Penghiburan

Penerjemah: Fahrenheit32 | Proofreader : Fkrou


“Ah, akhirnya selesai.”

“Ya… Sangat sulit kali ini.”

Ketika matahari mulai terbenam, aku sudah menyelesaikan pekerjaanku dan sekarang Hashimoto dan aku hanya duduk, benar-benar kelelahan.

“Setiap pertemuan dengan mereka, mereka meminta kita untuk melakukan sesuatu yang tidak ada dalam kontrak awal.”

“Mereka harus menaikkan gaji kita kalau begitu... Jika mereka tidak melakukan itu, mereka pasti tidak menghargai kita sama sekali.”

Biasanya, Hashimoto tidak mengeluh tentang pekerjaannya, tapi kali ini dia bergumam kesal.

“Yah, setidaknya kita berhasil menyelesaikannya. Kerja bagus!”

“Kamu juga.”

Kami mengambil kopi kaleng yang kubawa dan membukanya pada saat yang bersamaan.

Hari ini adalah batas waktunya. Kami tegang sejak pagi, tapi sekarang kami akhirnya bisa santai.

Telepon di sakuku bergetar.

“Hah?”

Siapa yang bisa mengirimiku pesan pada jam ini? Aku mengeluarkannya dari saku dan melihat ke layar. Itu adalah pesan dari Sayu.

『Aku mengundang pulang seorang senpai dari tempat kerja. Tapi dia akan pergi sebelum kamu kembali. Jadi jangan khawatir. 』

“Seorang senpai dari tempat kerja…”

Pesan itu terasa aneh.

Apa itu Asami? Aku tidak berpikir begitu atau dia hanya akan menulis “Asami.” Jika bukan Asami, maka kalimat terakhirnya pasti akan membuatku khawatir.

Aku tidak keberatan jika dia mengundang teman-temannya pulang. Asami datang ketika dia mau, dan dalam hal itu, Sayu biasanya tidak mengirim pesan tentang hal itu.

Memikirkan hal itu, aku teringat percakapan dengan Asami yang kami lakukan beberapa hari yang lalu.

Ada seorang senpai yang menjijikan ini.

Bagaimana aku cara bisa mengatakan ini... Secara umum, dia seorang pelacur pria.

Aku segera bangkit dari meja.

Hashimoto menatapku dengan heran. Gotou-san, duduk di kejauhan, juga gemetar dan melihat ke arahku.

Aku langsung duduk lagi, tapi perasaan tidak enak terus menyengat dadaku.

“Yoshida, apa terjadi sesuatu?”

Hashimoto bertanya dengan cemas. Pikiran berputar di kepalaku.

Pesanan selesai. Menguji dan menulis laporan adalah satu-satunya hal yang tersisa. Tidak ada yang mereka butuhkan dariku.

Berpikir cepat, aku mengenakan jaket yang tergantung di kursi dan berbicara dengan Hashimoto.

“Maaf, aku harus pergi. Bisakah kamu menangani sisanya?”

“Kenapa tiba-tiba?”

“Aku akan menjelaskan semuanya nanti.”

“…Ok aku mengerti. Aku bisa mengatasinya.”

Hashimoto menyeringai dan melambai.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi sepertinya kamu harus cepat.”

“Aku minta maaf dan terima kasih!”

Aku memasukkan laptopku ke dalam tas, memeriksa ponselku, mengambil dompet, dan segera berlari keluar kantor.

Di belakangku, aku mendengar Gotou-san berkata, “Apa yang terjadi dengan Yoshida-kun?!” dan Hashimoto menjawab, “Dia bilang perutnya sakit seperti dia akan melahirkan!”

***

Tidak peduli seberapa terburu-burunya aku, keretanya tidak melaju lebih cepat. Diam-diam bergoyang, tapi aku benar-benar khawatir, jadi aku mengirim pesan kepada Sayu.

Apakah kamu baik-baik saja?

Tapi tidak ada jawaban.

Kecemasan meningkat, aku turun di stasiun dan lari. Tetapi meskipun aku berlari secepat yang kubisa, sepertinya aku tidak lebih cepat dari sebelumnya.

