JUNI TIDAKLAH SELALU HUJAN
(Part 3)
(Translater : Blade; Editor : Hikari)

Bagian 3
Hari ini sepulang sekolah setelah rapat kelas selesai, Sorata memanggil Ryuunosuke yang hendak keluar dari kelas.
“Nah, Akasaka.”
Saat sedang guru menjelaskan, Sorata tiba tiba terpikir sesuatu.
“Ada apa?”
“Aku mau menjenguk Iori……….apa kau mau ikut?”
“Coba katakan alasannya.”
“Karena dia itu orang yang kelak mungkin akan menjadi anggota tim kita, 'kan?”
Mungkin agak susah memasukkannya, Sorata sudah menyiapkan diri untuk mendengar balasan ‘hanya menghabiskan waktu saja’, namun balasan Ryuunosuke di luar dugaan. Setelah berpikir sejenak ia pun menjawab :
“………….begitukah? Baiklah.”
“Eh? Serius?”
“Kenapa Kanda tidak percaya diri sekali dengan apa yang kau katakan?”
“Kau juga. Hari ini ada apa? Kau jarang seperti itu.”
“Aku hanya merasa kalau dia itu memang orang yang akan menjadi anggota tim kita, aku rasa memang perlu pergi untuk mengeceknya.”
Ryuunosuke menjawab sesuai apa yang sebenarnya dipikirkan Sorata. Sorata tidak tahan dan terkejut. Yang dia katakan benar sekali, tapi rasanya ini sedikit aneh, ini berbeda dengan Ryuunosuke yang ia kenal, walaupun rasanya juga ia tidak begitu tahu bagian mananya yang berbeda……….
“Kalau tidak pergi, aku akan pulang.”
“Ah, tidak, tentu saja kita akan pergi.”
Sorata mendorong Ryuunosuke dari belakang punggungnya saat kedua orang itu akan keluar dari kelas lewat pintu belakang.
“Kanda, janga menyentuhku.”
“Memangnya kenapa? Kita ini sama-sama laki-laki, 'kan.”
“Dalam artian lain, kurasa ini sangat menjijikkan.”
“Beraninya kau berkata begitu…………”
Kedua orang itu baru sampai di koridor itu saat tiba-tba dipanggil seseorang yang keluar lewat pintu depan :
“Kanda-kun, ada orang mencarimu!”
Pemilik suara itu adalah Takasaki Mayu, badannya yang kecil itu merupakan ciri ciri untuk mengenalinya. Di belakangnya, ada 2 buah wajah yang tampak tidak asing.
2 orang itu adalah siswa kelas 1 jurusan musik seperti Iori. Kedua orang itu adalah Naoya dan Sho.
‘Halo’, kedua orang itu menyapa Sorata.
Karena Mayu, rasanya jadi agak menarik perhatian, sehingga Sorata sarankan untuk berbicara di tempat lain. Ryuunosuke dengan malas tidak ingin mengikuti mereka, tapi ujung-ujungnya juga dipaksa oleh Sorata.
Mereka menghentikan langkah kaki mereka di depan mesin penjual minuman otomatis.
“Kalau begitu, ada apa?”
Biarpun Sorata bertanya, Naoya dan Sho tetap tidak ada tanda-tanda ingin menjawab.
“……………”
“……………”
Sorata memasukkan uang logamnya ke dalam mesin penjual minuman otomatis. Setelah menekan 2 kali, Sorata memberikan teh kotak yang jatuh pada mereka.
“Ah, maaf.”
“Terima kasih.”
Ryuunosuke bertanya di belakangnya : ‘Apa tidak ada bagianku?’, tapi dia sendiri sudah membeli jus tomat, jadi Sorata memutuskan untuk berpura-pura tidak mendengarnya.
“Mau tanya soal Iori ya?”
“Ya……..apa dia baik-baik saja?’
Naoya yang merendahkan kepalanya dan bertanya; Sho yang berada di sampingnya mengeluarkan sedotannya, dan meminum tehnya.
“Operasinya minggu lalu sudah diselesaikan dengan lancar……..hn, lumayan semangat.”
“Begitukah.”
Ekspresi mereka terlihat puas.
“Kalau penasaran, kenapa tidak pergi menjenguknya?”
Ryuunosuke yang merasa bosan itu masuk ke dalam percakapan.’
“Kalau pergi menjenguknya……..apa tidak apa-apa?”
