Langit Berbintang

Penerjemah: Fahrenheit32 | Proofreader : Fkrou


“Apakah… ada sesuatu yang terjadi kemarin?”

“Hah?”

Asami tiba-tiba bertanya padaku. Aku sibuk meletakkan produk di rak, jadi aku menjawab dengan samar. Jawaban samarku benar-benar membuatnya kesal, jadi dia bertanya lagi, tapi kali ini lebih agresif.

“Jangan meng 'Hah?' Aku. Apakah ada sesuatu yang terjadi antara kamu dan Yaguchi kemarin?”

“Yaguchi-san? Kenapa?”

Aku kaget saat mendengar nama Yaguchi-san tapi berusaha untuk tidak menunjukkannya.

Hari ini kami bekerja pada shift yang sama lagi, tetapi dia tidak berbicara denganku. Situasi canggung bermain di tanganku, tapi sepertinya Asami tidak menyukainya.

Jika aku memberitahunya tentang kemarin, itu tidak akan ada gunanya bagiku atau Yaguchi-san. Meskipun aku merasa bersalah terhadap Asami, jika Yaguchi-san memutuskan untuk tidak mengatakan apapun, maka aku juga tidak akan mengatakan apapun.

“Aku benci sisi dirimu yang ini, Sayu-chaso.”

“Hah…”

Asami berbalik dan menuju ke kantor, dimana Yaguchi-san sedang istirahat.

“A-Apa?”

Aku segera mengikutinya, dan dia, tidak memperhatikanku, bergegas masuk.

“Hah? Apa yang terjadi?”

Ini adalah suara Yaguchi-san.

Aku juga buru-buru masuk ke dalam. Yaguchi-san sedang duduk di kursi sambil makan bento, dan Asami berdiri di depannya dengan tangan di pinggul.

“Apa yang kamu lakukan dengan Sayu-chaso kemarin?”

Asami bertanya langsung.

Yaguchi-san menatapnya dengan santai, lalu mengalihkan pandangannya ke arahku. Penampilannya benar-benar berkata, “Apakah kamu memberitahunya?” jadi aku hanya menggelengkan kepala.

Dia terkekeh lalu menjawab pertanyaan Asami.

“Um… Aku pergi ke rumahnya, lalu bertanya apakah dia ingin berhubungan seks.”

“Hah?!”

“Tapi… dia menolak.”

“Jelaslah! Apakah kamu benar-benar tolol?!”

Asami berteriak sementara Yaguchi-san mengerutkan kening dan menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak akan tahu jika aku tidak bertanya.”

“Kamu seharusnya sudah tahu itu bahkan tanpa bertanya bukan! Oh, dan kuharap kamu tidak menyerangnya, bukan?!”

Yaguchi-san menggaruk hidungnya dengan tangan kirinya, tersenyum, dan berkata:

“Y-Yah… hanya sedikit.”

“Hah?!”

Mendengar kata-katanya, Asami mengarahkan tamparan dengan telapak tangan kanannya dan menamparnya. Tamparan itu menggema di seluruh kantor sebagaimana sumpit Yaguchi-san yang terjatuh ke lantai.

Aku terkejut dia menceritakan semuanya dan aku tidak menyangka tamparan tiba-tiba ini…

“Ugh… Sakit, aku bahkan menjatuhkan sumpitku.”

“Ya, tapi sakitnya hanya sekali ini saja.”

Asami berkata dengan dingin kepada Yaguchi-san, yang sedang mengusap pipinya.

Yaguchi-san menatap Asami dan tiba-tiba mengubah ekspresinya. Aku tidak bisa melihat wajahnya.

“Sepertinya kamu sudah terbiasa, dan kamu mungkin melakukannya sebagai bagian dari rutinitas harianmu.”

Asami melanjutkan dengan suaranya yang bergetar karena marah.

“Tetapi bagi orang yang telah terluka… setiap kali sesuatu yang buruk terjadi, mereka tidak hanya mendapatkan luka baru, tetapi luka yang lama juga terbuka kembali.”

Asami mengepalkan tinjunya.

“Dan di sinilah kamu, seperti itu, lagi dan lagi, dan lagi, dan lagi... Kamu terus-menerus menyakiti mereka melalui luka yang tak terlihat itu.”