Sesampainya di rumah, aku memutar kunci dan membuka pintu.

Pertama-tama, seorang pria tak dikenal menarik perhatianku. Aku menatap Sayu, yang didorong ke dinding.

“Sayu!”

Aku berteriak terengah-engah, dia membuka matanya lebar-lebar karena terkejut dan kemudian menghela napas tanpa daya.

Terlihat rambut Sayu acak-acakan, pakaiannya juga acak-acakan. Dan di depannya adalah pria tak dikenal ini. Aku merasakan suhu tubuhku naik. Itu adalah kemarahan.

Akan tetapi, ada alasan mengapa aku tidak langsung melompatinya.

“Sayu…”

Aku menatap matanya yang ketakutan.

“Apakah dia pacarmu?”

Jawabannya jelas, tetapi aku tetap harus bertanya. Karena ini adalah rumahku dan Sayu, salah jika mengeluarkan orang yang dia undang.

Bahkan dari kejauhan, aku tahu bahwa mata Sayu basah. Dia tidak mengatakannya dengan keras, dia hanya menggelengkan kepalanya.

Aku mengangguk dan menanyakan hal lain.

“Jadi, apakah tidak apa-apa jika aku mengusirnya?”

Air mata mengalir di wajah gadis itu saat dia mengangguk.

“Baiklah kalau begitu.”

Saat dia memberiku jawaban, tubuhku bergerak menghujam.

“Hei, t-tunggu!”

“Minggir kau, brengsek!”

“Hei, jangan terlalu kasar!”

“Aku bilang keluar!”

Aku mencengkeram kerah bajunya dan mendorongnya keluar. Untungnya, dia lemah, jadi aku dapat dengan mudah melakukan ini, meskipun aku sudah lama tidak berlatih.

Aku menutup pintu, menguncinya, dan menatap pria itu.

“Kamu siapa?”

Aku bertanya dan membebaskannya. Dia tersenyum dan memberitahuku namanya.

“Yaguchi. Kyouya Yaguchi.”

“Kamu senpai Sayu dari supermarket?”

“Haha, jadi begitulah cara dia memperkenalkan dirinya padamu. Tapi tahukah kamu, saat kita pertama kali bertemu, dia memberitahuku bahwa namanya adalah Miyuki.”

“Miyuki?”

“Dia tinggal bersamaku beberapa bulan lalu. Sayangnya, hanya untuk beberapa hari.”

Setelah mendengar kata-kata itu, semuanya menjadi masuk akal bagiku.

Dia mengizinkan Sayu untuk tinggal di tempatnya… dan menggunakan tubuhnya sebagai pembayaran. Sekarang mereka bertemu lagi. Itulah mengapa pesannya berbunyi, “Jangan khawatir.”

“Jadi, ya, aku adalah senpai yang dia sebutkan. Aku meminta untuk datang dan dia setuju.”

“Aku sudah tahu itu. Dia mengirimiku pesan.”

“Oh, itu sebabnya kamu buru-buru kembali ke sini. Jadi kamu orang yang khawatir, ya?”

Yaguchi dengan jelas menunjukkan kebenciannya padaku. Tapi itu sudah bisa diduga karena aku juga tidak terlalu ramah.

“Apa yang kau lakukan?”

Tanyaku langsung. Awalnya, dia terkejut tapi kemudian menyeringai dan menjawab pertanyaanku.

“Bukankah sudah jelas? Kami akan berhubungan seks.”

Seolah-olah ada sesuatu yang meledak di dalam diriku, tetapi aku masih mencoba untuk mengendalikan diri.

“Berhentilah bercanda!”

“Aku tidak bercanda. Aku cukup serius sekarang. Dan bagaimana denganmu, kamu benar-benar belum menyentuh dia?”

“Tentu saja belum. Dia anak SMA!”

“Yah, ya, aku tahu itu…”

Yaguchi tersenyum dan mengarahkan jarinya ke arahku.

