Kenyataan

Penerjemah: Fahrenheit32 | Proofreader : Fkrou


Aku ingin mengatakan sesuatu, tetapi aku tahu aku tidak punya jawabannya.

“Aku…”

Aku hanya berhasil mengatakan itu dan kemudian terdiam. Untuk satu menit, tidak, lebih dari lima menit, Gotou-san dan aku sama-sama diam.

“Kamu tidak punya jawaban, kan?”

Gotou-san memecah keheningan, tersenyum lembut padaku. Nada suaranya tidak menuduh, melainkan menegaskan. Dia menunduk, matanya memandangi meja seolah memilih kata yang tepat untuk diucapkan.

“Ada sesuatu yang berbeda tentang siswa SMP dan SMA kau tahu?”

Aku melihat sedikit kesedihan di mata Gotou-san saat dia mengatakan ini.

“Tidak peduli seberapa keras kamu mencoba atau memaksakan dirimu hingga batasnya, itu tidak akan mengubah fakta bahwa kamu adalah seorang siswi SMA. Ini membuat frustrasi, tetapi tidak ada cara untuk mengatakan bahwa kamu adalah orang lain.”

Gotou-san, masih melihat ke bawah, terus berbicara dengan nada berbisik.

“Itu adalah identitas yang kuat. Menjadi siswi SMA.”

Kemudian Gotou-san mengangkat kepalanya dan menatapku.

“Meskipun kamu pergi ke tempat lain, atau kamu berhenti mengenakan seragam sekolah, kamu tetap tidak akan menjadi apa pun selain siswi SMA.”

Kata-kata itu sangat tajam dan akurat sehingga menusuk ke hatiku yang naif. Itu adalah sesuatu yang telah kupikirkan untuk sementara waktu sekarang. Bahkan setelah meninggalkan diriku yang dulu dan berlari sejauh ini, aku masih diperlakukan sebagai “gadis SMA” kemanapun aku pergi. Setiap pria yang kutemui sejauh ini menerimaku hanya karena aku adalah “gadis SMA” yang terlihat cantik.

Namun, tidak nyaman bagi mereka untuk memiliki “gadis SMA yang melarikan diri” untuk waktu yang lama. Itu sebabnya aku harus sering berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Sebaliknya, justru karena aku adalah “gadis SMA”, Yoshida-san melihatku sebagai seorang anak.

“Bahkan jika Yoshida-kun memaafkannya, masyarakat tidak akan melakukannya.”

Saat aku mendengar perkataan Gotou-san, hatiku terasa sakit sesaat. Tetapi pada saat yang sama, aku merasa seolah-olah perasaan ketidakpastian dalam diriku lenyap. Yoshida-san tidak meminta apa pun dariku seperti yang dilakukan orang-orang itu, dia hanya membantuku menetap di sini. Selama aku melakukan sedikit pekerjaan rumah, dia tidak pernah mengatakan apa pun kepadaku tentang apa yang kulakukan di lain waktu.

Aku sangat lega memiliki gaya hidup seperti itu tetapi pada saat yang sama, itu membuatku skeptis. Bolehkah aku, yang meninggalkan segalanya dan melarikan diri, untuk dapat menikmati lingkungan hidup yang begitu damai? Apakah aku diperbolehkan melakukannya? Gotou-san baru saja memberiku jawaban untuk itu. Tentu saja tidak diperbolehkan.

“…Terima kasih banyak.”

Aku menemukan diriku mengatakan itu. Gotou-san hanya menatapku.

“Kupikir... aku selalu ingin seseorang mengatakan itu kepadaku.”

Kata-kata itu keluar dari dadaku.

“Meskipun yang ingin kulakukan hanyalah melarikan diri dari segalanya untuk menjalani hidup yang lebih mudah... Aku juga ingin seseorang mengatakan kepadaku, ‘jangan lari!’” 

Gotou-san mendengarkanku tanpa mengatakan apapun.

“Aku ingin seseorang menunjukkan betapa “aneh” bagi Yoshida-san memanjakanku seperti ini. Sejak aku lari dari rumah, aku mencari perlindungan di banyak rumah pria… menggunakan tubuhku.”

Saat aku mengatakan itu, mata Gotou-san melebar sejenak lalu dia menggigit bibir bawahnya dengan erat.

