DEWA IBLIS KEGELAPAN

(Penerjemah : Hikari)


Tidak takut dingin? Kalau begitu siapa orang ini yang mati-matian menempel padaku mencari kehangatan saat ini? Gigiku bergemeletuk sementara aku berjalan sempoyongan, begitu kesulitan bahkan untuk mengangkat kakiku, belum lagi harus menyeret seseorang yang mati-matian menempel padaku, dengan wajah sepucat kertas dan bibir yang membiru karena hawa dingin – Kenshin.

Begitu Kenshin dan aku berteleportasi dari White Tiger City ke Black Tortoise City di utara, kami merasakan penurunan suhu yang drastis, jadi aku membeli dua mantel bulu dan kami mulai bergegas ke Desa Salju. Sementara kami berjalan, aku perlahan mulai menyadari betapa beratnya takdirku. Mengapa? Mengapa? Mengapa ada BADAI SALJU?

Sialan, ini luar biasa dingin!  Tidak peduli dengan apa yang kupakai sampai ke wajahku yang pada dasarnya adalah semua yang ada dalam kantungku yang bisa kukenakan, aku terus merasa kedinginan sampai-sampai aku pun berpikir, Kalau aku meludah, liurku akan membentur tanah sebagai potongan es; kalau aku menghela napas dari mulutku, kelembapan dalam napasku akan dalam sekejap membentur wajahku dalam bentuk es.

Di sebelahku, Kenshin bahkan lebih parah lagi. Kami baru mulai berjalan menuju ke Desa Salju saat dia mulai gemetar tanpa henti. Kondisinya bahkana tidak membaik setelah mengenakan pakaian ruroni-nya, dan pada akhirnya dia pada dasarnya menempel padaku untuk mencari kehangatan. Kelihatannya di hadapan hawa dingin ekstrim, bahkan pendekar pedang terhebat pun akan jatuh!

"Ken…shin, a-apa kita sudah sampai….?" Aku bertanya dengan suara parau dan sangat kesulitan.

"Ha…hampir sa-sampai."

Wajah Kenshin membiru karena kedinginan. ….Hei, setidaknya bisakah kau membuka matamu dan benar-benar melihat?

Dikelilingi dengan salju lebat dan amukan angin di tengah-tengah badai salju itu, yang bisa kulihat hanyalah bentangan warna putih di depanku. Hanya ada kompas sebagai penunjuk arah saat kami melangkah maju, dan berharap bahwa Dewa, Buddha, dan Allah akan memberkahi kami dengan perlindungan, melihat betapa kerasnya kami berusaha menyelamatkan seseorang…maksudku, seorang NPC.

"Ahhh!" Kakiku terantuk sesuatu dan tersandung, jatuh dengan wajah terlebih dahulu ke salju dengan tangan dan kaki terentang, dan si brengsek Kenshin jatuh menindih di atasku.

"Ken. Shin. Kalau kau tidak bangun saat ini juga, aku akan melemparmu kembali ke Gua Iblis untuk menghabiskan waktumu selamanya bersama Sunshine."

"…." Ekspresi Kenshin terlihat dingin saat dia dengan enggan melepaskan "perapian"nya.

Tanpa berat seseorang yang menindih, aku akhirnya bisa kembali berdiri dengan perlahan. Dalam hati, aku berpikir sedih, Meskipun aku tidak benar-benar religious – berdoa kepada Dewa di satu sisi, Buddha di sisi lain, dan bahkan merujuk pada Quran di sisi lain lagi – itu hanya karena aku berpikir bahwa semakin aku berdoa, semakin banyak perlindungan yang diberikan! Apakah Kalian semua harus menghukumku seperti ini, dan bahkan membuatku tersandung saat tidak ada apa-apa yang membuatku tersandung di lautan salju ini? 

Kenshin melihat ke tanah dengan wajah berkerut dan berkata, "Kau sepertinya telah tersandung sebuah batu."

Aku buru-buru menoleh untuk melihat. Aneh, batu berbentuk melengkung itu sepertinya mirip dengan…batu nisan? Aku ternyata menginjak sebuah batu nisan? Oh Tuhan, tuan hantu, aku tidak sengaja menginjak pintu depan rumahmu, jadi tolong jangan datang mencariku untuk membalas dendam di malam hari… Tidak, tunggu, itu tidak benar, pikirku. Ini adalah dunia game; kalau kita mati, bukannya kita dibangkitkan lagi? Siapa sebenarnya yang memerlukan sebuah nisan…. Sebuah nisan?

"Makam Kaoru?!" seruku.

"Ayo singkirkan saljunya dari batu nisan ini," kataku sambil menarik Black Dao untuk digunakan sebagai sekop dan mulai menyekop salju tersebut.

Memerlukan banyak usaha untuk bekerja di tengah-tengah badai salju ini, tapi meski begitu kami berdua menyekop salju itu dengan penuh semangat. Akan tetapi, setiap kali kami menyingkirkan sesekop penuh salju, salju lainnya akan jatuh. Bahkan setelah bekerja keras melakukannya setengah harian, Kenshin dan aku masih belum bisa melihat kata-kata yang ada di batu nisan tersebut. Seiring berjalannya waktu, tatapan di mata Kenshin menjadi semakin panik dan putus asa. Melihat penderitaannya ii, aku terus menggali dengan semangat baru, tapi itu semua sia-sia.

Pada akhirnya, aku kelelahan, tidak memiliki tenaga lagi untuk melanjutkan penggalian. Aku hanya bisa menyaksikan saat Kenshin terus menggali seperti orang kerasukan, dan semakin aku melihatnya, aku pun semakin sedih. Meskipun Kenshin tahu bahwa masa lalunya adalah sebuah fiksi yang dibuat oleh sistem dan tidak pernah benar-benar terjadi, dia masih tidak bisa melupakan Kaoru?

Saat Kenshin terus menyekop salju yang tidak pernah benar-benar bisa dibersihkan, pergerakannya menjadi semakin menggila dan tak menentu. Rambutnya yang tertata rapi sudah jadi berantakan, tapi tetap saja salju terus berjatuhan….

"Kaoru…" Kenshin menyingkirkan pedangnya dan meraung ke arah langit. Wajahnya berlinangan air mata.

Salju berhenti.

Saat awan-awan perlahan menghilang, seberkas cahaya bersinar turun dari antara awan dan menerangi makam Kaoru. Di sepetak kecil area di mana cahaya itu bersinar, salju mulai meleleh.

"Di sini terbaring Kaoru, yang akan menunggu suami tercintanya selamanya."

Kenshin terhuyung-huyung menuju nisan tersebut dan tiba-tiba jatuh berlutut. "Kaoru…"

Aku bangkit berdiri dan mendekat ke belakang Kenshin dalam keheningan, memandangi batu nisan bersama dengannya. Walaupun aku sudah tahu bahwa akan seperti ini akhirnya, tetap saja aku merasakan kesedihan yang tidak bisa digambarkan pada saat ini. Daripada mengatakan aku berduka atas Kaoru, yang telah meninggal, lebih tepatnya aku bersedih atas Kenshin, yang tidak bisa membebaskan dirinya dari takdir yang diberikan sistem padanya.

"Apakah seharusnya aku tidak datang? Kalau aku tidak datang, Kaoru pastinya akan dapat hidup," teriak Kenshin saat dia memukul lantai dengan tinjunya.

