CHAPTER 1 PHASE 2
(Translater : Bonn)

Malam itu, sebuah insiden terjadi di sudut TBRA-2: Pulau reklamasi kedua Teluk Tokyo.
Suara ledakan besar berasal dari bagian bawah sebuah bangunan yang berlokasi di tengah – tengah sebuah pusat penelitian. Kemudian, asap tebal mulai keluar dari pintu masuk gedung itu.
Seluruh kejadian itu bisa disaksikan melalui sebuah bangunan setinggi 50 meter yang terletak tidak jauh dari pusat penelitian itu. Dari situ, seluruh kaca bagian luar bangunan di seberangnya meledak secara berurutan. 
Dinding polifiber itu bergetar dengan begitu kuatnya.
Lalu semua lampu di fasilitas penelitan itu padam. Ini adalah pertama kalinya bagi Memeframe Corporation, salah satu dari perusahaan penting yang menjalankan sistem manajemen hIE di negeri ini,  melihat pusat penelitian Tokyo mati.
22:08. Sebuah helikopter pengangkut mendekati TBRA-2 dari laut. Perintah untuk bergerak segara dikeluarkan setelah ledakan itu terjadi.
Helikopter itu berangkat dari dari Funabashi di Prefektur Chiba dan membawa sebuah kontainer besar. Itu adalah militer pribadi yang disewa oleh Memeframe yang dikirim untuk melakukan pengintaian
Di dalam helikopter itu, seorang pilot yang sedang memperhatikan layar status, berbalik untuk melaporkan sesuatu untuk orang dibelakangnya. “20 menit lagi, Pak, itu batas waktu yang diberikan USJF dan pihak Jepang kepada kita. Kita harus kembali dan keluar dari wilayah udara Tokyo sebelum waktunya habis. Jangan lupakan itu, pak.”
Pilot itu sedang berbicara pada Shesto Ackerman. Shesto sedang menggaruk punggungnya dengan jarinya. 
Dia sedang berada di sebuah tempat yang cukup sempit di bagian dalam helikopter itu yang terbang di atas teluk Tokyo, di mana dari situ drone dikirim ke pusat penelitian itu. Shesto sendiri adalah seorang mantan tentara sekaligus seorang prajurit elit, pekerjaan ini begitu melelahkannya, secara lisan atau tertulis.
“Perintah untuk Ackerman. Misimu adalah untuk menangkap hidup atau mati lima hIE yang berhasil lolos dan melarikan diri dari ledakan itu. Para peneliti sudah berhasil dievakuasi semuanya dan sekarang dalam proses pemindahan ke tempat perlindungan.”
Itu adalah sebuah perintah yang tidak lazim untuk diberikan.
hIE tidak diprogram untuk melarikan diri. Mereka memang terlihat mirip dengan manusia, tapi seluruh tindakan mereka ditentukan oleh rangsangan eksternal. Salah satu ahli dari Net menggunakan sebuah bank data yang sangat besar untuk sebuah hIE agar para hIE bisa menentukan tindakan terbaik di setiap saat. 
Dengan kata lain, pada dasarnya mereka adalah sebuah robot boneka mutakhir.
Memeframe mempelopori pengaturan tingkah laku hIE dengan sistem cloud platform. Dengan kata lain, perusahaan militer pribadi milik Shesto diminta oleh ‘Pengendali Boneka’ itu untuk mencari boneka mereka yang hilang.
Baling – baling helikopter itu berputar dengan begitu halus, agar tidak terdeteksi di tenangnya malam, dan helikopter itu mulai mendekat sambil menjaga ketinggiannya.
Tim gerak cepat yang berada di balik operasi itu ada 3 orang: Sersan Toma Ryu di kursi pilot, Mayor Sersan Yusuf Marai sebagai penghubung, dan pemimpin operasi, Letnan Dua Shesto Ackerman. Tidak ada satupun dari mereka yang berkomentar tentang misi yang mereka kerjakan. Itu dikarenakan mereka adalah profesional.
