Kebencian

Penerjemah: Fahrenheit32 | Proofreader : Fkrou


“Wow! Bukankah menyenangkan di sini ? Ini jauh lebih rapih daripada tempatku.”

Yaguchi-san berkata dengan semangat saat dia masuk.

“Dia pasti orang yang rajin.”

Saat Yaguchi-san mengatakan itu, aku menjawab dengan acuh tak acuh.

“Aku melakukan semua pekerjaan rumah.”

“Tugas rumah? Kamu yang melakukan semuanya, Miyuki-chan?”

“Betul sekali.”

Yaguchi-san tampak bingung. Dia berkedip beberapa kali dan kemudian tiba-tiba berteriak.

“Dia menyuruh seorang gadis SMA melakukan semua pekerjaan rumah! Sungguh orang yang aneh!”

Yaguchi-san terkikik saat mengatakan itu.

“... Dia tidak terlalu aneh.”

“Tidak, dia benar-benar aneh. Mengapa dia tidak mengerjakan semua pekerjaan rumahnya sendiri?”

Yaguchi-san lalu duduk di tempat tidur Yoshida-san tanpa meminta izin.

Meskipun dia mengatakan hal itu, Yaguchi-san hampir tidak peduli dengan pekerjaan rumahnya. Meskipun tampaknya layak untuk dapat melakukan pekerjaan rumah meski kamu juga harus bekerja, untuk beberapa alasan aku merasa kesal.

“Kamu melakukan semuanya? Memasak, mencuci, membersihkan, semua itu?”

“Betul sekali.”

“Haha, menarik sekali!”

Bahun Yaguchi-san berguncang dan tertawa sebentar, lalu menepuk ruang di sampingnya dengan tangannya.

“Jangan hanya berdiri di sana, Miyuki-chan. Mengapa kamu tidak duduk?”

Aku mengangguk dan duduk di lantai di depannya, tahu bahwa dia ingin aku duduk di sampingnya. Bibir Yaguchi-san berkedut karena frustrasi, tapi dia tidak memaksa dia untuk duduk di sampingnya.

“...Jadi ini tempat tinggal Miyuki-chan sekarang, ya?”

“…”

Yaguchi-san melihat sekeliling ruangan.

“Agak sempit.”

“...Itu karena ruangan ini tidak diperuntukkan untuk dua orang.”

“Kau sudah mengetahui itu, namun kamu masih tinggal di sini. Kamu punya banyak nyali, Miyuki-chan.”

Yaguchi-san mengatakan itu dan kemudian terkekeh. Aku tahu dia sedang menyindir.

“Sudah berapa lama kamu di sini?”

“Kira-kira dua bulan.”

“Dua bulan?!”

Yaguchi-san berteriak. Untuk pertama kalinya sejak aku bertemu dengannya, aku melihat sesuatu selain senyuman di wajahnya.

“Hah? Dia membiarkanmu tinggal di sini selama dua bulan?”

“Betul sekali…”

“Jadi, kamu telah melakukan pekerjaan rumah?”

“Ya”

“Apa lagi?”

“Tidak ada.”

“Tidak ada?!”

Yaguchi-san berteriak lagi.

Dia berhenti selama beberapa detik dengan mulut terbuka dan kemudian menghela nafas. Setelah menggaruk kepalanya, dia berbicara seolah-olah dia sedang berbicara pada dirinya sendiri.

“Itu semacam penyimpangan…”

“Hah?”

“Ah, itu bukan apa-apa.”

Yaguchi-san tersenyum dan menundukkan kepalanya.

“Aku akan langsung bertanya, apakah kamu pernah berhubungan seks dengan orang ini?”

“…Ugh!”

Topiknya sangat mendadak hingga napasku bercampur dengan air liur. Air liur tersebut masuk ke trakeaku dan aku tersedak beberapa saat.

“A-apa kamu baik-baik saja? Apakah itu mengejutkan?”

“Itu…”

Aku berdehem dan mengangkat kepalaku. Mataku bertemu mata Yaguchi-san, yang memiliki ekspresi aneh di wajahnya.

“Dia menjemput seorang gadis SMA dan telah tinggal bersamanya selama dua bulan sekarang kan?”

“…Ya.”

“Bukankah aneh jika kamu bertindak sejauh itu dan tidak pernah berhubungan seks? Lagipula, dia laki-laki. Aku akan mengerti jika kamu jelek sekali, tapi tanpa aku perlu banyak bicara, kamu adalah gadis yang sangat cantik.”

Aku tercengang oleh kemampuan Yaguchi-san untuk berbicara tentang hal-hal yang memalukan tanpa ragu-ragu. Namun, aku tidak bisa tidak mengerti apa yang dia katakan. Awalnya aku juga berpikir begitu.

“…Oh, aku mengerti.”

Yaguchi-san menggaruk kepalanya lagi lalu menghela napas. Dia menatap mataku dan kemudian berbicara dengan jelas.

“Jadi sudah lama sejak kita tidak bertemu satu sama lain.”

“Hah?”

