HIGH PRISTESS

(Author : Rafli Sydyq)


    Hari yang cerah, pemandangan yang indah, angin yang berhembus dengan lembut. Ahh... sungguh hari yang sangat cocok untuk berkendara dengan kereta kuda.

“No.. ..da!”

Kau tau, aku awalnya sedang bersantai di dalam kamarku sampai akhirnya Ayahanda memanggilku dan mengatakan kalau ada pekerjaan untukku.

“Nona...”

Memang kau tidak bisa makan kalau tidak bekerja, tapi aku baru saja menyelesaikan pekerjaanku yang sebelumnya. Tidak bisakah Ayahanda membiarkanku istirahat untuk beberapa hari saja?

“..na Muda!

Berkat itu sekarang aku harus bekendara selama beberapa hari demi untuk sampai di tempat pekerjaanku yang selanjutnya. Maksudku... ini sudah tiga hari lebih loh. Bayangkan sudah berapa banyak manisan yang bisa aku makan dirumah jika saja aku tidak menghabiskan tiga hari penuh duduk didalam kereta yang sempit?

“Nona Mu..”

Ya... kereta ini memang tidaklah sesempit itu, kereta ini masih cukup luas bagiku untuk berbaring. Kereta ini bahkan cukup nyaman sehingga aku bisa tidur siang didalamnya meskipun kereta ini melaju dalam kecepatan penuh.

“NONA MUDA!”

“Ya ampun, ada apa!”

“Nona Muda jangan melamun saja, kita saat ini sedang berada dalam kondisi yang cukup menyulitkan”

Di sana terdapat seorang wanita muda dengan rambut cokelat yang tergerai sampai ke pinggangnya. Gadis itu memakai zirah kesatria yang menutupi seluruh tubuhnya. Meski begitu, zirah tersebut telah dirancang khusus sehingga dia masih bisa tampil feminin meskipun memakai armor penuh.

“Ayolah Reeve. Jumlah mereka tidaklah sebanyak itu. Sebagai pengawalku jumlah segini tidaklah sulit kan?”

“Kumohon Nona Muda jangan bercanda di saat seperti ini!”

Dengan wajah memelas yang dicampur dengan sedikit kekesalan, Reeve dengan elegan memotong Makhluk Buas di hadapannya menjadi dua. Lalu dilanjutkan dengan menendang kepala Makhluk Buas yang datang langsung ke hadapannya yang membuat Makhluk Buas itu terhenti seketika sebelum akhirnya mati setelah terkena serangan tombak yang berasal dari kesatria yang ada didekatnya.

Untuk merangkum apa yang sebenarnya terjadi, saat aku sedang berada di dalam perjalanan menuju tempat kerjaku. Bersama dengan Reeve dan beberapa pengawal lainnya, kami melaju di tengah rimbunnya hutan hingga akhirnya kami diserang oleh gerombolan Makhluk Buas.

Mereka adalah Goblin. Sejenis Makhluk Buas yang menyerupai anak kecil berkulit hijau yang sangat suka hidup berkelompok.

Jika hanya sendiri, Goblin bukanlah masalah besar. Namun bila mereka berkelompok, hanya masalahlah yang akan terjadi.

“Meskipun kau bilang membantu sekalipun, tidak ada dari kalian yang terluka”

“Sekali lagi kumohon agar Nona Muda untuk tidak bercanda!”

Job ku adalah seorang High Pristess, seorang Healer. Sebagai seorang Healer, aku membutuhkan orang yang terluka untuk bisa bersinar. Selama tidak ada yang terluka, maka tidak ada yang bisa aku kerjakan. Dan berkat kemampuan pengawalku yang sangat luar biasa, aku jadi tidak punya kerjaan.

Yah, itu jika aku hanyalah Healer biasa.

“Baik-baik... aku akan...”

Di saat aku hendak turun dari kereta, aku melihat ada sebuah makhluk aneh melayang diangkasa.

Makhluk tersebut berbentuk seperti bola mata yang dipasangi dengan sayap kelelawar.

Normalnya kau pasti akan ketakutan saat melihat makhluk seperti ini melayang dengan mudahnya diangkasa tepat di bawah bayang-bayang pohon yang lebat.

Namun, pengetahuan yang aku miliki membuatku tahu makhluk apa itu sebenarnya.

“Wahai penyihir muda. Jika engkau adalah penyihir yang murah hati dan hendak menolong kami, maka akan kusiapkan hadiah jikalau engkau berhasil menolong kami keluar dari kesulitan ini!”

Atas perkataanku, makhluk itu segera terbang menjauh. Tidak lama kemudian, dari kejauhan datanglah empat orang anak muda.

Mereka terdiri dari dua anak lelaki yang berpakaian seperti Petualang pada umumnya, satu orang gadis Cleric, dan yang terakhir adalah seorang gadis penyihir yang tampaknya adalah tuan dari makhluk aneh tersebut.

Tanpa membuang waktu, mereka segera bergabung dengan para pengawalku untuk membasmi para Goblin yang menyerang kami.

Performa mereka cukup lumayan.

Si anak lelaki berkaca mata yang menggunakan pedang panjang terlihat sangat menjanjikan. Si penyihir muda terlihat seperti sedang bersenang-senang. Untuk si Cleric, dia terlihat cukup menjanjikan. Jika dipoles sedikit, dia pasti bisa bersinar dengan terang.

Sekarang untuk si bocah pirang yang menggunakan pedang dan perisai. Bocah ini sudah tidak tertolong lagi.

Sebagai Tanker, dia seharusnya aktif di depan dan mengalihkan perhatian lawannya sehingga mereka tidak menyerang anggota Partynya. Namun yang dia lakukan hanyalah diam sambil menerima serangan dari musuhnya dan berulang kali terluka karenanya.

Dia bahkan terlihat ragu-ragu disaat hendak menebas musuhnya. Berkat itu dia menerima lebih banyak serangan yang membuat si gadis Cleric untuk berulang kali menyembuhkannya.

“Ahh... aku sudah tidak tahan lagi” 

Aku membuka pintu kereta lebar-lebar. Tanpa berkata apapun aku segera melompat menuju medan pertarungan.

Belum lewat sedetik, aku sudah berada di hadapan seekor Goblin. Langsung saja aku melancarkan [Martial Skill-Quick Strike] dan memukul kepala Goblin tersebut sekuat tenaga.

Kepala Goblin itu pun meledak dan darahnya menjadi tersebar dimana-mana.

Tampak masih tidak menyadari apa yang telah terjadi, aku kembali melancarkan [Martial Skill-Quick Strike] ke arah Goblin lainnya.

Aku terus saja melancarkan seranganku sampai akhirnya tidak ada lagi Goblin yang tersisa.

“Ya ampun, belum sampai semenit mereka sudah habis tidak bersisa”

Sambil menggerakkan tubuhku seolah masih belum cukup, aku tidak menghiraukan tatapan orang-orang yang tampak bingung apa yang sebenarnya telah terjadi. Setelah selesai menggerakkan tubuhku, aku lalu berjalan menghampiri Reeve dan berkata...

“Baiklah, mari lanjutkan perjalanan”

“LAKUKAN ITU DARI TADI!”

Mengesampingkan teriakan Reeve yang memekakkan telinga, aku berjalan dengan santainya menuju kereta yang pintunya terbuka dengan lebar.