ROKUJOUMA NO SHINRYAKUSHA
JILID 1 BAB 5 BAGIAN 2
MEMULAI INVASI 

Bukan hanya Koutarou, tapi Sanae, yang tadi berpaling, sedang menatap Kiriha dengan rasa terkejut.

“Apa yang dinginkan oleh seseorang seperti itu dari kami!?”

Sanae menghantamkan tangannya ke meja teh dan menyondongkan tubuhnya ke arah Kiriha.


“Tenanglah, Sanae. Aku belum mengatur barang-barangnya dengan benar jadi ruangan ini sangat sesak. Jangan bergerak terlalu banyak.”

“Ah, Ma-maaf...”

Diingatkan oleh Koutarou, Sanae duduk di tempatnya semula.

“Tujuan kami datang kesini bukanlah kalian atau bahkan bangunan ini.”

“Apa maksudnya?”

“Suku kami awalnya tinggal di pegunungan di daerah ini. Namun, saat leluhurmu mulai menggunakan logam dalam jumlah besar dan mulai menambang di gunung kami, kami terpaksa tinggal di bawah tanah.”

“Dan itulah alasan mengapa kalian menjadi penduduk bawah tanah?”

“Itu sih hasilnya, ya. Setelah pindah ke bawah tanah, suku kami awalnya berencana untuk kembali ke permukaan tidak lama kemudian. Namun, mereka tak menyangka kalau bawah tanah itu terasa nyaman. Sekitar setengah dari suku kami tetap tinggal di bawah tanah. Orang-orang itulah leluhurku.”

“Heeh...”

Setelah muncul dari bawah tanah, kata-kata Kiriha terdengar sangat meyakinkan.

Lubang di lantai yang sepertinya mengarah ke bawah menuju kedalaman bumi.

“Dan baru-baru ini, kami menemukan penemuan bersejarah.”

“Penemuan bersejarah? Apa?”

“Sebuah buku tidak sengaja ditemukan. Di dalamnya, posisi altar dimana jiwa leluhur kami bersemayam tertulis. Kami sudah mencari hal itu selama bertahun-tahun."

“Jadi, kau datang ke permukaan untuk mecari altar itu?”

Merespons pertanyaan Koutarou, Kiriha mengangguk.

“Itu benar. Namun, posisi altarnya tertulis dengan akurat, jadi tidak perlu mencarinya.”

“Jadi urusanmu sudah hampir selesai.”

“Bagus untukmu, Kiriha-san.”

“Tidak semudah itu.”

Kiriha menurunkan alisnya dengan sedih dan menggelengkan kepalanya.

“Kami menyukai pembangunan altar kami melebihi apapun. Namun, ada masalah dengan tempatnya.”

“Tempatnya...?”

“Persaanku buruk mengenai hal ini...”

Sanae memasang eksresi tidak senang.

“Sebenarnya, posisi altar kami ada di tengah-tengah kamar ini.”

Mendengar kata-kata Kiriha, kata-katanya sama dengan kata-kata yang Sanae takutkan.

“Yang berarti, Kiriha-san...”

“Ya, Koutarou. Bisakah kamu menyerahkan kamar ini pada kami? Penting bagi altar itu untuk berada di posisi yang tepat.”

“Aku sudah tahu itu!”

Sanae buru-buru berdiri.

“Tentu saja kami tidak akan memberikannya padamu! Aku tidak akan membiarkan kau membangun altar aneh disini!”

Sanae menolak untuk membiarkan seseorang membangun sebuah altar di rumahnya.

“Kami tidak akan mengusirmu dengan paksa. Suku kami memiliki harga diri dan tradisi. Kami tidak akan memaksakan masalah kami kepadamu. Sebagai balasannya, kami ingin menawarkan kompensasi yang dibutuhkan untuk mencari kediaman di tempat lain. Karama, Korama, tolong bawa itu.”

“Oke-ho!”

“Dimengerti-ho, Ane-san!”

Dua bayangan kecil mucul dari lubang.

“A-apa itu!?”

“Ha-haniwa ?”

“Ho~”

“Hoho~”

Mereka adalah 2 haniwa dengan panjang sekitar 30 sentimeter. Dengan permukaan halus dan wajah menggemaskan, keduanya sedang bekerjasama untuk membawa sebuah bongkahan logam bercahaya keemasan.

“Hei!”

“Ho~”

“Hei!”

“Ho~”

Keduanya mengeluarkan suara aneh saat mereka membawa bongkahan logam itu ke arah Koutarou dan Sanae yang tidak bergerak.

“Imuuuutnyaaaa!”

“Me-mereka ini apa!?”

“Tidak perlu terkejut. Mereka berdua adalah pelayanku. Mereka mirip dengan boneka mesin yang kalian gunakan.”

“Ho-! Aku Karama-ho!”

“Halo-ho! Aku Korama!”

Meletakkan bongkahan logam itu di depan Koutarou, keduanya melambaikan tangan dengan riang.

“Tak kusangka kalau mereka ini robot...”

“Halo, Karama-chan, Korama-chan!”

Koutarou dan Sanae terkejut.

Jika kata-kata Kiriha bisa dipercaya, mereka berdua adalah robot.

Namun, tidak ada sesuatupun mengenai mereka yang terlihat mekanis.

Walaupun tubuh mereka terlihat seperti gerabah, anggota gerak mereka bebas bergerak.

Berlawanan dengan penampilan mereka yang bagus, mereka pasti dibuat menggunakan teknik yang sangat maju.

