah ini sesuatu yang bisa kita bicarakan di luar sini?” kataku dengan suara pelan, mengarahkan pandanganku ke kamar rahasia.

Pastor Kepala mengangkat sebelah alisnya, kemudian mengulurkan alat sihir pemblokir suara. Aku memegangnya erat-erat.

“Diskusi ini cukup penting hingga kau memperhatikan sekelilingmu dan berpikir?”

“...Ya. Ini tentang Dirk, bayi yang kemarin. Aku yakin dia memiliki Pelahap.”

Setelah aku menjelaskan seperti apa penampakan Dirk  pagi ini, alis Pastor Kepala benar-benar berkerut dan menghela napas berat. “Harus kukatakan itu tergantung dari berapa banyak mana yang dia miliki, tapi dilihat dari gejala-gejala fisiknya itu, bisa dikatakan bahwa dia memiliki jumlah yang cukup besar.”

“Jadi dia memang memiliki Pelahap?”

“Tepat.” Pastor Kepala memberiku sebuah anggukan serius sebelum mengetuk-ngetuk ringan sebuah jari ke pelipisnya. “Mungkin akan lebih bijak baginya untuk membuat kontrak dengan seorang bangsawan secepat mungkin.”

“Kontrak…”

“Dia tidak akan selamat jika tidak begitu.”

Aku mempererat genggamanku pada alat sihir pemblokir suara. Menandatangani kontrak berarti menjual hidupmu pada seorang bangsawan. Sebagai ganti diberikan alat sihir yang kau butuhkan untuk bertahan hidup, kau akan menghabiskan seumur hidupmu diperbudak oleh mereka, pada dasarnya menjadi tank mana berjalan untuk bangsawanmu kuras. Aku merinding memikirkan Dirk, bayi semuda adikku, menderita takdir seperti itu.

“Pastor Kepala, tidak bisakah kau membuat dia menjadi seorang biarawan biru yang memberikan mana-nya seperti aku, atau kalau tidak merancang adopsi dengan seorang bangsawan?”

“Itu akan membutuhkan biaya yang sangat besar untuk membesarkan seorang bayi sebagai seorang biarawan biru. Siapa yang akan membayar itu?”

Setelah menjadi seorang biarawati biru, aku tahu dengan sangat baik berapa banyak uang yang dibutuhkan untuk hidup seperti ini. Aku hampir kehabisan uang untuk persiapan musim dingin meskipun Lokakarya Myne menyokongku; baju, sepatu, dan setiap kebutuhan sehari-hari yang kecil pun mahal.

“Kau bisa menutupi pengeluaranmu dengan menghasilkan uangmu sendiri,” Pastor Kepala melanjutkan, “tapi apa kau mengharapkan seorang bayi yatim melakukan hal yang sama?”

“...Tidak.”

“Atau kau berpikir kau bisa menutupi biaya kalian berdua? Apa kau akan membayar sebanyak itu untuk seorang bayi yang tidak ada hubungan darah denganmu? Apakah itu sesuatu yang keluargamu akan izinkan? Meski demikian, bukankah itu akan menunjukkan pengurus panti asuhan bersikap pilih kasih pada satu orang yatim?”

Aku terdiam. Aku bahkan tidak yakin sanggup menutupi biaya pengeluaran kami berdua selamanya, dan adalah hal yang dilarang di panti asuhan untuk memprioritaskan satu anak yatim daripada yang lainnya. Aku ingin membantunya, tapi aku tidak bisa memikirkan apa yang harus dilakukan. Yang bisa kulakukan hanyalah tetap diam.

Pastor Kepala, melihat keraguanku, melembutkan ekspresinya. “Mengenai mendapatkan seorang bangsawan untuk mengadopsinya, semua adopsi membutuhkan otorisasi langsung dari archduke. Tidaklah mungkin bagiku untuk semudah itu mengaturnya sesukaku. Dalam kasusmu, itu ditentukan oleh dirimu dan kuantitas mana-mu, bakat untuk menghasilkan uang, dan kebijaksanaan tidak biasa itu berada di bawah pengawasan seorang bangsawan tingkat atas akan menjadi hal terbaik untuk kota,” katanya, secara tidak langsung mengungkapkan bahwa ada banyak kekuatan latar belakang yang bermain saat dia mengatur agar aku diadopsi oleh Karstedt. Pastor Kepala jelas-jelas mengambil resiko dan bekerja keras demi diriku.

