RAJA IBLIS KENSHIN
(Translator : Hikari)

Dunia nyata…
Aku melepaskan helm game, merasa agak terkuras.  Tidak disangka aku menjadi Dàgē untuk Jing dan Yun… Kalau mereka sampai mengetahui yang sebenarnya, aku akan mati mengenaskan.
Aku bangun dan mulai menyiapkan sarapan, merasa sangat risau. Sekarang sudah enam, hampir tujuh hari dan aku masih belum punya cara untuk menghubungi satu pun dari anggota tim Odd Squad-ku. Haah! Sebenarnya, ada banyak cara untuk menyelesaikan masalah ini. Mengatakannya pada saudaraku akan menjadi cara termudah, tapi cukup ironis, aku tidak bisa mengatakan padanya…

Driiing… Driiing…
Siapa yang menelpon pagi-pagi begini?  Aku menjawab telepon tersebut, kebingungan. "Halo?"
"Xiao Lan? Kau tidak apa?!" suara cemas Zhuo-gēge terdengar dari bagian penerima suara.
"Aku tidak apa-apa. Syukurlah, aku akhirnya bisa menghubungi seseorang!" Aku benar-benar senang. Aku sama sekali lupa kalau aku bisa menghubungi Zhuo-gēge.
"Xiao Lan, ke mana sebenarnya kau pergi?" Jelas dari nada suaranya bahwa Zhuo-gēge merasa lega mendengarku.
"Aku… Aku ada di Benua Timur…" Suaraku mengecil seiring kata.
"Benua Timur?" Zhuo-gēge tercengang. "Apa yang kau lakukan di sana?"
"Aku juga tidak tahu. Aku terbangun dan menemukan diriku di sana setelah minum-minum dengan Nan Gong Zui!" kataku sedih. "Juga, kami tidak bisa mengirim PM pada player di benua yang berbeda, jadi aku tidak bisa menghubungi kalian sama sekali."
Apa hanya aku saja atau memang Zhuo-gēge kedengaran seakan dia sedang mencoba menahan amarahnya? "Kau minum-minum dengan Nan Gong Zui dan minum sampai hilang kesadaran? Kau ini perempuan, bagaimana bisa kau tidak tahu bagaimana caranya menjaga dirimu sendiri?!"
"Ehhh… Tapi aku ini laki-laki di dalam game!" aku menggaruk wajahku. Nan Gong Zui tidak akan melakukan apapun padaku, seorang laki-laki, ya 'kan? Selain itu, apa mungkin melakukan XX di dalam game? Hmmm… Itu sebuah pertanyaan yang bagus untuk diajukan pada Lolidragon.
"Tetap saja tidak benar. Kau bagaimanapun juga adalah seorang perempuan," Zhuo-gēge ngotot tidak mau mengalah.
"Oh…. Yah, aku tidak akan melakukannya lagi. Aku tidak suka minum lagipula!" Memang begitu, 'kan? Aku ingat rasa alkoholnya tidak enak, tapi bagaimana aku bisa begitu mabuk? Aneh sekali!
Nada suara Zhuo-gēge menjadi tenang. "Hampir waktunya kau untuk kembali ke Benua Tengah. Kau seharusnya berhenti bermain-main di Benua Timur. Semua menunggumu di Infinite City, terutama Nan Gong Zui – dia membawa serta seluruh petualang di grupnya. Mereka ingin sekali bertemu denganmu."
"Tapi aku tidak bisa pulang; aku tidak punya cukup uang untuk ongkos kapalnya," kataku pada Zhuo-gēge dengan sedih.
"Berapa banyak yang kau perlukan?"
"Lima ribu koin kristal."
"…Akan kutanyakan pada Lolidragon malam ini ketika aku log in apakah ada cara supaya kami bisa mengirimkan uang padamu," kata Zhuo-gēge, terdengar risau. "Meksipun begitu, Infinite City sedikit kekurangan uang. aku penasaran apakah Yu Lian bersedia menyisihkan uang?"
"Oh… Kalau begitu, aku akan mencarinya sendiri." Aku merasa sedikit malu. Aku belum melakukan apa-apa sebagai seorang penguasa dan sudah menjadi beban.
"Aku akan membicarakan pada mereka tentang hal ini. Untuk sekarang, kau sebaiknya mengambil beberapa quest tingkat tinggi. Dengan kemampuanmu, kau seharusnya bisa menyelesaikan beberapa quest level B[1] sendirian. Hadiah untuk quest level B berkisar dari beberapa ratus hingga ribuan koin emas," usul Zhuo-gēge, dan menambahkan dengan cemas, "Tapi itu semua mungkin cukup sulit, jadi pastikan quest itu tidak terlalu berbahaya sebelum kau mengambilnya."
"Baiklah, aku mengerti."
"Kak, mana sarapanku?" suara tidak senang Yang Ming terdengar dari belakangku.
Terkejut, aku cepat-cepat berkata, "Zhuo-gēge, kita sudahi dulu sampai di sini.  Da-dah!"
Begitu aku memutuskannya, aku berbalik menghadap Yang Ming. Setelah memastikan wajahnya hanya terlihat tidak senang dan tidak ada sedikit pun kecurigaan, aku merasa lega.
"Akan kubuat sarapannya sekarang."

Online
Dengan ekspresi muram, Wicked memasuki tempat pertemuan sementara Odd Squad saat ini – penjara. Seperti yang dia duga, anggota Odd Squad dan Dark Emperor sedang bermalas-malasan di tanah, tidur, atau memenuhi mulut mereka dengan makanan… Tidak ada satupun dari mereka yang sedikit pun terlihat seperti komandan tingkat tertinggi.
Dengan suara berat, Wicked mengumumkan, "Aku ada berita penting untuk Odd Squad."

Ugly Wolf dengan enggan melepaskan Yu Lian yang ada dalam pelukannya, untuk memberi Gui – yang sedang terkubur di bawah lembaran-lembaran desain – sebuah tendangan, menarik Doll dari camilan-camilannya dan mengguncang Lolidragon – yang sedang tidur dengan mulut berliur – membangunkannya. "Berita penting apa?"
"Aku tahu di mana Prince berada," balas Wicked. Tatapan yang dia lontarkan pada Gui menandakan sebuah tantangan, dan dia menyaksikan dengan puas saat Gui memucat.
"Ke mana orang itu pergi?" gerutu Lolidragon. "Kita bekerja mati-matian di sini, sementara dia, si penguasa, dengan senangnya berkeliaran di luar sana."
"Dia ada di Benua Timur," kata Wicked dengan tenang.
Semua mata melebar dari antara anggota Odd Squad, sementara anggota Dark Emperor – yang tadi berisik di satu sisi – terdiam. Dalam sekejap, penjara itu begitu hening sampai-sampai derak api Fire Phoenix dapat terdengar jelas.
Akhirnya, Gui bertanya, nada suaranya campuran prihatin dan gelisah, "Kenapa dia ada di Benua Timur? Kenapa dia tidak kembali?"
"Dia juga tidak tahu bagaimana dia bisa sampai di sana, mungkin karena dia mabuk. Sedangkan kenapa dia belum kembali, itu karena…."
"Kurasa aku tahu alasannya," Lolidragon berkata dengan putus asa. "Tiket kapal ke Benua Timur biayanya lima ribu koin kristal, dan ongkos tiket untuk kembali lima ribu koin kristal lagi. Prince mungkin hanya punya cukup uang untuk satu tiket ke Benua Timur, kalau aku tidak salah ingat."
"Apa? Lima ribu koin kristal?" senyuman Yu Lian begitu membekukan sampai-sampai anggota dari kedua tim mau tidak mau mengheningkan cipta untuk Prince.
Wicked juga mengalihkan pandangannya dari senyum mengerikan Yu Lian dan menatap Lolidragon sebagai gantinya. "Apa ada cara mengirimkan uang pada Prince, Lolidragon?"
Lolidragon berkeringat dingin dan buru-buru memalingkan wajah dari senyuman Yu Lian, yang semakin membekukan dibanding sebelumnya, membalas dengan kaku, "Biasanya mungkin bagi seorang player untuk mengirimkan uang kepada player lain, tapi jika seorang player berada di benua lain, maka mustahil untuk mengirim PM pada mereka, apalagi uang."
