RITUAL DEDIKASI

(Penerjemah : Hikari)


Aku sedang bermain reversi dengan Kepala Pastor (yang sudah menyelesaikan pekerjaan dokumennya lebih cepat daripada biasanya) ketika, tiba-tiba saja, dia menyodorkan alat sihir pemblokir suara padaku. Aku meraih dan memegangnya tepat saat dia membalik satu kepingan hitam.

“Myne, Ritual Dedikasi akan dimulai di Hari Tanah yang akan datang.”

“Baik.”

Aku menatap lekat-lekat kepingan hitam yang baru saja dia balik, memikirkan langkahku berikutnya, ketika mendadak dia mengeluarkan sebuah gumaman pelan.

“...Lakukan dengan buruk,” katanya, dan aku memandangnya dengan bingung, tidak segera mengerti apa yang dia maksud. Dia mengingatkanku untuk menunduk, supaya ekspresi kebingunganku tidak terlihat jelas, kemudian menjelaskan.

“Berhati-hatilah untuk tidak memberikan terlalu banyak kekuatan sihir dalam satu waktu. Aku sudah memberitahu Kepala Uskup bahwa kau mengeluarkan kekuatan sihir setara dua belas batu kecil selama persembahan harianmu dan menyisakan kekuatan sebanyak tujuh sampai delapan batu setelah itu. Dia akan menyimpulkan dari hal ini bahwa kau akan pingsan kalau kau mencoba memberikan lebih dari dua puluh batu, tidak peduli seberapa kerasnya kau mencoba. Dalam kenyataannya kau mampu jauh lebih banyak dari itu, tapi…” Kata-katanya melambat, mencapai kepingan kayu kecil lain yang salah satu sisinya diwarnai hitam yang sedang kami gunakan sebagai kepingan reversi. Matanya tidak pernah berpindah dari papan permainan itu.

“Kalau kau secara gegabah menunjukkan padanya seberapa besar kekuatan sihirmu sepenuhnya, dia kemungkinan besar akan menanggapinya dengan buruk dan mulai mengklaim bahwa kita menipunya atau bahwa kita menyembunyikan nilai dirimu darinya. Karena itulah akan lebih menguntungkan bagi kita jika kau membatasi dirimu sendiri untuk mengisi tidak lebih dari dua puluh batu setiap harinya saat Ritual Dedikasi, dan akan lebih baik lagi jika kau berpura-pura terlihat sedikit sakit saat pergi.

"Saya tidak keberatan dengan itu, tapi bukankah itu artinya kita menipunya?"

Tidak sulit untukku menahan kekuatan sihir, tapi itu akan membuat kesalahpahaman Kepala Uskup bahwa kami memperdaya dia menjadi kenyataan. Akan tetapi pengamatanku hanya membuat Kepala Pastor menyengir sedikit.

"Itu tidak akan menjadi sebuah keaalahpahaman jika kita benar-benar memperdaya dia, bukan? Aku benci saat orang-orang salah memahamiku, tapi jika kita memang kenyataan memperdaya dia, aku bisa membalasnya hanya dengan 'Kami memang melakukannya'. Terlebih lagi, akan lebih memudahkan kita di masa yang akan datang jika kau terus menyembunyikan seberapa besar kekuatanmu sesungguhnya. Kita tidak perlu dengan bodohnya memberi informasi yang tidak perlu untuk dia miliki. Saat ada lawan yang harus kau kalahkan, adalah hal yang bijak untuk menyembunyikan beberapa trik—dan dalam hal ini, kekuatan—secara diam-diam."

“Saya mengerti...”

Meskipun aku paham maksudnya, tapi aku tetap saja membayangkan sebuah adegan di mana Kepala Uskup berkata “Kalian menipuku!” hanya untuk dibalas Kepala Pastor  “Memang kami melakukannya.”

...Yeah, Kepala Pastor memang terlihat seperti tokoh jahat di sini.