Shesto memakai sebuah transmitter dan mencoba menghubungi pemimpin lapangan. “Kami sudah ditempat, Mayor. Memasang sensor untuk mendeteksi target.”
Pendeteksi panas helikopter mendeteksi lima obyek berbentuk manusia menuju TBRA-1. Sebuah datalink dipasang untuk membuat pusat AI dapat memberikan perhitungan terbaik untuk strategi.
Lalu, AI Komando Lapangan ---yang sekaligus bertanggung jawab untuk seluruh perintah penyerangan---mengusulkan sebuah strategi. Biarkan para hIE tersebut untuk menyeberangi jembatan itu dan memasuki wilayah penduduk Odaiba.
Shesto melipat tangan berototnya dan berbisik, “Itu cukup ekstrim.”
AI Komando Lapangan menyarankan agar melakukan serangan di daerah penduduk. Strategi itu dimaksudkan agar serangan hanya berpusat pada unit tak berawak.
Unit dengan pengaturan komputer tidak bisa begitu saja menyerang manusia dengan kehendak mereka sendiri---perintah itu hanya bisa diberikan oleh pemilik mereka. Drone yang mengelilingi kerumunan orang itu mendapatkan dirinya  begitu kesulitan, seperti fungsi gerak mereka berhenti berfungsi.
Sosok seorang wanita yang memakai baret dan penutup mata muncul di pendeteksi retina milik Shesto.
-Kami memutuskan untuk tidak menggunakan rencana dari AI Komando Lapangan. Klien kita menyimpulkan bahwa target yang kita incar adalah ancaman yang sangan serius.
Pesan itu berasal dari Komandan Shesto, Mayor Cordenne Lumière, seorang wanita yang misterius. Shesto hampir tidak mengetahui apapun tentangnya.
“Mayor, apakah kita mengikuti rencana dari AI?” tanya Shesto. Shesto berada dalam kondisi dimana dia tidak bisa diganggu. Pola pikir Shesto sudah diasah di kemiliteran selama enam belas tahun, dia bergabung kekemiliteran sejak sekitar umur delapan belas tahun. Dan sekarang, Shesto mendapatkan tugas dengan beban tanggung jawab yang begitu besar dan mencapai pangkat sebagai Letnan Dua, pandangannya masih tetap sama: Seorang tentara yang setia.
-Negatif. Aku menolak rencana itu. Kendaraan polisi sudah berkumpul di dekat jembatan itu. Sangat tidak masuk akal  menarik mereka ke daerah penduduk sekarang.
Perintah dari komandan Shesto tidak diambil berdasarkan sisi kemanusiaanya. Dia hanya berpikir untuk menghindari jembatan sebagai tempat penyerangan. Drone tidak bisa digunakan dibawah air---gelombang radio yang diperlukan untuk mengkontrol mereka tidak bisa menembus air. Karena unir respon darurat milik HOO adalah drone, maka jika target jatuh kedalam air maka mereka tidak akan bisa mengejarnya.
“Lalu, apa rencana cadangannya Komandan?”
-Klien kita telah mendapatkan ijin dari pemerintah setempat untuk menggunakan senjata api. TBRA-2 adalah sebuah kota penelitian, jadi pergerakan penduduk pada malam hari seharusnya tidak perlu dihiraukan.
Daftar peralatan yang telah diijinkan oleh pemerintah sudah masuk. Terlalu berlebihan untuk menangkap lima hIE. Tentu saja, Jepang sudah tidak lagi terpengaruh oleh mental pasifis yang melanda warganya seratus tahun yang lalu, namun senjata yang berada dalam daftar tersebut bukan cara orang rasional berpikir untuk menangkap hIE tersebut di area penduduk. Ada banyak ketidakcocokkan dengan tugas yang diberikan pada mereka dan peralatan yang diijinkan dalam operasi ini. Yang berarti satu hal: ada sebuah lubang besar dalam data tersebut.
“Yusuf, apa data yang diberikan klien ke kita?”