"Apa? Lalu bagaimana dengan Prince?" Gui memucat seputih hantu saat dia membayangkan Prince berkeliaran di benua nun jauh di sana, tanpa ada yang mengenalnya, menderita karena hawa dingin dan kelaparan, berpakaian karung, dan akhirnya, menjadi mayat di suatu jalan…

White Tiger City, Benua Timur…
Prince : "Mmm, wonton minyak cabai… Nikmat!" kataku, mengunyah sarapan yang Yun dan Jing traktir untukku.

"Kita hanya harus meminta Prince mendapatkan uang untuk tiketnya sendiri," kata Lolidragon sambil mengangkat bahu, dan kemudian dia merangkak kembali ke selnya untuk tidur tanpa berpikir lebih jauh lagi.
"Hmm…" Ugly Wolf menggaruk bulu di kepalanya. "Karena ketidakhadiran orang itu tidak terlalu berpengaruh pada Infinite City untuk saat ini, ditambah lagi Righteous Blade sudah sejak lama tinggal di kota kita dan tidak bisa keluar lagi, seharusnya tidak ada banyak bedanya kalau Prince tidak segera kembali."
Yu Lian tersenyum. "Tidak satu sen pun untuknya!"
"Doll kangen sekali Prince-gēge…," kata Doll, dan kemudian mengerutkan alisnya ketika dia melirik camilan-camilan dari sudut matanya. "…Tapi Prince-gēge akan merebut camilan yang Doll makan, jadi lupakan." Doll merangkak kembali ke tumpukan camilannya dan mulai makan.
"Tunggu, Prince sendirian di sana, tanpa teman dan tidak ada satu pun yang mengenalnya! Kita harus pergi dan menolongnya!" seru Gui pada teman satu timnya yang tidak bertanggung jawab, wajahnya seputih kertas.
"KAU tidak akan pergi ke mana pun, jadi kembali saja menggambar desainnya dengan patuh," semua orang membalas tajam serempak.
Wicked memandangi mereka tanpa daya, berpikir, Kelihatannya Xiao Lan tidak akan kembali untuk sementara waktu… Tapi itu bukan hal buruk, sadarnya. Gui tidak akan dapat melihat Prince.
Di satu sis, dia – Wicked – akan dapat berbicara dengan Xiao Lan dari telepon.
Bagus! Pikir Wicked, bibirnya melengkung membentuk senyuman.

Lenganku terlipat di depan dada saat aku mempelajari monster yang akan kuhadapi tidak lama lagi – seekor iblis rendahan.
Iblis rendahan ini mirip dengan "oni" dari cerita rakyat Jepang, dengan wajah menyeramkan, gigi-gigi tajam menyeringai, tanduk-tanduk pendek di kepalanya, dan semacam katana pendek di tangannya. Mereka tinggal di dalam gua-gua dalam dan dingin menyeramkan. Jika Jing dan Yun tidak memimpin jalannya, aku mungkin tidak akan bisa menemukan jalan melintasi gua mirip labirin ini. Aku lebih baik berhati-hati jangan sampai terpisah dari mereka, atau aku akan menderita takdir yang lebih mengerikan dibanding secara  tidak sengaja berakhir di Benua Timur.
Setelah tidak bergerak selama beberapa menit yang "panjang", Yun tidak bisa tetap diam lebih lama lagi dan bertanya, "Dàgē, kapan kita akan mulai bertarung? Kalau kita tidak cepat-cepat dan mendapatkan tanduk iblisnya, kita tidak akan bisa menyelesaikan questnya!"
Aku merasa sedikit frustrasi. Aku tidak tahu banyak soal monster, dan orang-orang di sisiku bukanlah anggota timku yang biasa dari Odd Squad. Kami bahkan tidak punya seorang priest, jadi kalau aku menyerbu dengan ceroboh, aku mungkin saja akan bergabung dengan  iblis itu… Meski begitu, aku harus memulainya. Aku hanya bisa berdoa dalam hati bahwa monster jenis ini tidak terlalu kuat. "Yun, Jing, berdirilah jauh di belakang."
Setelah aku memberi perintah pada Jing dan Yun… maksudku, menginstruksikan mereka apa yang harus dilakukan, aku melihat sekitar dengan hati-hati dan menemukan sesosok iblis rendahan yang sendirian. Bergerak ringan dengan kakiku, aku diam-diam menyelinap ke belakangnya, dan kemudian dengan ganas menusuknya dari belakang ke jantungnya. Sayangnya, kelincahan iblis rendahan ini di luar dugaan tinggi dan dia berbalik, menyebabkan pedangku hanya menusuk bahunya. Cairan hijau lengket – mungkin darahnya – menyembur keluar. Murka, iblis yang terluka itu menghunuskan katana pendeknya, dan ujung tajam dari pedang itu menghujam ke arahku. Aku condong ke belakang dan katana itu berdesing melewati pinggangku, dan sebuah ide melesat di dalam kepalaku, dan aku mengalihkan gerakan menjadi sebuah salto ke belakang, menendang iblis tersebut dan mengirimnya tergeletak telentang. Begitu kakiku menyentuh tanah, aku melontarkan diri ke iblis itu, menebaskan senjata padanya dan memenggal seluruh lengan kanannya.
Iblis itu melolong. Meskipun dia kehilangan lengan kanan dan senjatanya, dia masih mencoba untuk menggigitku. Aku mencengkeramkan tangan kiriku pada lehernya erat-erat dan menghujamkan Black Dao langsung ke jantungnya dengan tangan kananku. Akan tetapi, tepat saat aku akan menhela napas lega, iblis itu ternyata menggigit tangan kiriku. Aku meringis kesakitan, berpikir, Jangan bilang kalau kelemahan si iblis rendahan ini bukanlah jantungnya?
"Dàgē, penggal kepalanya, kau harus memenggal kepalanya!" Yun berseru panik.
Jadi begitu caranya. Begitu aku memahaminya, iblis itu tidak lagi memiliki kepala di lehernya, aku dengan cepat melepaskan bangkainya yang menyemburkan darah ke mana-mana, supaya tidak menjadi tank minyak hijau.
"Dàgē benar-benar pria yang perkasa. Penampilan luar biasa Dàgē benar-benar menyentuh Xiăodì! Salto ke belakang Dàgē itu sangat luar biasa; anggun, namun keras bagaikan baja. Haah! Xiaodi hanya bisa mengagumi kehebatanmu… Tapi, bisakah Xiăodì merepotkan Dàgē untuk memotong tanduk iblis itu, supaya Xiăodì bisa menyelesaikan questnya?"
Apa-apaan itu? Kalau kau ingin aku memotong tanduknya, langsung saja katakan! Mengatakan begitu banyak omong kosong, kau membuat kulitku retak karena merinding.  Tetap saja, tanduk itu harus dipotong, jadi pedangku pun terangkat dan mengayun, dan kuserahkan tanduk-tanduk kecil itu pada Yun.
Memiliki perkiraan kasar seberapa kuatnya iblis rendahan, aku menyadari mungkin saja aku dapat menangani mereka dengan cukup mudah dan kecemasanku pun menghilang. Aku mulai memikirkan sebuah rencana untuk membantu Jing dan Yun naik level, dan setelah berpikir sebentar, aku memimpin Jing dan Yun ke sebuah celah di dalam gua dan meminta mereka untuk berdiri di dalamnya. "Aku akan bertugas memancing iblis-iblis itu ke sini. Setelah itu, Jing, aku tidak akan membiarkan iblis tersebut melukaimu, jadi jangan khawatir dan lancarkan saja manteramu. Yun, pasangkan Slow Barrier."
Aku memandang ke bagian terdalam gua, memejamkan mata, dan menarik napas dalam-dalam. Kemudian, aku membuka mata lalu tersenyum sedikit. Iblis rendahan, aku datang.
Sebagai awalnya, aku memancing satu iblis rendahan dan bertukar serangan dengannya dengan sangat mudah. Di saat itulah Jing mengeluarkan secarik kertas fu. Aku melirik ke belakang sekilas dan melihatnya menggambar beberapa goresan pada kertas itu dengan jarinya sebelum melemparkan kertas itu, berteriak, "Api, sejati dan terselubung tiga lapis, pergilah!"