Ada begitu banyak amarah dalam suaranya. Aku belum pernah melihatnya seperti itu sebelumnya, dan aku yakin Yaguchi-san juga tidak. Kami tetap diam dan menunggunya mengatakan sesuatu.

Bahunya gemetar namun, dia melanjutkan dengan tenang.

“Begitu menyedihkan. Menyakiti seseorang yang sudah sangat terluka. Kamu yang terburuk!”

Suaranya semakin keras saat dia berbicara dan pada akhirnya, dia berteriak seolah-olah emosi meledak keluar dari dirinya. Tidak bergerak… Yaguchi-san hanya menatap Asami dengan kaget.

“Minta maaflah pada Sayu-chan.”

“Hah?”

“Aku bilang minta maaf!!”

“Oke, Oke… Aku mengerti. Aku minta maaf.”

Yaguchi-san mengangguk di bawah tekanan Asami.

Dia mengalihkan pandangannya ke arahku dan berkata, “Maafkan aku!”

Sekarang ketiga pekerja itu ada di kantor, tidak ada seorang pun di toko itu.

Menenangkan dirinya, Asami membuka mulutnya, mengerutkan kening, dan berbalik ke arah Yaguchi-san.

“Minta maaf. Pastikan untuk meminta maaf darinya!”

“Aku mengerti aku mengerti.”

Aku tidak tahu apakah Asami mendengar jawabannya, tetapi dia hanya berjalan melewatiku dan pergi ke toko.

“Maaf sudah menunggu!”

Aku mendengar suara yang lebih keras dari biasanya dari mesin kasir.

Asami pergi dan meninggalkan kami sendirian. Menghilangkan ketegangan, Yaguchi-san menghela nafas.

“Sheesh... Sungguh sekelompok orang yang bisa berbuat baik di sini…”

“…”

Bergumam, dia menatapku. Kemudian dia dengan rasa bersalah menggigit bibir bawahnya dan sedikit membungkuk.

“Maaf tentang kemarin.”

“Oh?”

“Menurutku tawaran itu bukan hal yang buruk... Tapi aku bertindak terlalu jauh... Aku agak kehilangan akal.”

Dia berkata pelan sambil melihat ke lantai. Dia kemudian mengangkat kepalanya dan menatapku lagi.

“Aku hanya pernah berhubungan seks secara suka sama suka. Akan buruk jika aku merusak rekorku…”

“Apakah kamu…?”

Aku tidak mengharapkan itu. Aku selalu berpikir bahwa dia adalah orang yang buruk.

Namun... melihat ekspresinya saat ini, sepertinya dia tidak seburuk itu. Seolah-olah ada sesuatu yang mengubah kami, dan kami menjadi berbeda.

“Um…”

“Ya?”

Aku memutuskan untuk bertanya.

“Kenapa kamu memberi tahu Asami tentang segalanya kecuali masa laluku? Aku tidak akan punya alasan apa pun.”

Apa yang dia katakan kemarin, “Kami melakukannya setiap hari ketika kamu berada di tempatku…” Tentu saja, tidak ada alasan untuk tindakannya, tetapi aku dapat memahami cara berpikirnya, “Jika kita pernah melakukan itu’ sebelumnya, mengapa kita tidak bisa melakukan ‘itu’ sekarang?”

Namun, dia tidak melakukannya.

Yaguchi-san menatapku dengan bingung dan kemudian memiringkan kepalanya karena terkejut.

“Aku berjanji tidak akan membicarakan masa lalumu jika kamu membawaku ke tempatmu.”

Jawaban itu mengejutkanku.

Dia mengatakan bahwa dia hanya ingin berbicara, tetapi mencoba memperkosaku. Namun, dia akan menepati janjinya.

Perilakunya yang aneh membuatku tertawa.

“Pfft…”

“Mengapa kamu tertawa?”

“Kamu benar-benar aneh, tahu?”

“Hah?”

Begitu dia mengatakan itu, dia mengangkat alisnya.

“Aku tidak berpikir bahwa aku akan bisa memaafkanmu... Untuk yang kemarin…”

Yaguchi-san sedikit memiringkan kepalanya dan aku melanjutkan.