“Hal semacam itu…”

“Serius, ada yang salah denganku. Aku dengan mudah membiarkan mereka menggunakan tubuhku sebagai ganti hanya untuk beberapa hari berlindung. Terlebih lagi, aku mulai merasa sedikit lebih senang ketika diinginkan oleh orang-orang itu. Tapi…”

Aku berhenti bicara sejenak, lalu wajah Yoshida-san muncul di benakku. Dia satu-satunya orang yang tidak mengizinkanku membuat pilihan yang mudah.

“Yoshida-san tidak pernah menyentuhku. Sebaliknya, dia mengatakan kepadaku, ‘Aku akan membuatmu sadar.’”

“Pfft.”

Gotou-san, yang telah mendengarkan dengan seksama sampai saat itu, tiba-tiba tertawa.

“Maafkan aku. Aku tahu ini percakapan yang serius, tapi… Haha~”

Gotou-san mengangguk beberapa kali dan dengan lucu menggelengkan bahunya.

“Aku bisa membayangkan Yoshida-kun mengucapkan kalimat itu dengan sangat jelas. Itu benar-benar— sangat seperti dia.”

Gotou-san kemudian menatapku dengan ekspresi lembut di wajahnya.

“Bagus untukmu. Kamu akhirnya menemukan tempat untuk menetap dengan nyaman.”

“…Yeah.”

Mataku berbinar dan aku hampir meneteskan air mata.

“Aku yakin Yoshida-kun telah menerimamu. Dan bahwa kamu juga mempercayainya. Aku bisa langsung tahu dari caramu berbicara satu sama lain.”

Gotou-san terus berbicara, mengetuk meja dengan jari telunjuknya.

“Itulah mengapa tidak apa-apa membiarkan dia memanjakanmu. Tidak ada salahnya jika kamu membiarkan dirimu dimanja oleh seseorang yang ingin memanjakanmu.”

Gotou-san berjalan ke arahku dan duduk di sampingku. Kemudian dia menggenggam tanganku dan dengan lembut meremasnya. Tangannya dingin.

“Tapi kau tahu, tidak peduli seberapa besar Yoshida-kun menerimamu, itu hanya bisa bertahan selama masyarakat mau menutup mata terhadap keberadaanmu. Apakah kamu mengerti apa yang kukatakan?”

“Aku mengerti.”

“Itulah mengapa kamu harus mulai memikirkannya, meskipun itu sedikit demi sedikit. Jadi, apa yang akan kamu lakukan mulai sekarang?”

Gotou-san menatap langsung ke mataku. Aku tahu itu adalah pertanyaan yang sangat penting baginya karena matanya terlihat sangat serius. Entah bagaimana, aku bertanya-tanya apakah ini sifat aslinya.

“…Aku memiliki masa lalu yang kucoba hindari apa pun yang terjadi. Dan itu tidak berubah sama sekali. "

“Hmm.”

“Itu membuatku ingin muntah hanya dengan memikirkannya, dan aku tidak ingin kembali.”

“Aku mengerti.”

“Tapi… aku tahu aku tidak bisa terus seperti ini. Aku tidak bisa meminta Yoshida-san untuk menafkahiku selama sisa hidupku. Itu sebabnya…”

Aku menghela nafas perlahan dan mengucapkan kata-kata berikut satu per satu untuk memastikan aku tidak melakukan kesalahan.

“Untuk menghadapi masa laluku…”

Masa lalu yang benar-benar tidak ingin kuingat. Senyuman di wajah sahabatku muncul di benakku dan kemudian menghilang. Aku ingin melupakannya, tetapi aku tahu aku tidak boleh.

“Aku harus ... mempersiapkan diriku sendiri.”

Aku memikirkan ibuku, yang mungkin tidak menungguku kembali. Dan saudara laki-lakiku, yang kuyakin sangat mengkhawatirkanku.

“Aku harus keluar dari sini dan kembali ke tempat asalku. Demi diriku sendiri… dan juga demi Yoshida-san.”

Setelah aku mengatakan itu, aku menatap mata Gotou-san. Dia perlahan-lahan tersenyum, lalu meletakkan tangannya dengan kuat di pundakku.