"Daripada menunggu dalam kesedihan tanpa akhir, mungkin dia lebih memilih untuk berbaring dalam kuburnya, menunggu dengan mengetahui bahwa kau akan datang menemuinya," kataku perlahan. "Sama sepertimu, yang lebih memilih untuk datang dan menemukannya, meskipun tahu bahwa kau hanya akan menemukan makamnya."

Kenshin tersadar dari perasaan terguncangnya dan tersenyum getir. "Mungkin kau benar."

"Ayo pergi dan balaskan dendammu kalau begitu. Meskipun kebencianmu bukan hal yang nyata, ubahlah kesedihanmu menjadi motivasi untuk bertarung, penderitaanmu menjadi energi untuk menggenggam pedangmu, dan bertarunglah sepuas hatimu. Pergi, dan luapkanlah emosimu," kataku, mataku berkobar-kobar dengan hasrat bertarung.

Mata Kenshin juga berkobar. "Ayo." Dengan demikian, dia berbalik dan, bahkan tanpa melirik ke belakang, mulai melangkah maju. Rasa dingin pun terlupakan.

Seperti yang kupikirkan, dia adalah seseorang yang suka bertarung juga, pikirku, tersenyum. Aku telah menemukan seseorang yang memiliki minat yang sama.


"Kenshin, di mana Dewa Iblis Kegelapan? Badai saljunya mungkin sudah berhenti, tapi aku sangat lelah. Kalau terlalu jauh, bisa kita pergi besok saja?" Aku memperlihatkan raut wajah memohonku yang paling tidak berdaya, dan jelas-jelas kelelahan. Sayangnya, Kenshin sama sekali berbeda dari Gui.

"Ada di dalam gua itu yang berada di pertengahan gunung. Ayo," Kenshin berkata tanpa perasaan, mendorongku untuk lebih cepat lagi bahkan saat dia menunjuk pada sebuah pintu masuk gua yang cukup jauh, tapi tidak begitu jauh.

"Oke, oke…."

Aku ingin sekali menggerutu saat mendaki gunung bersalju di belakang Kenshin. Saat guanya semakin dekat, rasa gelisah dalam hatiku menjadi semakin besar dan besar, bersamaan dengan patung yang luar biasa besar di depan di pintu masuk gua menjadi semakin jelas. Selain dari itu, aku juga menyadari bahwa pintu masuk guanya sangatlah besar sampai kau bisa memasukkan lima aku — bertumpuk secara vertikal — ke dalam gua. Lima aku…. Itu hampir sembilan meter, kurasa? Aku menelan ludah memikirkan itu. Tidak mungkin, 'kan? Mungkin guanya hanya sedikit kebesaran; mustahil ada monster sebesar, ya 'kan?

"Kenshin, apa kau tahu seperti Dewa Iblis Kegelapan?" tanyaku dengan suara gemetar.

Kenshin tidak repot-repot melirik ke belakang, dan hanya membalasku sambil bergegas, "Dari gambaran yang sistem berikan padaku, dia sangat besar dan berotot, mengenakan jubah hitam, memiliki sebuah tanduk di kepalanya, dan membawa Pedang Iblis Kegelapan yang luar biasa besar."

"Itu terdengar sangat menyeramkan!" Dalam deskripsi tersebut ada kata-kata "sangat besar" dan "berotot". Ditambah ada pintu masuk gua yang luar biasa besar, pikirku, dan mendadak merasa bahwa mendapatkan Kenshin dan Sunshine mungkin sama sekali bukanlah tugas yang sederhana.

"Kita sampai," kata Kenshin saat berhenti mendadak.

"Apa kita akan masuk sekarang? Pertama-tama biar kulihat apa aku bisa menemukan sesuatu yang bisa kita gunakan sebagai penanda, supaya kita tidak akan tersesat di dalam gua…." Aku buru-buru menggeledah kantungku.

Akan tetapi Kenshin, berdiri tepat di tengah-tengah pintu gua dan mendadak melolong. "Dewa Iblis Kegelapan, aku, Kenshin, telah datang untuk menagih hutang."

Aku membeku dan menatap kegelapan pekat gua itu di sebelah Kenshin, tapi hanya ada keheningan, seakan angin dan salju pun tidak berani membuat suara sedikit pun. Terbeban dengan rasa gelisah yang tak tertahankan, aku segera menarik keluar Black Dao. Suara logam yang bergesekan dari pedangku saat meninggalkan sarungnya terdengar sangat bising dalam kesunyian ini.

Sebuah batu kecil mendadak jatuh dari atap gua….dan setelah itu, tanah mulai berguncang hebat, dan tiupan angin kencang muncul dari kedalaman gua, dan aku nyaris tidak bisa tetap berdiri. Bagian dalam gua, yang pada awalnya gelap, sekarang terselimuti pendaran cahaya hijau menyeramkan.

Aku tahu bahwa pertarungan akan segera dilakukan dan bahwa lawan untuk pertempuran kali ini kemungkinan adalah yang terkuat yang pernah kutemui. Dengan hati bertekad, aku melangkah dan berdiri di sebelah Kensjin lalu memandangi pintu masuk gua dengan pandangan angkuh.

Pada akhirnya, Dewa Iblis Kegelapan muncul.

Dengan berat hati, aku membuka mulut untuk bertanya, "Kenshin, kekuatan dan ukuran mungkin tidak sebanding satu sama lain, tapi apakah menurutmu mungkin saja Dewa Iblis Kegelapan bahkan tidak menyadari kita, tapi secara kebetulan membunuh kita dengan menginjak kita?"

Kenshin mendongak pada Dewa Iblis Kegelapan di depan kami tanpa sepatah kata pun.

Ya Tuhan, dia benar-benar mengangkat kakinya, pikirku, dan buru-buru menjauh, menyeret Kenshin bersamaku. Kau pasti bercanda, memangnya siapa yang bisa melawan monster ini yang bahkan harus merunduk hanya untuk keluar dari gua setinggi sembilan meter?

"Tidak, aku akan membalaskan dendam Kaoru," kata Kenshin, merenggut lepas dari peganganku dan menyerbu ke arah Dewa Iblis Kegelapan tanpa ragu.

Aku menyaksikan saat Kenshin menyerbu Dewa Iblis Kegelapan, dan tidak punya pilihan selain lari mengejarnya dengan senyum dipaksa dan alis berkerut. Sambil berlari, aku berteriak, "Hati-hati, Kenshin! Jangan menyerangnya secara langsung."

Kenshin sepertinya tidak memperdulikan apa yang kukatakan dan malah melesat ke arah Dewa Iblis Kegelapan tanpa mengatakan apapun. Saat dia mendekati dewa iblis itu, dia melompat langsung ke lututnya, dan kemudian dengan satu pijakan pada ototnya, dia melompat ke udara langsung ke depan wajah si dewa iblis, menarik pedangnya detik itu juga. Tepat saat dia kelihatannya akan menebas wajah si dewa iblis, tangan raksasa makhluk itu datang menghempas dengan cepat  ke samping Kenshin. Kenshin tidak punya pilihan selain melompat mundur, menghindari tamparan raksasa yang bisa saja merenggut nyawanya.

"Kenshin, aku akan menarik perhatiannya. Seranglah dia dari belakang," seruku sambil mengayunkan dao-ku pada kaki Dewa Iblis Kegelapan.

