BAB 2
(Translater : Fulcrum)


Sabtu, 29 September. Tahun ini, baik Musyawarah Siswa dan Pemilihan Ketua OSIS berakhir tidak ada masalah. Untuk mencegah adanya suara tidak sah seperti tahun lalu, mulai tahun ini, semua murid yang masuk ke aula diberikan sebuah kartu nirkabel sekali pakai, kartu ini digunakan sebagai kertas suara nanti saat waktu pemungutan suara. Dan seperti tahun-tahun sebelumnya karna hanya kandidat tunggal, telah disediakan tombol ‘Setuju’ dan ‘Tidak Setuju’ di kartu itu. Kartu itu didesain untuk mentransmisikan suara sesuai dengan tombol yang ditekan sehingga suara bisa dihitung.

Setelah pesan elektronik itu terkirim, kartu-kartu itu akan dibuang. Chip elektronik di kartu itu cukup murah tapi masih lebih mahal dibanding kertas. Banyak orang yang bertanya-tanya apakah perlu sampai sejauh ini untuk sebuah pemilihan setingkat SMA. Namun, dengan donasi kartu dari perusahaan yang terafiliasi dengan Keluarga Kitayama, masalah ini sudah terpecahkan dan metode ini digunakan. Akibatnya, keluarga Shizuku berhasil melakukan ekspansi komersil ke bidang akademik sihir dengan mengamankan posisinya di SMA 1.

Mengesampingkan pemikiran orang dewasa itu terlebih dulu, metode pemilihan elektronik baru ini memungkinkan penghitungan langsung, dan dengan begitu Miyuki memenangkan posisi Ketua OSIS dengan suara seratus persen. Bahkan tidak ada yang bercanda dan memilih ‘Tidak Setuju’, tidak tahu itu karena percaya atau takut padanya. …….Sulit untuk mengetahuinya.

“Dengan ini, ayo kita rayakan peresmian Miyuki sebagai Ketua OSIS. Cheers!”

Menanggapi perkataan Erika, semuanya mengangkat gelas soft drink mereka. Perayaan ini diikuti keluarga, teman dan kouhai yang berkumpul di Einebriese; mulai dari: Tatsuya, Leo, Mizuki, Mikihiko, Honoka, Shizuku, Minami, Izumi, Kasumi dan Kento. Kasumi tidak sering berkumpul dengan grup Tatsuya tapi hari ini Izumi menyeretnya ikut.

“Mau bagaimana lagi. Memang sudah pasti seperti ini hasilnya.”

Tidak ada yang membantah Erika yang mengatakan itu setelah mereka bersulang.

“Tentu saja! Tidak mungkin ada orang lain yang bisa menandingi Miyuki-senpai jadi Ketua OSIS SMA 1! Tidak ada seorangpun yang mampu menandingi kemampuan! Talenta! Kecantikan! Aura elegan! Hasil pemilihan ini memang rahmat dari Surga!”

Daripada orang yang dibicarakan, malah adik kelasnya lah yang kesal.

“Uh, oh benarkah?”

Miyuki yang duduk hanya meringis melihat antusiasme yang tinggi itu. Kasumi yang malu dengan saudari kembarnya hanya diam meminum minumannya tanpa melakukan apa-apa sambil pura-pura tidak kenal.

“Miyuki, apa kau sudah menentukan siapa anggotanya?”

Saat semua orang, bahkan Tatsuya, ragu untuk buka mulut, Shizuku dengan berani bertanya atau mungkin bisa dibilang benar-benar mengabaikan Izumi.

Pada saat itu, Izumi menatap Miyuki lebih tajam lagi. Honoka juga sangat tertarik tapi, matanya berkedip bolak-balik antara Miyuki dan Tatsuya.

Miyuki sadar dengan dua tatapan itu tapi, dia pura-pura tidak sadar, terutama tatapan Izumi, saat dia menjawab pertanyaan Shizuku.

“Aku rasa aku mau meminta Izumi-chan jadi wakil ketua.”

Teriakan bahagia Izumi benar-benar tidak bisa dibedakan dengan teriakan histeris, dan Kasumi yang lebih malu lagi semakin pura-pura tidak mengenalnya.

“Aku masih belum menentukan yang lain. Kurasa aku mau memasukkan Honoka juga tapi……”

Saat ia mengatakan itu, Miyuki terlihat berkedip bukan pada Honoka tapi pada Tatsuya.

Mungkin melihat keraguan Miyuki ini, membuat Shizuku atau Honoka berhenti menanyakan pertanyaan.


Walaupun ada beberapa orang yang liar, pesta ini secara keseluruhan berjalan mulus dan tidak merusak suasana café sampai akhir. Karena itu hari Sabtu, mereka pulang sebelum matahari terbenam. Tapi, Tatsuya, Miyuki, dan Minami sampai di rumah saat langit barat sudah berubah dari merah tua menjadi ungu.

Dia tadi sudah sempat makan apa yang mereka pesan di Einebriese, tapi itu tidak banyak. Besok hari Minggu dan bertiga Tatsuya, Miyuki, dan Minami masih belum makan malam sampai sekarang.

Miyuki dan Minami mulai berdebat kecil tentang siapa yang akan menuang teh, tapi perkataan Tatsuya, “Lagipula hari ini adalah perayaan buat Miyuki”, membuatnya kembali dari dapur, memberikan ketenangan sejenak, dan dirinya duduk cukup dekat di samping Tatsuya.

Minami masuk ke ruang keluarga membawa nampan saat dia melihat mereka berdua bersama, alisnya berkedut terkejut melihat semua itu. Namun, dia tidak mengatakan apa-apa, dia tidak menunjukkan emosi apa-apa, dia menaruh teh susu di depan Miyuki dan kopi di depan Tatsuya dan berdiri di samping meja.

Kali ini Tatsuya tidak meminta Minami untuk ikut duduk. Sebaliknya, dia minta Minami untuk menghentikan pekerjaannya dan meninggalkan ruangan itu. Namun, Miyuki ingin membicarakan sesuatu dengan Minami dan berbicara kepadanya sebelum meminum tehnya.

“Minami-chan.”

“Ya, Miyuki-neesama.”

“Omong-omong, aku ingin kau ikut OSIS sebagai sekretaris, Minami-chan.”

Ekspresi Minami tidak terlalu berubah, tapi tubuhnya kaku seperti tertekan. Dan bahkan orang yang tidak sehebat Tatsuya pun bisa lihat kalau dia sedang menguatkan diri untuk tidak gemetaran.

“…Baik.”

Nada bicaranya lebih terdengar kaku daripada lembut saat memberikan jawaban yang singkat kepada Miyuki.

Jika mau menjawab jujur, Minami mungkin akan menolak untuk bergabung dengan OSIS. Namun, dia juga tahu kalau dengan ikut OSIS dia akan lebih mudah menjalankan tugasnya sebagai Guardian. Jawaban tidak tulusnya itu tanda konflik batinnya.

“Itu benar. Akan lebih praktis bisa membawa CAD di sekolah, Minami harus ikut OSIS.”

“Kau benar, Onii-sama.”

Tatsuya mendukung ide Miyuki dan Miyuki dengan senang menjembatani jarak diantara mereka.

Melihat dari jauh jarak mereka berdua yang hampir nol, Minami sadar kalau sudah tidak ada gunanya lagi ia mengatakan isi hatinya.


Tatsuya mungkin enggan, apalagi Miyuki, tapi mereka berdua tidak bisa mengakhiri hari dengan begitu saja. Setelah minum teh mereka selesai, Tatsuya pergi ke kamarnya dan membuat panggilan. Nomor yang dihubunginya adalah jalur telepon khusus kepala Keluarga Yotsuba. Namun, Maya tidak mengangkat telepon itu.

[“Tatsuya-dono, saya minta maaf Nyonya tidak bisa mengangkatnya sekarang.”]

Sebaliknya ia sudah dijawab oleh Hayama, penjelasan kasar itu bahkan tidak memberitahu apa yang sedang Maya lakukan. Sepertinya, dia pura-pura tidak bisa, pikir Tatsuya.

Namun, dia merasa tidak perlu menanyakan itu. Ia tidak perlu memberitahu Maya tentang hal ini langsung. Akan bagus untuk punya alibi saat memberitahu Maya tentang urusannya. Berbicara dengan Hayama adalah hal yang lebih mudah ketimbang dengan Maya.

“Jadi kalau begitu, apa kau bisa menyampaikan pesanku kepada Oba-ue mengenai tugas yang kuterima waktu itu.”

[“Silakan lanjutkan.”]

Hayama mungkin sudah menduga hal ini, jawabannya cukup cepat.

“Aku ingin meminta bantuan dari Keluarga Kudou untuk mencari target. Aku sudah merencanakan pertemuan dengan kepala Keluarga Kudou sebelumnya melalui Keluarga Fujibayashi.”

[“Ohhh…”]

Dia tidak bisa tahu dari suaranya apakah Hayama memang terkejut atau cuma pura-pura saja. Dia tidak yakin bisa tahu bahkan dengan melihat wajahnya.

[“Tatsuya-dono tidak meminta bantuan dari Batalion Sihir Independen; tetapi Anda meminta bantuan dari Tetua Kudou?”]

“Bantuan dari manapun, aku yakin kita perlu menghindari bantuan militer dalam urusan Yotsuba.”

[“Anda tidak keberatan meminta bantuan Keluarga Kudou?”]


“Besar kemungkinan Zhou bersekutu dengan Traditionalist, bukan? Kalau memang begitu, meminta bantuan keluarga ber‘angka 9’ yang punya hubungan permusuhan dengan Traditionalist adalah hal yang bagus. Selain itu, Keluarga Kudou berhutang pada kita dalam insiden bulan lalu. Kalau selang waktu mereka membayar hutang terlalu lama, semuanya akan jadi sulit, aku yakin ini waktu yang tepat.”

Tawa kagum Hayama bisa terdengar dari tempatnya. Tawanya murni karna terhibur. Dia tidak menduga hal ini akan terjadi saat ia menunggu jawaban Hayama.

[“Meski masih muda, Tatsuya-dono paham betul bagaimana cara kerjanya dunia ini dengan baik.”]

Ini mungkin bisa dibilang karena kedewasaan, Hayama segera menghentikan tawanya. Tapi, dia tetap tidak menyembunyikan kekagumannya.

[Tentu saja, meminta bantuan Keluarga Kudou saat ini adalah suatu pilihan yang bijak. Baiklah. Akan saya sampaikan kepada Nyonya.]

“Terima kasih.”

Meski ia tahu kalau Hayama tidak bisa melihat dirinya, Tatsuya menundukkan kepalanya ke arah telepon itu.

[Tatsuya-dono tidak perlu memberikan laporan detail karena meminta bantuan mereka kepada kami. Mengingat ini ada hubungannya dengan militer dan Sepuluh Master Clan, akan saya sampaikan perihal ini kepada Nyonya seperti perkataan Tatsuya-dono.]

