CHAPTER 1 PHASE 1
(Translater : Bonn)

Setiap kali Arato tertidur, ia selalu memimpikan dua hal yang sama setiap malamnya.
Yang pertama adalah sebuah  mimpi tentang sebuah kobaran api besar yang datang berasal dari koridor rumahnya. Sebuah mimpi buruk di mana seluruh dunia tersapu oleh sebuah tsunami berupa api berwarna merah menyelimutinya, seakan – akan siap menerkam seluruh tubuhnya.
Yang kedua adalah, sebuah memori tentang seekor anjing yang sedari tadi terus melihat ke arahnya dan menggoyang – goyangkan ekornya.
Pada suatu ketika, Arato harus dirawat di rumah sakit karena luka bakar serius akibat ia terperangkap di dalam kobaran api yang menyala – nyala dalam musim panas yang begitu kering. Saat ia masih dirawat disana, ia biasa duduk di sebuah halaman depan rumah sakit dan menatap semua orang yang lewat di depannya. Arato baru saja mulai masuk sekolah dasar. Ayahnya selalu sibuk setiap saat, dan adiknya masih bayi. Jadi keluarganya hanya berkumpul sesekali, dan Arato percaya bahwa dia tidak perlu repot – repot berkumpul dengan keluarganya.
Dalam ingatannya yang masih kabur, memori hanyalah sebuah mimpi di siang bolong. Ia akan mengambil secara rutin obat penghilang rasa sakitnya, dan dunia serasa terhenti, hanya jika ia bisa menyingkirkan ingatan itu dari otaknya.
Lalu, anak anjing putih itu memasuki dunianya. Anak anjing itu mengendus – ngendus Arato dengan rasa ingin tahu yang tinggi sebelum Arato menyadarinya bahwa anak anjing itu berada di kakinya.
“Sepertinya ia ingin menjadi temanmu,” kata perawat muda itu. Dia tidak pernah bisa mengingat wajahnya. 
Tapi dia bisa mengingat bagaimana anjing itu berjalan dengan malu – malu disampingnya saat dia mengelus-ngelus kepalanya. Anjing itu ingin dan semakin ingin meminta lebih dari Arato, mengais – ngais padanya seakan – akan memintanya menggaruk dagunya.
Anjing berbulu putih pendek itu seakan – akan terikat padanya, mengibaskan ekornya dengan penuh semangat, mengitari kaki Arato, membuat Arato tak punya pilihan lain selain bermain dengannya, meskipun karena ia sendiri berada dalam kondisi yang cukup serius.
Beberapa hari kemudian perawat itu muncul kembali, kali ini perawat itu membawa seorang bocak laki – laki seumurannya . “Anak ini ingin sekali berkumpul dengan geng kecilmu, Arato.” Kata perawat itu.
Arato melihat tubuh bocah laki – laki itu yang terlihat kurus kering dan berpikir bahwa bocah laki-laki itu berada dalam kondisi yang begitu sakit. Arato kemudian menyadari bahwa bocah laki – laki itu tidak bisa makan makanan rumah sakit dan harus diinfus. Saat itu, meskipun Arato tidak begitu yakin tentang apa yang harus dilakukannya, dan ia juga tidak bisa melihat mata anak laki – laki itu. Hanya anak anjing itu yang bereaksi dengan kedatangannya, dengan mata yang berseri – seri dan penuh dengan kegembiraan. Anjing itu tidak bisa memilih mana salah satu dari mereka yang akan diajak bermain berikutnya, jadi anjing itu hanya berjalan mengitari mereka dengan lidahnya yang menjulur ke luar.
Perasaan seseorang dipengaruhi oleh tindakan orang lain. Mereka dipengaruhi oleh hal – hal lain selain orang. 
Arato melihat ke arah wajah bocah laki – laki itu yang berdiri di sana. Anak itu menunjukkan ekspresi yang begitu gelap, seolah – olah ia sedang tersesat di malam hari. Ia seperti ingin menangis meminta tolong tapi ia tidak tahu bagaimana caranya. Dia seperti menyimpan semua rasa sakit itu sendiri.