“Myne, apa aku benar menyimpulkan bayi itu adalah seorang laki-laki?”

“Ya.”

Oh, iya—kami belum memeriksa untuk melihat jenis kelami bayi itu ketika aku berbicara dengan Pastor Kepala kemarin. Dia pasti telah menentukan jenis kelaminnya saat aku menyebut namanya.

“Ini akan membuatnya lebih sulit…” katanya dengan gelengan pelan. “Aku yakin pernah menyebutkan sebelumnya bahwa mana sang ibulah yang mempengaruhi berapa banyak mana yang anak-anaknya miliki. Seorang bayi perempuan mungkin memiliki masa depan untuk diadopsi, walaupun dia mungkin akan dianggap sebagai anak kandung daripada anak angkat sehingga dia bisa digunakan sebagai bidak dalam pernikahan politik.”

Aku menggigit bibirku. Mungkin ini hanya karena aku memiliki ingatanku sebagai orang Jepang, tapi aku menganggap menjadi seorang bidak untuk pernikahan politik dan diperbudak lewat kontrak seumur hidup tidaklah jauh berbeda.

“Ada kesempatan kecil bahwa seorang bangsawan mungkin ingin mengadopsinya mengingat kekurangan mana saat ini, tapi aku tidak bisa mengatakan dengan pasti sampai aku mengukur kuantitas mana bayi itu. Besok pagi… Ya, saat bel ketiga esok hari, aku akan datang ke kamarmu dengan alat sihir pengukur mana. Kurasa itu tidak masalah?”

“Tentu saja. Aku akan menunggu,” kataku, menyerahkan kembali alat sihir pemblokir suara. Tapi dia memberikannya kembali padaku. Aku menelengkan kepala dengan bingung dan mengambilnya kembali, penasaran apakah ada sesuatu yang dia lupa katakan.

“Myne, siapa lagi yang tahu bahwa bayi ini memiliki Pelahap?”

Aku menurunkan pandangan sambil berpkir. Tidak ada pelayanku yang tahu tentang Pelahap. Fran telah menanyaiku tentang gejala-gejala Dirk karena bahkan dia pun tidak bisa mengenali saat melihatnya. Lutz mungkin hanya menerkanya karena aku meminta buah taue dan memberi isyarat ke arah Dirk, tapi tidak ada satu pun pelayanku yang tahu apa maksudnya itu.

“Kurasa hanya aku yang tahu benar-benar paham bahwa gejala-gejala Dirk itu diakibatkan oleh mana.”

“Kalau begitu, teruslah merahasiakan ini. Terutama berhati-hatilah pada Uskup Kepala agar tidak mengetahui hal ini.”

“...Aku mengerti.”

Aku akan harus menyembunyikannya dari Delia bahwa Dirk memiliki Pelahap; kalau dia tidak tahu tentang Pelahap, dia tidak akan bisa menginformasikan Uskup Kepala tentang itu. Aku merasa sedikit sedih bahwa aku harus menyembunyikan hal-hal tentang Dirk dari Delia meskipun gadis itu terlihat begitu menyayanginya selagi dia berjuang sebagai kakak perempuan yang baik.


Keesokan harinya, di bel ketiga, Pastor Kepala mengunjungi kamarku dengan Arno. Kami telah memberi makan Dirk dan mengganti popoknya lebih awal. Dia sering, er, melakukan urusannya setelah kami mengganti popoknya, tapi mau bagaimana lagi.

Ada satu hal menarik walau begitu, yaitu Dirk tidak begitu sering menangis. Dia biasanya tersenyum senang selama popoknya bersih dan perutnya kenyang. Dia jarang sekali rewel saat dibaringkan di tempat tidur dan tidak terlalu perlu diasuh seperti yang diperlukan sebagian besar bayi, yang mana sangat dihargai semua orang.

Kebetulan, Kamil kami menangis lebih banyak daripada Dirk. Dia terutama berisik saat dia ingin tidur, dan dia tidak akan tertidur kecuali Ibu menggendongnya. Aku tidak tahu apakah kekontrasan ini karena perbedaan umur atau itu memang tergantung kepribadiannya.

