Makan Malam

Penerjemah: Fahrenheit32


“Oke... Yah, aku tidak mengatakan itu gila, tapi berpikir bahwa kamu akan menolak lagi…”

Manajer Odagiri berkata tanpa menyembunyikan kekecewaannya. Mendengar kata-kata itu, aku juga merasakannya dalam-dalam, tapi yang bisa kulakukan hanyalah mengangguk. Itu adalah permintaan untuk perjalanan bisnis lagi. Beberapa waktu lalu, aku secara sukarela menerima perjalanan bisnis, tetapi sekarang setelah Sayu ada di rumah, aku tidak bisa lama-lama pergi tanpa merasa tidak nyaman.

Beberapa waktu yang lalu ketika aku menolak untuk melakukan perjalanan, itu adalah sebuah kejutan, tetapi seperti yang diharapkan untuk kedua kalinya akan benar-benar membuat Manajer tidak senang karenanya.

“Apa yang terjadi akhir-akhir ini? Sepertinya kamu sedang mengalami krisis paruh baya.”

“Tidak, bukan itu!”

“Ya, Kupikir tidak. Melihat caramu bekerja, sepertinya tidak seperti itu. Aku mengerti. Jika itu masalahnya, pasti ada alasannya, bukan? Jangan ragu untuk memberi tahuku, kamu tidak perlu menahan diri.”

Meskipun bertanya itu wajar, itu sangat menyakitkan bagiku. Meskipun saat itu aku samar-samar memikirkan untuk menyiapkan alasan untuk situasi seperti itu, aku tidak pernah berpikir bahwa pembicaraan tentang perjalanan bisnis akan muncul lagi dengan begitu cepat. Itu adalah penolakan total.

“Apakah ada masalah dengan pasanganmu? Tetap saja, alangkah baiknya jika kamu memberitahuku. Yah… ini tidak seperti kamu akan menikah, jadi menurutku itu bukan alasan kamu menolak.”

“Bukan… bukan seperti itu.”

“Jadi apa alasannya?”

Meskipun nada bicara Manajer Odagiri tidak kuat, kali ini dia memberiku kesan bahwa dia tidak akan membiarkanku pergi tanpa mendengar alasannya. Aku benar-benar kacau. Tidak mungkin aku bisa memberitahunya bahwa seorang gadis SMA tinggal di rumahku. Selain itu, aku tidak bisa berbohong begitu saja. Diam, gugup, dan bertanya pada diriku sendiri apa yang harus dilakukan, tiba-tiba wajah yang tidak asing muncul di belakang Manajer Odagiri.

“Hah? Manajer Odagiri, bagaimana kabarmu hari ini?”

“Ah, Mishima-kun…”

Orang yang tiba-tiba keluar dari belakang Manajer Odagiri adalah Mishima.

“Aku datang karena aku punya beberapa hal untuk didiskusikan dengan Yoshida-senpai tapi, apa kamu sibuk?”

“Kurang lebih. Ini tentang perjalanan bisnis yang akan datang.”

Begitu dia mendengar kata-kata manajer, Mishima membuka mulutnya lebar-lebar dan berkata, “Hah?”

“Perjalanan bisnis? Yoshida-senpai menghadiri salah satunya?”

“Ya, tapi sepertinya dia akan menolaknya.”

“Oh, hanya saja Yoshida-senpai tidak bisa melakukan perjalanan bisnis!”

Mishima mengatakannya dengan suara yang sangat keras. Dia mengatakannya begitu tiba-tiba sehingga aku terkejut.

“Yoshida-senpai memberi tahuku bahwa dia harus pergi ke rumah orang tuanya secara teratur bulan ini. Ibunya sakit…”

Setelah mengatakan itu, Mishima meletakkan tangannya di mulutnya yang terkejut.

“…Ah, apa aku harus merahasiakannya?”

Kemudian dia melihat ke arahku dengan gugup dan menundukkan kepalanya. Meskipun ekspresi wajahnya benar-benar tegang, terlihat jelas saat dia melihatku bahwa motif tersembunyi adalah untuk membantuku. Seolah-olah dia berkata, “Oke, aku mengerti.”

“Ah… Yah… kurasa buncisnya sudah tumpah.”

Aku mengangguk dan kemudian Mishima berkata “Maafkan aku” dengan suara rendah dan menundukkan kepalanya. Melihat situasi antara Mishima dan aku, Manajer Odagiri yang bingung menjabat tangannya.

“Itukah yang terjadi? Jika memang seperti itu, pasti akan lebih baik jika kau memberitahuku dari awal.”

