Anak Yang Dicampakkan

(Translator : Hikari)


Dengan selesainya semua acara perayaan khusus di lingkunganku, kehidupan sehari-hari semua orang kembali normal. Aku sendiri akan harus pergi-pulang ke biara mulai hari ini. Begitu Damuel dan Fran datang menjemputku, aku langsung ke Firma Gilberta; aku harus menyampaikan rasa terima kasihku atas hadiah mereka dan memberitahu Benno betapa manisnya Kamil. Jika waktu memungkinkan, aku juga akan membicarakan tentang bisnis percetakan.

“Dia benar-benar mungil karena dia baru saja lahir. Dia benar-benar memerah saat menangis, seluruh tubuhnya berkeriput, dan dia amat sangat manis. Aku tidak pernah mengira adik laki-lakiku akan begitu lucu,” tuturku penuh rasa sayang, menceritakan pada Benno tepat apa yang telah kukatakan pada Lutz, Fran, dan Damuel di perjalanan ke sini.

Benno meringis dan memijat pelipisnya. “Sudah cukup. Aku sudah mendengar omong kosong yang tak ada hentinya seperti itu dari Otto. Langsung saja ke urusan percetakan.”

“Apa? Corinna juga sudah melahirkan? Aku tidak dengar soal ini! Kapan itu terjadi?!” seruku dengan mata terbelalak.

Benno mengerutkan alisnya. “Aku tidak membahas itu? Mungkin aku lupa karena itu terjadi saat kau tertahan di biara. Otto tidak ada henti-hentinya bercerita tentang anaknya itu, jadi kukira kau akan mendengarnya dari ayahmu, Lutz, atau mungkin Leon,” Benno menjelaskan sementara mata merah gelapnya beralih ke Lutz, yang mengangkat bahu menanggapinya.

“Leon berkata kalau tidak pantas kami menyampaikan berita itu alih-alih dirimu, jadi kuputuskan untuk tidak mengatakannya.”

“Yah, kurasa itu memang benar. Aku memang bertemu dengan Myne setelah bayi itu lahir tapi, yah… tidak pernah ada waktu yang bagus untuk mengatakannya. Ada mata huruf yang selesai, dan kemudian tur biarawan biru…” kata Benno, dengan pandangan menerawang. Dia sangat-sangat sibuk di kedua kesempatan itu, dan hal itu tidak memberinya kesempatan bagus untuk mengatakan bahwa Corinna sudah melahirkan.

“Kurasa lebih baik terlambat daripada tidak pernah sama sekali. Bayi itu lahir di penghujung musim dingin. Namanya adalah Renate dan dia akan mewarisi Firma Gilberta. Bersikap baiklah padanya dan sekian,” kata Benno, nada bicaranya begitu datar sampai-sampai aku pun menelengkan kepala dengan bingung. Dia benar-benar kebalikan dari Ayah saat ini.

“Kau tidak kelihatan begitu bersemangat soal ini, Benno. Bukannya kau sangat menginginkan seorang penerus?”

“Yeah. Otto yang amat bersemangat itu sudah cukup untuk kami berdua. Dia akan memanjakan anak itu seperti orang bodoh; kalau aku tidak tegas membentuk anak itu, Firma Gilberta akan runtuh saat aku pergi,” gumam Benno dengan cengiran mengejek. Mudah untukku membayangkan bahwa dia akan memanjakan gadis itu juga, bahkan saat mengklaim akan mendidik anak itu dengan tegas.

“Apa-apaan tatapanmu itu?”

“Oh, bukan apa-apa. Aku hanya berpikir kau juga akan sama memanjakannya seperti Otto.”

“Hati-hati bicara,” kata Benno sambil melotot.

Tapi aku hanya mengangkat bahu. “Renate akan baik-baik saja dengan Corinna yang membesarkandia. Anak itu akan tumbuh menjadi seorang pengusaha wanita yang memiliki penampilan lembut di wajahnya sambil mengamankan sebanyak mungkin keuntungan yang bisa dia dapatkan dalam situasi apapun.”

Mudah untuk terperdaya oleh sikap lembut Corinna, tapi kalau dipikir lagi ada banyak waktu di mana dia membuatku membeberkan informasi berharga tanpa kusadari. Benno akan memberitahu ketika aku bersikap naif dan memberikan petunjuk untuk membantuku sadar saat aku ditipu, tapi Corinna tidak melakukan hal semacam itu. Dia memerasku habis-habisan dengan senyum menawan. Saat berkaitan dengan bisnis, Freida bertindak blak-blakan yang membuatnya jadi agak mengesalkan, tapi Corinna mendapatkan informasinya lewat percakapan santai.

