ROKUJOUMA NO SHINRYAKUSHA
JILID 1 BAB 5
MEMULAI INVASI ❤
Selasa, 7 April, 7:30 pagi.
“...Pada akhirnya, dia tidak keluar sama sekali...”
“Jika kau meninggalkannya disini bersamaku, dia pasti tidak akan
keluar."
Koutarou berhenti dengan sepatu di tangannya dan berbalik ke
ruangan dalam.
Yurika tidak pernah keluar dari lemari sejak dia melompat masuk ke
dalamnya.
Yurika yang merajuk dan ketakutan menolak keluat tak peduli berapa
kali kami mencoba membujuknya.
Dan Koutarou hampir menunda masalahnya sampai sini dan pergi ke
sekolah.
“Dia akan keluar saat dia merasa lapar.”
“Semoga saja. Tapi kalau terus begini, kita tidak akan
menyelesaikan masalahnya...”
“Kau benar mengenai hal itu...”
Koutarou selesai memakai sepatunya dan terpaksa tersenyum saat dia
berdiri.
“Cepatlah pulang, oke?”
“Ya. Aku tidak bekerja hari ini, jadi aku akan pulang lebih awal
dari kemarin.”
“Ya, pulanglah dengan selamat.”
''Aku diantar keluar...''
“Ya, sampai jumpa nanti.”
''Dan mengatakan sampai jumpa...''
Mereka berdua yang sudah bertengkar memperebutkan kamar ini,
mengatakan kata-kata itu. Anehnya, kata-kata itu tidak terasa aneh.
Saat Koutarou keluar, dia melihat Kenji, yang sedang meninggalkan
sepedanya di parkiran sepeda di depan apartemen.
“Hei, Mackenzie.”
“Pagi, Kou.”
Sudah mengunci sepedanya, Kenji mendekati Koutarou yang sedang
menguap.
“Fuaaaaaaaaa...”
“Apa, kurang tidur lagi?”
“Semacam itulah. Aku sulit untuk tidur...”
“Hantu itu?”
“Itu hanya sebagian saja.”
Koutarou merasakan guncangan tiba-tiba.
“Eh?”
Pada awalnya, Koutarou menyangka kalau guncangan itu katena dia
sedang bergerak, tapi dia tetap berguncang walaupun dia sudah berhenti.
“Ada apa?”
“Tanahnya berguncang kan?”
“Hm? Iya, setelah kau bicara begitu, tanahnya sedikit berguncang.”
“Gempa bumi?”
“Mungkin saja. Lagipula, sepertinya tidak ada pembangunan bangunan
saat ini.”
Keudanya menatap tanah, dan setelah beberapa detik, guncangannya
berhenti.
“Sepertinya sudah berhenti.”
“Yah, sepertinya cuma sebentar.”
Saat keduanya berbicara, suara Shizuka bisa terdengar dari atas
mereka.
“Selamat pagi, Satomi-kun, Mackenzie-kun!”
Koutarou dan Kenji mendongak ke arah Shizuka, yang sedang ada di
koridor lantai dua dan sedang mengunci pintunya.
“Selamat pagi, Ibu kos-san!”
“Selamat pagi, Kasagi-san.”
“Cuacanya cerah hari ini.”
Shizuka menuruni tangga dari lantai dua.
“Apa aku membuatmu menunggu?”
“Aku tidak menunggu sama sekali, Ibu kos-san.”
“Aku juga baru sampai.”
Hari ini adalah hari pelajaran dimulai di SMA Kitsushouharukaze.
Untungnya, ketiganya secara kebetulan ada di kelas yang sama, dan
mereka memutuskan untuk pergi ke sekolah bersama-sama.
“Oh, baguslah. Ayo berangkat, ya?”
“Ya!”
“Oke. Tapi Kou, kau anehnya sopan pada Kasagi-san.”
“Kau benar, Mackenzie-kun. Walaupun aku memanggilnya Satomi-kun,
dia ini terlalu formal dan memanggilku Ibu kos-san.”
“Wajar bagi penyewa untuk memperlakukan Ibu kosnya dengan
penuh hormat.”
“Dia sudah dididik untuk menghargai kerja keras, jadi dia selalu
bersikap seperti ini kepada rekan kerjanya.”
“Begitu ya... ufufufu.”
Ketiganya berjalan bersama-sama ke sekolah.
Hari ini adalah hari kedua sekolah terhitung dari upacara
penerimaan, dan kelasnya sunyi.
Ada beberapa kelompok yang sedang mengobrol, tapi sebagian besar
adalah kelompok siswa yang pergi ke SMP yang sama.
Mungkin akan menghabiskan beberapa hari lagi bagi para siswa untuk
terbiasa satu sama lain.
“Satomi-kun!”
Dalam kelas yang sunyi ini, suara Shizuka bisa jelas terdengar.
Shizuka sedang membawa sebuah kardus dan berjalan menuju bangku
Koutarou dan Kenji.
“Ada apa, Ibu kos-san?”
“Fufufu, tolong jangan panggil aku Ibu kos-san di sekolah,
Satomi-kun. Oh iya, ambil ini.”
“Apa ini?”
Koutarou menerima sebuah kardus kecil dari Shizuka.
“Aku berbicara dengan teman sekelasku dari SMP yang tahu banyak
tentang hal seperti ini, dan setelah aku menjelaskan situasinya padanya, dia
memberiku semua ini.”
Saat Koutarou membuka kotak itu, dia melihat banyak nota, label,
tali dan tongkat hiasam di dalamnya.
“Perlengkapan religius...”
Kenji, yang duduk di depan Koutarou dan juga mengintip isi kotak
itu, mengatakan isi kotak itu sebelum Shizuka.
“Perlengkapan religius?”
Koutarou, yang tidak mengerti, bertanya pada Kenji.
“Ya, lihat benda ini. Benda ini ditulisi 'pergilah arwah jahat'.”
“Kau benar.”
“Tapi tak kusangka ada banyak perlengkapan dari berbagai macam
agama di dalam kotak ini. Shinto, Budha, Kristen, Islam... Wow, bahkan
Voodoo."
“Mengapa kau memberikan benda-benda ini padaku, Ibu kos-san?”
“Itu karena kau bilang sesosok hantu muncul di kamarmu. Kupikir
ini mungkin akan membantu.”
“Ah...”
Koutarou akhirnya ingat kalau dia sedang berebut kamar itu melawan
Sanae.
''Benar juga, aku berebut kepemilikan kamar itu melawannya.''
Dengan kemunculan Yurika kemarin, tidak ada waktu untuk hal
tersebut.
“Bukannya ini semua cukup mahal, Kasagi-san?”
“Oh, mengenai itu, Mackenzie-kun. Benda-benda ini hampir
kadaluarsa jadi ini gratis.”
“Kadaluarsa!? Perlengkapan religius!?”
Mendengar kata-kata yang tak terduga itu dari mulut Shizuka
membuat Kenji terkejut.
“Itulah yang dia katakan. Dia juga bilang kalau tanggal
kadaluarsanya amat sangat dekat, jadi gunakan secepatnya.”
“...Tak kusangka gelombang peradaban akan mempengaruhi benda-benda
seperti ini juga.”
Kenji mengambil sebuah jimat yang kecil, using dan mencurigakan,
dan menatap label yang menempel di jimat itu.
'Tanggal kadaluarsa: enam bulan sejak pembuatan. Untuk tanggal
pembuatan, tolong amati bungkusnya.'
“Dunia hampir berakhir...”
Itulah pendapat jujur Kenji.
“Ini akan sangat membantu, Ibu kos-san.”
“Kuharap benda-benda ini akan berguna.”
“Aku akan membuatnya berguna”
“Berjuanglah, Kou; Aku mendukungmu!”
“Kalau begitu bantu aku!”
“Tidak mungkin. Kau tahu aku tidak menyukai hal-hal seperti ini.”
“Setelah kau bilang begitu...”
Kenji membenci semua hal mistis.
Walaupun Kenji lebih mengetahui hal ini, dia takut kepada hal
tersebut melebihi Koutarou.
Jika kau bertanya padanya, dia akan bilang kalau dia membenci hal
itu karena dia mengetahui hal tersebut.
“Baiklah, dengan ini...”
Koutarou menghentikan kata-katanya, mengingat kalau dia punya
seorang lagi yang harus diusir dari kamarnya.
Orang yang mengaku sebagai Putri Cinta dan Keberanian: Gadis Sihir
Rainbow Yurika.
Dia adalah gadis memalukan dengan hobi cosplay yang berlebihan.
“Hei, Mackenzie.”
“Berapa kalipun kau meminta, aku tidak akan membantu!”
“Bukan itu. Ada hal yang ingin kutanyakan.”
“Hmm? Apa?”
Kenji mengangguk dan menoleh ke arah Koutarou yang menunjukkannya
kardus itu.
“Hantu bisa diusir dengan benda-benda seperti ini, kan?”
“Yah, iya.”
“Jadi, apa yang kau gunakan untuk mengusir cosplayer?”
Koutarou menatap Kenji dengan serius.
“Apa kau bodoh? Tidak ada benda seperti itu!”
“Jangan bilang begitu, aku serius.”
Kemarin lusa, dia hanya perlu berurusan dengan hantu, tapi hari
itu dia juga harus berurusan dengan cosplayer.
Koutarou serius.
“Yang benar saja, cosplayer itu Cuma orang biasa. Jangan berlagak
bodoh."
“Jadi aku cukup menggunakan paksaan?”
“Lakukan apapun yang kau inginkan!”
Kenji membetulkan letak kacamatanya dengan ekspresi jengkel.
“Hmm...”
Dan saat Koutarou menyilangkan tangannya sambil berpikir, Shizuka,
yang sudah menatap mereka berdua, mulai tertawa.