“…Kata-kata yang bagus.”

Kata Gotou-san dengan suara rendah lalu memelukku.

“Selama kamu memiliki pemikiran itu, itu akan baik-baik saja.”

Gotou-san membisikkan kata-kata itu di telingaku.

“Kamu tahu, SMA adalah waktu yang spesial. Meskipun kamu mungkin merasa dipaksa untuk tinggal sebagai siswi SMA untuk waktu yang sangat lama, kenyataannya adalah… ”

Aku merasakan nada suaranya berubah menjadi nostalgia seperti dia sedang berbicara dengan seseorang dari masa lalunya.

“Itu hanya bagian yang sangat pendek dari seluruh hidupmu.”

Setelah mengatakan itu, Gotou-san memindahkan tangannya ke kepalaku lalu dengan lembut membelainya.

“Itulah mengapa kamu harus menghadapi tantangan yang kamu hadapi dalam hidup dan menikmati saat-saat ketika kamu dimanjakan… Pastikan kamu menjalani kehidupan SMAmu sepenuhnya. Karena kamu masih seorang siswi SMA meskipun kamu tidak bersekolah sekarang.”

Kata-kata Gotou-san perlahan meresap ke dalam hatiku, dan aku mendapati diriku bangkit kembali. Kali ini aku tidak bisa menahannya. Air mata mengalir dari sudut mataku.

Hatiku sangat tidak karuan. Aku ingin melarikan diri dari segalanya, tetapi aku tahu aku seharusnya tidak. Aku tidak ingin ada yang peduli, tetapi aku tahu aku menginginkan mereka. Sementara aku merasa bahwa menjadi seorang gadis SMA adalah sebuah ketidaknyamanan, aku juga terpaku pada pemikiran untuk tidak menjadi seorang gadis. Emosiku meledak-ledak, tapi aku tahu itu tulus.

Memelukku di dadanya saat aku menangis, Gotou-san terus membelai kepalaku.

“Semua yang kamu rasakan saat ini, semuanya milikmu. Ini bukan urusan siapa-siapa selain kamu dan orang-orang tidak memiliki hak untuk ikut campur. Semua rasa sakit dan penderitaan yang kamu rasakan, semua kebahagiaan dan kegembiraan, itu semua milikmu dan milik dirimu seorang.”

Kata-kata lembut Gotou-san sepertinya bergema langsung di kepalaku. Mungkin karena tubuh kita begitu dekat, dan aku yakin dia tahu apa yang ingin kudengar. Semua yang baru saja dia katakan menusukku tanpa perlawanan.

“Itulah mengapa… setelah kamu merasa cukup untuk melarikan diri… berbaliklah, hadapi semuanya, dan terima semuanya. Karena itulah hak dan tanggung jawab yang kamu pegang terhadap hidupmu sendiri.”

“Ugh… ya…”

Aku menangis tersedu-sedu dan menganggukkan kepalaku, lalu Gotou-san memelukku lagi. Hal berikutnya yang kutahu, aku menangis dengan suara keras. Dadanya terasa hangat sekali.

***

“Nah, apakah kamu tidak punya pertanyaan untuk ditanyakan padaku?”

Ketika aku akhirnya tenang dan berhenti menangis, Gotou-san mengembalikan wajah tersenyumnya seolah dia adalah orang lain dan menanyakan pertanyaan itu padaku. Benar, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padanya apapun yang terjadi.

“Gotou-san…”

Setelah aku membersihkan diri, aku menatap dalam ke matanya. Itu dimaksudkan untuk mengatakan “Jangan mencoba melarikan diri”

“Apakah kamu suka Yoshida-san?”

Mata Gotou-san terbuka lebar dan kemudian dia tertawa.

“Apa? Kenapa kamu menanyakan hal itu kepadaku?”

“Ini penting!”

“Untuk siapa?”

Gotou-san adalah tipe orang yang menanggapi pertanyaan dengan pertanyaan. Dan dia terus melontarkan pertanyaan yang melekat di benakku. Tapi aku pasti tidak akan mundur.

“Untukku dan Yoshida-san…”

Aku menjawab dengan jujur. Aku menatap mata Gotou-san dan dia tertawa seolah dia telah melihat sesuatu yang lucu. Tapi dia tidak berbicara sama sekali.