“Kamu tinggal dengan JK selama dua bulan dan tidak melakukan apapun padanya, jadi dari sudut pandang kita berdua, kamu orang yang aneh. Kamu membuat dirimu berisiko dengan membawanya pulang. Dan apa yang kamu dapatkan darinya?”

“Ini bukan tentang apa yang kudapatkan—”

“Tidak tidak Tidak!”

Yaguchi menyelaku.

“Orang-orang selalu melakukan sesuatu untuk mendapatkan imbalan. Kamu mungkin membuat pidato yang indah, bersembunyi di balik tatapan itu, tetapi jangan berani-berani menyalahkanku.”

“Lebih baik kau diam! Kamu sudah dewasa… Dan orang dewasa tidak berhak melakukan ini kepada seorang anak!”

Aku sangat marah, tapi Yaguchi hanya menatapku dan menghela nafas.

“Yah, sepertinya tidak ada gunanya berbicara denganmu.”

“Maksudmu apa?”

“Kau tahu, kamu sama saja.”

“Hah?! Sama seperti siapa?”

“Sama sepertiku.”

Setelah itu, aku tidak bisa mengikuti kata-katanya lagi. Bagaimana aku bisa disamakan dengan orang ini? Apa yang dia bicarakan?

“Saat gadis SMA itu meminta bantuan, aku menolongnya dengan menerima dia, sama sepertimu. Dan meskipun dia tidak keberatan tinggal denganku, membawanya pulang tanpa persetujuan orang tua adalah kejahatan. "

"Terus? Karena kamu telah melakukan kejahatan, kamu dapat melakukan apa pun yang kau inginkan dengannya?”

“Hei, itu tidak sama dengan pemerkosaan. Karena gadis itu sendiri menawarkan tubuhnya sebagai bayaran, mengapa tidak menikmatinya?”

“Kau gila…”

“Yang gila itu kamu.”

Yaguchi bergumam.

“Jadi kamu mengizinkan dia untuk tinggal bersamamu, di tempatmu, sebagai imbalan untuk melakukan pekerjaan rumah. Memutuskan untuk bermain sebagai pengantin baru, ya? Aku tidak tahu mengapa kamu memutuskan untuk menolongnya, tetapi tidak normal membiarkannya masuk secara gratis selama dua bulan, dan bahkan mengizinkannya untuk mendapatkan uang tambahan.”

“Dia tidak ingin pulang, jadi aku tidak memaksanya.”

“Ahaha, kamu benar-benar tidak mengerti apa yang aku katakan, kan?”

Yaguchi tertawa lagi dan menatapku dengan dingin. Senyuman tipuan itu tiba-tiba menghilang dan rasanya seperti dia meraih hatiku dengan tangan kosong.

“Jadi, apakah kamu akan merawat gadis itu seumur hidupnya?”

Pertanyaan itu membuatku tercekik.

“Bagaimana dengan universitas? Dan bagaimana dengan pekerjaan?”

Aku ingin menjawab, tetapi tidak dapat menemukan kata-kata yang tepat.

“Lihat? Betapa tidak bertanggung jawabnya…”

Kata Yaguchi sambil terkekeh

“Seperti yang kukatakan, kamu sama denganku. Kamu tidak berhubungan seks dengannya, tetapi kamu memanfaatkannya. Sepertinya kamu senang dengan menyelamatkan gadis itu, tetapi begitu dia merasa tidak nyaman untukmu, kamu akan mengusirnya. Tidak peduli apa yang kamu pikirkan sekarang. Lagipula…”

Dia tiba-tiba melambat.

“Kamu bukan orang tuanya.”

Kata-kata Yaguchi menyebabkan perutku sesak.

Aku tahu itu selama ini. Tapi meski begitu… Aku hanya ingin menolongnya. Apakah ada yang salah dengan keinginan tersebut?

“Walau demikian…”

Aku mengepalkan tangan.

“Walau demikian!”

Aku melihat ke Yaguchi.

“Aku tidak pernah ingin menjadi orang sepertimu, orang dewasa, yang memutarbalikkan dan mengacaukan nilai-nilai ke dalam kepala seorang gadis kecil.”