Setelah menyampaikan kalimat penutupnya, Hayama memutus panggilan itu.

◊ ◊ ◊

Hayama, yang berbicara dengan Tatsuya dengan mode speaker, mematikan telepon itu dan menunduk dalam ke dinding di seberang meja.

“Seperti yang Anda dengar, Nyonya.”

Dugaan Tatsuya tentang Maya terbukti benar. Namun, dia tidak menduga kalau Maya akan satu ruangan dengan Hayama selama ia melakukan panggilan.

Selama itu tadi Maya terpaksa diam. Tampaknya, kesulitan terbesar adalah menahan tawa. Mungkin dia tahu jika Hayama berbicara kepadanya itu berarti panggilan itu sudah selesai, dia melepaskan tawa yang tidak anggun.

Bahkan dengan sikap majikannya yang seperti itu, sikap Hayama tidak berubah. Bukan hanya tidak menegurnya, dia bahkan tidak menunjukkan ketidaksetujuan apapun pada Maya.

Namun, Maya mungkin merasa tidak nyaman ditatapnya seperti itu, tawanya berhenti tidak lama setelahnya.

“Maafkan aku, Hayama-san. Apa yang dikatakan Tatsuya-san sangat lucu, sampai aku tidak bisa menahan diri.”

Maya menggunakan sapu tangan untuk menghapus air mata yang mengalir. Lalu, ekspresinya berubah benar-benar serius.

“Siapa yang membuat anak itu menjadi bijaksana seperti itu?”

Dan Maya memiringkan kepalanya dengan wajah serius.

“Aku tidak menemukan kesalahan dari alasan Tatsuya-dono.”

“Dari satu aspek, dia benar tapi ini tidak normal.”

Hayama membela Tatsuya. Mungkin, karena itu, Maya menjawab dengan nada dan tatapan yang tidak tertarik.

“Biasanya, saling meminta tolong seperti ini akan mempererat hubungan.”

“Mungkin Tatsuya-dono merasa hubungan itu tidak penting.”

“Ah…. Anak muda.”

Hayama tidak setuju dan setuju di saat yang sama. Namun, merasa perkataannya terkesan buruk, Maya merubah topiknya.

“Omong-omong, bagaimana jalannya pencarian Zhou Gongjin? Aku penasaran apa ada petunjuk baru.”

Perubahan topik yang tiba-tiba ini tidak mengganggunya sama sekali, tidak ada keraguan sedikit pun pada jawaban Tatsuya.

“Tidak ada petunjuk baru sama sekali. Sayangnya, tidak ada satupun petunjuk setelah pertarungan kecil di Kyoto Sanzen-in pada akhir bulan lalu.”

“Jadi di situ kita kehilangan jejak. Aku tidak yakin kuil terkenal seperti Sanzen-in akan memberi akomodasi untuk penyihir asing yang mencoba membahayakan negara….. Traditionalist mungkin melakukan sesuatu dari balik layar.”

Maya bergumam dengan jijik. Demi melindungi tradisi Sihir Kuno, mereka menggabungkan sekolah. Namun, sebenarnya selagi perkumpulan Penyihir Kuno yang dikenal sebagai Tradisionalist ini bekerja sama dengan bekas Ninth Institute untuk mencapai tujuan mereka dengan alasan yang kenakak-kanakan dan tidak berjalan lancar, mereka memendam dendam kepada keluarga ‘angka 9’ yang mereka kambing hitamkan, menunjukkan alasan atas perlawanan dan kekesalan mereka. Maya membenci sikap kenakak-kanakan itu dengan cara yang berbeda dari keluarga ‘angka 9’.

“Nyonya, apa tidak apa-apa tidak memberitahu Tatsuya-dono informasi ini?”

“Tidak perlu. Mitsugu-san sedang melakukan penyelidikan menyeluruh di Oohara, bukan? Selain itu, pria itu mungkin tidak akan berada di satu tempat dalam waktu yang lama.”

Hayama menunduk mendengar keputusan majikannya.

◊ ◊ ◊

Kebiasaan harian Tatsuya akhir-akhir ini adalah menghabiskan sorenya di kuil Yakumo untuk pengembangan(=latihan) sihir barunya, tidur; latihan pagi; dan pergi ke sekolah kalau besoknya hari kerja dan dia akan mengembangkan sihir barunya kalau besok akhir pekan.

Hari ini, Minggu, 30 September. Hari ini juga, setelah sarapan, Tatsuya mengunci dirinya di laboratorium bawah tanah untuk melanjutkan pengembangan sihir baru.

“…Tidak ada masalah dengan proses pembentukan baryon-nya. Sejak awal, itu memang sudah bisa dilakukan hanya dengan mengikuti hasil analisa dan menjaga standar kecepatan dan keteraturannya dengan baik.”

Dia bukan bergumam secara tak sadar, sebaliknya ia sepenuhnya sadar. Pikiran Tatsuya sedang buntu sampai-sampai ia harus mengatakan isinya agar mendapat ide.

“Selanjutnya, tidak ada masalah dengan Sihir Tipe Gerakan di simulasi. Pada dasarnya ini sama seperti gerakan gas. Ada juga cara dengan memanfaatkan gaya Lorentz seperti punya Lina tapi, mengingat ini FAE, rasanya lebih cepat kalau pakai sihir.”

Tatsuya menghela napas dalam. Pada akhirnya, itu kesimpulannya.

“Seperti yang kuduga, kuncinya adalah menyelesaikan pembentukan Rangkaian Aktivasi Sihir Tipe Gerakan itu dalam waktu yang lebih cepat dari FAE.”

Setelah menggunakan Sihir Dekomposisi, dia menyimpulkan bahwa ia perlu menyelesaikan Sihir Tipe Gerakan dengan waktu yang cepat sebelum hukum fisika kembali berlaku. Hanya untuk membentuk sebuah Rangkaian Sihir saja, dia sudah lebih baik dari kebanyakan penyihir biasa berkat kemampuan ‘Flash Cast’nya. Namun, untuk dapat menyelesaikan pembentukan sihir, Kekuatan Gangguan adalah suatu elemen penting. Bagi Tatsuya yang Area Kalkulasi Sihir-nya didominasi dengan ‘Decomposition’ dan ‘Regrowth’, ini adalah suatu masalah serius.

Tatsuya merasa kalau dia perlu merubah suasana hatinya sehingga ia naik saat siang.

Dia segera sadar masalah apa yang dihadapinya setelah dia sampai di atas. Saat ia mencari seisi rumah itu, tidak ada orang di sana.

“Tubuh sintetis? Tidak, Roh Buatan?”

Roh Buatan adalah istilah dalam Sihir Modern untuk suatu tipe ‘rangkaian’, shikigami atau shiki, khusus. ‘Roh’ adalah badan informasi Psion yang ada di Idea bahkan setelah suatu fenomena telah selesai dipengaruhi sihir, terisolasi di sana. Roh Buatan adalah suatu badan informasi terisolasi yang dibentuk dengan melakukan suatu proses pembentukan roh, yang kebanyakan dilakukan dengan Sihir Kuno. Namun, faktanya tidak semua shiki, badan informasi terisolasi, bisa digunakan langsung seperti ini. Faktanya, lebih umum menangkap dan menggunakan Psion yang memiliki inti badan informasi Pushion seperti ini. 

Badan informasi independen berhenti di tengah udara seperti melekat di dinding rumah itu. Ini adalah sihir yang sama dengan yang digunakan sebagai sihir pelindung untuk mencegah penyelinap masuk SMA 1. Meski begitu…….

(Aku tidak tahu data seperti apa yang dimilikinya.)

Tatsuya tidak merasa kalau pengetahuannya tentang Rangkaian Sihir sudah sempurna. ‘Shiki’ bisa saja memiliki fungsi yang tidak diketahuinya, dia tidak bisa mengabaikan kemungkinan kalau shiki bisa melakukan pengintaian ke dalam rumah menembus sihir pelindung.

Sekali lagi, Tatsuya mengarahkan ‘mata’nya menembus dinding itu ke arah Roh Buatan.

Dia menganalisa struktur informasinya.

Badan informasi independennya terbentuk hanya dari Psion.

Setidaknya inti Pushion memastikan kalau itu adalah Roh Buatan, pikirnya. Dan sama seperti Rangkaian Sihir, dia bisa menganalisanya dengan menyeluruh.

Tatsuya menjulurkan tangan kanannya pada Roh Buatan itu. Tidak ada CAD di tangannya.

“Input variabel : terkunci pada data struktural dari Roh Buatan.”

Daripada mengeluarkan sebuah Rangkaian Aktivasi dari sebuah CAD, proses pembentukan rangkaian sihir itu datang dari pusat data area kalkulasi sihir Tatsuya dan dialirkan ke realita.

“Proyeksi rangkaian sihir : ‘Dissection’ diaktifkan”

Sebuah cahaya tak terlihat meledak.

Ikatan yang membentuk konstruksi informasi dari Roh Buatan semuanya terputus; badan informasi Psion itu menjadi sebuah kumpulan Psion yang kacau dan tertarik ke dalam dimensi informasi.

Saat dia akan membuka pintu ke ruang keluarga, Tatsuya sudah didesak oleh Miyuki.

“Onii-sama, apa saja yang baru saja terjadi?”

Walau bisa dibilang ia ‘mendesak’, Miyuki tidak marah pada Tatsuya, yang dirasakannya saat ini adalah gelisah.

“Apa Onii-sama tahu apa yang baru saja terjadi?”

Tatsuya menunjukkan keterkejutannya. Sepertinya, Miyuki sadar kalau Tatsuya menggunakan ‘Dissection’. Kenyataan kalau dirinya yang notabene adalah penyihir yang tak terdeteksi sihirnya sampai bisa dideteksi agak menyinggung harga dirinya, tapi Tatsuya tidak menghiraukannya. Minami yang mengikuti Miyuki dari belakang tidak mengerti dengan pembicaraan mereka berdua.

“Bisa dibilang aku sendiri tidak terlalu tahu apa yang terjadi tapi…… aku rasa seakan Onii-sama menggunakan ‘Dissection’.”

“Aah, ada Roh Buatan di dalam rumah.”

Tatsuya tidak punya niatan untuk menjelaskan itu padanya tapi dia juga tidak berusaha menyembunyikannya juga, dia mengiyakan pertanyaan adiknya dan menjelaskan semuanya.

“Mungkin, ini ada hubungannya dengan pekerjaan yang Onii-sama terima bulan lalu.”

“Apa ini perbuatan orang yang bernama Zhou Gongjin?”

“Mungkin anak buahnya, ini mungkin pekerjaan orang yang melindunginya.”

Setelah mengatakan itu, Tatsuya menghela napas yang tidak biasa ia lakukan.

“Fumiya dan Ayako dibuntuti?”

Mata Miyuki dan Minami terbelalak.

