Kencan Pertama Selalu Bermasalah
(Bagian 3)

(Penerjemah : Nana)


Terdengar bunyi patahan sebatang stick Pocky.

Sakuta dan Mai berada di dalam gerbong kereta Enoden. Mereka duduk bersebelahan di tempat duduk yang memandang ke arah laut.

Suara *pokkin* terdengar lagi. Mai sedang memakan sebatang Pocky yang dia beli sebelumnya. Bibirnya yang terbuka saat mematahkan stick Pocky tersebut begitu imut, dan Sakuta sangat menikmati pemandangan itu. Mai tidak melakukan hal ini dengan sengaja, namun caranya menggigit ujung Pocky sebelum akhirnya mematahkannya sangat menawan.

Tetapi Sakuta tidak bisa sepenuhnya menikmati pemandangan hal tersebut. Tidak ada yang tahu kapan Mai akan menyuruhnya untuk memakan batangan Pocky tersebut ke hidungnya, jadi ia tetap berjaga-jaga.

Ternyata, momen menakutkan tersebut tiba lebih cepat dari yang ia kira.

Mai mengarahkan sebatang Pocky ke arahnya.

“Ini,” ucapnya.

“Aku sudah kenyang!”

“Aku harus menjaga berat badanku. Kau boleh makan ini semua.”

“Aku harus memakannya dengan hidung?”

“Makan saja dengan mulutmu,” keluhnya sambil sekilas menatap ke arah Sakuta.

“Kalau begitu, terima kasih.”

Sakuta mengambil kotak Pocky tersebut dari Mai.

“Kau tidak mengira kalau Aku akan benar-benar menyuruhmu untuk memakannya melalui hidungmu, kan?”

“Kau sepertinya sangat bersungguh-sungguh.”

“Aku cuma berakting.”

“Tapi ya, tetap saja!”

“Meski begitu, kau bisa mencobanya sekali saja.”

“Dasar iblis!”

“Aku jadi ingin menyuruhmu melakukannya karena kau kurang menyesal.”

“Maaf! Aku cuma bercanda! Wahai Mai Sakurajima-sama yang cantik! Tolong, ampunilah Aku!”

“Permintaan maafmu tidak terdengar begitu meyakinkan.”

Mai yang merasa bosan mengalihkan pandangannya ke jendela. Kereta yang mereka tumpangi baru melewati tiga stasiun setelah Stasiun Fujisawa, belum sampai melaju di sisi laut. Baru sampai di tempat di mana kereta tersebut melaju di antara pemukiman warga.

Di waktu yang begitu larut di sore hari ini, hanya terlihat sedikit penumpang yang menaiki kereta. Begitu banyak bangku kosong dan mereka berdua mencoba memeriksa reaksi para penumpang di dekatnya. Namun, tidak ada satu pun diantara mereka yang sadar dengan keberadaan Mai---kemungkinan besar mereka tidak dapat melihatnya.

“Hei.”

“Haruskah Aku bersujud?”

“Tidak. Kenapa kau bersikeras untuk membantuku? Jawab yang jujur karena ini hukumanmu.”

“Kenapa tiba-tiba membicarakan itu?”

“Biasanya, kebanyakan orang hanya akan menyerah di tengah jalan.”

“Kau sangat menyadari hal itu ya…”

“Bukan berarti orang lain di sekitarku menyembunyikan hal semacam itu.”

Mai tidak dapat menyesuaikan diri dalam kelas atau di sekolahnya. Dia diperlakukan layaknya seperti udara, ada, namun tidak ada satu pun yang berinteraksi dengannya.

“Mai-san, tatapan sinis itu membuatmu tak bisa berteman dengan yang lainnya.”

“Kau juga sama.”

Sakuta mengabaikan komentar sinisnya karena ia sadar betul akan hal ini. Kunimi dan Futaba selalu mengatakan hal yang sama kepadanya.

