Kesendirian

Penerjemah: Fahrenheit32


『Maaf. Gotou-san mengundangku untuk makan malam jadi aku akan makan di luar hari ini dan kemudian aku akan pulang. 』

Aku baru saja selesai membuat semangkuk daging dan kentang ketika aku melihat pesan dari Yoshida-san. Meskipun perasaanku campur aduk, aku bersyukur dia telah menghubungiku, dan tentu saja, aku tidak punya hak untuk membatasi tindakannya.

『Dimengerti! Selamat bersenang-senang ~ 』

Karena itu, dia mungkin sangat khawatir, jadi aku mengiriminya pesan yang memberinya gagasan bahwa “Aku sama sekali tidak keberatan!” Aku menyelipkan ponselku di saku dan melepas tutup panci dari panci. Uap putih panas keluar bersama dengan bau asin ringan yang menutupi seluruh ruangan, yang memenuhi perutku melalui hidung.

“Baunya enak.”

Aku bergumam sendiri dan mengambil sepotong kentang dengan sumpit.

Saat aku memasukkannya ke mulut dan mengunyahnya, aku merasakan rasa kecap dan sedikit aroma Katsuo dashi[1]keluar dari hidungku.

“Ini sangat enak…”

Aku mengangguk, mematikan api kompor, lalu duduk di lorong. Perutku bergolak karena bau daging dan kentang memenuhi lorong, tapi aku tidak ingin langsung makan.

“Kehilangan kesempatan untuk makan daging dan kentang yang lezat yang baru dimasak ini. Yoshida-san yang malang.”

Aku bergumam dan menertawakan diriku sendiri. Dan kemudian tiba-tiba, seolah-olah itu wajar, aku menghela napas. Yoshida-san pasti sedang makan malam dengan Gotou-san tersayang sekarang. Mereka mungkin berada di restoran mewah atau tempat yakiniku yang sama terakhir kali.

Kalau dipikir-pikir, aku tidak tahu apa yang Yoshida-san lakukan ketika jauh dari rumah. Seperti apa dia di tempat kerja? Orang macam apa yang dia kenal? Apa yang dia lakukan untuk bersenang-senang? Aku tidak tahu banyak tentang ekspresi wajahnya kecuali ekspresi yang dia gunakan saat bersamaku. Cara Yoshida-san memandangku benar-benar seperti anak kecil. Dan yang membuat frustrasi adalah, dia sama sekali tidak melihatku sebagai “wanita”

Aku tidak mengatakan itu hal yang buruk. Itu salah satu hal terbaik tentang tinggal bersamanya, dan menurutku itu juga salah satu hal yang paling menunjukkan kepribadiannya. Tetapi sebagai seorang gadis remaja, fakta bahwa dia tidak tertarik padaku sebagai seorang wanita memberikanku perasaan tidak nyaman.

Jika aku adalah Gotou-san.

Entah bagaimana, aku memiliki pikiran itu. Jika tubuhku sama dengan Gotou san, akankah Yoshida-san menyentuhku?

Yoshida-san memberitahuku bahwa dada Gotou-san lebih besar dariku. Aku juga relatif besar untuk usiaku. Tetapi jika ukuran ini hampir tidak merangsang hasrat seksualnya, aku tidak bisa berhenti bertanya-tanya seberapa besar dadanya.

Aku ingin tahu ekspresi seperti apa yang Yoshida-san berikan pada Gotou-san. Aku mencoba membayangkannya, tetapi aku tidak dapat melakukannya dengan baik. Namun, ketika aku mencoba membayangkan tampilan dan ekspresi wajahYoshida-san saat dia menatap Gotou-san, aku merasakan sedikit ketidakenakan di dadaku. Aku pikir ini pasti bukan cinta atau kasih sayang. Tapi, sangat tidak menyenangkan untuk berpikir bahwa Yoshida-san mungkin memberikan ekspresi yang tidak ingin aku lihat kepada orang lain.

“Aku tidak begitu yakin…”

Sambil bergumam, aku mengusapkan bagian belakang kepalaku ke dinding lorong. Aku telah banyak berubah semenjak tiba di sini. Bahkan aku tidak dapat memutuskan apakah itu hal yang baik atau tidak. Meskipun demikian, aku pikir hatiku aman, sejauh ini, lebih dari sebelumnya. Tentang itu, tidak diragukan lagi.