Ritual Dedikasi dimulai pada Hari Tanah. Delia membuatku mandi pagi-pagi sekali dan membersihkan tubuhku. Kemudian, dia memakaikanku jubah upacara yang baru. Jubah baru dengan bordiran pola ombak dan bunga yang disulamkan dengan benang warna biru yang senada, hiasan jumbai berwarna emas dan semuanya disatukan dengan sabuk perak di sekitar pinggang. Dekorasi-dekorasi lebih kecil lainnya menggunakan warna merah, warna suci musim dingin; itu adalah warna dari perapian pemberi harapan yang melemahkan hawa dingin.

“Delia, aku ingin memakai tusuk rambutku yang baru hari ini.”

Aku menghentikan Delia yang mengambil tusuk rambut dari lemari, sebagai gantinya meraih sebuah bungkusan kecil kain yang Tuuli kirimkan beberapa hari yang lalu dari laci mejaku dan menyerahkan itu padanya.

“Ya ampun! Anda tidak boleh begitu saja menaruh tusuk rambut di lacimu seperti itu! Apa yang akan Anda lakukan kalau bunga-bunganya jadi kusut?!”

Delia menggelengkan kepalanya saat dia dengan lembut membuka bungkusan tusuk rambut itu. Benda tersebut menggunakan benang merah dan hijau untuk menyesuaikan dengan ritual musim dingin dan musim semi, tapi desainnya sendiri sangatlah mirip dengan yang pernah kupakai di upacara pembaptisanku; ada tiga kuntum bunga mawar besar dan seuntai beberapa daun hijau mungil yang menggelantung di sana, mirip dengan yang dulu kulakukan dengan bunga-bunga putih kecil.

Keluargaku telah membuatkan tusuk rambut upacara ini untukku setelah melihat betapa sedihnya aku saat tusuk rambutku yang lain hancur ketika misi yang kuikuti dengan Ordo Kesatria. Ini akan sempurna untuk mengatasi musim dingin yang sepi di biara.

“Tusuk rambut ini memang terlihat cocok untuk Anda, tapi saya yakin yang satu lagi akan lebih baik untuk melengkapi warna rambut Anda, Suster Myne.” Rosina, menyaksikan dari jarak yang tidak terlalu jauh, mengatakan dengan selintas rasa sesal setelah aku selesai menggelung rambutku dengan tusuk rambut yang baru.

“Sayangnya, tidak ada yang bisa kulakukan tentang hal itu. Aku meminta mereka untuk menggunakan warna mewah yang sesuai dengan upacara musim dingin dan musim semi yang akan datang, dan tidak ada yang bisa kulakukan bahwa warnanya tidak sesuai dengan rambutku.”

Setelah selesai menata rambut, aku menunggu Damuel datang. Kemudian, bersama-sama, kami menuju ke ruangan Kepala Pastor.


Kamarku adalah satu-satunya yang paling jauh dari area bangsawan di biara, sehingga sangat menyulitkan para pelayan Kepala Pastor  untuk memanggilku. Untuk menghemat waktu, dia memintaku untuk menunggu saja di ruangannya sebelum upacara. Jubahku, terbuat dari kain berkualitas paling tinggi, terasa hangat sekaligus ringan, mengeluarkan suara desir menyenangkan saat aku berjalan menuruni aula.

“Jubah ini benar-benar terlihat dibuat dengan harga yang luar biasa,” kata Damuel, sedikit rasa kagum terdengar dari suarannya saat memandangi jubah upacaraku, tidak diragukan lagi mengingat seberapa banyak yang telah dia keluarkan hanya untuk menutupi seperempat harganya.

Tidak seperti setelan yang pertama, di mana aku sudah mempunyai kain yang diperlukan, setelan kedua ini dibuat benar-benar dari awal—dan dengan biaya tambahan berlebihan untuk mempercepatnya. Aku diam-diam menanyai Damuel berapa banyak yang telah dia bayarkan dan ternyata, secara keseluruhan, jubah ini tiga kali lipat lebih mahal daripada yang kubeli pada awalnya.