CLANG! Ternyata ada suara benturan logam saat pedang dan kaki bertemu? Aku menundukkan kepalaku untuk melihat dan menelan ludah, tidak berani untuk mempercayai bahwa aku bahkan tidak dapat menggores sedikit pun kulit si dewa iblis. Ayo coba lagi, pikirku dan mengayunkan pedangku kuat-kuat lagi…. CLANG!

"Tidak kusangka bahwa Black Dao-kun tidak melukai sedikit pun dewa iblis ini, kelihatannya aku perlu latihan lebih jauh." Aku benar-benar merasa frustrasi. Kemudian aku berdiri dengan Black Dao-ku di satu tangan, merasa kecewa, sementara beberapa daun kering tertiup hembusan angin….

"Prince, cepat! Menghindar!" Aku mendengar Kenshin berseru nyaring.

Aku mendongak dan melihat yang disebut sebagai Pedang Iblis Kegelapan sedang menyerbu ke arahku dengan seluruh momentum sebuah pesawat terbang yang terjun ke tanah. Aku melesat ke satu sisi secepat kilat, akan tetapi, pesawat tersebut….pedang iblis itu sekali lagi ditebaskan ke arahku. Ya Tuhan, aku sangat kecil, tapi dia masih bisa menebasku secara horizontal? Bukankan ini tidak masuk akal? Programmer tolol…. Aku merentangkan diri di tanah dalam posisi yang menyedihkan, menghindari pedang tersebut dengan nyaris.

Aku dengan gesit merangkak bangkit berdiri dan buru-buru menjejakkan tumitku, mencoba untuk kabur… maksudku, mencoba untuk mengalihkan perhatian si dewa iblis, agar memberi Kenshin kesempatan untuk melancarkan sebuah serangan mendadak. Saat aku lari menyelamatkan nyawaku, aku sangat ingin menangis, aku bisa merasakan tanah bergemuruh bersama setiap langkah dewa iblis itu. Pesawat pedang iblis juga akan diayunkan ke bokongku dari waktu ke waktu…. Aku penasaran, apakah aku akan diinjak dan menjadi tumpukan jeroan, atau aku akan dicincang dan diubah menjadi daging giling?

"Kenshin, cepat lakukan serangan diam-diammu! Kalau aku sampai berubah menjadi daging giling atau tumpukan jeroan, kujamin aku akan kembali ke Gua Iblis dan menghantuimu sebagai setan!" jeritku putus asa.

"Aku sudah mencoba memotongnya, tapi tidak berhasil," balas Kenshin, jengkel.

"Apa?!" Wajahku memucat. Apakah langit begitu ingin aku mati! Tapi aku tidak mau mati semengerikan itu, pikirku, dan berteriak, "Kenshin, tebing di arah mana?"

Mendengar kata-kataku, kekecewaan Kenshin menghilang dan dia memberikan bantuan. "Ke kiri! Belok kiri, dan lurus saja."

Belok kiri?  Untuk pertama kalinya seumur hidupku, aku merasa belok ke kiri menjadi tindakan yang amat sulit untuk dilakukan. "Kenshin, aku tidak bisa belok ke kiri!" Aku akan berubah menjadi daging giling kalau aku melakukannya….

"Dewa Iblis, lawanmu adalah aku!" raungan murka Kenshin terdengar dari belakang, dan begitu kata-kata tersebut keluar dari mulutnya, Dewa Iblis Kegelapan yang tadinya begitu bersemangat mengejarku ternyata berbalik dan mengejar Kenshin sebagai gantinya.

Melihat Kenshin mengarah ke tebing, aku segera berlari mengejarnya. Saat aku lari, aku berpikir, Bagaimana caranya kami akan membuat si dewa iblis ini terjatuh dari tebing? Menyandungnya? Dia sama saja dengan menginjak dan mengubahku menjadi pancake dan bahkan masih tidak menyadari keberadaanku!

"Kenshin, bagaimana kau akan membuatnya jatuh dari tebing dengan patuh?" Tidak dapat meluruskan cara berpikirku, aku hanya bisa membuka mulut dan berteriak mati-matian pada Kenshin yang ada di depanku.

"Prince, bantu aku memancingnya ke tebing, sedekat mungkin ke pinggirnya." Setelah tiba-tiba berkata begitu, Kenshin berhenti berlari dan mulai menghindari pesawat pedang dewa iblis, menungguku untuk "bertukar shift berikutnya".

"Boleh aku menolaknya?" tanyaku, dengan mata berkaca-kaca.

"Tidak," Kenshin membalas dingin.

Waaah…. Aku memberanikan diri untuk apapun yang akan terjadi dan melompat pada si dewa iblis, menebas tempurung lututnya di pertengahan lompatan. Seperti sebelumnya, ada sebuah suara "clang" nyaring. Aku berbalik dan mulai berlari sekencang mungkin ke tebing, dan aku hanya bisa berdoa semoga Kenshin memiliki rencana.

Dengan si dewa iblis mengejarku, bersamaan dengan semakin panjang berlalunya waktu untuk menghindarinya, aku mulai merasa sangat kelelahan. Pada beberapa kesempatan, aku hanya berhasil menghindari pedang tersebut dengan sangat nyaris, dan bahkan beberapa kali tersayat oleh angin kencang yang muncul pada setiap tebasan pedang raksasa itu. Tetap saja, aku memaksakan diri untuk bertahan. Sunshine masih menungguku untuk menyelesaikan quest, dan aku harus membawanya kembali bersamaku ke Benua Tengah!

Menyerah? Aku tidak kenal kata-kata itu!

Begitu aku akhirnya mencapai tebing, aku hampir menangis. Tidak disangka tebing ini, struktur geografis yang sama di mana aku dua kali terjatuh, ternyata akan menyelamatkan hidupku sekarang! Takdir benar-benar tidak bisa diprediksi.

Tidak masalah, pikirku. Sekarang tebing sudah ada tepat di depanku, aku berteriak mati-matian pada Kenshin, "Kenshin, aku di tebing! Kalau kau punya trik tersembunyi maka cepat lakukan, kalau tidak aku akan terjun bebas dengan dewa iblis!"

Kenshin hanya mengikut di belakang kami, dan ekspresi tenang di wajahnya menandakan ketenangan sebelum badai. Tangan kanannya sudah sejak lama berada di gagang pedangnya. Waktu! Dia sedang menunggu waktu yang tepat untuk menghabisi musuh yang paling dibencinya.

Hmm, kelihatannya aku tinggal tiga sentimeter dari nasib yang berhubungan dengan jatuh dari tebing… Aku menolehkan kepalaku dan melihat pada hamparan udara kosong yang sangat luas di luar jurang, dan kemudian menoleh untuk melihat dewa iblis yang luar biasa besar. Aneh! Kenapa aku selalu dipaksa untuk memilih antara jatuh sampai mati atau diinjak sampai mati? Bisa tidak kita mencoba sesuatu yang baru di saat berikutnya? Saat aku bertukar tatap tak berdaya dengan dewa iblis, aku melihat dari sudut mataku sesosok manusia melompat begitu tinggi sampai setinggi kepala dewa iblis…. Meskipun dia memanfaatkan beberapa pohon terdekat, kekuatan lompatan Kenshin tetap saja luar biasa, kataku dalam hati, merasa terkesan.