Sho yang mempunya wajah seperti boneka itu meminta pendapat Naoya. Naoya menunjukkan senyuman sedikit ragu dan menganggukkan kepalanya.
“Itu……..yang penting dia tidak apa-apa. Terima kasih untuk minumannya, Senpai.”
Setelah memberi salam, Naoya dan Sho pun meninggalkan Sorata.
“Tidak peduli itu si kuncir kuda ataupun mereka, sama saja semuanya.”
Ryuunosuke melempar jus tomatnya yang sudah habis itu ke dalam tong sampah.
“Sudahlah, mungkin mereka juga punya masalah mereka sendiri………….”
Mungkin karena sama-sama siswa jurusan musik, jadi kalau ada beberapa masalah juga tidak aneh.
Setelah berbicara dengan siswa kelas 1, Sorata datang ke ruang kelas seni untuk menjemput Mashiro, mereka pun pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Iori.
Setelah melihat ke dalam ruangan pasien, hari ini juga Kanna sampai duluan. Ia duduk di kursi yang ada di samping kasur Iori, dan sedang mengiris apel dengan posisi tangan yang bahaya.
Misaki menyemangati Kanna di sampingnya :
“Hebat sekali! Hase-pan! Sisa sedikit lagi, Hase-pan!”
Sepertinya dia datang untuk menjenguk Iori. Memang teman yang baik, ya.
Ibu Iori tidak terlihat.
“Wah, Kouhai-kun dan Mashiron!”
Misaki yang menyadari ada tamu itu mengeluarkan suara bersemangat.
Dan sesuai dugaan, dia ditegur oleh dokter yang barusan lewat di depan ruangan pasien itu.
Ryuunosuke yang terakhir masuk ke dalam.
“Ah, Dragon-senpai, jarang sekali. Jarang sekali melihatmu berjalan ke luar.”
“Karena ada beberapa urusan.”
Ryuunosuke menjawab dengan asal.
“Di mana ibunya Iori?”
Sorata bertanya.
“Tadi pergi mencuci baju~~”
Misaki berkata begitu. Lalu dirinya sambil bernyanyi, mencoret-coret di tangan Iori yang dibalut kain itu dengan spidol.
Mungkin karena tertarik, Mashiro mendekat tanpa segan dan mengulurkan tangannya mengambil spidol berwarna coklat mengikuti Misaki mencoret-coret. Kalau diperhatikan, itu ada karya ‘Kucing Falaksi Nyaboron’ mereka saat festival budaya tahun lalu. Yang Misaki gambar itu adalah antagonisnya, si ‘Ein the Catphotic’, dan yang digambar Mashiro adalah tokoh utamanya ‘Nyaboron’.
Sebelum lukisannya selesai, Kanna sudah selesai mengiris apelnya. Apel yang seharusnya berbentuk kelinci itu, setelah diiris, bagian luarnya menjadi bersiku siku, dan tersisa kulit apelnya dimana mana.
Awalnya rasnaya terkejut, tapi ternyata Kanna tidak begitu pandai dalam hal memasak, mungkin karena tidak ada banyak waktu untuk mencoba memasak.
“Sudah selesai.”
Kanna dengan garpunya menusuk apelnya dan mengantarnya ke depan mulut Iori.
“Apa ini?”
Tentu, Iori terlihat tidak senang.
“Apel.”
“Bukannya ini malah terlihat seperti batu yang tidak berbentuk?”
“Kalau begitu tak usah makan saja.”
Kanna menaruh kembali garpunya. Di tangannya tertempel 2 buah plester luka.
Lalu Iori mengulurkan tangan kirinya yang tidak terluka, dan merebut apel yang tertusuk garpu itu dari tangan Kanna, lalu dengan membuka mulutnya lebar-lebar, dan memasukkan batu tidak berbentuk itu.
“Sorata-senpai………..apel itu kuat sekali, ya.”
Iori menatap ke apel dengan tatapan penuh kasih dan lemah lembut itu.
“Kalau boleh, beritahu aku apa alasannya.”
“Karena biarpun bentuknya menjadi seperti ini gara-gara si Papan Rata, rasanya tetap enak.”
Sebelum Iori selesai mengatakannya, Kanna dengan kuat memukul kepalanya.
“Sakit~~sekali!”
Iori protes.
“Tangan juga sakit.”
Kanna yang baru memukul Iori itu memberitahu.
Biarpun begitu, anggap saja itu bukti hubungan mereka yang baik.