Hati Sanae telah dicuri oleh robot-robot imut itu.

“Jika Mackenzie melihat ini, dia mungkin akan menangis gembira.”

“Koutarou, Sanae. Bongkahan logam ini adalah emas padat. Namun, dalam proses pembuatannya, beberapa platinum tercampur, walaupun saya ragu kalau campuran itu akan menurunkan nilai emasnya. Jika kalian pindah dari sini, kami akan menawarkanmu emas ini sebagai balasannya."

“I-ini jumlah yang luar biasa, Kiriha-san!”

Saat diberitahu kalau logam di depannya adalah emas, Koutarou terkejut sekali lagi.

Emas bernilai beberapa ribu yen per gram, dan berat emas ini pasti setidaknya 10 kilogram.

Yang berarti emas ini akan bernilai beberapa puluh milyar yen.

Jumlah emas yang aneh bila hanya untuk mengosongkan apartemen ini.

“Ini hanya untuk membuktikan seberapa serius kami ini. Jika ini membuatmu kerepotan, kami bisa menukarnya dengan uang yen Jepang. Bagaimana? Apa kamu mau menyerahkan kamar ini pada kami?”

“Emas yang sangat banyak... Apa yang kulakukan!? Tidak mungkin! Tidak mungkin sama sekali! Ini rumahku! Koutarou, kau juga bilang sesuatu!”

“Hmmm...”

Sanae menolak dengan segera, tapi di sisi lain, Koutarou menyilangkan lengannya dan sedang berpikir dalam-dalam.

“Hei! Buat apa kau berpikir!?”

“Yah, mendengar situasinya, kupikir tidak ada salahnya untuk bekerja sama dengannya.”

“Koutarou!? Apa kau serius!?”

Mendengar respons Koutarou, ekspresi Kiriha menyala dan dia mulai berdiri.

Dan hiasan yang menempel di pakaiannya membuat suara dentingan yang menusuk.

Seperti bongkahan logam itu, sepertinya hiasan itu juga dibuat dari emas.

“Bukan hanya payudaranya, tapi kau juga terpikat oleh uang!?”

“Kau salah! Aku tidak bisa menerima jumlah sebanyak ini!.. Yah, jika aku pindah, aku akan membutuhkan sejumlah uang, karena jika aku tidak bisa bertahan hidup setelah pindah, ini semua menjadi tidak ada artinya.”

“Memang itulah hakmu.”

“Saat aku bilang supaya kau keluar, kau menolak! Mengapa kau mendengarkan wanita berpayudara besar ini! Apa payudara besar sebagus itu!?”

“Jangan perlakukan aku seperti orang mesum! Hanya saja aku bersedia untuk bekerjasama dengannya karena alasan dan perilakunya tidak buruk!”

“Apa-apaan itu!?”

Di titik ini, Koutarou merasa kalau tidak apa-apa bila dia bekerjasama dengan Kiriha.

Dia sangat sopan, dan sudah menjelaskan alasannya dengan jelas.

Dia juga bilang kalau dia akan menyiapkan kompensasi yang dibutuhkan untuk pindah.

Dan alasannya menginginkan kamar ini benar-benar masuk akal.

Membangun kembali altar untuk menyembah leluhur mereka, yang mirip dengan membangun sebuah kuburan atau altar Buddha.

Koutarou tidak punya alasan untuk bilang tidak kepada seseorang yang hanya menginginkan untuk menghargai leluhur mereka.

“Sanae, kau mungkin ingin tinggal di kamar ini, tapi apa kau tidak bisa sedikit berkompromi? Walaupun kau tetap disini, sebuah altar bukanlah gangguan, kan?”

“I-itu... Yah, bukan gangguan, tapi...”

Sanae melirik ke arah Kiriha.

Sanae tidak punya alasan untuk membencinya, selain payudara besarnya.

Oleh karena itu, perasaan Sanae tergerak secara bertahap karena bujukan Koutarou.

“Jadi maafkan dia, oke? Tidak seperti Yurika, dia bukannya ingin mengadakan pesta cosplay”

“Aku mengerti... aku akan menerimanya.”

Dan Sanae akhirnya menyerah.

“Oh! Jadi kalian akan setuju! Koutarou, Sanae!”

Ekspresi Kiriha menjadi semakin bercahaya.

“Ya.”

“Aku benar-benar tidak menyukai ini, tapi aku tidak punya pilihan. Situasinya tidak bisa diubah.”

Sanae akan tinggal bersama dengan altar.

“Terima kasih, kalian berdua! Dengan begini, kami bisa langsung bergerak ke Fase Dua!”

“Fase Dua?”

“Apa itu?”

Koutarou dan Sanae memiringkan kepala mereka dalam rasa bingung setelah mendengar kata-kata Kiriha.

“Operasi invasi permukaan. Setelah kami mengaktifkan altarnya, kami dapat mengumpulkan sejumlah besar energi spiritual! Dan dengan itu, kami dapat memproduksi massal senjata spiritual seperti Karama dan Korama!”

“A-APAAA!?”

“INVASI PERMUKAAN!?”

“Tentu saja. Kalian tidak perlu khawatir; kalian berdua sebagai orang yang berjasa akan diperlakukan sebagai tamu. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan sama sekali.”

Kiriha mengartikan keterkejutan Koutarou dan Sanae sebagai kekhawatiran terhadap apa yang akan terjadi pada mereka. Tentu saja, itu bukanlah alasan sebenarnya dibalik rasa terkejut mereka.