“Fufufu, kalian berdua benar-benar akrab.”
“Hanya karena kami sudah saling mengenal sejak lama...”
“Jangan membuatnya terdengar sangat tidak menyenangkan,
Mackenzie!”
“Fufu. Kau tidak terlalu membencinya. Kan, Mackenzie-kun?”
“Aku benar-benar membencinya!”
“Kau ini tidak jujur, ya, Mackenzie-kun.”
“Ibu kos-san, dia selalu berlagak kasar.”
“Kou! Apa kau mengajakku bertengkar!?”
“Ahahahaha!”
Tawa Shizuka memenuhi ruang kelas tersebut. Namun, walaupun
mendengar suara tawa Shizuka, Koutarou sedang memikirkan hal yang benar-benar
berbeda.
''Apa aku benar-benar ingin mengusir Sanae?''
Itu adalah keraguan yang mendadak dan tidak terduga bagi Koutarou.
Sepulang sekolah, setelah selesai melakukan tugas piket, Koutarou
pergi menuju gedung klub.
Ada banyak jenis klub dan perkumpulan di setiap ruangan.
Sebenarnya, kau bisa menyebut gedung ini sebagai gedung apartemen
bagi para klub.
“Yah, secara teknis, klubku dianggap sebagai perkumpulan jadi...”
Koutarou pergi menuju bagian selatan lantai dua, dimana
perkumpulan-perkumpulan dikumpulkan.
Klub olah raga dikumpulkan di sekitar pintu masuk gedung.
Namun, masuk jauh ke dalam gedung, hampir tidak ada siswa yang
ditemui disana.
Di lorong sunyi, hanya suara langkah Koutarou yang bisa terdengar.
“Inilah dia.”
Koutarou berhenti di depan ruangan yang ada di bagian paling
belakang.
Perkumpulan Merajut.
Itulah perkumpulan yang dia ikuti pada hari pengumuman.
“Halo?”
Koutarou mengetuk pintunya.
Karena pintunya terbuat dari resin dan kerangka aluminium, suara
ketukannya terbawa sampai seluruh lorong.
“.. I-Iya!”
Dan suara yang sedikit panik menjawab.
Tak lama kemudian, kuncinya dibuka, dan wajah seorang gadis
keluar.
“Siapa di – ah...”
Gadis itu menunjukkan wajah curiga pada awalnya, tapi setelah
menyadari kalau orang itu adalah Koutarou, dia menjadi tenang.
“Halo, Senpai.”
“Selamat datang, Satomi-kun.”
Gadis itu adalah Sakuraba Harumi, presiden klub, dan satu-satunya
anggota selain Koutarou.
Bagi Koutarou, yang sepenuhnya pemula, bahkan dasar merajut itu
sulit dipahami.
Untuk menjelaskannya, kau memutar wol di jarimu ke sekeliling
jarum rajut, dan di bagian atas jarum itu kamu membuat simpul longgar.
Walaupun akan mudah bila sudah terbiasa, Koutarou itu kikuk dan
ingatannya buruk, membuat hal itu menjadi menyulitkan.
“Senpai, apa yang harus kulakukan sekarang?”
“Kau menariknya ke kanan kemudian memutarnya sekitar sini.”
“Oh, benar juga. Setelah kuingat-ingat...”
Koutarou kadang-kadang akan berhenti untuk menatap Harumi sebelum
melanjutkan.
Dan walaupun dia sedikit ceroboh dan hampir menusukkan jarum itu
ke jarinya, secara menyeluruh, Koutarou sedang merajut.
“Tidak perlu buru-buru, Satomi-kun. Aku tidak keberatan kalu kau
melakukannya pelan-pelan; hari ini cuma latihan.”
“I-iya. Maafkan aku, aku ini kikuk.”
“Aku tidak keberatan. Semuanya juga begitu saat mereka pertama
memulai.”
Harumi terlihat senang saat dia mengawasi Koutarou.
Biasanya, dia pemalu dan pendiam, tapi saat ini dia positif dan
sering bicara, mungkin karena dia melakukan apa yang dia suka.
“Apa kau juga seperti ini, Senpai?”
“Ya. Aku bahkan menusukkan jarum rajut ke jariku sebelumnya.”
Harumi mengngat masa lalunya dengan penuh kasih. Namun, Koutarou
sedang tidak menatap wajah Harumi saat itu. Jika dia menatapnya, Koutarou tidak
akan pernah bisa melupakan senyuman di wajah Harumi untuk sisa hari ini.
“Lakukan hal ini seperti ini dan... Haha, aku merasa lebih
termotivasi setelah mendengar kalau senpai juga gagal sebelumnya.”
“Saat kau mengatakannya seperti itu, kau terdengar seperti sedang
menggodaku. Fufufu, tapi jarimu masih belum tertusuk, jadi kau mungkin lebih
baik daripada aku yang dulu.”
“Ahaha, aku akan mencobanya.”
Walaupun tertawa, Koutarou dengan giat terus menggerakkan jarum
rajutnya, tidak melepaskan pandangannya dari tangannya.
''Memang tidak terduga sama sekali... Kalau seseorang seperti
Satomi-kun akan berusaha sekeras ini...''
Harumi, yang duduk di sebelah Koutarou, tidak bisa menyangkal
kalau dia pikir itu misterius.
Walaupun dia sendiri menikmati merajut, dia juga sadar kalau tidak
semua orang akan sama sepertinya.
Dia tidak menyangka seorang tipe atletik seperti Koutarou akan
menunjukkan rasa tertarik kepada hal-hal seperti ini.
Dia bahkan pernah bertanya-tanya apa Koutarou punya motif
tersembunyi, seperti laki-laki dari hari pengumuman itu.
“Senpai, saat aku menarik simpulnya, apa boleh aku melakukannya
dengan sedikit tenaga?"
“Ah, iya, tidak apa-apa. Tapi hasilnya akan jelek jika kau menarik
terlalu keras dan sisinya menjadi tidak seimbang, jadi berhati-hatilah.”
“Oh, Begitu. Aku mengerti.”
“Baguslah.”
''Mengapa dia berusaha begitu keras...?''
Namun, pada kenyataannya, bukanlah begitu. Koutarou beusaha dengan
tekun dan mencoba mempelajari merajut dengan serius.
Harumi tidak bisa menyangkal untuk berpikir kalau itu misterius.
“Satomi-kun...”
“Iya, ada apa?”
Mendengar panggilan Harumi, Koutarou berhenti menggerakkan jarum
rajutnya dan mendongak.
Menghadapi tatapan Koutarou, sifat normal Harumi yang pemalu dan
pendiam kembali sedikit.
“Apa kau keberatan kalau aku bertanya sesuatu?”
“Aku tidak keberatan, tanyakan saja.”
“Ka-kalau begitu...”
Sudah memutuskan hal itu, Harumi menelan ludahnya dan melempar
pertanyaannya kepada Koutarou.
“Satomi-kun, apa yang membuatmu ingin mempelajari cara merajut?”
“Mempelajari cara merajut?”
Koutarou tertawa malu dan meletakkan tangannya di kepalanya.
“Merajut itu tidak cocok denganku sama sekali, kan? Ahahaha...”
Koutarou sadar tentang bagaimana dia dipandang oleh orang lain.
“Bu-bukan
itu maksudku! Maksudku adalah, yah, bukannya seorang laki-laki akan
bosan melakukan hal ini?... Dan itu membuatku penasaran...”
Mendengar tawa Koutarou, wajah Harumi menjadi merah dan dia
menundukkan pandangannya.
Menatap ke arahnya, Koutarou memutuskan untuk memberitahu Harumi
tentang situasinya.
Dia merasa kalau Harumi akan mengerti, dan karena Harumi adalah
gurunya, dia merasa kalau rasanya adil bila Harumi tahu.
“Kau tidak terlihat seperti tipe penggosip, jadi aku akan
memberitahumu.”
“Satomi-kun?...”
Harumi kembali menatap Koutarou, dan dia sedikit terkejut melihat
wajah Koutarou lebih serius daripada yang dia duga.
“Sebenarnya, ada sweater setengah jadi di kamarku...”
“Sweater... Ah...”
Harumi mengingat kata-kata Koutarou saat mereka pertama kali
bertemu.
“Apa mungkin bagi seorang amatir sepenuhnya untuk merajut sebuah
sweater?”
“Aku berharap untuk menyelesaikannya dengan tanganku sendiri suatu
saat. Hahaha, tapi, siapa yang tahu akan berapa lama sebelum aku dapat
melakukannya...”
''Sweater itu pasti memiliki ingatan seseorang yang spesial
baginya.''
Inilah yang Harumi pikirkan saat dia melihat senyum Koutarou.
Ekspresi sedikit malu dan tertawa Koutarou anehnya lembut.
''Jadi karena itu dia berusaha sangat keras... Dia pasti berpikir
dia harus menyelesaikan sweater itu... Begitu, jadi begitu ya...
Dipenuhi rasa lega, Harumi merasa gembira dari lubuk hatinya.
“Aku mengerti, Satomi-kun. Aku akan memastikan kalau kau akan
dapat menyelesaikan sweater itu!”
“Benarkah!?”
“Ya!”
Harumi benar-benar senang bahwa Koutarou merajut dengan serius dan
dia telah berhasil menemukan rekan sejati.
“Mari bekerja bersama, Satomi-kun!”
“Iya!”
Koutarou yang tidak punya ketrampilan bukanlah masalah. Harumi
tidak memikirkan hal tersebut sama sekali.
''Tapi aku penasaran siapa yang merajut sweater itu...''
Harumi bertanya pada dirinya sendiri, tapi pertanyaan itu dengan
cepat hilang dari pikirannya.