Pada saat ini, Dirk sedang tidur di atas bantal besar berisi jerami yang ditaruh di pojok kamarku. Bantal besar itu adalah tempat tidur Dirk dan bisa dengan mudah dipindahkan ke lantai satu saat Fran menjaganya, kemudian ke kamar Rosina dan Delia di lantai dua saat tiba giliran mereka.

Aku mendengar pintu dibuka di lantai satu, kemudian mendengar Fran berkata, “Selamat pagi, Pastor Kepala.”

“Di mana si bayi?”

“Di lantai dua. Silakan ikuti saya.”

Delia, menyadari dari suara Fran bahwa Pastor Kepala telah datang, menurunkan senyuman senangnya dan menoleh ke tangga dengan wajah sangat berkerut. Bagiku, Pastor Kepala adalah seseorang yang bisa kuandalkan segalanya, tapi kelihatannya Delia memandangnya sebagai seseorang yang tidak bisa dipercaya.

“Aku merasa sangat berterima kasih karena telah jauh-jauh datang ke sini.”

“Myne, kosongkan ruangan.”

Arno menaruh sebuah alat sihir ke atas meja dan menyilangkan lengan di depan dada sebelum melangkah mundur. Itu adalah sebuah perhiasan kepala berbentuk seperti cincin besar dengan batu-batu sihir kecil seperti yang ada di instrumen suci

“Silakan pergi, semuanya,” aku mengosongkan ruangan, dan Delia menatap gelisah antara aku dan Dirk, yang masih tidur di alas bantalnya, sambil perlahan berjalan menuruni tangga.

Begitu semua orang sudah pergi, Pastor Kepala mengeluarkan alat pemblokir suara. “Mengosongkan ruangan tidaklah cukup untuk mencegah suara kita terdengar dari lantai bawah,” dia menjelaskan.

Setelah memegang alat sihir pemblokir suara, aku berjalan ke tempat Dirk tidur. Pastor Kepala mengikuti dengan alat pengukur mana. Dia menekankan batu sihir ke kepala Dirk, dan hiasan kepala itu mengecil menyesuaikan ukuran ke kepalanya dengan pas. Pada saat ini, hal kecil seperti itu tidaklah cukup untuk mengejutkanku sedikit pun.

“Oh, batunya berubah warna.” Aku tahu dengan sangat baik dari mempersembahkan mana-ku ke instrumen suci bahwa feystone berubah warna saat menyerap mana. Kelihatannya seperti inilah anak-anak bangsawan diukur mana-nya saat mereka lahir.

Begitu perubahan warnanya melambat, Pastor Kepala melepaskan hiasan kepala itu dan menghitung jumlah batu yang warnanya berbeda.

“Hm. Dia kira-kira memiliki sama banyaknya dengan seorang bangsawan tingkat menengah yang kuat.”

“...Seorang bangsawan tingkat menengah? Aku tadinya berpikir dia memiliki lebih banyak mana dibanding denganku.” Myne telah hidup sampai usia lima tahun dengan Pelahap, jadi Dirk yang nyaris tewas membuatku berpikir dia memiliki lebih banyak mana daripada aku, tapi sepertinya tidak begitu.

“Seorang bayi yang sangat dikuasai emosi sehingga tidak mampu mengendalikan mana dan seorang gadis dengan pikiran seorang dewasa adalah hal yang tidak bisa dibandingkan kekuatan mentalnya. Tapi yang lebih penting, kau telah bisa menekan mana-mu tanpa ada siapapun yang mengajarimu bagaimana cara melakukannya, bukan?”

Pastor Kepala menjelaskan bahwa saat seseorang terbiasa mengendalikan mana, mereka bisa menekannya dan lebih menyesuaikan dengan tubuh mereka. Dia bisa memperkirakan berapa banyak mana yang Myne miliki lewat fakta bahwa itu cukup untuk melahapnya hidup-hidup saat berusia lima tahun. Dirk mungkin memiliki lebih banyak mana daripada dia saat lahir, tapi kemudian aku terbangun dalam pikirannya dan dengan sukses menekan hawa panas yang berada jauh dalam diriku, yang menciptakan lebih banyak tempat untuk mana berkembang. Setiap kali mana penuh dan mulai mengamuk dalam diriku, aku menekannya lebih jauh lagi ke dalam diriku, membuat lebih banyak ruang. Proses ini berulang sampai aku pada dasarnya memiliki mana yang luar biasa banyak.

