GOBLIN SLAYER DI KOTA AIR
(Translater : Zerard ; Typo-checker : Hamdi)

Kota air adalah sebuah kota tua berjarak dua hari mengarah timur dari perbatasan melewati sebuah dataran, sebuah benteng berdinding putih besar yang duduk di tengah-tengah pertemuan banyak sungai, di bawah sebuah kanopi pepohonan yang sangat hijau seakan-akan hitam.
Para pengujung datang dari jauh ke kota ini, sebuah benteng yang di bangun dari masa para dewa. Kota ini di penuhi oleh berbagai macam perahu yang datang dan pergi, pedagang dengan dagangannya, berbagai macam bahasa, buruk dan indah. Terletak di bagian barat ujung pusat, dan bagian timur ujung perbatasan, kota air ini bisa di bilang sebagai kota terbesar.
Sebuah kereta kuda berbunyi dan berjalan di atas sebuah jembatan, melewati sebuah gerbang kastil di tengah-tengah sebuah danau.
Terdapat sebuah ukiran lambang dewa hukum: sebuah pedang dan timbangan, sebuah simbol hukum dan keadilan. Bahkan di perbatasan, di mana para monster dan penjahat berkeliaran, cahaya hukum bersinar dengan terangnya. Masyarakat dapat hidup dengan damai dan tentram.
Kereta kuda berjalan di atas sebuah jejak roda yang telah terukir di atas batu ubin besar selama ratusan atau bahkan ribuan tahun yang lalu. Tidak lama kemudian, kereta kuda berhenti di sebuah area parkir yang besar, dan para petualang melompat keluar satu persatu.
“Ahhh.... pantatku kram!”
High elf archer meregangkan tubuhnya untuk meringankan rasa lelah perjalanan jauh menahan goyangan di dalam kereta kuda.
Matahari berada tinggi di langit dan sebentar lagi akan sampai pada puncaknya. Tengah hari.
Di sekeliling mereka adalah toko-toko untuk para pengunjung, dan aroma makanan dan minuman yang tercium di udara: aroma daging yang terbakar dan lemak yang mendesis. Aroma gula yang tercium dari manisan yang di panggang. Kota ini memiliki segalanya, dari makanan yang bisa di temukan di manapun hingga makanan asing yang akan mengejutkan para pengujung.
Para vendor juga sama.
Disini, seorang Dwarf merchant (TL Note : pedagang) tertawa terbahak-bahak; di sana, seorang elf sedang berusaha menarik perhatian para pelanggan. Seorang rhea penjual buah berlari, menjual apel secepat dia bisa bergerak. Manusia saling memanggil satu sama lain.
Sedikit lebih jauh, seorang lizardman sedang melakukan khotbah . Dan apa itu seorang Dark elf yang sedang menjaga toko?
“Oh-ho! Sepertinya tempat yang menyenangkan.” Dwarf shaman berkata dengan endusan hidungnya, berusaha menghirup semuanya. Dia menepuk perutnya yang gemuk “Dada sedatar papan, dan pantat sama datarnya seimbang sekali, waktu memang membuat usang semua hal!”
“...Sepertinya waktu juga membuatmu usang.”
“Ho-ho-ho tapi aku bangga menjadi dwarf!”
High elf archer melotot kepada dwarf seketika dia tertawa terbahak-bahak dengan suara lantang biasanya.
Priestess, seorang korban yang tidak di maksudkan oleh komentar dwarf, menggapai pantatnya berusaha menutupi dengan canggung bagian belakangnya yang masih belum tumbuh dengan tangannya.
“Ng-ngomong-ngomong, bukannya kita harus bertemu dengan pemberi quest kita?”
“Ya.”
Priestess telah belajar banyak dari mentornya Goblin slayer. Master dari pergantian topik pembicaraan dengan paksa.
Goblin slayer sepertinya tidak menyadari akan hal ini, karena dia mengeluarkan sebuah kertas dari kulit domba yang kini telah lecek dari tasnya. Kertas itu menjadi lecek dari cara kasarnya memasukkannya ke dalam tas, tapi sepertinya dia tidak menyadari akan itu juga.
“Sepertinya kita akan menemukan mereka di kuil hukum.”
“Kalau begitu, lewat sini!”
High elf archer mengutarakan kalimatnya dengan cepat, dan melanjutkannya dengan lambaian tangannya yang riang gembira pada arah kuil hukum.
“Kamu tau jalannya?”
“Aku sudah pernah kesini sebelumnya.”
Kemudian, dia tersenyum dengan lebar dan berjalan dengan langkah riang
Kota ini, sebenarnya, adalah kota di mana dia mendengar lagu tentang Orcbolg—Goblin slayer.
Dia menggoyangkan pinggulnya seraya berjalan di jalanan yang dia ketahui sedangkan yang lainnya tidak. Empat rekannya mengikuti dari belakang.
Jalanan itu terbuat dari batu ubin, yang sering di lewati oleh kereta kuda, dan sungai yang mengalir ke seluruh penjuru kota, di arungi oleh perahu. Kota ini sangatlah tempat yang luar biasa, tidak hanya di karenakan mereka menggunakan bangunan tua dengan hampir tidak ada yang dirubah.
