Masa Depan

Penerjemah: Fahrenheit32 | Proofreader : Fkrou


“Aku benar-benar minta maaf tentang kemarin…!”

Setelah bekerja lembur, aku langsung pulang dan meminta maaf kepada Sayu. Dia dengan bingung melambaikan tangannya di udara.

“Tidak, tidak, itu bukan salahmu, Yoshida-san.”

“Walau begitu…”

“Baiklah, baiklah. Ngomong-ngomong, kenapa kamu tidak ganti baju? Makan malam sudah siap.”

Sayu mendorongku dari belakang dan memaksaku masuk ke kamar.

Aku memiliki lebih banyak hal untuk dimintai maaf, tetapi aku tahu bahwa menolak sekarang tidak akan membawaku ke mana pun, jadi aku dengan patuh mengikutinya.

Selagi aku mengganti setelan jas dan memakai baju tidur, Sayu dengan cepat menyiapkan meja makan. Pada saat aku selesai mengganti pakaian, semua hidangan sudah ada di atas meja.

“Terima kasih.”

“Tidak apa. Mari makan!”

“Bon appétit!” [TL: Selamat makan]

Sayu berkata dengan tangan terkatup dan mengambil sumpitnya sebelum aku melakukannya. Jelas bahwa dia sedang memperhatikanku.

Aku juga mengucapkan “Bon appétit” dan menyesap sup miso. Aku bisa merasakan seluruh tubuhku menjadi rileks. Saat aku menyesap sup miso Sayu, aku benar-benar merasa seperti kembali ke rumah.

“Sayu.”

Aku memikirkannya sepanjang waktu, bahkan saat aku sedang bekerja.

“Iya?”

Tanpa menunggu Sayu memiringkan kepalanya, aku menundukkan kepalaku dalam-dalam.

“Aku minta maaf kamu harus melalui sesuatu yang menakutkan.”

“Hah? Itu tidak benar.”

“Maaf aku tidak bisa melindungimu.”

“Tapi kamu melindungiku!!”

Teriak Sayu, dan kaget, tubuhku mulai gemetar. Lalu tiba-tiba aku menggelengkan kepalaku beberapa kali.

Teriak Sayu, kemudian tubuhnya bergetar seolah-olah dia telah dipukul oleh suaranya yang keras. Kemudian dia dengan cepat menggelengkan kepalanya.

“Kamu melindungiku…”

“Tapi tetap saja, kamu pasti merasa sakit hati.”

“Aku mendapatkan apa yang pantas kudapatkan. Itu mengingatkanku pada jalan yang kuambil hanya untuk sampai ke sini.”

“Tapi…”

“Yoshida-san.”

Aku disela oleh Sayu.

Dia meletakkan sumpitnya di atas meja dan menatap mataku.

“Sebelum aku datang ke sini…”

Dengan tatapan serius di matanya, Sayu terus berbicara.

“Aku pikir tidak akan ada yang benar-benar menolongku. Jadi jika aku membiarkan diriku dimanfaatkan, aku bisa melakukan hal yang sama kepada mereka. Betapa bodohnya aku.”

Dimanfaatkan.

Ini tentang membiarkan orang lain melakukan apa yang mereka inginkan. Dan digunakan berarti, dalam kasusnya, mendapatkan tempat tinggal yang aman. Jika itu yang dia maksud, maka itulah yang dia lakukan.

“Akan tetapi…”

Sayu berhenti dan kemudian memejamkan mata. Kemudian dia menghirup dan menghembuskan napas perlahan. Ketika dia membuka matanya, dia memiliki senyum yang sangat lembut dan alami di wajahnya.

“Kemudian aku bertemu denganmu, Yoshida-san. Kamu adalah orang pertama yang melindungiku. Aku juga bertemu Asami, dan dia menerima diriku apa adanya.”

Mata Sayu sedikit berair saat mengatakan ini.

Aku tidak bisa mengalihkan pandangan dari senyum di wajahnya. Aku belum pernah melihat dia tersenyum seperti itu sebelumnya.

“Aku ingin lari dari itu semua, tapi sangat sulit untuk pergi ke mana pun. Kupikir kemanapun aku pergi, itu akan sia-sia. Tapi aku tidak bisa berhenti berlari, jadi aku menderita untuk waktu yang sangat, sangat lama.”

Sayu tiba-tiba berdiri dan menghampiriku. Dia kemudian duduk di sampingku dan dengan lembut mencubit bajuku.

“Tapi setelah tinggal denganmu, Yoshida-san, akhirnya… akhirnya aku—”

Sayu menatap mataku lalu menarik bajuku dengan erat.