Pastor Kepala lanjut mengatakan bahwa aku memiliki mana yang amat besar dipadatkan dalam tubuh kecilku—begitu banyak sampai-sampai sulit rasanya untuk percaya aku benar-benar menahannya. Menekan mana seperti itu sepertinya adalah sebuah tekhnik yang para bangsawan biasanya pelajari di Akademi Kerajaan sebelum mencapai pubertas.

"Bukankah itu artinya semua bangsawan bisa memiliki lebih banyak mana kalau mereka berlatih sejak kecil?"

"Jangan menyimpulkannya semudah itu, bodoh. Membiarkan mana mengisi seluruh tubuhmu sebelum membatasinya hanya dengan berbekal kekuatan pikiranmu semata adalah sama saja bermain-main dengan kematian, menempatkan dirimu nyaris dimakan hidup-hidup. Kau sudah mengalaminya, bukan?"

“Ya, itu terjadi berkali-kali." Benar-benar sulit menghitung berapa kali aku harus bertarung dengan hawa panas itu untuk mendorongnya kembali ke dalam tubuhku. Pada akhirnya, aku memiliki begitu banyak mana karena, selama satu setengah tahun sejak antara aku mulai hidup sebagai Myne dan aku yang bergabung dengan biara, aku telah melewatkan hari demi hari di ambang kematian.

“Sulit untuk menekan mana tanpa pikiran yang cukup kuat untuk memaksanya tetap berada di tempatnya. Bukankah masuk akal menunggu sampai anak-anak tumbuh besar dan bisa diajari metode yang benar untuk melakukannya? Setiap tahun, ada sejumlah murid yang gagal mengendalikan mana mereka dan akibatnya mereka nyaris menemui ajal."

Nyaris menemui kematian dulunya telah menjadi keseharianku, tapi anak-anak bangsawan diberikan peralatan sihir sejak lahir untuk melindungi mereka dari bahaya semacam itu. Mereka hanya perlu mengalirkan mana mereka ke dalam alat-alat ini sampai mereka bisa pergi ke Akademi Kerajaan dan belajar mengendalikannya. Biarawan biru tidak pergi ke akademi dan dengan demikian tidak pernah belajar bagaimana caranya mengendalikan atau menambah mana, yang berarti mereka harus menuangkan mana untuk selamanya. 

“Yah, kasusmu tidaklah relevan di sini. Ada kemungkinan seseorang yang mau mengadopsi seorang anak Pelahap dengan mana sebanyak ini akibat kekurangan mana, tapi mengingat kita sedang dalam proses merahasiakan informasi untuk mengamankanmu, akan berbahaya menyebarkan informasi bahwa kita sedang mencari seorang keluarga untuk seorang anak dengan Pelahap.”

Jika adopsi tidaklah mungkin, aku setidaknya ingin Dirk menandatangani kontrak dengan sebuah keluarga yang akan memperlakukan dia dengan baik. Aku melihat Pastor Kepala. “Um, Pastor Kepala, bisakah kau membuat kontrak dengan Dirk?”

“Aku bisa, tapi tidak akan kulakukan. Aku sama sekali tidak membutuhkan mana bayi itu.”

Ternyata sebagian besar bangsawan yang kekurangan manalah yang membuat kontrak dengan anak-anak ber-Pelahap. Mereka terdorong oleh keinginan memiliki mana untuk mempertahankan tanah dan menggunakan peralatan sihir bangsawan mereka. Kontrak dengan Pelahap bukanlah sesuatu mereka yang ingin diketahui oleh umum, jadi sementara anak-anak yang dibesarkan dengan baik akan diberikan posisi sebagai pelayan atau calon gundik, mereka yang diperlakukan dengan buruk seringnya dikurung di bawah tanah dan diperlakukan seperti hewan… yang mana menjelaskan kenapa kepala perserikatan menghabiskan banyak sekali uang untuk membesarkan Freida seperti seorang bangsawan.

Aku memandangi lantai dengan sedih saat memikirkan tentang masa depan Dirk, yang membuat Pastor Kepala menghela napas jengkel. “Jika kau begitu mengkhawatirkan dia, kau sendiri bisa membuat kontrak dengannya setelah Karstedt mengadopsimu.”