Terdapat bangunan, tentu saja: toko, penginapan, bahkan apartemen kecil, semua di dekorasi dengan ukiran yang cantik. Jalanan seperti sebuah acara busana berjalan, dengan orang-orang yang mengenakan gaya berbusana terbaru baik dari perbatasan dan maupun pusat. Kota air ini adalah sebuah contoh dari kota kosmopolitan.
“Tapi, um, yah... apa kamu benar-benar berpikir ada goblin di sini?”
Priestess memandang kebawah seraya dia berjalan, seakan-akan jubah lamanya membuatnya malu di bandingkan dengan gaun yang di kenakan gadis-gadis yang berlalu lalang. Gaun itu sangatlah indah dan sangat kewanitaan. Tidak seperti miliknya, yang di pakai hari demi hari berpetualang.
Dia seharusnya malu karena sudah minder.
“Aku pikir begitu.”
Jawaban singkatnya tidak menunjukkan apakah dia sadar akan rasa tidak nyaman yang di rasakan Priestess atau tidak. Walaupun begitu, Priestess bersyukur padanya, dia tidak pernah teralihkan perhatiannya.
“Oh-ho, hmmm?” Lizard priest menyentuh hidungnya dengan lidahnya menunjukkan ketertarikkannya. “Dan tuanku Goblin slayer, apa yang membuat anda berpikir demikian?”
“Tempat ini memiliki hawa udara sebuah desa yang sedang di incar oleh goblin.”
“Hawa udara....?”
Dwarf shaman memberikan dengusan penuh ragu dari hidung bulatnya. Satu-satunya yang dia bisa rasakan dari hawa udara adalah aroma air, batu, dan makanan pada toko terdekat. Tidak ada aroma busuk yang unik seperti di dalam sarang goblin.
“Aku nggak paham.”
“Itu karena dwarf begitu gendut.”
“Kayak kamu lebih memahaminya saja.”
High elf archer tersenyum mengejek pada Dwarf shaman seraya dia berdiri dengan tangan di lipat dan kepala mendongak.
High elf archer sepertinya tidak terlalu mempedulikan ketika Dwarf shaman melototinya dengan tatapannya yang tajam. Dia hanya melambaikan tangannya.
“Elf hidup di hutan, mana aku tau apapun tentang aroma kota.”
Pada saat Dwarf shaman ingin membalas, tiba-tiba dia di hentikkan.
Dari belakang High elf archer, Lizard priest mengeluarkan desisan tajam.
“Pusat kota bukanlah tempat untuk kalian bertengkar.”
“Aku tau itu. Untuk seseorang yang bersisik sepertimu, kamu benar-benar serius sekali.”
“Kamu cuma lembek dwarf.” Elf berkata.
Lizard priest menjentikkan lidahnya, dan kali ini mereka berdua terdiam, Priestess tertawa kecil melihat ini.
Sang elf dan sang dwarf tidak berniat untuk berdebat lagi. Mereka berjalan perlahan melewati air kota yang berkilau, melihat-lihat. Adalah hal yang normal untuk melihat mereka yang dapat berbahasa namun bukan manusia, dan juga beberapa petualang lain.
Hanya Goblin slayer yang selalu waspada akan sekelilingnya.
“Aku benar-benar nggak tau tentang aroma atau apapun itu, tapi aku benar-benar merasa kalau goblin nggak akan menyerang kita di kota ini.” High elf archer berkata dengan desahan sedikit jengkel.
“Belum tentu.” Respon Goblin slayer tajam. “Aku mengingatnya itu pernah terjadi sekali.”
Walaupun dia tidak mengeluarkan senjatanya, dia bergerak dengan cara yang sama ketika dia berada di dalam gua, dengan sigap dan hebatnya hampir tidak bersuara,
Hanya dia satu-satunya yang mendapat tatapan aneh dari orang sekitar: seorang petualang dengan armor kulit kotor dan helm murahan, berjalan di kota seakan-akan dia berada di dalam dungeon.
Mungkin beberapa dari mereka mengira bahwa dia seseorang pemain atraksi yang baru; yang apa boleh buat dia lakukan. Dan jika High elf archer menutup wajahnya karena malu, maka dia tidak bisa berbuat banyak juga.
Walaupun dengan semua ini, dia tidak terlihat akan mengubah caranya.
“Dan di manakah kuil ini berada?” Ekor Lizard priest berayun perlahan di belakangnya.
“Tuh, kamu sudah bisa melihatnya, di sebelah sana.”
High elf archer menunjuk dengan jari langsingnya kepada sebuah bangunan di seberang sungai. Sebuah kuil mengagumkan yang terbuat dari marmer putih, memiliki tiang yang tak terhitung. Bahkan mereka yang melihatnya untuk pertama kali akan langsung mengerti bahwa itu adalah sebuah kuil.
Kuil cahaya dan ketertiban, terhias dengan timbangan dan pedang yang melambangkan hukum dan keadilan.
“Wow....” Priestess menahan nafasnya pada saat melihatnya. Kuil Ibunda bumi tempat dia tumbuh bukanlah bangunan yang jelek, tetapi....
....Tempat ini seakan-akan meneriakkan bahwa ini adalah rumah sang dewa.
Wajahnya menjadi santai oleh kebahagiaan, pipinya memerah dengan semangat, dan melihat kebelakang.
“Pak Goblin slayer! itu mengagumkan sekali!”
“Benarkah?”
Dia tidak bisa menjawab dengan jawaban yang lebih singkat lagi.
