Epilog

Penerjemah: Fahrenheit32 | Proofreader : Fkrou


Tidak seperti biasanya, aku harus bekerja lembur.

Toserba tidak terlalu ramai, jadi aku tidak pernah harus bekerja lembur sebelumnya. Tapi hari ini, saat aku mendekati akhir giliran kerjaku, beberapa orang dari klub atletik SMA datang ke toko. Baik Yaguchi-san dan aku harus tinggal di kasir, jadi kami tidak dapat membuat kemajuan apa pun dalam mengisi kembali barang dagangan. Kami harus bekerja lembur selama satu jam untuk menyelesaikannya karena jika tidak, orang-orang pada shift berikutnya akan mendapat masalah.

“Terima kasih atas kerja kerasmu!”

Ketika aku keluar dari toko dan mengecek smartphoneku, waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam.

Hari ini adalah hari Sabtu. Yoshida-san ada di rumah, dan aku yakin dia lapar.

Aku harus buru-buru pulang dan menyiapkan makan malam, jadi aku lari.

Butuh waktu kurang dari lima menit untuk kembali ke rumah. Aku mengambil kunci duplikat dari tasku dan membuka pintu.

“Maaf aku terlambat, Yoshida-san…”

Segera setelah aku membuka pintu, aku melihat Yoshida-san berdiri di depan dapur, yang tersambung dengan lorong.

“Oh, selamat datang di rumah.”

“Aku pulang… Hah? Apa yang sedang kamu lakukan?”

Saat aku bertanya kepada Yoshida-san, yang sedang berdiri di depan panci dengan ekspresi cemberut di wajahnya, dia menjawab terus terang dengan ekspresi yang lebih cemberut di wajahnya.

“Aku sedang membuat sup miso. Bagaimana kelihatannya?”

“Um, kamu?”

Aku buru-buru melepas sepatuku dan berjalan ke sisi Yoshida-san. aku melihat sup cokelat mendidih di dalam panci.

“Kenapa?”

“Kamu bertanya kenapa…?”

Yoshida-san berhenti seolah-olah dia sedang dalam masalah dan menggaruk dagunya. Karena jenggotnya tumbuh sedikit lebih panjang, aku bisa mendengar suaranya saat dia melakukannya.

“Kamu sudah memasak untukku cukup lama sekarang, jadi kupikir aku akan memberimu istirahat kali ini…”

Saat Yoshida-san mengatakan itu, aku merasa hangat di dalam.

Bagaimana hal seperti ini bisa membuatku sangat bahagia?

Memikirkan hal ini, aku mendapati diriku memeluknya seolah-olah aku sedang menjahilinya.

“Whoa, hati-hati!”

“Terima kasih, Yoshida-san!”

“Ah, ya… Makan malam hampir siap, jadi cepatlah dan ganti pakaian. Aku bisa menangani sendiri persiapannya karena aku hanya membuat sup miso.”

“Okay!”

Melompat ke ruang tamu, aku dengan cepat mengganti pakaian berpergianku dan memakai pakaian santaiku.

Setelah aku melepas atasan dan tetap memakai BH, aku melihat ke samping ke arah Yoshida-san. Tapi dia tidak menatapku, seperti biasanya. Untuk beberapa alasan, aku sedikit tidak senang melihatnya mengaduk panci dalam keadaan linglung.

“Yoshida-san.”

“Kenapa…?”

Saat aku memanggilnya, Yoshida-san secara alami melihat ke arahku, tapi kemudian dengan cepat mengalihkan pandangannya.

“Hei, bodoh! Berpakaianlah dulu sebelum kamu memanggilku!”

“Mesu-.”

“Kaulah yang memanggilku, bodoh!”

Yoshida-san sedikit tersipu dan melihat ke arah panci itu lagi.

Aku terkekeh dan mengenakan kembali pakaian tidurku dari atas kepalaku.

Aku merasa benar-benar betah di rumah ini.

Aku tidak lagi bertanya pada diri sendiri, “Apakah aku tetap bisa berada di sini?”

Aku melepas celana jeansku dan mengenakan pakaian dalam yang nyaman. Aku mencuri pandang ke Yoshida-san, yang tanpa berpikir panjang mengaduk semangkuk sup miso.

Aku tidak lagi bertanya-tanya apakah tidak apa-apa berada di sini lagi.

Namun begitu.

“Yoshida-san!”

“Apakah kamu sudah berpakaian?”

“Sudah!”

“Ada apa?”

Saat aku memanggilnya, Yoshida-san menatapku ke samping.

Aku tersenyum dan mengatakannya lagi.

“Aku pulang!”

Yoshida-san tampak bingung dan menggaruk dagunya karena kebiasaan. Sekali lagi, aku mendengar suara garukan.

“Kamu sudah mengatakan itu sebelumnya.”

“Bisakah kamu mengatakan, ‘Selamat datang di rumah’?”

“Hah? Selamat Datang di rumah…”

“Haha.”

Saat aku menganggukkan kepalaku dengan puas, Yoshida-san sedikit memiringkan kepalanya dan menghela nafas.

“Aku sudah pulang” dan “Selamat datang di rumah”.

Aku bertanya-tanya berapa kali lagi aku bisa bertukar kata-kata ini dengannya.

Ketika aku memikirkannya, aku merasakan sedikit sakit di hatiku.

Tapi aku sudah berjanji padanya.

Saat aku menyadari bahwa hari-hari kita bersama akan segera berakhir, dengan dia berada di sisiku, aku akan melewati hari ini.

Kehidupan komunal yang aneh dari seorang gadis SMA dan seorang pria dewasa akan berlanjut, setidaknya untuk beberapa saat lagi.


Sebelumnya | Daftar Isi | Selanjutnya