“Jadi, apa jawabanmu?”

Aku menjadi tidak sabar jadi aku bertanya pada Gotou-san lagi, tapi dia hanya tersenyum lebar dan memiringkan kepalanya. Aku frustrasi jadi aku berbicara lagi.

“Karena Yoshida-san… sepertinya sangat menyukaimu…”

“Kamu masih tidak bisa kumengerti,” itulah yang ingin kukatakan. Gotou-san menghela nafas dan kemudian memintaku kembali.

“Apakah itu membuatmu frustrasi?”

“Bukan itu yang kubicarakan!”

“Haha, jangan marah. Hanya saja kamu sangat imut.”

Gotou-san tertawa aneh dan kemudian menggelengkan kepalanya seolah-olah dia pasrah pada sesuatu.

“Aku menyukainya. Aku tidak peduli dengan siapa pun kecuali dia.”

“…Benarkah?”

“Mengapa aku perlu berbohong tentang itu?”

“Karena sulit untuk mengetahui apa yang sebenarnya kamu pikirkan, Gotou san.”

Aku bergumam dan Gotou-san tersenyum sopan lalu mengangguk.

“Seorang wanita misterius, ya?”

“Aku sangat benci hal semacam itu.”

“Haha, aku disuruh pergi.”

Gotou-san tertawa seperti anak kecil dan menghela napas.

“Aku benar-benar menyukainya. Aku telah mengawasinya sejak dia bergabung dengan perusahaan. Dia sangat teguh dan keras kepala namun cukup fleksibel untuk beradaptasi dengan cara orang lain. Jarang sekali kamu bertemu seseorang yang ‘baik hati’ dalam segala hal.”

Kata Gotou-san dengan ekspresi seseorang yang benar-benar jatuh cinta. Aku tidak mampu membuat wajah seperti itu, pikirku.

“Sungguh melegakan…”

Aku mendapati diriku menggumamkan itu. Gotou-san menatapku ke samping dan memiringkan kepalanya.

“Apa itu tadi?”

Aku menjawab pertanyaan Gotou-san tanpa ragu-ragu.

“Kupikir akan membuatku sangat bahagia jika cinta Yoshida-san menjadi kenyataan.”

Saat aku mengatakan itu, Gotou-san memiliki ekspresi di wajahnya yang belum pernah kulihat sebelumnya. Lalu dia menertawakanku sebentar, mencoba menutupinya.

Aku bertanya-tanya mengapa dia membuat ekspresi itu. Agak rumit dan aku tidak tahu apakah dia sedih, gugup, atau kesal.

“Ya. Alangkah baiknya jika kita bisa bersama tanpa satupun masalah.”

“Itu akan sangat bagus.”

Saat aku mengangguk, Gotou-san menunjukkan senyum palsunya lagi dan kemudian memiringkan kepalanya untuk melihat mataku.

“Sayu-chan ... maukah kamu mendukung kami?”

Saat aku hendak menjawab, sebuah adegan muncul di kepalaku. Yoshida-san dan Gotou-san sedang berciuman. Dan kemudian Yoshida-san, tersipu malu, memeluk Gotou-san lagi.

“… T-tentu saja. Aku dukung!”

Saat aku menjawab, Gotou-san tersenyum dan berkata “Terima kasih.” Entah kenapa, dadaku terasa sesak. Tapi aku bertindak seolah-olah semuanya baik-baik saja dan kata-kata keluar dari mulutku satu demi satu.

“Tolong beri tahu aku jika ada yang bisa kulakukan untuk membantu! Aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan… tapi aku akan membantu sebisaku! Jadi…”

Saat aku mengucapkan kata-kata itu secara berurutan, Gotou-san menatapku dengan ekspresi yang membuatku bingung apakah dia tertawa atau tidak.

Tiba-tiba, teleponku berdering, mengganggu apa yang kukatakan. Ketika aku melihat layar yang cerah, aku menyadari itu adalah panggilan dari manajer toko.

“Oh maafkan aku. Itu telepon dari manajer toko pekerjaan paruh waktuku… Apa yang mungkin dia inginkan saat ini?”

“Tidak apa-apa, lanjutkan dan angkat teleponnya.”