“Tapi aku tidak marah lagi. Hanya saja… Kemarin, aku sangat takut. Tetapi jika kamu melakukan hal seperti itu lagi, aku akan…”

Mataku penuh dengan tekad. Melihat padaku, dia membuka mulutnya karena terkejut. 

“Aku akan sangat marah.”

Kataku sambil berdiri dengan mulut terbuka selama beberapa detik dan kemudian menarik napas dalam-dalam.

“Menakutkan sekali… Baiklah, aku janji. Aku tidak akan melakukannya lagi... Aku sudah tahu bahwa kamu memiliki anjing penjaga yang menakutkan.”

Yaguchi-san berkata dengan kesal dan mengambil sumpit dari lantai.

“Meskipun 'pria' yang tinggal bersamamu itu... dia aneh, bukan?”

“Hah?”

Dia melempar sumpit ke tempat sampah dan mengangkat bahu.

“Dia memiliki gadis muda di sampingnya yang sangat menarik, tapi dia bahkan tidak mencoba untuk bercinta dengannya. Dia benar-benar ketinggalan (kuno).”

“M-menarik…?”

“Ya. Apakah kamu tidak menyadarinya sendiri? ”

Yaguchi-san tersenyum seperti kemarin.

“Pipiku sangat sakit, aku harus mendinginkannya. Aku akan pergi membeli minuman.”

Dia bangkit dari kursinya dan menuju pintu. Di jalan, dia berbalik dan mengarahkan jarinya ke arahku.

“Aku minta maaf. Jadi pastikan untuk memberitahu Asami-chan.”

“Oh ya…”

“Dan juga…”

Dia menggaruk kepalanya dan mengangkat alisnya.

“Katakan padanya bahwa dia akan jauh lebih tidak menakutkan jika dia terus berbicara seperti seorang ‘gyaru’ ketika dia marah.”

“Bagaimana kalau kamu sendiri yang mengatakan itu padanya?”

Sebagai tanggapan, dia hanya tersenyum padaku dan meninggalkan kantor.

Aku ditinggal sendirian.

Meskipun kemarin aku menemukan Yaguchi-san yang menakutkan, aku terkejut karena aku tidak memiliki perasaan itu lagi.

Meskipun alasannya sudah jelas...

Kemarin, aku diselamatkan oleh Yoshida-san.

Dan hari ini, Asami membantuku.

Hanya saja orang-orang itu melindungiku.

Dan aku tidak pernah merasa begitu terdorong untuk terus maju.

***

“Hah? Yoshida-cchi tidak akan pulang hari ini?”

“Ya… Sepertinya begiitu.”

Setelah bekerja, Asami datang seperti biasa. Aku sedang memasak makan malam di dapur ketika aku mendapat pesan dari Yoshida-san.

『Maaf. Ada masalah di tempat kerja dan aku harus mengatasinya. Jadi aku akan menginap di kantor untuk malam ini. Aku berharap aku bisa pulang, terutama setelah apa yang terjadi kemarin... Aku benar-benar minta maaf. Masaklah hanya untuk dirimu sendiri. Tinggalkan rumah jika perlu. Jika terjadi sesuatu, segera kirimi aku pesan. 』

Yoshida-san biasanya mengirim pesan dengan singkat. Tapi kali ini, dia mengirim pesan yang sangat panjang.

Asami melihat ke layar dan kami membaca teks bersama.

“Wah, dia terlalu khawatir. Apakah dia ayahmu atau apa?”

“Yah… ini salahku… aku memberinya alasan untuk khawatir.”

Aku berkata saat Asami melirikku dan menyodokku dari samping.

“Itu bukan salahmu, Sayu-chaso.”

“…”

Aku tidak tahu harus menjawab apa, jadi Asami mengambil ponselku dan mulai mengetik pesan.

“Apa?”

“Tunggu sebentar…”

Dia berkata riang sambil mengetik dengan cepat.

Yo, Yoshida-cchi, Asami di sini! ☆ Aku di rumahmu rn [right now = sekarang]. Karena kamu pergi, aku akan menjaga Sayu-chaso malam ini. Ide bagus, ye kan? Cepatlah jawab! 』 

Isinya mengejutkanku.

“Apa kau benar-benar tidak apa-apa bermalam bersamaku?”

“Tidak apa-apa. Tidak apa-apa.”

