TENTANG AKAN LEBIH BAIK UNTUK TIDAK BERDEBAT MENGENAI DISTRIBUSI BENDA SIHIR

(Translator : Zerard)

 

“Ngggaaahhhh!!”

Spearman berguking menjauh dari paruh, mengeluarkan sebuah suara yang tidak seperti jeritan, namun juga bukan seruan perang.

Bebatuan dapat terdengar bergelindingan di tanah gua.

Di depan Spearman seraya dia berdiri adalah seekor makhluk dengan kilau mata keji: seekor ayam.

Namun makhluk ini memiliki sayap seperti kelelawarm dan ekor seperti kadal. Ini bukanlah makhluk biasa.

“Ini....cockatrice.”

“Nggak ada yang memberitahuku tentang adanya kelelawar-kadal-ayam...!”

Witch mengernyit simpati, namun teriakan Spearman dapat di maklumi.

Ini seharusnya merupakan pekerjaan yang mudah—sesuatu yang bisa di lakukan sendirian, terlebih jika adanya rekan.

Tidak di ragukan mereka dengan cepat membereskan seekor warlock ketika makhluk itu keluar dari guanya di malam hari. Witch telah menggunakan mantra Silence, mencegah musuh mereka untuk mengumbar kata sihirnya, dan Spearman telah memberikannya satu tusukan bagus pada jantung makhluk itu.

Ketika mereka membuka tudungnya, mereka menyadari bahwa makhluk ini adalah benar salah satu dari Tak-Berdoa. Lambang akan sekte jahat menggantung pada dadanya.

Dan itu saja. Yang tersisa hanya menggeledah guam dan kemudian quest selesai. Bukan tanpa resiko, tapi tetap saja, satu pekerjaan untuk malam ini. Setidaknya seharusnya seperti itu.

“Saat mereka bilang ini ‘pekerjaan mudah’ artinya selalu ‘pekerjaan berbahaya’ aku harusnya lebih mendengarkan...!”

Spearman mengingat pelajaran lama, pada dirinya yang dulu. Tidak pernah terlintas di benajnya bahwa sang warlock akan mempunyai cockatrice sebagai anjing penjaga.

“Bayangin aja kalau mereka mulai memproduksi massal makhluk kayak gini... Bakal buruk banget...!”

“...Mantraku... Aku, hanya, punya, satu, lagi,” Witch berkata dari belakangnya, suaranya pelan dan tenang.

Akan jauh lebih baik untuk melawan ini setelah mereka telah beristirahat satu malam—bukan untuk mengistirahatkan tubuh, tetapi untuk mengisi kembali sihir Witch.

Bego, bego, bego, bego, dia berpikir, namun tidak peduli seberapa dia menegur dirinya, situasi ini tidak berubah. Spearmam melotot kepada cockatrice seraya monster itu menggaruk tanah dengan kasar, kemudian Spearman mengambil postur rendah.

“Kalau dia berusaha jaga jarak, kurasa kita bakal bisa. Tapi kalau dia menyerang kita, kita tamat...”

“...” Spearman dapat mendengar Witch yang menelan liur di belakangnya. “...Apa...kamu....bisa?”

“Kalau dia nggak menyerang, seperti itu caranya.”

“Aku, akan, coba.” Witch berkata gugup. Spearman mempercayai wanita itu. Dia benci untuk melarikan diri, bahkan walaupun itu akan membuat nyawanya melayang.

Soalnya, harus tampil keren di depan wanita! (Zerard = ya kalau kamu mati, apa gunanya bambang...)

“Zrrraaaaaaahhhhh!!!” Cockatrice mengeluarkan suara layaknya burung aneh, dan Spearman membalas dengan menurunkan badannya lebih rendah lagi.

Bibir lembir Witch mengucap kalimat layaknya sebuah melodi. Aranea...facio...ligator! Laba-laba, datang dan ikat!”

Adalah dalam sekejap.

Spearman maju. Cockatrice menendang tanah dan berusaha untuk terbang, namun kakinya telah terpenrangkap.

Terperangkap jaring laba-laba.