“Tidak mungkin… Ayako-chan tidak mungkin tidak membiarkan diri mereka dibuntuti.”

Keterkejutan Miyuki bahkan sampai membuat dirinya meragukan kebenaran yang keluar dari mulut Tatsuya, tapi Minami tidak sampai sebegitunya.

“Mungkin dia sengaja melakukannya.”

“Ayako-chan membiarkan dirinya dibuntuti sampai ke rumah ini!?”

Psion mengelilingi tubuh Miyuki.

Itu adalah permulaan dari sebuah ledakan sihir.

Namun, Miyuki sudah dewasa. Sebelum dia secara tidak sadar menggunakan sihirnya, ia sengaja menghentikannya. Mata Tatsuya menyipit saat ia melihat semua ini.

“Kurasa ini kasusnya agak sedikit berbeda. Kemungkinan Ayako….. tidak, bukan hanya Ayako tapi Fumiya juga sudah dilarang untuk bertindak bahkan jika mereka dibuntuti orang.”

Mendengarkan dugaan kakaknya membuat Miyuki tenang, tapi bukan berarti dia sudah mereda sepenuhnya.

“Kita tidak perlu memikirkan siapa yang menyuruhnya. Apapun yang terjadi.”

“Aku tidak akan tahu kebenarannya tanpa bertanya langsung, tapi mereka mungkin bermaksud menjadikanku sebagai umpan.”

“Mereka berani!?”

“Jangan marah, Miyuki. Aku bilang kita tidak akan tahu kebenarannya jika tidak bertanya langsung, bukan.”

“Tapi…”

Miyuki sudah jatuh ke perangkap ‘untuk tidak memikirkan kemungkinan lainnya’. Namun, Tatsuya tidak menegurnya atas apa yang dilakukannya.

“Selain itu, aku bisa mengerti kenapa aku dijadikan umpan. Musuh kita kali ini adalah orang yang membuat Kuroba Mitsugu cedera berat. Meski ini semua tidak seberapa, mereka tidak tahu masalah ini bisa semakin parah hingga seberapa. Menjadikanku yang hanya bisa dikalahkan dengan serangan fatal bukanlah sebuah kesalahan taktik.”

Jadi jangan marah tentang ini, Tatsuya tersenyum.

“Onii-sama!”

Namun, jawaban ini menandakan Miyuki tidak akan membiarkan Tatsuya menjadi umpan lagi.

“Tolong, Onii-sama jangan membahayakan diri Onii-sama lagi dengan ceroboh! Bukan berarti semua akan baik-baik saja kalau Onii-sama tidak mati atau tidak terluka, bahkan Onii-sama tahu itu!”

Tatapan mengancam Miyuki yang tajam menghentikan perkataan Tatsuya.

“Tolonglah, Onii-sama pikirkan apa yang kurasakan sebelum kau membiarkan dirimu terluka!”

“…Maaf.”

Tatsuya entah kenapa meminta maaf,

“Minami, maaf membuatmu menunggu. Kau sudah menyiapkan makan siang, bukan?”

Lalu dia mengganti topik dan memanggil Minami.

“Ya, Tatsuya-oniisama. Miyuki-oneesama juga, silakan ke ruang makan.”

Minami tidak ingin ‘mengganggu Tatsuya sedikitpun’, dia memang benar-benar gadis yang baik.

◊ ◊ ◊

Tatsuya menganalisa Roh Buatan alias shikigami itu dan di waktu yang sama.

“Uuhhaa!?”

Di sebuah taman kecil sekitar lima ratus meter dari rumah Tatsuya, seorang pria berusia sekitar 30 tahunan duduk di bangku seketika mengeluarkan sebuah suara bernada tinggi.

Pria yang duduk di sebelahnya dengan gelisah melihat ke sekitaran beberapa kali. Pelindung, yang ia buat, berfungsi normal. Walaupun mereka tahu kalau diri mereka tidak terlihat dan suara mereka juga tidak bisa terdengar oleh siapapun, dia masih saja berbisik untuk bertanya “Apa yang terjadi?”.

“Shikigami-nya dihancurkan…”

“Dihancurkan? Bukan dinonaktifkan atau dicuri?”

“Tidak, kurasa bukan keduanya.”

Orang yang sedang ditanyai ini menolehkan kepalanya ke kanan-kiri setiap kali ia berkata “Aku tidak tahu”.

“Umpan balik dari shikigami itu tiba-tiba hilang.”

“Apa maksudmu orang di rumah itu menggunakan mantra Buddhis?”

“Bukan! …tidak, Aku tidak tahu.”

Kebingungannya sudah mencapai puncak, orang yang meninggikan suaranya ini mulai tenang.

“Aku tidak merasakan sinyal mantra itu. Kau juga tidak, bukan?”

“Itu, ya begitulah, itu betul tapi…”

Dua Penyihir Kuno ini telah membagi-bagi tugas untuk mencari rumah Tatsuya. Yang satu memanipulasi shikigami dan yang lainnya menjaga keamanan. Yang bertanggung jawab atas keamanan mencegah terjadinya luka yang disebabkan oleh ‘Reversal’, selain sihir pelindung, mengerahkan radar sihir untuk mendeteksi tanda-tanda sihir.

“Namun, seharusnya tidak ada cara untuk menghancurkan sebuah shikigami begitu saja tanpa mantra itu, bukan? Aku tidak percaya kontrolmu terhadap shikigami bisa terputus.”

“Tentu saja tidak! Tapi…”

Dia sekali lagi kelihatan kebingungan, dia menolehkan kepalanya lagi sambil masih melihat ke bawah.Tiba-tiba sebuah bayangan jatuh ke tanah yang dipandangnya.

Kedua orang ini mendongak terkejut. Kekagetan mereka berasal dari adanya seseorang yang mendekat tanpa sepengetahuan mereka meski sudah adanya pelindung untuk mencegahnya, tapi, kekagetan itu berubah jadi ketakutan dan cek-cok.

Orang yang berdiri di hadapan mereka mengenakan baju Buddhis. Dia mengenakan topi anyaman dan selendang biksu dan lonceng vajra di tangannya.

Mereka berdua tahu dari penyelidikan mereka kalau ada hubungan baik antara Shiba bersaudara dengan Kuil Kyuuchouji. Faktanya sang Kokonoe Yakumo yang terkenal yang menjadi kepala Kuil Kyuuchouji sangat dekat dengan target mereka sejak hari pertama mereka melakukan semua ini. Tatapan mereka berdua bertemu, mereka memilih untuk melarikan diri daripada bertarung.

Begitu mencoba berdiri, seolah-olah sudah menduganya, biksu yang berdiri di hadapan mereka membunyikan lonceng vajra.

Timbre itu terdengar jelas oleh mereka berdua dari tiga arah.

Dengan ekspresi terkejut, orang yang duduk di kiri melihat ke kiri dan yang di kanan melihat ke kanan.

Dua biksu yang sama seperti di hadapan mereka sedang membunyikan lonceng vajra dengan cara yang persis sama.

Mereka yang mencoba berdiri mulai kehilangan kekuatan di kaki mereka.

Di saat mereka sadar jika mereka sudah terjatuh dalam sihir, mereka jadi tak sadarkan diri.

◊ ◊ ◊

Tatsuya mengunjungi Kuil Kyuuchouji untuk meminjam tempat latihan bawah tanah dan segera dipersilakan masuk ke sebuah ruangan yang seperempatnya berisi biksu ketika ia datang. Itu adalah ruangan yang sama, tempat ia bertemu dengan Yakumo untuk membicarakan tentang masalah boneka Parasite. Yakumo duduk di saat yang sama dengan Tatsuya dan memulai pembicaraan tanpa basa-basi.

“Sepertinya kau terseret dalam masalah lagi.”

Mendengar itu, Tatsuya tahu kalau ini tentang insiden shikigami hari ini.

“Maafkan aku, apa aku merepotkan Master?”

Jika dipikir-pikir lagi penggunaan sihir pengawasan jarak jauh Yakumo di siang bolong pada mereka yang bisa dibilang ada di bawah pengawasannya di kota sebelah bukanlah sesuatu yang tidak diketahui muridnya.

“Banyak muridku yang berdarah panas.”

Sambil tersenyum kecut, Yakumo mengiyakan pertanyaan Tatsuya secara tidak langsung.

“Jadi, apa yang terjadi kali ini?”

Mungkin Tatsuya seharusnya tidak menjawab seperti itu, tapi seperti biasa, dia bingung bagaimana. Namun, itu cuma dirasakannya sesaat. Dia memutuskan untuk mengambil jalan tengah antara jawab-tidak jawab.

“Aku rasa masalah ini ada hubungannya dengan pekerjaan yang kuambil.”

“Pekerjaan? Dari Kazama-kun?”

“Tidak, pekerjaan ini bukan dari militer.”

Mata Yakumo menyipit sambil tetap tersenyum. Saat dia tersenyum, sebuah cahaya yang kuat terpancar dari matanya.

“Apa tidak apa-apa kalau aku menanyakan rincian pekerjaan ini?”

“Kemungkinan besar pekerjaan ini akan dilakukan di distrik Kyoto. Jadi, aku pikir lebih baik jika aku tidak membuat hal yang membuatmu dalam masalah, Master.”

Bibir Yakumo sedikit berkedut. Cahaya di matanya meredup, senyumannya telah kembali seperti biasa.

“Kau tidak perlu terlalu menyembunyikannya. Ini entah bagaimana ada hubungannya dengan Traditionalist.”

Benar-benar tidak disangka kalau Yakumo akan menyebutkan nama ‘Traditionalist’ tapi Tatsuya yakin kalau pencarian yang dilakukan keluarganya tidak diketahui Yakumo.

“Seperti yang kuduga, ini memang berhubungan dengan kelompok Penyihir Kuno yang disebut ‘Traditionalist’.”

“Mereka tidak dipanggil seperti itu, mereka sendirilah yang mengklaim nama itu……..”

Sikap Yakumo terlihat lucu bagi Tatsuya tapi dia menolak menunjukkannya.

“Oleh karena itu, Master tidak boleh membantu. Perang saudara antar Penyihir Kuno bukanlah sesuatu yang bisa diremehkan.”

Tidak ada satupun penyihir kuno di negara ini yang memandang rendah nama Traditionalist. Sejak awal, penyihir kuno yang mengaku sebagai Traditionalist tidaklah mengikuti latihan Sihir Kuno, melainkan bekerja sama dengan Ninth Institute karena keinginan mereka untuk tahu seluk beluk Sihir Modern. Bagi mereka yang benar-benar melestarikan budaya mereka, mengaku sebagai bagian dari Traditionalist adalah sesuatu yang memalukan. Banyak penyihir yang berhubungan dengan Traditionalist dipekerjakan dalam operasi rahasia, jadi jumlah penyihir yang cuma tahu faksi ini sebatas nama dan berseru “Traditionalist harus dimusnahkan” tidaklah sedikit.

