Runtuh

Penerjemah: Fahrenheit32 | Proofreader : Fkrou


“Pagi… Oh…”

Ketika aku memasuki toko dari pintu belakang, keadaannya gelap. Manajer dan Asami biasanya tidak mematikan lampu, jadi jarang sekali gelap di sini.

Aku mengeluarkan seragam dari tas dan mulai mengganti pakaian dengan cepat.

Jelas dari jadwal bahwa manajer itu bekerja pada malam hari dan Asami seharusnya sudah berada di toko.

Menurutku tiga orang tidak cukup untuk mengurusi toko yang sibuk di dekat stasiun, tetapi untuk toko kecil kami, itu adalah jumlah yang tepat. Manajer bahkan mengatakan bahwa empat orang akan terlalu banyak. Karena itu, hari ini aku akan bekerja dengan seseorang yang belum pernah kutemui sebelumnya.

Lampunya tidak menyala mungkin karena seseorang mematikannya. Terus terang, aku agak gugup. Melihat jadwalnya lagi, aku mencari nama orang tersebut, lalu aku menemukannya.

“Kyouya Yaguchi”

“Um…”

Perasaan yang aneh… aku lebih suka mengatakan bahwa nama itu familiar… aku merasa seperti aku pernah melihat atau mendengar nama ini sebelumnya.

“Mungkin kedengarannya seperti nama selebriti?”

Tidak ada yang terlintas didalam pikiran, tapi entah kenapa perasaan bahwa aku mengenalnya tidak hilang.

Aku menatap papan tulis dengan cemas ketika tiba-tiba pintu terbuka dan wajah seorang pria muncul.

“Whoa! Kau membuatku takut… Jadi kau sudah datang.”

“Ah, ya… Senang bertemu denganmu, aku akan bekerja—”

Aku mulai membungkuk, memperkenalkan diri, menatap mata seorang pria berseragam kerja, dan kemudian… aku tidak bisa berkata-kata… Ya. Aku teringat. Teringat perasaan yang familiar ini.

Pria di depanku juga mengedipkan matanya beberapa kali dan berteriak.

“Wow!”

“Miyuki-chan? Itu kamu, Miyuki-chan!!!”

“Tidak, kamu pasti—”

“Mengapa kamu di sini?! Lama tidak bertemu. Aku ingat kamu!”

“Kamu salah… Kamu pasti salah orang.”

Meskipun begitu, dia tidak salah. Karena itu, suaraku bergetar.

“Salah orang?! Aku tidak akan pernah melupakan wanita yang pernah bersamaku.”

Aku merinding.

Baik. Kyouya Yaguchi. Seseorang yang pernah aku tinggali selama beberapa hari ketika aku berada di Ibaraki. Dia menatapku dengan ekspresi lembut seolah dia mencoba terlihat baik.

Tapi itu hanya ilusi. Pria di depanku adalah orang yang tidak menyenangkan yang bisa dengan gesit berkencan dengan beberapa wanita, yang mana ingin kulupakan. Aku ingat betapa jijiknya aku ketika mengetahui bahwa dia secara bersamaan berkencan dengan tujuh wanita.

“Tunggu, Miyuki-chan… Aku belum melihat namamu di jadwal.”

“Ya, aku mengatakan bahwa aku tidak…”

Miyuki bukanlah nama asliku. Begitulah caraku memperkenalkan diri kepada mereka dan dia mengingatnya.

Namun, sejak aku memperkenalkan sebagai Miyuki, aku tidak dapat menggunakan nama asliku. Menemukan diriku berada dalam situasi yang sulit, aku hanya menatap ke lantai, dan kemudian Asami muncul di belakang Yaguchi-san.

“Berapa lama kamu akan berdiri di sini, Yaguchi?! Dan kamu, Sayu chaso, jika kamu tidak check-in, manajer akan mengira kamu terlambat… Apa yang kalian berdua lakukan?”

Dengan mata berbinar, Yaguchi-san menoleh ke Asami.

“Asami-chan! Aku tahu— aku kenal dia!”

“Eh? Darimana?”

“Ini Miyuki-chan! Dia tinggal di tempatku beberapa waktu sebelumnya…”

“Hei!”

Aku hampir berteriak agar Yaguchi-san tutup mulut. Dia dan Asami terkejut.

Tubuhku gemetar. Jantungku berdegup kencang. Nafasku menderu.

“Dia… dia salah mengira aku… aku Sayu Ogiwara.”

Kataku dengan suara gemetar. Tapi Yaguchi-san memiringkan kepalanya dengan curiga.