“Apakah orang tuamu tidak akan khawatir?”

Tanyaku, dan matanya bergerak sejenak. aku terkejut, tapi

Asami tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

“Semuanya baik-baik saja, sungguh. Mereka tidak akan pulang lagi malam ini.”

“Aku mengerti…”

Aku menyesal menanyakan pertanyaan itu.

Telepon bergetar dan sebuah pesan datang dari Yoshida-san.

『Maaf. Jika kamu tidak keberatan, silakan. Aku mengandalkanmu. Terima kasih. 』

Melihat ini, Asami tersenyum.

“Yay, Sayu-chaso! Kita akan bersama sepanjang malam! Itu luar biasa!”

“Ya… luar biasa!”

Senyuman Asami sangat lembut dan menular, jadi aku juga tersenyum.

“Kalau begitu haruskah kita makan malam? Aku lapar.”

Asami bertanya, tapi dia tiba-tiba menggelengkan kepalanya.

“Kau tau? Kita harusnya baik-baik saja tanpa makan malam sekarang.”

“Hah?”

“Aku ingin pergi ke suatu tempat. Ayo pergi bersama.”

Dia menunjuk ke luar jendela.

Sudah lewat jam 8 malam dan di luar gelap.

“Di saat seperti ini…?”

“Yup, tepatnya saat ini.”

“Nah, jika kita pergi bersama, semuanya akan baik-baik saja. Ayo beragkat!”

“Kamu benar-benar mengerti segalanya, Sayu-chaso.”

Asami bertepuk tangan.

“Yah, sudah diputuskan. Ayo berangkat.”

“Tu-Tunggu, kemana?”

“Kamu pasti akan menyukainya. Oh, tapi sebelumnya, aku harus mampir ke rumah.”

“Oke, tentu.”

Asami berlari ke pintu depan, saat aku mematikan kompor dan lampu. Aku menyimpan telepon di sakuku dan kami meninggalkan rumah.

“Hanya ada beberapa lampu jalan. Menakutkan berjalan sendirian di malam hari.”

“Hah? Bukankah itu bagus?”

“Ada banyak lampu jalan di dekat rumahku dan sangat terang sehingga itu mengganggu.”

“Aku mengerti.”

Kami mengobrol dan berjalan di sepanjang jalan yang tidak diketahui. Hanya 10 menit berjalan kaki dari rumah Yoshida-san, tetapi bangunan itu sama sekali tidak kukenal.

Seperti yang Asami katakan, ada banyak lampu jalan yang terang. Rumah-rumah di sekitar terlihat bagus.

“Bisakah kamu menunggu di sini sebentar?”

Kata Asami tiba-tiba, tersenyum padaku.

“Y-Ya.”

Aku mengangguk. Dia mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan kartu tipis. Kemudian dia memasukkannya ke perangkat di sebelah gerbang besar. Sesuatu berbunyi keras dan gerbang mulai terbuka perlahan.

“Hah?!”

Aku melihat sebuah rumah besar di belakang gerbang besar. Itu lebih terlihat seperti “gedung” daripada “rumah” seseorang.

“A-Apakah ini rumahmu?”

Aku bertanya.

Asami menatapku dan mengangguk. Senyuman di wajahnya agak kesepian.

Dia dengan cepat masuk ke dalam. Sesuatu berdering dan Asami keluar dengan sepeda.

“Aku kembali!”

“Sepeda?”

“Yup, tempatnya agak jauh untuk jalan-jalan, jadi ayo naik ini.”

“Um… Aku juga?”

“Uh-huh, kamu akan duduk di belakang.”

“Barengan? Akankah semuanya baik-baik saja?”

Jika polisi menangkap kita, kita akan diinterogasi.

“Kalau begitu kamu bisa pergi dengan kedua kakimu saja.”

“Kamu jahat banget!”

“Jangan khawatir, tempat itu hampir seperti pedesaan, jadi tidak ada popo[1] di sana.”

“Popo…”

Asami menutup gerbang sambil berbicara, menaiki sepedanya, dan menepuk pembonceng.

“Ayo, naik.”

“Okay…”

Aku duduk dengan ragu-ragu. Asami menungguku lalu mulai mengayuh.

Sepedanya bergoyang, dan aku kehilangan keseimbangan.