“Tidak…”

“Karena Yoshida-senpai adalah orang yang sangat dekat dengan keluarganya, dia tidak ingin menggunakan situasi keluarga seperti ini sebagai alasan, ya kan?”

“Yah… semacam itu…”

Aku tidak memiliki kesempatan untuk menanggapi dengan baik karena Mishima menyelaku dan berbicara tanpa henti.

“Jika itu masalahnya, aku akan bertanya pada yang lain. Yoshida-kun jika kamu merasa tidak tertahankan untuk mengatakan sesuatu seperti itu… tidak apa-apa jika kamu mengatakan sesuatu seperti ‘ini masalah keluarga’ atau bahkan sesuatu yang ambigu.”

Manajer Odagiri menatapku, tetapi berbeda dari yang dia lakukan sebelumnya, dan itu adalah tatapan yang hangat, seolah-olah dia membantuku.

“Karena kamu bekerja dengan serius setiap hari, jika kamu menolak karena alasan seperti itu aku tidak akan mempertanyakannya. Lain kali beri tahu aku dengan benar.”

“Ya… maafkan aku.”

Meskipun tanpa sepenuhnya percaya sampai saat itu, Mishima telah menemukan dalih itu, dan dengan perasaan bersalah di dalam diriku, aku menganggukkan kepalaku.

“Namun, masih ada masalah. Jadi, siapa lagi yang lebih baik untuk dikirim dalam perjalanan ini?”

Setelah mengatakan ini, Manajer Odagiri melihat ke arah meja sebelah. Endou, yang tergabung dalam tim yang sama, adalah kolega yang menggantikanku saat aku diminta melakukan perjalanan bisnis sebelumnya. Tapi tempat dimana dia selalu duduk sekarang kosong. Itu pasti karena dia melakukan perjalanan bisnis selama seminggu ke Tohoku. Dan Koike, rekan dekatnya, menemaninya kali ini.

“Hashimoto-kun sudah menikah, dan aku tidak bisa meminta para pemula untuk mengisi…”

Setelah mengatakan ini manajer melihat ke kursi di sebelahku. Hashimoto, seorang kolega yang sampai saat ini bekerja dengan tenang, setelah menyadari kehadiran Manajer Odagiri, dengan hati-hati meninggalkan kursinya.

Meskipun bagiku, Hashimoto adalah kolega yang dapat diandalkan, tetapi pada saat seperti ini, dia jelas tidak. Baik atau buruk, dia adalah orang yang berhasil bertahan hidup dengan memilih pertempurannya. Keheningan tak terduga yang terbentuk dengan Manajer Odagiri, yang kukenal ia tidak mengatakan apa-apa tentang masalah tidak adanya orang yang meminta perjalanan dan aku yang menolak beberapa saat sebelumnya serta tidak tahu hal yang benar untuk dikatakan telah berakhir.

“Odagiri-san. Mohon tunggu sebentar.”

Suara dingin datang dari meja di kejauhan. Saat aku melihat ke arah suara itu berasal, Gotou-san tersenyum dan mengangkat tangannya. Manajer dan aku merasa tidak enak bagi Gotou-san untuk mengatakan apa pun pada saat itu, jadi kami benar-benar terhalang oleh keterkejutan itu.

Namun, manajer itu sepertinya segera ingat untuk menggerakkan tubuhnya dan menggelengkan kepalanya ke depan dan ke belakang, dengan tenang berkata “Aku akan kembali sebentar lagi” dan meninggalkanku di sana saat dia menuju ke meja Gotou-san.

Gotou-san adalah bosku. Dialah yang telah membawaku ke perusahaan ini, cintaku yang tak terbalas, dan juga wanita yang pernah menolakku sekali. Aku sedang dalam proyek bersama Gotou-san yang merupakan bagian dari Manajemen Sumber Daya Manusia dan berfokus pada masalah ketenagakerjaan pada saat itu. Meskipun kami tidak pernah bercakap-cakap lama, kami terus bekerja di kantor yang sama, dan setiap hari, aku melihat sosoknya yang baik.

Manajer Odagiri melambaikan tangannya dan mengatakan sesuatu pada Gotou-san. Saat aku menyaksikan adegan itu terserap, seseorang di sebelahku memberikanku sedikit dorongan. Itu adalah Mishima, yang berdiri di sampingku tanpa kusadari. Mishima berkata dengan suara rendah tanpa menatapku:

“Yoshida-senpai, kupikir akan lebih baik jika ada alasan.”