Tak terduga, kertas itu melayang langsung menuju si iblis. Melihat hal itu, si iblis berniat untuk menghindar. Aku melancarkan serangan membabi-buta, memaksanya untuk tetap di tempatnya. Akhirnya, kertas itu mencapai si iblis dan mendadak berubah menjadi tiga lidah api putih, membungkus iblis tersebut. Dia meraung kesakitan dan bereaksi dengan menerjang ke arah Jing, tapi sayang baginya, sebuah tendangan dariku mengirimnya terjengkang ke tempatnya semula.
"Api, sejati dan terselubung tiga lapis, pergilah!" Melihat api yang ada pada si iblis hampir padam, Jing sekali lagi mengirimkan kertas fu lainnya.
Kali ini, aku menyaksikan dengan puas saat api tersebut mulai mengubah si iblis menjadi abu…
"AHHHHHH!" Yun mendadak menjerit. "Dàgē, tanduk iblisnya!"
Mendengar itu, aku dengan mulusnya memotong tanduk si iblis dan memandangi saat si iblis berubah menjadi abu. Kelihatannya aku bisa memancing mereka lebih banyak lagi, pikirku membuat keputusan.
Dengan demikian, jumlah iblisnya pun bertambah dari satu menjadi dua dan akhirnya tiga, setelah aku memutuskan jumlah sebanyak itu cukup, karena lebih banyak lagi akan membuatku kekurangan tempat untuk bertarung. Kalau seperti ini, aku akan menghadapi para iblis itu, fokus mengasah pertahananku. Meskipun pada awalnya aku memiliki banyak celah dalam pertahanan dan tidak bisa bereaksi cukup cepat, aku dengan cepat semakin ahli sampai ke titik di mana pertahananku tidak dapat ditembus. Aku menjadi semakin dan semakin terbiasa dengan metode bertarung ini, yang mana sama sekali berbeda dari gaya bertarung agresif yang kugunakan selama ini. Ini adalah latihan yang bagus untukku… tapi tetap saja, seandainya monster-monsternya lebih kuat, pikirku tidak puas.
Setelah memancing lebih dari sepuluh grup monster, aku menghela napas panjang dan berkata pelan, "Ayo istirahat."
Rasa bersalah muncul di wajah Jing. "Aku benar-benar minta maaf, Dàgē. Jing sama sekali lupa bahwa Dàgē perlu istirahat."
"Tidak masalah," kataku dan duduk, memulihkan energiku sedikit.
"Wow, kita masing-masing naik selevel, dan kita mendapat cukup tanduk iblis untuk menyelesaikan misi," kata Yun, matanya berbinar-binar.
Aku tidak begitu bersemangat menghadapi lebih banyak lagi iblis rendahan ini. Tidak ada yang kudapat dari melawan mereka, dan meskipun tujuan utamaku adalah membantu Yun dan Jing, akan menguntungkan juga bagi mereka kalau kami bertarung melawan monster yang lebih tinggi levelnya. Dengan pemikiran itu, aku bertanya, "Apa ada monster yang lebih kuat yang bisa kita hadapi?"
Mata Jing dan Yun bersinar cerah, dan Yun cepat-cepat menjawab, "Tentu saja, Dàgē. Kenapa tidak kita lawan saja gadis iblis? Tanduk gadis iblis lebih berharga daripada iblis rendahan."
"Ciri khas monster ini adalah…?" tanyaku.
Menujukan pertanyaan ini pada Yun, si gamer, adalah hal benar untuk dilakukan, karena dia dengan segera membalas penuh semangat dan percaya diri, berkata, "Gadis iblis pada dasarnya mirip dengan iblis rendahan, kecuali level mereka lebih tinggi. Kelemahan mereka adalah kepalanya, sama seperti iblis rendahan, tapi gadis iblis menggunakan cakar panjang dan tajam mereka sebagai senjata, dan mereka begerak lebih cepat daripada iblis rendahan. Akan tetapi, dengan kecepatan Dàgē, kau pasti tidak akan ada masalah begitu kau terbiasa dengan gaya serangan mereka."
Aku mengangguk. "Ayo hadapi mereka kalau begitu."
Berdiri, aku meregangkan tubuh dan berkata, "Pimpin jalannya."
Gadis iblis memiliki rambut panjang terurai, kulit hijau, dan mengenakan gaun seperti yang dipakai para wanita pada masa Cina kuno. Tangannya berujung dengan kuku-kuku yang sangat panjang, pinggirannya mengilap berbahaya. Aku melesat ke depan dan kami mulai bertarung.
Yun, si penggemar berat game, memang benar; gadis iblis ini memang lebih menantang daripada iblis rendahan. Persepsinya lumayan lebih tajam daripada iblis rendahan, membuatku kesulitan untuk menyerang titik kelemahannya, yaitu kepalanya. Terlebih lagi, dia luar biasa cepat, dan aku harus fokus untuk menghindar — dengan sangat kesulitan — pada awalnya. Hal yang tidak menguntungkan bagi makhluk itu…
Aku tersenyum. Gaya serangan gadis iblis itu terbatas pada menusuk. Aku mencari-cari kesempatan, dan ketika si gadis iblis sekali lagi menjulurkan sebelah tangannya, berpikir untuk membuat sebuah lubang pada tubuhku, aku berhenti bergerak, dan kemudian dengan ganasnya memenggal tangannya begitu dia menyentuhku. Sesosok gadis iblis yang kehilangan satu tangannya bukanlah hal yang perlu ditakutkan, jadi aku menggunakan metode yang sama untuk menyingkirkan tangan sebelahnya lagi lalu menghabisinya…walaupun aku tidak sama berhasilnya di percobaan kedua dan sebuah lubang "kecil" pun muncul di tubuhku.
Tanpa membuat suara, aku diam-diam meneguk sebotol health potion, dan kemudian kembali ke sisi rekan-rekanku seakan tidak ada yang terjadi.
Mata Yun dipenuh dengan rasa takjub. "Dàgē benar-benar kuat! Aku tahu Dàgē pasti tidak akan kesulitan dengan yang ini. Kami akan menunggumu di sini memancing para monster tersebut ke sini, Dàgē."
"Baiklah," balasku. Kelihatannya aku bisa berlatih melawan monster yang lebih kuat sekarang, pikirku, dan dengan senang pergi memancing beberapa gadis iblis itu.

"Dàgē benar-benar kuat! Hanya dalam tiga hari, Lü Jing naik lima level dan aku juga naik dua level. Melawan monster yang levelnya lebih tinggi benar-benar mempercepatnya! Apa yang akan kita hadapi berikutnya, Dàgē?" tanya Yun dengan riangnya saat dia membawa sepiring wonton minyak cabai.
Aku mengerutkan dahi, tapi tetap menerima hidangan wonton. Dalam hati aku berpikir, aku sebaiknya benar-benar mulai mencari uang dan bersiap untuk pulang, meskipun Zhuo-gēge telah menyampaikan pesan Wolf-dàgē, bahwa Infinite City berjalan baik-baik saja tanpa diriku.
Jadi aku hanya berkata, "Aku tidak bisa tinggal di sini lebih lama lagi."
Yun dan Jing terlihat panik. "Dàgē, kau akan pergi?"
"Tidak, aku harus mengumpulkan uang. Aku harus mendapatkan lima ribu koin kristal," balasku setelah menelan sepotong wonton.
"Mengumpulkan uang? Apa, Dàgē membutuhkan uang? Tapi kau tidak pernah meminta kami untuk membagi uang hadiah quest sebelumnya denganmu!" Yun berhenti mendadak sesaat, dan kemudian mengerutkan alisnya sedikit. "Kenapa kau tidak meminta kami untuk membagi hadiahnya kalau kau membutuhkan uang, Dàgē?"
Aku tetap diam. Dengan Yun memanggilku "Dàgē", "Dàgē" sepanjang waktu, mana mungkin aku bisa memintanya membagi uangnya?
"Dàgē, meksipun kami tidak punya lima ribu koin kristal, tolong terimalah ini untuk sekarang!" Jing mengeluarkan sekantung koin dan menyodorkannya padaku.
Aku menghela napas. Sudah hampir waktunya bagi mereka untuk mendapatkan equipment baru, jadi bagaimana mungkin aku bisa mengambil uang ini dari mereka sekarang? "Tidak perlu, aku akan mencari uangku sendiri."
