Kerinduan

Penerjemah: Fahrenheit32 | Proofreader : Fkrou


Tampaknya ada hal seperti “Cinta yang begitu kuat hingga hanya sekali seumur hidup.”

Aku tidak tahu apakah aku membacanya di buku atau melihatnya di film atau pun di TV. Aku tidak ingat detailnya. Tapi kurasa aku pernah mendengar cerita seperti itu sejak lama.

Cinta yang begitu kuat hingga hanya sekali seumur hidup.

Kedengarannya bagus, tapi rasanya tidak tepat karena satu alasan sederhana.

Mengapa harus menjadi hal yang “sekali seumur hidup”? Itulah yang menggangguku.

Aku pikir cinta adalah tentang melakukan yang terbaik setiap saat. Sulit untuk mengatakan bahwa itu adalah kebenaran universal, tetapi bagiku, itu dianggap benar.

Aku pernah menjalin sebuah hubungan hanya sekali. Aku adalah seorang siswa tingkat dua di SMA dan orang yang kukencani adalah seniorku. Saat itu, aku berada di klub bisbol dan dia adalah seorang pelempar bola untuk klub softball. Aku tertarik padanya, dan setelah beberapa bulan menderita karenanya, aku mengakui perasaanku padanya.

Aku ingat dia adalah orang yang ceria, namun dia memiliki aura yang misterius.

Aku pikir aku tertarik pada dualitas yang absurd itu sebelum dan sesudah hubunganku dengannya. 

Belum lagi, dia tidak memiliki batasan dalam hal seks. Beberapa minggu setelah kami mulai berkencan, dia bertanya kepadaku apakah kita bisa mulai berhubungan seks, seolah-olah itu adalah hal biasa.

Aku bingung, tapi tidak mungkin seorang anak SMA bisa menekan hasrat seksualnya saat dia ditekan oleh senior yang sangat dia cintai, jadi aku langsung saja melakukannya.

Tentu saja, menurutku itu bukanlah hal yang buruk. Untuk bersatu dengan orang yang kamu cintai, baik secara fisik maupun mental, adalah hal yang sangat menyenangkan, dan aku sangat senang saat itu. Seniorku sangat cantik dan populer di sekolah, sehingga banyak temanku yang iri.

Namun, hubunganku dengannya tiba-tiba berakhir saat dia lulus SMA.

Aku berhenti mendengar kabar darinya. Dia tidak mengirimiku pesan apa pun, dan dia tidak membalas pesan apa pun yang kukirimkan padanya.

Aku tidak bisa melihatnya, dan aku juga tidak bisa menghubunginya. Itulah yang disebut “ghosting[1]”. Sebagai siswa SMA, aku tidak punya cukup uang atau waktu untuk mencari senpai dan mengejarnya, jadi aku patah hati.

Setahun setelah dia lulus, aku sering tenggelam dalam pikiranku ketika aku memikirkannya.

Aku sangat menyukainya, dan aku berniat untuk melanjutkan hubungan kami bahkan setelah dia lulus. Itulah mengapa aku melakukan hubungan seks dengannya. Itu caraku untuk membuktikan kepadanya bahwa aku serius tentang hubungan kami ke depan.

Tetapi setiap kali aku memikirkan tentang fakta bahwa dia pasti tidak memiliki perasaan yang sama denganku, aku merasa hampa. Ada begitu banyak perbedaan dalam cara dia dan aku dalam memandang cinta, dan aku tidak menyadarinya sampai hari dimana hubungan kami berakhir.

Begitu saja, hubungan pertamaku berakhir dengan kenangan pahit. Aku menghabiskan tahun-tahun kuliahku dengan belajar dengan giat. Aku mencari pekerjaan, dan kemudian aku bertemu Gotou-san.

Aku tidak perlu mengingat diriku sendiri tentang apa yang terjadi dari sana.

Aku jatuh cinta lagi. Meski butuh waktu lama bagiku untuk memikirkan bagaimana mendekatinya karena komitmen pekerjaanku, aku terus mengagumi Gotou-san dengan intensitas yang sama selama lima tahun terakhir.

Karena ini tidak dapat dikategorikan sebagai hubungan cinta, aku merasa tidak nyaman menyebut perasaanku padanya sebagai “Cinta yang begitu kuat hingga hanya sekali seumur hidup.”

Jika “cinta yang kuat” ini hanya terjadi sekali seumur hidup, bukankah aku sudah pernah merasakannya dengan pacar SMA-ku atau dengan Gotou-san?

Dalam retrospeksi[2], aku tidak bisa mengatakan mana yang lebih kuat. 

Bagaimanapun, ini adalah kedua kalinya aku jatuh cinta dengan cara yang sama. Terlepas dari kenyataan bahwa cinta ini hanya ‘mungkin’ atau mungkin tidak berbuah, aku tidak dapat membayangkan jawabanku atas pertanyaan “Akankah aku menemukan cinta lagi?” Bahkan, aku mungkin akan menjawabnya “Tidak”.

“Jadi, bagaimana denganku?”

Aku mendengar suara di belakangku dan berbalik untuk melihat Sayu, gadis SMA yang tinggal bersamaku, berdiri di sana.

“Apa yang kamu pikirkan tentangku?”

“Apa… yang kupikirkan?”

Saat melihatku dia tergagap, Sayu tersenyum dan memiringkan kepalanya. Rambutnya, yang telah jatuh ke bahunya, tergerai mulus seolah-olah menyerah pada efek gravitasi.