Dia pasti sedang membicarakan perjalanan bisnis. Meskipun itu terlalu mendadak dan membuatku kagum, tindakan Mishima sedikit membantuku.

“Terima kasih sebelumnya.”

Aku menjawab dengan suara rendah. Mishima sedikit malu seolah-olah dia adalah anak manja dan kemudian menggelengkan kepalanya.

“Maaf aku mengatakan bahwa seseorang di keluargamu sakit. Itu tidak sopan bagiku.”

“Tidak, tidak apa-apa ... Aku mungkin tidak memiliki alasan yang dapat dipercaya.”

“Juga, itu bukanlah kebohongan yang akan dikatakan orang lain demi kenyamanan mereka.”

Aku melihat ke samping pada Mishima. Dia biasanya seorang kouhai yang tidak terlalu peduli dengan pekerjaan, tetapi pada saat itu, dia merasa bahwa dia memiliki rasa tanggung jawab dan keberanian yang kuat.

“Itu karena Sayu-chan, bukan?”

“Ya.”

Sepertinya dia terkadang lupa, tapi dia mengenal Sayu. Di perusahaan tersebut hanya ada dua orang yang mengetahui keberadaan Sayu: Mishima dan Hashimoto. Untuk alasan ini, aku percaya bahwa Mishima, melihatku dalam kesulitan datang untuk membantuku.

“Bagaimanapun, kamu benar-benar membantuku tadi.”

Aku memberi tahu Mishima yang menatap langsung ke mataku dan berkata:

“Jadi, apakah aku akan mendapatkan hadiah darimu?”

“Itu lancang.”

“Itu berkatku bahwa kamu diselamatkan Yoshida-senpai, jadi jika ada yang bisa kamu lakukan untukku, bahkan jika itu kecil, itu akan menyenangkan.”

“Aku akan mentraktirmu makan.”

“Itu janji, oke? Hanya kita berdua!”

“Sulit bagiku untuk mengundang lebih banyak orang jika aku yang akan membayar.”

Pada kata-kataku, Mishima mengepalkan tinjunya dan mengangguk dengan penuh semangat.

“Yes! Aku bisa mendapatkan beberapa poin Yoshida-senpai dengan cara itu.”

“Ada apa dengan 'poin' itu? Kedengarannya mencurigakan.”

Aku mengatakan itu dengan sedikit senyuman, lalu aku terkejut karena pada saat itu Manajer Odagiri dan Gotou-san menghadap ke arah kami.

Gotou-san tertawa manis dan memiringkan kepalanya sementara Manajer Odagiri membantahnya beberapa kali dan pergi ke tempat kami berada. Rupanya, percakapan mereka sudah selesai.

“Sepertinya Gotou-san akan mengatur untuk mengirim satu dari cabang lain. Benar-benar seorang penyelamat.”

“Oh? Itu terdengar baik…”

Aku sangat lega. Meskipun aku tidak boleh menjadikan Sayu sebagai prioritas utama, niatku yang sebenarnya adalah untuk menjaganya dan tidak mendapat masalah dengan bosku. Jika aku tidak dapat menolak, dan jika orang lain tidak dapat menggantikanku, sejujurnya aku akan sangat tertekan karena harus pergi.

Karena Gotou-san ikut campur dalam situasi sulit itu, aku harus pergi nanti untuk berterima kasih padanya secara pribadi dan memberitahunya bagaimana perasaanku. Saat aku memikirkan hal ini, aku dengan santai melihat ke arah Gotou-san dan pandangan kami bertemu.

Segera, itu menjadi pertandingan dimana siapapun yang memalingkan muka akan kalah. Aku tertawan dalam konfrontasi misterius ini, dan tanpa memalingkan muka dariku, Gotou-san tersenyum paksa dan memberi isyarat kecil dengan tangannya, memintaku untuk datang kepadanya. Gerakan itu sangat tiba-tiba dan alami sehingga aku butuh beberapa saat untuk menyadari bahwa apa yang dia lakukan ditujukan kepadaku.

Masih teralihkan, aku melihat Gotou-san, yang merengut padaku dengan bingung, memberi isyarat padaku dengan tangannya lagi. Sampai saat itu, aku akhirnya menyadari bahwa dia memang memanggilku.

“Senpai.”

“Apa?”

Mishima memukul sisi diriku dengan sikunya, dan ketika aku berbalik ke arahnya, dia menunjuk dengan dagunya ke arah Gotou-san.

“Dia memanggilmu.”

“Ah, dia memanggilku?”