Pria Perancis dengan rambut afro itu mencari data mengenai hal tersebut dengan peralatannya. “hIE yang melarikan diri tersebut adalah tipe wanita. Setiap satu dari mereka dilengkapi sebuah device unik milik mereka sendiri. Hanya itu yang kita tahu. Sial, jika ‘data’ ini adalah data mereka, kenapa mereka harus repot-repot mencari intel?”
Sheso memperhatikan penghitung waktu yang terus menghitung mundur. Mereka sudah lima menit berada di atas wilayah udara Tokyo.
“Turunkan container,” katanya. “Kita bisa mengeluarkan unit darat sekarang sambil menunggu Mayor melakukan negosiasi.”
Kota penelitan hampir tidak memiliki penduduk; jalanannya lurus dan lebar. Klien itu bahkan tidak mengijinkan mobil pemadam kebakaran dan ambulan untuk masuk ke area itu.
Helikopter itu melayang sekitar 20 meter dari tanah dan menurunkan kargo bawaan mereka di jalanan bawahnya. Tepat pada saat kargo tersebut mendarat di tanah, kontainer yang memiliki panjang dua kali ukuran standar pada umumnya---mengeluarkan gas dengan tekanan tinggi untuk memperlambat lintasan pendaratannya agar bisa mendarat dengan aman di tanah.
Kontainer itu berisi dua skuadron drone: unit tanpa awak. Squad pertama adalah PMC sendiri, terdiri dari 11 unit standar US. Squad kedua berisi 22 unit, yang dilengkapi dengan senjata berat, cukup untuk merubah Odaiba menjadi lautan api.
Kontainer AI meminta unit helikopter untuk memasang unit sensor. Permintaan itu diijinkan, dan unit induk diturunkan, dan dari unit tersebut sebanyak 64 unit kamera, yang beterbangan seperti serangga, mulai merekam semua gambar dari seluruh area di tempat itu. 64 layar seukuran telapak tangan muncul di layar monitor 3D di pusat pengaturan drone di tempat penyimpanan helikopter.
Setelah mereka yakin bahwa tidak ada manusia yang muncul di layar, pesan ‘semua aman’ muncul di layar.

Pulau reklamasi kedua Teluk Tokyo biasa dikenal sebagai pulau yang digunakan untuk memecah gelombang badai dan sebagai tempat pembuangan puing – puing sisa badai. Karena itu, tempat ini tidak digunakan untuk perumahan penduduk.
Sistem pendeteksi gambar mendeteksi lima obyek sekaligus. Gambar itu secara otomatis diperbesar dan berpindah ke tengah layar.
“Kita mendapatkannya, Pak,” Kata Yusuf.
Shesto yang sudah berpengalaman dalam begitu banyak strategi perang selama bertahun – tahun, menyadari dirinya berada dalam sebuah pertempuran.
Tapi dia melupakan semua rencananya.
Dia memperhatikan obyek itu yang bergerak di pemandangan malam. Lima warna cahaya yang berbeda. 
Lima wanita cantik, setiap satu dari mereka adalah sebuah karya seni yang begitu indah.
“Ini pasti adalah sebuah unit yang sangat spesial, Pak,” Kata Yusuf, sambil membesarkan gambar di monitor itu. hIE yang ada di layar tersebut memakai sebuah bodysuit berwarna merah, hijau, kuning dan oranye, dan salah satu darri mereka membawa sebuah device yang memiki ukuran yang sangat besar.
Squadron drone tempur keluar dari kontainer itu, memasuki medan perang itu. Shesto memperhatikan layar monitor itu untuk mengawasi pergerakan pasukannya yang berada di tengah – tengah medan perang. Drone tersebut memiliki tinggi maksimum dua meter. Drone tersebut langsung mengambil posisi untuk berlindung menggunakan medan yang ada. Di belakang garis drone tempur itu, unit kendaraan yang dilengkapi persenjataan berat mengambil posisinya, bersiap untuk memulai perburuan.