Aku harus berterima kasih kepada Yoshida-san untuk itu. Dia menyediakanku sebanyak yang dia bisa dan kemudian menyuruhku untuk melakukan waktuku dengan sesukaku. Itulah mengapa aku percaya dia harus bebas menjalani hidupnya dan aku tidak boleh ikut campur. Aku tidak ingin membebani dia sebanyak mungkin. Aku juga ingin membantunya sebanyak mungkin. Aku berpikir untuk hidup seperti ini untuk sementara waktu.

Aku membuka penanak nasi dan aroma nasi yang baru dimasak naik bersama dengan uapnya. Aku meletakkan nasi di mangkuk yang telah digunakan untuk tamu sebelum aku pindah ke sini dan meletakkan daging serta kentang di piring yang agak berlubang untuk lauk pauk.

Meskipun aku berpikir untuk menambahkan hidangan sayuran lain ke dalam menu, ketika aku menyadari bahwa Yoshida-san tidak akan pulang untuk makan malam, aku tiba-tiba menjadi enggan untuk melakukannya. Jika untuk aku seorang, aku tidak keberatan hanya memiliki satu lauk.

“Terima kasih atas makanannya.”

Aku mengatupkan kedua tangan, lalu mengambil sumpit dan melahap daging dan kentang. Akulah yang menyiapkannya, jadi pasti enak. Sudut mulutku naik secara alami, tetapi segera turun.

Ini sangat lezat.

Yoshida-san akan selalu memujiku seperti ini setiap kali dia merasa makanannya enak. Dia tidak menahan diri untuk memberikan pendapatnya tentang makanan yang aku siapkan. Ini tidak seperti salah satu ulasan mendalam yang ditemukan di manga makanan, tapi aku sangat senang dengan beberapa kata sederhana itu.

Aku menggigit daging dan kentang di mulutku dan mengunyahnya sedikit. Kemudian sesuap nasi putih. Saat aku melakukan ini dalam diam, aku bisa merasakan daging dan kentang berangsur-angsur memudar.

“Sesuatu…”

Aku bergumam pada diriku sendiri.

“Hambar…”

Aku ingat perasaan kosong ini. Itu sejak aku masih di Hokkaido…

“Tamagoyakimu[2] selalu enak, Sayu-chan!”

Suara seorang teman bergema di pikiranku lagi. Saat aku mengingatnya, rasa menggigil di punggungku, dan aku berkeringat dingin. Sebelum aku memikirkan apa pun, aku bergegas ke kamar mandi.

“… Blech!”

Dan kemudian, aku memuntahkan daging, kentang, dan nasi putih yang baru saja kumakan di toilet. Tenggorokanku terasa panas dan perutku terasa seperti sangat dingin. Aku terus gemeteran.

Akhirnya, napasku perlahan menjadi tenang dan mualnya mereda, aku memutar tuas dan menyiram isi toilet. Saat aku berdiri perlahan, kakiku terasa sedikit mati rasa dan aku tidak yakin apakah aku menyentuh lantai atau tidak.

Pada akhirnya, bahkan setelah sampai pada titik ini, aku masih tidak bisa lepas dari masa laluku. Untuk beberapa alasan, aku selalu merasa ingin muntah ketika mengingat gadis yang dulu sangat akrab denganku. Mengapa aku tiba-tiba mengingatnya? Tidak sekali pun sejak aku datang ke tempat ini aku telah teringat padanya.

Ah, benar… itu karena Yoshida-san tidak ada di sini sekarang. Aku sudah terbiasa dengan gaya hidup ini, dan tidak banyak yang bisa kulakukan saat ini. Andai saja Yoshida-san kembali seperti biasanya, ini tidak akan terjadi. Aku menghela napas saat memikirkannya.

“Sungguh, tidak ada yang berubah…”

Aku selalu mengatakan bahwa semuanya adalah kesalahanku, tetapi jauh di lubuk hatiku, aku menyalahkan orang lain. Aku benar-benar kehilangan nafsu makan lalu aku menyesap sebotol teh jelai[3] yang didinginkan. kemudian teleponku yang aku tinggalkan di meja di kamarku bergetar.

Satu-satunya kontak yang terdaftar di aplikasi perpesananku adalah Yoshida-san. Dengan kata lain, fakta bahwa telepon bergetar berarti Yoshida-san baru saja menghubungiku. Saat aku melirik jam di dinding, aku merasa masih terlalu dini bagi Yoshida-san untuk pulang, karena baru lebih dari satu jam ketika dia memberitahuku bahwa dia akan makan di luar untuk makan malam.