''Itu bukanlah masalah, mohon bantuannya, Satomi-kun!''
Harumi merasa puas telah menemukan seorang rekan sejati. Baginya,
ini adlaah kejadian yang sangat menyenangkan.
“Aku melakukan hal ini disini, dan...”
Koutarou mengulas kembali apa yang telah dia pelajari hari itu
sambil berjalan menuju Rumah Corona.
Pemandangan seorang laki-laki yang menggerakkan tangannya dengan
mencurigakan di kota yang diwarnai matahari terbenam itu terlihat tidak nyata.
Namun, Koutarou serius.
Dia menggerakkan tangan kosongnya dan terus melakukan latihan
bayangannya.
“Hmm?”
Saat Koutarou kembali ke Rumah Corona, dia bisa mendengar suara
dari kebun.
“Aku penasaran suara apa itu.”
Ketika Koutarou menengok ke balik tembok beton, dia melihat
Shizuka, yang sedang mengenakan celemek di atas seragam sekolahnya dan memegang
sapu bamboo yang besar.
Dia sedang membersihkan kebun.
“Selamat datang kembali, Satomi-kun.”
“Aku pulang, Ibu kos-san.”
Shizuka menyambutnya dengan senyuman.
“Aku sedang membersihkan kebun.”
“Begitu.”
Ada setumpuk kecil rumput liar di dekat kakinya. Setelah dia
mencabut rumput itu, dia mengumpulkannya dengan sapunya.
“Aku ingin menjaga kebun ini secantik mungkin.”
Shizuka tersenyum dan menyipitkan matanya saat dia menatap Rumah Corona, yang diwarnai matahari terbenam.
Rumah Corona kelihatan indah.
Walaupun desainnya kuno, gedung berumur 25 tahun itu tidak
menunjukkan tanda-tanda umur tuanya.
Ini karena Shizuka tidak pernah lupa merawatnya.
“Ibu kos-san, kau bilang rumah ini peninggalan orang tuamu.”
Koutarou juga menatap Rumah Corona.
“Iya, itu benar. Karena itu aku ingin menjaganya tetap berdiri
selama mungkin, walaupun pada akhirnya, banguan ini mungkin akan dibongkar.”
“Aku akan pastikan untuk tinggal dengan hati-hati.”
Koutarou mengerti perasaan Shizuka.
Perasaan itu mirip dengan perasaan yang Koutarou miliki mengenai
penyelesaian sweater itu.
“Terima kasih, Satomi-kun.”
“Yah, kadang aku harus berlagak keren.”
“Kalau saja kau tidak mengatakan hal itu, ini akan menjadi adegan
yang menngharukan. Ahaha.”
“Wahahahaha!”
Dan saat keduanya tertawa, cahaya biru yang kecil terbang
melintasi langit merah.
“Ah, bintang jatuh.”
“Sepertinya begitu.”
Bintang jatuh itu terbang di dekat Rumah Corona dan memasuki
pandangan mereka berdua.
“...Aku berharap kalau Satomi-kun tidak akan kalah dari hantu
itu.”
Shizuka menyatukan kedua tangannya bersamaan dan membuat
permohonan.
Bintang itu menghilang di saat yang sama dengan dia selesai
memohon.
“Aku tidak akan kalah dari sesosok hantu. Di samping itu, aku
memperoleh sekumpulan perlengkapan religious darimu.”
“Untuk berjaga-jaga, Satomi-kun. Ufufu.”
“Aku tidak dipercaya sama sekali...”
“Aku mempercayaimu.”
“Kau cuma berpura-pura!”
“Ara ara. Ahahaha.”
“Wahahahaha!”
Keduanya mengobrol dengan riang, tapi alasan satu-satunya mengapa
mereka bisa tetap riang adalah karena mereka tidak menyadari apa yang akan
terjadi.
Berdiri di depan kamar 106, Koutarou memasukkan tangannya ke
sakunya dan mengambil kunci. Dia bisa mendengar suara dari dalam kamar.
“Tidaaaaaak! Tolong jangan mendekat lagi!!”
“Fuefuefue, apa masalahnya, apa masalahnya?”
“Aku benci hantu!!”
“Apa masalahnya, gadis sihir Rainbow Yurika?”
Apa yang bisa dia dengar adalah suara ketakutan Yurika dan suara
iseng Sanae.
“...Apa yang sedang mereka lakukan?”
Koutarou membuka kunci pintunya, meletakkan kuncinya kembali ke
saku, dan membuka pintunya.
“Se-selamatkan akuuuuu!”
“Oo!?
Di momen itu, Yurika meompat keluar dari ruangan menuju koridor
dan mulai gemetar sambil nersembunyi di belakang punggung Koutarou.
“Ha-hantu-san, ji-jika kau akan merasuki seseorang, ra-rasuki
orang ini saja!”
“Ayolah, bagi seseorang yang mengenalkan dirinya sebagai gadis
sihir cinta dan keberanian...”
Koutarou terperangah.
''Yah, ini wajar; dia kan hanya seorang cosplayer.''
Saat Koutarou berpikir demikian, orang satunya dalam ruangan
datang ke pintu depan.
“Selamat datang kembali.”
“Terimakasih, aku pulang.”
Koutarou merespons ucapan Sanae, melepaskan sepatunya, dan
memasuki ruangan itu. Yurika yang gemetar mengikuti Koutarou.
“Sanae, jangan mengganggunya terlalu banyak. Dia tidak terkait
dengan semua ini.”
“Aku ini terkait!”
“Aku tahu kalau Yurika tidak terkait langsung, tapi jika dia
mengadakan pesta cosplay disini, aku tidak akan menahan diri.”
“Aku disini bukan untuk mengadakan pesta semacam itu! Gadis sihir
jahat sedang... Para musuh sedang mendekat!”
“...Sepertinya pesta itu akan diadakan sebentar lagi.”
“Benar?”
“Tolong dengarkan apa yang harus kukatakan! Kumohon!”
“Baiklah, baiklah.”
“Kami tahu, kami tahu. Bahaya sedang mendekat, kan?”
“Pasti menyenangkan bagis seseorang yang cuma bermain saja...”
“Kau benar...”
“Aaaaaaaa, kalian tidak mendengarkan sama sekali!”
Saat memasuki ruangan dalam, Koutarou melemparkan tasnya ke sudut
ruangan dan berbalik ke arah Sanae.
“Sanae, mari abaikan gadis ini suntuk kali ini.”
“Ya, aku mengerti.”
“Jangan abaikan aku, kumohon! Ini hal yang penting!”
“Untuk sementara ini, mari selesaikan urusan kita berdua.”
“Ya...”
Tiba-tiba ekspresi tersenyum Sanae berubah menjadi suram.
“... Benar juga, aku harus mengusirmu dari kamar ini, kan.”
“Aku tidak bisa pergi dari sini, jadi aku harus mengusirmu.”
“Kau benar, itulah yang kita ppermasalahkan.”
Itulah niat yang dimiliki keduanya sampai kemarin. Namun, perasaan
itu sudah berkurang secara bertahap.
“Tolong dengarkan apa yang harus kukatakan!”
“Bisakah kau diam? Tidak ada waktu untuk bermain!”
“Maaf, aku akan bermain denganmu nanti.”
“Tidaaaaaaak, aku tidak ingin bermain dengan hantu!”
“...Apa kau ingin aku mendengarkan atau tidak? Putuskan hal itu!”
“Hei, Koutarou...”
Sanae bicara pada Koutarou dengan suara lirih. Sampai titik itu,
suaranya selalu keras dan energik, jadi hal ini memancing perhatian Koutarou.
“Hmm?”
“...Apa kau membenciku?”
“Eh?”
“Jika kebetulan kau – ”
Apa yang menotong kata-kata Sanae adalah sebuah suara keras.
“Kyaaaaaaa!?”
Yurika berteriak, dan disaat yang sama, tikar tatami di dekat
pintu ruangan dalam terlempar.
Yurika, yang sedang berdiri di tikar itu, terlempar dengan
wajahnya menghantam tanah.
“Mengapa selalu aku!?”
Yurika mulai berguling, menabrak dinding, dan berhenti bergerak.
“Gyafu.”
“Apa!? Apa yang baru saja terjadi!?”
“Koutarou, di bawah tikar tatami itu! Seseorang muncul!”
“Apa!?”
Koutarou, yang pandangannya mengikuti tikar tatami yang terlempar,
menoleh kembali dan melihat sesosok manusia merangkak keluar dari tempat dimana
tikar tadi berada.
Ada lubang bulat di alas lantai, cukup besar untuk dilewati
seorang manusia.
“Senang bertemu denganmu untuk pertama kalinya. Maaf sudah
membuatmu terkejut.”
Keluar dari tanah adalah seorang gadis. Dia terlihat seperti
sedikit lebih tua dari Koutarou.
Dia tinggi dengan penampilan rapid an formal serta mata terang,
membuat suaasna tenang di sekitar gadis itu.
“Nama saya Kiriha. Keturunan dari orang-orang bumi, lahir dari
keluarga Kurano, yang terkenal dengan ramalan dan mantera yang kami miliki.”
Namun, pakaian gadis itu aneh.
Dia hanya mengenakan pakaian kuno yang jarang ilihat dengan banyak
hiasan.
Pakaian itu hampir seperti berasal dari buku sejarah, mirip dengan
pakaian gadis kuil saat Jepang kuno.
“Kiriha?”
“Ada apa dengan orang ini...!?”
Dengan begini, empat orang sudah berkumpul di ruangan kecil ini.
Koutarou, Sanae, Yurika dan Kiriha.
''Mengapa orang-orang terus berkumpul di kamar ini...?''
