Kebetulan

Penerjemah: Fahrenheit32 | Proofreader : Fkrou


“Ah.”

“Hah…?”

Aku yang sedang dalam perjalanan menuju ke supermarket 24 jam di depan stasiun kereta secara tidak sengaja bertemu dengan seseorang yang kukenal. Kami berdiri di depan satu sama lain dengan mulut terbuka seperti orang bodoh dan kemudian menunjuk satu sama lain pada saat yang bersamaan.

“Yoshida-senpai.”

“Apa yang kamu lakukan di sini?”

Mishima berdiri di jalan pada malam hari, mengenakan setelan jahitan.

“Ah… Aku pergi nonton film.”

“Kamu baru saja pulang kerja dan langsung nonton film. Kamu pasti memiliki banyak energi yang tersisa di dalam dirimu.”

Fakta bahwa dia masih dalam setelan jas berarti dia belum pulang. Yang mengejutkanku, Mishima mengangguk sambil menunjukkan senyum ambigu di wajahnya.

“Ada sesuatu yang sangat ingin kulihat.”

“Apa nama judulnya?”

“Ah… hmm… filmnya berjudul Song of Hydrangea[1].”

“Oh, maksudmu orang dengan poster besar di depan stasiun?”

Setiap pagi, aku melihat poster besar dalam perjalanan ke stasiun kereta. Jika aku ingat dengan benar, pemeran utama wanita adalah salah satu aktris favorit Hashimoto. Ketika pria itu berbicara kepadaku tentang film itu, dia mengatakan kepadaku berulang-ulang kali “Kamu harus menontonnya” tetapi aku tidak dapat mengingat detailnya karena setiap kali dia memberi tahuku tentang itu, aku tidak benar-benar memperhatikannya sama sekali.

“Film itu bagus?”

“Yup, ya… itu membuatku menangis.”

Ketika aku menerima tanggapan yang tidak jelas dari Mishima, aku perhatikan bahwa matanya sedikit merah. Itu benar-benar film yang membuatnya menangis.

“Sepertinya begitu.”

Perhatianku dialihkan dari film ke fakta bahwa dia ada di sini.

“Mengapa kamu di sini? Kamu berada di arah yang berlawanan dari stasiun kereta.”

Aku tahu bahwa Mishima datang ke stasiun untuk menonton film, tetapi rasanya aneh melihatnya di jalan yang menjauhi stasiun ini. Meskipun dia berjalan ke arah sini, tidak ada toko tertentu yang bisa dia hampiri. Di sini hanya area pemukiman. Mishima menanggapi pertanyaanku dengan menggaruk pipinya dengan jari telunjuknya.

“Aku sedang ingin berjalan-jalan sebentar. Kalau dipikir-pikir, ini adalah lingkungan tempat tinggalmu, Yoshida-senpai.”

“Penjelasan macam apa itu?”

“Ngomong-ngomong, apa yang kamu lakukan di sini Yoshida-senpai?”

“Oh? Ya…”

Aku tidak bisa memberitahunya bahwa Gotou-san ada di rumahku.

Aku datang untuk membeli beberapa bahan untuk sarapan, tapi mau tidak mau aku memperhatikan cara Sayu bertindak ketika dia bertanya padaku. Aku mendapat perasaan bahwa dia mencoba untuk menyingkirkanku atau sesuatu. Namun, sulit untuk membayangkan bahwa Sayu secara aktif ingin sendirian dengan Gotou-san, dan juga ada kemungkinan aku terlalu banyak membaca.

“Aku akan membeli beberapa bahan untuk sarapan.”

“Yoshida-senpai membuat sarapannya sendiri ya? Itu sedikit tak terduga.”

“Aku tidak membuatnya, Sayu yang buat.”

Saat aku menjawab, tubuh Mishima bergetar. Dia kemudian menatapku dengan ekspresi yang sedikit bingung.

“Hah? Sayu-chan ada di rumahmu sekarang?”