Apa yang dikatakan Yaguchi benar. Aku tidak bisa menolak. Tapi aku tidak berpikir bahwa itu membenarkan tindakannya.

Kata-kata ini datang langsung dari hati, dan inilah perasaanku yang sebenarnya.

Yaguchi menatapku, seolah-olah aku alien, lalu membuang muka dan menggaruk kepalanya.

“… Sungguh manusia yang menyedihkan. Aku sudah muak denganmu.’

Tampak kesal, dia berbalik dan berjalan menyusuri koridor.

“Hei!”

Aku menghentikannya, dan dengan enggan dia berbalik.

“Apa?”

“Jangan pernah berani-berani ganggu Sayu lagi.”

Kataku, dan dia mendesah kesal.

“Hanya dengan memikirkan bagaimana aku harus berurusan denganmu, idiot, seseorang yang memiliki rasa keadilan yang menjengkelkan… Itu membuatku ingin muntah. Aku tidak akan mengganggunya lagi. Aku janji,”

Dia mulai berjalan lagi, tapi kemudian dia tiba-tiba berhenti dan berbalik,

“Kau tahu bahwa akan sangat menyebalkan jika kamu segera mengusirnya setelah perlakuanmu yang berani tadi. Asal kau tahu saja.”

Yaguchi berbicara dengan nada mengejek.

“Aku bahkan tidak berpikir untuk mengusirnya.”

“Itu cukup mudah untuk dikatakan… Tapi jika Miyuki-chan berhenti dari pekerjaannya, aku akan menganggapnya sebagai kerugian bagimu. Semoga berhasil!”

Dia berjalan menyusuri koridor. Aku memperhatikannya sampai dia menghilang dan kemudian bersandar ke dinding. Kata-kata Yaguchi berputar di kepalaku.

Sepertinya kamu senang dengan menyelamatkan gadis itu.

Apa salahnya menolong seseorang?

Aku tidak tahu apakah aku marah atau sedih. Emosiku berputar-putar di dalam.

Apa yang salah dengan menolong anak yang tidak berdaya?

“Sial…”

Kalian semua hanya berbicara tentang keuntungan dan masalah.

Orang dewasa harus melindungi anak-anak.

Tak seorangpun.

“SIAL!”

Tidak ada yang menolongnya. Mengapa tidak ada yang menolongnya? Dan mengapa aku tidak bisa melakukan ini?

“Tidak ada satu pun dari kalian yang menolongnya…”

Kalian semua baru saja menimbulkan luka yang tidak dapat diperbaiki pada anak yang sudah terluka. Dan setelah itu, tanpa bertanggung jawab, kalian membuangnya begitu saja.

“Bahkan jika kau memberitahuku untuk tidak menolongnya, akan lebih baik jika ada di antara kalian yang melakukannya!”

Perasaan di dalam diriku yang akan meledak, keluar dari mulutku.

Aku terengah-engah. Semuanya mulai berubah di depan mataku. Perlu beberapa detik bagiku untuk menyadari bahwa aku telah menangis. Aku sedang duduk di koridor, mencoba mengatur napas ketika tiba-tiba pintu sebelah terbuka.

Di sana terlihat seorang wanita yang tampaknya baik hati.

“Apa… Apa kamu baru saja berteriak? Apa kamu baik baik saja?”

Aku belum pernah berbicara dengannya sebelumnya. Dia menatapku dengan ekspresi bingung dan aku malu.

“Maaf… untuk kebisingannya. Aku akan pulang sekarang.”

“Tidak... Tidak perlu permintaan maaf... Sebaliknya aku senang semuanya baik-baik saja.”

“Ya…”

Setelah percakapan aneh ini, dia menutup pintu.

Aku menghela nafas mencoba untuk sedikit tenang. Ketika aku sadar, aku ingat bahwa Sayu ada di rumah. Memang, saat ini, dia jauh lebih penting daripada kemarahanku.