Koutarou tidak terlalu khawatir dengan kemunculan Kiriha, dan
lebih khawatir dengan peningkatan populasi di kamarnya.
Koutarou, Sanae dan Kiriha sedang duduk di belakang meja teh di
tengah-tengah ruangan.
Yurika masih terbaring di samping dinding dekat jendela, pingsan
dan tidak bergerak.
“Izinkan saya untuk memperkenalkan diri lagi. Nama saya Kurano Kiriha.
Kurano adalah nama klan, jadi saya lebih memilih kalian memanggil saya Kiriha.”
“Aku Satomi Koutarou.”
“Aku Sanae.”
“Koutarou dan Sanae. Walaupun hanya sampai kami selesai mengurus
urusan kami, saya berharap kita bisa akrab.”
Mendengar nama mereka, Kiriha membungkuk dengan sopan.
“Sopan sekali.”
“Se-semoga saja bisa.”
Koutarou dan Sanae balas membungkuk.
“Pertama-tama, saya ingin meminta maaf. Maaf sudah muncul dari
tempat seperti itu. Itu karena kami tidak ingin menyebabkan keributan.”
“Tolong angkat kepalamu, Kiriha-san.”
Koutarou merasa senang terhadap respons Kiriha, yang terus
membungkukkan kepalanya dengan sopan.
“Kami ingin menyatakan tasa terimakasih kami terhadap kebaikanmu.
Terimakasih, Koutarou.”
Kiriha mengangkat kepalanya dengan senyuman di bibirnya. Sikap
jujur dan postur ramahnya menghilangkan rasa waspada Koutarou.
''Pakaiannya aneh dan nada bicaranya kaku, tapi sepertinya dia
setidaknya bisa mengobrl dengan baik.''
Pertemuan dengan Yurika kemarin dan Sanae kemarin lusa adalah
bencana, tapi penampilan Kiriha memberi kesan bagus pada Koutarou.
“Yah, Kiriha-san, urusan seperti apa yang kau miliki disini? Dan
mengapa kau datang dari bawah – ”
“Hei, Koutarou!”
“Uwa! A-ada apa, Sanae?”
Wajah merengut Sanae muncul diantara mereka berdua, dan memotong
kata-kata Koutarou.
“Sikapmu benar-benar berbeda dari saat kau bertemu denganku dan
Yurika!”
“Tentu saja berbeda. Toh, sikap pihak lainnya itu berbeda.”
“...Aha~ aku bisa membaca pikiranmu~"
“A-ada apa dengan tatapan itu?”
“Itu karena payudara besar itu, kan!? Dasar mesum!”
“Eh? Apa payudara Kiriha-san besar!?”
“Jika kau tidak menyadarinya, kau tidak perlu melihatnyaaaaaa!”
Sebuah kamus Inggris-Jepang yang dilempar oleh Poltergeistnya
Sanae mengenai kepala Koutarou.
“...Ja-jangan bilang yang tidak-tidak!”
“Inilah bagaimana kita biasanya bertingkah!”
“Kalau begitu jangan merasa marah saat kau tidak ikut mengobrol!”
“Grrr... aku masih merasa sesuatu yang tidak adil! Hmph, toh aku
tidak peduli!”
Seakan sudah dimarahi oleh Koutarou, Sanae berpaling sambil
merengut.
“...Apa boleh saya melanjutkan?”
Kiriha, yang sedang menatap mereka berdua dengan heran,
membersihkan tenggorokannya dengan batuk ringan dan meluruskan posturnya.
“Aku minta maaf, Kiriha-san.”
“Tidak apa-apa. Sayalah yang berbicara tidak-tidak, muncul di waktu
aneh dari tempat yang aneh. Tidak perlu khawatir.”
“Aku mengapresiasi kata-katamu. Kiriha-san, aku akan bertanya
lagi; apa alasanmu datang kemari? Dan mengapa kau datang dari bawah lantai?”
“Untuk menjelaskan hal itu, saya harus mulai menjelaskan tentang
siapa saya ini.”
Kiriha menatap langsung Koutarou dan mulai berbicara dengan
berani.
“Saya berasal dari orang-orang bumi, dan seperti yang kamu dapat
tebak dari nama itu, kami tinggal di planet ini.”
“Ha... Tapi bukannya itu sama saja dengan semua orang?”
Koutarou tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Kiriha dan
menjawab dengan wajah kebingungan.
Orang-orang normalnya memang tinggal di planet ini.
“Maksud saya bukan begitu. Kami tidak tinggal di atas planet
ini, tapi secara literal di dalamnya.”
“Eh!? Artinya masyarakatmu tinggal di bawah bumi?”
“Benar. Untuk memudahkan bagi kami kamu bisa memanggil kami
penduduk bawah tanah. Kami hidup mandiri di bawah tanah.”
“Kau tidak bermaksud...”
“Pe-penduduk bawah tanah!?”
Bukan hanya Koutarou, tapi Sanae, yang tadi berpaling, sedang
menatap Kiriha dengan rasa terkejut.
“Apa yang dinginkan oleh seseorang seperti itu dari kami!?”
Sanae menghantamkan tangannya ke meja teh dan menyondongkan
tubuhnya ke arah Kiriha.
“Tenanglah, Sanae. Aku belum mengatur barang-barangnya dengan
benar jadi ruangan ini sangat sesak. Jangan bergerak terlalu banyak.”
“Ah, Ma-maaf...”
Diingatkan oleh Koutarou, Sanae duduk di tempatnya semula.
“Tujuan kami datang kesini bukanlah kalian atau bahkan bangunan
ini.”
“Apa maksudnya?”
“Suku kami awalnya tinggal di pegunungan di daerah ini. Namun,
saat leluhurmu mulai menggunakan logam dalam jumlah besar dan mulai menambang
di gunung kami, kami terpaksa tinggal di bawah tanah.”
“Dan itulah alasan mengapa kalian menjadi penduduk bawah tanah?”
“Itu sih hasilnya, ya. Setelah pindah ke bawah tanah, suku kami
awalnya berencana untuk kembali ke permukaan tidak lama kemudian. Namun, mereka
tak menyangka kalau bawah tanah itu terasa nyaman. Sekitar setengah dari suku
kami tetap tinggal di bawah tanah. Orang-orang itulah leluhurku.”
“Heeh...”
Setelah muncul dari bawah tanah, kata-kata Kiriha terdengar sangat
meyakinkan.
Lubang di lantai yang sepertinya mengarah ke bawah menuju
kedalaman bumi.
“Dan baru-baru ini, kami menemukan penemuan bersejarah.”
“Penemuan bersejarah? Apa?”
“Sebuah buku tidak sengaja ditemukan. Di dalamnya, posisi altar
dimana jiwa leluhur kami bersemayam tertulis. Kami sudah mencari hal itu selama
bertahun-tahun."
“Jadi, kau datang ke permukaan untuk mecari altar itu?”
Merespons pertanyaan Koutarou, Kiriha mengangguk.
“Itu benar. Namun, posisi altarnya tertulis dengan akurat, jadi
tidak perlu mencarinya.”
“Jadi urusanmu sudah hampir selesai.”
“Bagus untukmu, Kiriha-san.”
“Tidak semudah itu.”
Kiriha menurunkan alisnya dengan sedih dan menggelengkan
kepalanya.
“Kami menyukai pembangunan altar kami melebihi apapun. Namun, ada
masalah dengan tempatnya.”
“Tempatnya...?”
“Persaanku buruk mengenai hal ini...”
Sanae memasang eksresi tidak senang.
“Sebenarnya, posisi altar kami ada di tengah-tengah kamar ini.”
Mendengar kata-kata Kiriha, kata-katanya sama dengan kata-kata
yang Sanae takutkan.
“Yang berarti, Kiriha-san...”
“Ya, Koutarou. Bisakah kamu menyerahkan kamar ini pada kami?
Penting bagi altar itu untuk berada di posisi yang tepat.”
“Aku sudah tahu itu!”
Sanae buru-buru berdiri.
“Tentu saja kami tidak akan memberikannya padamu! Aku tidak akan
membiarkan kau membangun altar aneh disini!”
Sanae menolak untuk membiarkan seseorang membangun sebuah altar di
rumahnya.
“Kami tidak akan mengusirmu dengan paksa. Suku kami memiliki harga
diri dan tradisi. Kami tidak akan memaksakan masalah kami kepadamu. Sebagai
balasannya, kami ingin menawarkan kompensasi yang dibutuhkan untuk mencari
kediaman di tempat lain. Karama, Korama, tolong bawa itu.”
“Oke-ho!”
“Dimengerti-ho, Ane-san!”
Dua bayangan kecil mucul dari lubang.
“A-apa itu!?”
“Ha-haniwa ?”
“Ho~”
“Hoho~”
Mereka adalah 2 haniwa dengan panjang sekitar 30 sentimeter.
Dengan permukaan halus dan wajah menggemaskan, keduanya sedang bekerjasama
untuk membawa sebuah bongkahan logam bercahaya keemasan.
“Hei!”
“Ho~”
“Hei!”
“Ho~”
Keduanya mengeluarkan suara aneh saat mereka membawa bongkahan
logam itu ke arah Koutarou dan Sanae yang tidak bergerak.
“Imuuuutnyaaaa!”
“Me-mereka ini apa!?”
“Tidak perlu terkejut. Mereka berdua adalah pelayanku. Mereka
mirip dengan boneka mesin yang kalian gunakan.”
“Ho-! Aku Karama-ho!”
“Halo-ho! Aku Korama!”
Meletakkan bongkahan logam itu di depan Koutarou, keduanya
melambaikan tangan dengan riang.
“Tak kusangka kalau mereka ini robot...”
“Halo, Karama-chan, Korama-chan!”
Koutarou dan Sanae terkejut.