"Tapi, Dàgē, apa kau benar-benar akan meninggalkan kami?" ekspresi Yun terlihat cemas, jelas tidak ingin berpisah. "Kami tidak tahu namamu, bahkan seperti apa rupamu. Kalau kita berpisah sekarang, kita mungkin tidak akan pernah bertemu lagi, Dàgē!"
Kita akan bertemu lagi, tapi akan butuh waktu lama sebelum Jing dan Yun berhasil mengumpulkan sepuluh ribu koin kristal dan datang ke Infinite City untuk menemukanku. Kuharap aku bisa membantu mereka mendapatkan uang untuk ongkos kapal, tapi teman-teman setimku di Odd Squad sedang menungguku! Apa tidak ada cara untuk keluar dari dilema ini?
Seakan-akan dia mengumpulkan keberaniannya untuk sesuatu, Jing berkata, "Dàgē, aku melihat sebuah misi level A beberapa waktu yang lalu. Uang hadiahnya banyak, dan tidak kelihatan terlalu sulit, kita hanya perlu mendapatkan ikat rambut raja iblis. Karena si raja iblis, iblis rendahan dan gadis iblis adalah monster yang jenisnya sama, seharusnya bukan masalah untuk Dàgē. Selain itu, sekalipun kita tidak bisa mengalahkannya, kita hanya perlu menyambar ikat rambutnya dan melarikan diri."
Itu kedengarannya usulan yang sangat bagus, pikirku. Kalau aku bisa naik kapal kembali ke Benua Utama bersama Jing dan Yun, maka setidaknya aku dapat orang untuk diajak ngobrol dan tidak perlu bosan sampai mati seperti saat aku pergi ke sini. "Baiklah kalau begitu, ayo ambil quest itu."
"Dàgē memang yang terbaik!" Yun bersorak riang.

Dengan Jing dan Yun memimpin jalan, aku sekali lagi kembali ke Gua Iblis.
"Dàgē, kita mungkin harus menghabiskan waktu sedikit untuk mencari, karena raja iblis sering berkeliaran di area yang lebih dalam di gua. Mungkin akan sulit untuk menemukan dia," Yun berkata cemas.
"Oke. Ayo mulai mencari kalau begitu."
Jing, Yun, dan aku berjalan menuju ke bagian dalam gua dan cepat-cepat menuju titik di mana kami berlatih sebelumnya. Kemudian, aku berhenti dan menghadapi beberapa iblis rendahan dan gadis iblis sebagai pemanasan untuk otot-ototku. Kami kemudian maju lebih dalam lagi ke area yang belum pernah kami datangi sebelumnya. Seperti sebelumnya, aku akan menghadapi iblis rendahan dan gadis iblis yang berpapasan dengan kami di sepanjang jalan dan membiarkan Jing dan Yun berlatih sedikit.
Setelah berjalan beberapa lama, aku memberi tanda pada Jing dan Yun untuk berhenti dan beristirahat sejenak, sekaligus memberikan persembahan untuk Kuil Lima Organ dalam…itu adalah, makan. Aku mengunyah sebuah shaobing youtiao[2] dan menghabiskan sebotol susu kedelai.
"Dàgē, kenapa kau memperlakukan kami dengan sangat baik?" tanya Yun sambil makan.
Apa kau perlu menanyakannya? Jelas karena kita sahabat! Karena aku tidak bisa mengatakannya begitu saja, aku hanya bisa menggunakan peran "kakak" dan bertanya, "Kalian memanggilku apa?"
"Dàgē…" Yun berhenti sejenak, dan kemudian tertawa terkekeh. "Dàgē benar-benar polos. Hanya karena kami memanggilmu 'Dàgē'?"
"Hanya untuk itu, bukankah menurutmu itu tidak benar-benar sepadan?" Jin menatapku dengan… Emosi yang saling berbenturan di matanya? Aku pasti salah. "Tidakkah kau khawatir bahwa membantu kami bisa saja akhirnya sia-sia, dan setelah kau membantu kami, bisa saja kami pergi begitu saja dan melupakan semuanya tentang dirimu?"
Aku hanya menjawab, "Aku tidak melakukan apa yang akan kusesali. Begitu aku memutuskan untuk melakukan sesuatu, aku tidak akan menyesalinya."
Jing dan Yun tidak berkata-kata lagi. Kenapa suasananya mendadak jadi berat? Aku bertanya-tanya. Apa aku salah mengatakan sesuatu? Ah, lupakan, aku akan makan saja youtiaou-ku.
"Ah…" Jing mendadak menjerit. Aku berbalik, terkejut, tepat waktu untuk meihat Jing menubruk dinding. Aku menangkap sosok pelakunya dari sudut mataku, dan dalam sekejap melompat maju dan mendorong Yun minggir.
Sebilah katana menusuk dadaku. Aku berputar di udara dan segera begitu aku mendarat di tanah, aku bersalto ke belakang ke sisi Jing dan Yun. Meringis kesakitan, aku mencengkeram lukaku dengan tangan kiri, darah merembes dari antara jariku. Namun, aku tidak berani mengeluarkan health potion, karena aku tahu begitu aku bergerak melakukan itu, orang yang berdiri di seberangku dengan pandangan dingin menusuk membekukan — HImura Kenshin[3] — pasti akan mengambil kesempatan itu untuk menyerang.
Itu benar! Monster di seberangku dengan kepala yang berambut merah, bekas luka berbentuk silang, dan konstum ala rurouni itu JELAS adalah battousai. Ini cukup tidak terduga, kelihatannya Nine-headed Dragon Strike yang kuplagiat akhirnya bertemu pemiliknya. Dia tidak akan menuntutku karena memplagiatnya, 'kan? Aku berkeringat dingin.
Yun membantu Jing berdiri, dan berteriak, "Dàgē, dialah raja iblisnya, hati-hati!"
Apa? Si battousai adalah raja iblis? Jangan-jangan para iblis yang kubunuh sebelumnya adalah Kaoru?
Hmm… Lupakan itu, kalau aku melanjutkan, tidak ada seorang pun yang mengerti apa yang sekarang kubicarakan. Yang terpenting sekarang adalah aku benar-benar merasa bahwa monster yang ada di depanku ini akan menjadi lawan yang amat sangat tangguh. Dari bagaimana caranya dia membuat Jing terbang tanpa membuatku merasakannya dan bagaimana dia setelah itu berhasil melukaiku meskipun aku tadi bergerak dengan kecepatan tinggi, jelas kecepatannya tidak berada di bawahku… Dan dia mungkin saja lebih cepat dari aku, pikirku dengan perasaan muram, karena kecepatan adalah aset terbesarku.
Suasananya luar biasa menegangkan, tapi tidak ada tanda-tanda bahwa si battousai[4] berniat untuk bergerak. Sebaliknya, dia berdiri di tempatnya dan kami beradu tatap sampai akhirnya dia membuka mulut dan berkata, "Elf, kenapa kau memasuki wilayahku, mengetahui bahwa Gua Iblis tidak menyambutmu?"
Perlu usaha untuk menutupi keterkejutanku. Dia ternyata tahu bahwa aku adalah seorang elf? Apakah dia adalah monster dengan kecerdasan buatan? Ini, ini pertama kalinya aku bertemu seseorang… Tunggu dulu! Seorang monster dengan kecerdasan buatan? Maka dia setidaknya adalah seorang bos monster… Aku menelan ludah. Itu tidak mungkin, 'kan?
Jika teman-teman tim Odd Squad-ku di sini, aku mungkin akan berseru lantang, "Ayo ke sini kalau begitu, monster dengan otak!" Kenyataan benar-benar kejam, walau begitu, dan aku bahkan tidak ada penyembuh, jadi kebanggaanku berubah menjadi sebuah lelucon yang bagus. Gaaah, aku benar-benar kesal! Kenapa aku begitu tidak beruntung akhir-akhir ini, sampai-sampai bahkan saat aku hanya sedang mencoba mendapatkan uang, aku akhirnya bertemu dengan seorang bos monster dengan kecerdasan buatan?
"Elf, untuk apa sebenarnya kau ke sini?" Si battousai mendadak memandangiku dengan penasaran. "Para Elf langka sekali muncul di Benua Timur; kenyataannya ini pertama kalinya aku melihat seorang elf."