…Dalam hal bisnis, dia sebenarnya lebih menyeramkan daripada Freida.

Sejujurnya, saat berkaitan dengan para pedagang, Benno jelas yang paling lembut dari mereka semua. Rasa tanggung jawabnya sebagai orang tua yang dia kembangkan ketika melatihku sebagai tenaga magangnya mungkin masih menempel di alam bawah sadarnya dan membuatnya bersikap lebih baik padaku.

“Akulah yang membesarkan Corinna, kau tahu?”

“Kalau begitu Firma Gilberta akan aman untuk waktu yang sangat lama.”

“Tentu saja,” balas Benno sambil mengangguk sebelum langsung ke inti pembahasan. “Tapi ngomong-ngomong, kau bilang kau ada berita tentang bisnis percetakan.”

“Pastor Kepala memintaku untuk menahan percetakan yang bisa dipindah-pindahkan untuk saat ini. Kalau kita langsung melakukannya, kita nantinya akan berhadapan dengan kepentingan pribadi—para bangsawan. Itu adalah sebuah pertarungan yang tidak mungkin bisa kita menangkan.”

“...Kepentingan pribadi para bangsawan? Ya, tidak ada kesempatan menang di sini.”

Benno sangat suka membuat masalah dengan kepentingan pribadi, tapi bahkan dia pun tidak ada niatan untuk berhadapan langsung dengan para bangsawan. Merasa lega, aku menyampaikan padanya apa yang Pastor Kepala katakan padaku.

“Sebagian besar salinan buku pada dasarnya dilakukan oleh para bangsawan, jadi penting agar aku tidak mencoba membuat buku tebal yang diorientasikan untuk orang dewasa yang penuh dengan kata-kata. Tapi Pastor Kepala bilang mereka tidak akan mengganggu selama aku tetap hanya membuat buku anak-anak, jadi untuk beberapa tahun ke depan aku akan mengerahkan segenap usahaku membuat buku-buku bergambar anak-anak.”

Benno memberiku sebuah pelototan. “Mengerahkan segenap usahamu…? Baik, aku harus mendengar lebih banyak soal ini.”

Aku mengangguk mantap dan memberitahukan rencana-rencanaku untuk Lokakarya Myne. “Secara spesifik, aku akan mengembangkan tinta berwarna untuk mewarnai gambar. Aku kemudian ingin mengembangkan stensil lilin untuk semakin meningkatkan cetak stensil. Kita benar-benar harus bergerak cepat kalau kita ingin melakukannya tepat waktu.”

“...Tepat waktu untuk apa?” tanya Benno, bingung.

Aku dengan bangga membusungkan dada. “Aku harus membuat buku-buku yang sesuai dengan pertumbuhan Kamil kecilku yang manis. Aku akan mengerahkan semua usahaku dalam hal ini untuk dia, jadi aku akan sangat menghargai kalau kau memperkenalkanku ke lokakarya lilin secepatnya.”

“Apa kau dapat izin dari Pastor Kepala untuk melakukan itu?” Benno bertanya dengan wajah meringis yang jelas memperlihatkan keraguannya. Tapi aku tidak akan pernah melakukan hal gila apapun saat Benno dan Pastor Kepala selalu meneriakiku untuk mendapat izin untuk segala hal dan memberi laporan untuk setiap detail kecil apapun.

“Pastor Kepala bilang buku-buku bergambar tidak akan bermasalah dengan kepentingan pribadi, dan dialah yang sejak awal mengatakan padaku untuk menambahkan warna pada buku-buku bergambarku. Dia seperti, ‘Karya seni Wilma tersia-sia dalam warna hitam putih, buku-buku seharusnya memiliki warna, dan blah blah blah seterusnya…”

“Aku senang  selama kau mendapat izin. Aku akan mengatur pertemuan antara kau dan kepala tukang dari sebuah bengkel lilin.”

Dan begitulah, saat urusanku dengan Benno sudah selesai, aku meninggalkan Firma Gilberta setelah memastikan perjalanan berikutnya ke bengkel lilin.


“Selamat pagi. Aku sudah kembali.”

“Selamat datang kembali, Suster Myne.”