“Ah sial, aku masih jauh dari jalan kebenaran.”

Mungkin dia sadar sikapnya tidaklah sepatutnya, Yakumo menunjukkan senyuman malu atas itu.

“Apa orang yang mengintai rumahku masih dikurung disini? Masih ada hal yang ingin kutanyakan kepada mereka.”

“Tidak bisa hari ini.”

Yakumo menjawab pertanyaan Tatsuya dengan senyuman dingin.

“Aku agak lelah hari ini. Aku akan beristirahat di tempat yang tenang sekarang.”

Tentu saja, Tatsuya tidak ada masalah dengan tekanan seperti itu. Dia melanjutkan untuk bertanya dengan sopan dan senyuman ramah.

“Apa begitu? Kalau begitu bisakah Master setidaknya beri tahu aku latar belakang mereka?”

“Oh, mereka itu penyihir liar yang dipekerjakan oleh Traditionalist.”

“Liar?”

Ragu-ragu, Tatsuya mengulangi perkataannya.


“Apa maksud Master penyihir lepas?”

“Bisa dibilang seperti itu juga.”

“Memangnya ada orang-orang seperti itu di negara ini?”

Penyihir adalah sumber daya manusia yang langka, mereka semua, mulai dari yang baik sampai jahat, ada di bawah kendali negara. Tatsuya sendiri adalah pengecualian dengan dirinya yang tidak di bawah kendali negara tapi orang-orang sepertinya secara umum sudah jadi kekuatan tempur pribadi 28 Keluarga, sistem Sepuluh Master Clan bisa dibilang secara tidak langsung sama seperti kendali negara. Rasanya mengejutkan sekali bagi Tatsuya mengetahui ada seorang penyihir dengan kemampuan yang baik tidak terikat dalam organisasi manapun. 

“Ada. Ada beberapa orang yang tidak bisa menggunakan Sihir Modern tapi bisa menggunakan kemampuan khusus.”

“……Jadi maksud Master ada beberapa penyihir lepas yang ada di pihak Sihir Kuno?”

“Hmmm. Aku tidak tahu jumlah pastinya, tapi aku yakin mereka tidak sedikit.”

Sederhananya, itu berarti dia kemungkinan besar akan berhadapan dengan lebih banyak musuh penyihir mulai sekarang. Di dalam pikirannya, Tatsuya meningkatkan tingkat kesulitan misi ini.


1 Oktober 2096. Pelantikan OSIS baru SMA 1 yang berafiliasi dengan Universitas Sihir Nasional. Anggotanya: Ketua OSIS Shiba Miyuki, Wakil Ketua OSIS Saegusa Izumi, Bendahara Mitsui Honoka, Sekretaris Sakurai Minami, dan Kepala Sekretaris Shiba Tatsuya.

Tentu saja, ada orang yang menentang jabatan Kepala Sekretaris yang tidak jelas itu. Bahkan pihak sekolah, yang biasanya hanya memberi tugas saja kepada OSIS dan tidak pernah campur tangan sama sekali, menanyakan masalah itu. Menurut peraturan sekolah, anggota OSIS terdiri dari satu ketua, satu wakil ketua, satu bendahara, dan satu sekretaris. Tidak perlu adanya dua sekretaris, tapi ketika Miyuki memberikan senyuman tegasnya dan bilang kalau itu ‘Kepala Sekretaris dan Sekretaris sama saja’, dia berhasil membungkam semua orang yang menentang. Tidak satupun yang bisa membantah kenapa dia perlu menamakannya seperti itu.

Juga sudah jelas kalau banyak murid yang ingin Tatsuya untuk tetap jadi anggota OSIS. Kalau Miyuki sampai lepas kendali, satu-satunya orang yang bisa menghentikannya hanyalah Tatsuya. Itu adalah suatu hal yang telah diketahui semua anak kelas 2 & 3 dan jika Tatsuya dikeluarkan dari OSIS, sosok Miyuki yang lepas kendali sudah ada di depan mata mereka.

Dengan begini, OSIS SMA 1 tahun ini tampil sebagai kekuasaan yang mengendalikan semua hal melalui ketakutan, tapi itu juga memberikan semacam kebahagiaan di diri para murid yang merasa kepemimpinan seperti itu cukup seru untuk dicoba. Mungkin inilah rasanya jika dipimpin oleh seorang idola. Dan bagi sang pemimpin itu sendiri, ini sudah seperti surga.

Tentunya, Miyuki tidak punya maksud untuk seenaknya sendiri, seakan-akan jadi diktator. Sebenarnya dia enggan untuk menerima posisi ketua OSIS. Isi hatinya yang sebenarnya adalah “Bukannya lebih cocok kalau Onii-sama yang jadi Ketua OSIS”. Dan hal itu semakin menjadi-jadi dan mengarah ke delusi-delusi berbahaya seperti “Kalau seperti itu maka aku akan melakukan segalanya untuk Onii-sama, Wakil Ketua, Sekretaris, tukang seduh teh, apapun boleh”.

Apapun yang terjadi, Miyuki tidak ingin Tatsuya berada di kedudukan yang lebih rendah darinya. Itu hanya semakin mengingatkannya akan hubungan mereka sebagai anggota Keluarga Yotsuba, dan ia tidak tahan dengan itu. Dia sampai menciptakan jabatan tak wajar ‘Kepala Sekretaris’ untuk mengangkat kedudukannya sedikit lebih tinggi untuk bisa memuaskan keinginannya.

Mau bagaimanapun, semua pertentangan dan argumen tentang jabatan Tatsuya sebagai Kepala Sekretaris semua dibungkam dalam sejam selama jam istirahat makan siang dan sisanya sepulang sekolah dengan kemampuan persuasi Miyuki dan ketenangan berhasil kembali di ruang OSIS. 

Waktunya mungkin sudah diperhitungkan. Ketua Komite Manajemen Klub dan Ketua Komite Moral Publik yang baru dilantik datang ke ruang OSIS bersama-sama.

“Ummm, aku harap kita bisa bekerja sama dengan baik selama setahun ini.”

“Aku harap kita juga dapat bekerja sama denganmu, Yoshida-kun.”

Miyuki menjawab Mikihiko yang gugup yang tidak pernah bisa santai dengan sikap yang ramah dan sebuah senyuman yang dipenuhi kehangatan.

Berbeda dengan ekspektasi kebanyakan orang yang mengira Shizuku akan jadi penerus Kanon. Mikihiko lah yang ditunjuk menjadi Ketua Komite Moral Publik. Ketua Komite Moral Publik ditunjuk dari dan oleh sembilan anggota komite; persaingan suara mereka berdua cukup tipis yang mana lima suara untuk Mikihiko dan empat untuk Shizuku. Secara tak terduga, Mikihiko memilih Shizuku dan Shizuku memilih Mikihiko. Sempat ada usaha untuk menggagalkan Mikihiko jadi Ketua Komite Moral Publik dikarenakan statusnya yang mantan murid Golongan 2 tapi kebanyakan dari anggota komite tidak menyuarakannya karena aura Shizuku yang begitu kuat yang menyatakan “Aku tidak ingin pekerjaan merepotkan itu”.

Oleh karenanya, Shizuku meninggalkan Mikihiko yang gugup dan langsung mendekati Honoka untuk melakukan pembicaraan perempuan. 

“Bukankah bagus Tatsuya-san tetap di OSIS?”

“Uh, ya…….”

Biasanya di pertemuan pertama Ketua OSIS dan Ketua Komite Moral Publik baru setelah pelantikan adalah tentang mencari pengganti anggota Komite Moral Publik yang lulus, tapi karena tiga anggota rekomendasi dari OSIS semuanya masih Kelas 2 jadi mereka masih belum keluar dari komite, kunjungan Mikihiko akhirnya berakhir seperti ramah tamah belaka. Dia kelihatan sedang memikirkan semua pekerjaan yang perlu diselesaikannya dan sepertinya dia tidak punya waktu banyak. Tatsuya menyadari itu dan bersama dengannya pergi ke sudut ruangan yang terpasang terminal kerja.

“Apa kabar, Tatsuya?”

Menyadari ada sesuatu, Mikihiko yang duduk di depan terminal tempat Tatsuya berdiri dan bertanya sambil berbisik.

“Ada apa Tatsuya?”

“Aku ingin kau melihat ini.”

Dia tidak langsung menjawabnya, Tatsuya langsung mengoperasikan keyboard terminal itu dengan satu tangan.

Monitor itu lalu menampilkan barisan-barisan karakter dan grafik.

“Rangkaian Aktivasi?”

Itu adalah Rangkaian Aktivasi dalam bentuk kode mesin yang belum dikonversi menjadi sinyal Psion, tapi itu semua sudah diterjemahkan ke bentuk bahasa yang mudah dipahami dan grafik.


“Apa ini… deskripsi dari Rangkaian Aktivasi yang membentuk shikigami? Kau beruntung dapat menemukan data yang langka.”


“Ini hanya kebetulan. Apa yang ingin kutanyakan ialah apa tiap sekolah punya cara berbeda dalam pembentukan shikigami atau semacamnya.”

Sepertinya Mikihiko berasumsi bahwa dia mengambil itu dari perpustakaan. Tatsuya tidak bisa mengatakan kalau dirinya sendiri yang menganalisanya, dia secara tidak langsung bertanya tentang asal-usul nya.

“Tentu saja, ada. Yang lebih penting, ada keanehan yang mudah dikenali di sini. Contohnya saja, ini… seharusnya dari sekolah Shugendou. Okultis yang menggunakan shikigami ini kemungkinan adalah anggota grup Shugendou Touzan, tak salah lagi.”

“Apa ada faksi di Shugendou?”

“Aku lebih menyebutnya sekolah daripada faksi, tidak, sekte? Shugendou merupakan turunan dari Buddhis Shingon.”

“Buddhis Shingon? Kukira shikigami adalah mantra Onmyou, seni penyihir dan semacam itu, tapi, apa mantra yang membantu shikigami ada dalam ajaran Buddhisme Esoterik?”

Wajah Mikihiko entah bagaimana terlihat bangga saat mengangguk kepada pertanyaan naif Tatsuya.

“Ada. Pengguna yang berhubungan dengan ajaran Buddhisme Esoterik menyebut mereka, Gohou. Mereka pada dasarnya sama.”

Setelah itu, Mikihiko kembali menatap layar monitor dan “Oh?” keluar dari mulutnya.

“Apa ini? Cara pengurutannya tidak biasa dan aneh…”

Setelah melihat monitor sebentar, Mikihiko melihat Tatsuya dengan tatapan paham.

“Jadi begini, aku mengerti mengapa kau tidak terus terang, Tatsuya. Kau mengambil data ini dari situs ilegal, ‘kan?”

“Mengapa kau berpikir seperti itu?”

Pertanyaan Tatsuya benar-benar meminta jawaban tapi, Mikihiko mengangguk dengan tatapan “Aku mengerti, aku mengerti”.

