Pertemuan

(Penerjemah : E-Chan)


Para petinggi memutuskan bahwa pasukan bunuh diri akan memulai misi mereka tiga hari lagi saat pagi tepat ketika gerombolan-gerombolan Goblin itu mundur ke hutan di sekeliling ibu kota.

Karena itu, Eto dan party-nya menghabiskan hari-hari yang sibuk untuk memeriksa barang-barang konsumsi yang akan mereka bawa saat misi dan membuat anggota pasukan bunuh diri lainnya mencoba efek dari sihir pendukung Eto. Dan sehari sebelum hari penentuan, anggota utama dari pasukan bunuh diri akan berkumpul di istana kerajaan untuk bertemu dengan Raja.

Kebetulan, terakhir kali Eto bertemu dengan Raja adalah sebelum rombongan Hero berangkat berpetualang ke luar ibu kota. Pada waktu itu, mereka bersumpah di hadapan Raja untuk menaklukkan para monster demi kesejahteraan rakyat. Dan Raja pun kemungkinan besar juga tahu bahwa Eto telah meninggalkan rombongan Hero. Karena itulah, tanpa mengetahui apa yang Raja pikirkan tentang dirinya, Eto merasa sangat gelisah bahkan sebelum pertemuan dimulai.

Di hari pertemuan, anggota pasukan bunuh diri yang dipanggil untuk bertemu, berkumpul di ruang tunggu. Ada total tiga belas petualang, empat dari party Eto, empat dari  Arrow of Light, dan lima dari Shrine of Aragami. Dari para kesatria, ada total sepuluh kesatria elit yang ahli dalam pertarungan jarak dekat sekaligus menggunakan sihir. Dari angkatan sihir, karena kelemahan Mata Merah masih belum diketahui, mereka mengirim lima pengguna sihir tingkat atas dari para penyihir yang bisa menggunakan empat elemen utama, yaitu api, air, angin, dan tanah.

Puke, yang menjadi pimpinan dari angkatan sihir, juga berada di antara kelima penyihir itu. Ya, Puke, yang bisa menggunakan setiap atribut sihir, pada akhirnya, bergabung dengan pasukan bunuh diri, meskipun mendapat perlawanan dari orang-orang sekitar.

Akan tetapi, mengenai partisipasi Puke dalam misi ini, Eto pikir ini lebih karena pria itu tertarik dengan spesies Goblin langka daripada karena rasa kewajibannya. Meski demikian bagi banyak orang, adalah hal yang tidak bisa dipercaya untuk membahayakan nyawa demi memuaskan rasa keingintahuan, tapi Eto tahu memang begitulah sifat orang itu. 

Setelah menunggu beberapa lama, dipimpin oleh seorang pemandu, para anggota pasukan bunuh diri meninggalkan ruang tunggu dan memasuki aula pertemuan. Saat mereka masuk, Eto merasa sedikit nostalgik melihat karpet merah lembut yang menuju ke takhta. Eto teringat bahwa saat dia datang ke ibu kota dan bertemu Raja untuk pertama kalinya, dia merasa kaget dengan kelembutan karpet merah ini. Dia juga ingat bahwa Lana, yang berjalan di sebelahnya, sama-sama melangkah dengan gugup di karpet itu.

Begitu tiba di area yang ditentukan, mereka segera bersimpuh pada satu lutut dan menundukkan kepala. Kemudian, mengikuti kata-kata Perdana Menteri Bismarck, anggota dari pasukan bunuh diri mengangkat kepala mereka. Di sana, Eto dapat melihat sosok berwibawa dari sang Raja yang duduk di takhtanya, sama seperti beberapa tahun yang lalu. Pada saat itu, melihat Eto dan Lana yang berasal dari desa, sang Raja hanya tertawa dan mengucapkan kata-kata penyemangat pada mereka, berkata, “Terima kasih atas kerja keras kalian. Tetap lanjutkanlah itu.” Dan setelah itu, mereka dapat menghabiskan waktu mereka di istana kerajaan dengan nyaman tanpa didiskriminasi karena status rakyat jelata mereka.

Mengingat hal itu, dengan rasa penyesalan dan tekad, Eto berkata dalam hatinya, ‘Paduka Raja, tolong maafkan saya karena tidak dapat memenuhi harapan Anda dan meninggalkan rombongan Hero. Saya harap saya bisa membalas kebaikan Paduka meski hanya sedikit dengan bergabung dalam pasukan bunuh diri kali ini.

Begitulah, sang Raja tetap memberikan kata-kata penyemangat pada mereka, dan pertemuan pun mendekati akhirnya. Tapi tepat sebelum mereka pergi, Raja mengalihkan pandangannya pada Eto.

“Lama tidak bertemu, Eto.”

Mata sang Raja menyipit lembut, dan nada bicaranya pun juga, seperti berbicara pada seorang teman lama. Karena ucapan itu benar-benar tidak direncanakan, Perdana Menteri Bismarck mencoba mengatakan sesuatu pada Raja, tapi Raja menghentikan dia dengan pandangannya.

“Aku tahu aku telah menempatkan Eto dalam banyak masalah. Karena itulah, aku benar-benar berharap kau bisa hidup dengan damai setelah itu, tapi nampaknya aku akhirnya menyusahkanmu lagi.”

Berkata demikan, ekspresi Raja kembali ke ekspresi berwibawa yang dia tunjukkan ketika mereka masih mengadakan pertemuan.

“Itu bukanlah masalah, Paduka Raja. Malahan, saya tidak bisa memenuhi harapan Paduka yang sebelumnya. Dengan demikian, demi kesejahteraan rakyat, saya ingin memberikan yang terbaik untuk membantu kali ini.”

Dapat mengatakan apa yang ada di pikirannya, tubuh dan benak Eto yang kaku tanpa disadari menjadi tenang.

“Aku mengerti. Sepertinya Eto mengingat sumpahmu padaku. Tolong lakukanlah yang terbaik.”

“Ya.”

Mendengar itu, Eto berkaca-kaca, seakan dia merasa bahwa Paduka Raja baru saja meringankan rasa bersalah yang dia rasakan karena meninggalkan rombongan Hero.