Spearman tidak pernah melihat ini, tidak pernah memikirkannya; dia hanya mengetahuinya secara insting.

Sebuah sesuatu yang lengket berwarna putih susu membungkus di sekitar kaki monster itu.

Mantap!

Yang hanya perlu dia lakukan sekarang hanyalah satu serangan untuk menghabisinya. Dia mengangkat tombak dan mendorongkannya menuju jantung monster itu dengan segenap tenaga.

Membunuh ayam yang tak bergerak itu lebih mudah dari menembak ikan dalam drum.

“Mantap, dan sekarang tinggal cari jarahannya!”

“Ya, benar...” Witch mengangguk, tampak datar seperti biasanya, namun mata wanita itu memancarkan rasa penasaran.

Seperti itu bumbu-bumbu petualangan. Tebas jalanmu ke dalam, sayat jalan keluarmu. Dan ketika berhadapan dengan markas operasi warlock, dapat dapat mengharapkan hadiah yang cukup menggiurkan.

Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menemukan peti harta karun. Mereka menyisihkan beberapa waktu untuk memperhatikannya, mencoba untuk memastikan tidak adanya jebakan dan berharap mereka mempunyai seorang scout.

“...Oke, ini dia.”

“...Mn.”

Dia melihat Witch mengangguk, kemudian menyuruh wanita itu menjauh dari peti—untuk berjaga-jaga—dan menghancurkan segelnya.

Di dalamnya adalah sebuah tiang panjang dan tipis, tampaknya terbuah dari semacam kayu. Terdapat sebuah dekorasi metal pada ujungnya, dan benda ini berkilau dengan, kekuatan sihir.

“Ohh...!” Mata Spearman terbelalak lebar, dan dalam sorakkan kegembiraan dia mengambil benda itu. “Sebuah Tombak...!”

Sebuah senjata sihir. Setiap warrior pastinya mendambakan senjata seperti ini. Terdapat bermacam rupa, dari yang hanya menambahkan sedikit daya potong, atau yang tidak pernah berkarat, hingga senjata legendaris. Tidak seorangpun, dari negara terpencil hingga knight yang paling berpengalakan, yang tidak memimpikan senjata ini.

Namun kemudian Witchm mengintip dari samping, memberikan gelengan kepala. “...Ini...adalah...tongkat...percayalah.”

“...Kamu bercanda.”

“Tidak,” diz membalas dengan suara memelas. “Ini, adalah, tongkat, penyihir.”

Membelai ujung metal—yang di kira adalah ujung tombak oleh Spearman—dengan lembut, Witch mengambil tongkat itu.

“Tapi, kalau, kita, menjualnya, ini, akan, menghasilkan, cukup, banyak, uang...”

“Huh?” Spearman menatap wanifa itu seolah wanita itu sudah gila. “Kenapa kita harus menjualnya?”

“...?” Sekarang giliran Witch yang terbengong. “Kita, sudah setuju...untuk, membagi, hadiahnya, kan?”

Spearman menggaruk kepala. Kemudian menghela: ini adalah hal lumrah.

“Saat kamu membentuk party, kamu harus fokus untuk membangun kekuatan tempur. Kamu pakai saja.”

“Tapi kalau kamu nggak mau, kita bisa menjualnya.” Spearman menambahkan, menutup tutup peti harta itu.

Witch berdiri memegang tongkat di tangan. Dia tampak bingung, seperti seorang anak kecil yang di beritahu bahwa mereka dapat memiliki apapun yang mereka inginkan.

“...Kamu, benar,” dia berkata, dan dengan tongkat yang masih di genggam pada satu tangan, dia memberi tepi topinya tarikan ke bawah. “Kalau begitu, sampai, kita, menemukan...sebuah, tombak sihir, Aku...akan, pinjam, ini, oke?”

“Itu bukan pinjaman,” Spearman berkata, memukul pelan pundak wanita itu. Adalah sebuah gerakan  yang sangat santai, hanya sekedar. “Anggap saja itu investasi untuk masa depan.”

Witch secara perlahan tersenyum.

Senyumnya tampak seperti bunga yang mekar.