JALAN UNTUK MELANGKAH DENGANMU, 

JALAN MENUJU MIMPI

(Part 5)

(Translator : Hikari)


Sorata dan Rita bergabung dengan Mashiro yang menunggu di depan kantor kepala sekolah. Tiga orang melangkah keluar.

“Kepala Sekolah mengatakan sesuatu?”

“Dia bilang dia mengerti.”

“Benarkah”

Sorata pikir itu cukup bagus daripada berkembang menjadi sesuatu yang merepotkan. Ngomong-ngomong, kelas tiga tidak lama lagi akan bebas dari sekolah. Dia pikir ini sedikit lebih awal.

“Bagaimana Inggris setelah sekian lama?”

“Aku menggambar manga sepanjang waktu.”

“....Begitukah?”

Bertukar pandang untuk meminta konfirmasi dari Rita, Sorata berwajah kaget. Tapi Rita adalah Rita. Dia juga mengirimkan email beberapa kali untuk mengupload model 3D yang dia buat saat kembali ke Inggris ke server Sorata untuk diperiksa. 

“Bagaimana dengan liburan musim dingin Sorata?”

“Di Malam Tahun Baru, aku kembali ke rumah orang tuaku. Tapi aku juga sama. Aku memgerjakan game dan kemudian memeriksa PR Yuuko.”

“Ya.”

Sorata tidak yakin apakah gadis itu tertarik atau sekenanya saja.

"..."

"..."

Percakapanya juga terputus.

Ini bukanlah kesunyian yang biasanya dia pedulikan. Hal yang dikhawatirkan adalah pertengkaran akibat Natal akan berlanjut. Garis paralel sepanjang waktu sejak itu. Jarak antara Sorata dan Mashiro tidaklah memendek ataupun memanjang.

Melihat situasi mereka berdua, Rita menghela napas dengan wajah kesulitan.

Saat mereka kembai ke Sakurasou, sudah pukul sebelas.

Bersiap untuk makan siang dan menyelesaikan sebelum tengah hari, Ayano akan kembali untuk menjemput Mashiro di siang hari, jadi mereka harus menyiapkan barang bawaan sebelum itu.

Sorata yang selesai menyantap Okonomiyaki dari Tatami, menuju kamar Mashiro dan memutuskan untuk mulai mengepak secepatnya.

Dia menaruh koper berwarna cokelat di atas ranjang dan memasukkan baju serta pakaian dalam. Ngomong-ngomong, apakah ini cukup untuk seminggu?

Dia tidak perlu sampo dan semacamnya karena itu ada di hotel. Kalaupun tidak ada, Ayano bilang dia akan menyiapkannya di sana.

Barang bawaan pun selesai sekitar limat belas menit untuk pertama kalinya.

“Mashrio, apa ada hal lain yang ingin kau masukkan?”

Mashiro duduk di ranjang dan memandangi Sorata.

"Sora"

"Ha?"

"Masukkan Sorata."

Ini bukanlah suasana bercanda. Pada dasarnya, Mashiro tidak bercanda.

“Aku tidak akan masuk secara fisik.”

Kalau dia masuk secara paksa, koper manis ini akan rusak.

“Aku akan memasukkannya secara mental.”

“Bagaimana caranya kau melakukan itu?”

“Sorata pikirkan.”

Sekali lagi, mata Mashiro terlihat serius. Bahkan anehnya ada sebuah kekuatan yang manis di mata itu. Suasana menyebalkan ini berlangsung sejak Natal. Dia berpikir sepertinya Mashiro mencoba untuk menyelesaikannya.

“Aku tahu. Mengambilnya secara mental.”

"..."

Mashiro meminta dengan mata yang jernih.

“Handphone-ku, ambillah.”

Mengambilnya dari meja, Sorata lalu ke ranjang.

Menyalakan mode kamera dan duduk di sebelah Mashiro. Mereka berdekatan supaya bisa masuk ke dalam frame kamera lalu memposisikan lensa pada diri mereka sendiri.

"Sorata?"

"Ya, cheese."

Ada sebuah suara yang menandakan itu bekerja.

Mereka memastikan hasilnya bagus.

Sorata terefleksi di Dinasti Qing (TL :Maksudnya? Aq ora mudeng....) Mashiro berwajah datar. Matanya membulat. Itu terlihat sedikit lucu.

Foto itu kemudian dipasang di standby screen.

“Apa kau tidak masalah dengan ini?”

“Ini tidak bagus.”

Mashiro menyembunyikan layar handphone itu dengan tangan.

“Eh? Kurasa ekspresi semacam itu tidak masalah.”

“Hapus.”

Mashiro memberengut.

“Satu kali lagi, Sorata.”

“Baiklah, aku mengerti.”

Fotonya diam-diam dikirim ke handphonenya sendiri, lalu Sorata mengarahkan lensa kamrea pada mereka sendiri lagi seperti yang Mashiro katakan.

“Ya, cheese.”

Sorata merasakan sesuatu yang hangat dan lembut di pipinya.

Tidak lama kemudian, suara klik pun terdengar.

Sorata tidak tahu apa yang terjadi. Mashiro tidak biasanya melihat ke mana-mana dan dia tidak tahu apa yang gadis itu telah lakukan.

Tapi, melakukan hal semacam itu tidaklah berguna. Karena ada bukti foto di tangan Sorata.

Dia pun memperhatikan layar handphone.

Sekarang foto yang baru saja diambil pun terpampang.

Jelas sudah. Mashiro sedang mengecup pipi Sorata. Sorata terlihat kaget dan bodoh.