Masih terlalu dini baginya untuk kembali. Bagaimanapun, dia bersama wanita impiannya. Aku pikir makan selambat mungkin adalah hal yang normal untuk dilakukan. Ketika aku melihat layar ponselku, aku melihat pesan dari Yoshida-san.

『Maaf, ini sangat mendadak…』

Aku tidak dapat membaca pesan lengkap tentang pemberitahuan saja, jadi aku mengusap jariku di layar dan pindah ke aplikasi perpesanan. Segera setelah aku membuka pesan Yoshida-san, mataku melebar.

『Maaf, ini sangat mendadak, tapi hari ini aku akan membawa pulang Gotou-san. 』

Membawanya pulang? Ke rumah ini? Aku merasakan sakit di dada. Seorang pria dewasa membawa pulang wanita impiannya. Mudah untuk membayangkan bahwa ini bukan hanya tentang dia membawa pulang wanita impiannya. Meskipun perasaanku sedang kabur, aku tidak akan melawan apa yang telah diputuskan Yoshida-san.

『Aku mengerti! Haruskah aku menginap di tempat lain untuk malam ini? 』

Aku segera mengetik dan mengirim pesan, meletakkan ponselku, lalu menjatuhkan diri di atas meja. Yoshida-san akan pulang sebentar, bersama Gotou-san. Aku membayangkan situasinya sedikit, dan segera setelah itu aku memukul-mukul dahiku di atas meja.

“Idiot. Bukan urusanmu dengan apa yang dia lakukan, kan? "

Mengapa ini sangat membingungkanku? Cinta lama Yoshida-san mungkin akan menjadi kenyataan. Bukankah aku harus merayakannya? Tak lama kemudian, otakku dipenuhi kecemasan.

Seandainya romansa antara Yoshida-san dan Gotou-san membuahkan hasil, kurasa kehadiranku akan merepotkan jika aku terus tinggal di sini. Praktis mustahil bagiku untuk menyembunyikan kehadiranku dari seorang kekasih, dan aku tidak bisa begitu saja menyebut ini rumah. Jika itu yang terjadi, aku...

“Aku akan diusir lagi…”

Saat aku mengatakan itu, dadaku terasa sesak. Tapi di saat yang sama, wajah tersenyum yang terkadang ditunjukkan Yoshida-san muncul di pikiranku. Jika aku tidak ada di sana dan Yoshida-san bisa terus tersenyum, mungkin itu hal yang baik.

Itulah yang kupikirkan. Telepon di meja bergetar lagi, dan aku mengangkat kepalaku dari meja dan melihat ke layar.

『Tidak. Bukan itu...』

Dan kemudian ketika aku melihat isi pesan itu, pikiranku berhenti.

『Gotou-san bilang dia ingin bertemu denganmu. 』

“Hah?”

Aku berseru kaget. Aku bertanya-tanya bagaimana Gotou-san tahu tentang keberadaanku. Aku hanya bisa menyimpulkan kalau Yoshida-san yang memberitahunya. Jika demikian, lalu bagaimana dia menjelaskan keberadaanku padanya? Dan kenapa dia bilang dia ingin bertemu denganku? Pikiranku dipenuhi dengan tanda tanya.

Pertanyaan-pertanyaan berputar-putar di otakku, aku menyandarkan sikuku beberapa kali di atas meja, mengetukkan kakiku dengan ringan ke lantai, dan bergerak dengan gelisah. Akhirnya.

『Jika menurutmu tidak apa-apa Yoshida-san, maka tidak masalah bagiku…』

Rasanya butuh lebih dari sepuluh menit untuk menjawab itu.




Sebelumnya | Daftar Isi | Selanjutnya




[1] Katsuo dashi : Juga disebut bonito dashi, ini adalah kaldu dashi Jepang yang dibuat dari fillet bonito kering yang disebut "Katsuobushi" dalam bahasa Jepang. Katsuobushi mengandung asam inosinat yang merupakan salah satu komponen Umami yang dikenal sebagai rasa kelima di seluruh dunia.
[2] Tamagoyakimu : Adalah telur dadar gulung Jepang yang dimaniskan yang menyerupai batang mini bantal emas. Dengan rasa yang sedikit manis dan tekstur seperti custardy, tamagoyaki sangat disukai oleh anak-anak Jepang maupun orang dewasa.
[3] Teh jelai : sebuah teh yang terbuat dari jelai yang merupakan makanan pokok di seluruh wilayah Asia Timur seperti Tiongkok, Jepang, Korea, dan Taiwan. Teh ini memiliki rasa yang hangat, dengan rasa agak pahit