Damuel adalah seorang bangsawan tingkat rendah yang tidak bisa dibilang kaya, bahkan berdasarkan standar rakyat jelata, dan kelihatannya dia jatuh sakit saat pertama kali mendengar berapa banyak yang harus dia bayar. Dia harus meminta bantuan dari keluarganya, dan pada akhirnya keluarga dari selir kakak lelakinya yang meminjamkan dia uang untuk menutupi sebagian besar biaya.

“Anda membayar setelan pertama jubah ini sendiri, bukan begitu, Suster Magang? Saya merasa terkesan Anda memiliki uang sebanyak itu tersedia begitu saja.”

“Mereka membuat jubah itu dari kain yang dihadiahkan padaku, jadi tidaklah semahal sebagaimana harusnya.”

“Itu memang masuk akal, tapi tetap saja.”

Diskusi kami berakhir ketika kami sampai di ruangan Kepala Pastor . Pria itu sendiri tidak ada karena ritual, tapi dia telah meninggalkan beberapa pelayan untuk melayaniku.

“Selamat pagi, Suster Myne. Begitu biarawan jubah biru lainnya selesai melakukan ritual, Arno akan dikirim menemui Anda. Silakan tunggu di sini hingga saat itu.”

Aku dilarang untuk makan ataupun minum sampai ritual selesai, jadi yang bisa kulakukan adalah menunggu. Aku duduk di kursi yang disediakan untukku sementara Fran dan Damuel berdiri di belakangku. Rasanya canggung seorang bangsawan seperti Damuel berdiri sementara aku duduk, jadi aku menoleh ke belakang dan melihat ke arahnya.

“Kau tidak mau duduk, Tuan Damuel?”

“Suster Magang, seorang pengawal yang duduk tidak akan dapat bertindak dengan cepat saat diperlukan. Sebuah keadaan genting bisa terjadi kapan saja.” Nada bicaranya menjelaskan bahwa dia tidak akan berubah pikiran sedikit pun, yang artinya aku tidak punya pilihan selain tetap duduk, tidak peduli betapa tidak nyaman rasanya.

Aku menunggu dalam diam di ruang Kepala Pastor, dan pada akhirnya Arno memang datang untukku.

“Suster Myne, silakan segera ikuti saya,” panggilnya.

Aku berdiri untuk mengikutinya, Fran dan Damuel berada dekat di belakangku. Kami keluar dari ruang Kepala Pastor , melewati beberapa pintu dan akhirnya ruang Kepala Uskup sebelum berbelok di sudut. Arno berjalan cepat-cepat, tidak seperti para pelayanku yang selalu melambatkan diri untuk menyamai kecepatan langkahku.

Fran, melihat betapa berjuangnya aku untuk mengikuti, berbicara pada Arno.

“Arno, maafkan aku, tapi bisakah aku memintamu untuk lebih pelan sedikit?”

“Oh, kurasa aku berjalan sedikit terlalu cepat untuk Suster Myne,” katanya, melambatkan langkahnya. “Maafkan saya.”

Saat kami melanjutkan, pintu yang ada di ujung lorong yang kami susuri ini dibuka perlahan oleh seorang biarawan abu-abu. Dinilai dari fakta bahwa dia sedang melihat ke dalam ruangan sambil melakukannya, dia kemungkinan  tidak membukanya untuk menyamai kedatanganku—dia membukanya untuk membiarkan mereka yang berada di dalam untuk keluar.

Orang pertama yang melangkah keluar ada seorang pria berukuran besar mengenakan jubah putih yang berikat pinggang sabuk emas. Aku pernah melihat jubah itu pada saat pembaptisanku dan dia adalah satu-satunya orang di biara ini yang mengenakannya, jadi aku langsung mengenalinya saat itu juga.

“...Kepala Uskup.” Aku menggumamkan gelarnya tanpa benar-benar berpikir. Dia sudah nyaris hilang dari pikiranku karena aku tidak sama sekali tidak pernah melihatnya sejak bergabung dengan biara, tapi kelihatannya dia masih memandangku sebagai seorang musuh; ekspresinya menjadi gelap dengan kebencian begitu melihatku, dan dia berjalan ke arah kami dengan ekspresi meringis yang jelas di wajahnya.