Jika kata-kata Kiriha bisa dipercaya, mereka berdua adalah robot.
Namun, tidak ada sesuatupun mengenai mereka yang terlihat mekanis.
Walaupun tubuh mereka terlihat seperti gerabah, anggota gerak
mereka bebas bergerak.
Berlawanan dengan penampilan mereka yang bagus, mereka pasti
dibuat menggunakan teknik yang sangat maju.
Hati Sanae telah dicuri oleh robot-robot imut itu.
“Jika Mackenzie melihat ini, dia mungkin akan menangis gembira.”
“Koutarou, Sanae. Bongkahan logam ini adalah emas padat. Namun,
dalam proses pembuatannya, beberapa platinum tercampur, walaupun saya ragu kalau
campuran itu akan menurunkan nilai emasnya. Jika kalian pindah dari sini, kami akan
menawarkanmu emas ini sebagai balasannya."
“I-ini jumlah yang luar biasa, Kiriha-san!”
Saat diberitahu kalau logam di depannya adalah emas, Koutarou
terkejut sekali lagi.
Emas bernilai beberapa ribu yen per gram, dan berat emas ini pasti
setidaknya 10 kilogram.
Yang berarti emas ini akan bernilai beberapa puluh milyar yen.
Jumlah emas yang aneh bila hanya untuk mengosongkan apartemen ini.
“Ini hanya untuk membuktikan seberapa serius kami ini. Jika ini
membuatmu kerepotan, kami bisa menukarnya dengan uang yen Jepang. Bagaimana?
Apa kamu mau menyerahkan kamar ini pada kami?”
“Emas yang sangat banyak... Apa yang kulakukan!? Tidak mungkin!
Tidak mungkin sama sekali! Ini rumahku! Koutarou, kau juga bilang sesuatu!”
“Hmmm...”
Sanae menolak dengan segera, tapi di sisi lain, Koutarou
menyilangkan lengannya dan sedang berpikir dalam-dalam.
“Hei! Buat apa kau berpikir!?”
“Yah, mendengar situasinya, kupikir tidak ada salahnya untuk
bekerja sama dengannya.”
“Koutarou!? Apa kau serius!?”
Mendengar respons Koutarou, ekspresi Kiriha menyala dan dia mulai
berdiri.
Dan hiasan yang menempel di pakaiannya membuat suara dentingan
yang menusuk.
Seperti bongkahan logam itu, sepertinya hiasan itu juga dibuat
dari emas.
“Bukan hanya payudaranya, tapi kau juga terpikat oleh uang!?”
“Kau salah! Aku tidak bisa menerima jumlah sebanyak ini!.. Yah,
jika aku pindah, aku akan membutuhkan sejumlah uang, karena jika aku tidak bisa
bertahan hidup setelah pindah, ini semua menjadi tidak ada artinya.”
“Memang itulah hakmu.”
“Saat aku bilang supaya kau keluar, kau menolak! Mengapa kau
mendengarkan wanita berpayudara besar ini! Apa payudara besar sebagus itu!?”
“Jangan perlakukan aku seperti orang mesum! Hanya saja aku
bersedia untuk bekerjasama dengannya karena alasan dan perilakunya tidak
buruk!”
“Apa-apaan itu!?”
Di titik ini, Koutarou merasa kalau tidak apa-apa bila dia
bekerjasama dengan Kiriha.
Dia sangat sopan, dan sudah menjelaskan alasannya dengan jelas.
Dia juga bilang kalau dia akan menyiapkan kompensasi yang
dibutuhkan untuk pindah.
Dan alasannya menginginkan kamar ini benar-benar masuk akal.
Membangun kembali altar untuk menyembah leluhur mereka, yang mirip
dengan membangun sebuah kuburan atau altar Buddha.
Koutarou tidak punya alasan untuk bilang tidak kepada seseorang
yang hanya menginginkan untuk menghargai leluhur mereka.
“Sanae, kau mungkin ingin tinggal di kamar ini, tapi apa kau tidak
bisa sedikit berkompromi? Walaupun kau tetap disini, sebuah altar bukanlah
gangguan, kan?”
“I-itu... Yah, bukan gangguan, tapi...”
Sanae melirik ke arah Kiriha.
Sanae tidak punya alasan untuk membencinya, selain payudara
besarnya.
Oleh karena itu, perasaan Sanae tergerak secara bertahap karena
bujukan Koutarou.
“Jadi maafkan dia, oke? Tidak seperti Yurika, dia bukannya ingin
mengadakan pesta cosplay”
“Aku mengerti... aku akan menerimanya.”
Dan Sanae akhirnya menyerah.
“Oh! Jadi kalian akan setuju! Koutarou, Sanae!”
Ekspresi Kiriha menjadi semakin bercahaya.
“Ya.”
“Aku benar-benar tidak menyukai ini, tapi aku tidak punya pilihan.
Situasinya tidak bisa diubah.”
Sanae akan tinggal bersama dengan altar.
“Terima kasih, kalian berdua! Dengan begini, kami bisa langsung
bergerak ke Fase Dua!”
“Fase Dua?”
“Apa itu?”
Koutarou dan Sanae memiringkan kepala mereka dalam rasa bingung
setelah mendengar kata-kata Kiriha.
“Operasi invasi permukaan. Setelah kami mengaktifkan altarnya,
kami dapat mengumpulkan sejumlah besar energi spiritual! Dan dengan itu, kami
dapat memproduksi massal senjata spiritual seperti Karama dan Korama!”
“A-APAAA!?”
“INVASI PERMUKAAN!?”
“Tentu saja. Kalian tidak perlu khawatir; kalian berdua sebagai
orang yang berjasa akan diperlakukan sebagai tamu. Tidak ada yang perlu
dikhawatirkan sama sekali.”
Kiriha mengartikan keterkejutan Koutarou dan Sanae sebagai
kekhawatiran terhadap apa yang akan terjadi pada mereka. Tentu saja, itu
bukanlah alasan sebenarnya dibalik rasa terkejut mereka.
“Tu-tunggu sebentar! Jadi apa!? Kau ingin membangun kembali altar
dimana leluhurmy bersemayam supaya kalian bisa menginvasi permukaan!?”
“Itu benar... apa ada yang salah, Koutarou?”
Terkejut melihat reaksi Koutarou yang tak diduga sebelumnya, Kiriha
menatapnya heran dan berkedip.
“Jangan tanya 'apa' atau 'mengapa'! Aku menarik semuanya kembali!
Aku tidak akan pernah memberikan kamar ini padamu!”
“Ucapan yang bagus, Koutarou!”
“Koutarou!? Mengapa tiba-tiba seperti ini? Kamu sangat kooperatif
tadi!”
“Aku menolak dengan tegas! Aku tidak bisa menerima tanggung jawab
telah membiarkan invasi permukaan terjadi!”
Melihat Karama dan Korama, bahkan Koutarou yang tidak ahli dalam
sains dapat mengerti.
Membuat sesuatu seperti kedua benda itu membutuhkan teknik yang
sangat tinggi.
Jika orang-orang seperti itu menginvasi permukaan, siapa yang tahu
apa yang bisa mereka lakukan.
Dia bahkan tidak mau membayangkan hal itu.
“Kukira setidaknya kau punya alasan yang masuk akal! Tapi tak
kusangka kau akan berkata sesuatu yang sangat konyol dengan entengnya!”
“...Begitu ya. Sampai-sampai kamu menolak seperti itu... Yah, saya
punya rencana lain.”
“Apa!? Apa kau akan menggunakan kekerasan!?”
“Yah, siapa yang tahu...”
Kiriha tidak tersentak sedikitpun saat wajah murka Koutarou ada
didepannya. Malahan, bibirnya membentuk senyuman yang mencurigakan.
“Koutarou, botol merah di kotak bumbu adalah garam,kan?”
“Ya...”
“Jadi akhirnya begini...”
Koutarou sedang memotong kubis untuk makan malam.
Disampingnya adalah Kiriha yang mengenakan celemek.
Dia menggerakkan wajan penggorengan dengan cekatan sambil mengocok
garam di dalam botol merah kecil itu.
“Koutarou, apa kamu memilih makanannya diberi garam yang banyak
atau sedikit?”
“...Aku lebih memilih garam yang banyak.”
“Makanan bergaram banyak itu tidak baik untuk kesehatanmu. Sebaiknya kita
mulai mengurangi jumlah garamnya secara bertahap mulai besok. Kamu ini hidup sendiri,
jadi kamu harus mengurus dirimu sendiri.”
Kiriha tersenyum lembut sambil terus menggerakkan wajannya.
Dia sedang menumis sayuran.
Kubis yang sedang diiris oleh Koutarou juga akan ditambahkan ke
dalam tumis itu.
Ditambah lagi, penanak nasi juga sedang menanak nasi di ruangan
dalam.
Kiriha sudah mencuci nasinya beberapa saat yang lalu.
Makan malam Koutarou hari ini terdiri dari nasi, beberapa daging,
dan tumis sayuran.
“Koutarou, apa kamu sudah selesai mengiris kubisnya?”
“I-iya.”
“Kalau begitu, tolong tambahkan kesini.”
Kiriha mengecilkan apinya dan memberi isyarat pada Koutarou.
“Aku tidak menyangka kamu bisa memasak, Koutarou.”
“Ayahku tidak bisa melakukan apapun sendiri, jadi...”
Koutarou memasukkan kubisnya ke dalam wajan, dan saat kelembaban
yang tersisa dalam kubis itu bercampur dengan minyak, terdengar suara desisan
yang keras. Mendengar suara itu, Koutarou mulai merasa nostalgia.
''Sudah berapa lama aku tidak berdiri di samping seseorang di
dapur?...''