Mungkin mereka hanya memiliki cara yang berbeda dalam memandang sesuatu. Sudah sangat jelas bagi rekan-rekannya bahwa dia sedang menilai kuil itu sebagai kemungkinan tempat goblin bersarang.
“Ya ampun....!”
Priestess menggembungkan pipinya, walaupun dia mengetahui bahwa itu kekanak-kanakkan.
Kalau di pikir-pikir lagi...
Dia menyadari bahwa dia melupakan hal yang paling penting.
“Um, pak Goblin slayer?”
“Apa?”
“Apa pemberi questnya seorang priest dari Supreme God?”
“Nggak.”
Dia menjawab seakan-akan itu tidak ada arti baginya, kemudian berkata.
“Dia seorang Archbishop.”
Mendengar itu, antusiasme Priestess sirna.
“Apaaaaaa?!”
Priestess tidak pernah menyangka bahwa pemberi questnya adalah dia.
Priestess mengenggam tongkatnya dengan kedua tangannya mengeluarkan teriakan tdak sengaja. Orang yang bertanggung jawab atas hukum di seluruh perbatasan bagian barat. Tidak, lebih dari itu, karena dia di kenal sebagai....
....Sword maiden.
                                                                                *****
Terdapat banyak pengunjung di kuil hukum.
Sebagian, tidak hanya jamaah Supreme God yang datang untuk berdoa disana.
Bangunan ini juga merupakan pengadilan, dimana hukuman di jatuhkan atas nama dewa. Kasusnya di mulai dari hal-hal pertengkaran sederhana sehari-hari hingga urusan hidup dan mati.
Tidak pernah ada habisnya mereka yang datang mengharapkan agar masalah mereka di dengar oleh dewa cahaya yang penuh ampunan.
Masuk lebih ke dalam, mereka melewati ruang tunggu penuh akan orang-orang seperti itu.
Melewati ruang sidang di mana sebuah kasus mereka dengar, melewati lorong sempit dengan rak buku menuju bagian paling dalam, sunyi dan terhias oleh barisan tiang marmer
Di bagian paling dalam kuil adalah aula doa di mana Sebuah gambar Supreme God dalam bentuk matahari yang di hormati
Ini seperti sesuatu dalam mitos.
Cahaya matahari yang menyinari dari sela-sela tiang dengan gorden emas. Tidak dapat terdengar suara lain dari luar tempat ini; keheningan yang mutlak. Tempat ini adalah tempat yang suci.
Dan di sebuah altar berlutut seorang wanita, tongkat panjang di tangannya, berdoa.
Dia mengenakan gaun putih di atas sosok tubuhnya yang tegap. Rambut emasnya berkilau terpantul cahaya matahari. Tongkatnya, yang merupakan sebuah pedang yang pada gagangnya tergantung sebuah timbangan menunjukkan kesetaraan antara keadilan dan hukum.
Dia begitu anggun, seseorang dapat salah sangka bila berpikir jika Supreme God terlahir sebagai wanita, maka Sword maiden lah orangnya.
Sayangnya, matanya tersembunyi oleh kain hitam. Walaupun itu tidak mengurangi kecantikkannya; pakaiannya bahkan membuat dia semakin menawan.
“—?”
Tiba-tiba, dia mengangkat kepalanya.
Keheningan suci telah di pecahkan oleh sebuah langkah sigap seseorang.
“P-pak Goblin slayer! Tolong jangan terlalu berisik....”
“Ini pekerjaan darurat. Jika mereka nggak mempermasalahkan kita masuk, nggak ada alasan untuk menunggu.”
“Kamu memang tipe yang nggak sabaran, Orcbolg.”
“Semua orang nggak sabaran di mata elf!”
“Keributan ini sungguh tidak pantas. Apakah itu dewa asing atau tidak, kita sedang berada di rumah dewa.”
Berisik, bersemangat, kasar, kuat. Bagi dia ini sangatlah nostalgic.
“_________”
Ujung dari mulutnya secara samar melembut, dan lengan baju dari pakaiannya bergerak layaknya ombak di lautan.
Dia—Archbishop Supreme God, Sword maiden—secara perlahan berdiri.
“Oh, siapakah kalian....”
“Kami datang untuk membasmi goblin.” Goblin slayer menjawab tanpa sopan santun, dengan nada yang jelas dan terdengar seperti sebuah senyuman kecil.
Sikapnya terlihat angkuh, namun dia tidak terdengar kurang ajar. Ini benar-benar seperti cara para petualang berbicara.
Priestess berdiri di sampingnya, gelisah, mencari cara bagaimana cara dia untuk menyalaminya.
Ini Sword maiden disini!
Sang Archbishop kekasih Supreme God.
Petualang tingkat Gold, yang sepuluh tahun lalu, telah mengalahkan Demon lord.
Bukan seorang pahlawan legenda, tapi seseorang yang unik yang muncul dari umat manusia.
Dia berbeda jauh dengan Priestess, yang baru saja di promosikan menjadi Obsidian. Perbedaan antara mereka bagaikan pertarungan antara goblin dan naga.
Ketika dia masih seorang Acolyte, Priestess tidak pernah membayangkan bisa berada di tempat yang mengagumkan ini sama sekali.
