Alasan Memilih

(Penerjemah : E-Chan)


“Jadi, bisakah aku menanyakan alasan kenapa kau memilih kami?”

Si elf pemanah, Sorana, berkata. Walaupun dia sendiri tidak berniat melalukan ini, Eto merasa seolah dirinya sedang dipandang dingin dari atas karena tinggi tubuh wanita itu.

“Atau tepatnya, aku ingin tahu alasan kenapa kau memilihku.”

Dari apa yang bisa Eto lihat, Sorano pastinya seseorang yang sangat terus terang tentang rasa ingin tahunya. Dan Eto merasa menanggapi pemikirannya dengan tulus apa adanya akan menjadi langkah pertama untuk mendapatkan kepercayaannya.

“Terus terang, aku tidak tahu apakah benar kisah yang Sorano barusan ceritakan padaku. Masalah tentang membunuh seorang pedagang budak yang mencoba menculik beberapa anak kecil dari desamu atau melukai bangsawan yang hampir memperkosamu. Tapi, jika itu memang benar, ‘kau benar-benar menahan diri saat itu’, itulah yang kupikirkan. Karena kalau itu adalah aku, aku sudah pasti akan mencoba untuk membunuh semua pedagang budak. Atau setidaknya, aku pasti tidak akan meninggalkan sekumpulan kriminal begitu saja. Dan mengenai si bangsawan, aku memang tidak tahu seberapa jauh yang akan kulakukan pada bangsawan itu kalau aku harus memikirkan konsekuensi ke depannya, tapi kau sudah berada dalam posisi di mana kau sudah diperlakukan sebagai seorang budak kriminal dan salah satu pelakunya ada di depanmu, ‘kan? Kalau begitu, kurasa tidak hanya daging pipi, kupikir bukanlah peristiwa yang tak terhindarkan misalkan lehernyalah yang dicabik. Intinya adalah, aku menghormati tindakan Sorano.”

Eto mengutarakan dengan jujur pendapatnya terhadap Sorano. Mendengar itu, Soriano menuju ke samping dan duduk di ranjang, berkata, “aku mengerti.” Ya, kelihatannya dia merasa malu setelah mendengar perkataan Eto, tapi Eto cukup peka untuk tidak membahasnya.

“Baiklah kalau begitu, kami berikutnya. Bisa beritahu aku kenapa kau membeli ayahku dan aku?”

Si ahli pedang setengah Ogre, Kohaku, menanyai Eto. Ayahnya, Amou, memiliki tinggi badan yang membuat orang-orang harus mendongak saat melihatnya, juga  memiliki kulit berwarna kebiruan dan dua tanduk hitam yang tumbuh di dahinya, menunjukkan karakteristik dari seorang Ogre. Sebaliknya, Kohaku terlihat lebih mirip manusia. Meskipun itu mungkin karena dia masih muda, tubuhnya lebih kecil daripada Eto, dan dia memiliki kulit putih lembut. Tanpa tanduk transparan berwarna coklat keemasan amber yang tumbuh di tengah-tengah dahinya, sulit untuk percaya memanggilnya seorang setengah-Ogre. Dan kelihatannya, dia diberi nama sesuai warna tanduknya yang tumbuh sejak dia lahir.

“Alasan aku membeli budak adalah untuk mendapatkan party yang tidak akan mengkhianatiku. Selama aku memiliki kontrak budak, setidaknya, aku bisa memastikan keamananku. Sebagai tambahan, seperti yang kujelaskan ke agensi, aku akan memberi kalian 5% dari imbalan misi. Dan saat uang yang kalian kumpulkan telah mencapai harga pembelian kalian, aku berpikir untuk melepaskan kalian dari perbudakan. Dengan demikian, aku ingin kalian bekerja sungguh-sungguh dengan hal itu sebagai dorongan semangat. Kalian juga tidak perlu khawatir tentang makanan dan tempat berlindung. Pada dasarnya, aku menawarkan kalian perlakuan yang sama sepertiku. Apa kalian mengerti sejauh ini?”

Eto menanyai Amou dan Kohaku untuk memastikan. Melihat mereka mengangguk, Eto melanjutkan.

“Salah satu alasan aku membeli kalian berdua adalah kekuatan tempur Amou secara signifikan lebih tinggi daripada ahli pedang lainnya. Alasan lainnya adalah karena kalian berdua ayah dan anak, selama aku setuju dengan persyaratan kalian, kurasa kalian tidak mungkin mengkhianatiku. Jika aku mengatakannya secara kasar, Kohaku bisa digunakan sebagai sandera agar Amou bekerja.”

Begitu Eto menggunakan kata “sandera”, sebuah aura kuat yang mengintimidasi muncul dari Amou.

“Tentu saja, sekalipun aku mengatakannya sandera, bukan berarti aku akan menempatkan Kohaku dalam bahaya. Akan tetapi, meskipun misalnya Kohaku berada di tempat yang aman, Amou sudah jelas akan kembali pada puterimu, dan jika kalian berdua bisa bersama-sama, aku yakin kalian bisa bekerja sama untuk menghadapi krisis apapun. Intinya adalah, aku percaya kekuatan perasaan itu mungkin menjadi dorongan terakhir untuk membantu kita bertahan hidup dalam situasi sulit apapun.”

Setelah Eto berkata begitu, intimidasi dari Amou pun berhenti, dan Kohaku mengarahkan tatapannya ke bawah lalu mengangguk.

“Mengerti. Kami berharap tuan akan benar-benar memenuhi persyaratan yang tuan barusan katakan.”

Eto memahami dengan sangat baik bahwa Kohaku sepertinya belum mempercayai dirinya, tapi itu juga bukan berarti dia akan bersikap bermusuhan.

“Panggil saja aku Eto. Aku menantikan saat bekerja dengan kalian.”

Setelah itu, mereka berempat, yang baru saja membentuk party, meninggalkan kamar penginapan dan menuju ke distrik perbelanjaan untuk membeli beberapa baju dan kebutuhan sehari-hari.