Delia dan Rosina menyapa di kamarku dan mengganti bajuku ke jubah biru. Aku memberitahu mereka tentang Kamil sementara aku menunggu mereka selesai.

“Tempo hari, adik laki-lakiku lahir. Namanya Kamil. Dia sangat mungil, berkeriput, memerah saat menangis, secara keseluruhan sangat lucu.”

“Suster Myne, dia tidak terdengar lucu sama sekali saat Anda menceritakannya seperti itu,” balas Rosina sambil tertawa kecil. Kamil yang memerah dengan kulit keriput itu benar-benar lucu, tapi kata-kataku sepertinya tidak benar-benar akurat menggambarkannya.

“Kau tahu, Suster Myne, tidak peduli apakah adik laki-lakimu itu lucu atau tidak, itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan kami. Kenapa kau repot-repot memberitahu kami tentang dia?” tanya Delia.

“Aku ingin sebanyak mungkin orang yang tahu tentang dia sebisa mungkin. Saat dia lahir, aku diberitahu bahwa penting bagi orang-orang untuk mengingat kelahirannya.”

Saat aku akhirnya selesai habis-habisan bercerita panjang lebar tentang betapa lucunya Kamil, sudah waktunya untuk memulai latihan harspiel hari ini.

Tidak lama setelah itu, pengajaran Rosina disela oleh sebuah ketukan di pintu lantai pertama. Beberapa saat kemudian, Fran datang naik ke lantai atas.

“Maaf atas gangguan saya, Suster Myne. Wilma ada urusan yang mendesak,” katanya, ada sedikit nada khawatir dalam suaranya.

“Kau bisa membiarkan dia masuk,” kataku.

Urusan mendesak dari Wilma artinya ada sesuatu yang terjadi di panti asuhan. Aku menyuruh Delia untuk menyimpan harspiel-ku dan berpindah ke meja, siap untuk menyambut Wilma.

Dia datang naik ke lantai dua sambil membawa seorang bayi di pelukannya—yang sedikit lebih besar daripada Kamil. Wilma dan Fran sama-sama melihatku meminta bantuan.

“Wilma, darimanakah bayi itu berasal?” tanyaku. Setidaknya, aku tidak pernah mendengar ada satupun biarawati abu-abu di biara yang hamil. Kelihatannya adalah hal yang normal untuk para pelayan biarawan biru untuk kembali ke panti asuhan setelah hamil, jadi satu hal yang kutahu adalah bayi itu tidak dilahirkan di sini.

“Dia dicampakkan. Penjaga mengatakan bahwa bayi ini ditinggalkan padanya...”

Menurut Wilma, seorang biarawan abu-abu tadinya sedang berdiri di gerbang ke kota bawah seperti biasanya, saat tiba-tiba  seorang wanita cepat-cepat mendekatinya. Wanita itu kemudian menyerahkan padanya sebuah bungkusan kecil, berkata itu adalah sebuah persembahan bagi para dewa. Memang bukanlah hal yang sangat langka bagi orang-orang untuk membawa persembahan semacam itu atau memberikan donasi setelah ditolong oleh para dewa, jadi si penjaga menerima bungkusan itu tanpa pikir panjang.

“Saat si penjaga membuka bungkusan itu untuk melihat apakah yang dipersembahkan, dia menemukan bayi ini di dalamnya." Sepertinya prosedur standar bagi para penjaga adalah memeriksa apa yang ada dalam persembahan sebelum memberikannya pada biarawan biru.

“Dia mempersembahkan anaknya pada para dewa...?”

Ketika orang tua tidak bisa membunuh ataupun membesarkan seorang anak, mereka tidak ada pilihan selain membawanya ke panti asuhan dan mempercayakan masa depan mereka pada para dewa. Bayi ini sedikit lebih besar daripada Kamil dan bisa menggerakkan kepalanya ke sana kemari, tapi masih terlalu kecil untuk berjalan. Aku pun tidak bisa menahan perasaan marahku pada ibu yang telah membuangnya.

“Mengingat Anda adalah pengelola panti asuhan, Suster Myne, saya membawanya ke sini terlebih dahulu. Apakah yang akan kita lakukan?”

Izin dari pengelola panti asuhan diperlukan sebelum seorang anak baru bisa diterima ke dalam panti asuhan, tapi ini pertama kalinya sejak menjadi pengelola panti asuhan aku perlu berhadapan dengan hal ini, jadi aku tidak tahu langkah-langkah apa yang harus kuambil.