“Tapi kau juga tidak tahu malu, Sakuta.”

“Benarkah?”

“Kau itu, seperti, satu-satunya orang yang tidak takut untuk berbicara denganku.”

“Dirimu sendiri bisa membuat orang lain merasa segan dan membuat mereka menjauh.”

Parasnya yang rupawan sudah cukup membuat orang lain kesulitan untuk berbicara dengannya, ditambah dengan status dirinya sebagai selebriti. Hal itu hanya akan memperburuknya.

“Oh, tutup mulutmu itu,” ucapnya Mai.

“Apa kau suka dengan yang namanya ‘sekolah’?”

“Jika yang kau maksud itu, ‘Aku tidak memiliki satu orang pun yang bisa disebut sebagai teman,’ Aku sudah terbiasa sejak SD, jadi bukan berarti segala hal akan berubah. Aku juga tidak mengira kalau ‘sekolah’ itu sebuah tempat yang disukai oleh seseorang.”

Kata-katanya tidak terdengar seperti seseorang yang mencoba untuk menutupi atau mengelak dari pertanyaan yang diberikan. Lebih terdengar seperti pendapat pribadinya. Mai tidak terlalu memikirkan tentang tidak dapat menyesuaikan diri di sekolah. Perbedaan antara dirinya dan orang-orang di sekitarnya adalah dengan tidak membuat dirinya sebagai orang yang aneh. Dia menyerah untuk melakukan hal itu sejak lama, dan Sakuta merasa kalau Mai seperti mendapat pencerahan tentang kehidupan sekolah.

“Dan lagi, kau mencoba mengalihkan pembicaraan,” ucapnya sambil menatapnya dengan sinis. “Aku yang bertanya lebih dulu dan kau masih belum menjawabnya sama sekali!”

“Apa pertanyaannya?”

“Kenapa kau begitu bersikeras ingin membantuku? Kau bahkan memberikan sepotong informasi yang bisa merepotkanmu nantinya ke reporter itu. Kau pasti punya alasan tersendiri kenapa melakukan hal ini sampai sejauh itu.”

Mai bersikeras meminta jawaban.

“Aku hanya tak bisa mengabaikan seseorang yang sedang kesusahan.”

“Aku mau jawaban serius.”

“Oof.”

“Kau memang ramah, tapi bukan dalam artian yang sebenarnya.”

“Benarkah?”

“Kau tidak ramah ke semua orang. Ketika anak kuliahan yang mencoba untuk mengambil potret diriku saat di Stasiun Shichirigahama, kau benar-benar kasar ke mereka.”

“Kurasa orang lain juga akan melakukan hal yang sama.”

“Maksudku, kau memilih cara yang kasar ketika menghadapi mereka. Kau bisa saja menyindirnya dengan lembut.”

“Meskipun saat itu Aku sedang marah?”

“Bisa saja jika kau memang ingin melakukannya. Tapi kau dengan tenangnya memilih cara yang akan menyudutkan pasangan itu.”

“Ketika kau menjelaskannya seperti itu, Aku jadi terdengar seperti orang jahat…”

“Kau mengira dirimu itu orang baik?” tanya Mai dengan heran.

“Setidaknya, kau lebih buruk dariku.”

“Yah, seterah saja. Katakan saja alasanmu.”

Mai tidak akan membiarkan Sakuta untuk mengelak dari ini. Dia akan terus menyinggungnya.

“Kalau begitu, akan kuceritakan alasannya. Kau sebaiknya dengar baik-baik.”

“Silahkan.”

“Kukira, Aku bisa memakai kesempatanku untuk dekat dengan seorang senpai yang cantik---"

“Aku tidak memintamu untuk mengatakan maksud terselubungmu.”

“Kaulah yang memintaku untuk menjawab dengan serius!”

“Katakan saja alasan yang dapat membuatku percaya dengan kata-katamu itu.”