“Ini seperti… akhirnya aku bisa memikirkan masa depan.”

Ketika aku mendengar kata-kata itu, aku merasa seluruh tubuhku merinding.

“Masa depan…”

Hal berikutnya yang kutahu, aku mengatakan kata-kata itu pada diriku sendiri.

“Ya, masa depan.”

Sayu mengangguk, air mata mengalir dari matanya. Dia terus berbicara.

“Ini bukan tentang seberapa jauh aku akan berlari lagi, ini tentang ke mana aku akan pergi.”

“Sayu…”

“Apa yang harus kulakukan, apa yang ingin kulakukan... aku akan memikirkannya dengan serius.”

Setelah mengatakan itu, Sayu meletakkan tangannya kembali dari tempat yang biasa dia tarik di atas lengan kemejaku.

“Aku akan mengumpulkan keberanianku, jadi …”

Setelah dia mengatakan itu, setetes air mata mengalir di pipinya.

“Sebentar saja… Maukah kamu tetap di sisiku?”

Sebentar saja.

Aku gemetar mendengar kata-kata itu.

Tiba-tiba, aku tidak bisa berkata-kata. Sayu mengernyit sambil berusaha menahan air matanya.

“Tidak mau…?”

“Tidak, hanya saja…”

Sayu berkata, “Sebentar saja.”

Itu adalah sesuatu yang kami berdua rahasiakan dan baru saja, dia mengatakannya sendiri.

“Kamu benar-benar…”

Akhirnya, dia menetapkan "tenggat waktu" untuk dirinya sendiri.

Dan dia mengungkitnya sendiri. Itu adalah tonggak penting bagi hubungan kami.

“Benar benar… hebat.”

Kataku sambil menghela napas.

“Hah?”

Saat Sayu memiringkan kepalanya dengan bingung, aku meletakkan tanganku di kepalanya dan membelai rambutnya dengan kasar, tidak peduli itu membuat rambutnya berantakan.

“H-hei, Yoshida-san.”

Jika Sayu telah mengambil keputusan, tidak mungkin aku tidak bisa mengambil keputusan.

Jauh di lubuk hati, aku tidak berpikir itu salah baginya untuk terus menunda “tenggat waktu” dan tinggal di sini selamanya.

Seperti yang dikatakan Yaguchi, aku menikmati hidup bersama gadis ini. Aku merasa seperti aku menyelamatkannya, namun aku juga diselamatkan.

Di suatu tempat di benakku, aku tahu ini. Tetapi aku belum dapat mengartikulasikannya dengan jelas sampai sekarang, dan aku tersiksa oleh kontradiksi tersebut.

Sebagai walinya, aku tidak bisa hanya duduk diam dan tidak melakukan apa-apa.

“Aku juga.”

Saat aku mengatakan itu, Sayu menatap mataku dengan rambut acak-acakannya.

“Aku akan menolongmu kembali ke jalur yang benar sehingga kamu dapat kembali menjalani kehidupan normal.”

Mendengar kata-kataku, mata Sayu membelalak.

“Maka dari itu…”

Aku memutuskan untuk mengatakan sesuatu kepadanya yang belum pernah aku katakan sebelumnya.

“Berjuanglah.”

Air mata Sayu langsung keluar dan dia menyekanya dengan kasar menggunakan lengan sweternya. Dia mengendus hidung tersumbatnya dan menggelengkan kepalanya dengan penuh semangat.

“Ya!”

Lalu, dengan seringai lebar, Sayu tersenyum.

Senyuman seperti anak kecil yang belum pernah kulihat sebelumnya. Mau tak mau aku mengaguminya sejenak.

“Oh sial.”

“Hmm?”

Untuk menyembunyikan rasa maluku, aku menunjuk ke sup miso.

“Ini semakin dingin.”

“Ah, benar. Ayo makan sekarang juga.”

Sayu menyeka matanya sekali lagi dengan lengan sweternya dan dengan cepat kembali ke sisi meja tempat makan malamnya ditempatkan.

Ini bagus.

Sedikit demi sedikit, Sayu mulai menantikan masa depannya. Akhirnya, dia akan kembali ke kehidupan normal.

Itulah yang kupikirkan, tetapi aku menyadari sesuatu.

Aku menyesap sup miso dan membiarkan rasa asinnya meresap ke bagian belakang lidahku.

Apa yang terjadi antara aku dan Sayu hari ini adalah janji perpisahan.

Sayu juga menyadarinya.

Tapi meski begitu, kupikir kami berdua yakin bahwa itu adalah hal yang benar untuk dilakukan.


Sebelumnya | Daftar Isi | Selanjutnya