Aku membungkuk kepada Gotou-san dan bergegas keluar dengan ponsel di tangan. Tidak mungkin aku menerima telepon manajer toko di depan Gotou-san. Aku merasa ingin mengeluh kepada manajer hanya untuk hari ini.

***

Saat Sayu-chan keluar dari pintu, aku merasa bahuku mengendur.

“Fiuh…”

Aku menghela napas. Mungkin aku gugup. Berbicara jujur dengan seseorang benar-benar membuatku sangat gugup.

Saat Yoshida-kun memberitahuku bahwa seorang gadis SMA sedang tinggal di rumahnya, kupikir dia mungkin gadis yang tidak tahu malu, tapi di luar dugaan, dia ternyata adalah gadis yang rendah hati dan sopan.

Ekspresi wajahnya, matanya yang suram, aku sering melihatnya di cermin ketika aku masih SMA.

“Aku semakin tua…”

Jelas, yang kulakukan adalah ceramah. Bagaimana rasanya memiliki wanita tak dikenal masuk dan tiba-tiba diajar? Meskipun pada akhirnya, aku merasa dia mendengarkanku, dia jelas-jelas waspada pada awalnya, dan aku yakin dia merasa tidak nyaman.

Tidak seperti Yoshida-kun, aku tidak bisa membimbing seseorang dengan metode langsung karena kepribadianku agak aneh. Semua yang kukatakan dangkal. Aku telah mengobjektifkan diriku sendiri sepanjang waktu saat berbicara dengan Sayu-chan.

Aku tidak pernah tahu betapa sulitnya menyampaikan sesuatu. Dan aku menyadari bahwa aku sudah cukup dewasa untuk mengetahuinya. Dalam sebuah perusahaan, tidak ada yang perlu memberi tahu seseorang bagaimana perasaan mereka yang sebenarnya. Aku merasa seperti baru pertama kali melakukan percakapan terbuka setelah sekian lama.

Hadapi tantangan dalam hidup yang perlu kau hadapi dan nikmatilah saat-saat ketika kamu dimanjakan.

“Apa itu tadi?”

Aku ingat apa yang kukatakan kepada Sayu-chan dan tersenyum mencemooh. kupikir aku memiliki kepribadian yang sangat jahat. Aku biasa mengatakan itu kepada orang lain ketika aku masih menjadi siswi SMA, tetapi itu adalah sesuatu yang tidak dapat kulakukan sama sekali.

Dia sangat polos, jadi aku yakin dia melihatku sebagai “orang yang sangat baik.” Tapi masalahnya sama sekali bukan itu. Aku hanya melihat diriku di masa lalu melalui dia. Tidak lebih dari itu. Aku merasa masa laluku bisa sedikit dibersihkan dengan meminta Sayu-chan mengatur hidupnya.

Aku yakin Yoshida-kun juga sama. Meskipun Sayu-chan berbicara tentang kebaikan Yoshida-kun sebagai tanpa syarat, aku yakin di suatu tempat di benaknya, Yoshida-kun meminta sesuatu dari Sayu chan.

“Orang dewasa sangat egois…”

Aku bergumam pada diriku sendiri dan menghela nafas lagi.

Kau bebas menjalani hidup sesuai keinginanmu dan kamu harus belajar membersihkan dirimu dari apa-apa yang mengganggumu.

Aku yakin itulah yang ingin aku katakan padanya. Aku tidak tahu mengapa aku tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata yang sebenarnya ingin kukatakan.

Tapi jika itu Yoshida-kun, aku hampir yakin dia bisa membimbingnya ke arah yang baik. Dan aku bertanya-tanya bagaimana perasaan kepada Yoshida-kun yang telah tumbuh di hati Sayu-chan akan terwujud. Sampai aku melihatnya terjadi, aku harus menahan diri untuk tidak menginginkan Yoshida-kun.

Saat itu, intuisiku yang mengatakan “Jangan sekarang” benar. Aku tidak ingin mengalami tidak bisa mendapatkan apa yang benar-benar aku inginkan lagi.

“Kamu terlalu lama, Yoshida-kun.”

Terserap dalam benakku, aku ingin melihat wajahnya.


Sebelumnya | Daftar Isi | Selanjutnya