Orang lain pasti akan menganggap kalau Mai sedang mencari tahu bagaimana perasaan Sakuta padanya. Terkadang ia tidak mengerti dengan diri Mai.

“Aku tahu betapa menyiksanya ketika tak ada seorang pun yang akan membantu ketika kita meminta pertolongan,” ucap Sakuta, seperti sedang membayangkan kejadian yang lalu.

“……”

Kali ini Mai tidak menyela perkataannya. Sakuta pasti benar dengan persoalan yang diucapkannya.

“Ketika Kaede terpengaruh oleh Sindrom Pubertas, tak ada satu pun yang mempercayainya, bahkan ketika hal itu terjadi di depan mata mereka.”

Sakuta menggigit sebatang stick Pocky. Jika ia lanjut berbicara sementara mulutnya sibuk mengunyah Pocky, ia yakin Mai pasti akan menegurnya. Jadi, ia menelan makanan tersebut sebelum lanjut berbicara.

“Tak ada seorang pun yang mau mendengarkan kami berdua. Mereka semua mengabaikannya begitu saja. Kami berdua mengatakan yang sebenarnya, tapi mereka menganggap kalau kami sedang berbohong.”

Dan Sakuta tidak menyalahkan orang-orang itu. Reaksi pertama mereka pasti memang seperti itu. Jika bukan karena adiknya, Sakuta juga tidak akan mau mempercayainya. Ia akan menutup mata dan telinga, berpura-pura tidak melihat mau pun mendengar apa pun.

Akan lebih mudah untuk bersikap seperti itu. Semua orang tahu akan hal tersebut.

“Aku boleh tanya satu hal?” tanya Mai dengan nada penuh keraguan.

Sakuta mengangguk. Ia merasa tahu apa yang akan Mai tanyakan.

“Orang tuamu?” Mai mengucapkannya dengan penuh kehati-hatian.

Dia juga memiliki masalah dengan ibunya sendiri, jadi pasti sangat berat baginya untuk menanyakan sesuatu yang begitu sensitif. Sakuta merasa kalau kemampuan Mai untuk berempati terhadap dirinya itu hal yang bagus. Dia mungkin sedikit bersikap layaknya ratu, tetapi dia juga bisa mengerti perasaan manusia sesamanya.

“Mereka tak tinggal bersama dengan kami.”

“Aku tahu itu. Aku pernah berkunjung ke apartemenmu.”

Jelas saja, melihat tempat tinggalnya akan memperjelas hal tersebut. Tidak ada objek tertentu yang menandakan kehadiran orang dewasa. Cuma terlihat sepatu Sakuta di pintu masuk, dan suasana di ruang tamu dan kamarnya terkesan sama. Biasanya, suasana di setiap bagian rumah akan terasa berbeda, bahkan jika mereka itu bagian dari keluarga.

“Maksudku adalah…”

“Aku mengerti.”

Sakuta tahu apa yang Mai maksud dari awal. Bagaimana mereka menangani situasi Kaede?

Sakuta memakan tiga batang stick Pocky sekaligus. Kotak tersebut akhirnya kosong dan diremasnya serta dimasukkan ke dalam sakunya.

“Ibuku, yah… Dia mencoba untuk memahami situasinya. Namun, pada akhirnya seluruh masalahnya terlalu berat untuknya, dan dia… Yah, dia masih dirawat di rumah sakit. Perundungan yang terjadi ke putrinya sendiri sudah cukup berat baginya, bahkan tanpa ditambah dengan Sindrom Pubertas yang menimpa Kaede. Ayahku selalu menemani ibuku di rumah sakit.”

Sakuta sendiri bahkan tidak tahu cara menanganinya. Sebelum ia bisa melakukan apa pun, segala sesuatu di sekitarnya telah berubah, dan sebelum ia bisa menyadarinya, keadaannya terus berlanjut seperti sekarang ini.

Hanya sebuah efek samping dari Sindrom Pubertas yang masih tersisa.