Kemudian Arato mendengar suara menggelegak dari bawah kakinya. Ekor anak anjing itu berkibas-kibas cukup kencang membuat kaki belakangnya seakan – akan memberi jalan. Seperti pada saat dunia memberikan Arato sebuah kesepian, gumpalan rasa bahagia serasa akan meledak.
“Dia terlihat sangat bahagia, bukankah begitu?” kata Arato, kata – katanya memecah kesunyian.
Untuk beberapa alasan kehangatan yang ia rasakan dari anak anjing itu membuatnya ingin menangis.
Anak anjing itu mengendus – ngendus lantai itu dan kemudian mengarahkan pandangannya ke atas, ke arah Arato. Itu seperti, anjing itu mencoba menghibur Arato dengan ekspresi bahagianya yang Arato sendiri tak bisa melakukan apapun selain larut dalam emosi bahagia anjing itu.
Anak laki – laki yang berada di depan Arato tidak terlihat terluka seperti Arato, tapi bibirnya masih tetap tertutup rapat.
Itu tidak mudah untuk mengangkat tangannya dalam situasi ini, tapi Arato memutuskan untuk membuat gerakan pertama.
“Namaku Arato Endo.” Mengumpulkan semua keberaniannya, Arato mengambil langkah pertama, langkah yang ia sendiri tidak begitu yakini. “Apakah kau mau menjadi temanku?”

Cahaya matahari masuk ke dalam kelas itu melalui jendela itu.
Arato Endo tergeletak di kursi itu, sambil menguap. “Bagaimana mungkin bisa terasa begitu panas padahal masih bulan April.”
Langit di luar jendela itu terlihat bersih dari awan dan begiu kering, Arato memandangi langit – langit kelasnya.
“Aku selalu kagum denganmu yang berani tidur di dalam kelas.” Kata itu berasal dari seorang anak laki-laki yang berdiri di sebelah Arato. Dua kancing baju atasnya terlihat terbuka. Orang itu adalah Ryo Kaidai, yang datang ke samping Arato sebelum pergantian jam pelajaran.
“Kau juga Ryo. Kau tidak lebih baik dari Arato.” Orang berikutnya yang berbicara adalah penghuni dari tempat duduk tepat di belakang Arato: Kengo Suguri.
Ryo kemudian menjadi terpengaruh oleh kata – katanya yang menusuk. “Oke, tapi aku menutupinya dengan buku kemarin.”
Arato tak pernah mengerti mengapa Ryo memutuskan untuk pergi ke sekolah biasa. “Ya ampun, aku harap aku punya otak sama sepertimu untuk berbagi.”
“Tidak perlu sampai seperti itu, teman.” Ryo mencoba untuk terlihat keren, meskipun sebagian dari dirinya merasa senang dengan pujian itu yang mengarah pada kemampuan otaknya. “Bagaimanapun juga, apa sebenarnya tujuan sekolah akhir – akhir ini? Itu adalah sosialisasi. Kita disini belajar untuk berhubungan secara personal, selesai. Otak dan kemampuan akademi---pemikiran seperti ini sudah sangat tua, dan itu akan hilang pada generasi berikutnya.”
Sementara itu, Kengo mentransfer sebuah catatan kelas yang ia ambil dari ClassCom ke PortaCom miliknya. 
“Aku sangat mengagumi kemudahan menjadi orang kaya. Bahkan untuk alasan – alasanmu untuk bermalasan-malasan sudah memberikan rasa sakit pada mereka.”
Layar elektronik di meja Arato kemudian memunculkan sebuah tanda peringatan, membuat Arato serasa gatal. Dia mengambil kartu PortaCom-nya dari sakunya untuk mengecek. Yap, itu adalah PR ekstra, khusus untuk Arato saja, tanda deadline di dalam layar itu terlihat menyolok dengan karakter merahnya. “Ya ampun! Kenapa hanya aku yang mendapat tugas tambahan?”