“Aku, um, anu, suatu....suatu kehormatan bisa bertemu dengan anda.” Priestess berkata dengan suara yang gugup, menundukkan kepala memberi hormat. Matanya bersinar dan pipinya memerah.
“Seorang warrior terhormat dan.... seorang priestess terhormat yang manis.”
Dari balik kain yang menutup matanya, sebuah tatapan yang lembut membelai pipi Priestess dan kemudian menghilang, atau paling tidak itulah yang dia rasakan.
Dia dapat mendengar jantungnya berdegup dengan kencang pada dada kecilnya. Dia berharap semoga degupannya tidak terdengar oleh yang lain.
“Dan siapakah tokoh mulia ini....?”
“Mm. Rekan mereka—anggota party mereka.” Lizard priest menjawab ketika tatapan Sword maiden jatuh kepadanya. “Saya mungkin terlihat seperti naga yang menyeramkan, namun percayalah, bahwa saya akan memberikan dukungan penuh” Gerakan telapak tangannya sangat khidmat
Tentu saja, gerakan telapak tangannya berbeda dari pendeta Supreme God menunjukkan hormat satu sama lain. Namun bukan itulah poinnya. Yang terpenting adalah bahwa dia menunjukkan keinginannya untuk memberikan hormat pada yang lain.
Semuanya di mulai dari titik ini. Dengan senyum yang tidak bergeming, Sword maiden menggambar sebuah salib di udara dengan jarinya.
“Selamat datang di kuil hukum. Sebuah kehormatan untuk menyambutmu, O priest bersisik.”
High elf archer dan Dwarf shaman, terlihat sedikit tertarik dengan apa yang sedang terjadi.
Mereka memberikan salam kecil dari belakang Lizard priest, namun mereka berdua saling berbisik satu sama lain seraya menundukkan kepala.
“Hmm. Boleh juga hasil pekerjaan manusia.” Kata sang dwarf.
“Yeah. Gambar yang cantik sekali.” Kata sang Elf.
Rasa kagum mereka sepertinya terfokus pada langit-langit tinggi di atas kepala mereka.
Terdapat di sana, lukisan kaya akan gambaran-gambaran peperangan masa para dewa.
Mereka pernah melihat lukisan di gua sebelumnya, di gambar dengan darah pada dinding reruntuhan, namun ini adalah sesuatu yang sangat berbeda.
Ketertiban dan kekacauan, ilusi dan kejujuran, para dewa saling mengamuk satu sama lain dengan tubuh dan semangat dan jiwa.
Berlatar lautan bintang, keajaiban dan magic berputar-putar, terbang kesana kemari, bersinar, terbakar, dan akhirnya para dewa menggapai sebuah dadu dan mulai menyibukkan diri dengan melemparnya.
Papan permainan mereka tidak lain dan tidak bukan adalah dunia ini, dan bidak permainan mereka adalah semua orang yang ada di dalamnya.
Oleh karena itu, mereka yang dapat berbahasa, mereka yang berdoa, berusaha hidup dengan benar.
Mereka berdua, yang merupakan kerabat dekat dari roh-roh yang mengisi dunia, tidaklah seperti para dewa. Walaupun elf dan dwarf menghormati para dewa, namun, mereka tidak semerta-merta memuja para dewa. Kurang lebih para dewa “bersama” mereka; mereka akan mendengarkan nasehat para dewa, namun mereka bukanlah budak dewa. Inilah mengapa keberadaan elf priest sangatlah sedikit—walaupun para dwarf masih memuja dewa penempa mereka.
“Ho-ho. Kalian semua....benar-benar seperti petualang.”
Seorang warrior eksentrik. Seorang priestess yang murni. Seorang priestess yang asing. Seorang dwarf pengguna magic. Dan seorang elf ranger.
Sang archbishop memberikan senyum yang aneh kepada mereka berlima.
....?
Priestess berpikir bahwa senyum itu memancarkan kesepian dan kerinduan
“Dan jika begitu, maka kita semua sama. Aku menyambut kalian dengan sepenuh hati.”
Hanya terjadi sekejap.
Sword maiden membuat gerakan melebarkan kedua lengannya seakan-akan ingin untuk memeluk para petualang. Gerakan itu menggambarkan seorang ibu yang penuh kasih sayang tapi di saat yang sama seperti seorang wanita jalang memancing seseorang menuju kamarnya.
Pria manusia biasa akan menelan liurnya melihat ini.
Namun, Goblin slayer, menghiraukan semua ini. “Cukup saling memujinya. Katakan secara detail questnya.” Dia tidak menyadari ekspresi tertegun yang terlukis di wajah Priestess.
“Tu-tunggu sebentar Pak Goblin slayer...”
Ini sudah keterlaluan.
Priestess memegang sarung tangan Goblin slayer dan menariknya.
“Kamu nggak boleh berbicara seperti itu pada sang archbishop...”
“Aku nggak peduli.”
Sword maiden menggelengkan kepalanya perlahan.
“Suatu kebahagiaan bagi saya bahwa seorang petualang tangguh telah mendatangiku.”
“Benarkah?”
“Bolehkah saya bertanya, berdasarkan rasa penasaran pribadi,” dia bergumam, “Jika salah satu dari keluargamu bergabung dengan kekacauan, dapatkah kamu membunuhnya?”
“Nggak.” Goblin slayer menjawab terus terang. “Aku nggak punya saudara yang hidup.”
“Apa itu benar....?”