Apa yang melintas di pikiran Koutarou adalah ingatan saat dia
berdiri di samping ibunya di dapur.
Dia akan selalu memasang senyuman lembut di wajahnya, seperti
Kiriha.
“Koutarou, lain kali saat kamu mengiris kubisnya, irislah lebih
tipis. Kamu akan sulit memakannya bila kamu mengirisnya seperti ini”
“...Ya.”
Dengan bayangan ibunya yang sedang tersenyum di kepalanya,
senyuman Kiriha terbukti sangat efektif, dan Koutarou menganggukkan kepalanya
dengan patuh.
“Koutarou, siapkan piringnya. Saya akan segera selesai.”
“Ya.”
Koutarou mengangguk sekali lagi dan mengulurkan tangannya ke arah
rak.
Suara wajan dan peralatan makan yang sedang diletakkan memenuhi
ruangan.
Suara itu berlanjut selama beberapa saat sebelum Kiriha mematikan
apinya.
Dan kemudian dia dengan enteng memanggil Koutarou sambil
tersenyum.
“Koutarou, apa piringnya sudah siap?”
“Sudah siap.”
“Apa nasinya sudah matang?”
“2 menit lagi.”
“Begitu ya. Koutarou, apa kamu akan menyerahkan kamar ini?”
“Aku ak - ”
Karena cara meminta Kiriha yang wajar dan enteng, Koutarou hampir
mengangguk dan setuju tanpa sadar.
“Tentu saja tidak!”
“Begitu ya. Sangat disayangkan.”
Dia membicarakan hal itu dengan enteng, seakan hal itu adalah
obrolan yang benar-benar wajar.
Dia sudah membicarakan hal itu dengan ahli dan enteng dalam waktu
yang tepat, dan Koutarou hampir menyetujuinya beberapa kali.
“Aku tidak akan terjebak trik seperti itu!”
“Kamu lawan yang cukup tangguh, Koutarou.”
Walaupun Kiriha sudah beberapa kali gagal, dia terlihat tidak
memikirkannya.
“Fufufu, sepertinya ini akan menjadi perang yang lama.”
“Apa yang sedang kau coba lakukan?”
Koutarou merasa bingung oleh serangan Kiriha.
Berbeda dari Sanae, yang tidak punya alasan, atau Yurika, yang terus
mengulang-ulang alasannya yang tidak dapat dimengerti, jenis serangan Kiriha yang
mencoba mempengaruhi pikiran Koutarou dan membuatnya setuju dengan enteng itu
lebih menyulitkan.
“Saya sudah bilang, kan? Kami memiliki harga diri dan tradisi.
Menggunakan kekerasan itu berlawanan dengan kedua hal itu.”
“Kalau begitu, mengapa kalian tidak menyerah untuk menginvasi
permukaan?”
”Kami hanya mengambil kembali apa yang seharusnya kami miliki. Saya
sudah bilang, kami punya harga diri dan tradisi kami. Kami memang ingin
mengambil kembali daerah kami, tapi kami tidak menaruh dendam terhadap
orang-orang disini. Kami tahu rasa sakit yang terasa saat sesuatu telah dicuri,
jadi kami tidak akan menyerang orang-orang disini. Musuh kami itu jauh lebih besar.”
“Jadi apa, apa kau berpikir aku akan setuju denganmu?”
Dan hal yang paling menyulitkan adalah perilaku dan kepercayaan
Kiriha itu sangat benar.
Kalau saja dia adalah orang yang menggunakan kekerasan, akan lebih
mudah bagi Koutarou.
“Saya akan membuatmu setuju, kami punya banyak waktu.”
Kiriha menekankan dada besarnya pada Koutarou dan menatapnya
dengan tatapan yang menggoda.
“Wh-wha!?”
Dengan tatapan mencurigakannya dan sentuhan payudara besar dan
lembutnya, Koutarou secara tiak sengaja melompat mundur. Jantungnya mulai
berdebar kencang.
“Kami sudah bertahan di bawah tanah selama 1000 tahun.”
“Me-memangnya kenapa?
“Fufufu, itu berarti kami sudah menunggu selama 1000 tahun, tapi
berapa lama kamu akan bertahan? Setengah tahun? Setahun? Saya akan melakukan
apapun untuk membuatmu menganggukkan kepalamu.”
Kiriha dengan santai melemparkan kecupan ke arah Koutarou.
“Ugh...”
Kurano Kiriha. Gadis misterius yang datang dari bawah tanah.
''Seorang lawan berat muncul.''
Bagi Koutarou, saat ini, Kiriha adalah musuh terkuatnya.
“Apa-apaan sih! Memamerkan dada besarnya! Dan Koutarou juga!
Tersipu melihat daya tarik sensual yang jelas begitu!”
Sanae telah mengintip ke koridor untuk mengamati situasinya, dan
dia merasa marah.
Sanae ingin mengusir Koutarou.
Tapi dia memiliki rasa tidak suka yang kuat terhadap metode Kiriha
yang tidak bisa dialakukan.
“Jika kau menyerahkan kamar ini untuk sesuatu seperti itu, aku
tidak akan pernah memaafkanmu!”
Karena itu, Sanae tidak ingin Koutarou diusir oleh Kiriha. Dia
sudah lama lupa terhadap tujuan awalnya sendiri.
“Pe-permisi...”
Seseorang mulai berbicara pada Sanae.
“Apa!?”
“Hiii! Ma-maaf, maaf banget, aku yang salah!”
Suara itu berasal dari Yurika, yang baru saja siuman.
Ketakutan oleh kelakuan Sanae, Yurika mulai menangis.
“Tadi itu cuma keceplosan! Aku hanya ingin tahu apa yang sedang
terjadi!”
“...Oh iya, kau juga ada disini.”
“Tidaaaaak! Keberadaanku sudah dilupakan!”
“Kau ini menjengkelkan di waktu yang penting ini... Berhentilah
menangis... Dasar.”
Sanae, yang sedang melayang di udara, mendarat di depan Yurika
dengan ekspresi kesal di wajahnya. Dia mulai menjelaskan situasinya dengan
enggan.
“Wanita itu datang dari bawah tikar tatami, dan sambil
mengabaikanku, dia mencoba menguasai kamar ini. Dia bilang sesuatu mengenai
orang-orang bawah tanah akan menginvasi permukaan dan menggunakan kamar ini
sebagai markas mereka.”
“O-orang-orang bawah tanah!? Benarkah!?”
“Tidak perlu merasa terkejut mengenai orang-orang yang hidup di
bawah tanah, kan? Dibandingkan denganmu, dia adalah orang yang waras.”
“Kau salah! Itu cuma prasangka! Kenapa kau tidak mau
mempercayaiku!? Walaupun kau percaya pada orang-orang bawah tanah yang menginvasi
permukaan!?”
“Bagaimana kalau kau meraba dadamu dan bertanya pada dirimu
sendiri!”
“Dada...? Apa kau bilang payudara besarnya itu adalah alasannya?”
Setelah mengamati dadanya sendiri, Yurika menoleh ke arah Kiriha
dan Sanae dan tersenyum lega.
Dia senang dia bukanlah posisi terakhir.
“...Bicara lagi soal payudara, kau tidak akan melihat matahari
terbit besok.”
“Kyaaa! Ma-maaf! Maafkan aku! Semua ini kesalahanku!”
Mendengar ancaman Sanae, Yurika yang ketakutan berlari ke arah
lemari pakaian dan menutup pintu gesernya dengan buru-buru.
“...Semuanya menjadi kacau begini.”
Pada awalnya, yang perlu dia lakukan hanyalah mengusir Koutarou.
Namun, situasinya mulai berkembang ke arah yang tidak terduga.
“Pokoknya, Koutarou, jika kau jatuh ke dalam tipuan wanita itu,
kau akan menyesalinya!”
Perasaan yang tak terduga mulai tumbuh di dada kecilnya.
Tidak menyadari hal itu, Sanae menggertakkan giginya menatap
interaksi Koutarou dan Kiriha.
Selesai menaruh makanan untuk makan malam, perut Koutarou
keroncongan.
“Akhirnya, makan malam...”
Jam menunjukkan hampir 10 malam. Wajar kalau perutnya keronongan.
“Saya minta maaf, Koutarou. Demi saya...”
Salah satu alasan tertundanya makan malam, Kiriha, duduk di
sebelah kanan Koutarou.
“Jika kau berpikir begitu, kau tinggal pergi saja.”
“Saya tidak bisa melakukannya... Ngomong-ngomong, Koutarou, mengapa
tidak berbagi makanan dengan saya?”
Terhampar di depan Kiriha adalah tumis sayuran, daging, nasi dan
sup miso.
“Aku tidak ingin berhutang. Khususnya aku tidak bisa ceroboh di
sekitarmu.”
“Fufufu, kamu sungguh tulus. Sepertinya saya harus mulai
menghancurkanmu dari sana.”
Koutarou berbagi makan malam dengan Kiriha karena dia sudah
membantunya membuat makan malam.
“Wanita itu hanya membantu, jadi kau akan meninggalkan kamar ini?
Tidak ada hutang yang perlu dibayar; kalaupun ada, seharusnya sebaliknya.”
Duduk di depan Koutarou adalah Sanae yang tidak puas. Dia tidak
suka Koutarou dan Kiriha menjadi akrab.
“Itu tidak benar. Saya hanya ingin memperdalam pertemanan kami
–"
“Hmph, lihat saja nanti.”
Tidak ada makanan di depan Sanae. Hantu kan tidak bisa makan apapun.
“Makanan itu terlihat jauh lebih baik dari mie gelas...”
Yurika berkata begitu sambil menuangkan air panas dari ketel ke mie
gelasnya.
Meskipun biaya hidupnya tinggi, mie itu bisa dibeli dengan harga
murah yaitu 98 yen.