Ryo melanjutkan penjelasannya tentang teorinya dengan cukup lantang tentang nasib sial yang menimpa Arato. “Yah, dari yang aku lihat, sepuluh tahun dari sekarang tugas seorang pria di masyarakat adalah tidak lebih dari menemukan seorang gadis untuk menjadi teman mereka.” Dia mencontohkannya seperti seorang tukang bunga, and itu terlihat seperti akhir dari pernyataanya yang ia buat untuk menarik perhatian hampir setengah kelas 11C, terutama kepada dua puluh siswi perempuan di kelasnya.
“Aku cukup terkejut ketika mendengarmu bisa berbicara seperti itu dengan mudahnya, Ryo.” Kata Kengo.
“Kenapa?”
“Yah, apakah kau tidak pernah mencoba keberuntunganmu dengan salah satu murid perempuan di kelas ini?” tanya kengo.
“Tentu saja. Itu adalah resolusi tahun baruku. Mencobai setiap wanita di kelas ini setiap minggunya. Kau tidak bisa menyalahkanku untuk hasilnya.”
Ada sesuatu yang tidak beres tentang bagaimana tiga anak laki – laki itu berinteraksi dengan siswa lainnya di kelas itu. Itu seperti mereka tidak dapat masuk ke dalam suasana kelas mereka, dan memang tidak, untuk niatan Ryo yang ingin menguasai setiap gadis di kelasnya, memang mendapat modal yang lebih dari cukup. 
Ryo cukup tampan dan ia memang pintar dalam pelajaran. Kebiasaanya untuk berganti – ganti pasangan sudah cukup membuat persaingan antara wanita di kelasnya semakin rumit, tapi kemudian para gadis tersebut dapat menyimpulkan bahwa Ryo hanyalah seorang bajingan.
Lalu akhirnya,, Ryo dijauhi oleh seisi kelas---juga oleh murid laki – laki disini. Jadi ia kembali ke grup lamanya dengan mereka bertiga.
Alis Arato basah oleh keringat. “Ryo, kau bilang jika tugas sekolah hanyalah untuk mengajarkan tentang sosialisasi dan hubungan pribadi sesorang kan? Jadi, kenapa kau tidak berusaha melakukan sesuatu tentang hal itu?”
“Apakah minggu ini kau sibuk, sobat? Aku bertemu dengan beberapa gadis dari distrik sebelah. Mau ikut?” 
Ryo meraih pundak Arato dari belakang.
“Jangan aku. Aku sudah berjanji dengan adikku untuk pergi…”
“Ayolah, jangan pergi bersama dengan adikmu itu, sobat. Kau tahu sendiri jika pengeluaranmu bulan ini cukup menguras dompetmu kan. Kenapa kau harus pergi bersama dengan adikmu jika itu hanya menghabiskan uangmu?”
“Sudahlah. Kau tahu sendiri Yuka itu seperti apa,” lanjut Arato.
“Katakan Ryo, kau suka kan jika Arato terlibat dengan hal – hal seperti ini, bukankah begitu?”
Ryo meringis seperti orang bodoh.. “Yah, itu kegunaan dari Arato.”
Arato tak pernah bisa mengerti sisi Ryo yang ini. Apakah dia itu terlalu brilian sehingga kepintarannya berakhir dengan menjadi orang bodoh? Dan apakah dia dan Kengo sama – sama bodohnya untuk melanjutkan hal – hal seperti ini?”
Pemandangan kota yang terlihat di luar kota itu, terlihat begitu berkilauan. Panel – panel surya dari arah kompleks perumahan sepanjang sungai itu memantulkan cahaya matahari.
Itu adalah bulan April, dan semester ketiga baru saja dimulai.
Jepang sudah sejak lama menyesuaikan kalender sekolahnya sama seperti sistem sekolah di Amerika untuk memulai sekolah di bulan September. Aneh jika berpikir sekarang kalau pada dahulu kala, ratusan tahun yang lalu, saat bulan April yang penuh dengan bunga sakura yang bermekaran, upacara menyambut tahun ajaran baru akan digelar.