Jadi karena itu dia tidak langsung membunuhku, pikirku.
Jing dan Yun akhirnya bereaksi, berseru, "Elf? Dàgē?"
"Aku datang untuk meminjam sesuatu darimu." Aku memaksakan diriku untuk mengatakannya. Bagaimanapun, kemungkinan untuk mengalahkannya dalam pertarungan dan kemungkinan untuk meminjam ikat rambutnya adalah sama…itu adalah, hampir tidak mungkin.
"Ikat rambut?" Si battousai ternyata menunjuk pada ikat rambutnya dengan seulas senyuman. "Banyak orang telah melawanku demi ikat rambut lusuh ini. Untuk apa ini sebenarnya?"
Jadi maksudmu banyak orang telah gagal? Seberapa kuat sebenarnya monster dengan kecerdasan buatan ini? Pikirku. Tangan dan kakiku rasanya seperti jeli. "Uh, seseorang memintaku untuk mendapatkannya."
"Siapa?" Akhirnya ada ekspresi serius pada wajah si battousai.
Mana kutahu? "Err, na, namanya Kaoru!" aku berbohong.
"Kaoru?" Si battousai ternyata terlihat tercengang. "Diakah? Aku mengerti."
…Beneran, nih? Apa yang sedang terjadi sekarang? Aku agak terpaku. Aku tidak mungkin seberuntung ini. Jadi quest ini tidak mengharuskan kami untuk mengalahkan monster dengan kecerdasan buatan ini? Jangan-jangan si desainer game ternyata adalah penggemar setia Rurouni Kenshin sepertiku?
"Beritahukan padaku, apa Kaoru mengatakan sesuatu?" Si battousai menatapku lekat-lekat.
Katakan apa? Quest ini ada prekuelnya? Oh sial, pikirku mati-matian. Kujawab saja sekenanya! "Dia ingin aku mengatakan padamu… katakan padamu bahwa dia akan menunggumu selamanya."
Ekspresi si battousai jadi muram. "Gadis bodoh itu," katanya dan dia melepaskan ikat rambutnya.
"Katakan padanya agar jangan menungguku, karena aku tidak bisa kembali lagi." Dengan senyum sedih di wajahnya, dia menyerahkan ikat rambut itu padaku yang terbelalak karena tidak bisa mempercayai keberuntunganku.
Aku menundukkan kepalaku dan menatap ikat rambut lusuh bernoda darah di tanganku, dan kemudian memandangi Kenshin, yang ekspresinya begitu sedih, seakan sesuatu telah hancur dalam dirinya. Ungkapan "kecerdasan buatan" menghilang dari pikiranku, dan mendadak yang kulihat hanyalah seorang pendekar pedang menyedihkan yang terperangkap dan tidak dapat bertemu kembali dengan orang yang disayanginya, yang kebetulan juga adalah karakter favoritku, Kenshin. Jadi aku bertanya, "Kenapa? Kenapa kau tidak bisa kembali? Kenapa kau tetap di sini sebagai raja iblis dan tidak kembali ke sisi Kaoru?"
Kenshin menatapku untuk waktu yang lama, kemudian akhirnya menghela napas. "Kau tidak perlu mengetahuinya. Sampaikan saja pesanku pada Kaoru."
Masih ada yang ingin kutanyakan, tapi Kenshin melompat mundur dan dengan gesit menghilang ke dinding gua.
Dengan berat hati, aku berpikir dalam hati, Dia hanyalah monster dengan kecerdasan buatan, dia hanya monster dengan kecerdasan buatan… Tetap saja, rasa bersalah ini menolak pergi, karena ikat rambut dan pesannya tidak akan pernah mencapai Kaoru, dan pelakunya adalah aku.
Saat itulah, Yun membantu Jing berdiri dan berkata, "Bagus sekali, Dàgē! Jadi seperti ini questnya seharusnya selesai. Sekarang kita bisa kembali dan mengambil hadiah kita."
"Tidak, aku ingin menemukan Kaoru," balasku, menggenggam ikat rambut itu erat-erat saat aku menetapkan tekadku. Aku tidak akan menyesalinya.
"Tapi, Dàgē…" Jing memucat.
Aku mengangkat sebelah tanganku. Tidak ada ruang untuk diskusi, karena aku tahu kalau aku tidak melakukannya, aku akan menyesalinya seumur hidupku, sementara kalau aku melakukannya, tidak peduli apa hasilnya, aku tidak akan ada penyesalan.
Jing dan Yun terdiam dan pada akhirnya, Yun berkata, "Baiklah, karena Dàgē telah memutuskan melakukan itu, kita akan mencari Kaoru bersama-sama."
Aku mengangguk dan memberikan ikat rambut itu pada Yun. Setelah itu, kami bertiga berjalan bersama dalam keheningan, dan aku tidak bisa berhenti memikirkan sikap Kenshin sebelumnya. Apakah monster dengan kecerdasan buatan memiliki perasaan? Itu mustahil, 'kan? Aku menggelengkan kepala, merasa sedikit konyol… Kalau begitu, bagaimana dengan Meatbun? Aku mengelus tas kecilku tanpa sadar saat berpikir, Apakah Meatbun memiliki perasaan? Dia memanggilku "Mama", menangis saat aku menghilang, dan terlihat senang sekali saat aku mengelusnya. Apa dia tidak punya perasaan?  Aku tidak bisa bilang kalau dia tidak punya.
"Dàgē, cepat, lihat ini, ada sesuatu di bawah sana!" seru Yun, yang sedang berlutut di depanku, di sebelah tebing.
Kebingungan, aku berjalan ke tempat Yun berada dan menatap ke bawah tebing. "Hanya gelap gulita?"
Aku merasa seseorang memegangku dan memandang ke bawah dengan bingung, hanya untuk melihat Yun memegang pergelangan kakiku. Sebelum aku bisa bertanya apa yang sedang dia lakukan, aku merasakan tenaga kuat yang mendorongku dari belakang. Dengan Yun berpegangan pada pergelangan kakiku, aku tidak bisa berbuat apapun selain condong ke depan, dengan kedua kaki di udara…. Akhirnya, saat aku mulai jatuh, aku berhasil berbalik, dan melihat bentrokan emosi dalam mata Jing dan Yun.

Yun memejamkan matanya saat bergumam, "Kenapa? Kenapa kau tidak mau mengambil hadiahnya, Dàgē? Kenapa kau harus menyerahkan ikat rambutnya padaku? Kenapa kau begitu mempercayai kami?"
"Kali ini, Dàgē pasti akan menyesalinya!" kata Jing dengan senyum perih.

Pikiranku menjadi kosong saat aku jatuh, tapi perlahan sebuah pikiran muncul di kepalaku : Tebing ini sangat tinggi, jadi aku pastinya akan mati dalam sekejap, dan tidak akan berakhir dengan terbaring sekarat di tanah.
BYAAAR!
Tubuhku yang terentang membentur permukaan air. Sial…. Ini sakit, pikirku, wajahku mengerut kesakitan. Aku meringis dan secara tak sengaja menelan beberapa teguk air sedingin es. Rasanya begitu dingin sampai-sampai aku mulai menggigil, tapi aku mengesampingkan rasa dingin itu dan mencoba berenang ke permukaan, hanya untuk menemukan mantelku yang basah kuyup memberatiku. Dengan sangat kesulitan, aku membebaskan diri dari mantel tersebut dan berjuang untuk kembali ke permukaan, tapi penglihatanku perlahan menjadi semakin kabur. Waaah, tidak disangka aku akan mengalami begitu banyak cara untuk mati saat bermain game…
Mendadak, tepat saat aku berada di ambang kematin, aku mendapi seseorang telah menyambarku di pinggang dan menarikku ke atas. Apakah Jing dan Yun datang menyelamatkanku? Begitukah?
Aku membuka mataku dengan segera dan menatap bingung pada pria yang sedang… menciumku? Setelah membeku beberapa detik, aku buru-buru mendorongnya menjauh.
"Kenshin?!" Aku terkejut meihat orang yang ada di hadapanku adalah Kenshin, yang belum lama berpisah.
"Apa kau merasa lebih baik?" Meskipun itu adalah ungkapan perhatian, suara Kenshin tanpa emosi saat dia bicara.