Sayu adalah kehadiran yang tiba-tiba dan tak terduga dalam hidupku. Aku adalah wali sementaranya dia.

Hubungan antara Sayu dan aku jelas ilegal, tapi itu bukan jenis hubungan yang melibatkan seks. Itu bukanlah tujuanku, dan perasaan semacam itu tidak terbangun dalam diriku.

“Tapi akhir-akhir ini, kau tampaknya lebih memikirkanku daripada Gotou-san.”

Aku tidak percaya Sayu mengatakan itu seolah-olah dia tahu apa yang ada di hatiku.

“Apa yang kau bicarakan?”

“Kamu punya kesempatan ketika Gotou-san datang tapi kamu membuatku bertemu dengannya. Itu aneh. Jika kau mengusirku, dia akan sendirian denganmu, dan kau bisa melakukan banyak hal.”

“Tidak, itu…”

Itu yang Mishima katakan padaku sebelumnya. Tetapi pada saat itu aku tidak berpikir seperti itu. Sebaliknya, aku berpikir jika Sayu akan tinggal di tempatku mulai sekarang, aku harus menjelaskan semuanya kepada Gotou-san.

“Apa itu berarti…”

Lagi-lagi Sayu mengatakan itu seolah dia tahu apa yang ada di hatiku.

“Kalau kau ingin bersamaku lebih dari Gotou-san?”

“A-apa? Tidak mungkin…”

“Hei, Yoshida-san.”

Sayu menyeringai saat memanggilku.

“Apa arti diriku bagimu, Yoshida-san?”

***

“…Shida-san. …Hei. Yoshida-san!”

“Hmm?”

Tubuhku bergetar dan kemudian aku membuka mataku. Aku menyipitkan mata saat sebuah cahaya besar terang memasuki penglihatanku.

Saat aku memindahkan pandanganku, aku melihat seorang gadis SMA berdiri di samping tempat tidur.

“Selamat pagi.”

Itu adalah Sayu, gadis yang tinggal bersamaku. Dalam penglihatan kaburku, aku tidak bisa melihat detail ekspresinya, tetapi sepertinya dia tersenyum.

“…Selamat pagi.”

“Entah bagaimana, kamu tidak akan bangun sama sekali hari ini. Kamu biasanya akan langsung bangun dalam beberapa menit setelah aku menyenggolmu.”

“… Begitukah?”

“Aku mencoba memanggilmu dan menyenggolmu, tapi kamu masih belum bangun. Maafkanku, aku mengguncangmu terlalu kuat.”


“Nah, jika kau tidak membangunkanku, aku akan terlambat…”

Kurasa aku tidur dengan mulut terbuka karena tenggorokanku kering, dan mulutku terasa lengket dan tidak enak.

“Apakah kamu mengalami mimpi buruk?”

“Mimpi buruk?”

Saat aku memiringkan kepalaku pada pertanyaan Sayu, dia mengangguk.

“Kau terdengar seperti sedang kesakitan.”

“Hmm… Mimpi buruk, ya?”

Aku mencoba mengingat mimpiku, tetapi pikiranku agak kabur.

Aku memang memiliki perasaan aneh seperti aku telah melakukan percakapan dengan seseorang sebelum aku bangun. Tapi aku tidak ingat tentang apa itu.

“…Aku tidak dapat mengingat apa pun.”

“Aku mengerti. Oh… bergegaslah dan bangun dari tempat tidur. Jika kau tidak buru-buru, kau tidak akan punya waktu untuk sarapan.”

“Baiklah.”

Saat aku perlahan bangun, Sayu mengangguk kecil sebelum berlari ke dapur. Aku bisa mendengar suara panci di atas kompor yang dinyalakan.

Aku bangkit dari tempat tidurku dan melakukan peregangan.

Sarapan yang dia siapkan sudah ada di atas meja. Aku melihat Sayu, yang sedang mengaduk sup miso di panci dengan sendok sambil memanaskannya, tapi dia tidak menyadari kalau aku sedang menatapnya.

Hidup bersama Sayu menjadi begitu alami.

Tapi dia akan segera pergi, dan dia akan kembali ke kehidupan normalnya.

Itulah yang terbaik bagi kita berdua, dan pada saat yang sama, itu adalah hal yang benar untuk dilakukan.

Pikiran-pikiran ini berputar-putar beberapa saat setelah aku bangun. Aku menggelengkan kepala.

Apa yang membuatku merasa bersalah sekarang? Hubungan ini salah sejak awal. Aku tahu itu salah, tapi aku tetap melakukannya.

Aku harus menolong Sayu kembali ke jalur yang benar.

Demi kebaikan dia dan juga demi diriku sendiri.

Aku bergegas ke kamar mandi dan mencuci muka dengan air keran.

Air dingin membuatku merasa seolah-olah kesadaranku, yang telah berkabut sejak aku bangun, akhirnya bersih.


Sebelumnya | Daftar Isi | Selanjutnya



[1] Ini aslinya ditulis dengan "shizen shoumetsu" (自然 消滅) yang berarti "akhir yang alami". Kata "ghosting" lebih masuk akal dalam bahasa Inggris, itulah sebabnya aku memutuskan untuk menggunakan istilah sehari-hari di sini.
[2] Retrospeksi = mengingat kembali.