“Tu-tunggu sebentar! Jadi apa!? Kau ingin membangun kembali altar dimana leluhurmy bersemayam supaya kalian bisa menginvasi permukaan!?”

“Itu benar... apa ada yang salah, Koutarou?”

Terkejut melihat reaksi Koutarou yang tak diduga sebelumnya, Kiriha menatapnya heran dan berkedip.

“Jangan tanya 'apa' atau 'mengapa'! Aku menarik semuanya kembali! Aku tidak akan pernah memberikan kamar ini padamu!”

“Ucapan yang bagus, Koutarou!”

“Koutarou!? Mengapa tiba-tiba seperti ini? Kamu sangat kooperatif tadi!”

“Aku menolak dengan tegas! Aku tidak bisa menerima tanggung jawab telah membiarkan invasi permukaan terjadi!”

Melihat Karama dan Korama, bahkan Koutarou yang tidak ahli dalam sains dapat mengerti.

Membuat sesuatu seperti kedua benda itu membutuhkan teknik yang sangat tinggi.

Jika orang-orang seperti itu menginvasi permukaan, siapa yang tahu apa yang bisa mereka lakukan.

Dia bahkan tidak mau membayangkan hal itu.

“Kukira setidaknya kau punya alasan yang masuk akal! Tapi tak kusangka kau akan berkata sesuatu yang sangat konyol dengan entengnya!”

“...Begitu ya. Sampai-sampai kamu menolak seperti itu... Yah, saya punya rencana lain.”

“Apa!? Apa kau akan menggunakan kekerasan!?”

“Yah, siapa yang tahu...”

Kiriha tidak tersentak sedikitpun saat wajah murka Koutarou ada didepannya. Malahan, bibirnya membentuk senyuman yang mencurigakan.

“Koutarou, botol merah di kotak bumbu adalah garam,kan?”

“Ya...”

“Jadi akhirnya begini...”

Koutarou sedang memotong kubis untuk makan malam.

Disampingnya adalah Kiriha yang mengenakan celemek.

Dia menggerakkan wajan penggorengan dengan cekatan sambil mengocok garam di dalam botol merah kecil itu.

“Koutarou, apa kamu memilih makanannya diberi garam yang banyak atau sedikit?”

“...Aku lebih memilih garam yang banyak.”

“Makanan bergaram banyak itu tidak baik untuk kesehatanmu. Sebaiknya kita mulai mengurangi jumlah garamnya secara bertahap mulai besok. Kamu ini hidup sendiri, jadi kamu harus mengurus dirimu sendiri.”

Kiriha tersenyum lembut sambil terus menggerakkan wajannya.

Dia sedang menumis sayuran.

Kubis yang sedang diiris oleh Koutarou juga akan ditambahkan ke dalam tumis itu.

Ditambah lagi, penanak nasi juga sedang menanak nasi di ruangan dalam.

Kiriha sudah mencuci nasinya beberapa saat yang lalu.

Makan malam Koutarou hari ini terdiri dari nasi, beberapa daging, dan tumis sayuran.

“Koutarou, apa kamu sudah selesai mengiris kubisnya?”

“I-iya.”

“Kalau begitu, tolong tambahkan kesini.”

Kiriha mengecilkan apinya dan memberi isyarat pada Koutarou.



“Aku tidak menyangka kamu bisa memasak, Koutarou.”

“Ayahku tidak bisa melakukan apapun sendiri, jadi...”

Koutarou memasukkan kubisnya ke dalam wajan, dan saat kelembaban yang tersisa dalam kubis itu bercampur dengan minyak, terdengar suara desisan yang keras. Mendengar suara itu, Koutarou mulai merasa nostalgia.

''Sudah berapa lama aku tidak berdiri di samping seseorang di dapur?...''

Apa yang melintas di pikiran Koutarou adalah ingatan saat dia berdiri di samping ibunya di dapur.

Dia akan selalu memasang senyuman lembut di wajahnya, seperti Kiriha.

“Koutarou, lain kali saat kamu mengiris kubisnya, irislah lebih tipis. Kamu akan sulit memakannya bila kamu mengirisnya seperti ini”

“...Ya.”

Dengan bayangan ibunya yang sedang tersenyum di kepalanya, senyuman Kiriha terbukti sangat efektif, dan Koutarou menganggukkan kepalanya dengan patuh.

“Koutarou, siapkan piringnya. Saya akan segera selesai.”

“Ya.”

Koutarou mengangguk sekali lagi dan mengulurkan tangannya ke arah rak.

Suara wajan dan peralatan makan yang sedang diletakkan memenuhi ruangan.

Suara itu berlanjut selama beberapa saat sebelum Kiriha mematikan apinya.

Dan kemudian dia dengan enteng memanggil Koutarou sambil tersenyum.

“Koutarou, apa piringnya sudah siap?”

“Sudah siap.”

“Apa nasinya sudah matang?”

“2 menit lagi.”

“Begitu ya. Koutarou, apa kamu akan menyerahkan kamar ini?”

“Aku ak - ”

Karena cara meminta Kiriha yang wajar dan enteng, Koutarou hampir mengangguk dan setuju tanpa sadar.

“Tentu saja tidak!”

“Begitu ya. Sangat disayangkan.”

Dia membicarakan hal itu dengan enteng, seakan hal itu adalah obrolan yang benar-benar wajar.

Dia sudah membicarakan hal itu dengan ahli dan enteng dalam waktu yang tepat, dan Koutarou hampir menyetujuinya beberapa kali.