Goblin slayer memperhatikan bibir merah itu dari dalam helmnya seraya bibir itu berbisik.
“Jadi. Dimana Goblinnya?”
Di belakangnya, para petualang menghela nafas mereka.
                                                                            *****
“Ini mulai terjadi sekitar satu bulan yang lalu.”
Sword maiden memberi isyarat kepada yang lain untuk duduk di lantai, kemudian dia sendiri duduk dengan berlutut, telihat putus asa.
“Suatu hari tengah malam, saya mengirim seorang gadis acolyte untuk mengirimkan pesan dari kuil ini...”
“Apa dia di bunuh? Atau di culik?” Tanya Goblin slayer.
“.....Dia tidak kembali malam itu. Hari berikutnya, tubuhnya di ketemukan di sebuah gang.” Ekspresi sedih tergambar di seluruh wajahnya.
“Hmmm.” Goblin slayer menyentuh dagunya dengan tangannya, berpikir.
“Berdasarkan orang yang menemukannya, gadis itu terlihat seperti telah dipotong-potong selagi gadis itu masih hidup.”
Kalimat yang di ucapkan Sword maiden sangatlah tenang tanpa sedikitpun keraguan. Tapi di balik ucapan itu terdapat sedikit getaran.
Apakah terror? Intimidasi? Ataukah rasa sakit yang mendalam, kesedihan. Priestess tidak yakin.
“Itu... itu mengerikan sekali.” Priestess berkata.
“Kenyataan pembunuhan itu memang sangat menyedihkan, walaupun hal itu terjadi dari waktu ke waktu....”
“Selagi masih hidup...” Goblin slayer bergumam perlahan. “Di lokasi itu?”
“....Ya.”
“Apa ada bagian tubuhnya yang di makan? Atau dia hanya sekedar di bunuh? Kamu punya detil yang lain...?”
“Ayolah Orcbolg. Kamu nggak peka sekali.” High elf archer berkata, mengerucutkan bibirnya dengan bermuka masam. High elf archer menyadari ekspresi Sword maiden yang muram.
Goblin slayer terdiam dalam waktu cukup lama, kemudian berkata. “Tolong lanjutkan.”
“Itu benar-benar kejadian yang mengerikan.”
Ya, mengerikan.
Kuil hukum berada di sini, untuk menjaga ketertiban, tapi ini masihlah wilayah perbatasan. Tidak lama sebelumnya ini merupakan tempat tanpa hukum, rumah bagi para monster dan bandit. Dan sekarangpun masih banyak terdapat kejahatan yang terjadi.
Walaupun cahaya Supreme God bersinar dengan terangnya, namun itu masihlah belum cukup untuk menerangi hati manusia yang tersesat.
“Hukum dan ketertiban.... konon mereka telah di lemahkan secara perlahan oleh perebutan dunia ini.” Sword maiden melanjutkan, dengan berbisik, “Walaupun kejahatan belum berhasil menguasai dunia, akan tetapi kejahatan juga tidaklah musnah,” dan menggabungkam tangannya, mempersembahkan doa kepada dewa yang dia sembah.
Menunggu dia untuk menyelesaikannya, Lizard priest menjulurkan lehernya seakan-akan memperhatikan dengan seksama.
“Jadi, bisa di katakan bahwa investigasi anda tidak membuahkan hasil?”
“....Ya. Saya malu mengakuinya, tapi itu benar....”
Kemungkinan agen kekacauan terlibat dengan ini atau pengikut dari sang Dark God? Atau sesuatu yang lain?
Berdasarkan hipotesis dan dugaan, para penjaga kota dengan segera melakukan investigasi. Untuk sebuah kota yang jalanannya penuh akan hiruk pikuk siang dan malam, anehnya hampir tidak ada barang bukti. Dan tanpa barang bukti, tidak ada yang bisa di lakukan, tidak peduli seberapapun keinginan seseorang untuk menangkap sang penjahat.
Di tengah-tengah semua kejadian ini, kota air mengalami peningkatan kejahatan yang terjadi.
“Pencurian, penyerangan secara acak di jalan, kekerasan terhadap wanita, penculikkan...”
“Hmmm.” Goblin slayer mendengus ketika Sword maiden berduka terkait keadaan yang sedang melanda kota. “Aku nggak suka.”
“Kamu nggak menyukai apapun Beard cutter.” Dwarf shaman berkata, sudah terbiasa dengan rekannya, dan memberikan lambaian tangan pada Sword maiden seakan-akan berkata, Jangan pedulikan dia. Dia menopang dagunya dengan tangannya dan sikunya pada lututnya yang di lipatnya. Dia bahkan tidak memiliki hasrat untuk meminum anggur. “Aku akui ini memang aneh. Tapi pastinya itu bukanlah alasan kenapa kamu memanggil kami kemari.”
“Kamu benar. Mereka memutuskan jika mereka tidak bisa melacak keberadaan sang pembunuh, mungkin mereka bisa menangkapnya di saat dia sedang beraksi.”
Oleh karena itu, tidak hanya penjaga kota dan prajurit, tapi para petualang juga di kirim.
Mereka di bagi menjadi beberapa grup, dengan rajin patroli jalanan malam dan mengejar siapapun yang terlihat mencurigakan.
Itu merupakan cara yang blak-blakan, rencana yang di gunakan karena kepraktisannya.