Sistem manajemen tingkah laku PMC mengatur pergerakan drone itu seperti seorang dalang yang menggerakan wayangnya. hIE didesain untuk membantu manusia dan drone militer digunakan untuk menghancurkan mereka, tapi prinsip kerja operasi mereka tetaplah sama. Tanpa hati atau jiwa untuk beroperasi secara efisien---mereka hanya perlu bertindak seperti apa yang mereka diminta untuk bergerak.
“Saat jarak mereka kurang dari 70 meter, serang mereka dengan dua ledakan ranjau. Atur supaya drone militer menembakkan artilerinya untuk menembak unit yang paling dekat, dan serang mereka satu per satu. 
Garis depan harus menembak untuk menjaga posisi. Setelah itu, kita akan bertindah berdasarkan tindakan mereka.” Shesto mengeluarkan perintahnya dengan sikap seperti seorang tentara: terus terang, dan langsung ke titik permasalahan. Cloud kontrol  mencatat perintah itu dan segera memprosesnya dan menghubungkannya ke drone di bawah mereka.
Unit tanpa awak itu bergerak seperti apa yang diperintahkannya, mengumpulkan dan menyampaikan data ketika mereka mendekati target mereka.
Lalu kemudian…
Salah satu hIE tipe perempuan yang memiliki rambut merah, melihat ke arah kamera dan tersenyum.
Dia mulai berlari, mengambil garis lurus mengarah ke helikopter Shesto. Helikopter itu seharusnya berada dalam mode senyap, tersembunyi, tidak terdeteksi, dan berada dalam mode stealth.
Melihat bahwa perempuan itu begitu cepat menghampiri mereka, Shesto merasa merinding. Ia bertindak cepat: jauhkan benda itu dari helikopternya.”Toma,” Shesto menyalak, “Bawa helikopter ini mundur, hindari makhluk merah itu!. Semua pasukan, fokus untuk membuat musuh menjauhi garis pertahanan kita!”
Dan pertempuran pun dimulai.
Drone yang membentuk formasi di garis depan pertahan mulai menembakkan senjata mereka kepada hIE tersebut. Suara rentetan senjata api menghiasi langit malam, dan langit terlihat seperti pertunjukkan kembang api.
Yusuf tetap bekerja di belakang komputernya dengan penuh konsentrasi. Dia adalah model dari prajurit profesional: tetap tenang dalam tekanan tinggi, menjadi mesin pembunuh, dan kamu mungkin akan mendapat kesempatan untuk hidup esok hari.
Sersan Toma yang berada di kursi pilot, tidak bisa menahan keterkejutannya. “Bagaimana mungkin, Letnan? Senapan kaliber 50 hanya memantul dari target!”
Semua kendaraan lapis baja itu menembakkan senjatanya langsung ke arah hIE itu, tapi perempuan 
berambut merah itu menyerang mereka dengan menggunakan sebuah device seperti pisau besar sebagai 
pelindungnya. Setiap peluru kaliber 50 mampu menembus sebuah pelat baha setebal 5 milimeter, tapi hIE perempuan itu terlihat tidak terganggu dengan hujan peluru yang diarahkan padanya.
“Squad satu ke squad tiga, fokuskan serangan kalian ke bagian tubuh wanita itu. Squadron 4, serang empat hIE lainnya dengan kekuatan penuh.”
Satu dari ranjau terbang itu meledak, dan api memancar seperti bunga yang mekar. Monitor Yusuf berubah putih, karena sensor infared kamera itu mendapat rangsangan cahaya yang begitu kuat.
Tapi tidak ada satupun suara senjata api.
Alarm berbunyi dan tanda peringatan muncul di monitor. Empat kendaraan drone dilumpuhkan dengan menghancurkan sirkuit internalnya. Shesto kehilangan kekuatan utamanya.
“Sambungkan kembali!” perintah Shesto.