“Apa? Tentu saja. Dia tidak punya tempat lain untuk tinggal, jadi…”

“… Oh ya, benar.”

Mishima menjawabku dengan singkat, dengan implikasi yang ambigu.

“Bisakah aku pergi denganmu?”

“Aku tidak keberatan, tapi apakah kamu bahkan suka berbelanja?”

“Aku penasaran ingin tahu apa yang Yoshida-senpai makan.”

“Beneran?”

Menunjukkan senyum tegas, Mishima mengikutiku seolah-olah seperti yang diharapkan. Mishima, dengan senyum tipis di wajahnya, mengangguk padaku sebagaimana mestinya. Bahkan ketika aku membeli nira, telur, dan miso di toko grosir, Mishima akan menanyakan pertanyaan tentang ini dan itu.

“Ini untuk niratama [2] kan?”

“Ya kupikir begitu.”

“Apa kamu sering menyiapkan niratama?”

“Tidak, menurutku tidak sesering itu.”

“Jika kamu makan nira di pagi hari, mulutmu akan tercium sedikit buruk.”

“Itu sudah biasa, jadi aku akan menyikat gigi sebelum pergi.”

Saat aku mengatakan itu, Mishima tertawa. Lalu dia menunjuk ke keranjang yang kupegang.

“Sebenarnya, apakah itu cukup?”

“Untuk apa?”

“Hanya ada empat telur di sana.”

“Benar… mereka memiliki diskon dan karena ini hanya untuk dua orang, aku tidak perlu membeli banyak.”

Dengan itu, aku ingat bahwa sepertinya aku kehabisan bir. Aku mengambil beberapa kaleng bir yang menumpuk dari bagian minuman keras, dan tiba-tiba disita oleh Mishima.

“Hey apa yang terjadi?!”

“Izinkan aku menanyakan sesuatu.”

“Hah?”

Aku memelototi Mishima sebagai ketidaksetujuan karena telah menyita birku, tapi aku sangat terkejut dengan keseriusan wajahnya sehingga membuatku kehilangan rasa kesal. Mishima menatap mataku dan berbicara.

“Jika aku memintamu untuk mengizinkanku tinggal di tempatmu malam ini, apa kamu akan mengizinkanku?”

Untuk sesaat mulutku terbuka, tapi apa yang dia katakan begitu tiba-tiba sampai membuatku menghela nafas dalam-dalam.

“Apa yang kamu bicarakan?”

“Persis dengan yang kumaksud.”

“Mengapa aku harus membiarkan wanita yang bukan kekasihku menginap dirumahku malam ini?”

“Tapi Sayu-chan bukan kekasihmu.”

“Sudah kubilang, aku hanya berusaha melindunginya.”

“Lalu, bagaimana dengan Gotou-san?”

Aku tidak bisa berkata-kata. Mishima sedikit mengernyit dan berbicara lagi.

“Bagaimana dengan Gotou-san?”

“Apa hubungan Gotou-san dengan ini?”

Mishima mengerutkan kening dengan cara yang tidak marah atau sedih dan kemudian menyerangku.

“Kenapa kamu menipuku seperti itu?!”

“Apa yang kamu bicarakan?”

“Ha ha! Gotou-san ada di tempatmu sekarang!”

Aku mengedipkan mataku saat Mishima mengatakan itu dengan nada yang kuat.

“Hei, bagaimana kamu tahu itu…”

Mishima tersedak oleh kata-kataku, lalu mengalihkan pandangannya ke lantai.

“Aku secara sukarela bekerja lembur hari ini, yang jarang terjadi bagiku. Aku berharap kamu bisa memujiku untuk itu besok, Yoshida-senpai.”

Mishima tidak melakukan kontak mata denganku tetapi terus berbicara perlahan.