Tapi itu berhasil.
Salah satu dari petualang melihat sebuah sosok berbentuk manusia kecil menyerang seorang wanita dan membunuhnya.
Dengan cahaya lentera minyak para petualang, mayat kecil itu adalah....
“—goblin. Tidak di ragukan lagi.”
“Hmmm.” Goblin slayer yang mendengarkan dengan seksama, membuat suara ketertarikan. “Itu goblin?”
“Goblin... Aku rasa nggak Cuma satu atau dua.” Dwarf shaman berkata, membelai jenggotnya yang tebal yang dia banggakan.
Priestess menyentuh bibirnya dengan telunjuknya yang indah dan membuat suara berpikir. “Pertanyaannya adalah bagaimana mereka bisa masuk ke dalam kota,” dia berkata. “Mereka pastinya nggak masuk dari gerbang kota.”
“Itu berarti menyisakan rute bawah tanah atau saluran air,” Dwarf shaman berkata.
High elf archer menimpali. “Semua korban itu—monster itu nggak hanya sekedar lewat.”
“Gimana menurutmu?” helm Goblin slayer berputar mengarah Lizard priest.
Priest bersisik itu memutar matanya merenung, kemudian membuka rahangnya dan berkata, “Goblin...hmm. Goblin hidup di bawah tanah. Kota ini di bangun di atas sebuah kota yang lebih kuno. Tentunya akan ada sebuah reruntuhan di bawahnya...”
“Sudah pasti kalau begitu,” Goblin slayer berkata yakin. “Mereka bodoh, tapi mereka nggak tolol. Kalau aku jadi mereka, aku akan membuat sarang di dalam saluran air.”
“Sekali lagi, kamu mendemontrasikan kemampuanmu berpikir seperti goblin...”
Sulit untuk mengetahui apakah High elf archer bermaksud memujinya atau sarkastik.
“Tentu saja,” Goblin slayer membalas dengan anggukan. “Jika kamu nggak mengetahui pola pikir mereka, kamu nggak bisa melawan mereka.”
Sword maiden terlihat bingung oleh perkataan Goblin slayer, tapi walaupun begitu, dia mengangguk tegas.
“Tidak di ragukan lagi Supreme God lah yang telah membimbing kalian untuk menerima quest saya.” Sebuah senyum tipis terukir di wajahnya, dan suaranya jelas; kelegaannya terlihat jelas. “Saya sendiri, setelah satu bulan menyelidiki, menyimpulkan bahwa mereka berada di bawah tanah.”
“Sebulan?”
“Ya. Dan pada awalnya, saya menawarkan quest ini pada petualang di kota ini....”
“Apa yang mereka lakukan?” Priestess bertanya, namun Sword maiden hanya menggeleng kepala tak bersuara.
“Aku mengerti....” Priestess berkata.
Mereka nggak kembali.
Banyak petualang Porcelain dan Obsidian yang pergi membasmi goblin memiliki nasib sama dengan dengan mereka yang tidak kembali—seperti dua dari tiga rekan Priestess yang berpetualang masuk ke dalam gua.
Sekali ingatan buruk itu terlintas di pikiran Priestess, tidaklah mudah untuk melupakannya kembali.
Priestess hampir bisa merasakan hawa lembab, aroma busuk dalam gua dan mengerutkan wajahnya sedikit.
“Itulah ketika saya mendengar lagu tentang Goblin slayer, pahlawan perbatasan.”
“Lagu?” Goblin slayer berkata, terheran. “Apa maksudmu?”
 “Kamu nggak tau? Kamu menjadi bahan nyanyian, Orcbolg” High elf archer menggambar sebuah lingkaran di udara dengan telunjuknya. “Tapi ternyata lagu itu nggak sesuai denganmu sih.”
“Aku nggak pernah mendengarnya.”
“Namun tentunya anda tahu,” Lizard priest berkata, menyipitkan matanya. “Dimana seorang penyair berada, di situlah mereka akan menyanyikan lagu-lagu kisah pemberani.”
“Untuk apa?”
“Jangan bilang kamu nggak bisa melihat koneksinya, Beard cutter.”
Bukan karena dia tidak tertarik.
Dwarf shaman menepuk perutnya melihat Goblin slayer kebingungan.
“Ketika cerita apa yang sudah kamu lakukan tersebar, semua orang akan menginginkanmu untuk membasmi goblin mereka!”
“Hmmm....”
Mata Sword maiden, tersembunyi di balik kainnya, secara singkat bertemu dengan mata Goblin slayer yang tersembunyi di balik helmnya.
Sword maiden menggigit bibirnya, dengan ekspresi membulatkan tekadnya, menundukkan kepalanya.
“Saya mohon, tolong selamatkan kota kami.”
“Aku nggak tau apa aku bisa,” Goblin slayer berkata blak-blakan. “Tapi aku akan membunuh semua goblin.”
Itu bukanlah cara seharusnya untuk berbicara kepada archbishop, apalagi mantan seorang pahlawan.
Priestess berkata, “Pak Goblin slayer!” dan menarik tangannya, mengerucutkan bibirnya.  “Kamu harus cari cara yang lebih baik, kamu tau, cara untuk...bicara...”
“Itu kenyataannya kan?”
“Itulah kenapa sangat penting untuk bagaimana cara kamu menyampaikannya.”
“Hrm.”