“Aku tidak akan terjebak trik seperti itu!”

“Kamu lawan yang cukup tangguh, Koutarou.”

Walaupun Kiriha sudah beberapa kali gagal, dia terlihat tidak memikirkannya.

“Fufufu, sepertinya ini akan menjadi perang yang lama.”

“Apa yang sedang kau coba lakukan?”

Koutarou merasa bingung oleh serangan Kiriha.

Berbeda dari Sanae, yang tidak punya alasan, atau Yurika, yang terus mengulang-ulang alasannya yang tidak dapat dimengerti, jenis serangan Kiriha yang mencoba mempengaruhi pikiran Koutarou dan membuatnya setuju dengan enteng itu lebih menyulitkan.

“Saya sudah bilang, kan? Kami memiliki harga diri dan tradisi. Menggunakan kekerasan itu berlawanan dengan kedua hal itu.”

“Kalau begitu, mengapa kalian tidak menyerah untuk menginvasi permukaan?”

”Kami hanya mengambil kembali apa yang seharusnya kami miliki. Saya sudah bilang, kami punya harga diri dan tradisi kami. Kami memang ingin mengambil kembali daerah kami, tapi kami tidak menaruh dendam terhadap orang-orang disini. Kami tahu rasa sakit yang terasa saat sesuatu telah dicuri, jadi kami tidak akan menyerang orang-orang disini. Musuh kami itu jauh lebih besar.”

“Jadi apa, apa kau berpikir aku akan setuju denganmu?”

Dan hal yang paling menyulitkan adalah perilaku dan kepercayaan Kiriha itu sangat benar.

Kalau saja dia adalah orang yang menggunakan kekerasan, akan lebih mudah bagi Koutarou.

“Saya akan membuatmu setuju, kami punya banyak waktu.”

Kiriha menekankan dada besarnya pada Koutarou dan menatapnya dengan tatapan yang menggoda.

“Wh-wha!?”

Dengan tatapan mencurigakannya dan sentuhan payudara besar dan lembutnya, Koutarou secara tiak sengaja melompat mundur. Jantungnya mulai berdebar kencang.

“Kami sudah bertahan di bawah tanah selama 1000 tahun.”

“Me-memangnya kenapa?

“Fufufu, itu berarti kami sudah menunggu selama 1000 tahun, tapi berapa lama kamu akan bertahan? Setengah tahun? Setahun? Saya akan melakukan apapun untuk membuatmu menganggukkan kepalamu.”

Kiriha dengan santai melemparkan kecupan ke arah Koutarou.

“Ugh...”

Kurano Kiriha. Gadis misterius yang datang dari bawah tanah.

''Seorang lawan berat muncul.''

Bagi Koutarou, saat ini, Kiriha adalah musuh terkuatnya.

“Apa-apaan sih! Memamerkan dada besarnya! Dan Koutarou juga! Tersipu melihat daya tarik sensual yang jelas begitu!”

Sanae telah mengintip ke koridor untuk mengamati situasinya, dan dia merasa marah.

Sanae ingin mengusir Koutarou.

Tapi dia memiliki rasa tidak suka yang kuat terhadap metode Kiriha yang tidak bisa dialakukan.

“Jika kau menyerahkan kamar ini untuk sesuatu seperti itu, aku tidak akan pernah memaafkanmu!”

Karena itu, Sanae tidak ingin Koutarou diusir oleh Kiriha. Dia sudah lama lupa terhadap tujuan awalnya sendiri.



“Pe-permisi...”

Seseorang mulai berbicara pada Sanae.

“Apa!?”

“Hiii! Ma-maaf, maaf banget, aku yang salah!”

Suara itu berasal dari Yurika, yang baru saja siuman.

Ketakutan oleh kelakuan Sanae, Yurika mulai menangis.

“Tadi itu cuma keceplosan! Aku hanya ingin tahu apa yang sedang terjadi!”

“...Oh iya, kau juga ada disini.”

“Tidaaaaak! Keberadaanku sudah dilupakan!”

“Kau ini menjengkelkan di waktu yang penting ini... Berhentilah menangis... Dasar.”

Sanae, yang sedang melayang di udara, mendarat di depan Yurika dengan ekspresi kesal di wajahnya. Dia mulai menjelaskan situasinya dengan enggan.

“Wanita itu datang dari bawah tikar tatami, dan sambil mengabaikanku, dia mencoba menguasai kamar ini. Dia bilang sesuatu mengenai orang-orang bawah tanah akan menginvasi permukaan dan menggunakan kamar ini sebagai markas mereka.”

“O-orang-orang bawah tanah!? Benarkah!?”

“Tidak perlu merasa terkejut mengenai orang-orang yang hidup di bawah tanah, kan? Dibandingkan denganmu, dia adalah orang yang waras.”

“Kau salah! Itu cuma prasangka! Kenapa kau tidak mau mempercayaiku!? Walaupun kau percaya pada orang-orang bawah tanah yang menginvasi permukaan!?”

“Bagaimana kalau kau meraba dadamu dan bertanya pada dirimu sendiri!”

“Dada...? Apa kau bilang payudara besarnya itu adalah alasannya?”

Setelah mengamati dadanya sendiri, Yurika menoleh ke arah Kiriha dan Sanae dan tersenyum lega.

Dia senang dia bukanlah posisi terakhir.

“...Bicara lagi soal payudara, kau tidak akan melihat matahari terbit besok.”