“Benarkah? Siapa lagi yang akan dia panggil? Bukankah kamu harus pergi sekarang?”

“Oh… oh…”

Mengapa suasana hatimu sedang buruk? Aku bergumam. Ketika Mishima berbicara, dia mengerutkan keningnya, dengan mata yang tajam diarahkan kepadaku, dan menggelengkan kepalanya beberapa kali. Aku pergi ke meja Gotou-san.

“Kenapa kamu tidak segera datang?”

“Uhm… maaf, untuk sesaat aku tidak tahu apakah kamu sebenarnya memanggilku.”

Sambil tersenyum nakal, dia bertanya dengan nada bercanda dan aku menjawab sambil tersipu. Saat dia duduk di kursinya, dia memiringkan tubuhnya sedikit, menekuk lututnya, dan menekan punggungnya ke kursi. Aku secara tidak sadar memperhatikan seluruh rangkaian gerakan itu. Dengan semakin dekatnya musim hujan dan karena udara yang terus berganti, tingkat kelembapan yang tinggi membuat berbagai hal di dalam kantor menjadi memalukan.

Dari tahap awal Cool Biz[1] yang diadopsi perusahaan, banyak karyawan yang bekerja hanya dengan kemeja atau blus. Gotou-san dan aku termasuk di antara karyawan itu. Saat Gotou-san duduk di kursi, berkat kancing atas yang tidak dikancingkan, aku bisa melihat tulang selangkanya, dan dengan gugup, aku membuang muka.

“Ja-jadi, kenapa kamu memanggilku?”

Aku bertanya padanya. Gotou san melihat ke belakang dari tempatku berada dan kemudian menunjuk ke layar monitornya. Perilaku itu memberiku perasaan tidak nyaman dan aku ingat melihat kembali pada diriku sendiri. Saat aku melakukannya, aku bertemu dengan penampilan Mishima yang sedang melihat ke arah kami. Bukan kebetulan bahwa pandangan kami bertemu. Dia pasti mengintip dan mengabaikan pekerjaannya.

『 Kembali bekerja! 』

Aku merengut dan memberi isyarat padanya untuk menggunakan keyboardnya, tapi dia juga cemberut dengan tegas dan kemudian dengan paksa menjulurkan lidahnya sebelum dia mengarahkan pandangannya ke layar monitor.

“Hehehe. Kalian berdua sangat dekat, bukan?”

“Tidak, tidak sama sekali.”

Setelah bertukar pandang singkat, Gotou-san tertawa, dan aku merasa agak malu. Saat aku melihat ke arah Gotou-san lagi, dia menunjuk ke layar monitornya. Aku pindah sedikit lebih dekat ke Gotou-san dan melihat ke layar. Itu ditulis dalam dokumen Word[2].

『Apakah kamu punya rencana untuk hari ini setelah bekerja? 』

Setelah memastikan bahwa aku telah membacanya, Gotou-san menggunakan keyboardnya dan mengetik:

『Bagaimana kalau kita pergi makan malam? 』

Belakangan ini, makan di luar sendirian dengan Gotou-san telah meningkat dibandingkan sebelumnya. Meskipun itu adalah sesuatu yang membahagiakan, cara mengundangku ini sama mendadaknya seperti saat aku pergi bersamanya untuk makan daging panggang. Aku ingat saat dia menanyakan pertanyaan yang agak sewenang-wenang tentang apakah aku punya pacar atau tidak yang aku sendiri cukup kesulitan saat menjelaskannya.

Menghabiskan waktu sendirian dengan Gotou-san membuatku sangat bahagia, tapi, ingatan itu membuatku khawatir seolah akan tersiksa. Namun, tidak mungkin aku menolak undangan beruntung dari Gotou-san. Selain itu, awalnya aku tidak punya alasan untuk tidak menerima undangan dari atasanku atau sifat untuk menolak hal semacam itu.

“Tentu, aku bebas.”

Saat kenangan pahit itu kembali ke pikiranku, aku menggelengkan kepala.

“Kamu bisa? Bagus. Aku akan mengirimimu email dengan detailnya saat makan siang.”

Setelah mengatakan ini sebentar, Gotou-san menunjukkan senyuman lebar.

“Aku mengerti.”

Aku juga menanggapinya dengan sesuatu yang sederhana agar terlihat seperti “percakapan bisnis”. Aku berkata “Permisi,” membungkuk sedikit, dan berjalan menjauh dari meja Gotou-san. Ketika aku kembali ke tempatku, aku dapat dengan jelas melihat bahwa Mishima menggerakkan kepalanya secara tidak wajar, tetapi aku mengabaikannya. Ketika aku mencapai mejaku, Hashimoto sudah berada di kursi di sebelahku dengan ekspresi acuh tak acuh di wajahnya.