“Nah… Saat terakhir kali aku melihatmu, kamu pasti Miyuki-chan… Kamu tahu, menyakitkan mendengar bahwa aku salah mengira kamu salah orang…”

Yaguchi-san tidak selesai berbicara ketika Asami, yang berdiri di sampingnya, menendangnya tanpa ampun ke arah tulang kering.

“Kenapa tiba-tiba galak?!”

“Sayu-chaso sudah memberitahumu. Atau apakah kamu tuli?”

Asami berkata dengan nada dingin dan meraih bahu Yaguchi-san.

“Juga, kamu membuang-buang waktu terlalu lama. Sedikit berlama lagi maka manajer akan memecatmu.”

“Hei, hei! Aku hanya ingin berbicara dengan gadis baru. Kami tidak sibuk sekarang.”

“Diam dan pergilah!”

Asami, memegang bahu Yaguchi-san, dengan paksa mendorongnya keluar dari kantor dan masuk ke dalam toko. Lalu dia menutup pintu.

Sambil menghela napas, dia menatapku. Dia menatapku dengan tatapan bingung yang tidak lain secara langsung berteriak, “Apa itu?” dan aku gemetar menanggapi.

“Um… Baiklah… Asami, aku…”

Aku tidak tahu apakah aku ingin membuat alasan atau hanya mengatakan yang sebenarnya. Aku hanya mencoba memecah keheningan. Jantungku berdegup kencang. Aku kehabisan nafas.

“Itu…”

“Tidak masalah.”

“…Hah?!”

Aku mengangkat kepalaku dan menatap Asami. Dia menggelengkan kepalanya.

“Tidak apa-apa, kamu tidak perlu mengatakan apa-apa.”

“…”

Aku tidak bisa berkata-kata, aku hanya menatap Asami, sementara dia melanjutkan dengan serius.

“Jika kamu ingin menjelaskan semuanya, aku akan mendengarkan. Tapi sepertinya kamu belum siap untuk itu. Dan ya, kamu sangat pucat sekarang.”

Dia menepuk pundakku dan menunjuk ke kursi lipat. Aku duduk. Asami membungkuk dan meraih tanganku.

“Jika kamu tidak ingin memberi tahu apa pun, kamu tidak perlu melakukannya. Dan jika kamu ingin memberitahuku sesuatu, Sayu-chaso, maka aku akan mendengarkanmu… Oke?”

“…Oke!”

Wajahku terbakar dan air mata berlinang dari mataku. Sejak pindah ke Tokyo, aku pasti banyak menangis.

Melihatku seperti ini, Asami tersenyum kagum dan menepuk pundakku lagi.

“Tenanglah sedikit. Aku akan check-in untukmu. Tapi hanya untuk hari ini!”

“Ya terima kasih.”

“Aku akan pergi dan memukul Yaguchi sekali lagi, jadi jangan khawatir tentang itu.”

Dia tersenyum, mengedipkan giginya, dan meninggalkan ruangan. Ketika dia pergi, air mata, yang entah bagaimana kutahan, membanjiri mataku.

Mengapa Yaguchi-san ada di sini? Kemungkinan dia pindah ke suatu tempat terdekat dan bekerja pada pekerjaan yang sama denganku sangat rendah. Reuni yang mengerikan, dia seperti menguntitku.

Apalagi Asami mendengar percakapan kami. Dia adalah gadis yang baik dan perhatian, jadi dia mungkin mengkhawatirkanku, tapi mungkin dia lebih mengerti dari percakapan itu daripada yang kukira. Kebaikannya selalu membantuku, tetapi pada saat yang sama memberikan beban yang berat.

Setelah melarikan diri dari rumah, untuk pertama kalinya aku berpikir bahwa aku telah menemukan seorang teman yang dapat kuajak bicara dengan kedudukan yang setara, tanpa beban, untuk melepaskan diri dari masalah-masalahku. Tapi sekarang, Asami mengkhawatirkanku…

Dan meski setelah beberapa, saat air mataku berhenti, namun rasa sakit tidak kunjung hilang.

Aku melihat jam di dinding: sepuluh menit telah berlalu sejak awal giliran aku kerja. Asami melapor untukku, tapi aku merasa bersalah karena mengendur.

Apa yang harus kulakukan terhadap Yaguchi-san? Dan apa yang harus dilakukan dengan Asami? Tapi yang terpenting…

Wajah Yoshida-san tiba-tiba muncul di benakku.

Haruskah aku memberitahunya?

Ada banyak pikiran di kepalaku, tetapi sekarang aku harus bekerja. Aku menarik napas dalam-dalam dan menampar pipiku.

“Baik.”