“Wah…”

“Pegangan padaku. Pegang erat-erat.”

“O-Oke…”

Aku meraih pinggang Asami dan mendapatkan kembali keseimbanganku.

Kami sedang bersepeda, dan angin bertiup di atasku. Kakiku dingin, tapi bagian atasnya hangat… Itu adalah kehangatan Asami.

Kami baru bertemu baru-baru ini, jadi mengapa aku merasa begitu tenang?

Aku tersesat dalam pikiranku.

“Hei, Asami.”

“Hah?”

Aku tidak memperhatikan bagaimana aku mulai berbicara.

“Kau tau…”

“Apa?”

“Aku datang ke sini dari Hokkaido.”

“Wah, itu gila sekali. Untuk apa?”

Akankah aku bisa mengatakan yang sebenarnya? Apakah aku bisa melakukan ini sekarang?

Aku tidak memikirkannya, dan aku baru saja mulai memberi tahu dia dari mana aku berasal dan siapa aku.

Asami terus mengayuh perlahan, sambil mengangguk secara ritmis kepadaku.

Aku merasa seperti ada sesuatu yang besar, hitam dan berat, sesuatu yang kupegang dalam diriku, perlahan-lahan mulai mencair dan menghilang dalam kegelapan malam.

Aku menceritakan padanya kisah tentang bagaimana aku hidup sebelum aku tiba di sini, bagaimana aku bertemu Yoshida-san, Yuzuha-san, Asami dan bagaimana aku mengenal Gotou-san.

Saat aku selesai, Asami sudah berhenti mengayuh.

“Kita sampai.”

Asami berkata sambil menghentikan sepeda. Aku akhirnya menyadari bahwa pemandangan di sekitarku telah berubah.

“Wah…”

Kami berada di atas bukit kecil. Itu adalah taman dengan bangku kecil dan halaman rumput. Ada begitu banyak tumbuhan sehingga aku terkejut bahwa ada tempat seperti ini di kota.

Dan di atas ada langit berbintang yang mempesona.

“Indah, bukan?”

“Yeah…”

“Aku suka tempat ini.”

Mengatakan ini, Asami meninggalkan sepedanya di pinggir taman dan menuju ke tengah halaman.

Dan di sana dia berbaring, aku melakukan hal yang sama. Aku menatap ke langit.

“Sungguh sangat indah, kamu dapat melihat bintang-bintang meskipun kita berada di kota.”

“Saat pertama kali melihatnya, aku juga kagum.”

Asami tersenyum dan menghela napas.

“Ayahku seorang politikus.”

“Hah?”

“Dan ibuku seorang pengacara. Keren, bukan?”

“Apakah kamu berbicara tentang dirimu sendiri?”

“Ya.”

Menghembuskan napas melalui hidung, lanjutnya.

“Mereka selalu sibuk dengan pekerjaan mereka semenjak aku masih kecil jadi aku selalu dibiarkan sendiri. Bukannya aku tidak bahagia, tapi kesepian. Aku mulai membenci rumah besar itu.”

“Aku mengerti…”

“Untuk mengganggu orang tuaku, aku memulai hal 'gyaru’ ini. Ibuku pingsan dan Ayahku sangat marah. Mereka bahkan tidak berpikir mengapa aku melakukan ini.”

“Begitu ya…”

“Ibuku selalu memperingatkanku apa yang akan terjadi jika aku tidak serius dalam belajar. Jadi aku bekerja keras… ”

Asami sangat pintar. Dari apa yang kudengar, dia memiliki nilai yang luar biasa. Aku sedikit cemburu tentang itu.

“Ibu ingin aku menjadi pengacara. Aku sudah memutuskan jawabannya ketika aku mulai SMA. Tapi aku enggak tertarik dengan itu.”

“Ya, menurutku itu tidak cocok untukmu.”

“Haha, itu nyelekit, tau?”

Asami terdiam. Aku sedang menunggu kelanjutannya, tapi Asami tetap diam. Terkejut, aku menatapnya. Untuk beberapa alasan, dia tersipu.

“Hah?! Apa yang terjadi?”

“Um… Baiklah… Berjanjilah padaku kamu tidak akan tertawa…”

“Hah?”

“Berjanjilah padaku bahwa kamu tidak akan tertawa, oke?!”