Arato dan kedua temannya melewati jalan dimana bunga sakura biasa bermekaran di sepanjang sungai Sumida yang biasa mereka lewati. Mereka bertiga memperhatikan jembatan Kototoi yang terkenal itu, yang satu abad yang lalu pernah ambruk. Kemudian mereka melewati celah sempit di reruntuhan monument batu kuil Ushujima sebelum mereka berdua masuk kedalam pipa yang ditanaman jalur Bokutei di tepi sungai Sumida.
“Apa yang akan kita lakukan untuk festival bunga Sakura tahun ini?” pikir Arato. Dia duduk sambil memandangi tanggul sungai Sumida, tepat di sebelahnya adalah sebuah monument batu yang masih baru. Itu adalah sebuah monument memorial untuk mengenang bencana yang terjadi di jembatan Azuma yang mengubahnya menjadi tumbukan batu. Contohnya, cukup mudah untuk menemukan sebuah karangan bunga di sini, di memoriam ini.
Ryo melepaskan seragamnya karena cuaca yang cukup panas di bulan April ini. “Kenapa kita tidak membuat minggu ini menjadi festival bunga Sakura kita sendiri?”
“Ahh, kau tidak mudah menyerah, ya.” Kata Arato. “Berapa banyak gadis yang akan kau undang heh?” dia menekan sebuah tombol kecil di seragamnya itu untuk mengaktifkan sistem pendinginnya yang dipasang di bajunya. Arato pun merasa lebih sejuk.
Ryo melihat lurus ke arah Arato dan menunjukkan jarinya. “Empat gadis.”
“Yah, kau lebih baik berbicara sesuata pada mereka. Meskipun kau mengajak Kengo dan aku, itu  masih berjumlah tiga orang.”
“Arato, Arato, Arato.” Ejek Ryo, “Kenapa kau selalu menganggapku hanya mempunyai dua orang teman?”
“Kau memang cuman punya dua orang teman,” kata Arato.
“Kata – katamu sungguh menyakitkan, Arato…”
Seluruh area yang mengitari kantor lingkungan Sumida lama secara besar – besaran diperluas selama lima puluh tahun terakhir ini. Sebuah jalan baru dengan Grid System  masing – masing dari jembatan Azuma dan jembatan Komagata.
Mobil – mobil melewati mereka, sama seperti aliran air yang mengalir, melalui jalan lebar itu menuju tujuan mereka masing – masing. Kemacetan hanyalan cerita lama karena sekarang sekarang mobil – mobil sudah dilengkapi oleh sistem Autocruise sebagai standarnya.
Ketiga anak laki – laki itu mendekati tempat penyeberangan dimana seorang wanita tua dengan pelan-pelan  berjalan menyusurinya. Seorang gadis dengan seragam kuning berada disampingnya, memegangi tangannya.
Tanpa disuruh, Arato melesat untuk membantu nenek tua itu. “Aku akan membantunya juga.”
Kengo yang merasa hal itu adalah dunianya, menghentak Arato. “Kau tahu kalau gadis itu bukanlah manusia, bukan?” dia memanggil Arato kembali.
Gadis itu memiliki rambut sebahu, dan semua penampilan dan perilakunya membuat beberapa orang ketakutan.
Kengo tahu tentang banyak tentang dunia komputer dan mesin, meskipun. “ Lebih baik jangan mengganggu saat sebuah Interfacer sedang bekerja. Kau hanya akan mengganggunya.” Yang Kengo maksud tentu saja adalah hIE, Humanoid Interface Element, sebuah android dengan bentuk manusia. Sebuah hIE mampu melakukan hampir semua pekerjaan yang manusia bisa lakukan. Kekurangan tenaga kerja sudah bisa tertangani dengan baik dan itu hanyalah masalah masa lalu, dan dunia adalah tempat yang jauh lebih nyaman, paling tidak untuk manusia didalamnya.
“Tapi aku ingin membantu.” Arato lari menuju penyeberangan jalan penyeberangan tersebut. Android berbentuk perempuan itu melihat dia, mendekati dan tersenyum padanya.