“Kyaaa! Ma-maaf! Maafkan aku! Semua ini kesalahanku!”

Mendengar ancaman Sanae, Yurika yang ketakutan berlari ke arah lemari pakaian dan menutup pintu gesernya dengan buru-buru.

“...Semuanya menjadi kacau begini.”

Pada awalnya, yang perlu dia lakukan hanyalah mengusir Koutarou.

Namun, situasinya mulai berkembang ke arah yang tidak terduga.

“Pokoknya, Koutarou, jika kau jatuh ke dalam tipuan wanita itu, kau akan menyesalinya!”

Perasaan yang tak terduga mulai tumbuh di dada kecilnya.

Tidak menyadari hal itu, Sanae menggertakkan giginya menatap interaksi Koutarou dan Kiriha.



Selesai menaruh makanan untuk makan malam, perut Koutarou keroncongan.

“Akhirnya, makan malam...”

Jam menunjukkan hampir 10 malam. Wajar kalau perutnya keronongan.

“Saya minta maaf, Koutarou. Demi saya...”

Salah satu alasan tertundanya makan malam, Kiriha, duduk di sebelah kanan Koutarou.

“Jika kau berpikir begitu, kau tinggal pergi saja.”

“Saya tidak bisa melakukannya... Ngomong-ngomong, Koutarou, mengapa tidak berbagi makanan dengan saya?”

Terhampar di depan Kiriha adalah tumis sayuran, daging, nasi dan sup miso.

“Aku tidak ingin berhutang. Khususnya aku tidak bisa ceroboh di sekitarmu.”

“Fufufu, kamu sungguh tulus. Sepertinya saya harus mulai menghancurkanmu dari sana.”

Koutarou berbagi makan malam dengan Kiriha karena dia sudah membantunya membuat makan malam.

“Wanita itu hanya membantu, jadi kau akan meninggalkan kamar ini? Tidak ada hutang yang perlu dibayar; kalaupun ada, seharusnya sebaliknya.”

Duduk di depan Koutarou adalah Sanae yang tidak puas. Dia tidak suka Koutarou dan Kiriha menjadi akrab.

“Itu tidak benar. Saya hanya ingin memperdalam pertemanan kami –"

“Hmph, lihat saja nanti.”

Tidak ada makanan di depan Sanae. Hantu kan tidak bisa makan apapun.

“Makanan itu terlihat jauh lebih baik dari mie gelas...”

Yurika berkata begitu sambil menuangkan air panas dari ketel ke mie gelasnya.

Meskipun biaya hidupnya tinggi, mie itu bisa dibeli dengan harga murah yaitu 98 yen.

Figur menyedihkan Yurika bisa membuatmu menangis.

“...Apa kau mau makan juga?”

“Eh!?”

Karena hal itu, Koutarou merasa sedikit iba.

“B-boleh?”

“Yu-Yurika! Airnya! Airnya! Airnya kelebihan!”

“Kyaaa! Maaf! Maafkan aku!”

Lengah oleh tawaran Koutarou, Yurika tidak memperhatikan airnya, dan air panas meluber dari mie gelasnya.

Yurika meletakkan ketel di meja teh dan buru-buru melap air panasnya dengan serbet.

“...Kau benar-benar orang yang tidak berdaya, ya...”

“Maaf, maafkan aku! Aku ini kikuk dan dungu!”

“Tidak usah dipikirkan... Tapi bagaimana dengan makan malam; apa kau mau makan juga?”

“Kau tetap mau berbagi denganku setelah apa yang baru kulakukan!?”

Ekspresi Yurika yang setengah menagis menjadi cerah, dan dia mempercepat tangannya melap air yang tumpah.

“Ya, kau boleh mengambil makanannya.”

“Terima kasih banyak!”

“Tidak perlu berterimakasih. Tapi sebagai balasannya, kau harus pergi setelah kau makan.”

Mendengar hal itum senyuman Yurika membeku dan tangannya berhenti.

“A-aku tidak bisa pergi, jadi aku akan makan mie gelas saja...”

Bahu Yurika jatuh dalam kekecewaan.

Namun, seperti seorang anak kecil, Yurika terus menatap makanan di depan Koutarou.

“...Sepertinya dia menyesali keputusannya.”

“Tidak perlu menahan diri. Kau bisa makan sampai kenyang kemudian pergi dari sini.”

“Aaaaaaaa...”

Yurika menelan ludahnya.

“Jangan, Yurika! Kau tidak boleh kalah pada godaan ini! Yurika Berjuang!”

Yurika mati-matian mencoba membujuk dirinya sendiri, tapi bau makanan enak terus menggodanya.

Dia hanya makan mie gelas beberapa hari ini, dan godaannya tidak tertahankan.

Dengan demikian, Yurika terus menatap makanan Koutarou, hampir meneteskan air liur.

“Menyerah saja, Yurika. Yang harus kau lakukan hanyalah pergi dari kamar ini.”

“A-aaaaaa! Nasinya! Sup miso itu memanggilku! Kejam sekali, siksaan ini terlalu kejam!”

Perut Yurika keroncongan dengan keras. Tubuhnya sepertinya sudah menyerah pada godaan.

“...Makan malam...”

Sambil melihat Koutarou dan Yurika yang sedang tarik ulur, Sanae menoleh ke arah makanan ketiganya.

“Aku belum makan selama beberapa tahun...”

“Ada apa, Sanae?”

Koutarou merasa sesuatu yang janggal pada Sanae, tapi Sanae tidak menjawab pertanyannya dengan segera.