“Lagipula, bukankah shikigami ini jelas untuk penyadapan dan pengawasan?”

“Benarkah?”

Jawaban Tatsuya itu berarti “Jadi kegunaan shikigami itu berbeda-beda?” namun,

“Ini jelas digunakan untuk kegiatan illegal.”

Mikihiko membuat penafsiran yang lebih jelas.

“Oh. Barang yang berbahaya. Memang tidak salah aku menanyakannya padamu, Mikihiko. Akan kuhapus data itu.”

“Ya, itulah yang terbaik.”

Perkataan biasa Tatsuya membuat Mikihiko tersenyum.

Mikihiko kembali ke markas Komite Moral Publik untuk melihat catatan patroli, sudah lama sekali sejak Ketua Komite Moral Publik secara langsung melihat catatan patroli, ini sudah mendekati waktu gerbang sekolah ditutup, Ketua Komite Manajemen Klub baru datang dan menyapa.

“Igarashi-kun, selamat telah menjadi Ketua Komite Manajemen Klub.”

“Uh. Huh. Terima kasih, Kaichou.”

Kegugupan ketua baru ini meningkat di hadapan Miyuki.

“Demi kelancaran manajemen urusan OSIS, kami harap kerja samanya dengan Komite Manajemen Klub. Aku tidak sabar bisa bekerja sama denganmu.”

“A-Aku juga! Aku yakin aku bisa percaya pada OSIS dalam berbagai hal. Aku juga tidak sabar bisa bekerja sama denganmu.”

Izumi yang melihat percakapan antara Miyuki dan Igarashi dari dekat, bergumam “Dia kelihatan tak bisa diandalkan” pada Honoka yang ada di sebelahnya. Jawaban Honoka hanya datang dari senyum pahitnya.


“Ketua baru Igarashi-senpai kelihatannya pemalu, tidak, lebih ke kikuk.”

Selagi kembali bekerja, Izumi dengan santainya, seolah-olah merasa kalau ia perlu, menyampaikan kesan terhadap Igarashi kepada Miyuki.

“Aku juga bingung kenapa? Dia kelihatan tegang sekali.”

“Tegang?”

Suara Izumi terdengar sangat meragukan hal tersebut.

“Miyuki, apa kau mengenal Igarashi?”

Tatsuya memberikan pertolongan kepada Miyuki yang sedang kebingungan merespon reaksi Izumi yang tak terduga.

“Ya, kelas kami berbeda tapi meski dia ahli dalam praktik, aku sudah sering bekerja sama dengannya dalam hal manajemen data. Namun, aku rasa Honoka dan Shizuku lebih mengenalnya. Aku yakin mereka satu klub dengannya.”

Mendapat lirikan mata dari Miyuki, Honoka buka mulut.

“Dia adik dari Ketua Klub Biathlon tahun lalu, Igarashi-senpai.”

“Karena dia tidak punya keahlian sihir khusus, performanya di kompetisi tidak terlalu menonjol, tapi dari segi kemampuan murni, setidaknya termasuk bagus.”

“Kemampuan murni?”

Menyadari ada suatu hal yang tersembunyi di perkataan Shizuku, Tatsuya mengulangi perkataannya menjadi sebuah pertanyaan.

“Igarashi-kun, bagaimana menjelaskannya ya….. menyebutnya tidak tegas agak kurang tepat, tapi dia punya kecenderungan untuk mundur ketika dia terpojokkan. Itu membuatnya membuat keputusan-keputusan ceroboh ketika terpojokkan dan ambyar. …Mungkin lebih tepat dia orangnya tidak cocok dalam kompetisi.”

“Jadi dia lebih cocok menjadi anggota atau setidaknya orang nomor 2. Tidak cocok untuk memimpin.”

Setelah Honoka susah payah mencari kata yang tepat agar tidak terlalu terdengar kejam, Shizuku menyia-nyiakan usahanya dengan kesimpulannya yang tajam.

“Jika dipikir-pikir lagi, kenapa bukan Tomitsuka-kun yang jadi ketua?”

Mikihiko melontarkan pertanyaan itu setelah pekerjaannya sebagai Ketua Komite Moral Publik sudah selesai dan ia kembali lagi ke ruang OSIS.


“Gosip sebelumnya bilang kalau Tomisuka-senpai yang akan terpilih?”

Mungkin karena dia sudah dekat dengannya sebagai sesama anggota Komite Moral Publik, Kasumi dengan cepat menunjukkan dukungan pada komentar Mikihiko.

“Hattori-senpai mungkin memandangnya berbeda.”

Dengan menekankan kalau pemilihan ketua baru ada di tangan Ketua Komite Manajemen Klub sebelumnya, Miyuki berhasil menghentikan mereka menyebarkan gosip anti-Igarashi.

  ◊ ◊ ◊

Ada jeda sedikit dari pemilihan Ketua OSIS dan penunjukan anggota OSIS, tapi setelah  itu pekerjaan mereka dalam Kompetisi Thesis langsung dikebut. Meski kali ini diadakan di Kyoto, yang mana lebih mengutamakan terobosan teoretis, Kompetisi Thesis tetap membutuhkan presentasi sihir yang mana itu berarti dia mereka perlu mengebut persiapan perangkat yang dibutuhkan saat presentasi.


Namun, tak seperti tahun lalu, tempat mereka merakit perangkat ini tidak di halaman sekolah melainkan di sebuah aula. Keributan tahun lalu ditekan sedemikian mungkin agar tidak ada apa-apa yang terjadi tahun ini. Terlihat di sana sesosok orang yang diam sedang mengerjakan sebuah blueprint.

Selagi Tatsuya melihat Isori mengerjakan konstruksi ‘Lingkaran Sihir Tipe Proyeksi’ dari lantai dua aula tersebut, dia bertemu Mikihiko untuk membicarakan masalah keamanan.

 “Jadi kurasa ini akan baik-baik saja, kalau kita tidak membatasi personel hanya dari Komite Moral Publik, kita bisa menyaring sukarelawan dan menjadikan mereka penjaga seperti biasa.”

“Tentu saja. Karena Komite Moral Publik hanya beranggotakan sembilan orang dan itu tidak cukup untuk mengerjakan semuanya. Kurasa mereka lebih banyak yang suka menjaga tempat acara ketimbang diminta mengawal para perwakilan.”

“Kalau tidak salah yang bertugas menjaga tempat acara tahun ini Hattori-senpai ya?”

“Senpai sekarang sedang konferensi daring dengan sesama penanggung jawab keamanan dari sekolah lain.”

“Sekolah-sekolah lain apa tidak keberatan dengan kepemimpinan tim yang dipegang SMA 1 dua tahun berturut-turut?”

“Mereka menerimanya. Ada aturan tak tertulis yang menunjuk Kepala Pengamanan dari sekolah yang memenangkan Monolith Code di Kompetisi Sembilan Sekolah.”

“Eh, jadi begitu caranya.”

“Jadi Juumonji-senpai yang jadi Kepala tahun lalu bukan dipilih hanya karena anggota Sepuluh Master Clan?”

Orang yang menyanggah pembicaraan Tatsuya dan Mikihiko adalah Leo dan Erika. Mereka selama ini hanya diam mendengar, tapi info itu membuat mereka angkat bicara.

“Ahh, aku juga baru pertama kali mendengarnya.”

“Sebenarnya aku sendiri juga baru tahu belum lama ini. Itu memang bukanlah sesuatu yang diberitahu ke banyak orang.”

Namun, Tatsuya dan Mikihiko tidak terlihat memerdulikan mereka yang ikut masuk dalam pembicaraan dan melanjutkannya.

“Jadi, Tatsuya, kau mau jadi yang mana? Pengawal atau penjaga?”

“ Jadi kau mengira aku ingin terlibat?”

“Tentu saja. Aku mengandalkanmu.”

Jawaban itu hanya membuat Tatsuya tersenyum tanpa menjawab satu kata pun dan dia pribadi tidak merasa perlu untuk menolak permintaan Mikihiko. Dia datang berbicara dengan Mikihiko dalam hal kerja sama antara OSIS dan Komite Moral Publik, tapi dia sendiri juga sudah siap jika sampai diminta bantuan.

“Baik. Bagaimana kalau aku jadi penjaga saja?”

Lagipula tempat acara di Kyoto ini menguntungkannya dalam ‘pekerjaannya’.

“Kalau begitu, aku juga mendaftar jadi penjaga juga.”

Tidak tahu apa yang habis dipikirkannya, Leo mendadak ikut mengajukan diri.

“Kalau jadi penjaga lokasi, kita akan perlu melakukan inspeksi sebelum acara.”

Perkataannya ini masuk akal.

“Eeh, tidak, aku akan pergi ke Kyoto bersama Tatsuya, jadi kau jadi pengawal saja sana. Kau kan ahli dalam hal itu? Jadi samsak?”


Tepat setelahnya, Erika menyuarakan opini yang berbeda yang tidak kedengaran seperti candaan.

“Bukannya samsak itu cuma buat dipukul-pukul dan ditusuk-tusuk! Dasar kurang ajar!”

“Terkadang dipukul itu pilihan.”

Komentar keduanya memanglah mengejutkan. Tapi, Mikihiko sebaliknya lebih fokus pada yang pertama.

“Erika… kau mau pergi dan menginap di Kyoto?”

“Aku kan sudah bilang begitu, jadi?”

Pulang-pergi Kyoto Tokyo dalam sehari tidaklah mustahil saat ini. Untuk keperluan bisnis, itu adalah suatu hal yang lumrah. Namun, dalam melakukan inspeksi keamanan, bukan hanya lokasinya saja, Pusat Konferensi Kyoto dan sekitarnya, adalah area yang luas yang perlu mereka inspeksi. Insiden tahun lalu jika diingat-ingat lagi tapi, karena baru saja terjadi tahun lalu, tidak ada orang yang akan selengah itu tahun ini.

“Maksudmu… kau akan pergi berlibur bersama Tatsuya….?”

“Da-Dasar Idiot….!”

Erika, yang mendengar perkataan ini, entah kenapa terlihat pucat daripada tersipu.

“A-Apa?”

Sayangnya, tatapan mematikan dari Erika yang seakan-akan hidupnya sedang dalam bahaya membuat mulut Mikihiko mengunci. Baru saja dia dibungkam oleh respon Erika yang berlebihan tapi, ketika ia mendengar alasannya, Mikihiko pun ikut-ikutan pucat.

“Apa yang akan kulakukan kalau Miyuki sampai mendengar itu!? Dia tidak akan membiarkanku lepas hidup-hidup!”

Mikihiko dengan ketakutan melihat ke sana kemari. Ditambah lagi, matanya kelihatan seperti orang yang sedang ada di medan perang. Rasanya tidak berlebihan kalau mengatakan dirinya sedang dalam situasi hidup dan mati.

