KENANGAN DI MASA LALU
Berdiri di tengah sebuah dojo yang bermandikan cahaya merah pekat, gadis itu memanggil pria di hadapannya lagi dan lagi.
Suaranya dipenuhi kegelisahan, tapi laki-laki paruh baya beruban tersebut tertawa riang.
"Hahaha, masih terlalu cepat seratus tahun untuk menahan diri melawanku. Cukup, maju."
"Tetapi ayah …. Belakangan badanmu sudah …."
"Itulah sebabnya aku mau mempercayakan teknik ini kepadamu, sebelum aku sepenuhnya kehilangan kemampuan memegang pedang."
Berayun, pria paruh baya tersebut, ayah dari sang gadis, mempersiapkan shinai-nya[1].
"Karena aku bukan Blazer, aku tidak bisa membantumu selain dengan pedang. Teknik ini adalah hasil dari seluruh hidupku sebagai seorang ahli pedang. Ini sesuatu yang tidak pernah aku tunjukkan kepada siapa pun. Ini pasti akan berguna bagimu. Terimalah, Ayase."
Mata  sang ayah melihat lurus kepada anaknya yang bermandikan cahaya  berwarna lebih hangat dari warna merah pekat  matahari senja.
Tidak mungkin dirinya mampu menolak setelah dipandang dengan ekspresi seperti itu, karena dia sangat disayangi.
"Aku akan menerimanya … Ayah."
Dengan demikian, gadis itu …
"…."
Menyingkirkan kegelisahannya, dia mewujudkan jiwanya sebagai sebuah ‘Senjata’, sebuah katana dengan warna merah tua, lebih merah dari matahari senja dan lebih terang dari pada darah. Mencengkeram katana-nya dengan kedua tangan seperti dia meremasnya dengan ringan, gadis itu berlari maju; menuju ayahnya yang berdiri di hadapannya. Dan seperti yang diharapkan ayahnya, gadis tersebut mengayunkan pedangnya ke bawah.
Itu sesuatu yang terjadi dahulu.
Tetapi sekarang, dia telah kehilangan segalanya. Tidak ada yang tersisa dalam dirinya. Dia tidak bisa menjaga apa pun.
Hanya pemandangan dari saat itu masih membara terang di dalam kedua mata gadis itu.


1.    Shinai: pedang latihan dalam kendo yang terbuat dari bambu.