Sakuta tidak bisa melakukan apa-apa, dan tidak ada satu pun yang bisa ia lakukan sekarang ini.

“Melihat ibuku yang harus dirawat merubah Kaede dan karena dirinya yang menjadi akar masalah, hal itu malah memperburuk keadaannya…sekarang, dia tak ingin dekat dengan siapa pun kecuali diriku.”

“Berapa umur Kaede?”

“Dua tahun lebih muda dariku. Seharusnya dia sedang menjalani kelas tiganya di SMP saat ini. Setelah semua itu terjadi, dia mengurung dirinya di rumah dan belum pernah pergi ke sekolah lagi.”

Faktanya, dia sama sekali tidak bisa meninggalkan rumah. Jika dia mencoba memakai sepatu dan berdiri di depan pintu masuk, tanpa sadar dirinya akan menolak untuk melangkah keluar. Lalu, dia mulai menangis seperti balita yang mengamuk.

Seorang konselor datang untuk mengeceknya sebulan sekali, tetapi sejauh ini, tidak ada tanda-tanda dirinya membaik.

“Ibumu itu…Apa kau membencinya karena hal tersebut?”

“Awalnya,” Sakuta mengaku. “Kupikir itu sudah menjadi tugasnya untuk membantu kami berdua agar percaya denganku dan Kaede.”

Tetapi setelah tinggal jauh dari ibu mereka membuat Sakuta sadar akan beberapa hal. Seperti betapa banyaknya pekerjaan rumah yang dilakukan oleh ibunya setiap hari. Mulai dari memasak makanan, mencuci pakaian, membersihkan kamar mandi dan toilet, menangani segala masalah yang terjadi, dan ketika mereka berempat tinggal bersama, Sakuta tidak terlalu menghargai usaha ibunya itu.

Ketika Sakuta harus melakukan semua hal itu sendiri, ada beberapa hal yang ia sadari dan berubah. Khususnya, sekarang ini ia seperti seorang pengecut.

Sakuta sangat yakin kalau ibunya pasti menanggung banyak hal. Pasti ada beberapa hal yang ibunya harapkan agar anggota keluarga yang lain sadar akan keadaannya. Tetapi ibunya itu tidak pernah sekalipun mengeluh ketika di depan Sakuta. Perasaan kecewa tersebut tidak pernah terlihat di wajahnya. Dia juga tidak pernah meminta agar anggota keluarga yang lain berterima kasih padanya.

Dan Sakuta mulai merasa kalau ia tidak memiliki hak untuk menaruh dendam pada ibunya setelah semua perjuangannya selama ini. Dalam setahun terakhir, perasaan tersebut terus tumbuh di dirinya.

Hal yang sama juga berlaku untuk ayahnya. Mereka bertemu sebulan sekali untuk melaporkan perkembangan masing-masing. Ayahnya yang harus mengurus ibunya serta harus mencukupi keuangan untuk hidup Sakuta dan Kaede di tempat lain. Tidak peduli berapa banyak shift kerja yang Sakuta ambil di kerja paruh waktunya, hal tersebut tidak akan pernah cukup untuk membayar sewa apartemen yang ditinggalinya. Sakuta harus mengakui kalau dirinya sendiri tidak akan mampu untuk mempertahankan kehidupan sehari-harinya hanya dengan usahanya sendiri.

“Mengurusi hal-hal rumah dan Kaede mengajarkanku kalau Aku ini hanya seorang anak kecil serta menjadi dewasa bukan berarti kau dapat memecahkan semua masalah. Harusnya Aku menyadarinya lebih awal.”

“Wow…pemikiranmu itu cukup cerdas.”

“Kau pasti berpikir kalau Aku ini idiot.”

“Tidak juga. Sebagian besar teman kelas kita bahkan masih belum menyadari hal itu.”