Waktu kami benar-benar buruk—ruangannya berada di belakang kami dan dia akan pergi ke sana sekarang. Kalau kami telat sedikit saja, dia akan sudah kembali berada di ruangannya dan kami berdua bisa menghindari pertemuan tidak menyenangkan ini.

Aku minggir ke samping dan berlutut, lenganku bersilang di depan dada. Arno, Fran, dan Damuel melakukan hal yang sama. Aku bisa mendengar langkah-langkah kaki Kepala Uskup dan gemerisik jubahnya yang semakin lama semakin mendekat. Kenyataan bahwa aku tahu dia membenciku membuatku merasa semakin gugup dengan apa yang bisa saja dia lakukan, dan jantungku berdebar sementara aku dalam diam menunggu dia melintas.

Sementara aku memfokuskan mata ke tanah di depanku, aku melihat jubahnya berdesir lewat. Dia mendengus angkuh, tapi hanya itu saja; dia terus bergerak tanpa berhenti untuk melakukan hal yang lain. Aku terus berlutut, menahan wajahku tetap tertunduk sampai akhirnya aku mendengar suara pintunya yang tertutup, lalu di saat itulah aku menghela napas lega dan berdiri.

Arno kembali memandu, memberi tanda padaku lewat pintu yang masih terbuka ke ruangan ritual.

“Tuang Damuel, silakan tunggu di sini. Hanya para biarawan dan gadis biara yang diperbolehkan untuk masuk ke ruang ritual,” kata Arno. Aku berbalik karena insting, tapi Arno hanya mendesakku maju, mengatakan bahwa Kepala Pastor sedang menunggu di dalam.

Dan memang benar—begitu aku melangkah maju, aku melihat Kepala Pastor berdiri sendirian di depan sebuah altar. Tidak ada yang lain di sana.

Ruangan ritual ini seperti sebuah kapel kecil. Tempat ini sepertinya memiliki langit-langit yang lebih tinggi daripada ruangan Kepala Pastor  dan cukup panjang secara keseluruhan. Dinding-dindingnya berwarna putih bersih—mengesampingkan dekorasi-dekorasi berlapis emas yang dipajang dalam jarak tertentu—dan diselingi pilar-pilar putih yang memiliki relief-relief rumit dari emas yang diukirkan ke bagian-bagian atasnya seperti yang ada di kapel biara. Jendela-jendela tinggi berbaris di antara tiap pilar, dan api berkobar-kobar di dalam obor logam yang berdiri.

Dinding di bagian terjauh ruangan ini ditutupi dari atas sampai bawah dengan sebuah mosaik berwarna cerah dan desain yang mencolok.  Di depan mosaik tersebut adalah sebuah altar bertingkat-tingkat, yang mana memiliki sebuah obor yang berkobar di setiap sisi. Sebuah kain merah mirip karpet digelar di tengah-tengah ruangan, membentang sampai menutupi altar. Pada altar yang ditutupi kain itu terdapat instrumen-instrumen suci, walaupun tidak ada patung para dewa yang terlihat.

Tingkat tertinggi altar adalah untuk Raja dan Ratu para dewa, dengan mahkota Dewi Cahaya ditempatkan di sebelah mantel Dewa Kegelapan. Setingkat di bawahnya terdapat sebuah cawan keemasan besar yang ditaruh di bagian tengah dengan beberapa cawan yang lebih kecil di tiap sisinya—cawan-cawan kecil ini telah diambil dari kota-kota pertanian oleh para biarawan jubah biru selama Festival Panen dan dibawa kembali ke sini, di mana cawan-cawan ini akan diisi selama Ritual Dedikasi sebelum dikembalikan ketika Doa Musim Semi begitu musim dingin berakhir. Dan di tingkat bawahnya lagi terdapat tongkat suci, tombak, perisai, dan pedang.