“Sistem tidak bisa mengetahui kesalahannya pak.” Kata Yusuf. Tangan Yusuf yang sangat cekatan menangani komputernya pun berhenti. Seluruh bagian helikopter penuh dengan tekanan yang tinggi. Kendali drone ini sangat mudah, mereka didesain untuk bekerja di pedalaman hutan Amazon sekalipun jika diperlukan. Sangat tidak mungkin bahkan sangat tidak masuk akal jika mereka semua kalah begitu saja…
“Shesto kepada komando strategi. Kami mendapat serangan dari pihak musuh. Meminta analisis senjata  musuh.”
AI komando strategi mendapat jumlah data pertarungan dan mencoba setiap skenario yang mungkin dapat diambil. Tapi tidak ada jawaban dari AI itu. Setelah itu, AI tersebut kemudian terdiam dan tidak menunjukkan respon. Shesto menelan ludahnya. Situasi ini cukup rumit.
Sersan Toma memutar kursi pilotnya. “Ya ampun, Lihat semua bunga ini, Letnan. Apa ini? Apa Memeframe beralih menjadi seorang penjual bunga sekarang?” Toma berkelakar dan guyonannya surut kemudian, tapi kelakar Toma membuat diri Shesto agak tenang.
Untuk mengembalikan waktu yang ia buang percuma karena tak bisa berkutik dengan kejadian yang ia alami, Shesto meneliti monitornya untuk memperhatikan apakah ada tanda bahaya. Dia melihat jalanan dibawahnya---jalan yang diaspal dengan material bahan daur ulang, seperti bagian pulau yang lain---tertutupi oleh bunga yang bertebaran dimana – mana seperti pelangi.
Perempuan berambut merah itu, yang baru saja terkena serangan dari drone kendaraan lapis baja, sudah bisa bangun kembali dan menggerakkan tubuhnya seperti normal kembali. Pisaunya yang begitu besar itu memancarkan kilauan berwarna merah.
Sekarang, jika dia adalah aku, tanya Shesto dalam hatinya, apa yang akan lakukan berikutanya?
Gadis itu (apakah itu benar untuk menganggapnya begitu?) berada di pusat ledakan yang baru saja terjadi, tapi dia (Apakah ‘She’ adalah kata cocok untuk dirinya?) terlihat tidak terluka sama sekali. Bahkan, dia tersenyum lebar, seperti dia sedang menikmati semua ini.
“Dia menuju kontainer!” Terika Shesto, dan memang seperti apa yang dia katakan, gadis itu bergerak begitu cepat ke arah kontainer itu. Dimana beberapa saat yang lalu, para drone itu keluar dari tempat itu.
Sebuah sinar tipis memotong gelapnya malam. Cahaya itu memotong kontainer itu dan menghilang begitu saja di langit.
Kontainer itu didesain untuk bisa bertahan bahkan dalam serangan sebuah tank. Tapi serangan yang begitu cepat dari hIE wanita itu berhasil membuat sebuah lubang yang begitu besar di dinding lapis baja kontainer itu.
Layar status pertempuran di helikopter menayangkan 20 pesan peringatan bahaya yang berbeda. Kontainer itu berfungsi bukan hanya untuk transportasi saja, tapi juga sebagai penghubung untuk mengambil data pertarungan dan memberikannya ke AI komando strategi. Akibat serangan itu, sang dalang tidak mampu lagi mengendalikan wayangnya kembali. Senar virtual yang mengendalikan drone itu telah terputus.
Tepat saat mereka mendapatkan serangan telak dari wanita itu, AI komando strageti akhirnya memberikan respon terhadap permintaan Shesto. Drone tersebut kemungkinan besar rusak karena adanya arus pendek yang disebabkan oleh kabel listrik bawah tanah hertegangan tinggi yang berfungsi untuk menyalakan tenaga bagi pusat penelitian di pulau tersebut.
Kabel tegangan tinggi di TBRA-2 dipasang di dalam tanah dengan kedalaman 10 meter. Dan entah bagaimana, hIE tersebut mendapatkan informasi itu entah darimana, dan entah bagaimana juga menggunakan keuntungan itu untuk menyerang mereka.