“Mereka hanya belum mendapat kesempatan untuk merasakannya. Pada akhirnya, semua orang akan merasakannya saat mereka dipaksa untuk menghadapi kenyataan itu.”

“Jadi, pada akhirnya bagaimana?” tanya Mai sambil melirik ke arah jendela. Sebentar lagi mereka akan bisa melihat laut dari kereta yang ditumpangi.

Sakuta mengingat-ingat pertanyaan Mai.

Kenapa ia bersikeras melibatkan dirinya dengan Mai?

Percakapan ini dimulai oleh pertanyaan itu.

“Ada seseorang yang mau mendengarkan keluhanku tentang Sindrom Pubertas Kaede.”

Jika bukan karena itu, Sakuta tidak yakin kalau ia bisa sampai ke titik ini.

Ia belajar sebuah pengalaman pahit.

Kesepian bukanlah hal terburuk yang bisa terjadi di dunia ini.

Benar-benar sendirian itu jauh, dan jauh lebih buruk.

Ini adalah kenyataan pahit yang diketahui oleh semua orang, jauh di dalam lubuk hati mereka yang terdalam. Ketakutan yang mengakar tersebut berujung pada aturan-aturan seperti “segera balas pesannya” atau “jangan pernah meninggalkan pesan yang belum dibaca.” Tanpa menyadari kalau aturan-aturan tersebut sebenarnya mengikat orang-orang yang mengikutinya hingga akhirnya menyebabkan seseorang di dalam grup dikucilkan untuk selama-lamanya.

“Aku bertemu dengan seseorang yang memercayai perkataanku.”

Sakuta merasa sakit di dada setiap kali ia mengingatnya. Ia selalu menggigit bibirnya setiap kali Sakuta mengingat namanya.

“Seorang gadis?” tanya Mai.

“Huh?” Sakuta terkejut karena Mai benar.

Tatapan dingin Mai benar-benar membuatnya takut.

“Aku dapat mengetahuinya dari ekspresi wajahmu itu,” ucap Mai yang jelas-jelas terdengar tidak senang.

Kereta tersebut berhenti di Stasiun SMA Kamakura. Pemberhentian berikutnya adalah Shichirigahama, tempat di mana mereka biasa turun.

Ketika pintu gerbong terbuka, Mai berdiri.

“Ayo,” perintahnya.

Tempat tujuan kencan mereka adalah pemberhentian terakhir di jalur kereta ini. Masih ada waktu sekitar lima belas menit sebelum mereka sampai.

“Kita turun di sini?” tanya Sakuta.

Mai sudah berjalan keluar dari gerbong.

“Uh, tunggu.” Sakuta segera mengikutinya.

Pintu kereta segera menutup beberapa saat kemudian, dan kereta tersebut perlahan menjauh dari stasiun itu. Mereka memandanginya sampai kereta tersebut tidak terlihat lagi di kejauhan, kemudian Mai mengarahkan pandangannya ke pantai.

Stasiun kereta ini berdiri di tepi laut. Tepatnya, dibangun di atas bukit dari pinggir pantai. Tidak ada satu bangunan pun yang menghalangi pemandangan lautan lepas. Kita bisa berdiam diri di peron untuk menunggu kereta dan bisa menikmati pemandangan laut dan pantai sepuasnya.

Stasiun ini adalah salah satu jenis lokasi yang sering digunakan untuk lokasi film. Sakuta sangat yakin kalau suatu film pasti pernah syuting di sini---karena ia pernah melihat kru film sedang bersiap-siap di pantai.

“Karena kau telat selama sembilan puluh delapan menit, waktunya sudah larut,” Mai menjelaskan.

Posisi matahari berada pada sudut yang rendah di langit Enoshima, dan langit yang biru berubah menjadi merah jingga.

“Mari jalan.”

Mai menunjuk ke arah pantai dan meninggalkan stasiun tanpa menunggu balasan.

Sakuta hanya bisa tertawa dan mengikutinya dengan senang hati.