Figur menyedihkan Yurika bisa membuatmu menangis.
“...Apa kau mau makan juga?”
“Eh!?”
Karena hal itu, Koutarou merasa sedikit iba.
“B-boleh?”
“Yu-Yurika! Airnya! Airnya! Airnya kelebihan!”
“Kyaaa! Maaf! Maafkan aku!”
Lengah oleh tawaran Koutarou, Yurika tidak memperhatikan airnya,
dan air panas meluber dari mie gelasnya.
Yurika meletakkan ketel di meja teh dan buru-buru melap air
panasnya dengan serbet.
“...Kau benar-benar orang yang tidak berdaya, ya...”
“Maaf, maafkan aku! Aku ini kikuk dan dungu!”
“Tidak usah dipikirkan... Tapi bagaimana dengan makan malam; apa
kau mau makan juga?”
“Kau tetap mau berbagi denganku setelah apa yang baru kulakukan!?”
Ekspresi Yurika yang setengah menagis menjadi cerah, dan dia
mempercepat tangannya melap air yang tumpah.
“Ya, kau boleh mengambil makanannya.”
“Terima kasih banyak!”
“Tidak perlu berterimakasih. Tapi sebagai balasannya, kau harus
pergi setelah kau makan.”
Mendengar hal itum senyuman Yurika membeku dan tangannya berhenti.
“A-aku tidak bisa pergi, jadi aku akan makan mie gelas saja...”
Bahu Yurika jatuh dalam kekecewaan.
Namun, seperti seorang anak kecil, Yurika terus menatap makanan di
depan Koutarou.
“...Sepertinya dia menyesali keputusannya.”
“Tidak perlu menahan diri. Kau bisa makan sampai kenyang kemudian
pergi dari sini.”
“Aaaaaaaa...”
Yurika menelan ludahnya.
“Jangan, Yurika! Kau tidak boleh kalah pada godaan ini! Yurika
Berjuang!”
Yurika mati-matian mencoba membujuk dirinya sendiri, tapi bau
makanan enak terus menggodanya.
Dia hanya makan mie gelas beberapa hari ini, dan godaannya tidak
tertahankan.
Dengan demikian, Yurika terus menatap makanan Koutarou, hampir
meneteskan air liur.
“Menyerah saja, Yurika. Yang harus kau lakukan hanyalah pergi dari
kamar ini.”
“A-aaaaaa! Nasinya! Sup miso itu memanggilku! Kejam sekali,
siksaan ini terlalu kejam!”
Perut Yurika keroncongan dengan keras. Tubuhnya sepertinya sudah
menyerah pada godaan.
“...Makan malam...”
Sambil melihat Koutarou dan Yurika yang sedang tarik ulur, Sanae
menoleh ke arah makanan ketiganya.
“Aku belum makan selama beberapa tahun...”
“Ada apa, Sanae?”
Koutarou merasa sesuatu yang janggal pada Sanae, tapi Sanae tidak
menjawab pertanyannya dengan segera.
Sanae mulai bicara setelah beberapa detik lewat.
“...Hei, Koutarou dan Yurika... Siapa saja boleh, tapi...”
“Apa?”
“I-Iya, Ada apa?”
Koutarou menjawab santai sedangkan Yurika menjawab gugup.
“Bolehkah aku merasukimu?”
Kata-kata Sanae selanjutnya sama sekali tidak terduga.
“Merasuki?”
Namun, yang lebih tak terduga bagi Koutarou adalah tingkah serius
Sanae.
Karena itu Koutarou tidak terkejut dan ingin Sanae menjelaskan
dengan lebih jelas.
“Tidaaaaaaaaaaaaaaaak!!”
Namun, Yurika tidak memiliki perasaan yang sama dengan Koutarou
sama sekali.
“Pokoknya aku tidak ingin dirasuki oleh hantu! Jika kau akan
merasuki seseorang, tolong rasuki saja Satomi-kun!!”
Yurika meninggalkan mie gelasnya, buru-buru loncat ke dalam
lemari, dan menutup pintunya.
“Yah kau tahu, kan, aku ini hantu?”
“Ya.”
Koutarou dan Sanae tidak lagi mengharapkan apapun dari Yurika,
jadi mereka melanjutkan obrolan mereka seperti tidak ada yang terjadi.
“Karena itu, aku tidak bisa makan apapun, kan?”
“Kau benar. Cuma sesajen yang mungkin bisa dimakan.”
“Tapi jika aku merasuki seseorang, aku bisa merasakan apa yang
orang itu makan.”
“Sanae, metode itu akan berjalan lebih baik jika kamu merasuki
seseorang dengan panjang gelombang yang sama denganmu. Bukannya akan lebih baik
jika kamu merasuki saya atau Yurika?”
Kiriha, yang hanya mengamati, mulai berbicara.
“Itu benar, tapi Yurika seperti itu, dan Kiriha, aku menolak
melakukannya denganmu!”
“Mengapa?”
“Jika aku berhutang pada seseorang sepertimu, aku tahu aku akan
menyesalinya!”
“...Yah sepertinya saya dibenci...”
Kiriha tersenyum pahit ke arah Sanae.
“Begitulah, jadi tolonglah, Koutarou!”
“Kalau begitu, apa untungnya bagiku? Selain itu, aku tidak akan
membiarkanmu merasukiku begitu saja dan kemudian mengusirku.”
Sanae menyatukan kedua tangannya dan menundukkan kepalanya.
“Kumohon! Aku tidak akan mengusirmu! Aku hanya ingin dapat
merasakan makanan lagi!”
“...Benarkah?”
“Iya!”
Sanae mendongak dan mengangguk berulang kali.
“Hanya satu hal yang harus kau tahan adalah bahu yang pegal.”
“Pegal?... Jangan bilang hal begitu pada orang yang akan kau
rasuki.”
“Dan jika kau membiarkanku merasukimu saat kau makan, aku tidak
keberatan berdamai! Boleh, kan!? Jika bahumu pegal, aku akan memijatmu!”
“Gencatan senjata...”
Itu adalah tawaran yang menggiurkan bagi Koutarou.
Itu berarto jumlah orang yang harus dia usir berkurang menjadi
dua, dan yang paling agresif, Sanae, akan tetap tengan.
''Dan yang harus kutahan hanyalah bahu yang pegal?... Baiklah.''
“Baiklah, aku menerima syarat itu.”
“Benarkah!?”
“Ya, ayolah. Aku sudah siap.”
Koutarou menepuk bahunya sendiri sambil berkata begitu.
“Yay!”
Sanae tiba-tiba melompat ke arah Koutarou.
“Uwa!?”
“Terima kasih, Koutarou!”
''Walaupun kalian menyebutnya hantu, dia hampir mirip seperti
seorang anak kecil.... Yah, kurasa dia memang anak kecil.''
Inilah yang Koutarou rasakan saat dia menatap Sanae.
Di momen itu, pintu lemari terbuka, dan wajah merah Yurika muncul
dari dalam.
“.......”
Yurika kembali ke meja teh tanpa bersuara.
Dia merasa situasinya sudah tenang, tapi merasa malu terhadap
tingkah lakunya sendiri.
“Jadi Sanae, yang perlu kulakukan hanyalah makan seperti biasanya
kan?”
“Ya! Tunggu sebentar; aku akan merasukimu sekarang!”
Namun, baik Koutarou maupun Sanae sama sekali tidak memperhatikan
Yurika.
Dan Kiriha, yang sedang menonton keduanya, juga tidak menghiraukan
Yurika.
Sudah hampir waktunya bagi Yurika untuk mulai mengeluh; untungnya,
kali ini tidak terjadi.
“Ei!”
Sanae berputar ke belakang Koutarou dan menempel padanya dengan
lengannya merangkul leher Koutarou.
“Silakan, Koutarou.”
“Kerasukan itu seperti ini? Cukup berbeda dari apa yang
kubayangkan...”
Koutarou bisa merasakan tubuh kecil Sanae di punggungnya.
Tubuhnya hangat, dan dia bisa merasakan nafas Sanae di dekat
telinganya.
Dia lemah pada jimat, bisa menembus dinding dan menggunakan
Serangan Poltergeist.
Tidak salah lagi kalau dia ini hantu. Namun, secara bertahap
Koutarou mulai berhenti menganggap Sanae hanya sebagai sesosok hantu.
“Ya! Makanlah, Koutarou!”
Sanae, di sisi lain, sedang dalam suasana hati yang sangat riang.
“Baiklah, selamat makan.”
“Ya, silakan... kurasa itu bukan bagianku.”
“Hahaha, Memangnya penting”
Koutarou mulai makan sambil membawa Sanae di punggungnya.
''Aku penasaran mengapa...?''
Anehnya, Koutarou tidak merasakan perasaan negatif terhadap Sanae
di momen tersebut.
“Ah, Koutarou, yang ini enak!”
“Aku merasa terhormat kau mau memujiku.”
“Kiriha membuat makanan yang itu.”
“Hee~ Pakaianmu mungkin aneh, tapi sepertinya kau bisa memasak...
Tapi, rasanya sedikit kuat."
“Begitu ya?”
“Ini tidak baik buat tubuhmu.”
“Tuh, Koutarou, Sanae pun mengatakan hal yang sama. Mulai
besok, kita akan membuat rasanya berkurang.”
“Hmph...”
Kiriha bergabung, dan mereka terus makan dengan gembira.
“...Kelihatannya enak...”
Yurika menatap dengan penyesalan.
“Dan dibandingkan dengan itu, aku memakan mie gelas...”
Yurika terus menatap dengan kesedihan di wajahnya sambil membuka
tutup mie gelasnya dengan lembut.
Aroma bumbu sintetis naik dari mie itu.