Sebuah transmisi baru saja datang dari Mayor Lumière. Ekpresinya begitu kosong, meskipun jelas bahwa dia menggunakan keadaan klien yang mengalami sebuah krisis untuk mendapatkan keuntungan.
-Klien telah mengirimkan sebuah misi baru. Tidak usah mencoba untuk mengalahkan mereka semua. Cukup kalahkan satu saja yang menurut kalian yang paling mudah.
Informasi itu muncul di layar monitor itu. “Yusuf, cari maksud dari perintah itu. Kita harus bisa keluar dari tempat ini dengan selamat,” kata Shesto.
Menurut sudut pandangnya, mereka tidak akan bisa berhasil dalam misi kali ini. Namun, tidak ada satupun perintah untuk mundur. Yusuf menggunakan kalimat yang ia enkripsikan dan meminta untuk mundur.
Denied
Shesto memerintahkan drone yang tersisa untuk mundur.
Pendeteksi retinanya menunjukkan sebuah data singkat mengenai sebuah humanoid Interface Element yang bernama Lacia. Tidak ada informasi lebih lanjut. Device yang ia bawa dilengkapi dengan komputer kuantum. 
Dengan alat itu, hIE tersebut mampu mengambil sebuah keputusan tersulit secara independen dengan bantuan jaringan yang ada.
Di dalam pendeteksi retinanya, berikut muncul perempuan berambut merah yang menghancurkan kontainer pengangkut mereka:
Type-001 Code <Kouka>.
Ia berada di bawah mereka, tubuhnya menyilaukan cahaya merah yang kuat, sambil mengacungkan device pisau/meriam hibrida, dan tertawa gembira.
Type-002 Code <Snowdrop>Tipe ini memiliki bentuk tubuh seperti anak kecil dengan gaun berwarna hijau. Ia duduk di salah satu drone yang telah lumpuh, ia menggunakan tubuh besarnya sebagai kasur. Di gaunnya terpasang beberapa ornament berwarna hijau-emerald dan tubuhnya dikelilingi oleh bunga – bunga yang entah muncul darimana.
Type-003 Code <Saturnus>Target memiliki rambut sebahu dan terlihat sedang memegang sebuah tuas device miliknya yang berbentuk seperti sebuah roda berputar raksasa yang terpasang di tanah.
Type-004 Code <____>Hanya sebuah bayangan yang tidak begitu jelas yang tertangkap oleh monitor. Tapi ada sesuatu disana, sebuah cahaya berwarna oranye, menari di tengah – tengah drone yang tak bisa berkutik karena gerakannya yang begitu cepat. Dan dalam sekejap, drone yang tersisa bahkan tak memiliki waktu untuk membalas sebelum akhirnya drone tersebut kalah.
Type-005 Code <Lacia>Unit terakhir memiliki rupa seorang gadis yang terihat begitu tenang. Wajahnya begitu tenang, dan ekpresinya begitu tak berdosa. Ia membawa sesuatu yang terlihat seperti sebuah peti mati hitam yang mampu menghentikan semua peluru yang mengarah padanya. Dari celah peti mati itu dan sebuah ledakan cahayaberwarna putih-kebiruan meledak---
Monitor Shesto mendadak mati. Hanya karena itu, semua sistem yang ada telah mati. Helikopter itu kemudian kehilangan mode senyapnya. Suara mesinnya menggema cukup keras di langit malam, seperti seseorang tengah menggunakan sebuah blender raksasa.
Semua layar menunjukkan data pertempuran mendadak mati. Setelah monitor 3D berhasil pulih, ia tidak menunjukkan suasana pertempuran, melainkan hasil setelah pertempuran usai.”
“Sambungan data kita dengan Memeframe telah diretas dan entah bagaimana sistem kita ikut lumpuh, pak. Oleh seseorang, atau oleh sesuatu. Aku masih tidak bisa menyambungkan data kembali.”