"Air Shattering Strike!" raung Kenshin dengan suara lantang tak ada bandingannya dan menghunuskan pedangnya dengan secepat kilat, menebas bagian belakang kepala si dewa iblis…. Ini terlihat seperti sebuah jurus yang didasarkan pada tekhnik menghunus pedang? Pikirku, dan melihat hembusan keras udara mengikuti pedang yang menekan ke rambut dewa iblis, diikuti dengan gema "CLANG!". Meskipun aku tidak tahu apakah si dewa iblis terluka atau tidak, aku setidaknya bisa melihat kekuatan Kenshin cukup untuk menyebabkan dewa iblis terjerembap ke depan.

Kelihatannya hanya masalah waktu sebelum makhluk itu jatuh dari tebing, pikirku, sekali lagi terkesan oleh Kenshin…. Tapi kenapa mendadak langitnya menjadi gelap? Aku mengangkat kepala untuk melihat, dan menemukan diriku membelalakkan mata dengan ternganga, pada behemoth…Dewa Iblis yang terguling ke arahku!

Ya ampun, kau seharusnya mengurangi berat badanmu, dewa iblis! Dengan massa tubuh seperti itu, aku bahkan tidak bisa menemukan tempat untuk meloloskan diri… Ya Tuhan! Dengan wajah berlinang air mata, aku meratapi takdirku dalam hati saat terjatuh dari tebing untuk ketiga kalinya….

“AHHHHHHHHHHHHHHH!” Aku berteriak sekuat tenaga, memejamkan mataku rapat-rapat saat aku menguatkan diriku menghadapi rasa sakit yang luar biasa saat membentur tanah. "AHHHHH…."

"Kau bisa diam tidak?" suara dingin Kenshin mendadak muncul dari atasku.

"Ahhhhh…?" Aku mengangkat kepala dan wajah Kenshin pun terlihat. Aku membeku dan melihat Kenshin memegangi ujung sebuah kain merah panjang yang mengikat erat pinggangku, dan…celana Kenshin telah melorot sampai ke lututnya saat sabuknya menghilang.

"Kenshin, cawat rasanya nyaman tidak?" tanyaku serius. Itu adalah sesuatu yang membuatku penasaran sejak peristiwa mengintip "tidak sengaja"ku yang terakhir.

"Apa itu cawat?" Kenshin bertanya dengan alis berkerut.

"Itu adalah kain yang sedang kau kenakan sekarang untuk menutupi areamu yang penting."

Kenshin menurunkan kepalanya untuk melihat kain tersebut, jelas-jelas bingung. "Bukankah kau memakai ini?"

"Tidak, aku tidak memakainya. Aku memakai boxer," aku menyangkalnya dengan sungguh-sungguh. Aku sama sekali tidak mengenakan cawat.

"Apa bedanya?"

"Hmmm, aku ingin sekali mengobrol denganmu tentang perbedaan antara cawat dan boxer, tapi…," aku melambat, mengerutkan alis. "Kau tahu, ini benar-benar sangat tidak…sehat membicarakan masalah celana dalam sambil bergelantungan di tengah udara, dan selain itu, aku tidak begitu terbiasa tidak menjejakkan kakiku dengan mantap di permukaan tanah."

Aku memutar mataku. "Karena itulah, maukah kau berbaik hati mengangkatku lebih dulu? Aku janji akan dengan jelas memberitahu setiap jenis celana dalam yang tersedia padamu, dan kemudian menjelaskan setiap pakaian tersebut secara rinci, oke?"

Aku memanjat menaiki tepian tebing dan duduk di tanah, tidak begitu berani untuk percaya bahwa aku berhasil menghindari kematian akibat jatuh dari tebing lagi.

<System notice : Prince telah menerima human-type pet. Silakan beri pet-mu nama.>

"Kenshin," kataku malas.

<Pemilik: Prince | Nama Pet: Kenshin | Level: 100 | Health: 10,000 | Mana: 1,500>

<Atribut – Strength: 300 | Physique: 150 | Agility: 150 | Intelligence: 50 | Willpower: 50 | Wisdom: 0>

<Tekhnik: Sword Drawing Technique / Continual Strike / Air Shattering Strike / Dragon Flight of Heaven / Void Piercer / Light Movement / Aerial Leap / Instant Ignition>

<Catatan khusus : Quest pet, tidak dapat naik level, tidak dapat mempelajari tekhnik baru.>

"Walaupun kita mengesampingkan fakta bahwa kau level 100, stats-mu benar-benar mengerikan. Pantas saja kau begitu kuat," kataku, melihat stats-nya dengan iri.

"Tapi sayang sekali kau tidak bisa naik level. Sistemnya cukup pelit; aku sudah begitu berusaha untuk mendapatkanmu," aku tidak bisa menahan diri untuk menggerutu pelan.

Kenshin melontarkan tatapan dingin padaku dan berkata datar, "Lari beberapa langkah juga bisa dianggap banyak berusaha?"

Mendengar kata-katanya, aku segera melompat berdiri dan menukas, "Apa yang kau maksud dengan 'lari beberapa langkah'? Asal kau tahu, ya. Aku datang jauh-jauh dari Benua Tengah dan membantu Jing dan Yun naik level berhari-hari sebelum aku didorong dari tebing oleh mereka. Sebagai tambahan, aku harus menguatkan diri pergi ke Desa Salju, dan aku bahkan tersandung sampai terjatuh… Hei, Kenshin, jangan pergi dulu, aku belum selesai bicara! Apa-apaan dengan tatapan dingin itu? Kau tidak sadar aku ini pemilikmu? Hei, jangan abaikan aku!"


"Apa yang sebaiknya kita lakukan berikutnya?" Kenshin dan aku telah berteleportasi ke White Tiger City di barat. Apa tepatnya yang harus kami lakukan untuk membebaskan Sunshine, yang masih terperangkap di Gua Iblis? Aku sama sekali tidak ingat.

"Kita harus pergi ke Adventurers' Guild dan menerima quest para peramal."

"Baik." Aku mengerti.

Setelah itu, aku dengan penuh semangat berjalan menuju Adventurers' Guild. Aku ingin menyelesaikan quest ini secepatnya dan kemudian membawa Kenshin yang kuat dan Sunshine yang elegan kembali bersamaku ke Benua Tengah. Haah, aku benar-benar kangen dengan semua yang ada di Odd Squad.

Setelah menerima quest, aku melihat sepotong kertas di tanganku dan merasa agak pusing. Apa ini? Kenapa di peta yang diberikan padaku oleh Adventurers' Guild, lokasi dari ketiga peramal besar hanyalah tiga titik yang dapat membentuk sebuah segitiga raksasa saat dihubungkan di penjuru Benua Timur? Bukankah mereka akan sangat sulit untuk ditemukan, sekalipun aku bisa membaca arah?

Sudahlah, pikirku, dan mendadak semangat kembali. Masih ada Kenshin di sini bersamaku. Apa yang kutakutkan? "Hei, Kenshin, seharusnya mudah sekali bagimu untuk mengetahui lokasi ketiga peramal besar itu, kan?"

Kenshin perlahan menoleh padaku, ekspresinya datar seperti biasanya. "Aku tidak tahu lokasi apapun selain Desa Salju tempat Kaoru!"

…Kelihatannya tingkat kesulitan quest ini kemungkinan besar bertambah jadi tiga tingkat karena dua orang yang sama sekali buta arah, pikirku, menghela napas, dan menyerahkan diriku untuk menatapi peta. Ayo mulai dengan yang terdekat! Titik terdekat yang berada di pojok kiri bawah kelihatannya berada di White Tiger City.