“Aku tidak yakin apakah yang harus kulakukan, aku takut. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya selama aku menjadi pengelola. Aku harus berkonsultasi dengan Pastor Kepala sekali lagi. Fran, bisakah kau meminta pertemuan darurat?”

“Seperti yang Anda inginkan,” kata Fran. Aku bisa membayangkan ini kali pertamanya juga berurusan dengan hal ini, dan dia dengan tergesa-gesa berjalan keluar dari ruangan dengan ekspresi kalang kabut. Sementara itu, si bayi tertidur nyenyak di pelukan Wilma, sama sekali tidak sadar dengan kekhawatiran kami.

“Bayi ini benar-benar tertidur pulas,” kataku. Sosoknya yang bertubuh kecil dan sedang tidur ini mengingatkanku pada Kamil, yang membuatku jadi tersenyum.

...Bayi ini juga lucu, tapi Kamil kecilku sangat jauh lebih lucu. Tidak diragukan lagi.

“Kita baik-baik saja selama dia tetap tertidur, tapi saya tidak tahu apa yang harus dilakukan saat dia bangun. Tidak ada lagi biarawati di sini yang pernah melahirkan. Apa yang harus kita lakukan tanpa siapapun yang memberi bayi ini susu...?” tanya Wilma.

Di masa lalu, bayi yang dikirim ke biara tinggal dibawa saja ke ruang bawah tanah di mana para ibu-ibu baru dan biarawati abu-abu yang masih mengandung bisa memberi makan mereka. Para biarawati itu akan membesarkan si bayi seperti anaknya sendiri. Tapi sekarang para biarawati yang hamil sudah menghilang, dan pengetahuan yang mereka kumpulkan dan bagikan di rubanah itu telah menghilang bersama mereka.

Biarawati dan novis yang tersisa adalah para gadis lebih muda yang tidak pernah terlibat dalam ‘mempersembahkan bunga’. Mereka telah dibesarkan di panti asuhan, tidak memiliki orang tua yang memberi tahu tentang kehamilan, kelahiran, dan cara membesarkan anak, jadi tidak ada yang tahu apa yang harus dilakukan pada seorang bayi.

“Apakah Anda tahu cara membesarkan bayi tanpa seorang ibu, Suster Myne?”

“Aku pernah membaca tentang susu kambing yang dimanfaatkan para ibu yang tidak menghasilkan susunya sendiri. Aku yakin itu lebih baik untuk bayi daripada susu sapi. Akan perlu waktu, tapi kita seharusnya bisa memberi makan si bayi sesendok demi sesendok,” aku menjelaskan.

Hanya itu informasi yang pernah kupelajari dari sebuah buku fiksi yang terjadi saat di tengah-tengah perang, tapi Wilma terlihat seakan seluruh dunianya telah diberikan cahaya. Matanya berbinar-binar kagum dan hormat.

“Saya merasa amat berterima kasih, Suster Myne. Saya akan langsung mempersiapkannya.”

“Kita akan perlu mempersiapkan popok dan baju bayi juga," kataku, teringat apa yang kami perlukan untuk Kamil, tapi Wilma menggelengkan kepala.

“Kita memiliki cukup sisa-sisa barang itu dari masa ketika kami terbiasa mengurus bayi di sini. Kita mungkin perlu mempersiapkan lebih banyak nantinya, tapi kita akan baik-baik saja untuk saat ini.”

“Aku mengerti.”

Saat Fran kembali setelah berbicara dengan Pastor Kepala, aku memintanya untuk mengambil susu kambing, yang tepat pada saat itu si bayi terbangun dan mulai menangis serta mengisap jarinya.

“Kurasa si bayi lapar,” kataku.

Wilma mulai mengangkat beberapa sendok kecil susu ke mulut si bayi. Pada awalnya, dia menggelengkan kepalanya memprotes, sadar bahwa Wilma bukanlah ibunya, tapi pada akhirnya rasa laparnya menang dan dia mulai minum susu kambing itu sedikit demi sedikit.

Semua orang menghela napas lega melihat hal itu. Setidaknya, kami berhasil tidak membuat si bayi mati kelaparan.

Bel ketiga berdentang. Bayi itu berjengit kaget karena suaranya, tapi terus meminum susu, terlihat jelas memprioritaskan rasa lapar daripada terkejut.