Di tingkat terbawah terdapat beragam persembahan bagi para dewa. Ada tumbuh-tumbuhan yang mewakili kelahiran kembali musim semi, buah-buah untuk merayakan panen yang melimpah, dupa yang menandakan kedamaian, dan kain yang menyimbolkan iman mereka yang terus-menerus.

"Kau di sini lebih cepat dari yang kuperkirakan, Myne."

Kepala Pastor berbalik. Dia mengenakan jubah upacaranya, yang terlihat sama sekali berbeda dari yang biasanya dia pakai. Warnanya sama-sama biru, tapi ada banyak daun-daun kecil disulam pada kainnya. Dekorasinya berwarna merah, warna suci musim dingin, dan dia memakai sabuk keemasan orang dewasa.

"Saya lihat tidak ada biarawan biru lainnya di sini," aku mengamati.

"Kita hanya sekedar punya terlalu kekuatan sihir untuk mereka ada di sini," jawab Kepala Pastor , yang membuatku menyimpulkan bahwa harga diri mereka akan terlalu terluka jika mereka melihat seberapa banyak kekuatan sihir seorang rakyat jelata yang mereka cemoohkan sebagai orang rendahan bisa persembahkan daripada mereka. Meski demikian aku tidak bisa membayangkan bahwa pertemuan dengan mereka pada dasarnya akan menyenangkan bagiku juga, jadi aku tidak keberatan dengan ketidakhadiran mereka.

 “Ini tidak hanya untuk melindungi harga diri mereka, meski begitu,” kata Kepala Pastor , seakan membaca pikiranku. Aku mendongak kaget saat dia melanjutkan. “Saat orang-orang berkumpul dengan tujuan yang sama dan merapalkan doa yang sama, membuat kekuatan sihir mereka mengalir bersama-sama, ini mempercepat aliran dari semua kekuatan sihir di sekitar. Jadi lebih mudah bagi kekuatan sihir untuk meninggalkan  tubuh. Jika biarawan biru terseret dalam jumlah kekuatan sihir yang kau lepaskan, mereka akan tersapu aliran tersebut dan secara potensial membuat diri mereka dalam bahaya yang mengancam nyawa.”

“...Oh, saya mengerti.”

“Akulah satu-satunya orang di biara ini yang bisa menyamaimu. Ayo kita mulai.”

Kepala Pastor berlutut di depan altar, menempatkan kedua tangan pada kain merah yang membentang di sepanjang lantai. Aku berdiri selangkah di belakangnya dan menundukkan kepala, kedua tanganku juga ada pada kain tersebut.

Ritual Dedikasi adalah ritual paling penting yang dilakukan biara. Di saat inilah kami para biarawan dan gadis biara mengisi instrumen-instrumen suci yang berkaitan dengan pertanian dengan kekuatan sihir untuk digunakan di panen tahun berikutnya. Kain merah yang dibentangkan di lantai dan menutupi altar ini dibuat dari benang yang diisi kekuatan sihir, sehingga kau bisa membuat kekuatan sihir mengalir ke instrumen suci hanya dengan berdoa dengan kedua tanganmu berada di permukaannya.

“Saya memanjatkan doa dan rasa syukur pada para dewa yang telah menciptakan dunia ini.” Suara rendah dan tak terburu-buru Kepala Pastor  bergema di penjuru ruang ritual ini, dan aku mengikuti doa tersebut setelahnya.

“Oh Raja dan Ratu yang berdaulat atas langit yang tak berbatas, Oh Kelima Yang Abadi yang berkuasa memerintah alam fana, Oh  Dewi Air Flutrane, Oh Dewa Api Leidenschaft, Oh Dewi Angin Schutzaria, Oh Dewi Tanah Geduldh, Oh Dewa Kehidupan Ewigeliebe. Kami memuja kalian yang telah memberkati semua makhluk dengan kehidupan, dan berdoa semoga kami terus diberkati dengan kekuatan ilahi kalian.” 

Saat aku mengucapkan doa tersebut, aku bisa merasakan kekuatan sihir mengalir keluar dari tubuhku. Kain merah tersebut bersinar terang, dan dari ombak-ombak cahaya, aku bisa melihat kekuatan sihirku mencapai altar.