“Perjalanan ke kamar mandi agak lama.”

“Tidak bisa menahannya. Aku tiba-tiba sakit perut.”

“Ya… ya…”

Aku mengerutkan kening pada jawaban Hashimoto yang tidak tahu malu, dan dia tersenyum seolah-olah aku sedang menyembunyikan sesuatu.

“Jadi kamu berhasil mengatur kencan dengan Gotou-san selama jam kerja, ya?”

“Sungguh, ini bukan kencan…”

“Kamu tidak akan menyangkal bahwa ini bukanlah percakapan bisnis?”

“Diam.”

Terutama mengingat situasinya, sangat menjengkelkan ketika dia mengejekku. Dia dengan terampil menghindari pertemuan dengan Manajer Odagiri dengan mengosongkan kursinya dan sekarang ada di sana untuk bekerja. Aku tidak bisa keluar makan malam tanpa berkomunikasi dulu dengan Sayu, pikirku. Aku mengeluarkan ponselku dan menulis pesan singkat padanya.

『Maaf. Gotou-san mengundangku untuk makan malam jadi aku akan makan di luar hari ini dan kemudian aku akan pulang. 』

Aku benar-benar ingin mengiriminya sesuatu yang sedikit lebih sensitif, tetapi aku tidak menyiapkan apa pun, dan aku berada di jam kerja sehingga isinya harus singkat dan aku segera mengirimkannya kepadanya. Melihatku dari samping, Hashimoto berkata dengan nada ejekan yang jelas:

“Oh, kamu memberi tahu istrimu?”

“Hei, sudah cukup.”

***

Saat daging berada di atas panggangan, segera terdengar suara “shh”. Gelembung muncul di permukaan daging saat daging itu menyusut secara bertahap, dan saat aku melihatnya, aku membalik setiap potongan daging tersebut dengan penjepit.

“Mmm, terlihat enak.”

Kata Gotou-san yang duduk di depanku dengan matanya yang terlihat lebih cerah dari biasanya. Gotou-san dan aku kembali ke restoran yang sama yang kami kunjungi sebelumnya. Aku melihat warna berubah di kedua sisi daging dari merah muda menjadi oranye dan aku menekannya sedikit dengan penjepitku. Saat aku menekannya, aku merasakan kelenturan daging yang kuat di tanganku. Rupanya, mereka cukup panas di dalam.

“Sekarang kita bisa memakannya.”

Aku mengatakan ini dan mengambil sepotong daging dan Gotou-san mengangkat piringnya sedikit dengan kedua tangannya. Ketika aku meletakkan daging di piringnya, dia tertawa sedikit kekanak-kanakan.

“Hehe, terima kasih. Seperti yang diharapkan dari penanggung jawab pemanggang.”

“Biasa aja.”

Gotou-san dan aku sudah minum banyak minuman dari gelas bir di depan kami. Kami sudah selesai memanggang. Saat kami berbicara tentang hal-hal yang tidak berbahaya, aku sedang memanggang daging. Perlahan, perutku semakin kenyang, dan juga sengaja, aku semakin tidak sabar.

“Jadi, apa yang akan kita bicarakan?”

Meskipun ini bukan aku yang mentraktir, aku memulai percakapan dengan Gotou-san karena sepertinya dia tidak akan melakukannya lebih dulu. Aku bertanya-tanya kapan kita akan mulai membicarakan masalah yang sebenarnya, jadi aku menjadi sedikit tidak sabar. Gotou-san menoleh ke samping.

“Apa maksudmu dengan pertanyaan itu?”

“Maksudku, apakah ada yang bisa kubantu? Kamu tiba-tiba mengundangku untuk makan malam di tengah pekerjaan.”

Saat aku mengatakan itu, Gotou-san membuat wajah khawatir dan kemudian meringis.

“Ada yang salah? Apa aku menangkapmu?”

Aku berkata dengan getir seolah-olah aku tahu yang sebenarnya. Aku sedikit kesal, jadi dia membuat ekspresi menawan yang dia tahu aku lemah.

“Aku tidak menyembunyikan apa pun... mungkin.”

Gotou-san memakan sepotong daging yang dia ambil dari piring kecilnya dan mengunyahnya perlahan. Kemudian, setelah menelannya sepenuhnya, dia tiba-tiba memiringkan kepalanya dan menatap mataku.