“Ah...”
Kecewa oleh bau itu, tangan Yurika tersentak dan tutupnya hanya
terbuka sebagian.
Yurika mencoba untuk menyobek sisa tutup itu, tapi masih ada tutup
yang tersisa, dan penampilan wadah mie itu menjadi lebih buruk.
“...Hari ini benar-benar buruk… ”
Sambil berkata begitu, sumpit sekali pakainya patah, dan sumpit
kiri dan kanan memiliki bentuk yang berbeda.
“Koutarou! Sup miso! Sup miso!”
“Aku mengerti, jadi tenanglah sedikit.”
“Supnya masih panas, jadi berhati-hatilah, Koutarou.”
Sambil melihat ketiga orang tersebut sedang bersenang-senang,
sumpit Yurika meraih mie gelasnya.
“Mengapa selalu aku...”
Sambil bersedih sendirian, Yurika memakan mie gelasnya.
“Mie ini bahkan mie lembek...”
Mie 98 yen terasa sedikit lebih asin dari biasanya.
“Baiklah kalau begitu, setelah kita makan, mari kembali ke subyek
awalnya."
“Subyek awal?”
Kiriha bertanya sambil menuangkan teh setelah makan.
“Subyek tentang mengusirmu keluar!”
Sanae tertawa ke arah Kiriha sambil menyandarkan dagunya di bahu
Koutarou.
“Sanae, kau mau tetap tinggal disini, jadi kau mengusir semuanya,
benar kan?”
“Ya. Yah, ''kita'' sedang berdamai saat ini.”
“Benar, dan Kiriha-san, kau menginginkan kamar ini supaya kau bisa
membangun kembali altar kalian.”
“Benar.”
“Dan Yurika, kau mau mengadakan pesta cosplay dengan teman-temanmu
disini.”
“Kau salah!”
“Dan aku tinggal disini, jadi aku tidak mau pindah. Dan aku tidak
akan menemukan tempat lain dengan harga semurah 5.000 yen. Di samping itu,
kalau aku menyerahkan kamar ini begitu saja, akan ada berbagai masalah.”
Jika Koutarou pindah, rumor hantu di kamar ini hanya akan menyebar
lebih jauh.
Atau akan ada invasi permukaan atau pesta cosplay tiap hari.
Sebagai teman Shizuka, Koutarou ingin mencegah hal itu dengan cara
apapun.
''Aku mengerti mengapa tempat ini sangat berharga baginya.''
“Tolong dengarkan aku! Ada bahaya yang mendekat!”
“Dan tidak semuanya ingin berebut dengan bertarung... Walaupun aku
jago berkelahi.”
“Tujuanku bukanlah menyakiti orang-orang.”
“Toh, kita sedang berdamai.”
“Aku tidak akan mengadakan pesta cosplay apapun!”
“Dan tidak ada satupun dari kita bersedia menyerah.”
“Tentu saja.”
“Kamar ini rumahku!”
“Kamar ini berbahaya! Tolong, semuanya keluar secepat mungkin!”
“Dengan demikian, Koutarou, kita harus menyelesaikan masalah ini
dengan suatu cara. Selain negosiasi yang lama denganmu, masih ada dua lagi yang
mengincar kamar ini. Kalau terus begini, perkembangan kami akan berhenti. Sudah
jelas kalau kita tidak akan sepakat, jadi kita harus menyelesaikan ini dalam
cara yang disetujui semuanya.”
“Ya, kau benar... Tapi metode itu...”
Koutarou setuju dengan Kiriha dan melihat ke sekeliling.
''Kalau saja Mackenzie ada disini di saat seperti ini.''
Bagi Koutarou, yang lebih menyukai aksi daripada kata-kata, tidak
ada waktu yang lebih cocok untuk meminjam kebijaksanaan Kenji daripada
sekarang.
Tapi di sisi lain, dia tidak bisa memanggil polisi begitu saja.
Jika dia mulai bicara mengenai hantu, orang-orang bawah tanah, dan
cosplayer, mereka hanya akan berpikir kalau dia sudah tidak waras.
Dia tidak bisa mengandalakan orang luar.
“Tolong dengarkan! Aku tidak bisa menerima hal ini begitu saja! Mengapa
kau tidak mau mempercayaiku!? Kekuatan sihir yang terkumpul disini itu
berbahaya!”
“Apa ada yang punya ide bagus? Metode yang bisa disetujui
semuanya...”
“Itu cukup sulit...”
“Hmm... metode yang adil... Hei, Koutarou, bagaimana kalau begini?
Kita memainkan beberapa permainan, dan yang kalah harus pergi.”
“Aku sudah bilang, aku tidak bisa menerima hal ini! Tolong
dengarkan perkataanku!"
“Untuk memutuskan hal ini dengan adil dengan sebuah permainan itu
ide yang bagus. Jika kamu melihat kembali dalam sejarah, ada banyak contoh
perebutan wilayah yang diputuskan dengan permainan.”
“Tunggu sebentar! Aku tidak ingin sesuatu sepenting ini diputuskan
oleh sebuah permainan!”
Kiriha setuju dengan ide Sanae, tapi Koutarou berpikiran lain.
Alasannya hanya karena Kiriha itu pintar dan Koutarou tidak.
“Koutarou, apa kamu lebih memilih kita saling memukul atau
melanjutkan diskusi tak berujung ini?”
“Perkelahian... Diskusi...”
Koutarou melepas ide perkelahian setelah menatap Sanae dan Kiriha.
Dan melihat Yurika, Koutarou melepas ide berdiskusi.
“Ku, sepertinya tidak ada jalan lain...”
Walaupun mereka berkelahi di hari pertama mereka bertemu, entah
kenapa Koutarou tidak ingin memukul Sanae sekarang.
Alat religi yang dia dapat dari Shizuka masih ada di kotak mereka.
Dia tidak tahu sama sekali apakah hal yang dikatakan Kiriha itu
masuk akal atau tidak.
Dan dia tidak berpikir kalau alasan dan diskusi akan menuju kemana
dengan Yurika.
“Permainan... Permainan, ya...”
Koutarou menurunkan bahunya untuk sesaat, tapi dia dengan segera
mendinginkan kepalanya dan menoleh ke arah Sanae.
“Baiklah, Sanae, jika kita akan memainkan sebuah permainan, apa
permainannya?”
“Bagaimana kalau permainan yang mudah seperti
batu-gunting-kertas?”
Sanae mengacungkan jarinya dan sedikit memiringkan kepalanya.
Tapi Kiriha menggelengkan kepalanya mendengar tawaran itu.
“Batu-gunting-kertas tidak bagus. Terlalu sederhana, dan terlalu
banyak mengandalkan keberuntungan. Agar semuanya setuju, kita membutuhkan
permaianan dimana kemampuan seseorang menjadi fokusnya.”
“Walaupun begitu, kita tidak bisa memainkan shougi atau catur,
kan? Ada keuntungan dan kerugiannya.”
“Aku belum memainkan keduanya.”
“Sebuah permaianan dimana seorang pemula bisa bermain dan
mengandung unsur keberuntungan, tapi dimana kemampuan pemain akan terlihat
setelah bermain beberapa kali.... Ini klasik, tapi bagaimana kalau permainan
kartu?”
“Permainan kartu... seperti Trump?”
“Tapi, permainannya tdak perlu dibatasi cuma Trump saja.”
“Aku setuju dengan itu. Aku banyak bermain permainan itu dengan
Mama dan Papa.”
“...Baiklah… Sebut itu cosplay atau apapun yang kalian inginkan...
Jika ini membuat kalian pergi, apapun tidak masalah...”
Koutarou menatap ketiga gadis itu dan menghirup nafas dalam-dalam.
“...Baiklah. sepertinya kita semua sudah sepakat, jadi kita
lakukan ide tadi. Kamarku yang jadi taruhannya, dan aku ingin cepat-cepat
menyelesaikan persoalan konyol ini.”
Koutarou tidak bisa memukul Sanae yang tersenyum, yang masih
menempel di punggungnya.
Dan dia tidak yakin kalau dia bisa menahan rencana Kiriha lebih
lama lagi.
Dia tidak bisa membujuk Yurika.
Koutarou tidak punya pilihan lain selain hal ini.
“Tidak ada yang keberatan. Jadi, Koutarou, permainan seperti apa
yang akan kita mainkan?”
“Sebentar...”
“Koutarou, bagaimana kalau kita semua bergiliran memilih
permainannya? Dengan cara itu, permainannya akan adil.”
“Kalau begitu, kita perlu menambahkan poin untuk peringkatnya.”
“Begitulah. Setidaknya, kompetisinya harus terus berjalan sampai
semuanya mendapat giliran.”
“Uuuu! Lagipula, tidak ada yang mendengarkan pendapatku.”
“Hei Koutarou, kita berdua sedang berdamai, jadi kita harus
bekerjasama. Dengan begitu, permainannya akan lebih mudah, dan setelah kita
selesai, kita hanya perlu berdiskusi.”
“Baiklah. Kalau aku bermain normal, aku mungkin akan kalah oleh
Kiriha.”
“Kiriha-san, mereka berdua bekerjasama...”
“Itulah yang sering terjadi saat perebutan wilayah. Fufufu,
sepertinya saya tidak boleh lengah. Haruskah kita berdua bekerjasama untuk
mengalahkan mereka?”
“I-Iya!”
Begitulah, permainan untuk menentukan pemilik kamar itu dimulai.
Catatan Kaki:
[1] Sebuah boneka tanah liat yang digunakan saat
ritual dan dikubur bersama mayat. Diasumsikan kalau jiwa mayat tersebut akan
tinggal di dalam boneka itu.
1 Comments
otsukaresama
BalasHapusPosting Komentar