“Kamu belum pernah berhubungan seks, kan?”

“Hah? Um… ”

“Itu sama bagiku. Aku putus dengan semua pacarku dan datang ke sini.”

Yaguchi-san bangkit dari tempat tidur dan duduk di sampingku seolah-olah itu adalah sesuatu yang wajar. Aku mencoba menjauh darinya secepat mungkin, tapi dia segera meraih bahuku.

“U-um… Kupikir kita hanya akan mengobrol.”

“Yah, itu rencananya, tapi berada di bawah satu atap dengan seorang gadis cantik sulit untuk menolak melakukan banyak hal.”

“Itu... Ugh.”

Tidak peduli berapa banyak kekuatan yang kugunakan untuk menolaknya, kekuatan cengkeraman Yaguchi-san di bahuku jauh lebih kuat. Aku tak bisa bergerak. Aku menatap Yaguchi-san dengan jijik, tapi wajahnya lebih dekat ke wajahku dari yang kuharapkan, dan aku tersentak. Yaguchi-san terus berbicara dengan senyum lembut di wajahnya.

“Kamu tidak perlu terlihat begitu takut padaku. Kita melakukannya setiap hari ketika kamu berada di tempatku. Apa kamu tidak menyukainya? Seks?”

“Itulah masalahnya…”

Tanpa mendengarkan apa yang aku katakan, wajah Yaguchi-san mendekati wajahku. Begitu aku tahu bahwa dia akan mencoba menciumku, sekujur badanku bergetar.

“… Eek!”

Tepat sebelum bibir Yaguchi-san hendak menyentuh bibirku, aku menggelengkan kepalaku sekuat tenaga. Dengan suara keras, dahi kami saling bertabrakan.

“Aduh!”

Tangan kanan Yaguchi-san melemah dan aku melarikan diri dari pengekangannya, mundur ke dinding. Dia mengusap kepalanya dan menatapku dengan ekspresi terkejut di wajahnya.

“Mengerikan… Jadi seberapa besar kamu tidak ingin melakukannya denganku?”

“Haa, haa…”

Aku mencoba untuk mengatakan sesuatu kembali, tetapi bahuku hanya bisa  naik turun dan aku tidak bisa mengendalikan napasku. Aku tidak tahu apakah itu kemarahan atau ketakutan, tetapi bibirku bergetar dan dadaku mendidih.

“Aku bisa mengerti jika kamu membencinya, tapi setidaknya jangan melihatku seperti itu. kamu melakukannya denganku sebelumnya dan itu berjalan tanpa hambatan. Tapi sekarang, kamu sangat membencinya.”

Saat dia mengatakan itu, aku secara naluriah mendorong punggungku ke dinding dan menendang-nendang lantai dengan kakiku, meskipun aku tidak dapat bergerak mundur lebih jauh.

“Tidak apa-apa. Ini tidak seperti masalah besar.”

“Tidak…”

“Tidak akan sakit sama sekali. Kamu akan baik-baik saja.”

“…Menjauhlah dariku!”

Tanpa pikir panjang, aku berteriak. Tenggorokanku sakit dan badanku panas. Kulitku terasa aneh. Padahal aku pernah tidur dengannya sebelumnya. Seluruh tubuhku menolaknya.

Ah… Kenapa aku membiarkan orang ini masuk ke dalam rumah? Apakah agar aku tidak akan kehilangan hubunganku dengan Asami? Atau untuk mencegah manajer menemukan kebenaran?

Saat aku memikirkannya, wajah Yoshida-san muncul di pikiranku. Betul sekali. Yoshida-san. Aku tidak ingin merepotkannya, itulah mengapa aku membawa Yaguchi-san ke sini. Merinding yang kurasakan di sekujur tubuhku semakin meningkat.

Jika aku menerima orang ini sekarang dan menyelesaikannya tanpa membuat keributan, semuanya akan berjalan lancar tanpa menimbulkan masalah bagi Yoshida-san. Jika aku menolaknya, dia akan marah dan aku tidak tahu bagaimana kedepannya.

Aku menekan tubuhku ke dinding dan meringkuk. Saat aku perlahan lengah, aku melihat ke arah Yaguchi-san. Mulutku kering.

“…Baiklah.”

“Hah?”

Tidak mungkin Yaguchi-san bisa mendengar suaraku saat aku mengeluarkannya dari tenggorokanku, jadi dia memiringkan kepalanya. Mengabaikan rasa sakit di perutku, aku menarik napas dalam-dalam dan berbicara lagi.

“Jadi… kukatakan tidak apa-apa—”

Suara gemerincing dari pintu depan mengganggu perkataanku. Baik Yaguchi-san dan aku secara alami mengalihkan pandangan kami ke arah suara. Pintu terbuka dengan keras, dan dia masuk…

“Oh…”

Nafas teredam, seperti isakan, keluar dari belakang tenggorokanku.

“Sayu!”

Yoshida-san berdiri di ambang pintu, terengah-engah.


Sebelumnya | Daftar Isi | Selanjutnya