“Mengapa kamu menolak untuk melakukan perjalanan bisnis?”

Sudah kuduga dia akan menanyakan itu padaku, pikirku. Aku merasakan ketegangan di wajahku. Dan saat ini, aku mengerti bahwa aku tidak dapat melarikan diri tanpa menjawab pertanyaan itu. Gotou-san menatapku ketika dia bertanya. Mungkin dia juga tidak menyadari perubahan ekspresiku.

“Aku sudah memberitahumu tentang ini, jadi aku tidak akan menghukummu sama sekali. Merupakan kebijakan perusahaan untuk tidak memaksa siapa pun melakukan perjalanan bisnis, jadi kamu bebas menolak.”

Begitulah adanya. Perusahaan telah mencapai pertumbuhan dalam jangka pendek, membuka jalan bagi kebijakan semacam itu. Kaum muda saat ini memiliki kecenderungan kuat untuk tidak menerimanya karena mereka merasa itu sudah usang.

Makan siang dapat diambil kapan saja antara pukul 11.00 dan 15.00, dan kamu juga dapat mengubah ke jadwal fleksibel untuk masuk dan keluar dari pekerjaan. Saat itu, ketika Gotou-san berkata, “Bos tidak bisa memaksamu melakukan apa pun yang dia perintahkan kepadamu”, ini juga termasuk soal perjalanan bisnis

Aku pikir pencapaiannya telah meningkat karena itu adalah perusahaan yang menerapkan skema itu, jadi setiap pekerja untuk aspek organisasi itu; mereka bekerja tanpa stres.

“Jadi, menanyakan pertanyaan semacam itu hanya untuk keingintahuan pribadi. Bener gak?”

Mendengar kata-kata Gotou-san, aku menjawab dengan samar hanya untuk menunjukkan bahwa aku sedang memperhatikan.

“Saat kita pergi bersama terakhir kali… kamu juga… menanyakan pertanyaan yang sama.”

Gotou-san ragu-ragu untuk mengatakan apapun dan menatapku lagi saat dia berbalik, lalu dengan gugup melihat ke permukaan meja.

“Kamu bilang kamu tidak ada hubungannya dengan Mishima-san, kan?”

“Ya. Bukankah kita sudah membicarakannya? Aku bilang tidak ada yang terjadi di antara kami berdua…”

“Tapi, bukankah kalian berdua lebih sering makan bersama?”

“Kami baru saja lebih dekat dari sebelumnya ... Tidak, hanya saja dia menghargaiku... Yah, aku tidak begitu tahu bagaimana menjelaskannya, tapi, kupikir itulah sebabnya kami sering bersama.”

“Yah, kurasa begitu… Tapi tetap saja.”

Gotou-san meninggikan suaranya. Dia juga membuat beberapa gerakan, yang mana bukanlah karakteristiknya saat dia berbicara.

“Jelas sekali kalau kamu meninggalkan kantor lebih awal dari sebelumnya akhir-akhir ini.”

“Ah, itu karena aku ingin punya lebih banyak waktu untuk tidur.”

“Tidak, bukan itu, kamu pasti bohong. Aku tahu dari caramu berpaling saat kamu gagap dalam berbicara.”

“Oh, tapi itu bukan bohong…”

Itu benar-benar bohong. Setelah menatapnya, Gotou-san menghela nafas sedikit, dan berkata perlahan:

“Menurutku itu karena… Mungkin kamu sendiri belum menyadarinya, tapi…”

Sepertinya dia sedang melakukan pembukaan.

“Yoshida-kun, kamu bahkan tidak pernah menggunakan ponselmu selama bekerja sebelumnya.”

Ketika aku mendengar kata-kata itu, aku merasa tidak enak. Aku pasti tidak pernah melihatnya seperti itu. Mungkin dia menyadari perubahan ekspresi wajahku, karena Gotou-san yang terlihat bingung menyangkal dengan tangannya.

“Ah, maafkan aku. Aku tidak menuduhmu atau apa pun. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku juga tidak main-main.”

“Tidak, itu… Baiklah…”

Saat aku tergagap, Gotou-san tersenyum pahit dan terus berbicara.

“Masalahnya, seorang bawahan yang tidak pernah menggunakan smartphonenya di tempat kerja, tiba-tiba mulai melakukan hal-hal seperti itu… Dan menurutku kamu tidak hanya menghubungi rekan kerja.”

“Kamu… ada benarnya.”