"Ini tidak apa-apa."

"ini mungkin tidak bagus."

“Sorata, kau terlihat aneh?”

“Gara-gara itu!”

Lagipula, apa yang akan kau lakukan kalau seseorang tanpa sengaja melihatnya?

“Aku akan melakukannya!”

Mashiro mengambil handphone itu dari tangan Sorata. Dia kelihatannya ingat bagaimana cara megoperasikannya dan mengatur foto tersebut di layar standby-nya. Gambar itu cukup memuaskan.

"Ngomong-ngomong, Mashiro"

Sorata berpikir hanya inilah waktunya untuk bicara, Untuk mengatakan perasaannya....

"Apa?"

"Aku mencintai Mashiro"

"..."

“Aku mencintai Mashiro lebih daripada kemarin, daripada seminggu yang lalu, daripada sebulan yang lalu.”

"Yup"

“Jadi aku ingin bersama dengan Mashiro dan berpikir bahwa waktu seperti saat ini berlangsung selamanya.”

"Yup...."

“Tapi, ini sama pentingnya dengan mimpi itu.”

"..."

Tidak ada balasan dari Mashiro. Sorata rasa gadis itu tidak ingin mengangguk.

“Tujuanku sama pentingnya dengan itu.”

"..."

Lagi, tidak ada balasan dari Mashiro. Sebagai gantinya, ada sebuah suara yang menyela.

"Permisi.”

Itu adalah suara Ayano yang terdengar dari lantai bawah.

Jam sudah menunjukkan siang hari.

"... Apa Sorata tidak merasa sakit?"

"..."

“Aku berjuang untuk berada di sisi Sorata.”

"... Begitukah?"

“Rasa menyakitkan untuk pergi.”

"Mashiro ..."

“Aku merasa sakit saat memikirkan Sorata.”

Mashiro menggenggam erat tangan di atas dadanya.

“Bagaimana kau mencintaiku?”

Sorata menebak itu karena dia mencintai Mashiro. Karena dia mencintai gadis itu, dia berjuang karena perasaannya tidak terpuaskan. Dadanya terasa sakit bahkan karena sebuah kesalahan kecil. Sepertinya baginya hal itu tidak menyakitkan ataupun gatal sekalipun jika orang lainlah pasangannya. Dia merasa ini adalah masalah besar.

Tapi karena itulah. Karena dia mencintai Mashiro, dia bisa merasa bahagia hanya dengan peristiwa kecil. Mereka bisa saling mengisi dengan perasaan memikirkan satu sama lain. Dia yakin bahwa mereka dapat melampaui kesulitan-kesulitan dan jarak di antara mereka.

Hal yang sulit adalah memberi bentuk pada perasaan yang tak kasat mata... Saat ini, bahkan hal-hal kecil pun, mereka harus melakukannya satu demi satu.

"Shiina-san, apa kau ada di sini?"

Sekali lagi, suara Ayano muncul dari lantai bawah.

Mashiro mengangkat koper dengan kedua tangan.

“Aku akan menelponmu.”

Mashiro dengan lembut berkata sambil memunggunginya.

“Setiap hari, telpon aku.”

Hal semacam itu mungkin benar-benar sesuatu yang kecil.

“Juga mengirim email.”

Tapi, dalam situasi di mana mereka berada sekarang, sepertinya itu adalah pilihan yang terbaik.

“Apa kau sibuk?”

“Aku akan melakukannya.”

“Walaupun tidak ada yang diobrolkan?”

"Ya."

“Karena Sorata dan aku berpacaran?”

Mashiro membalikkan badan untuk bertanya dengan sorot mata gelisah.

“Tidak.”

Sorata perlahan menggelengkan kepala.

"Kenapa kalau begitu?"

“Karena aku mencintai Mashiro.”

Sorata menatapnya dan mengungkapkan perasaan dengan jelas.

"..."

Hanya untuk sesaat, Mashiro dipenuhi dengan kata-kata.

"Aku..."

"..."

“Aku tidak tahu.”

Tangan Mashiro yang memegang gagang koper terlihat semakin mencengkeram. Dia gemetar. “Ada saat-saat di mana aku tidak suka Sorata.”

"...Begitukah."

"Ya."

“Bagaimana dengan sekarang?”

Sorata tahu jawabannya tanpa bertanya. Tapi tetap saja, mulut Sorata mengucapkan pertanyaan tersebut begitu saja.

“Aku tidak suka Sorata sekarang,”

Kata yang bermakna.

Dia sudah mempersiapkan diri, tapi saat itu diucapkan dalam kata-kata, Sorata merasakan kegelapan di depan matanya.

Mashiro kemudian berbalik dan meninggalkan kamar.

"..."

Tidak ada kata-kata untuk diucapkan. Sorata menyaksikan kepergiannya dalam diam.

Langkah kaki Mashiro pun menjauh. Dia mendengarkan percakapannya dengan Ayano di kejauhan.

“Tapi, meski begitu...”

Dia bergumam sendirian dalam kamar yang ditinggalkan oleh Mashiro.

Dia memastikan perasaan dalam hatinya sekali lagi.

“Perasaanku tidak akan berubah.”

Ya, itu tidak akan berubah. Perasaan itu menopang Sorata yang sekarang.


Dalam catatan Sakurasou hari ini tertulis sebagai berikut :

- Mashiro-sama telah memutuskan untuk meninggalkan Sakurasou untuk sementara waktu. Jangka waktunya belum ditetapkan. Sekretaris · Maid-chan