“Ketika aku meninggalkan kantor setelah mengerjakan satu program, aku melihat kamu dan Gotou-san keluar dari tempat yakiniku di depan stasiun. Itu membuatku penasaran. Aku ingin tahu di stasiun mana kamu turun dan itu sebenarnya stasiun yang paling dekat dengan rumahmu.”

Mishima mengatakan itu dan kemudian menatapku.

“Um… maaf sudah mengikutimu. Aku benar-benar meminta maaf.”

“Ah, tidak masalah, yah…”

Hanya kata-kata samar yang keluar. Alih-alih marah, yang kurasakan lebih seperti gangguan.

“Lalu, dengan dorongan hati, aku turun di stasiun juga. Ketika aku mengikutimu dan melihat kamu berjalan menuju daerah pemukimanmu, saat itulah aku sadar ‘Oh, mereka akan pulang…’ Entah bagaimana... Aku merasa sangat tidak berdaya... Jadi aku pergi ke bioskop dan menonton film yang ingin kutonton, tapi aku tidak bisa memikirkan apa yang telah terjadi.”

“H-hei…”

Mishima mulai menangis lagi dan terus berbicara, dan aku hanya bingung. Mishima sepertinya tidak ingin menangis sama sekali, jadi dia berusaha mengendalikan alisnya dan berusaha menahan air matanya. Setelah jeda singkat, dia melanjutkan.

“Aku tidak bisa pulang begitu saja, itu sebabnya aku berkeliaran tanpa tujuan ketika tiba-tiba, aku bertemu denganmu... Jadi aku berpikir untuk menanyakan hubunganmu dengan Gotou-san.”

“Hei kamu…”

“Tapi kau sangat ingin menyembunyikan fakta itu dan itu membuatku marah…”

Mishima berhenti berbicara, dan dengan lendir yang mengalir dari hidungnya, dia memasukkan bir yang dia sita kembali ke dalam keranjang.

“Ayo selesaikan belanjanya lalu pergi.”

“Oh, ya… Itulah yang selama ini kupikirkan.”

“Jangan memusingkan detailnya.”

Dari sudut mataku, aku melihat Mishima saat dia berjalan tergesa-gesa menuju mesin kasir. Aku menambahkan beberapa kaleng bir lagi dan kemudian mengejarnya.

***

Aku berdiri di ruang kecil di depan supermarket dengan kantong plastik, yang lebih berat dari yang kukira, dan Mishima, yang sedikit tidak senang sedang menyesap sebungkus susu kedelai. Beberapa saat telah berlalu sejak kami selesai berbelanja dan berjalan keluar, namun Mishima tetap diam.

Aku tidak tahu mengapa ini terjadi, tetapi ini bukan situasi di mana aku hanya bisa mengatakan “baiklah, aku akan pulang”, dan aku hanya berdiri di sana tanpa tempat untuk pergi.

“Jadi begitulah adanya.”

Mishima berbicara tiba-tiba.

“Aku sangat yakin Sayu-chan tidak ada di rumah, itu sebabnya kupikir kamu mengambil kesempatan untuk membawa pulang Gotou-san.”

“Itu tidak mungkin karena tidak ada saat-saat dimana Sayu tidak ada di rumah.”

“Meskipun aku tidak benar-benar tahu mengapa, bagaimanapun, itulah yang terjadi padaku.”

Kata Mishima dan sekali lagi menyesap susu kedelai bungkusnya. Setelah menelannya, dia menatapku ke samping.

“Kau tahu, apa kamu benar-benar berpikir aku akan mengundang wanita yang kusuka ketika ada gadis SMA di rumah?”

“Nah, itu…”

“Jadi, itu artinya Sayu-chan dan Gotou-san saling mengobrol sekarang?”

“Ya itu benar.”

“Aku tidak begitu mengerti…”

Mishima bergumam, lalu mengguncang bungkus susu kedelai yang ada di tangannya. Rupanya, dia sudah meminum semuanya.

“Sekadar konfirmasi, kamu masih menyukai Gotou-san, kan?”