"Ah, ya. Hari ini aku sempat bertemu dengan teman Iori.”
“Naoya dan Sho bukan?”
“Hn.”
“Apa yang mereka katakan?’
“Mereka sangat khawatir dengan kondisimu.”
“…………begitukah.”
Iori sedikit merendahkan pandangannya, dan dengan ekspresi yang sedih mengigit apelnya.
“Apa temanmu yang ada di jurusan musik tidak datang menjengukmu?”
Kalau Naoya dan Sho sampai datang bertanya dengan Sorata, sepertinya begitu.
“Tentu saja mereka tidak akan datang.”
“……………”
“Kalau posisiku sama dengan mereka, aku juga tidak akan datang. Karena tidak tahu apa yang harus kukatakan, juga tidak tahu harus hadapi seperti apa………..”
“Begitukah.”
“Dengan mendengar suaranya saja bisa tahu berapa banyak latihan yang dilakukan, jadi tidak bisa dibilang tidak berhubungan sama sekali. Walaupun saat lomba mereka akan menjadi saingan, tapi kalau mengikuti lomba dengan orang yang kita kenali, juga tidak akan ada niat seperti ‘kalau saja dia melakukan beberapa kesalahan’………..tapi terkadang juga akan ada beberapa yang menyebalkan. Di saat orang itu sedang bermain, aku akan berdoa seperti ‘cepatlah lakukan kesalahan~~!’. Pokoknya, seperti itulah rasanya.”
“……………”
“Maaf, penjelasanku kurang jelas."
Saat ini, percakapannya terputus.
“Kanda, mungkin sudah saatnya masuk ke topik utama?”
Yang berbicara itu adalah Ryuunosuke. Pandangannya tertuju pada laptopnya itu. seperti sedang mengecek e-mail yang ada.
“Topik utama?”
Bersamaan dengan suara Iori, Mashiro, Misaki dan Kanna juga memindahkan pandangan mereka ke Sorata. Suasana seperti ini tidak mengizinkan Sorata untuk kabur ke mana pun.
“Nah, Iori.”
“Ya?”
“Mau membuat game bersama?’
“………….”
Mungkin kurang mengerti dengan yang dimaksud Sorata, Iori mengedipkan matanya beberapa kali.
Dan yang pertama memberi reaksinya itu adalah Misaki. Ia berteriak bahagia seperti ‘uwooo!’
Lalu Mashiro malah dengan tidak begitu senang melihat ke Sorata. Mungkin karena dirinya tidak diminta membantu apapun, jadi rasanya seperti dirinya dikucilkan.
Lalu Kanna menunjukkan ekspresi yang sedikit serius.
“Sekarang aku dan Akasaka sedang menyiakan proyek kami untuk berpertisipasi dalam sebuah lomba. Tapi kalau secara kasar, sebenarnya baru dimulai hari ini.”
Sorata mengeluarkan catatannya dari tasnya, membuka catatannya dan menaruhnya di depan Iori. Tentu, yang terbuka itu adalah halaman yang berkaitan dengan ‘Rhythm Battler’ versi sempurna.
“Yang ingin kukatakan adalah, semoga Iori bisa berpartisipasi dalam tim kami dan membantu kami dalam bagian musik.”
“………….”
Iori melamun beberapa saat.
“Senpai, sepertinya tidak perlu membicarakanya di saat seperti ini.”
Kanna menegur dengan suara yang tenang. Tentu, Sorata sendiri juga sangat memahami itu.
Tangan kanan Iori yang penting itu keseleo, bahkan untuk bermain piano pun ia tidak bisa. Kalau ingin kembali bergerak seperti biasanya, dan sembuh total, bahkan membutuhkan waktu sekitar 6 bulan, kenyataan ini berada di depan mata Sorata.
Namun, Sorata tetap memutuskan untuk mengundang Iori.
Karena dia sadar sejak Iori rawat inap di rumah sakit, tidak hanya piano, bahkan hal-hal tentang musik juga terus dihindari Iori……….headphone yang dibawa Kanna juga tidak pernah dipakai sekali pun oleh Iori dan dilemparkannya ke dalam keranjang yang ada di bawah meja dan ditimpa handuk, membuat orang merasa itu memang sengaja disembunyikan.
Karena itulah, Sorata terus berpikir semoga ada suatu kesempatan.
“Kenapa aku?”
Setelah sesaat, Iori bertanya dengan ragu.