“Myne, itu cukup,” kata Kepala Pastor, dengan anggun mengangkat tangannya dari karpet itu. Aku melakukan hal yang sama, memutus aliran kekuatan sihir sebelum menyaksikan dengan cermat saat kilauan-kilauan terakhirnya diserap ke dalam sebuah cawan kecil.


“Itu seharusnya cukup untuk hari ini,” kata Kepala Pastor sambil memandangi cawan-cawan kecil. “Lebih banyak kekuatan sihir yang mengalir daripada yang kuperkirakan.” Kami telah mengisi tujuh cawan hari ini, dan beberapa matematika sederhana menuntunku membuat kesimpulan bahwa akan diperlukan delapan hari untuk selesai mengisi semua cawan itu.

“Kalau bukan karena kau, aku sendiri sudah mengisi semua ini. Meskipun kenyataannya aku juga memiliki tugas di Area Bangsawan…” Kepala Pastor menghela napas letih, yang mana langka baginya.

Aku melihat cawan-cawan kecil yang dibariskan di altar dan menyetujui dalam hati.

Sekarang aku bisa mengerti kenapa Kepala Pastor 

begitu berbaik hati padaku sejak awal. Siapapun akan muak harus mengisi semua cawan ini sendirian. Aku tadinya penasaran kenapa dia selalu memberikan begitu sedikit kekuatan sihir selama persembahan biasa kami, dan sekarang aku mengerti itu karena dia memiliki pekerjaan di Area Bangsawan yang tidak kupunyai. Itu pasti sangat menyulitkan.


Dengan demikian, aku mulai melakukan Ritual Dedikasi sekali sehari. Aku memberikan kekuatan sihirku dengan Kepala Pastor setiap kalinya, tidak pernah sekali pun melihat biarawan jubah biru lainnya. Ini terus berlanjut selama sekitar seminggu, dan tepat sebelum kami menyelesaikan beberapa cawan terakhir, Kepala Pastor  membawa sekitar sepuluh cawan baru lainnya.

“Myne, ritualnya telah diperpanjang. Bisakah aku memintamu bantuanmu lebih lanjut?”

“Ada apa?” tanyaku, dan diberi tahu bahwa duchy tetangga—yang mengalami kekurangan kekuatan sihir yang lebih buruk daripada kami—telah meminta bantuan kami untuk mengisi cawan-cawan itu, jika kami memiliki kekuatan sihir lebih.

“Ini adalah kesempatan bagus untuk mendapatkan dukungan politis dan kekuasaan atas mereka. Adalah hal yang bijak untuk menerimanya, meskipun ini adalah beban tambahan.”

“...Umm. Bukankah kita sudah berhubungan baik dengan mereka?”

“Ya, memang benar, jelas karena itulah mengapa penting untuk mempertahankan kekuasaan kita dengan secara teratur membantu mereka. Sebuah hubungan yang baik tidak ada artinya jika kita tidak menjadi pihak yang memegang kekuasaan.”

....Dunia politik benar-benar menyeramkan.

Tapi tetap saja, mempertimbangkan apa yang seseorang perlu lakukan untuk melindungi duchy mereka sendiri sambil mempertahankan hubungan yang baik dengan duchy lainnya, konsepku tentang pertemanan sama sekali tidak berlaku. Dua duchy berhubungan baik memiliki arti yang sama sekali berbeda dari dua orang yang berhubungan baik. Aku bisa mengerti itu, tapi tetap saja rasanya berat bagiku untuk terbiasa.

Walau begitu terlepas dari masalah politik, aku tidak keberatan memberikan bantuan saat sang archduke memintaku melakukannya. Aku punya kekuatan sihir yang tersisa banyak yang tidak kugunakan lagipula, dan aku tidak punya feystone atau peralatan sihir milikku sendiri untuk kugunakan.

“Saya memanjatkan doa dan rasa syukur pada para dewa yang telah menciptakan dunia ini.”