“Bisakah aku membantumu, Nek?” kata Arato kepada nene k tua itu. “Barang bawaan Anda terlihat cukup berat.”
“Ohh, terima kasih anak muda,” nenek tua yang memiliki postur bungkuk itu membalas Arato, dengan senyumnya yang ramah sambil berterimakasih.
Manusia tidak bisa menunjukkan emosi mereka secara langsung, jadi mereka meekspresikannya melalui tindakan. Namun, akhir – akhir ini para android tersebut mampu melakukan hal yang sama seperti manusia.
Dunia yang Arato dan kedua temannya tinggali, adalah sebuah dunia dengan gaya hidup modern. Di tahun  2015 M, roda kehidupan masyarakat berputar dengan lebih baik karena para android tersebut berfungsi seperti pelumas pada roda. Membuat semua roda kehidupan masyarakat menjadi lebih baik.
“Aku bertaruh kau adalah tipe orang yang gampang dibodohi,” kata Ryo, sekarang mereka sudah mendekati sebuah daerah perbelanjaan di sekitar stasiun subway jembatan Azuma.
“Apa yang kau bicarakan?” kata Arato. “Aku hanya berpikir kalau lebih baik bersikap baik pada seorang gadis, itu saja. Kalian berdua bisa saja mempelajari sesuaiu dari benda itu, bukan!”
Jika diperhatikan dengan seksama, banyak sekali hIE yang berada di sekitar mereka. Keramahan mereka tidak akan pernah membuat industri – industri tertentu meresa cukup, dan beberapa industri makanan dan minuman pasti menggunakan jasa mereka.
Jika mereka membicarakan hal – hal seperti ini, maka Kengo adalah ahlinya. “Sekarang, bisakah kamu beritahu aku, apakah gadis yang sedang memasak takoyaki itu adalah sebuah hIE?” dia menunjuk seorang gadis dengan rambut keriting berwarna pirang itu di sebuah stand takoyaki yang berada di persimpangan jalan Asakura. “Atau para pelayan di restoran soba. Dan para petugas kasir di supermarket di arah jalan menuju Skytree. Mereka semua adalah hIE yang diprogram untuk membantu manusia yang membutuhkan.”
“Mereka memang terlihat suka melayani, bukankah begitu?” kata Arato.
Saat mereka bertiga melihat gadis itu, gadis hIE yang berada di kios takoyaki itu memanggil mereka saat mereka bertiga melewati kios tersebut. “Apakah Anda bertiga mau membeli takoyaki hangat yang baru saja diangkat dari panggangan, Tuan?” gadis itu tersenyum. Tidak ada satu tetespun keringat di wajahnya.
Ryo memperhatikan gadis itu. Gadis itu sangatlah berbeda dengan gadis yang ada di kelaasnya. Sekarang tatapannya begitu keras dan dingin. “Arato, hIE tidak suka melayani. Mereka tidak suka melakukan apapun. 
Atau kau adalah tipe orang yang ketika melihat motor berjalan kemudian berkata ‘ya ampun, apakah motor itu tidak suka melaju kencang’?”
“Lalu kenapa memangnya kalau aku seperti itu? Apakah aku tidak boleh berpendapat seperti itu?” kata Arato.
“Tentu saja, dan kau memilih untuk tinggal di dunia yang tertinggal juga,” kata Ryo,
“Dan kita semua tahu kalau semua penduduk yang tinggal di tempat tertinggal akan kalah jika berhadapan dengan perkembangan teknologi yang semakin maju,” Kengo melanjutkan.
“Oke, kalian berdua tahu aku seperti apa. Maju bersama teknologi yang semakin berkembang atau hancur karenanya. Itu sudah menjadi tugasku untuk temanku yang tidak terberkati sebuah uluran tangan.
Dan mereka bertiga pun pergi, seperti biasa, ketiga sahabat itu beradumulut tentang semua hal yang tidak penting.