“Kalian mengenal kakakku, 'kan? Kalau begitu, kalian bisa meminta kakakku untuk membantu………… Animenya Misaki-senpai bukannya sudah membuktikan kemampuannya?”
“Sepertinya otaknya masih berjalan seperti biasa, jadi bisa lega. Seperti yang kepala sarang burung katakan, akan lebih baik kalau begitu.”
“Hoi, Akasaka…………..”
“Aku hanya mengatakan kenyataan saja.”
Di saat Sorata ingin protes, langsung diputuskan oleh perkataaan Ryuunosuke.
“Sorata-senpai, kenapa memilihku?”
Iori sekali lagi mengeluarkan pertanyaan yang sama.
“Karena aku merasa kalau aku bisa membuat tim dengan Iori, pembuatannya pasti jadi menyenangkan.”
“………..”
Iori tidak mengeluarkan suara, seperti ingin Sorata menjelaskan lagi.
“…………”
Namun, setelah mengatakannya dengan jujur, Sorata sudah tidak tahu harus katakan apalagi.
“Eh? Apa………hanya begitu?”
Iori terkejut, dan membuka matanya lebar-lebar.
“Ah, tentu saja karena aku percaya dengan kemampuanmu di bidang musik.”
Sorata dengan buru-buru menambahkan.
Mungkin merasa lucu, Iori tertawa. Bahkan Misaki yang awalnya diam itu juga akhirnya tidak tahan dan tertawa.
“Dalam artian lain, sifat Sorata yang sejak awal memang terlihat bodoh itu termasuk salah satu bakatnya.
Ryuunosuke mengatakan sesuatu yang tidak bisa membuat orang senang.
Mashiro sepertinya masih tidak begitu paham dengan situasi ini, lalu dengan tidak mengerti memiringkan kepalanya.
Hanya Kanna yang sampai akhirnya tetap dengan ragu menutup bibirnya.
“Sorata-senpai.”
Setelah Iori selesai tertawa, ia memanggil Sorata dengan suara yang segar.
“Hn?”
“Tolong beri aku waktu untuk memikirkannya.”
“Hn, tentu saja.”
“Tapi aku ingatkan dulu, ini sama sekali bukan main-main. Jadi pikirkanlah baik-baik.”
Ryuunosuke memberi pernyataan yang berat.
Namun, Iori tetap menjawab dengan nada yang ceria :
“Aku mengerti.”
Lalu saat ini, ibu Iori yang pergi mengambil pakaian ganti yang selesai dicuci itu kembali.
“Wah, hari ini juga begitu banyak yang datang menjenguk ya.”
Ia dengan segan menganggukkan kepalanya untuk memberi salam.
“Maaf mengganggu.”
Sorata juga ikut menganggukkan kepalanya.
“Maaf tidak bisa menyiapkan makanan untuk kalian, silahkan ngobrol dengan Iori sampai puas.”
Setelah selesai mengatakannya ia pun mulai melipat pakaian ganti bersih yg ia ambil tadi. Dan Kanna terlihat ingin membantu.
Bagaimanapun ia tidak terbiasa dengan celana dalam laki-laki, jadi ekspresinya terlihat sedikit kaku, namun ia tetap menyelesaikan lipatannya setelah beberapa menit.
Melihat ke jam yang ada di kamar, sebentar lagi waktu untuk menjenguk selesai---sore jam 6.
Lalu saat ini…………
Ibu Iori dengan santai mengatakan :
“Nah, Iori.”
“Hn? Ada apa?’
“Kemarin aku sudah berbicara dengan ayahmu di telepon……….”
Sepertinya sedikit susah untuk dikatakan.
“Apa itu?”
“……….kau boleh menyerah tentang piano.”
Kalimat itu dengan perlahan…….menyebar ke seluruh ruangan ini, dan berhasil menembus ke bagian hati terdalam Iori.
Setelah Iori berpikir sangat lama, akhirnya ia berkata :
“…………aku tahu.”
Sebenarnya apa yang ia ‘tahu’? Apa itu maksudnya tahu mengenai maksud orangtuanya ataukah tahu dengan perasaannya diri sendiri, atau situasi yang sedang ia alami? Mungkin saja bukan itu semua, juga bisa saja itu semua. Sorata tidak bisa membuat kesimpulan.
Namun, sudah tidak ada waktu yang cukup untuk menyelesaikan pertanyaan ini.