"Ya sudahlah, kita akan terus mengarah kiri dan bawah," kataku, dan mulai berjalan maju dengan terburu-buru.

"Prince." Kenshin, yang sedang mengikutiku dalam diam selama ini, mendadak memanggil namaku.

Aku terus berjalan dan hanya melirik ke belakang padanya. "Apa?"

"Kau masih belum menjelaskan padaku tentang celana dalam," balas Kenshin dengan ekspresi benar-benar serius.

"Hmmm, celana dalam…." Aku hanya tahu ada yang berjenis low-rise, korset, berenda thong… Aku penasaran apa pria punya jenis celana dalam lainnya selain boxer dan brief? Waaah, mana kutahu? Aku tidak mungkin merekomendasikan celana dalam berenda pada Kenshin, 'kan? Oh sial, aku benar-benar ingin melakukannya. Kenshin memakai celana dalam berenda… Heh! Hmmm, mungkin patut dicoba.

"Lupakan," Kenshin tiba-tiba berkata.

Aku pun kecewa. Aku menatap Kenshin dengan mata berbinar-binar dan memohon, "Kenapa? Aku benar-benar ingin mendiskusikannya denganmu. Biarkan aku menceritakannya padamu, pleeeease?"

Kenshin melontarkan pandangan dingin lainnya padaku. "Entah kenapa, aku sama sekali tidak mau mengetahuinya setelah melihat senyummu."

"…" Aku menggaruk wajahku. Jadi gara-gara senyumanku yang membuatnya gagal. Kali berikutnya aku harus ingat untuk tidak tersenyum. Misi "Buat Agar Kenshin Memakai Celana Dalam Berenda" — gagal. …Sayang sekali.

"Apakah ini laut?" Kenshin tiba-tiba berhenti berjalan. Dia menatapi laut dengan keheranan, seakan-akan dia tidak pernah melihat pemandangan semacam ini sebelumnya. Di wajahnya terdapat perpaduan antara rasa senang dan takjub.

Sedangkan aku, perasaanku terhadap laut tidak begitu menyenangkan. Kenangan saat terjebak di lautan, merasa bosan sampai mengobrol dengan Meatbun, dan bahkan dipaksa bekerja sebagai tukang pel dek dan membersihkan kotoran burung camar untuk membayar biaya makanku…itu sama sekali bukan hal yang ingin kuingat.

"Bisakah kita lebih dekat lagi untuk melihatnya?" Kenshin bertanya dengan ragu-ragu, bahkan dengan canggung.

Aku menyunggingkan seulas senyuman cerah padanya. "Tentu saja."

Di permukaan, Kenshin tenang seperti biasanya, tapi langkah-langkah kakinya jelas terlihat lebih cepat. Aku menyengir dan mengikutinya. Tidak disangka Kenshin yang pandai menahan diri ternyata bisa merasa malu-malu!

Kenshin berhenti di hadapan langit biru yang membentang di atas permukaan air, dan aku berjalan dalam diam untuk berdiri di sebelahnya. Setelah beberapa saat, aku berkata, "Indah sekali, 'kan? Tunggu sampai kita menyelamatkan Sunshine dan pergi ke Benua Tengah! Kalian berdua pasti akan melihat lebih banyak lagi pemandangan indah seperti ini."

"Mm." Seulas senyum samar muncul di wajah Kenshin pada akhirnya.

Aku melirik sekeliling kami. Kenapa tempat ini rasanya cukup akrab? Aku melihat ke kiri dan sebuah kapal yang sangat familiar muncul dalam pandanganku, juga pelabuhan yang sangat familiar…. Kami akhirnya sampai di pelabuhan? Aku membuka peta dan memeriksanya lagi, hanya untuk menemukan bahwa aku melenceng sekitar empat puluh lima derajat. Benar-benar bencana! pikirku. Kalau aku bahkan tidak bisa mencapai titik terdekat di peta, maka bagaimana caranya aku akan menemukan ketiga peramal besar itu?

"Haah, aku tidak bisa menemukan jalannya," kataku, mengerutkan alis.

Kenshin mengalihkan pandangannya dari laut dan memberi saran, "Ada banyak orang di sana. Bagaimana kalau kita menanyakan arah pada mereka?"

"Banyak orang?" Aku menoleh dan melihat memang benar ada keramaian yang cukup besar. Sepertinya mereka sedang menyaksikan sesuatu? menarik, pikirku dan dengan penuh semangat menyeret Kenshin bersamaku ke keramaian tersebut. "Ayo, kita periksa kehebohan apa itu."

"Kehebohan? Apakah itu lebih indah daripada laut?"

"Err… tergantung seleramu."

Benar-benar ada banyak orang…ditambah, kelihatannya suasananya cukup tegang? Aku melihat orang banyak yang telah berkumpul, sebagian besar mengepalkan tinju dan menggeretakkan kepalan tangan mereka, dengan ekspresi marah di wajah, dan beberapa dari mereka bahkan menghunus senjatanya. Ada apa? Aku mengintip ke kiri dan ke kanan, berusaha keras untuk melihat apa yang sedang terjadi di pusat keramaian itu.

“Bos wilayah ini, Huang Wei,” cetus seseorang di sebelahku tiba-tiba, dan suaranya bahkan bergetar.

“”Huang Wei?” Nama itu rasanya benar-benar tidak asing.

“Lü Jing, kau akan menjadi isteriku atau tidak? Asal kau tahu saja, aku sudah menaruh orang-orangku di rebirth point. Kalau kau bilang tidak, aku pasti akan membunuh bocah ini lagi dan lagi sampai dia mencapai level satu lagi,” kata suara familiar itu — jenis yang memohon untuk dihajar — dari tengah-tengah kerumunan.

Begitu aku mendengarnya, wajahku menjadi gelap. Huang Wei, makhluk rendahan; kau berani-beraninya mengganggu sahabatku lagi dan bahkan mencoba memaksa Jing untuk menikahimu? Kau benar-benar menganggapku remeh.

Aku menerobos maju melewati kerumunan orang yang perlahan mundur di depanku dan segera melihat Jing, yang wajahnya pucat pasi, dan Yun, yang sedang ditahan oleh beberapa player lainnya. Amarah mendidih di pembuluh darahku, dan aku mengatakan dengan suara dingin membeku, “Kalau dia akan akan menikahimu, akan kutelan dao-ku bulat-bulat.”

Semua mata tertuju padaku, dan Yun berseru gelisah, berkata, “Elf? Dàgē adalah elf, ‘kan. Apakah itu kau, Dàgē?”

Aku tersenyum. “Selain aku, apa ada elf lain yang akan pergi berjalan melihat-lihat Benua Timur?”

“Dàgē…” Ada ekspresi rumit di wajah memucat Jing saat dia menjerit padaku dengan ragu-ragu.

Aku mengalihkan perhatianku pada Huang Wei, yang berkilauan dan sangat kasar sama seperti sebelumnya, dan berbicara dengan nada tenang membekukan yang berkebalikan dengan amarahku. “Huang Wei, ya? Kelihatannya pelajaran yang kuberikan padamu terakhir kali tidaklah cukup.”