“Fran, mari kita pergi ke Pastor Kepala. Sir Damuel, aku minta perlindunganmu.”

Kami bertiga cepat-cepat berjalan ke ruangan Pastor Kepala. Dorongan hatiku untuk menjadi seorang kakak yang baik terasa kuat dalam benakku karena Kamil yang lahir, dan itu membuatku ingin menyiapkan tempat tinggal untuk si bayi secepat mungkin.

“Pastor Kepala, ada sesuatu yang perlu kita diskusikan.”

Aku bertemu dengan Pastor Kepala dan menginformasikan dia tentang si bayi yang dicampakkan, kemudian menanyainya prosedur apa yang harus kuikuti dan dengan cara apa aku mengurusnya.

“Apa kau tidak bisa melakukannya saja seperti yang pernah dilakukan sebelumnya?”

“Aku mendisikusikan ini denganmu karena tidak ada lagi biarawati abu-abu yang pernah melahirkan dan membesarkan anak di panti asuhan,” kataku, dan Pastor Kepala terbelalak mengetahuinya.

“Jadi sudah tidak ada. Tapi tidak ada gunanya menginginkan sesuatu yang sudah tidak ada. Kukira ibu susu selalu ada... Sayangnya, aku pun tidak memiliki pengalaman membesarkan anak-anak.”

“Apa ada ibu susu yang bisa kita pekerjakan?” tanyaku, dengan mata berbinar-binar. Memiliki satu saja akan membuat semuanya lebih ringan.

Tapi sialnya, Pastor Kepala menggeleng kepala dengan pelan. “...Seandainya kita bisa menemukan orang yang cukup eksentrik untuk bersedia datang ke panti asuhan.”

“Itu tidak akan mudah.”

Pastor Kepala mungkin bicara dari pola berpikir membesarkan seorang anak bangsawan. Akan tetapi, sulit untuk membayangkan siapapun dari kota bawah yang bersedia untuk pergi ke panti asuhan, mengingat betapa tempat ini dipandang rendah. Ibu mungkin bersedia membantu, tapi itu harus menunggu sampai dia sehat lagi; aku tidak bisa memintanya datang saat ini ketika dia terlalu lemah bahkan untuk membantu mengurus rumah.

Aku segera menyimpulkan akan mustahil membawa seorang ibu susu ke sini. Untuk saat ini, aku akan harus mengandalkan para pelayanku agar mengurus si bayi. Itu akan menjadi beban berat bagi semua orang, tapi hanya itu satu-satunya pilihan jika kami ingin si bayi hidup.

“Kita harus menamainya apa? Tidak ada nama di baju maupun kainnya.”

“Kau bisa menamainya sesukamu. Selama itu tidak tumpang tindih dengan nama anak-anak yang lain, itu tidak masalah.”

“Baik.”

Percakapan kami selesai, aku kembali ke ruanganku. Si bayi dalam suasana hati yang bagus, setelah diberi makan dan diganti popoknya dengan yang baru oleh Wilma. Menurut dia, bayi itu ternyata laki-laki.

“Kita akan harus bergantian menjaga dia. Wilma akan tumbang jika dia harus menjaganya terus-menerus seorang diri saja.”

Itu mungkin bukanlah sebuah masalah ketika ada beberapa ibu dan wanita hamil di rubanah, tapi tidak ada satu pun biarawati di panti asuhan yang pernah berurusan dengan bayi sebelumnya. Mereka tidak tahu bagaimana cara menanganinya, juga tidak punya siapapun yang bisa dimintai saran. Aku tidak bisa minta Wilma untuk mengurus si bayi sendirian saja ketika tidak ada siapapun yang bisa dia andalkan untuk dimintai bantuan. Siapapun yang mencoba itu nantinya akan kewalahan dan kelelahan.

“Si bayi akan minta diberi makan saat malam juga. Kita akan butuh setidaknya satu orang untuk tetap terjaga saat malam dan satu orang untuk bangun lebih awal jika yang lain akan tidur.”

Kami memutuskan Wilma akan menjaga dia di panti asuhan saat siang hari, sementara pelayanku yang lain akan bersama-sama menjaganya di kamarku saat malam. Rosina sudah terbiasa tetap terjaga hingga larut malam, jadi dia akan tetap bangun sementara Fran pergi tidur lebih awal untuk bangun lebih pagi juga. Begitu Delia terbangun, dia kemudian akan menjaganya sampai Wilma datang.