Bel yang menandakan jam untuk menjenguk sudah habis. Sebelum bunyi belnya habis, perawat yang sedang berpatroli itu memberitahu : ‘Jam untuk menjenguk pada hari ini sudah selesai’, dan mereka tidak bisa berada di ruangan pasien lagi.
“Kalau begitu, aku akan datang lagi.”
Sorata dan yang lainnya meninggalkan ruangan pasien.
Misaki mengemudikan mobilnya dan mengantar semuanya pulang.
Ia duduk di tempat pengemudi, dan Mashiro duduk di sampingnya, sedangkan Sorata dan Ryuunosuke duduk di belakang. Karena Kanna ada pertemuan dengan editornya, jadi mereka berpisah di rumah sakit, sepertinya pertemuannya diadakan di café yang ada di dekat stasiun.
Di dalam mobil yang sedang bergerak itu, masih terasa suasana yang ada di ruangan pasien sebelumnya, meskipun Misaki sedang bernyanyi lagu tema kucing galaksi Nyaboron.
“Kalau seperti itu, si kepala sarang burung sepertinya tidak bisa berpartisipasi dengan kita.”
Ryuunosuke dengan bosan melihat ke arah luar jendela.
Sorata juga berpikir begitu. Kalau dipikirkan lagi memang masuk akal, betapa pentingnya kehadiran piano bagi Iori, juga betapa beratnya piano itu bagi Iori. Dari dulu hingga sekarang piano terus berada di sekitarnya, seperti piano itu bagian darinya. Contohnya seperti lukisan adalah segalanya bagi Mashiro.
Lalu ini berarti Iori akan kehilangan pianonya.
“Bagaimana? Kanda? Mau menyerah untuk berpartisipasi?”
“Tidak, tidak peduli apapun keputusan Iori, aku akan mengikutinya.”
Sorata menyadari Mashiro sedang melihat ke arahnya.
“Karena kalau tidak manfaatkan kesempatan kali ini, entah kapan lagi akan ada kompetisi seperti ini.”
“Sorata, harus berhasil melewatinya.”
Mashiro berbisik.
“Mashiro?”
Sorata balik bertanya, dan terdengar suara dari sampingnya :
“Biarpun si kepala sarang burung ikut, kalau proyeknya tidak lolos, bahkan pembuatannya tidak perlu. Jadi harus lolos tahap penyeleksian.”
“Hn……….seharusnya memang begitu.”
Rasanya menjadi sedikit lega.
“Baik~~kalau begitu, setelah pulang harus segera membuatnya ya, Kouhai-kun!”
“Eh? Sudah kubilang Misaki-senpai tidak boleh!”
“Tidak akan bisa untuk tidak boleh!”
Misaki membalas dengan suara seperti laki-laki.
“Lalu kalau dilihat dari situasi sekarang, bahan gambar untuk versi demo-nya belum cukup.”
“Bagus, Dragon!”
“Aku juga ingin menggambar.”
Apa harus dianggap beruntung? Bahkan Mashiro juga berkata begitu.
“Tidak, ini juga tidak boleh! Kau fokus saja untuk menggambar komikmu.’
“Tapi kalau dilihat dari situasi sekarang, bahan gambar untuk berkas yang akan dipakai untuk berpartisipasi belum cukup.”
“Bagus sekali, Dragon.”
Sepertinya kata ‘Dragon’ mulai menjadi sebuah trend.
Dan Ryuunosuke dilirik tajam oleh Sorata.
Tentu saja itu maksudnya adalah ‘kau sudah terlalu banyak berbicara’.
“Apa aku salah?”
“Tidak.”
“Kalau begitu jangan menatapku dengan tatapan yang menyebalkan itu.”
Sorata tidak bisa menahan tawanya terhadap sikap Ryuunosuke yang berbeda dengan biasanya.
Setelah sadar, di dalam mobil sudah kembali ke suasana yang ceria.
Karena bersama orang lainlah jadi bisa mengganti suasana, karena bersama dengan penghuni Sakurasoulah jadi bisa terus melangkah maju. Sorata berpikir pasti akan bagus kalau Iori juga bisa berpikir seperti itu, dan tersenyum.
“Kanda, ekspresimu sangat menjijikkan.”
“Jangan menghancurkan suasana hatiku yang sedang bagus!”
“Benar, benar.”
“Bahkan kau juga, Mashiro?!”
Don’t mind! Kouhai-kun!”
“Apa senyumanku begitu jeleknya………..?”