Aku menarik pegangan pintu rumahku, terdengar bunyi klik, tetapi pintunya tidak terbuka. Aku lupa bahwa aku menguncinya. Memasukkan kunci dan memutarnya, aku membuka pintu.

“Sayu…”

Aku memasuki ruang tamu dan dia masih duduk di lantai. Bahunya masih gemetar.

Dia menangis.

“Sayu, aku mengusirnya.”

“… Yoshida-san.”

Sayu mengangkat kepalanya dan menatapku. Air mata mengalir dari matanya.

“Apa… Apa yang telah kulakukan…”

Aku mendekat dan duduk. Lalu aku meraih tangannya yang rapuh.

“Dulu aku... Dulu melakukan ‘itu’ dengannya.”

Dadaku sakit. Aku membayangkannya sejenak sebelum gambar itu menghilang.

“Tidak ada yang salah dengan itu. Itu terasa normal.”

“Sayu.”

“Kami telah melakukan ‘itu’ berkali-kali.”

“Sayu, cukup.”

“Selesai…”

Suara Sayu bergetar. Dia meremas tanganku.

“Aku berpikir untuk melakukan ‘itu’ lagi... Tapi tiba-tiba aku ketakutan.”

Dia menundukkan kepalanya.

“Yoshida-san… Ada apa denganku?”

Kata-kata ini menarik napasku.

“Aku tidak dapat melakukan hal-hal yang dapat kulakukan sebelumnya. Aku tidak mengerti apa yang terjadi denganku…”

“Sayu…”

Tanpa kusadari, aku telah memeluk Sayu.

“Tidak masalah! Itu sangat normal!”

“Tapi sebelum sampai di sini, aku selalu melakukan ‘itu’, jadi kenapa aku tiba-tiba…”

“Tidak masalah. Jika itu menakutkan, takutlah. Tidak apa-apa.”

“Uuu…”

Aku memeluk Sayu dengan erat dan mendengar suaranya, dia menangis di dadaku.

Mengapa? Mengapa menjadi seperti ini?

Memeluk Sayu, aku merasa tidak berdaya.

Ini terjadi pada saat aku mengira Sayu berhenti dengan perilaku rela berkorbannya.

Sepertinya aku salah.

Tidak sepenuhnya salah. Namun demikian, dia telah sedikit berubah

Dia bisa menolak pria yang tidak dia sukai. Dan dia tidak berpikir bahwa itu adalah pilihan yang salah.

Meskipun aku tidak bisa memastikannya.

Semuanya tidak seburuk itu.

Aku menggigit bibir dan merasakan sedikit rasa besi.

“Semuanya baik-baik saja sekarang, Sayu. Kamu menolaknya. Selamat.”

Aku berkata dan membelai punggungnya. Dengan gemetar, dia berbicara kepadaku.

“Tapi karena aku menolak... Dia bisa memberi tahu semua orang tentang masa laluku... Dan jika manajer mengetahuinya, dia akan memanggil polisi, dan itu akan menimbulkan masalah bagimu, Yoshida-san.”

“Jangan khawatir, akulah yang mengizinkanmu tinggal di sini, jadi itu tanggung jawabku.”

“Tapi itu—!”

Dia mengangkat kepalanya dan menatapku. Aku tidak tahu apa yang ingin dia katakan, aku benar-benar ingin mendengarnya, namun…

“Tolonglah!”

Aku memotongnya dan hampir menjerit.

“Kamu harus lebih memikirkan dirimu sendiri!”

Sambil terisak, Sayu menatapku dengan bingung.

“Mengapa… Mengapa kamu mengabaikan dirimu sendiri… Mengapa kamu terus-menerus mengorbankan diri sendiri? Jika kamu tidak bisa menghargai dirimu sendiri... Tidak akan ada yang bisa melindungimu!”

Aku mencoba untuk tidak menangis.

Aku merasakan suaraku bergetar di ruangan tersebut. Sepertinya secara aneh, keheningan yang menyusul terasa berkepanjangan. Yang terdengar hanyalah suara Sayu yang terisak dan suara kipas angin.

Gadis itu menatapku, air mata mengalir di wajahnya ketika dia berkata.