Goblin slayer mengeluarkan dengusan kasar, namun dia pun hanya bisa terdiam.
Lizard priest mengayunkan ekornya riang melihat temannya yang berdebat, namun nadanya serius.
“Jika mereka berada di saluran air, maka cara biasa kita tidak akan bekerja.”
“Yah, lagipula, aku sudah cukup muak dengan cara biasa kita.” High elf archer berkata dengan lemas. “Caranya....aneh.” Dia menyikut pelan pada Goblin slayer. “Kamu tau maksud si kadal kan?”
“Ya.” Goblin slayer mengangguk. “Kita harus masuk ke dalam dan menghancurkan mereka, tapi area bawah tanah ini cukup besar. Akan sangat merepotkan jika beberapa berhasil lolos.”
“Bukan! Berada di dalam saluran air itu artinya kita berada di bawah semua orang yang hidup disini. Ngerti?”
High elf archer tidak mengerti mengapa dia masih terkejut. Orcbolg memanglah sudah seperti ini selama dia mengenalnya. Membakar habis benteng, melumuri orang lain dengan isi tubuh monster, membunuh goblin dengan cara yang mengerikan, menenggelamkan mereka....
“Nggak pake api! Nggak pake air! Nggak pake gas beracun! Nggak pake isi perut!”
“Aku sudah bilang, aku nggak berniat mengunakan itu semua,” dia membalas dengan nada yang biasanya dia gunakan untuk mendikte Priestess, membuat High elf archer tidak bisa membalas.
Telinga panjangnya berayun jengkel, tapi dialah yang pada akhirnya berkata, “Okelah kalau begitu.” Dan tidak melanjutkannya.
Lizard priest menghiraukan gumaman High elf archer yang berkata “Dia itu kenapa sih?” dan berkata, “Akan tetapi mengapa penjaga kota atau tentara kota anda tidak bisa mengatasi makhluk itu?” Dia menepuk lantai batu dengan ekornya untuk menegaskan keraguannya. “Saya tidak mengetahui situasi akan kota ini, tapi tentunya ini tidaklah di luar yurisdiksi mereka.”
“Mereka....”
“....Sudah pasti mereka memberi tau mu bahwa tidak perlu merepotkan militer hanya untuk masalah nggak penting seperti goblin.” Goblin slayer berkata blak-blakan ketika Sword maiden ragu.
Tidaklah sulit untuk di mengerti.
Itulah alasan para petualang terlibat karena penjaga kota dan pasukan militer tidak ingin ikut campur.
Para penjaga kota mengambil uang untuk berlatih dan membeli perlengkapan, dan keluarga mereka hidup di dalam kota. Jika mereka terluka atau terbunuh, sebuah uang pensiun akan di berikan kepada keluarganya.
Sangat berbeda dengan para petualang, yang menanggung semua tanggung jawab seorang diri.
Dan lagi, kebangkitan Demon lord di musim semi masihlah segar di ingatan mereka.
“Apa boleh buat kalau begitu.” Dwarf shaman berkata dengan desahan dan belaian pada jenggot putihnya. “Masih banyak dari Demon-demom itu yang berkeliaran di ibukota. Aku rasa inilah gunanya para petualang....”
“Mrm. Dua sumber masalah manusia adalah uang manusia dan politik manusia.” Lizard priest berkata.
“Saya sungguh merasa malu untuk mengakui kebenaran perkataan kalian.” Sword maiden berkata, seolah-olah mengungkapkan dosa.
Tragedi di dunia ini sangatlah banyak dan tidak ada habisnya.
Seperti yang di ucapkan Sword maiden, semenjak terciptanya dunia, hukum dan ketertiban selalu sulit di junjung.
Tidak ada seorangpun yang memiliki kekuatan untuk mengubahnya sedikitpun.
Bahkan Ibunda bumi, yang memberikan perlindungan kepada mereka yang telah rusak—perlindungannya hanyalah bagi mereka yang memohon, meminta, dan berdoa...
Oleh karena itu monster di sebut juga sebagai the Unpraying (TL Note: yang tak berdoa.)
Akan tetapi...
“Saya tidak begitu memikirkan hal seperti itu.” Bisik Sword maiden, menolehkan wajahnya kesamping.
Dia terdengar seperti wanita muda yang melakukan hal yang memalukan.
“Aku nggak peduli.” Goblin slayer memotong semuanya dengan beberapa kalimat singkat. “Bagaimana cara kami masuk ke bawah tanah?”
“....”
Mata Sword maiden yang tersembunyi melihat menuju helmnya seperti mencari sebuah ekspresi.
“Hey.”
“Oh. Ya, maafkan saya.”
Suara yang menjawab pertanyaannya entah mengapa terdengar jauh, hampir seperti igauan.
Sword maiden menggapai garis lehernya yang di tutupi oleh gaun tipisnya, mengeluarkan secarik kertas dari dadanya yang besar.
Kertas yang di lipat itu terlihat tua; itu seperti sebuah peta saluran air.
“Saya rasa akan sangat baik bagi kalian untuk memasuki saluran air dari sumur di belakang kebun kuil ini.”
Jari putih dan langsingnya membelai peta itu seraya meletakkannya di atas lantai. Kertas kulit domba yang sudah lecek itu membuat suara berdesir ketika dia membuka lipatannya.