Sedikit tenang, aku membuka pintu dan masuk ke toko.

***

“Terima kasih atas kerja kerasmu! Hati-hati dalam perjalanan pulang.”

“Iya kamu juga. Semoga berhasil dengan dua jam lagi, Asami!”

“Terima kasih. Bye!”

Giliranku berakhir, Asami tersenyum dan melambai padaku. Aku balas melambai, dan dia kembali ke lemari. Aku masuk ke kantor dan menghela napas.

Aku tidak tahu apa yang Asami lakukan, tapi Yaguchi-san tidak membicarakan masa laluku lagi. Dan ketika aku mengalami kesulitan, dia akan menjelaskan semuanya padaku. Asami juga bekerja dan mengobrol seperti biasa, seolah-olah dia telah melupakan apa yang terjadi. Dia bahkan tidak mencoba mengungkitnya.

Meskipun melihat betapa kesalnya diriku, tidak mungkin untuk tetap acuh tak acuh, jadi terkadang suasananya agak canggung. Asami berperilaku terlalu alami, yang bahkan terlihat tidak normal.

Terlepas dari bagaimana hari itu dimulai, shift berakhir tanpa masalah.

Yaguchi-san berperilaku baik ketika dia membantuku dalam pekerjaanku, jadi kupikir dia tidak akan membicarakan masa laluku lagi. Juga, aneh rasanya melihatnya bekerja, karena aku hanya melihatnya di rumah saja sebelumnya.

Mungkin, tidak ada alasan untuk khawatir. Setidaknya itulah yang kupikirkan.

Setelah aku berganti pakaian, aku keluar melalui pintu belakang toko. Dan saat aku membuka pintu, aku melihat seorang pria berdiri di depan tiang telepon.

“Kerja bagus hari ini!”

“Kamu juga… Kerja bagus.”

Yaguchi-san sedang melakukan sesuatu di smartphone-nya.

“Kau tahu, aku sedang menunggumu.”

“Apa yang kamu inginkan?”

Beberapa saat yang lalu, aku berfikir positif, tetapi sekarang semuanya berubah.

Pergantian shift Yaguchi-san berakhir tiga jam yang lalu, namun dia masih berdiri di sini. Aku tidak tahu apakah dia menungguku di sini selama ini, atau dia baru saja kembali di akhir shiftku. Bagaimanapun, situasinya sangat buruk.

Melihat kewaspadaanku, dia tersenyum.

“Hei, jangan terlalu takut. Bukankah kita teman dekat.”

“Jangan katakan seperti itu.”

“... Ini aneh, Miyuki-chan. Aku sama sekali tidak ingat kamu memberontak. "

“…”

Mendengar ini, dadaku mulai terasa sakit.

Iya. Ketika aku di rumahnya, aku sudah terbiasa dengan ‘hal-hal semacam itu’ jadi aku tidak menolak. Aku bahkan berlatih untuk menunjukkan kepuasanku.

Yaguchi-san tidak terlihat buruk. Sebaliknya, aku akan mengatakan dia tampak tampan dan memiliki sosok yang luar biasa. Jadi pada saat itu, aku ingat pernah berpikir, “Aku senang dia bukan salah satu dari mereka yang membuatku merasa tidak nyaman.”

“Aku terkejut bertemu denganmu di sini.”

Kata Yaguchi-san sambil tersenyum.

“Apakah kamu tinggal dengan seseorang lagi?”

“…”

Aku tetap diam. Dia tersenyum dan mengangguk.

“Aku mengerti. Masih dalam pelarian. Cukup berani.”

“Ya… Bolehkah aku pergi sekarang?”

“Itu tidak sopan. Kita belum selesai.”

“Tidak ada yang ingin kukatakan padamu.”

Aku menjawab dan berjalan melewati Yaguchi-san. Aku ingin kabur dari sini… Tidak, dari dia.

“T-Tunggu!”

Yaguchi-san meraih tanganku. Anehnya, dia cukup kuat.

“A-apa?”

“Aku ingin tahu di mana kamu tinggal.”

“Apa?!”

Kuulangi dengan jengkel. Tersenyum lembut, lanjutnya.

“Aku hanya ingin pergi ke tempat ini… Tempat tinggal Miyuki-chan. Ngomong-ngomong, kamu tinggal dengan seorang pria, jadi mungkin tidak ada orang di sana saat ini.”

“Ada perlu apa pergi ke tempatku?”

“Aku akan berkunjung! Lalu kita akan mengobrol. Kita belum pernah bertemu satu sama lain untuk waktu yang lama.”