“Hah? Oh itu…”

Mishima tiba-tiba menanyakan pertanyaan itu kepadaku, dan aku bingung serta tergagap. Tidak ada gunanya mencoba mengisyaratkan apa yang sudah dia ketahui.

“Yah, maksudku ... aku tidak bisa menyerah begitu saja.”

Aku menahan diri untuk tidak mengatakan apa pun kepada Mishima karena menurutku tidak perlu pada saat ini untuk mengatakan kepadanya bahwa perasaan kami saling menguntungkan.

“Jika itu masalahnya, apa yang kamu lakukan tidak benar, Yoshida-senpai.”

“Mengapa begitu?”

Aku menundukkan kepalaku mendengar kata-kata Mishima. Ketika dia melihatku, Mishima mengerutkan kening dan mengangkat bahunya.

“Aku tidak tahu detail pastinya, tapi biasanya, saat kamu membawa wanita yang kamu suka ke rumah, kamu tidak akan meninggalkan gadis SMA yang tinggal bersamamu berdua dengannya.”

“Tidak, itu…”

Sebelum aku bisa menjelaskan kalau Gotou-san yang ingin bertemu dengannya, Mishima melanjutkan pembicaraan.

“Jika kamu benar-benar jatuh cinta dengan wanita yang selalu kamu sukai, bukankah cinta cukup kuat untuk membuatmu mengabaikan yang lainnya? Wanita yang sudah lama kamu cintai ada di rumahmu. Kehadiran seorang gadis SMA akan menghalangi kesempatanmu untuk memajukan hubungan kalian dengan berbagai cara.”

“Itu mungkin benar, tapi itu tidak berarti aku akan mengusirnya.”

Saat aku mengatakan itu, Mishima menggelengkan kepalanya.

“Biasanya… kamu akan mengusirnya.”

Kata-kata itu diucapkan dengan nada dingin yang belum pernah kudengar darinya sebelumnya.

“Seorang gadis SMA dengan asal yang tidak diketahui atau wanita yang membuatmu jatuh cinta? Kamu bahkan tidak perlu memikirkan siapa yang lebih penting.”

“Tahan…”

Aku mengatakan itu, mencoba memotong Mishima. Dia memelototiku dengan rasa frustrasi yang terlihat di wajahnya

“Apa sebenarnya yang ingin kamu katakan? Kenapa tiba-tiba kamu menjelek-jelekkan Sayu?”

“Bukannya aku mencoba menjelek-jelekkan Sayu-chan. Dia adalah gadis yang baik.”

“Tapi kamu mengatakan sesuatu tentang bagaimana akan lebih baik untuk menyingkirkannya!”

“Aku tidak mengatakan kamu harus menyingkirkannya!”

Mishima menggelengkan kepalanya dan menatap mataku.

“Pada akhirnya, apa prioritasmu, Yoshida-senpai?”

“Prioritas?”

Saat aku memiringkan kepalaku, Mishima menghela nafas dan mengangguk.

“Betul sekali. Ada Gotou-san, yang selalu kamu pikirkan, lalu ada Sayu-chan, yang kamu bawa pulang beberapa waktu lalu. Dan seperti situasinya, Gotou-san akan datang ke rumahmu.”

“Benar, lalu?”

“Jika aku benar-benar ingin mengembangkan hubungan romantis dengan Gotou-san, aku akan melakukan yang terbaik untuk merahasiakan keberadaan Sayu-chan darinya. ‘Aku ingin pergi denganmu, tapi aku tinggal bersama dengan gadis SMA yang bukan keluarga.’ Kedengarannya sangat konyol, bukan?”

“Dengar, seperti yang kubilang…”

Seperti yang diharapkan, Aku tidak bisa diam dan memotongnya.

“Bukan berarti aku bisa menyingkirkan Sayu begitu saja. Jika aku mau, itu berarti aku secara tidak langsung telah mengusirnya jika aku mulai berkencan dengan Gotou-san, begitu?”