Sanae mulai bicara setelah beberapa detik lewat.

“...Hei, Koutarou dan Yurika... Siapa saja boleh, tapi...”

“Apa?”

“I-Iya, Ada apa?”

Koutarou menjawab santai sedangkan Yurika menjawab gugup.

“Bolehkah aku merasukimu?”

Kata-kata Sanae selanjutnya sama sekali tidak terduga.

“Merasuki?”

Namun, yang lebih tak terduga bagi Koutarou adalah tingkah serius Sanae.

Karena itu Koutarou tidak terkejut dan ingin Sanae menjelaskan dengan lebih jelas.

“Tidaaaaaaaaaaaaaaaak!!”

Namun, Yurika tidak memiliki perasaan yang sama dengan Koutarou sama sekali.

“Pokoknya aku tidak ingin dirasuki oleh hantu! Jika kau akan merasuki seseorang, tolong rasuki saja Satomi-kun!!”

Yurika meninggalkan mie gelasnya, buru-buru loncat ke dalam lemari, dan menutup pintunya.

“Yah kau tahu, kan, aku ini hantu?”

“Ya.”

Koutarou dan Sanae tidak lagi mengharapkan apapun dari Yurika, jadi mereka melanjutkan obrolan mereka seperti tidak ada yang terjadi.

“Karena itu, aku tidak bisa makan apapun, kan?”

“Kau benar. Cuma sesajen yang mungkin bisa dimakan.”

“Tapi jika aku merasuki seseorang, aku bisa merasakan apa yang orang itu makan.”

“Sanae, metode itu akan berjalan lebih baik jika kamu merasuki seseorang dengan panjang gelombang yang sama denganmu. Bukannya akan lebih baik jika kamu merasuki saya atau Yurika?”

Kiriha, yang hanya mengamati, mulai berbicara.

“Itu benar, tapi Yurika seperti itu, dan Kiriha, aku menolak melakukannya denganmu!”

“Mengapa?”

“Jika aku berhutang pada seseorang sepertimu, aku tahu aku akan menyesalinya!”

“...Yah sepertinya saya dibenci...”

Kiriha tersenyum pahit ke arah Sanae.

“Begitulah, jadi tolonglah, Koutarou!”

“Kalau begitu, apa untungnya bagiku? Selain itu, aku tidak akan membiarkanmu merasukiku begitu saja dan kemudian mengusirku.”

Sanae menyatukan kedua tangannya dan menundukkan kepalanya.

“Kumohon! Aku tidak akan mengusirmu! Aku hanya ingin dapat merasakan makanan lagi!”

“...Benarkah?”

“Iya!”

Sanae mendongak dan mengangguk berulang kali.

“Hanya satu hal yang harus kau tahan adalah bahu yang pegal.”

“Pegal?... Jangan bilang hal begitu pada orang yang akan kau rasuki.”

“Dan jika kau membiarkanku merasukimu saat kau makan, aku tidak keberatan berdamai! Boleh, kan!? Jika bahumu pegal, aku akan memijatmu!”

“Gencatan senjata...”

Itu adalah tawaran yang menggiurkan bagi Koutarou.

Itu berarto jumlah orang yang harus dia usir berkurang menjadi dua, dan yang paling agresif, Sanae, akan tetap tengan.

''Dan yang harus kutahan hanyalah bahu yang pegal?... Baiklah.''

“Baiklah, aku menerima syarat itu.”

“Benarkah!?”

“Ya, ayolah. Aku sudah siap.”

Koutarou menepuk bahunya sendiri sambil berkata begitu.

“Yay!”

Sanae tiba-tiba melompat ke arah Koutarou.

“Uwa!?”

“Terima kasih, Koutarou!”

''Walaupun kalian menyebutnya hantu, dia hampir mirip seperti seorang anak kecil.... Yah, kurasa dia memang anak kecil.''

Inilah yang Koutarou rasakan saat dia menatap Sanae.

Di momen itu, pintu lemari terbuka, dan wajah merah Yurika muncul dari dalam.

“.......”

Yurika kembali ke meja teh tanpa bersuara.

Dia merasa situasinya sudah tenang, tapi merasa malu terhadap tingkah lakunya sendiri.

“Jadi Sanae, yang perlu kulakukan hanyalah makan seperti biasanya kan?”

“Ya! Tunggu sebentar; aku akan merasukimu sekarang!”

Namun, baik Koutarou maupun Sanae sama sekali tidak memperhatikan Yurika.

Dan Kiriha, yang sedang menonton keduanya, juga tidak menghiraukan Yurika.

Sudah hampir waktunya bagi Yurika untuk mulai mengeluh; untungnya, kali ini tidak terjadi.

“Ei!”

Sanae berputar ke belakang Koutarou dan menempel padanya dengan lengannya merangkul leher Koutarou.

“Silakan, Koutarou.”

“Kerasukan itu seperti ini? Cukup berbeda dari apa yang kubayangkan...”

Koutarou bisa merasakan tubuh kecil Sanae di punggungnya.

Tubuhnya hangat, dan dia bisa merasakan nafas Sanae di dekat telinganya.

Dia lemah pada jimat, bisa menembus dinding dan menggunakan Serangan Poltergeist.

Tidak salah lagi kalau dia ini hantu. Namun, secara bertahap Koutarou mulai berhenti menganggap Sanae hanya sebagai sesosok hantu.

“Ya! Makanlah, Koutarou!”