“...Aku?” tanyaku, mengerjap kaget. Aku bahkan tidak pernah mempertimbangkan untuk membuat kontrak dengan Dirk saat aku menjadi bangsawan.

“Saat diadopsi, kau akan mendapatkan status bangsawan yang diperlukan untuk membuat kontrak semacam itu. Sembunyikan gejala penyakitnya dan besarkan dia di panti asuhan sampai saat itu.”

“Aku merasa sangat berterima kasih.”

Kalau aku membuat kontrak dengan Dirk, tidak akan ada yang bisa memprotesku yang membesarkan dia dengan baik adalah sebuah tindakan pilih kasih. Walaupun aku akan harus mendengarkan saran Pastor Kepala dan Karstedt—yang terakhir karena dia akan menjadi ayah angkatku. Yang harus kulakukan adalah menyembunyikan gejala Pelahap Dirk sampai saat itu. Kelihatannya masa depannya akan lebih baik daripada yang kupikirkan.

Sementara aku bergirang, Pastor Kepala menyipitkan matanya seakan sedang memelototiku. “Myne, sekarang bukan waktunya untuk merasa senang. Uskup Kepala tidak diragukan lagi akan mencari cara mengeksploitasi bayi ini jika dia mengetahui kondisi Pelahapnya. Kau menentang dia di setiap kesempatan, sementara si bayi tidak memiliki kehendaknya sendiri. Jelas pada siapa dari antara kalian yang dia coba untuk dijadikan miliknya. Jika kau ingin melindungi dia, pastikan rahasianya aman sampai saat-saat terakhir.”

Uskup Kepala pasti akan ingin menggunakan mana Dirk untuk kepentingannya sendiri, dan jika Uskup Kepala menuntut hak asuh Dirk, aku tidak punya cara untuk menolaknya.

“Kau harus selalu mengingat dengan baik bahwa posisimu di biara dan masa depanmu akan sangat ditentukan oleh apakah kau bisa atau tidak melindungi bayi itu.”

“Mengerti.”

Setelah memberitahuku bahwa mana Dirk akan sedikit tertahan karena alat pengukur mana yang menyerap mana-nya, Pastor Kepala mengambil hiasan kepala itu dan pergi. Delia datang berlari menaiki tangga tidak lama kemudian.

“Suster Myne, apa yang Pastor Kepala katakan?! Dirk sakit apa?”

“Dia baik-baik saja,” kataku sambil menggeleng perlahan. “Pastor Kepala mengatakan untuk terus merawat dia seperti yang telah kita lakukan.”

“Aku mengerti… Syukurlah.” Bahu Delia yang tegang mengendur saat dia memeluk Dirk, mengeluskan pipinya ke pipi Dirk. Pemandangan ini adalah sebuah pengingat tegas bahwa aku tidak bisa membiarkan bangsawan lain mengadopsi Dirk, juga tidak menandatangani kontrak pengabdian dengannya.

“Suster Myne, saya datang menjemput Dirk,” datang suara lain.

“Terima kasih, Wilma.”

Fran dan Rosina sedang beristirahat siang, dan karena mereka tidak bisa benar-benar beristirahat dengan adanya Dirk di sekitar mereka, kami akan memindahkan dia ke panti asuhan. Delia menyaksikan dengan sedih saat Wilma mengangkat Dirk dan pergi ke panti asuhan dengannya.

“Kau bisa menemani dia ke panti asuhan kalau kau mau, Delia.”

“Tapi Fran dan Rosina sedang beristirahat, dan Gil ada di bengkel. Suster Myne, kau tidak akan ada pelayan yang bersiaga kalau aku pergi sekarang.” Delia menunjukkan tatapan tajam mendengar usulan itu. 

“Aku tidak keberatan ikut denganmu.”

“Suster Myne, kurasa aku sudah bilang kalau aku tidak mau pergi ke panti asuhan,” dia membalas dingin.