“Tepat sekali!!!”

Mishima tiba-tiba berteriak dan menginjak tanah dengan sepatunya. Ini adalah pertama kalinya aku mendengar dia meninggikan suaranya seperti itu, jadi aku sedikit terkejut. Mishima dengan cepat membuka mulutnya dan menundukkan kepalanya, seolah dia baru saja menyadari sesuatu.

“Maafkan aku…”

“Tidak apa-apa…”

Mishima menurunkan pandangannya ke tanah, lalu melanjutkan berbicara.

“Aku hanya... Aku hanya mengatakan itu adalah hal yang normal untuk dilakukan.”

“Jadi itu yang kamu katakan.”

“Ini tentang memutuskan apakah akan mengusir Sayu-chan atau tidak. Jika kamu benar-benar menyukai Gotou-san, maka kamu harus memprioritaskan untuk mengencani dia.”

“…Tapi.”

“Tidak, aku mengerti. Aku benar-benar mengerti.”

Mishima kembali menatapku dan tersenyum. Itu jelas merupakan senyuman yang dipaksakan dan aku bisa merasakan sakit di baliknya.

“Yoshida-senpai, aku tahu kamu bukan tipe orang yang mampu melakukan itu. Tapi… pada saat yang sama, aku tidak bisa menahan diri untuk berpikir…”

Mishima berhenti sejenak, menghela napas dalam-dalam, lalu melanjutkan.

“Itu bukan lagi sesuatu yang bisa kamu sebut 'cinta', kan?”

“Hah?”

“Ini tentang perasaanmu pada Gotou-san. Kupikir kamu mungkin mengacaukan kekaguman murni dengan perasaan cinta.”

“Tidak, itu bukan—”

“Dan itu mungkin…”

Mishima memotongku dan kemudian menatapku ke samping.

“Perasaanmu pada Sayu-chan berubah menjadi cinta.”

“Sama sekali tidak.”

Pandangan kami bertemu. Mata Mishima sepertinya dipenuhi dengan gejolak emosional yang tidak stabil.

“Apa benar?”

Kami terdiam selama beberapa detik, lalu Mishima membuang muka.

“Jika itu masalahnya, kamu orang yang terlalu baik, Yoshida-senpai.”

Mishima menggaruk kepalanya.

“Jika kamu terlalu baik, kamu tidak akan bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan.”

Mishima terus mengeluarkan pendapatnya.

“…Sayu-chan tidak akan tinggal di tempatmu selamanya, kau tahu?”

Aku ingin mengatakan sesuatu untuk membalasnya, tetapi aku tidak dapat memikirkan apa pun. Saat aku tidak bisa berkata-kata, Mishima mendongak dan dengan canggung memasang wajah tersenyum.

“Aku telah menjadi gadis yang buruk hari ini!”

“Tidak terlalu.”

“Maafkan aku! Jika aku tinggal bersamamu lebih lama lagi, aku khawatir aku akan mengatakan sesuatu yang tidak perlu, jadi aku akan pergi sekarang.”

“O-oh… Begitu. Aku akan mengantarmu ke stasiun.”

“Tidak, terima kasih! Pulanglah secepat mungkin, Yoshida-senpai. Aku yakin mereka berdua menunggumu.”

“Kaulah yang menahanku.”

“Hehe.”

Cepatnya menganggap ringan hal-hal ini, entah bagaimana itu membuatku merasa seperti anak kecil.

“Baiklah, terima kasih atas waktunya!”

“Oh ya.”

Mishima berbalik dan berjalan cepat ke stasiun. Saat aku melihatnya pergi, aku memikirkan senyum Mishima beberapa menit yang lalu. Itu adalah senyum canggung, palsu yang sepertinya menutupi perasaannya yang sebenarnya. Dibandingkan dengan itu, senyuman yang Sayu berikan saat pertama kali datang ke tempatku lebih baik.