“Kau…!” Wajah Huang Wei mengerut marah dan, sampai ke tingkat lebih rendah, teror. “Dasar brengsek, jangan kira aku benar-benar takut padamu. Terakhir kali kau menyelinap menyerangku, tapi tidak akan semudah itu kali ini. Kalian semua, serang dia! Siapapun yang membunuhnya akan mendapat hadiah besar,” raung Huang Wei.

“Pertarungan dimulai, Kenshin,” kataku pada Kenshin, yang ada di sebelahku, dengan seulas senyum tipis. Aku merasa agak bersemangat. Aku harus menahan begitu banyak rasa frustrasi dalam pertarungan melawan dewa iblis. Bagaimana bisa aku melewatkan kesempatan ini saat aku akhirnya bisa bertemu seseorang yang bisa kukerjai?!

Wajah Kenshin tanpa ekspresi seperti biasanya saat memberi anggukan singkat.

Aku menghunus Black Dao, dan tersenyum dingin saat menatap Huang Wei, yang telah mundur ke belakang anak-anak buahnya, berpikir, Kau pikir aku tidak akan bisa mencapaimu hanya karena kau bersembunyi di belakang sana? Kenshin dan aku melesat maju bersamaan, sama sekali tidak mempedulikan keberadaan kedelapan preman di depan. Kami bergerak secepat kilat di antara pedang-pedang mereka, Black Dao-ku dan pedang Kenshin begitu cepat sampai-sampai yang bisa mereka lihat hanyalah bayangan hitam dan kilauan perak, diikuti dengan darah yang menyembur ke mana-mana...

Aku melompat dan melesat tanpa henti, merasa segar, sama sekali tidak menganggap para preman itu sebagai ancaman. Heh, terakhir kali aku berani menantang mereka sendirian, dan kali ini aku ada teror level 100, Kenshin di sisiku. Ini mungkin tidak sopan, tapi bagiku, pertarungan ini benar-benar hanya sebuah permainan untuk menyingkirkan rasa gatal bertarungku.

Aku meninggal dua orang terakhir pada Kenshin untuk diurusnya dan perlahan berjalan mendekati Huang Wei dengan senyum lembut. “Huang Wei, dengarkan aku baik-baik. Jangan sampai aku melihat kau mengganggu kedua orang yang memanggilku Dàgē ini. Kalau tidak, tidak peduli seberapa banyak sampah yang kau bawa denganmu, untukku, mereka tetap saja hanya lalat-lalat yang berdengung berisik.”

“Sedangkan kau, aku tidak diragukan lagi pasti akan membunuhmu.” Dengan sebuah kibasan senjataku, aku menghantam pedang emas yang mencolok namun sama sekali tak berguna itu dari tangan Huang Wei dan mengirimnya tergelincir menjauh.

Nine-headed Dragon Strike!

Aku mendongakkan kepala dan tertawa liar sembari menyaksikan lintasan-lintasan cahaya putih melesat ke langit. Setelah cukup lama, aku berhenti tertawa dan mendadak teringat saat melihat Kenshin, yang sudah menghabisi sisa dua preman beberapa saat yang lalu. Hmm… aku baru saja menggunakan jurus Kenshin tepat di depan matanya, ya ‘kan? Tapi...tekhnik Kenshin tidak termasuk Nine-headed Dragon Strike, jadi seharusnya tidak apa-apa, ya ‘kan? *sweat*

“Kalian tidak apa-apa?” Aku memperhatikan Yun dan Jing dengan cemas. Untungnya, selain dari wajah mereka yang pucat, keduanya terlihat tidak terluka.


“Dàgē…” Yun berjalan ke arahku, penyesalan terlihat jelas di wajahnya. Berdiri di depanku, dia mendadak jatuh berlutut. “Maafkan aku, Dàgē.”

Aku memperhatikannya, terpana, berpikir, Yun, orang ini yang benci kehilangan muka, sampai berlutut di hadapanku di depan orang banyak ini?

“Dàgē, kami sudah menipumu berkali-kali. Kenapa kau masih membantu kami?” Jing bertanya sambil datang mendekatiku, keraguan terpancar jelas di wajahnya.

Aku mengangkat bahu. “Sudah kubilang, aku tidak melakukan hal-hal yang akan kusesali, dan begitu aku sudah memutuskan untuk melakukan sesuatu, aku tidak akan menyesalinya. Aku sudah memutuskan untuk membantu kalian berdua, dan karena itulah aku akan membantu kalian berdua sampai akhir.”

“Dàgē,” Yun dan Jing berkata serempak, dan keduanya kelihatan sudah memantapkan tekad tentang sesuatu. “Kami mohon padamu, tolong biarkan kami berada di sisimu.”

“Huh?” Aku mengerutkan dahi. “Kalian berdua seharusnya sudah punya cukup uang untuk pergi ke Benua Tengah sekarang. Jangan repot-repot soal aku dan pergilah ke sana duluan. Aku masih ada urusan yang harus diselesaikan di sini.”

Wajah mereka mendadak pucat, dan Yun berkata dengan suara bergetar, “Dàgē, apakah kau tidak bersedia membiarkan kami tetap di sisimu? Aku bisa bersumpah bahwa kami tidak akan pernah mengkhianatimu lagi.”

“Bukan begitu…” Alisku mengerut saat aku berpikir keras, Haruskah aku membiarkan mereka mengikutiku? Aku tidak bisa memutuskan. Memang bagus kalau mereka juga ikut, terutama kemampuan membaca arah Yun dan Jing jelas jauh lebih baik daripada aku...tapi kalau mereka ikut, aku harus menjelaskan pada mereka tentang Kenshin dan Sunshine.

“Raja Iblis?” Jing mendadak berseru pelan saat dia menatap Kenshin dengan terperangah.

Yun juga, menoleh melihat Kenshin, dengan ekspresi tidak percaya di wajahnya.

Aku sedikit memucat, dan buru-buru berkata, “Jangan bilang apa-apa dulu, ikuti saja aku.”


Jing dan Yun membawa Kenshin dan aku ke sebuah restoran dan langsung menuju ke sembarang meja. Mereka berdua langsung duduk dan dua pasang mata  mulai menatap lekat-lekat wajah tanpa ekspresi Kenshin. Merasa geli, aku sengaja memilih menu dengan perlahan dan dengan santai memesan beberapa hidangan, seakan-akan tidak menyadari kegugupan mereka… Heh! Aku hampir mati menahan ketawa. Tidak disangka aku bisa menjahili mereka seperti ini dalam game; biasanya mereka yang bekerja sama mengerjaiku.

“Untuk hidangan terakhir, kami pesan…” Apa yang sebaiknya kupesan?

“Wonton minyak cabai, ya ‘kan, Dàgē?” Yun berkata dengan cengiran nakal. “Aku juga jatuh dengan wonton minyak cabai. Selera Dàgē’s soal makanan adalah yang terbaik!”

Aku mengangkat alis. Harus kuakui bahwa saat berurusan dengan makanan, akulah ahlinya di grup kami. Lagipula, bukankah aku yang selalu memutuskan makan di mana dan apa yang dipesan setiap kali kami makan di luar? “Kalau begitu, pesan wonton minyak cabai.”

Begitu si pramusaji meninggalkan meja kami, Jing dan Yun segera kembali menatap lekat-lekat Kenshin, jelas-jelas bertekad untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Aku menghela napas, dan berkata dengan tegas, “Jing, Yun, apa yang akan kukatakan pada kalian sekarang adalah hal yang sangat penting. Aku ingin kalian berdua berjanji tidak akan pernah memberitahukan hal ini pada siapapun, dan jangan pernah membahas hal ini lagi.”