“Ya ampun! Kenapa aku harus menjaga dia?!” tuntut Delia. Mendengarkan perintahku sebagai tuannya adalah satu hal, tapi baginya, menjaga seorang bayi yang terbuang itu setiap harinya adalah sesuatu yang sama sekali lain. Aku mengerti apa yang dia rasakan, tapi si bayi akan mati kalau kami tidak merawatnya.

Aku dengan hati-hati menatap Delia. Apa ada sesuatu yang bisa kukatakan di sini yang bisa diterimanya? Aku perlu sesuatu yang akan membuat Delia secara aktif mau menjaga si bayi.

Aku berpikir sebentar, kemudian aku teringat—Delia terlihat iri ketika dia mengatakan bahwa dia tidak tahu seperti apakah keluarga itu. Dia tidak diragukan lagi memiliki keterikatan kuat dengan pemikiran memiliki seorang keluarga.

“Aku yakin ini adalah tugasmu untuk menjaga dia, Delia. Kau adalah kakaknya, bagaimanapun juga."

“Apa? Kakak?” balas Delia, memandang antara aku dan si bayi dengan ekspresi sangat bingung.

“Kau terlalu muda untuk menjadi ibunya, Delia, jadi apa lagi yang bisa kau lakukan selain menjadi kakaknya? Tolong jagalah dia seperti seorang seorang anggota keluarga. Dia adalah keluargamu sekarang.”

“Keluarga....ku...?” dia mengulang, seakan-akan masih memproses arti kata-kata itu sambil menatap bayi itu.

“Aku sendiri menjadi seorang kakak tempo hari, dan sekarang kau juga adalah seorang kakak, Delia. Bagaimana kalau kita berkompetisi untuk melihat siapa yang bisa menjadi kakak yang lebih baik?”

“Aku sudah pasti akan menang!” Delia menegaskan, membusungkan dada dan mengepalkan tangan percaya diri. Dia mungkin akan mengerahkan segenap tenaganya untuk merawat dia sekarang, seperti seorang kakak yang baik lakukan. Dalam hatinya, Delia adalah seseorang yang terus terang dan pekerja keras yang tidak ragu-ragu untuk mendedikasikan dirinya pada sesuatu.

Pelayanku yang lain yang menyaksikan antusiasme Delia yang mendadak itu jelas terlihat senang. Tapi kalau seorang gadis muda seperti Delia akan memberikan segenap usahanya untuk membesarkan si bayi, beban pada Fran dan Rosina pastinya akan berkurang.

“Pertama-tama, mari tentukan namanya. Itu tidak bisa nama yang sudah dimiliki seseorang di panti asuhan, tapi selain itu terserah kita. Apa ada yang punya permintaan?"

“Aku ingin dia memiliki nama yang sama sepertiku. Seperti halnya keluarga,” kata Delia sambil memandangi penuh semangat si bayi yang ada di pelukan Wilma.

Kuharap itu akan membuatnya lebih terikat dengan si bayi, pikirku sambil memikirkan sebuah nama yang terdengar seperti “Delia.”

“Sebuah nama seperti ‘Delia’... Bagaimana kalau ‘Deita’ atau ‘Dirk’?”

“Deita... Dirk... Kurasa aku suka ‘Dirk’!” kata Delia, wajahnya berbinar terang-terangan menyetujuinya. “Dirk, ini aku, kakakmu,” lanjutnya, menjulurkan tangannya pada Dirk. Bayi itu tersenyum saat Delia membelai kepalanya.

“Apa kau lihat itu, Suster Myne?! Dia tersenyum!”

“...Wow, Delia. Kamil hanya pernah menangis denganku,” kataku, sedikit kecewa karena Delia sudah terbukti sebagai kakak yang lebih kuat daripada aku.

Aku bertekad untuk menjaga Kamil sebisa mungkin begitu pulang untuk meningkatkan kekuatan kakak perempuanku, tapi Ibu dan Tuuli melakukan banyak hal sendirian sampai-sampai nyaris tidak ada yang tersisa untukku. Mau bagaimana lagi kalau aku tidak punya aspek kunci dalam mengganti popok. Kapanpun aku mencobanya, Kamil entah kenapa akan mulai pipis, membuat berantakan di mana-mana.


“Oh, seorang anak yang dibuang diberikan ke panti asuhan? Pasti sangat sulit tanpa seorang wanita yang menjaganya,” kata Ibu sambil menyusui Kamil. 