Sanae, di sisi lain, sedang dalam suasana hati yang sangat riang.

“Baiklah, selamat makan.”

“Ya, silakan... kurasa itu bukan bagianku.”

“Hahaha, Memangnya penting”

Koutarou mulai makan sambil membawa Sanae di punggungnya.

''Aku penasaran mengapa...?''

Anehnya, Koutarou tidak merasakan perasaan negatif terhadap Sanae di momen tersebut.

“Ah, Koutarou, yang ini enak!”

“Aku merasa terhormat kau mau memujiku.”

“Kiriha membuat makanan yang itu.”

“Hee~ Pakaianmu mungkin aneh, tapi sepertinya kau bisa memasak... Tapi, rasanya sedikit kuat."

“Begitu ya?”

“Ini tidak baik buat tubuhmu.”

“Tuh, Koutarou, Sanae pun mengatakan hal yang sama. Mulai besok, kita akan membuat rasanya berkurang.”

“Hmph...”

Kiriha bergabung, dan mereka terus makan dengan gembira.

“...Kelihatannya enak...”

Yurika menatap dengan penyesalan.

“Dan dibandingkan dengan itu, aku memakan mie gelas...”

Yurika terus menatap dengan kesedihan di wajahnya sambil membuka tutup mie gelasnya dengan lembut.

Aroma bumbu sintetis naik dari mie itu.

“Ah...”

Kecewa oleh bau itu, tangan Yurika tersentak dan tutupnya hanya terbuka sebagian.

Yurika mencoba untuk menyobek sisa tutup itu, tapi masih ada tutup yang tersisa, dan penampilan wadah mie itu menjadi lebih buruk.

“...Hari ini benar-benar buruk… ”

Sambil berkata begitu, sumpit sekali pakainya patah, dan sumpit kiri dan kanan memiliki bentuk yang berbeda.

“Koutarou! Sup miso! Sup miso!”

“Aku mengerti, jadi tenanglah sedikit.”

“Supnya masih panas, jadi berhati-hatilah, Koutarou.”

Sambil melihat ketiga orang tersebut sedang bersenang-senang, sumpit Yurika meraih mie gelasnya.

“Mengapa selalu aku...”

Sambil bersedih sendirian, Yurika memakan mie gelasnya.

“Mie ini bahkan mie lembek...”

Mie 98 yen terasa sedikit lebih asin dari biasanya.



“Baiklah kalau begitu, setelah kita makan, mari kembali ke subyek awalnya."

“Subyek awal?”

Kiriha bertanya sambil menuangkan teh setelah makan.

“Subyek tentang mengusirmu keluar!”

Sanae tertawa ke arah Kiriha sambil menyandarkan dagunya di bahu Koutarou.

“Sanae, kau mau tetap tinggal disini, jadi kau mengusir semuanya, benar kan?”

“Ya. Yah, ''kita'' sedang berdamai saat ini.”

“Benar, dan Kiriha-san, kau menginginkan kamar ini supaya kau bisa membangun kembali altar kalian.”

“Benar.”

“Dan Yurika, kau mau mengadakan pesta cosplay dengan teman-temanmu disini.”

“Kau salah!”

“Dan aku tinggal disini, jadi aku tidak mau pindah. Dan aku tidak akan menemukan tempat lain dengan harga semurah 5.000 yen. Di samping itu, kalau aku menyerahkan kamar ini begitu saja, akan ada berbagai masalah.”

Jika Koutarou pindah, rumor hantu di kamar ini hanya akan menyebar lebih jauh.

Atau akan ada invasi permukaan atau pesta cosplay tiap hari.

Sebagai teman Shizuka, Koutarou ingin mencegah hal itu dengan cara apapun.

''Aku mengerti mengapa tempat ini sangat berharga baginya.''

“Tolong dengarkan aku! Ada bahaya yang mendekat!”

“Dan tidak semuanya ingin berebut dengan bertarung... Walaupun aku jago berkelahi.”

“Tujuanku bukanlah menyakiti orang-orang.”

“Toh, kita sedang berdamai.”

“Aku tidak akan mengadakan pesta cosplay apapun!”

“Dan tidak ada satupun dari kita bersedia menyerah.”

“Tentu saja.”

“Kamar ini rumahku!”

“Kamar ini berbahaya! Tolong, semuanya keluar secepat mungkin!”

“Dengan demikian, Koutarou, kita harus menyelesaikan masalah ini dengan suatu cara. Selain negosiasi yang lama denganmu, masih ada dua lagi yang mengincar kamar ini. Kalau terus begini, perkembangan kami akan berhenti. Sudah jelas kalau kita tidak akan sepakat, jadi kita harus menyelesaikan ini dalam cara yang disetujui semuanya.”

“Ya, kau benar... Tapi metode itu...”

Koutarou setuju dengan Kiriha dan melihat ke sekeliling.

''Kalau saja Mackenzie ada disini di saat seperti ini.''

Bagi Koutarou, yang lebih menyukai aksi daripada kata-kata, tidak ada waktu yang lebih cocok untuk meminjam kebijaksanaan Kenji daripada sekarang.

Tapi di sisi lain, dia tidak bisa memanggil polisi begitu saja.

Jika dia mulai bicara mengenai hantu, orang-orang bawah tanah, dan cosplayer, mereka hanya akan berpikir kalau dia sudah tidak waras.

Dia tidak bisa mengandalakan orang luar.