Candaan seperti itu tidak akan bisa diterima oleh Miyuki. Di sini bukan berarti Miyuki akan menelan mentah-mentah candaan mereka, sebaliknya dia tidak akan memaafkan mereka sudah mengatakan hal seperti itu meski itu cuma bercanda. Hal itu tidak mungkin salah, itu pasti yang akan terjadi, pikir Mikihiko. Apakah sebentar lagi akan ada hawa dingin yang melingkupi mereka….. dengan penuh ketakutan Mikihiko memikirkan itu dalam hati.

Tetapi, ketakutan seperti juga adalah sikap yang tidak baik.

“….Kalian ini, memangnya bagi kalian adikku orang apaan?”

Leher Mikihiko dan Erika mengeluarkan suara decitan ketika mencoba menoleh ke sumber suara itu.

Di hadapan mereka saat menoleh ke belakang adalah Tatsuya dengan senyum dinginnya yang mematikan.

“Astaga….. mulutmu itu baru saja memotong jatah usiaku, Miki.”

“Namaku Mikihiko….”

Suaranya, Mikihiko melayangkan protesnya, tidak terdengar seperti biasa. Sebenarnya saat ini dia sedang bersimpati kepada Erika dan ini bukanlah kali pertamanya.

Tentu saja, Tatsuya tidak punya maksud apa-apa terhadap mereka. Dia hanya menatap dingin mereka berdua. Namun, itu sudah cukup membuat Mikihiko jatuh ke dalam delusi kalau beberapa tahun usianya baru saja terenggut begitu saja.

Dinginnya tatapan itu tidak seperti dinginnya salju dan es. Itu adalah dinginnya sebuah pisau. Pisau yang akan datang mengancam siapapun yang ada di hadapannya.

Erika juga sedang dalam situasi yang sama, wajahnya terlihat benar-benar pucat dan lemas.

“Aku rasa kalian berdua benar-benar tidak sopan, Erika, Mikihiko.”

Dari sikap temannya, posisi mereka berdua bersalah. Tatsuya menyampaikan ketidaksenangannya dengan wajah kecewa. Tatapan mengancam itu sudah hilang tapi, tidak ada satu pun orang yang menganggap tatapan itu hanya main-main belaka. Bukan hanya itu, mereka yang bersangkutan, Erika dan Mikihiko, tapi Leo yang cuma diam menonton semua ini merasa sangat perlu untuk merubah topik pembicaraan ini.

“Ba-Baiklah, apa boleh kalau kita semua jadi penjaga lokasi saja? Chiyoda-senpai akan menempel dengan Isori-senpai sambil menjaganya, dan Kitayama akan bersama Nakajou-senpai juga, bukan?”

Kenyataannya, tidak terjadi apa-apa dan dia mungkin merasa akan terlihat kekanak-kanakan kalau dia terus marah. Tatsuya lah yang menanggapi usaha Leo merubah suasana.

“Bukan hanya Shizuku. Chikura-senpai dan Mibu-senpai juga akan bekerja sama untuk mengawal Nakajou-senpai.”

Melihat respon positif Tatsuya tentang perubahan pembicaraan ini, Erika dan Mikihiko terlihat mulai bisa menarik napas lega. Tidak, mereka sebenarnya tidak melakukan itu, mereka bukan pura-pura, itu adalah tanda kalau mereka benar-benar baru saja lepas dari suatu cengkraman.

“Kei-senpai seharusnya baik-baik saja tanpa pengawal.”

“Kirihara-senpai menawarkan diri menjadi pengawal Minakami-senpai.”

Mikihiko melanjutkan komentar Erika dengan mengatakan siapa yang akan mengawal perwakilan yang lain, Minakami Kerry. Mendengar hal itu, membuat Leo entah kenapa menguap.

“Minakami-senpai… apa dia benar-benar butuh pengawal?”

Sepertinya, dia tidak paham kenapa Kirihara-senpai perlu mengawal Kerry.

“Bahkan di SMA 1 kemampuannya dianggap mendekati para petarung top, ‘kan? Mikihiko yang pernah setim seharusnya juga tahu benar akan itu.”

Seperti yang Leo katakan, Kerry, Hattori, dan Mikihiko satu tim di Monolith Code tahun ini berhasil meraih juara bagi SMA 1. Dalam pertarungan, dia menunjukkan kemampuan pertahanan sekokoh tembok besi dan merupakan pemain yang tidak akan membiarkan lawannya menyentuh monolith yang dijaganya sedikit pun.

“Minakami-senpai punya pengetahuan yang luas tentang banyak sihir. Itulah kenapa dia bisa memblok penuh serangan lawan di Monolith Code, dia bisa memahami betul sihir lawan dari rapalan pertama dan kedua, dia bisa menanggulanginya dengan sihir dan kemampuannya yang luar biasa.”

Sebuah sihir tidak bisa mengintervensi sihir lainnya. Suatu fortifikasi informasi menjaga fenomena (fenomena hasil sihir) tetap stabil, itu adalah teknik yang membuat sihir lawan berakhir gagal, area gangguannya bekerja pada area yang sudah ditarget ‘dengan menggunakan Kekuatan Gangguan untuk menghentikan perubahan fenomena terjadi’ dengan mengalahkan Kekuatan Gangguan lawan, tidak menyentuh sama sekali sihir lawannya.

Namun, hasilnya ditentukan dari efek yang dihasilkan sihir tersebut, ketika suatu sihir berkerja dengan merubah suatu fenomena fisik maka itu semua akan tetap sebuah fenomena fisik. Karena tidak menutup kemungkinan kalau sihir kedua pihak sama kuatnya. Misalnya, jika 'gumpalan udara yang menurunkan tekanan melalui sihir' ditempatkan di dalam lintasan peluru udara terkompresi, maka kompresinya tidak dapat dipertahankan. Singkatnya, sihir itu telah dinetralkan. Fenomena ini disebut penetralan sihir. Jika Kekuatan Gangguan seseorang lebih besar dari lawan mereka maka ia akan bisa mengkalkulasikan seberapa besar kekuatan yang diperlukan untuk menggagalkan proses penetralan dari lawannya, tapi kalau perbedaannya hanya sedikit lebih tinggi, kekuatan restorasi lah yang akan terjadi dan bukan proses penetralan sihir.

Namun, agar sebuah penetralan sihir bisa bekerja lancar, maka orang tersebut perlu memprediksi dengan benar sihir yang akan digunakan sekaligus koordinat perubah fenomenanya. Efek penetralan sihir adalah suatu teknik yang gampang-gampang susah.

“Orang yang tidak bisa dipengaruhi sihir yang pernah dilihatnya sebelumnya? Keren sekali.”

“Orang yang tidak bisa terserang sihir yang pernah dikenainya sebelumnya? Keren sekali.”

Meski Leo mengatakan itu sambil bercanda, dia pribadi mengakui kemampuan tingkat tinggi itu.

“Hahaha, karna itulah Minakami-senpai benar-benar hebat dalam hal teori sihir.”

Selagi Mikihiko ikut tertawa bersama Leo pada candaan yang dilontarkannya, jawaban Mikihiko sendiri tidaklah ditujukan untuk menjawab pertanyaan. Erika lah orang yang memberi jawaban pada pertanyaan, apakah Kerry benar-benar butuh pengawal.

“Sederhananya, Minakami butuh samsak untuk menerima serangan sihir.”

“Oh. Jadi begitu!”

Berdua Erika yang tidak henti-hentinya menyarankan ide ‘samsak’ dan Leo yang baru saja paham maksudnya itu

“Erika-chan… Leo-kun.”

Dilirik tajam nan dingin oleh Mizuki.

  ◊ ◊ ◊

Transit dari transportasi publik ke sebuah kendaraan kecil pribadi bukan hanya di kereta saja. Itu sudah lumrah di area metropolitan yang menggunakan taksi AI (Artificial Intelligence = kecerdasan buatan) untuk pergi ke rumah atau stasiun kereta terdekat. Ketika seseorang pulang dari stasiun ke rumah, mereka akan menggunakan KTP mereka untuk memanggil sebuah kendaraan untuk pulang; saat kita memesan kendaraan, yang akan menyambut kita adalah sebuah mobil kosong di area henti cabinet. Di pinggir jalan yang tidak memiliki area henti cabinet, kita bisa menggunakan ponsel pintar untuk mendapat akses ke dalam jaringan transportasi publik untuk memanggil cabinet kosong terdekat.

Tatsuya dan yang lain juga menggunakan transportasi itu, mereka menggunakan cabinet untuk pulang-pergi rumah mereka dan stasiun. Kalau saja mereka bisa menggunakan sihir maka ini semua tidak perlu lagi, namun, larangan hukum penggunaan sihir tidak bisa dihindari. Masyarakat modern masih tidak bisa menerima seorang penyihir yang bebas menggunakan sihir di semua tempat.

Tatsuya, Miyuki dan Minami, bertiga kerja lembur untuk mempersiapkan Kompetisi Thesis dan baru saja menunggu cabinet di depan stasiun di bawah langit ungu-jingga.

Bukanlah hal yang aneh bagi mereka kesulitan mendapat cabinet kosong di depan stasiun. Kalau sampai mereka tidak perlu menunggu, dengan kata lain, ada pemborosan dalam berlebihnya jumlah transportasi yang tersedia.

Selain itu, alokasi jumlah cabinet terhubung dengan data pelayanan mereka, jadi sistem itu hampir tidak akan pernah membuat penumpangnya menunggu lebih dari lima menit. Dengan begitu, waktu tunggu mereka tidak akan menimbulkan ketidaknyamanan.

Sebenarnya, Tatsuya dan yang lain sudah menunggu sekitar dua menit. Mereka sudah memasukkan pesanan cabinet di area henti depan stasiun. Tatsuya dan yang lain menunggu di area henti cabinet yang berjarak sepuluh meter dari area turun tempat seorang laki-laki yang sepertinya baru saja sampai 30 detik yang lalu. Pintunya secara otomatis tertutup, Tatsuya melihat cabinetnya berjalan pelan dekat lapangan parkir tidak pergi ke jalan, dan memasukkan tangan kanannya di saku tempat ia menaruh CADnya.

Minami melihat wajah Tatsuya dengan mata terbelalak, terkejut ia mengalihkan pandangannya pada cabinet tersebut. Di ujung matanya, sebelum pintu kereta yang singgah terbuka, sebuah gelombang Psion terpancar dari dalam cabinet.

Sebelum Tatsuya mengeluarkan CADnya, Minami sudah membentuk sebuah pelindung tahan panas silindris terhadap objek fisik. Yang dilindunginya adalah dirinya sendiri dan Miyuki. Dia tidak menaruh Tatsuya di dalam pelindung karena itu hanya akan menghambat pergerakannya, Ini adalah hasil satu setengah tahun latihannya.

Namun, terpaan gelombang Psion dari dalam cabinet itu bukan dimaksudkan untuk mengaktifkan sihir.