“Jadi, Ibu, menurut Ibu pada ada yang bisa kulakukan?”

“Hm, tidur siang akan mempermudah saat memberi makan malam harinya. Kenapa kau tidak coba pastikan semua orang yang menjaga si bayi untuk tidur sebanyak mungkin?”

Saran Ibu berasal dari banyak pengalaman, jadi aku mengangguk mantap.

“Baiklah, aku akan belajar mengganti popok Kamil dan Dirk jadi Ibu dan yang lainnya bisa tidur siang lebih banyak.”

“Silakan. Ibu tidak terlalu banyak berharap sebenarnya,” Ibu berkata sambil tersenyum.

Saat aku ke biara keesokan harinya, Fran dan Rosina sama-sama kelihatan sangat kelelahan.

Benar-benar sulit menukar pola waktu tidur mereka yang biasa untuk memberi makan Dirk susu kambing sepanjang malam. Mereka akan perlu tidur sebentar saat siang hari, tidak diragukan lagi.

“Fran, Rosina, tolong tidurlah sekitar satu bel setelah sarapan. Gunakan waktu ini untuk beristirahat karena kalian berdua akan harus terjaga saat malam hari.”

“Seperti yang Anda inginkan. Terima kasih,” balas Fran dan Rosina, terlihat lega.

Adalah sebuah kerja keras bagi para ibu untuk merawat anak-anak mereka sendiri, jadi merawat bayi orang lain yang muncul begitu saja di panti asuhan pastilah luar biasa sulit.

“Yang lebih penting, Suster Myne, ada yang salah dengan Dirk,” kata Delia dengan gelisah sambil melihat si bayi. Dia tertidur pulas padahal, jadi aku tidak bisa melihat apapun yang salah.

“Itu terjadi saat pagi tadi. Dirk mulai menangis, tapi karena susunya belum siap, kami membiarkan dia tetap menangis. Tapi kemudian dia mengalami demam, dan pipinya mulai menggelembung. Dia menjadi tenang begitu kami memberinya susu, tapi kami sama sekali tidak tahu apa yang terjadi,” kata Fran, yang sepertinya melihat hal itu juga.

Tapi pipi Dirk terlihat normal untukku. Aku menelengkan kepala dengan bingung.

“Kurasa kita akan perlu menahan dulu susunya dan membiarkan dia menangis sedikit lagi. Aku akan harus melihat ini sendiri sebelum aku bisa mengatakan apapun. Sayangnya di sini tidak ada satu pun yang bisa memberitahu kita apakah ini hal yang umum bagi para bayi.”

Kami semua mengamati saat Dirk mulai menangis karena lapar. Tidak lama kemudian, tangisan itu menjadi jeritan melengking, dan dia benar-benar mendadak demam.

“Anda lihat, Suster Myne? Dia demam parah.”

Aku menyentuh Dirk dan merasakan sengatan seperti listrik statis, sebelum akhirnya seperti terdorong dari kulitnya. Tangisan Dirk pun semakin hebat.

“Suster Myne, pipinya mulai menggelembung lagi.”

“Delia, langsung berikan susunya.”

“Mengerti. Ini dia, Dirk,” kata Delia sambil mendekatkan sebuah sendok kecil di depan mulutnya.

Dirk berhenti menangis begitu susu tersebut di dalam mulutnya, beralih fokus untuk menyeruputnya. Pipinya kembali normal dan demamnya turun dalam sekejap mata. Tidak ada yang terjadi saat aku menyentuhnya sekarang.

“Fran, mintalah pertemuan lagi dengan Pastor Kepala. Lebih baik jika secepat mungkin,” kataku dengan tegas. Dia langsung pergi saat itu juga, dan Delia memandangku cemas.

“Suster Myne, apa kau tahu apa yang sedang terjadi?”

“Aku tidak begitu yakin, dan aku tidak ingin membuatmu khawatir dengan dugaan yang keliru,” balasku sembari menggelengkan kepala, menurunkan pandangan.

Aku lebih suka dugaanku salah, tapi mungkin tidak—Dirk memiliki kondisi Pelahap. Dan tidak hanya itu, dia memiliki cukup mana yang bisa membunuhnya sebagai seorang bayi.

Delia, yang matanya tidak fokus karena gelisah saat aku mengatakan aku tidak bisa menjawab pertanyaannya, memeluk Dirk erat-erat.