“Kurasa benar,” aku membalas santai sambil menuju meja kerjaku. Tidaklah ideal untukku berkeliaran di luar kamar sementara Fran dan Rosina beristirahat, jadi aku memutuskan untuk fokus saja membuat buku bergambar hitam putih kedua untuk Dirk. Tidak seperti Kamil, yang baru saja lahir, Dirk sudah sedikit lagi menggulingkan badan di tempat tidurnya. Dia pasti sudah hampir cukup umur untuk melihat buku bergambar hitam putih dengan jelas.

“Suster Myne, menurutmu apa yang Dirk sedang lakukan sekarang?”

“Tidur siang, kurasa.”

Aku membuat gambar-gambar yang terbentuk dari lingkaran dan segitiga pada kertas putih menggunakan tinta. Yang perlu kulakukan berikutnya adalah menggunakan lem kulit yang sudah kami keringkan selama musim dingin untuk menempelkan kertas itu ke papan. Aku akan meminta Fran menyiapkan lem kulit itu untukku saat dia bangun. Ayah bisa membuat lubang-lubang di papan itu, dan setelah mengikatnya jadi satu dengan tali tebal, buku itu akan selesai.

“Suster Myne, menurutmu apakah Dirk sedang menangis, atau mungkin merasa kesepian?”

“Kurasa dia tidak merasa kesepian dengan semua anak-anak di sekelilingnya. Walaupun mungkin terlalu berisik baginya untuk tidur.”

“Tapi Dirk perlu tidur!”

“Berteriak padaku tidak akan mengubah apapun. Aku bahkan tidak bisa mengatakan dengan pasti apakah berisik di sana,” balasku tak berminat sambil menulis daftar hal-hal yang harus dilakukan di diptych-ku. 

Pertama, aku harus membeli berbagai jenis lilin yang berbeda dari lokakarya lilin. Stensil yang digunakan untuk percetakan mimeograf biasanya dibuat dari resin yang dicampur ke dalam lilin untuk membantu mempertahankan bentuknya, tapi rencanaku adalah untuk mencoba menggulirkannya hanya dengan lilin kali ini. Jika itu berhasil, itu berhasil, tapi siapa yang tahu masalah apa yang akan muncul.

“Suster Myne, apa kau tidak khawatir tentang Dirk?”

“Tidak juga, karena Wilma yang mengawasinya.”

Berikutnya, aku ingin berbicara dengan seseorang dari lokakarya tinta tentang membuat tinta berwarna. Di panti asuhan tidak ada sesuatu yang sepertinya akan jadi bahan yang bagus untuk membuat pigmen, jadi mungkin sebuah lokakarya bisa membantu kami dengan hal itu.

“Kau tidak bisa yakin tentang itu. Ya ampun! Suster Myne, apa kau bahkan mendengarkanku?” Delia meledak marah setelah aku terus memberinya balasan sekenanya.

Aku mendongak dari diptych-ku untuk menghela napas jengkel padanya. “Kalau kau secemas itu tentang dia, pergi dan periksalah sendiri. Wilma akan senang sekali menerimamu di sana.”

“...Aku tidak mau pergi ke panti asuhan.” Delia menggigit bibirnya dengan frustasi. Konflik yang dia alami antara ingin pergi dan tidak ingin itu terlihat jelas di wajahnya.

“Baiklah. Apa kau mau aku pergi dan memeriksanya kalau begitu?”

“Ti-tidak adil!” Delia mencengkeram lengan bajuku.

Aku mau tidak mau jadi tertawa. Aku hanya berkata begitu karena aku tahu akan tidak pantas bagiku pergi meninggalkan kamar tanpa pelayan, dan dia langsung melompat menangkap umpan seperti seekor singa. 

“Kalau begitu, Delia, kenapa tidak ikut denganku?”

Mata biru terang Delia goyah dan dia menyibakkan rambut merah menyalanya saat dia mengalami pergolakan batin. Saat dia menegakkan kepalanya, dia memelototiku dengan mata berkaca-kaca dan menggigit bibirnya sekali lagi. 

“...Aku tidak akan pergi.”

Aku mengangkat bahu dan mengalihkan kembali wajahku ke meja, tidak punya alasan untuk memperdebatkan keputusannya. Dia tidak mengatakan apapun setelah itu. Yang dia lakukan hanyalah mondar-mandir tanpa tujuan. Tapi entah kenapa, aku merasa Dirk begitu manis sampai-sampai hanya masalah waktu saja sebelum Delia akhirnya berlari ke panti asuhan.