Gelombang itu dipancarkan untuk memancarkan gema gelombang Psion. Gelombang itu tidak punya efek mengganggu terhadap sihir seperti ‘Cast Jamming’. Sebaliknya, densitasnya yang sedikit lebih tinggi dari ‘Cast Jamming’ sudah cukup untuk menghambat kemampuan merasakan sihir dan membedakan Psion. Gelombang itu mungkin lebih tepat disebut tabir asap.

(Sebuah Roh Buatan penghancur diri!? Bom waktu Psion!)

Miyuki dan Minami kebingungan dengan serangan kejutan seperti itu; Tatsuya sudah bisa memahami betul seluk beluk serangan itu dari sekali pandang.

(Kalau ini sebuah tabir asap sihir maka selanjutnya)

“Minami, ‘Downward Whirlwind’.”

“Ba-Baik!”

Minami mengaktifkan sihir kira-kira di saat yang sama saat Tatsuya memerintahnya. Semprotan kuat air terbentuk memutar seperti sebuah air mancur, tidak, air yang berubah menjadi semprotan air itu seketika berubah menjadi kabut tebal. Setelah itu area itu ditutupi oleh sebuah kabut tebal yang jelas akan sulit dihilangkan bahkan dengan tiupan angin sihir sekalipun. Karena udara yang menjadi target manipulasi sihir Minami tercampur dengan titik-titik air mikroskopis yang dikendalikan musuh.

Meski begitu, Minami sudah mengaktifkan sihirnya sebelum kabut itu mencapai posisinya. Memanipulasi tiupan angin dengan konsentrasi air mikroskopis yang tinggi ditambah tingkat kesulitan yang tinggi sebab target yang tidak bisa dilihatnya, setelah sebuah tembakan dilancarkan, kabut itu sudah tidak mengganggu sihir lagi.

Akibatnya, pusaran angin itu ditarik turun ke atas tanah oleh sihir ‘Downward Whirlwind’. Minami berada tepat di tengah ketika angin itu mengenyahkan kabut penghalang di sekitarnya; di hadapan mereka bertiga kabut itu tertiup dalam sekejap.

Saat itu, tampak seorang laki-laki kurus keluar dari cabinet dan bertemu pandang dengan Tatsuya yang ada di paling depan. Lelaki itu memegang sebuah busur silang, matanya terbelalak melihat apa yang terjadi. Sepertinya ia tidak menduga kalau tabir asapnya bisa dengan mudah dikalahkan oleh sihir. Namun, kekagetannya ini tanda keamatiran orang itu. Apa yang dilakukannya hanya memberi celah bagi musuhnya.

Tatsuya tidak akan melepaskan kesempatan itu pergi. Tatsuya dengan gesit menekuk kaki kanannya bersiap menendang lelaki kecil itu ketika ia sedang tak berdaya.

Tendangan putar dilancarkannya.

Dia menendang busur silang dari tangan lelaki itu.

Tatsuya menekuk kembali kakinya dan berganti menendang samping.

Lelaki kecil itu ditendang perutnya hingga menabrak dan terhantam pada cabinet di belakangnya. Kepalanya pasti terbentur; dia tidak terlihat bisa berdiri lagi. Kepalanya sudah terlalu pusing atau mungkin dia sudah tak sadarkan diri.

Sepertinya pengaman busur silang itu sudah dilepas, busur itu menembakkan panah ketika terjatuh menghantam tanah. Tetapi, untungnya panah itu hanya mengenai jalan dan tidak ada yang terluka.

Ketika kaki kanannya menapak tanah, Tatsuya bisa merasakan gelombang Psion yang membentuk sebuah Rangkaian Sihir dari samping kanannya. Dia dengan lincah berputar menghadap ke arah itu. Jejak sihir itu terpancar dari lelaki yang terjatuh tadi.

Tatsuya, yang baru saja akan mengeluarkan CADnya kali ini, berhenti.

Sebelum Tatsuya bisa merespon, serangan Miyuki telah mengenai orang itu.

Kemungkinan besar, orang itu sudah terlebih dahulu mulai menggunakan shir. Tapi, Miyuki lah yang pertama mengaktivasi sihir.

Lelaki itu mengaktifkan sihir. Kemampuan Tatsuya untuk mengamati badan informasi menangkap proyeksi Rangkaian Sihir diarahkan satu meter di atas kepala Miyuki. Dan dia juga ‘melihat’ Rangkaian Sihir itu hancur tanpa melakukan apa-apa.

“Onii-sama. Apa barusan itu terekam?”

Pertanyaan Miyuki di sini adalah apakah sihir musuh mereka terekam oleh sensor gelombang Psion yang terpasang di kamera jalan; sederhananya dia bertanya apa mereka bisa menggunakan alasan pertahanan diri di kondisi ini.

“Mungkin saja, lagipula meski itu tidak terekam, itu bukan masalah karna ada saksi mata di sini.”

Jawaban Tatsuya menandakan kalau ia tidak memermasalahkan serangan Miyuki. Dia sedang ada di depan stasiun dan di sana setidaknya ada empat orang yang merasakan gelombang Psion dari Rangkaian Sihir pertama yang dilancarkan tadi. Wajah mereka sudah terekam di ingatannya. Karena mereka semua adalah penyihir seharusnya mereka bisa melihat semua kejadian itu.

Ketika Tatsuya dan Miyuki sedang berbincang-bincang, lelaki itu melancarkan sihir untuk ketiga kalinya.

Semua itu terhalangi oleh Zona Gangguan Miyuki.

Lelaki itu mulai membentuk sihir untuk kelima kalinya. Bukan untuk menyerang, sihir itu untuk melarikan diri. Lelaki itu berusaha menjejakkan kakinya.

“Jangan pergi.”

Perintah Miyuki itu terdengar pelan. Seketika, lelaki itu menghilang dari hadapan mereka; segera setelahnya, kembali muncul dan bak boneka yang terpotong talinya, ia terjatuh sebelum bisa bergerak.

Tatsuya berjongkok di samping lelaki itu dan memeriksa nadinya. Selanjutnya, dia menaruh tangannya di depan hidung lelaki itu, saat ini lelaki itu masih bernapas meski lemah.

“Sepertinya, tidak ada efek samping sihirmu. Kemampuanmu semakin baik, Miyuki.”

Apa yang Miyuki gunakan adalah sihir yang menurunkan temperatur tubuh seseorang dan mencegah orang tersebut untuk menggerakkan tubuhnya. Menurunkan temperatur tubuh seseorang beberapa derajat saja tanpa menimbulkan efek samping adalah teknik yang sangat sulit dilakukan tapi, kali ini Miyuki berhasil mencegah sihirnya berlebihan. Miyuki menjawab pujian kakaknya dengan wajah memerah dan mengucapkan terima kasih. Wajah lelaki itu kacau, mengingat ia terjatuh pingsan dan tidak bisa menahan dirinya mengenai tanah. Miyuki sedang tersipu malu di depan lelaki yang memar, lecet, dan mimisan. Di mata orang lain, ini adalah suatu pemandangan yang sangat aneh.

Tentu saja, cedera serangan Tatsuya pada lelaki itu lebih serius ketimbang jatuhnya ia ke tanah. Setelah mengikat lengan dan kakinya agar ia tidak bisa melarikan diri, Tatsuya meninggalkannya di jalan, kalau dalam hal kebrutalan, Tatsuya sudah jelas nomor satu.

“Tatsuya-niisama.”

Tidak mungkin Tatsuya akan memberi pertolongan pertama bagi orang yang menyerang mereka, dia segera bangkit berdiri dan mendatangi Minami yang memanggilnya.

“Tatsuya-niisama, lihatlah ini.”

“Kurasa itu adalah busur suci pemurni.”

Tatsuya dengan kalem bergumam sambil memerhatikan busur silang yang sedang dipegang Minami di tangannya dan menerima benda itu untuk diamatinya.

“….Apa Tatsuya-niisama tahu?”

Dia tidak terlihat terkejut sedikit pun tapi, ini mungkin karena rasa penasaran Minami. Pertanyaannya itu muncul murni sebab rasa ingin tahunya.

“Aku hanya sempat melihatnya saat ditembakkan tadi.”

Minami tidak dengan terkejut berteriak kaget. Dia sudah dididik oleh Keluarga Yotsuba sebagai pelayan yang merupakan kandidat Guardian. Dia sudah melihat banyak hal selama masa latihannya dengan orang-orang Keluarga Yotsuba. Sebaliknya skala normalnya sudah hampir tidak normal. Baginya, kemampuan fisik Tatsuya kurang lebih masuk dalam kategori normal.

Tatsuya hanya mengamatinya sekilas tapi Miyuki memerhatikannya dengan serius.

“Busur itu dipakai dalam praktik Sihir Kuno; sebagai alat untuk mencegah penggunaan sihir?”

“Lebih tepatnya, ini adalah alat untuk mencegah penggunaan sihir sebagai medium Sihir Roh. Panah ini tidak terlalu punya banyak efek pada tipe sihir yang memasukkan Rangkaian Sihir sebagai targetnya langsung.”

Mendengar penjelasan Tatsuya, Miyuki memiringkan kepalanya.

“Apa mereka mengira kita ini Penyihir Kuno?”

“Tidak seperti busur suci yang asli, busur ini bisa melukai atau bahkan membunuh tapi….”

Tatsuya menggumamkan hal itu dengan sinis sambil melihat ujung tajam panah itu. Badan dan ujung panahnya hampir sama seperti busur suci yang asli kecuali adanya bulu burung asli yang tidak ada di busur ini; detail-detail lainnya tampak normal untuk digunakan bertarung. Namun, dari kompresi badannya, sihirnya (Shingon, mantra) sudah terukir di badan kayu itu dan tergulung seperti sebuah gulungan perkamen tipis dan diikat erat. 

Meski disebut ‘Busur Suci’, penggunanya bukan hanya di kalangan penyihir yang mengikuti ajaran Shinto. Ukiran di busur itu biasa digunakan sebagai medium sihir diantara pengguna Sihir Kuno.

“Menurutku dia memang mengira sihir itu menggunakan Sihir Roh. Kalau dia bukan menyerang kita karena salah orang maka pasti mereka salah mengira kita Penyihir Kuno.”

Saat itu, Tatsuya mendengar suara yang mengatakan ‘Polisi’ di dekat mereka.

“Kita lanjutkan pembicaraan ini nanti saja.”

Insiden ini terjadi depan stasiun yang paling dekat dengan rumah mereka. Ada banyak saksi mata dan kamera jalan yang merekam segalanya. Bodoh rasanya jika masih mencoba untuk melarikan diri.

Membayangkan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk interogasi, Tatsuya hanya bisa menghela napas.


Polisi melepas mereka sekitar sejam setelahnya. Meski begitu, bisa dibilang ini cukup cepat. Sejak awal, status mereka sebagai korban memang tidak diragukan; seperti yang mereka duga, ini karena semua data sudah terekam oleh kamera jalan dan sensor gelombang Psion.