“Tolong dengarkan! Aku tidak bisa menerima hal ini begitu saja! Mengapa kau tidak mau mempercayaiku!? Kekuatan sihir yang terkumpul disini itu berbahaya!”

“Apa ada yang punya ide bagus? Metode yang bisa disetujui semuanya...”

“Itu cukup sulit...”

“Hmm... metode yang adil... Hei, Koutarou, bagaimana kalau begini? Kita memainkan beberapa permainan, dan yang kalah harus pergi.”

“Aku sudah bilang, aku tidak bisa menerima hal ini! Tolong dengarkan perkataanku!"

“Untuk memutuskan hal ini dengan adil dengan sebuah permainan itu ide yang bagus. Jika kamu melihat kembali dalam sejarah, ada banyak contoh perebutan wilayah yang diputuskan dengan permainan.”

“Tunggu sebentar! Aku tidak ingin sesuatu sepenting ini diputuskan oleh sebuah permainan!”

Kiriha setuju dengan ide Sanae, tapi Koutarou berpikiran lain.

Alasannya hanya karena Kiriha itu pintar dan Koutarou tidak.

“Koutarou, apa kamu lebih memilih kita saling memukul atau melanjutkan diskusi tak berujung ini?”

“Perkelahian... Diskusi...”

Koutarou melepas ide perkelahian setelah menatap Sanae dan Kiriha.

Dan melihat Yurika, Koutarou melepas ide berdiskusi.

“Ku, sepertinya tidak ada jalan lain...”

Walaupun mereka berkelahi di hari pertama mereka bertemu, entah kenapa Koutarou tidak ingin memukul Sanae sekarang.

Alat religi yang dia dapat dari Shizuka masih ada di kotak mereka.

Dia tidak tahu sama sekali apakah hal yang dikatakan Kiriha itu masuk akal atau tidak.

Dan dia tidak berpikir kalau alasan dan diskusi akan menuju kemana dengan Yurika.

“Permainan... Permainan, ya...”

Koutarou menurunkan bahunya untuk sesaat, tapi dia dengan segera mendinginkan kepalanya dan menoleh ke arah Sanae.

“Baiklah, Sanae, jika kita akan memainkan sebuah permainan, apa permainannya?”

“Bagaimana kalau permainan yang mudah seperti batu-gunting-kertas?”

Sanae mengacungkan jarinya dan sedikit memiringkan kepalanya.

Tapi Kiriha menggelengkan kepalanya mendengar tawaran itu.

“Batu-gunting-kertas tidak bagus. Terlalu sederhana, dan terlalu banyak mengandalkan keberuntungan. Agar semuanya setuju, kita membutuhkan permaianan dimana kemampuan seseorang menjadi fokusnya.”

“Walaupun begitu, kita tidak bisa memainkan shougi atau catur, kan? Ada keuntungan dan kerugiannya.”

“Aku belum memainkan keduanya.”

“Sebuah permaianan dimana seorang pemula bisa bermain dan mengandung unsur keberuntungan, tapi dimana kemampuan pemain akan terlihat setelah bermain beberapa kali.... Ini klasik, tapi bagaimana kalau permainan kartu?”

“Permainan kartu... seperti Trump?”

“Tapi, permainannya tdak perlu dibatasi cuma Trump saja.”

“Aku setuju dengan itu. Aku banyak bermain permainan itu dengan Mama dan Papa.”

“...Baiklah… Sebut itu cosplay atau apapun yang kalian inginkan... Jika ini membuat kalian pergi, apapun tidak masalah...”

Koutarou menatap ketiga gadis itu dan menghirup nafas dalam-dalam.

“...Baiklah. sepertinya kita semua sudah sepakat, jadi kita lakukan ide tadi. Kamarku yang jadi taruhannya, dan aku ingin cepat-cepat menyelesaikan persoalan konyol ini.”

Koutarou tidak bisa memukul Sanae yang tersenyum, yang masih menempel di punggungnya.

Dan dia tidak yakin kalau dia bisa menahan rencana Kiriha lebih lama lagi.

Dia tidak bisa membujuk Yurika.

Koutarou tidak punya pilihan lain selain hal ini.

“Tidak ada yang keberatan. Jadi, Koutarou, permainan seperti apa yang akan kita mainkan?”

“Sebentar...”

“Koutarou, bagaimana kalau kita semua bergiliran memilih permainannya? Dengan cara itu, permainannya akan adil.”

“Kalau begitu, kita perlu menambahkan poin untuk peringkatnya.”

“Begitulah. Setidaknya, kompetisinya harus terus berjalan sampai semuanya mendapat giliran.”

“Uuuu! Lagipula, tidak ada yang mendengarkan pendapatku.”

“Hei Koutarou, kita berdua sedang berdamai, jadi kita harus bekerjasama. Dengan begitu, permainannya akan lebih mudah, dan setelah kita selesai, kita hanya perlu berdiskusi.”

“Baiklah. Kalau aku bermain normal, aku mungkin akan kalah oleh Kiriha.”

“Kiriha-san, mereka berdua bekerjasama...”

“Itulah yang sering terjadi saat perebutan wilayah. Fufufu, sepertinya saya tidak boleh lengah. Haruskah kita berdua bekerjasama untuk mengalahkan mereka?”

“I-Iya!”

Begitulah, permainan untuk menentukan pemilik kamar itu dimulai.

Catatan Kaki:

[1] Sebuah boneka tanah liat yang digunakan saat ritual dan dikubur bersama mayat. Diasumsikan kalau jiwa mayat tersebut akan tinggal di dalam boneka itu.