Sejujurnya aku tidak ingin membuat pernyataan, tapi yang pasti apa yang dia katakan memiliki perkembangan yang cukup logis dan normal. Tidak ada gunanya menyangkalnya jadi aku mengangguk dengan lemah lembut.

“Itu sebabnya aku sangat khawatir… Ah, kamu mau bir lagi?”

“Ah… Boleh.”

Aku membalas. Gotou-san tersenyum lalu menekan tombol untuk memanggil pelayan. Saat pelayan itu tiba, Gotou-san berkata “Tolong dua bir.” Aku mengambil gelas kosong yang ada di depanku dan memberikannya kepada pelayan.

“Terima kasih banyak. Maaf jika aku membuatmu khawatir…”

“Tidak, ini bukan makan malam perusahaan jadi kamu tidak perlu khawatir.”

Memang benar. Aku berpikir untuk melanjutkan pembicaraan, tetapi aku menahan diri. Secara tersirat, aku menyadari bahwa dia sekarang sepertinya berbicara tanpa mengambil posisi.

“Jadi…”

Aku bergumam pelan. Gotou-san sedikit bingung lalu dia menatapku.

“Ada apa?”

Aku tahu secara spesifik apa yang dia maksud dengan pertanyaan itu tanpa perlu bertanya lagi. Mengapa aku menolak untuk melakukan perjalanan bisnis, siapa yang kuhubungi, itulah pertanyaan yang ingin dia tanyakan.

“Hanya saja…”

Saat aku mulai mengucapkan kata-kata itu, aku tiba-tiba berhenti. Sebenarnya, kecuali Hashimoto, aku tidak berniat memberi tahu siapa pun tentang Sayu. Namun, apakah itu takdir? Mishima mengetahui bahwa Sayu tinggal di rumahku. Tampaknya keras kepala dan menyembunyikan ini dari Gotou-san tidak ada artinya.

“Dua bir, maaf membuatmu menunggu.”

“Ah, terima kasih…”

Pelayan tiba dengan cepat dan segera meletakkan bir di atas meja dan berkata, “Maaf telah menunggu” sambil buru-buru pindah ke meja lain. Saat Gotou-san meletakkan satu gelas di sisiku dan gelas lainnya di sisinya, aku merasa indraku perlahan-lahan bersatu. Pasti. Terlepas dari apakah aku akan berbicara tentang Sayu atau tidak, lebih penting untuk menghilangkan perasaan tidak nyaman terlebih dahulu. Akhirnya, aku bisa mengungkapkan perasaan ketidakpastian yang aku rasakan beberapa saat yang lalu dengan kata-kata.

“Sebelum hal lainnya, tidak apa-apa jika aku menanyakan sesuatu padamu?”

Saat aku menanyakan pertanyaan itu, Gotou-san terlihat bingung sejenak dan kemudian memiringkan kepalanya ke samping.

“Apa?”

“Tidak, maksudku…”

Aku mengerti arti dari pertanyaan Gotou-san. Dan, aku juga memahami keraguan yang menyebabkan pertanyaan itu. Namun, hanya ada satu hal yang benar-benar tidak kumengerti.

“Gotou-san, kenapa kamu sangat peduli dengan alasan dibalik tindakanku?”

Aku menatap mata Gotou-san ketika aku mengajukan pertanyaan dan dia sepertinya terkejut. Sebelumnya, pernyataan dari Gotou-san menunjukkan bahwa dia tampaknya sangat menyadari apa yang terjadi denganku akhir-akhir ini. Sampai sekarang, aku hampir tidak memikirkan secara mendalam mengapa dia terpaku pada perilaku karyawan. Tetapi ketika aku mendengarkan komentarnya, aku pikir itu jelas bahwa itu adalah sesuatu seperti “aku hanya memperhatikan semua karyawan” tetapi dia menatapku terlalu dekat.

Tidak, kupikir memang benar dia benar-benar memperhatikan karyawan lain. Kupikir mungkin itulah yang terjadi. Gotou-san telah berada di kantor mengawasi semua karyawan di sekitarnya, berjalan-jalan, memudahkan orang yang memiliki pekerjaan untuk berbicara dengan tenang. Aku menyadarinya.

Namun, hari ini Gotou-san telah mengetahui situasinya dengan sangat detail. Jika dia benar-benar memiliki sudut pandang yang sama ketika dia melihat semua karyawan, tidak mungkin dia bisa mengingat hal-hal yang dia tanyakan kepadaku. Jika itu masalahnya, aku hampir tidak ingin terlalu minder.