“Ah jam makan sudah telat.”

Saat itu masih belum bisa dibilang ‘telat’ untuk jam makan malam. Namun, kelelahan psikologisnya membuatnya merasa kalau waktunya sudah jauh lebih larut.

Hal itu tidak hanya dirasakan Tatsuya seorang.

“Onii-sama benar… aku akan segera mulai menyiapkan makan malam.”

Kelalahan juga terasa dari suara Miyuki saat ia menjawab.

“Miyuki-oneesama, ini tugas saya.”

Nada suara Minami juga terdengar lesu. Meski begitu, dia dengan cekatan berusaha merebut tugas dapurnya karena keras kepalanya atau rasa tanggung jawabnya. Mungkin, keduanya.

“Benarkah? Kalau begitu, silakan.”

“Baik.”

Selagi Miyuki menyerah begitu saja dengan lemas, Minami pergi dan berdiri di dapur tanpa ganti baju dahulu.

“Onii-sama, aku bersiap-siap dulu buat besok.”

Namun, Minami terkejut mendengar perkataan Miyuki. Wajah Minami jadi sedikit masam. Besok adalah hari di mana mereka akan pergi berkunjung ke rumah Keluarga Kudou di Ikoma. Dia saat ini sedang dilema karena rasa tanggung jawabnya untuk membantu persiapan esok hari mengingat kedudukannya sebagai pelayan dan mempersiapkan makan malam.

“Kau tidak perlu tergesa-gesa. Kenapa kalian tidak ganti baju saja dulu? Kita bisa mempersiapkan barang buat besok setelah makan malam.”

“Baik, Tatsuya-niisama.”

Bagi Minami yang sedang dilema, perkataan Tatsuya ini jadi penolongnya.

“Ini perintah dari Tatsuya-niisama. Mari kita ikuti, Miyuki-neesama.”

Dia tidak memberi kesempatan Miyuki untuk protes, Minami mengajak majikannya naik ke lantai 2.

Pada akhirnya, Miyuki dan Minami hanya mempersiapkan kebutuhan Tatsuya buat esok; lalu mereka mempersiapkan kebutuhan mereka sendiri-sendiri. Ketika Tatsuya melihat mereka berdua berdiri di depan lemarinya bingung memutuskan apa yang perlu mereka siapkan untuk besok, melihat hal ini Tatsuya hanya bisa tersenyum.

Dan setelah itu, Tatsuya mulai membicarakan serangan tadi sore dengan mereka berdua saat jam minum teh di ruang keluarga.

“Orang tadi sore itu seratus persen Penyihir Kuno. Bukan hanya dari busur suci saja tapi sihir yang digunakannya untuk melarikan diri, sihir transformasi transparan yang tidak menghalangi refleksi ataupun retraksi cahaya; itu adalah Sihir Pengganggu Mental yang membuat orang lain tidak bisa menyadari kehadiran penggunanya. Sihir itu sama seperti sihir yang digunakan Kudou Retsu di pesta pembukaan Kompetisi Sembilan Sekolah tahun lalu.”

“Kalau begitu apakah dia orang suruhan Keluarga Kudou?”

Tatsuya menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Miyuki.

“Penyihir Keluarga Kudou tidak akan salah mengira kita Penyihir Kuno. Sebaliknya, mereka pasti orang ‘Traditionalist’ yang membenci Keluarga Kudou.”

“‘Traditionalist’ yang Fumiya bilang… Nama itu kedengaran berwibawa, tapi tradisi seperti apa yang mereka bawa?”

Miyuki memiringkan kepalanya bingung. Siapapun yang tidak tahu asal usul nama ‘Traditionalist’ pasti akan mengira seperti itu.

“Tidak ada maksud sama sekali di balik nama itu.”

Tatsuya menolehkan kepalanya ke Minami yang menunjukkan senyuman kecut dan ekspresi “Oh?” di wajahnya.

“Sepertinya Minami tahu tentang ‘Traditionalist’.”

“Betul. Saya pernah diberitahu seluk beluk mereka mengingat ini merupakan salah satu kelompok penyihir yang diawasi oleh keluarga utama. Para Penyihir Kuno yang merasa terkhianati oleh Ninth Institute bersatu dengan tujuan untuk membalaskan dendam mereka kepala Sepuluh Master Clan.”

Minami di sini tidak menunjukkan keraguan sama sekali menjawab hal itu, jadi memang itulah yang diketahuinya.

“Kurasa mengatakan tujuan mereka untuk balas dendam terasa agak berlebihan, tapi sisanya kurasa sudah benar.”

Tentu saja, mereka punya persepsi yang agak berbeda tapi ini hanya disebabkan dari bagaimana cara mereka mendapat informasi ini jadi hal seperti ini bukanlah hal yang aneh.

“Kalau begitu, alasan mereka salah mengira kita Penyihir Kuno…. Miyuki apa kau masih ingat Roh Buatan yang mengintai rumah kita beberapa hari yang lalu?”

“Ya, pada hari Minggu ‘kan?”

“Murid Master telah menangkap pelakunya.”

“Aku mengerti… jadi maksud Onii-sama mereka salah mengira kita bawahan Yakumo-sensei.”

Miyuki mengangguk dengan tampang paham. Namun, di sisi lain, Minami terlihat berbanding terbalik.

“Ada apa, Minami-chan. Kau tentunya mengenal Yakumo-sensei bukan?’

Intuisi Miyuki tidaklah tajam tapi dia bisa menyadarinya dan secara tersirat mengatakan “Jangan menahan dirimu kalau ada sesuatu yang tak kau mengerti”.

“Ya, saya mengenalnya… tapi, kenapa Yakumo-sensei menahan penyihir yang mengintai rumah?”

Tatapan Minami menunjukkan keraguannya yang kini telah berubah menjadi kecurigaan. Miyuki tidak mengerti apa yang ada di pikirannya tapi Tatsuya paham.

“Tidak, Minami kau salah paham. Baik aku dan Miyuki tidak di bawah perlindungan Master.”

Minami mungkin menganggap jika Tatsuya tidak cuma sebatas belajar seni bela diri tapi juga ada di bawah pengawasannya, ini menandakan pembelotan terhadap Keluarga Yotsuba.

“Salah satu hal yang Master senang lakukan adalah mengaku dirinya seorang shinobi daripada pendeta. Aku yakin kalau seorang ‘shinobi’ seperti dirinya tidak akan membiarkan orang lain menyelinap masuk ke areanya dan berlaku seenaknya. Bahkan meski orang itu tidak mengusiknya sekalipun.”

“Jadi seperti itu.”

Tampaknya, dia akhirnya bisa menerima penjelasan itu. Kecurigaan di diri Minami enyah.

“Berkat serangan hari ini, aku bisa tahu dua hal.”

Setelah mereka sudah meluruskan semua hal, kini masuklah ke topik utamanya.

“Pertama, aku tahu kalau Traditionalist telah menjadikan kita target.”

Wajah Miyumi dan Minami menjadi tegang.

“Satunya lagi, aku tahu kalau musuh kita tidak tahu latar belakang kita.”

Miyuki berhasil menyembunyikan kekagetannya, tapi Minami tidak begitu.

“Fumiya dan Ayako memang sempat dibuntuti. Kalau mereka tahu Fumiya dan Ayako dari Keluarga Kuroba maka mereka pasti tahu dengan hubungan Keluarga Kuroba dengan Keluarga Yotsuba. Zhou Gongjin juga seharusnya sudah tahu kalau Keluarga Kuroba memegang peran intelijen di dalam operasi rahasia Keluarga Yotsuba.”

Tatsuya sepertinya menemukan suatu hal menarik dari perkataannya ini, senyum kecil muncul di wajahnya.

“Onii-sama?”

“Oh, maaf. Aku tadi bilang ‘operasi rahasia’, tapi apa yang dikerjakan Keluarga Yotsuba tidaklah rahasia dan itu lucu bagiku. Lupakan saja.”

Tatsuya menjelaskan apa yang dirasakannya dan kembali ke pembahasan.

“Sederhananya, meski mereka tahu kalau rumah kita dikunjungi orang yang berhubungan dengan Keluarga Yotsuba; mereka tidak tahu kalau kita ada hubungan dengan Keluarga Yotsuba. Jadi mereka mengira kita tidak lebih dari penyihir bawahan Keluarga Yotsuba. Dan karena mereka mengira kita ini bawahan Keluarga Yotsuba, mereka tidak mengira kita akan memiliki alat-alat Penyihir Kuno.”

“Singkatnya… mereka mengira kita adalah Penyihir Kuno yang dipekerjakan Keluarga Kuroba yang merupakan utusan Keluarga Yotsuba?”

Pertanyaan ini datang dari Minami. Meski dia terlihat biasa-biasa, namun dia sebenarnya merasakan bahaya.

“Begitulah. Meski mereka tahu keberadaan kita, mereka tidak tahu siapa kita sebenarnya. Mereka tidak tahu kenapa Kuroba menjadikan kita kaki tangan.”

“Maka dari itu…. Ada kemungkinan kalau mereka akan menyerang orang selain kita?”

Mata Miyuki terbelalak mendengar kesimpulan Minami, sementara Tatsuya hanya menyipitkan matanya mendengar hal itu.

“Benar, kita tidak bisa mengabaikan kemungkinan Erika, Mikihiko atau yang lain bisa menjadi target mereka. Bahkan ada kemungkinan Honoka dan Mizuki dijadikan sandera.”’

“Apa perlu kita meminta perlindungan untuk mereka dari Oba-sama atau Kuroba-san?”

Miyuki terbilang cukup tenang karena melihat kakaknya yang juga tenang. Meski begitu dia paham kalau situasi ini darurat. Hal itu bisa dilihat dari idenya untuk meminta bantuaan dari Maya tanpa ragu-ragu.

“Kita tidak bisa bergantung pada Oba-ue. Kita mungkin merasa memberi mereka perlindungan, tapi pada akhirnya mereka hanya menjadi umpan.”

“Kalau begitu Sensei.”

“Aku punya perasaan kalau imbalannya nanti akan mahal tapi… kita tidak punya pilihan lain.”

Tatsuya meminum habis isi cangkirnya dan bangkit berdiri.

“Aku pergi dulu ke tempat Master.”

Dia mungkin berencana untuk melatih sihir barunya, Tatsuya kelihatan bergegas pergi. Kotak yang berisi CAD eksperimennya juga sudah siap di pintu depan.

“Tidurlah dulu sebelum aku pulang. Tutup pintunya rapat-rapat.”

Dia mengeluarkan CAD Trident-nya dari kotak dekat pintu depan dan membawanya, dan ketika Miyuki dan Minami melihatnya mengenakan baju hangat tipis, mereka menjawab.

“Baik.”

Dihantarkan kepergiannya oleh mereka berdua yang mengiyakan perintahnya dan menunduk, Tatsuya pergi membuka pintu rumahnya.