Aku bertanya dengan linglung, "Kau melakukan CPR padaku?"
"Ya."
Aku memiringkan kepalaku ke satu sisi dan berpikir,  Ini tidak bisa dihitung sebagai ciuman pertamaku… Tidak, tunggu. Ciuman pertamaku telah diberikan pada sepupuku, waaaaaah! Apa-apaan ini, ciuman pertamaku telah diberikan pada sepupuku, dan ciuman keduaku pada seorang NPC? Haah! Semua ciumanku mengalami petaka semacam itu….
"Kau telah dikhianati oleh rekan-rekanmu?" Kenshin bangkit berdiri.
"Sepertinya begitu," balasku dengan berat hati. Aku tidak mengira Jing dan Yun ternyata akan menyakitiku. Mereka tidak tahu siapa aku, tapi tetap saja, adalah hal yang salah menyakiti orang lain! Meskipun aku bisa mengerti keinginan mereka untuk pergi ke Benua Tengah lebih cepat…
"Kau menyesalinya kalau begitu, kau menyesal mempercayai mereka." Tatapan mata Kenshin sangat dingin.
Aku bangkit berdiri juga dan menggaruk wajahku. "Tidak, aku tidak menyesalinya. Tidak peduli apa yang terjadi, aku akan membantu mereka. Bagusnya mereka tidak tahu nama dan penampilanku. Dengan begini, saat kami bertemu, setidaknya mereka tidak akan merasa bersalah. Membiarkan orang yang dikenal sebagai "Dàgē" menghilang saja seperti ini mungkin bukanlah akhir yang buruk."
Kenshin menatap mataku, dan akhirnya menghela napas. "Aku tidak mengerti apa yang kau pikirkan."
"Hmmm, masalah ini lumayan rumit."
"Aku ingin kau menemui seseorang," kata Kenshin, jelas merasa tidak yakin akan sesuatu.
"Oh? Kenapa?" pikirku penasaran. Siapakah itu? Tidak mungkin Kaoru, 'kan?
"Ini adalah quest. Quest rahasia," kata Kenshin, melihatku dengan sedih. "Dan aku tidak bisa menentangnya."
Aku memandangi Kenshin dengan keheranan. Sudah jelas ini bukan sesuatu yang seharusnya NPC katakan, 'kan? Aku menelan ludah. Jangan-jangan… jangan-jangan dia benar-benar mengembangkan perasaannya sendiri? Aku berkata begitu saja tanpa berpikir, "Apakah kau seorang NPC atau bukan?"
"Aku adalah seorang NPC…. Kurasa begitu?" Kenshin menatapku, dan matanya menyiratkan rasa sakit dan tidak yakin.
*Sweat* Mungkin tidak lagi seperti itu keadaannya; mungkin dia benar-benar mengembangkan perasaan dan kesadaran dirinya sendiri. Aku tidak pernah melihat seorang NPC menunjukkan kesedihan dan rasa sakit seperti itu dalam ekspresi mereka. "Kau memiliki kehendakmu sendiri kalau begitu?"
Ada kesunyian sesaat, dan kemudian Kenshin membalas tanpa ekspresi, "Aku tidak tahu. Hanya saja suatu hari, saat aku menghadapi seorang player, aku mendadak merasakan sesuatu yang sangat aneh. Aku tidak tahu apa yang sedang kulakukan, tapi rasanya aku seharusnya mencari seseorang, mencari Kaoru…. Tapi dari percakapan antar player, aku sedikit demi sedikit mengerti bahwa semuanya tidak seperti yang kupikirkan. Aku adalah seorang NPC, dan memerlukan waktu yang sangat lama untuk mengerti apa yang dimaksud dengan "NPC". Sejak saat itu, aku tidak lagi tahu siapa diriku ini."
"Kau adalah Kenshin," cetusku. "Apa kau benar-benar ingin menemukan Kaoru? Mungkin kita bisa mencarinya bersama-sama?"
"Aku sudah tahu bahwa aku hanya akan menemukan makamnya. Seperti itulah yang tertulis dalam alur ceritanya. Aku tidak akan pernah bisa bertemu dengannya," balas Kenshin dengan senyum perih.
"Jadi apa yang akan terjadi kalau aku berhasil bertemu dengannya? Apa benar-benar terjadi sesuatu di antara kami? Apakah kami benar-benar hidup bersama sebelumnya? Setelah saat itu, aku ditantang untuk bertarung oleh Dewa Iblis Kegelapan dan terkurung di sini karena kekalahanku, sementara Kaoru terperangkap di Desa Salju, sehingga kami berdua tidak akan pernah bisa bertemu. Pada dasarnya, harapan terbesarku adalah bertemu Kaoru, tapi setelahnya aku perlahan sadar bahwa semuanya hanyalah kebohongan."
Sebuah kebohongan? Aku tidak pernah memikirkannya seperti itu, tidak pernah menyadari bahwa alur yang kami para manusia timpakan pada para NPC akan sekejam ini.
"Meski begitu, aku harus mengikuti sistem quest rahasia ini dan membawamu untuk bertemu dengan orang itu. Akan tetapi, kuharap… aku harap kau tidak akan melukai dia. bisakah kau melakukan itu, elf?" Kenshin melihat padaku hampir memohon.
Aku memberinya seulas senyum cerah. "Panggil aku Prince. Jangan khawatir, teman Kenshin adalah temanku."
"Jadi, siapa namanya?" tanyaku saat aku melihat-lihat ke sekitar dengan penasaran pada lorong berwarna putih bersih ini. Dari atmosfir yang Kenshin kesankan padaku, aku menduga kami akan berjalan melintasi istana naga atau tempat suci makhluk ilahi yang abadi…
"Dia awalnya bernama Lantis Ilanyushenlin, tapi dia ingin aku memanggilnya Sunshine," Kenshin membalas sambil memimpin jalan kami.
Lantis Ilanyunshenslin? Desainer game payah mana yang memikirkan nama sepayah itu? Aku bertaruh dia memilih alphabet seenaknya dan menyatukannya untuk membentuk sebuah naman. "Sunshine kedengaran jauh lebih baik. Apakah orang ini seorang laki-laki?"
"Ya, untuk sebagian besar."
Eh? Bagaimana dengan bagian lain yang tersisa?
"Kita sampai." Kenshin tiba-tiba berbalik dan aku mendadak menyadari apa yang ada di hadapanku adalah sebuah pintu putih bersih dengan sebuah batu mirah delima dipasang di tengahnya. Berapa banyak tiket kapal yang bisa dibeli dengan batu mirah ini, ya? Pikirku, diam-diam meneteskan liur dan menahan dorongan hati untuk memanjat dan mencoba melepaskannya.
"Kuharap kau tidak akan menyakitinya. Meskipun quest ini mengharuskanmu untuk bertarung melawannya, kau tidak harus menyerangnya karena Sunshine tidak lagi dikendalikan oleh quest."
"Oh, aku mengerti," balasku dengan sebuah anggukan sementara aku berpikir riang, Syukurlah aku tidak harus bertarung. Aku bahkan tidak bisa mengalahkan Kenshin, apalagi melakukan quest yang gila banget sulitnya ini. (Selain mengetahui soal Kenshin dan Kaoru serta menjawab pertanyaan Kenshin dengan benar, seseorang pastinya tidak punya hal lain yang lebih baik untuk dilakukan selain jatuh dari sebuah tebing. Kalau quest ini tidak gila, apalagi sebutannya?}
Pada titik itu, aku masih tidak menyadari sedikit pun betapa seriusnya implikasi dari seorang NPC yang tidak dikendalikan oleh parameter quest!
Kenshin mendorong terbuka pintu raksasa itu, dan sebuah cahaya keemasan lembut bersinar lewat celah pintu itu. Saat aku mengangkat sebelah tangan untuk melindungi mataku dari cahaya, aku berpikir melihat sebuah siluet di dalamnya. Aku mengikuti Kenshin masuk ke dalam ruangan itu.
"Sunshine, ini Prince, elf yang datang untuk quest rahasia," kata Kenshin, bibirnya melengkung menjadi sebuah senyuman.
"Oh? Benarkah?" Sesosok manusia, yang tadinya bermalas-malasan pada sebuah dipan, mendekatiku.