Mishima memiliki antusiasme yang luar biasa dan mungkin mencoba memberi tahuku sesuatu yang belum kupahami. Padahal, kupikir aku masih belum memahami secara akurat apa pun itu. Aku menghela nafas dan mulai berjalan kembali ke rumah.

Ini tentang perasaanmu pada Gotou-san. Kupikir kamu mungkin mengacaukan kekaguman murni dengan perasaan cinta.

Kata-kata Mishima bergema di kepalaku. Itu tidak mungkin benar. Aku rasa aman untuk mengatakan bahwa aku masih mencintai Gotou-san. Tidak ada orang lain yang bisa membuat jantungku berdegup kencang, dan tidak ada orang lain yang memiliki arti besar bagiku.

Lalu.

Perasaanmu pada Sayu-chan berubah menjadi cinta.

Itu satu hal yang tidak akan pernah terjadi. Aku hanya ingin melindunginya dari kondisi tidak wajar yang dia alami. Aku ingin membantunya kembali ke jalur yang benar. Aku tidak memiliki keinginan sedikit pun untuk melakukan apa pun dengan Sayu sebagai seorang wanita. Namun, kata-kata Mishima membuatku menyadari sesuatu.

Aku hanya ingin menawarkan perlindungan pada Sayu sampai dia menyadari masa lalunya dan perasaannya tentang hal itu. Namun, berapa lama tepatnya waktu yang dibutuhkan? Sebulan? Mungkin setengah tahun? Bisa jadi satu tahun dari sekarang atau beberapa tahun untuk hal itu. Atau, mungkin besok. Ketika kumemikirkannya, aku tercengang. Aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpa Sayu lagi.

“Itu aneh…”

Aku meletakkan tanganku di mulutku. Mishima benar. Mungkin itu akan sulit untuk menjalin hubungan dengan Gotou-san saat Sayu ada di rumah.

Saat aku memberi tahu Gotou-san tentang Sayu, dia berkata, “Aku tidak bisa memahaminya. Kamu bilang kamu menyukaiku, bukan? Tapi sementara kamu mengatakan itu, kamu juga mengatakan bahwa kamu tinggal dengan seorang gadis yang tidak kukenal, dan itu membuatku muak.” Bahkan jika dia bisa menerima itu, selama Sayu ada, aku tidak akan pernah bisa mengundang Gotou-san pulang dan melakukan hal-hal yang biasanya dilakukan seorang kekasih.

Jika itu masalahnya, kapan waktu aku bisa bersama Gotou-san? Dan di manakah Sayu? Apa yang akan dia lakukan saat itu? Ketika aku memikirkan tentang dua hal itu, pikiranku menjadi kosong. Tidak ada yang terlintas dalam pikiranku.

“... Ini meresahkan.”

Aku menemukan diriku kewalahan olehnya. Dan tanpa kemajuan dalam pikiranku, aku sampai di rumah.

Aku berdiri di depan pintu dan menarik napas dalam-dalam. Di sisi lain dari pintu ini ada Sayu dan Gotou-san. Aku tahu aku tidak bisa begitu saja masuk dengan ekspresi yang agak kabur di wajahku.

Dengan satu tangan, aku menampar pipi diriku sendiri dan berkata 

“Baik!” untuk memotivasi diri sendiri. Aku memasukkan kunci dan memutarnya. Anehnya aku merasa gugup, padahal aku hanya baru pulang.


Sebelumnya | Daftar Isi | Selanjutnya



[1] Film berdasarkan novel Jepang tahun 1962 dengan judul yang sama. Tidak banyak informasi tentang itu.
[2] Niratama (ニ ラ 玉) secara harfiah berarti “telur kucai” dalam bahasa Jepang dan merupakan hidangan asal Cina yang diadaptasi menggunakan bahan-bahan Jepang. Beraroma dan kaya nutrisi, ini menjadi makanan pokok di rumah di Jepang, dan dimakan untuk sarapan, makan siang, dan makan malam.