Jing dan Yun bertukar pandang penuh tekad, dan Yun berkata tegas, “Dàgē, aku bersedia untuk bersumpah bahwa mulai hari ini, aku akan sepenuhnya menuruti Dàgē. Karena Dàgē telah meminta kami untuk tidak mengatakan hal ini, kami berdua tidak akan mengucapkan sepatah kata pun soal ini.”

“Bahkan kalau Dàgē masih kurang percaya, maka tidak perlu menjelaskan ini. Kami tidak akan keberatan,” Jing ikut berkata.

Aku bertanya dengan memandangi Kenshin. Bagaimanapun ini adalah masalahnya. Aku tidak punya hak untuk memutuskan.

“Ceritakan pada mereka. Aku tidak mau mereka memperlakukanku seperti NPC lain,” Kenshin membalas dengan dingin.

Jing dan Yun terperangah menatap dia selama tiga detik, dan kemudian Yun tergagap, “Kau...kau memiliki kesadaran diri? Apa benar begitu? Hal semacam ini yang hanya terjadi di novel-novel sci-fi ternyata benar-benar ada?”

“Tepatnya seperti itulah.” Aku menggaruk wajahku, berpikir, Ternyata Yun lebih pintar dari yang kukira. Dia berhasil menduga yang sebenarnya terjadi begitu saja. “Kenshin bukanlah satu-satunya. Ada satu lagi yang dipanggil Sunshine. Aku saat ini mencoba mencari jalan untuk menyelamatkan dia juga.”

“Ada satu lagi?” Yun dan Jing tertegun.

“Yeah. Aku harus menyelesaikan quest lain, barulah aku bisa mengeluarkan Sunshine dari Gua Iblis.” Aku mengerutkan wajah. “Meski begitu, aku butuh bantuan kalian. Aku tidak pintar dalam membaca peta yang disediakan quest…”

“Coba kulihat.” Seperti yang kuharapkan dari Jing, dia mengatasi keterkejutannya dengan sangat cepat dan dengan tenang meminta peta tersebut.

Aku mengeluarkan peta yang sangat membingungkan itu dan menyerahkannya padanya. Jing memandangi peta itu, mengerutkan dahi, dan kemudian mengeluarkan sebuah busur derajat… Profesional sekali, pikirku kagum. Pantas saja mereka tidak pernah tersesat. Aku harus belajar dari mereka, tapi sebelum itu, bagaimana caranya menggunakan busur derajat?

“Menuju ke dua puluh derajat di antara timur dan tenggara dari pelabuhan dan lakukan perjalanan sekitar lima belas kilometer,” Jing mengatakan sambil menyimpan busur derajatnya.

“Oh…” Aku membalas acuh tak acuh sambil mengunyah makananku. Bagaimanapun, dengan mereka yang memimpin jalan – karena Jing dan Yun sudah bilang akan mengikutiku – aku tidak akan perlu repot-repot dengan urusan “antara timur dan tenggara” atau apapun itu.

Aku mengambil sebuah bakpao daging dari meja dan memandanginya dalam diam selama beberapa saat. Aku belum memberi makan Meatbun selama beberapa hari sampai sekarang, ‘kan? pikirku, berkeringat dingin. SIAL! Tidak peduli dengan Jing dan Yun yang masih ada di sini, aku buru-buru menjangkau ke dalam kantungku dan mengeluarkan Meatbun...

“Mamaaaaa!” Mata Meatbun benar-benar membengkak karena menangis, tapi begitu melihatku, wajahnya kelihatan cerah karena gembira. “Meatbun-bun kangen sekali dengan Mama. Perut Meatbun-bun juga lapar-lapar sekali!”

Aku bahkan tidak dapat mengekspresikan betapa perih hati dan sesal yang yang kurasakan. Tidak kusangka aku ternyata lupa memberinya makan… Aku buru-buru menyuapi Meatbun dengan bakpao daging di tanganku. Saat aku menyuapinya, aku meminta maaf, berkata, “Aku benar-benar minta maaf, Meatbun, aku benar-benar lupa. Aku yang salah sudah membuatmu lapar begitu lama.”

“Mmmph, mmmph!” Mulut Meatbun benar-benar penuh dengan makanan, tapi dia terus memandangiku dengan kebahagiaan yang terpancar dari matanya.

Melihat Meatbun makan dengan senangnya, aku merasa lega dan sekali lagi mengangkat sumpitku, siap untuk mengisi perutku sendiri....dan melihat tiga pasang mata yang menatapku, tertegun.

“Sebuah bakpao daging dengan mata…” kata Yun, mata melebar dan rahangnya terbuka.

“Bakpao daging yang bisa ngomong…” Jing menelan ludah.

“…” Kenshin tidak berkata apa-apa.

Aku terkekeh. “Ini adalah pet-ku. Namanya Meatbun. Meatbun, bilang halo pada semuanya.”

Meatbun menelan bakpao daging besar di mulutnya dan melompat ke atas meja, berkata, “Halo, semua-muanya! Nama Meatbun adalah Meatbun. Meatbun adalam pet Mama.”

“Mama?” Tiga pasang mata beralih melihat ke arahku dengan bertanya-tanya.

“Meatbun tidak begitu bisa membedakan gender dan selalu suka memanggilku ‘Mama’,” balasku, berkeringat parah. Ini benar-benar bohong. Mungkin tidak ada siapapun di dunia ini yang sehebat Meatbun dalam mengenali gender...

Pet Dàgē benar-benar spesial,” kata Yun dengan senyum tak berdaya.

Hmmm, biar kupikirkan. Pet pertamaku adalah sebuah bakpao daging dengan mata, yang kedua adalah Kenshin, seorang karakter manga yang memiliki kesadaran diri, dan setelah menyelamatkan Sunshine, bukankah pet ketigaku nantinya adalah seorang pangeran Arab yang punya kesadaran diri? Mereka benar-benar sangat spesial… *sweat* 😓!

“Jadi kau suka makan bakpao daging, Meatbun-bun? Itu benar-benar tidak biasa,” kata Yun pada Meatbun, yang sekarang sedang “duduk” di bahunya.

“Bakpao daging, enak!” balas Meatbun, melompat-lompat di tenggerannya dengan senang.

“Bakpao daging sangat enak. Sejak kapan kau mulai bicara?”

“Setelah bertarung dengan burung api.”

“Apa itu burung api?”

“Dia pet Gui-gui.”

“Dan ‘gui-gui’ ini apa?”

“Gui-gui itu…” Meatbun memiringkan kepalanya ke satu sisi sambil berpikir. “Makhluk seperti Mama.”

“Oh...elf warrior lainnya,” ujar Yun, mendadak mengerti maksudnya. “Kalau begitu…”

“…” Tak ada komentar.

Sepanjang jalan menuju peramal pertama, kami berdua – Jing dan aku – dan seorang NPC mendengarkan dalam diam percakapan tidak masuk akan antara seorang manusia dan sebuah bakpao daging. Kelihatannya Yun dan Meatbun langsung akrab dengan mudahnya. Mereka berdua sama-sama tidak bisa berhenti bicara – jadi mereka terus saja saling mengobrol!