Aku perlahan mulai melihat dengan jelas sosok manusia itu dan langsung mendapatkan sebuah kejutan. Seorang dark elf?  Kulitnya segelap dark elf, tapi alih-alih rambut perak, dia memiliki rambut panjang ungu keperakan, yang dia ikat menjadi ekor kuda. Dia memiliki sepasan mata berwarna hijau giok, dan mengenakan pakaian dua potong. Pada bagian bawahnya dia mengenakan sebuah rok yang menjuntai ke lantai, dan tidak ada sepatu di kakinya, yang mana hanya dibungkus oleh potongan kain.
Aku melongo. Apa kau bercanda? Bukannya Kenshin bilang ada sangat sedikit elf di Benua Timur? Kenapa seorang dark elf jadi bagian dari quest rahasia kalau begitu? Hmmm, pikirku, dan kemudian aku melihat telinganya sama seperti manusia pada umumnya. Apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini?
"Halo, Prince. Aku Sunshine," kata Sunshine, dan kemudian membungkuk dengan anggunnya.
Aku memandanginya, mengerutkan kening, mencoba menerka apa yang dipikirkan si desainer game…. Seorang pangeran Arab? Aku tiba-tiba menyadarinya. Bukankan ini pakaian dan warna kulit orang Arab? Jadi begitu ya, desainer game mencoba memikirkan ide desain Arab. Sebuah pemahaman muncul padaku. Dia bukan seorang dark elf, dia adalah ORANG ARAB!
"Prince?" Sunshine menatapiku dengan penasaran.
Aku tersentak kembali ke dunia nyata dan dengan senang hati menyapa teman baruku. Ini kali pertamaku bertemu dengan orang Arab, meskipun dia adalah seorang NPC. "Halo, senang bertemu denganmu, Sunshine."
Ada sebuah senyum tipis di wajah Sunshine dan Kenshin, dan Sunshine mulai menanyaiku tentang dunia luar dengan penuh semangat.
Karena aku tidak terbiasa dengan Benua Timur, aku hanya bisa mengatakan pada mereka bagaimana aku tiba di Benua Timur, dan kemudian mulai menceritakan pada mereka semua tentang Benua Tengah, termasuk anggota tim Odd Squad-ku tersayang dan Infinite City yang tidak-yakin-apa-sudah-selesai.
 "Aku benar-benar ingin mengunjungi Benua Tengah," kata Sunshine dengan kening sedikit berkerut. "Aku ingin melihat dunia luar, melihat cahaya matahari yang sebenarnya."
Cahaya matahari? Aku mengerti, karena itulah kau menamai dirimu sendiri Sunshine? Karena kau sangat ingin melihat cahaya matahari yang sesungguhnya… Aku sudah memutuskan. "Kalian semua bisa ikut denganku dan menemaniku kembali ke Benua Tengah. Aku tidak akan mengungkapkan identitas kalian, dan kalian bisa berpura-pura menjadi player biasa. Tidak akan ada masalah."
"Benarkah? Kau mau membawa kami bersamamu?" Seulas senyuman merekah di wajah Sunshine.
"Yep." Aku juga tersenyum, tapi saat itulah aku mendadak terpikirkan sesuatu. "Tapi, bahkan tanpa aku, kalian bisa pergi, 'kan? Kenapa kalian tidak melakukannya?"
Kenshin tersenyum getir. "Sia-sia saja, aku sudah mencobanya. Kalau quest rahasia tidak terpicu, maka saat aku meninggalkan Gua Iblis, sistem akan secara paksa menteleportasiku kembali ke sini. Sunshine bahkan tidak bisa melangkah keluar dari istana ini."
"Kalau begitu kalian bisa pergi sekarang?"
"Tidak," balas Sunshine, alisnya mengerut, dan dia menghela napas. "Kau harus memenuhi keinginan Kenshin dulu."
Aku menoleh pada Kenshin. "Keinginanmu? Kau benar-benar punya banyak keinginan, ya."
"Itu karena sistem membuatnya seperti itu…" balas Kenshin letih. "Misi rahasinya seperti ini. Kau harus memberitahuku nama si pemberi quest — yaitu Kaoru — sebelum aku memberimu ikat rambutku. Setelah menerima ikat rambut, kau tidak boleh membawanya ke Adventure's Guild, dan sebagai gantinya, membawanya pada Kaoru, yang sakit parah. Kaoru akan memohon padamu untuk membawa aku menemuinya, dan kau akan kembali ke Gua Iblis dan memberitahuku berita itu, bahwa Kaoru hampir mati. Aku kemudian pergi denganmu untuk mencari Kaoru, tapi begitu melihat makamnya, kau kemudian akan menemaniku mencari musuhku dan membalaskan dendamku. Begitu menyelesaikan itu semua, aku akan menjadi humanoid petmu."
Jadi begitu , ya. Tapi serius, berapa banyak orang yang akan tahu bahwa itulah metode untuk mendapatkan ikat rambut tersebut? Dan setelah mendapatkannya, mereka harus merelakan hadiah yang sangat besar itu dan malah memberikan ikat rambut tersebut, yang begitu sulit didapat, pada NPC lain? Dan mereka bahkan harus setuju untuk membawa Kenshin untuk bertemu Kaoru, dan yang paling konyol di antara semuanya, mereka harus membantu seorang NPC untuk membalas dendam? Keringat dingin menetes dari dahiku saat aku dalam diam memberi hormat pada leluhur siapapun desainer game ini yang memikirkan quest gila ini. "Pantas saja tidak ada seorang pun yang menyelesaikan quest ini sebelumnya."
"Ya, dan quest Sunshine bahkan lebih sulit," Kenshin meneruskan tanpa emosi. "Setelah mendapatkan aku, kau harus jatuh dari tebing ini. Aku akan menolongmu dan membawamu untuk bertemu Sunshine, yang mana, saat ditanya, kau harus mengatakan nama lengkap Sunshine atau dia akan menyerang dan membunuhmu. Bila sudah begitu, kau tidak akan pernah bisa mencoba quest ini lagi."
"Lantis Ilanyunshenlin? Bahkan sekalipun aku terus menebak-nebaknya sampai hari kiamat datang, aku tidak akan pernah bisa memikirkan nama itu," kataku lemah.
"Kau harus menyelesaikan quest lainnya, hanya dengan begitulah kau akan mendapati namaku secara kebetulan. Kurasa itu terukir pada sebuah lempengan batu berisi ramalan, di gunung tertinggi di dunia, Puncak Azure." Ada sebuah kilatan pada mata Sunshine, dan ada nada tidak puas dalam suaranya saat dia lanjut bicara, "Tapi aku tidak suka nama itu."
"Apakah quest ini tidak dimaksudkan untuk diselesaikan? Maksudku, coba ada berapa banyak kebetulan yang kau perlukan untuk menyelesaikannya?" Aku benar-benar curiga kalau bukan karena Kenshin dan Sunshine telah mengembangkan kesadaran diri mereka sendiri, sampai hari Second Life ditutup pun, tidak ada seorang pun yang bisa menyelesaikan quest ini.
Kenshin meringis sedikit. "Kurasa mereka tidak berniat siapapun menyelesaikan ini. Sampai sekarang, tidak satu player pun yang berhasil mengalahkanku. Kalau aku sampai menjadi humanoid pet seseorang, aku pastinya sangat bernilai."
I-itu ada benarnya, pikirku, menelan ludah. Kalau aku punya Kenshin, tidak ada yang perlu kutakutkan. Bahkan Lolidragon tidak akan bisa menjahiliku lagi. "Bagaimana denganmu, Sunshine? Apakah kau akan menjadi humanoid pet juga?"
Sunshine terus tersenyum menawan. "Ya, benar. Setelah kau menyelesaikan questnya, aku akan dapat meninggalkan tempat ini."
"Yaaaaay! Aku tidak hanya mendapatkan dua teman, tapi teman yang super kuat!" Aku langsung melompat-lompat mengelilingi ruangan dengan gembira.
"Teman?" Kenshin dan Sunshine menyengir. Mereka telah memilih orang yang tepat ternyata.
"Walau begitu, kau harus menyelesaikan semua quest, atau kau akan memicu kecurigaan sistem," Kenshin menyela kegiranganku.