Sambil mengatakan ini, Yaguchi-san tersenyum seperti anak kecil dan itu menakutkan. Membawanya pulang bukanlah ide yang bagus.

“Tidak! Aku tidak akan membawa siapa pun tanpa izin dari pemiliknya.”

“Nah, mengapa kamu tidak mendapatkan izinnya terlebih dahulu? Aku tidak akan melakukan hal buruk.”

Jawaban Yaguchi-san mengejutkanku.

Apakah dia benar-benar tidak akan melakukan apa-apa, sekadar berkunjung? Jika demikian, aku tidak mengerti maksudnya. Tidak ada di antara kami yang bisa kami bicarakan.

Aku menggelengkan kepala dan berbicara dengan percaya diri.

“Tetap tidak. Aku akan pulang… Maaf.”

Aku menarik tanganku dan segera mulai berjalan. Yaguchi-san dengan senyuman di wajahnya mengatakan sesuatu.

“Jika kamu mengizinkan aku pergi bersamamu, aku tidak akan menceritakan apapun tentang masa lalumu kepada Asami-chan dan manajernya, Miyuki-chan.”

Jantungku berdegup kencang.

Dia mengancamku. Klasik… Aku mengerti bahwa aku tidak boleh dipimpin olehnya, tetapi kata-katanya sudah cukup untuk membuatku merasakan sakit di hatiku.

“Dan apa yang akan kamu lakukan, jika aku tidak setuju?”

Aku bertanya. Yaguchi-san menyeringai padaku.

“Kamu mungkin sudah mengetahuinya sendiri.”

Aku tidak bisa berkata-kata.

Dia akan memberi tahu manajer tentang kita. Dan merusak kehidupan damai yang pada akhirnya kudapatkan. Mungkin Asami akan mulai membenciku jika dia tahu bahwa aku memberikan tubuhku kepada pria tak dikenal. Dan manajer, jika dia tahu siapa diriku, dia bisa menyerahkanku ke polisi. Kemudian polisi akan mengganggu Yoshida-san. Aku tidak menginginkan itu. Aku tidak ingin membuat lebih banyak masalah padanya. Dia sudah melakukan banyak hal… Begitu banyak sehingga kurasa aku tidak akan pernah bisa membalasnya.

Aku mengepalkan tangan dan menarik napas dalam-dalam.

“… Apakah kamu benar-benar hanya akan berkunjung?”

Wajah Yaguchi-san bersinar karena kegembiraan dan dia mengangguk.

“Ya itu betul! Kita hanya akan mengobrol!”

“Kalau begitu, aku akan bertanya kepada pemiliknya.”

"Baik. Ngomong-ngomong, aku tidak ingin mengganggunya, jadi aku akan pergi sebelum dia kembali.”

Sambil mengatakan ini, Yaguchi-san melihat layar ponselnya., Sepertinya dia sedang memeriksa waktu.

“Maka tidak lama lagi…”

“Betulkah?! Hore!”

“Tapi pastikan untuk menepati janjimu.”

“Tentu saja.”

Yaguchi-san tersenyum senang. Senyuman polos mungkin terlihat manis, tapi bagiku, senyum itu terlihat gila dan tidak bagus sama sekali.

Aku mengeluarkan ponselku, membuka aplikasi perpesanan. Aku mulai mengetik ke Yoshida-san dan kemudian aku tidak yakin.

Apa yang harus kutulis untuk dia agar dia tidak khawatir?

Hal pertama yang terlintas di pikiranku adalah memberitahunya bahwa aku akan membawa Asami pulang, tapi itu bohong. Jika aku akan berbohong, lalu mengapa repot-repot menulis apapun padanya.

Maka akan lebih tepat untuk menulis ‘senior dari pekerjaan’.

Berpikir dengan keras, aku mengetik teks dan mengirimkannya:

『Aku mengundang pulang seorang senior dari tempat kerja. Tapi dia akan pulang sebelum kamu kembali. Jadi jangan khawatir. 』

Yoshida-san mungkin khawatir tentang apa yang kutulis kepadanya, itulah mengapa aku menambahkan kalimat terakhir.

Sambil menghela napas, aku meletakkan kembali ponselku di tas dan menoleh ke Yaguchi-san.

“Aku sudah memberitahunya. Ayo pergi.”

“Itu cepat. Ngomong-ngomong, aku sangat menantikannya.”

Dia mendatangiku dan bertanya.

“Haruskah kita berpegangan tangan?”

“Tidak.”

Saat kami berjalan pulang, dia sangat bersemangat, tetapi aku dipenuhi dengan perasaan tidak menyenangkan.


Sebelumnya | Daftar Isi | Selanjutnya