“Oleh karena itu, selama investagasi kalian, saya menawarkan kalian kuil ini sebagai tempat menginap.”
“Mm.”
Goblin slayer mengeluarkan suara halus seketika dia mempelajari peta. Peta itu sudah tidak berwarna, telah di makan oleh serangga, namun peta itu menunjukkan betapa besarnya ukuran saluran air. Mungkin akan masuk akal bagi para arsitek kuno, tapi sekarang....
“Ini seperti labirin.” Priestess berkata cemas, melihat peta dari atas pundak Goblin slayer.
Goblin melewati labirin bawah tanah ini untuk menyerang manusia? Menghadapi mereka akan lebih sulit dari pada monster lainnya.
Mungkin aku hanya gugup. Apa dia menyadari Priestess secara diam-diam mengalihkan pandangan kepadanya?
Goblin slayer menarik peta lebih dekat, dan menepuknya perlahan.
“Seberapa akurat peta ini?”
“Ini adalah desain lama ketika kuil ini sedang di bangun...”
Sword maiden menggeleng kepalanya perlahan. Gerakan itu membuat gelombang pada rambutnya yang indah.
“Tapi aliran air kota mengalir di bawah sana. Jika ada beberapa yang runtuh, saya tidak bisa memprediksinya.”
“Baiklah.”
Dengan anggukan, dia menggulung petanya dan melemparnya ke udara.
Lizard priest dengan cekatan mengulurkan lengannya dan menangkapnya dengan cakarnya yang tajam.
“Kamu navigator kita.”
“Dengan senang hati.”
“Ayo berangkat. Jangan buang waktu lagi.
Tidak lama setelah dia berucap, Goblin slayer melangkah dengan langkah sigapnya.
Petualang lainnya melihat satu sama lain, kemudian mengangguk tidak berdaya.
“Yah, Orcbolg memang begitu.” High elf archer berkata ringan, berdiri. Dia mengatur posisi busur besar pada punggungnya, menghitung panahnya, kemudian menyusulnya dengan berlari kecil.
Langkah kaki elf sangatlah senyap seakan-akan mereka tidak memiliki berat tubuh; Lizard priest tidak mendengar langkah mereka sama sekali. Secara perlahan dia membuka peta yang di tangkapnya, memeriksa ulang, melipatnya lagi, dan menaruhnya dengan hati-hati ke dalam tas. “Sepertinya memang benar ada reruntuhan di dalam sana, tapi kita tidak akan tahu sebelumnya melihatnya secara langsung.”
“Kamu benar. Dan kita nggak bisa mengandalkan teman telinga panjang kita untuk memimpin jalan, Beard cutter sih lain cerita lagi.”
Dwarf shaman membelai jenggotnya, tidak bisa membiarkan mereka berjalan menuju bahaya sendiri.
Mereka berdua saling menepuk punggung satu sama lain, kemudian berdiri, terlihat senang.
“Kalau begitu kami permisi. Kami akan segera berangkat.”
“Nggak boleh membiarkan telinga panjang dan Beard cutter menunggu.”
Dan mereka berdua beranjak pergi.
Priestess tidak punya waktu untuk melamun juga.
Bergegas menyiapkan perlengkapannya, meluruskan jubahnya dan berdiri.
“Yah, um, nyonya archbishop. S-saya juga akan pergi.”
Ahem. Dia menggengam tongkat dengan kedua tangannya dan menundukkan kepalanya kepada Sword maiden.
“Jika saya boleh...” Sword maiden memanggil priestess di saat dia akan pergi. Dia mengulurkan satu lengan kurusnya seperti mengisyaratkan.
“Ya?” Priestess bertanya, berwajah tanda tanya kepadanya.
“Mungkin ini bukanlah hak saya untuk menanyakan ini, sebagai pemberi quest...”
Priestess tidak dapat membaca ekspresi Sword maiden ketika dia berbicara. Semua emosi itu sepertinya sudah meninggalkan wajah cantiknya, layaknya ombak yang surut. Sangat sulit untuk mengabaikan impresi bahwa dia mengenakan sebuah topeng.
“Apa kamu tidak takut?”
Pertanyaannya pelan namun jelas.
Priestess sedikit mengerutkan alisnya; matanya berkelana di sekitar ruangan. Apa yang harus dia katakan?
“Saya... Ya, Saya takut. Tapi...”
Kemudian, dia tidak berkata lagi. Dia tidak pernah berhenti untuk merasa takut, semenjak dia memasuki sarang goblin untuk pertama kalimya belum lama ini.
Akan tetapi...
Tatapannya beralih kepada petualang itu, berjalan di depannya, beberapa langkah di depan...
Lizardman yang tinggi. Di sebelahnya, Dwarf yang gemuk, seorang elf yang langsing. Dan....
Seorang warrior. Dengan helm yang terlihat murahan, armor kulit kotor, dengan perisai bundar dan pedang dengan panjang yang aneh.
“Hee-hee.”
Berdiri di sana, hampir sendiri, sebuah senyum terlukis di wajah Priestess.
Dia adalah murid dari Ibunda bumi, tapi jika dia harus berdoa kepada Supreme God dia hanya akan meminta satu hal:
Bahwa dia tidak akan ada di sini tanpa rekan-rekannya.
“Aku yakin kami akan baik-baik saja.”
Dan dengan itu, dengan malu dia berdoa di balik nafasnya.