"Jangan khawatir. Dengan ada dirimu, mana mungkin aku gagal menyelesaikan quest?" balasku, tanpa sedikit pun rasa takut.
Kenshin mengambil kendali diskusi dan lanjut menjelaskan apa yang harus kami lakukan. "Kalau begitu, ayo cari makam Kaoru terlebih dulu. Seharusnya ada di Desa Salju, yang mana ada di area paling utara. Kita akan mencari Dewa Iblis Kegelapan setelah itu untuk membalaskan dendamku, dan kemudian menerima quest peramal dan mencari tiga peramal yang tersebar di seluruh negeri. Setiap peramal akan memberikan kita potongan peta. Setelah menyatukan semuanya, kita akan pergi ke gunung tertinggi di dunia, Puncak Azure, dan mendapatkan Batu Ramalan, kemudian menyerahkan batu tersebut pada para peramal. Mereka akan memberikanmu ramalan ini: Sang iblis menunggu kekasihnya, kekasihnya itu juga menunggu dalam kesakitan. Hanya di tempat terdalam dan tersunyi harapan dapat ditemukan."
"Ramalan aneh macam apa itu…" Aku penasaran, Siapapun yang mendapatkan ramalan itu mungkin akan muntah darah, 'kan? Setelah mendaki gunung yang tinggi dengan begitu kesulitan, hanya mendapatkan sebuah ramalan aneh….
Sunshine menjelaskan, "Itu pada dasarnya memberi petunjuk bahwa kau pertama-tama harus memenuhi harapan si raja iblis — harapan Kenshin — dan kemudian melompat dari sebuah tebing, hanya dengan cara itu kau bisa bertemu denganku."
Kalau seseorang ternyata bisa menebak hal itu, dia sebaiknya pergi dan membeli tiket lotere. Dia pasti akan memenangkan hadiah utama! Pikirku, dan ujung mulutku berkedut.
"Baiklah, kedengarannya tidak sesulit itu. Aku akan membawa Kenshin untuk mencari Kaoru. Tunggulah kabar baiknya, Sunshine!" Aku menenangkan Sunshine dengan percaya diri, berpikir, Dengan adanya Kenshin, apa yang menakutkan dari Dewa Iblis Kegelapan? Yang harus kulakukan hanyalah mencari beberapa orang, mendaki sebuah gunung, dan kemudian aku akan mendapatkan Kenshin dan Sunshine sebagai rekanku. Dengan hasil sebesar ini, aku akan jadi orang bodoh tidak melakukannya.
"Baik. Aku akan menunggu kepulangan kalian," Sunshine membalas, menatapku dengan penuh percaya.
Tekadku untuk bertarung kini membara, aku menyambar Kenshin dan berkata, "Ayo, Kenshin. Ayo selesaikan quest ini secepatnya, kemudian kita bisa kembali dan menjemput Sunshine, lalu kembali ke Benua Utama."
Aku melambai selamat tinggal pada Sunshine dan kemudian pergi melewati pintu putih luar biasa besar itu, menarik Kenshin di belakangku.
"Semoga beruntung, Prince. Semoga Allah memberkatimu," kata Sunshine saat kami pergi.
Masih menarik Kenshin bersamaku, kami kembali ke Gua Iblis. Bersama Kenshin, rasanya menyejukkan pergi keluar. Aku menatap langit, yang tidak kulihat untuk beberapa lama, dan meregangkan kaki tanganku dengan nyaman. Saat aku selesai meregangkan tubuh, aku menemukan Kenshin sedang memperhatikan sekelilingnya dengan ekspresi bingung. Aku mau tidak mau menyengir, karena langka sekali melihatnya terlihat kebingungan seperti itu, dan Kenshin segera menenangkan dirinya sendiri, meskipun dia masih terlihat sedikit malu.
Aku tiba-tiba teringat sesuatu. "Ngomong-ngomong, kau mungkin sebaiknya tidak berjalan-jalan dengan berpakaian seperti itu, karena banyak orang yang mungkin menyadari bahwa kau terlihat sangat mirip dengan battousai!" Walaupun tidak semua orang suka membaca komik kuno seperti aku, hmmm….kecuali di desainer game yang bosan itu.
"Begitukah? Bukannya tidak masalah kalau kau katakan saja pada mereka bahwa aku adalah pet-mu?" balas Kenshin, tidak peduli.
Aku memandanginya tidak senang. "Tapi kau bukan pet-ku. Kau adalah temanku."
Kenshin membalas pandanganku. Meskipun wajahnya masih tanpa ekspresi, aku bisa melihat rasa senang dalam matanya. "Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan?"
"Tunggu," kataku. Aku menyambar kantungku dan mulai mencari-cari di dalamnya. Akhirnya, aku menarik keluar equipment pemulaku, yang mana kusimpan sebagai kenang-kenangan. Syukurlah aku tidak menjual ini, pikirku. "Pakailah ini! Dan gerai rambutmu, dengan begitu kau tidak akan terlalu mirip battousai."
Kenshin mengambil baju tersebut dariku dan mulai melepaskan baju ruroni-nya di sini dan di sana… Uhh, haruskah aku membalikkan badan? Pandanganku mengarah ke atas. Aku sesekali melirik penasaran, tapi… Sumpah, selain bahunya yang tidak terlalu lebar, lengannya yang kurus, perut six-pack, dan dua kakinya yang ramping, aku sama sekali tidak melihat apapun!
Saat aku melihat dia sudah selesai berganti baju… Maksudku, setelah Kenshin memberitahuku bahwa dia sudah selesai berganti baju, aku merobek sepotong kain dari baju lamanya dan kemudian mengikatkannya pada dahinya seperti sebuah ikat kepala.
Bagus sekali, pikirku saat memandanginya dengan puas. Setelah memakai baju pemula itu, dia terlihat seperti seorang remaja. Dengan begini, dia tidak ada bedanya dari player lain. Malahan, dia terlihat seperti player baru.
"Boleh aku tetap memanggilmu Kenshin? Kurasa itu tidak akan jadi masalah."
"Mm."
"Ayo pergi kalau begitu. Kita tidak mau membuat Sunshine terus menunggu lama." Jadi, ayo pergi menemukan makam Kaoru. Tentu saja, aku tidak lupa untuk memakai topeng operaku.
"Ngomong-ngomong, kedengarannya Desa Salju adalah tempat yang dingin. Benar tidak?" tanyaku cemas.
"Aku tidak tahu. Tidak pernah ke sana," Kenshin menjawab singkat.
"Apa kau takut hawa dingin?" aku penasaran.
"Entahlah. Mungkin tidak," balas Kenshin, mengangkat sebelah alisnya, seakan dia tidak berpikir bahwa dia bisa takut dengan hawa dingin.
[½ Prince Jilid 3 Bab 5 End]
  

[1] Quest level B: Adventurer's Guild menyediakan berbagai quest untuk diselesaikan para player. Hadiahnya beragam antara satu quest dengan quest lainnya, tergantung tingkat kesulitannya. Dari yang tertinggi hingga yang terendah, tingkat kesulitannya adalah : X, S, A, B, C, D, E, F, dan G
[2] Shaobing youtiao : Shaobing youtiao adalah kombinasi dua camilan atau sarapan populer orang Tiongkok. Shaobing adalah roti pipih panggang, sering dihiasi dengan wijen, dan bisa diisi dengan bermacam isian (atau tidak sama sekali). Youtiao, seperti yang disebutkan dalam Jilid 1 Bab 4, adalah penganan goreng yang sangat empuk di bagian dalamnya yang kita kenal dengan nama "cakue/cakwe". Jadi, pada dasarnya shaobing youtiao adalah roti pipih dengan cakwe di dalamnya. (https://www.123rf.com/photo_104494422_shaobing-youtiao-chinese-cruller-in-layered-flatbread-taiwanese-food.html)
[3] Himura Kenshin : Pemeran utama dari manga Rurouni Kenshin.
[4] Battousai : Menurut Wikipedia, ini adalah julukan yang diberikan pada Kenshin dalam manga Rurouni Kenshin sebagai pengakuan atas kemampuannya menjadi praktisi Hiten Mitsurugi-Ryuu, yang menggunakan tekhnik battoujutsu (teknik menarik pedang) dengan kecepatan luar biasa. Julukan ini secara literal berarti "ahli menarik-pedang"