Hanya setelah itu, Arato melihat sesuatu di sudut matanya. Sesuatu yang di luar pemikirannya.
Seekor kucing hitam muncur dari jalan sempit di belakang restoran soba itu. kucing itu menggeret sesuatu dengan mulutnya.
Kucing itu terlihat kesulitan dengan benda itu yang besarnya sekitar panjang tubuh kucing itu. Sebuah benda yang cukup asing, berkilauan di cahaya matahari siang itu.
Sebuah lengan manusia.
“Uggh… apa itu…”  darah naik ke kepala Arato.
Itu adalah lengan kanan atas, untuk lebih jelasnya, tangan itu diselimuti kulit putih yang terlihat begitu halus. Kucing itu kabur dari tempat itu, meninggalkan anggota tubuh itu.
“Terjadi lagi, ya…” seru Kengo, mengangkat tangan itu dan menggoyangkannya dari samping ke samping. 
Sebuah pipa kecil terlihat menjulur dari penampangnya diman lengen itu putus dari hahunya, dan semacam cairan mulai jatuh dari tangan itu. “Sudah ada beberapa kasus seperti ini akhir – akhir ini. Beberapa orang dengan sengaja menghancurkan sebuah hIE. Tapi sayangnya keberadaan mereka masih belum diketahui. Membuat kotor saja.”
“Membuat kotor? Apa kau tidak mereasa kasihan dengan mereka? “ tanya Arato.
Lengan itu mulai berdenyut. Tangan halus putih itu terlihat mirip sekali dengan gadis kecil itu. memang benda itu  tidak berasal dari manusia, tapi tangan itu terlihat mirip sekali dengan tangan manusia.
“Untuk pemilik hIE, mungkin.” Kengo melanjutkan kata – katanya. “Bagi para pemilik hIE, mereka tentu saja melihat hal seperti ini seperti sampah---harga rata - rata sebuah hIE adalah sama dengan harga sebuah mobil.”
Arato berjalan maju untuk memegang tangan yang terputus itu, tapi Ryo meletakkan tangannya di bahu Arato untuk menahannya. “Jangan pegang benda itu, kau tidak tahu darimana benda itu berasal!”
“Tapi kita tidak bisa membiarkannya di tempat seperti ini.” kata Arato. Dia berpikir jika gadis dengan seragam kuning yang membantu wanita tua itu menyeberang jalan mengalami hal seperti ini. Cukup menyakitkan hati jika ia mengalami hal yang sama.
“Arato, aku pikir kau melupakan sesuatu.” Ryo melanjutkan kata – katanya. “Saat para hIE ini membantu orang, mereka hanya melakukan apa yang telah diprogram di kepala mereka. Saat mereka melihat sesuatu seperti manusia, mereka akan bertingkah manis dan baik kepada orang – orang. Membuat orang – orang semakin banyak membeli mereka, kau tahu?” Ryo melihat ke bawah, ke arah bagian tubuh itu. “Ini hanyalah salah satu strategi pemasaran mereka.”
Dan memang benar, walaupun mereka bertiga berada di tempat ramai seperti area belanja ini, tidak ada satupun orang yang  merasa terganggu dengan bagian tangan hIE yang dipegang oleh Kengo.
Bisa dikatakan jika teman – teman Arato tidak begitu menyukai hIE. Dan orang – orang yang sedari tadi melewati mereka bahkan tidak mencoba melihat apa yang ada di tangan Kengo. Beberapa orang memang terlihat simpati. Tapi tidak satupun yang menunjukkan reaksi seperti ketika menemukan tangan manusia yang terputus
Hal yang sama juga terjadi pada Arato, tentu saja. Dia tidak lagi merasakan adanya bahaya atau hasutan ketika ia pertama berpikir jika lengan itu adalah lengan manusia.
Walaupun begitu, lengan itu memang terlihat seperti manusia. Bukankah seharusnya lengan itu juga mendapat perlakuan yang sama?
“Bawa saja lengan itu ke kepolisian,” kata Arato. “Aku tidak bisa membiarkannya  disini begitu saja."