“Serangan Cyber, huh?” kata Shesto. Komunikasi nirkabel adalah sangat penting untuk mengatur drone militer seperti ini. Jika---gadis itu---entah bagaimana caranya berhasil menyusupi enkripsi data militer tingkat tinggi yang digunakan komando lapangan dan meretas sistem mereka, maka jelas mereka adalah monster yang sangat berbahaya.
Tidak ada jejak yang tersisa dari gadis itu. Komando Strategi mendapatkan mereka telah meloncat ke laut di sekililing mereka.
Skenario terburuk akhirnya terjadi. Drone biasa tidak akan mampu masuk kedalam air, mereka akan kehilangan fungsi gerak mereka ketika mereka berada di luar wilayah gelombang radio yang mengkontrol mereka. Tapi mereka berlima mampu beroperasi dengan normal tanpa ada sambungan jaringan.
Laut adalah rute melarikan diri yang paling aman. Bagimana caranya mengejar mereka ketika Tokyo sendiri memiliki teluk yang sangat besar---dan saat Jepang sendiri dikelilingi oleh laut di semua sisi? Semua cara untuk mengejar mereka tidak memiliki kemungkinan berhasil.
Jika Sersan Toma yang tertawa begitu sarkas tadi, sekarang terlihat diam. Dan Sersan Mayor Yusuf Marai yang berada di belakang kendali komputer, masih berusaha bekerja sampai sekarang.
“Bagaimana mungkin kita bisa membiarkan mereka lolos begitu saja?” bisiknya.
Obyek yang mereka lawan memiliki kemampuan yang lebih hebat daripada yang mereka pikirkan. Mereka sangat unik. Mereka tersadar bahwa mereka bertiga telah dikalahkan oleh obyek tersebut, dan mereka menyadari diri mereka sendiri seperti saat mereka masih pemula di kemiliteran.
Ada sebuah perasaan di benak para prajurit veteran ini ketika mereka sendiri dihadapi perkembangan senjata yang begitu maju. Tidak peduli bagaimana sulitnya dinding yang mereka hadapi, tidak peduli bagaimana pasir yang mereka jalani, manusia akan terus memiliki cara untuk berkembang. Kenapa? Karena setelah mereka berkembang, mereka akan mendapatkan sesuatu, sebuah sensasi baru. Ambil contoh saja Bom Atom.  Tentu banyak peneliti yang siap dengan sindirannya dengan temuan itu. Tapi banyak juga yang mendukung penemuan bom Atom. Kenapa? Karena pada saat kamu menggunakan bom Atom, itu berarti saudara seperjuanganmu, para prajurit dan semua penduduk tidak akan mati di sebuah perang. Seorang prajurit tidak akan bisa mengungkapkan hal ini dengan kata – kata, tapi perasaan ini begitu dalam.
Shesto memandangi lautan, dimana hIE itu kabur, karya senit itu telah kabur. Dia memandangi pemandangan malam di kota metropolitan Tokyo, dimana jutaan hIE bekerja disana. Shesto berpikir bahwa era dimana mereka menggunakan dunia sains yang begitu rumit telah merubah sendi kehidupan manusia saat ini.
Dia bahkan tidak tahu kemampuan apa yang dimiliki oleh hIE yang melarikan diri itu, atau apa yang mungkin mereka dapat lakukan.
Pihak yang akan paling menyalahkan mereka karena membiarkan hIE tersebut melarikan diri adalah klien mereka, Memeframe. Memeframe adalah pihak yang membuat mereka bergerak begitu lambat karena data yang mereka kirimkan begitu terlambat. Tapi Shesto menyadari bahwa kegiatan saling menyalah-nyalahi telah lewat. Ada masalah lain yang lebih besar yang harus ditangani.  Bagaimanapun juga, salah satu dari lima hIE  itu mampu menembakkan sebuah kekuatan yang melebihi kekuatan sebuah tank pada umumnya. Alat macam apa yang dibawa oleh mereka berlima? Senjata kimia? Senjata Biologis? Nuklir?
Mungkin Shesto dan rekannya tidak lebih dari sebuah pihak pertama yang berhasil menyaksikan sebuah awal dari kehancuran kehidupan manusia.