“Kenapa, Yoshida-san… Kenapa kamu bertindak sejauh ini untuk melindungiku?”

Pertanyaan itu mengejutkanku.

Jika kamu terlalu baik, kamu tidak akan bisa mendapatkan apa yang kau inginkan.

Kata-kata Mishima.

Tetapi begitu dia merasa tidak nyaman untukmu, kamu akan segera mengusirnya.

Kata-kata Yaguchi.

Kata-kata tersebut berputar di kepalaku.

“Aku tidak tahu…”

Aku tidak menyadari bahwa aku mengatakannya dengan lantang.

“Aku sendiri tidak tahu…”

Aku biarkan Sayu tinggal disini. Aku membahayakan hidup kami bersama dengan mengisi kesepianku dan memberinya jalan keluar.

Tapi aku benci melihat Sayu menderita.

Aku tidak tahu alasannya. Aku tidak tahu siapa yang paling diuntungkan dari kehidupan ini: Aku atau Sayu.

“Realitas” yang membingungkan menekan leherku.

Menggantung di kepalaku, tiba-tiba aku merasakan kehangatan menyelimutiku. Itu adalah Sayu.

Dia memelukku.

“Yoshida-san…”

Dia berkata dengan hidung tersumbat.

“Maafkan aku.”

“Tidak perlu meminta maaf.”

“…Terima kasih.”

“Kamu benar-benar telah berubah.”

Karena tidak ingin dia melihat bagaimana aku menahan air mata, aku semakin menundukkan kepalaku. Dada Sayu menempel di wajahku. aku langsung berpikir betapa lembutnya dia.

“Yoshida-san... Kaulah yang mengubahku.”

Tanpa memilih terlalu banyak kata, aku hanya menjawab.

“Aku ingin kamu menjadi gadis SMA biasa.”

“Mm.”

“Aku ingin kamu bisa bersekolah, berteman, belajar, dan tumbuh dewasa.”

“…Mm.”

“Melihat bahwa kamu tidak dapat melakukan itu… Perasaan menyakitkan ini… aku tahu itu egois.”

“… Mm.”

Aku meremas bahu Sayu, lengannya melemah dan dia melepaskanku.

“Aku bahkan tidak tahu apakah itu demi kamu atau diriku…”

Aku kemudian menatap matanya.

“Tapi aku ingin kamu lebih menghargai dirimu sendiri ... Itu yang kutahu pasti.”

Dia mendengarkanku, dan matanya menjadi basah. Dia mengangguk tanpa henti.

“Tentu, mengerti!”

Senyuman lembut tak terduga muncul di wajahnya yang sedang berlinang air mata.

“Aku akan melakukan yang terbaik.”

Aku pikir aku tahu jalan mana yang dia pilih, tetapi tampaknya aku bahkan tidak memiliki petunjuk sedikit pun.

Tetap saja…

Senyuman lembutnya… Itu indah.

Sayu mengendus keras, menyeka air matanya dengan lengan bajunya, dan menarik napas dalam-dalam.

“Aku akan membuat sup miso!”

“Hah?”

“Aku sering menangis, jadi aku butuh sesuatu yang asin!”

“O-Oke…”

Mengatakan itu, Sayu berdiri dan menuju ke dapur.

Sepertinya hidungnya masih tersumbat, jadi dia mengendus sambil menuangkan air ke dalam panci. Melihatnya seperti itu, aku lega.

Jika aku sedikit terlambat, dia mungkin sudah hampir putus asa.

Dan aku tidak punya apa-apa untuk membantunya. Setidaknya, aku berhasil menyelamatkannya kali ini.

Bagaimanapun.

Aku mengingat “kenyataan”.

Aku bukan orang tua Sayu. Aku harus mengembalikannya suatu hari nanti.

Aku sudah merasakan kenyataan yang samar-samar ini merayap ke bagian belakang pikiranku.

Tidak ada yang terselesaikan.

Aku tidak boleh melupakan itu.


Sebelumnya | Daftar Isi | Selanjutnya