“Jing, berapa jauh lagi?” tanyaku jengkel. Kalau aku terus mendengarkan obrolan mereka berdua, aku takut akan benar-benar kena neurasthania (TL : gangguan jiwa)!

Jing memegang peta di tangan kiri dan sebuah kompas di tangan kanan. “Seharusnya ada di sekitar sini, Dàgē.”

“Ayo cari di sekitar sini kalau begitu.”

Duak! Kakiku menemui semacam perlawanan saat melangkah. Apa ada penghalang? aku penasaran, dan melihat ke bawah…. Aku ternyata menendang mangkuk seorang pengemis tua dan membuatnya terbang menjauh lima meter? aku terperangah. Ya ampun, apa yang telah kulakukan? Aku buru-buru mengambil kembali mangkuk itu dan meminta maaf dengan sungguh-sungguh, berkata, “Aku benar-benar minta maaf, paman. Ini mangkukmu.”

Melihat nyaris tidak ada reaksi dari pengemis tua itu, aku berpikir sejenak dan kemudian mengeluarkan beberapa koin emas lalu menaruhnya ke dalam mangkuknya. “Paman, koin-koin emas ini untukmu. Aku benar-benar minta maaf karena telah menendang mangkukmu.”

Begitu masalah ini selesai, aku baru saja akan lanjut berjalan ketika melihat Jing dan Yun memandangiku dengan terpukau. “Ada apa?” Aku meraba-raba wajahku. Tidak, topengku masih terpasang! Jadi, kenapa mereka memandangiku?

“Tidak ada apa-apa, hanya saja...sikap Dàgē terhadap NPC sangat tidak biasa,” balas Yun dengan nada terkejut.

Jing menarik napas dan berkata, “Pantas saja Kenshin dan Sunshine memilihmu untuk mengambil quest mereka.”

“...” Wajah tanpa ekspresi Kenshin mendadak berkedut. *Sweat* Kalau kuingat baik-baik, alasan kenapa mereka memilihku sepertinya ada kaitannya dengan fakta bahwa tidak ada orang lain yang pernah jatuh dari tebing itu sebelumnya...

Tetap saja, aku harus menjaga tampangku, dan karena itulah aku terbatuk dua kali dan dengan nada pura-pura tegas, berkata, “Kapan aku pernah bilang kalau Kenshin memberiku quest untuk dilakukan? Apa yang kalian berdua bicarakan?”

Mereka berdua segera panik. “Maaf, Dàgē. Kami tidak mengatakan apa-apa.”

Aku mengangguk dan berkata dengan nada santai, “Ayo cepat cari lokasi peramal itu.”

“Ya, Dàgē.”

Sebuah suara lemah muncul dari tempat si pengemis tua sedang berlutut di tanah, berkata, “Kenapa kalian mencari si peramal?”

Kami menoleh melihat ke arahnya. “Kami ingin tahu ramalan yang terukir di puncak Azure Mountain,” jawabku ragu-ragu.

Si pengemis menghela napas samar dan perlahan berdiri. “Kelihatannya aku tidak bisa bersembunyi selamanya! Akulah salah satu dari tiga peramal besar.”

“Ah?” Kami semua terbengong-bengong. Benarkah? Apa sesulit menjadi seorang peramal sampai-sampai dia harus menjadi seorang pengemis agar bisa makan?

“Anak muda, melihat kau adalah orang yang baik, aku tidak akan menyulitkanmu. Aku awalnya akan memintamu melakukan sesuatu untuk membuktikan bahwa dirimu adalah orang yang berbudi,” kata si peramal dengan senyum ramah. “Sekarang, akan kuserahkan potongan peta Azure Mountain ini padamu tanpa syarat.”

Aku menerima potongan peta itu darinya, merasa sedikit tercengang. Kami mendapatkan potongan pertama ini dengan begitu mudahnya?

“Permisi, tuan peramal, tapi apa yang akan kau minta dari kami untuk lakukan awalnya?” tanya Jing dengan penasaran.

“Menantang benteng Fierce Tigers’ di TIger Mountain dan membunuh ketiga pemimpinnya,” si peramal membalas ringan.

Rahang Jing dan Yun terbuka lebar dalam cara yang tidak anggun. “Benteng Fierce Tigers’... Itu adalah sebuah area yang tidak kurang berbahaya daripada Demon Cave, dan kita harus membunuh ketiga bosnya?”

Setelah beberapa lama, Yun akhirnya berhasil menutup mulutnya. Dia menoleh dan memandangku dengan penuh hormat lalu berkata, “Dàgē, aku benar-benar kagum padamu. Xiăodì pasti akan belajar dari teladanmu, dan memiliki hati yang mulia yang tidak malu untuk melayani sebagai seorang penyembuh banyak orang.”

Hei, bisa tidak kau tidak semena-mena menggunakan pepatah seperti itu? Memang benar penyembuh orang banyak! Dan diingat lagi kau mengambil kuliah jurusan literatur Cina sepertiku, pikirku, menggaruk wajah. Tapi tetap saja, benar-benar tak disangka tindakan sekecil itu ternyata akan menyelamatkan kami dari banyak masalah. Meski demikan, dengan begini, waktuku sampai bisa bertemu semuanya lagi di Odd Squad akan jadi semakin dekat.

Aku berbalik ke peramal sekaligus pengemis tua itu. “Terima kasih atas potongan petanya, paman peramal. Kami sekarang akan segera pergi untuk mencari peramal kedua.”

Si peramal tersenyum. “Benar-benar orang yang sopan. Kalau begitu, biarkan aku memberimu petunjuk lainnya. Peramal utara sering muncul di tempat yang ada ayam, bebek, ikan, daging, sayuran hijau, dan wortel.” Setelah berkata begitu, dia berlutut sekali lagi dan lanjut menjadi seorang pengemis.

“Pasar basah?” renungku, menggaruk wajah. Desain untuk para peramal ini benar-benar aneh. Tadinya aku berpikir mereka semua akan bersembunyi seperti para pertapa di gunung atau tempat-tempat terpencil lainnya dengan hanya ditemani burung-burung dan hewan buas. “Kalau begitu, ayo pergi ke Northern Tortoise City untuk mencari peramal utara!”

“Ya, Dàgē.” Jing dan Yun memandangiku dengan lebih memuja daripada sebelumnya.

“Kelihatannya quest ini akan lebih mudah daripada yang kupikirkan.” Ya ‘kan? Pikirku dengan percaya diri. Anggota Odd Squad, aku akan segera pulang!

[½ Prince Volume 3 Chapter 6 End]



[1] Tekhnik menghunus pedang: Fans Kenshin mungkin lebih akrab dengan istilah bahasa Jepangnya – "battoujutsu”. Seperti namanya, jenis dari jurus ini didasarkan dari tekhnik yang sering melibatkan (sampai beberapa tingkat) menarik/menghunus pedang, seperti memanfaatkan pergerakan untuk membangun momentum serangan sebenarnya. Lihat Wikipedia untuk lebih banyak informasi.
[2] Tekhnik Kenshin: Perlu dicatat bahwa Kenshin di sini hanya memiliki sedikit jurus dari Rurouni Kenshin seperti Dragon Flight of Heaven (juga dikenal sebagai Amakakeru Ryuu no Hirameki). Sebagian besar jurus-jurusnya yang lain tidak berasal dari seri Rurouni Kenshin.