“A-aku tidak akan tertawa!”

Aku bingung, tapi Asami sangat serius.

Mendengar jawabanku, Asami berkata pelan.

“Aku ingin menjadi seorang penulis.”

“Wow! kamu pasti akan menjadi yang nomer satu!”

“Y-Yah, alangkah baiknya jika aku mau…”

“Jangan khawatir, kamu pasti bisa.”

Aku melihat esai sekolah Asami, dan aku selalu mengagumi betapa bagusnya esai itu.

“Oke, oke… Cukup.”

Walau dalam kegelapan, terlihat jelas bahwa dia tersipu. Asami terus berbicara, hanya untuk menyembunyikannya.

“Itu sebabnya aku ingin belajar sastra, bukan hukum.”

“Aku mengerti…”

“Ibuku langsung menentangnya.”

“Seperti yang kuduga…”

Asami menghela nafas dan menunjuk ke bintang-bintang.

“Itu pertarungan serius pertama kami. Dan untuk beberapa alasan, ayah memihakku.”

Asami sedikit menyipitkan matanya, melihat ke langit. Aku melihat wajahnya, dia tampak sedikit lebih dewasa.

“Kemudian kami, seperti sekarang, berbaring dan memandangi bintang-bintang. Aku sangat terpesona oleh keindahan ini, dan ayahku berkata, ‘Masalahmu tidak seberapa dibandingkan dengan alam semesta.’ ”

Asami terkekeh dan menutup matanya lagi.

“Aku berkata pada diriku sendiri, ‘Tiba-tiba mulai berbicara dalam hal-hal besar, apa yang dibicarakan si bodoh ini?’”

“Kejam.”

“Bagaimana mungkin aku, orang biasa, bersaing dengan alam semesta?”

Kata Asami. Dia tersenyum, tapi kemudian menjadi serius.

“Hanya saja... aku tidak setuju dengan kata-katanya, tapi melihat langit berbintang, aku mulai berpikir.”

“Tentang apa?”

Setelah jeda singkat, Asami diam-diam, tapi dengan jelas berkata.

“Bagaimana hidupku di antara bintang-bintang besar ini?”

Asami berbicara, melihat ke langit berbintang. Dia terlihat sangat cantik.

“Dari sudut pandang bintang, kita yakin bahwa kita tidak sebanding dengan mereka dan kecil. Tapi masing-masing dari kita masih memiliki kisah kita sendiri, masa depan kita sendiri dan kita masing-masing hidup di dunia kecil kita sendiri.”

“…”

Aku melihat bintang-bintang, dan kata-kata Asami menembus jiwaku.

“Aku tahu aku hanya mengoceh.”

Asami meraih tanganku.

“Kamu juga punya ceritamu sendiri, Sayu-chaso, masa depanmu sendiri. Mereka hanya milikmu seorang, apa pun yang terjadi… aku mengerti, bahwa cerita ini bukanlah yang paling menyenangkan, namun… ”

Meremas tanganku dengan erat, dia menatapku. Tatapan kami bertemu.

“Segala sesuatu memiliki arti dan tujuan. Semuanya akan baik-baik saja.”

“…”

Mataku mulai naik.

Asami terus berbicara sambil tetap menatapku.

“Jalanmu sangat menyakitkan. Sulit dipercaya betapa sulitnya itu. Aku mengerti betapa rajinnya dirimu, aku tahu bagaimana kamu mengatakan pada dirimu sendiri, ‘Aku harus terus maju… Aku harus terus berjalan…’ Tapi tahukah kamu? Mengapa tidak menggunakan sepeda dari waktu ke waktu?”

“Ya… Ya…”

“Kamu berhasil berjalan hingga ke sini, jadi aku yakin kamu bisa kembali.”

“Betul!”

Aku memeluk Asami.

Mataku terbakar. Sejak aku datang ke sini, aku menangis sepanjang waktu.

“Hei, jangan menangis, jangan menangis… Jangan…”

Aku menekankan kepalaku ke Asami dan tidak melihat ke mana dia melihat, tapi aku mendengar dia mengendus.

Di bukit kecil di bawah bintang-bintang.

Asami dan aku menangis selama beberapa menit.


Sebelumnya | Daftar Isi | Selanjutnya



[1] Popo : Polisi