Aku terus menganggapnya sebagai minat romantisku selama lima tahun, dan kemudian dia menghancurkan kasih sayang itu. Tapi meski begitu, aku sampai pada kesimpulan bahwa Gotou-san sedang mengawasiku dengan seksama daripada karyawan lain. Tidak mungkin aku bisa menyingkirkan perasaan tidak nyaman ini. Aku ingin tahu apakah Gotou-san hanya melihatku sebagai “satu karyawan di antara banyak lainnya”.

Jika aku berasumsi bahwa dia memiliki niat khusus, apa itu? Aku merasa tidak adil bahwa sebelum aku selesai dengan keraguan itu, aku akan menjernihkan misteri dan menjawab pertanyaannya.

“Kau tidak perlu memaksakan diri untuk menjawab jika kamu tidak ingin…”

Dan kemudian apa yang kupikirkan melangkah lebih jauh, tampaknya bagiku itu adalah sesuatu yang sangat penting.

“Tapi kalau begitu, aku juga tidak akan menjawab pertanyaanmu.”

Aku tidak dapat memikirkan cara lain, jadi aku memberikan komentar yang tegas. Pada kata kataku, Gotou-san membuka matanya sedikit lebih lebar dan berkedip lebih dari biasanya. Lalu dia sedikit mengangkat sudut mulutnya dan menghela napas.

“Aku terkejut…”

Setelah mengatakan itu, Gotou-san meminum segelas bir sepertinya menghindari pertanyaan itu. Melihat itu, aku ingat kalau aku bahkan belum menyesap bir. Busa birku telah berkurang menjadi satu sentimeter. Karena bingung, aku juga meminum seteguk. Perasaan yang menstimulasi yang tampak seperti sengatan listrik melewati tenggorokanku. Dan kemudian untuk beberapa alasan, komentar tegas yang baru saja kubuat melintas di kepalaku.

“Jadi itu adalah sesuatu yang ada di pikiranmu, ya.”

Setelah mengatakan itu, Gotou-san sedikit tersipu. Mengapa dia tersipu saat itu?

“Ya, aku pasti lebih memperhatikanmu daripada yang lain. Itu fakta.”

Gotou-san perlahan mengucapkan kata-kata ini. Namun, itu agak aneh. Dia tidak menatap mataku, tatapannya diarahkan ke permukaan meja tanpa tujuan, dan wajahnya memerah. Aku tidak mengatakan apa-apa, aku menunggu dia melanjutkan apa yang dia katakan.

“Okay.”

Gotou-san hanya mengangguk, dan setelah berpaling dariku, dia akhirnya menatapku lagi.

“Um, aku harap kamu tidak terkejut mendengar apa yang akan kukatakan tetapi… Kurasa, itu tidak mungkin”

“Jadi alasannya…”

“Iya?”

“Kenapa aku sangat peduli kan?”

“Iya.”

Hanya dengan melihat penampilannya aku tahu. Sekarang, dia mencoba menjawabku dengan serius. Jelas bahwa suasana hatinya berbeda dari biasanya sekarang karena dia selalu tenang sepenuhnya, jadi aku tidak tahu apa yang dia pikirkan. Gotou-san perlahan menghirup napas lalu menghembuskannya. Tampaknya telah mengambil keputusan, dia menatapku dan dengan wajah yang sedikit memerah dia berkata:

“Aku menyukaimu, Yoshida-kun.”

Pikiranku membeku. Apa yang dia katakan barusan? Dia menyukaiku. Apa dia mengatakan itu? Ketika pikiranku kembali, tiba-tiba kekacauan dimulai. Tidak, tidak, tidak. Tapi baru beberapa bulan yang lalu dia menolakku. Dia bilang dia punya pacar. Apa dia putus dengannya? Tidak, tidak, tidak. Dengan asumsi bahwa dia putus dengannya, apa yang baru saja dia katakan akan berarti bahwa aku hanya pelampiasannya. Sebuah pikiran muncul di benakku berputar-putar di otakku tersumbat. Akhirnya, yang keluar dari mulutku hanyalah:

“Hah?”

Itu hanya satu kata




Sebelumnya | Daftar Isi | Selanjutnya




[1] Cool Biz adalah kampanye Jepang yang diprakarsai oleh Kementerian Lingkungan Hidup Jepang pada musim panas 2005 sebagai sarana untuk membantu mengurangi konsumsi listrik Jepang dengan membatasi penggunaan AC.
[2] Singkatan dari Microsoft Word atau MS Word.