Kepala Pastor dan aku menuangkan kekuatan sihir ke dalam cawan-cawan kecil yang diberikan pada kami. Itu hanya sampai, sekitar pertengahan, kami diganggu oleh derit pelan pintu ruangan yang terbuka.

“Berdoa dengan sangat sungguh-sungguh, ya.”

Kepala Pastor  cepat-cepat berdiri dan berbalik di depanku, jadi aku juga melakukannya. Di sana aku melihat Kepala Uskup memasuki ruangan ritual, meskipun tidak pernah melakukan ini sebelumnya. Dia berlambat-lambat berjalan ke altar, sebuah tas berisi sesuatu di lengannya.

“Apa ada terjadi sesuatu, Kepala Uskup?” tanya Kepala Pastor. Dia tidak menerima balasan sementara Kepala Uskup dalam diam mulai mengeluarkan cawan-cawan kecil dari dalam tasnya, menaruhnya satu per satu di atas altar. Begitu dia telah membariskan sekitar sepuluh cawan, dia berbalik, menyunggingkan seulas senyum ramah seperti yang pernah dia tunjukkan sebelum mengetahui bahwa aku adalah seorang rakyat biasa.

“Nah sekarang, Myne kecil. Isilah semua ini ini dengan kekuatan sihir juga. Sang archduke sendiri telah meminta ini untuk dilakukan.”

“Aku tidak mendengar hal semacam itu.” Kepala Pastor  memberikan Kepala Uskup pandangan bingung. Cahaya di mata Kepala Uskup menajam, tapi senyum ramahnya tidak goyah sedikit pun.

“Aku tidak membuat permintaan padamu. Aku meminta Myne memenuhi tugasnya ini. Jangan bilan padaku bahwa dia akan mematuhi perintah darimu, Kepala Pastor , tapi tidak dariku, Kepala Uskup.”

Aku dapat menolak atau menerima permintaannya ini, tapi aku membuat banyak sekali musuh hanya dengan keberadaanku ini sehingga tidaklah sulit untuk melihat bahwa tidak mematuhi perintah langsung dari Kepala Uskup adalah hal yang tidak bijaksana. Dia bisa saja membuat hidupku sengsara.

Pada akhirnya, aku melirik Kepala Pastor untuk menyerahkan keputusan padanya. Dia seperti mengerti kenapa aku melihatnya, dan dengan ekspresi yang agak keras, memberikan sebuah anggukan pelan.

“Kami baru saja menyelesaikan ritual hari ini. Jika Anda mengizinkan, kami bisa mengisi semua itu besok.”

“Jangan lupakan perkataanmu itu.” Kepala Pastor  memberikan seulas senyum lebar menjijikkan, kemudian meninggalkan ruangan ritual dengan langkah lambat yang sama seperti sebelumnya. Seorang biarawan abu-abu menutup pintu di belakangnya, dan begitu keheningan melingkupi, Kepala Pastor menghela napas lega.

“Aku tadi merasa was-was kau akan kehilangan kesabaran lagi. Meski demikian, jelas bahwa archduke tidak ada kaitannya dengan cawan-cawan tambahan ini.”

“Apa kita masih akan mengisi semuanya itu kalau begitu? Saya tidak keberatan mendapatkan beberapa penilaian bagus sesekali, jadi…”

Kepala Pastor terdiam berpikir selama beberapa saat sebelum menjawab, sebuah kerutan muncul di wajahnya.

“Kita akan melanjutkan ritual seperti yang biasa kita lakukan. Aku akan menanyai archduke tentang ini dan menyelidiki masalah ini sendiri, tapi salju tidak diragukan lagi akan memperlambat usaha ini. Berpura-pura patuh untuk saat ini akan lebih menguntungkan. Bisakah aku meminta bantuanmu lagi?”

“Tentu saja.”

Dan begitulah, aku lebih banyak menghabiskan musim dinginku mengisi cawan-cawan kecil yang kelihatannya bertambah secara perlahan seiring berjalannya waktu.