Senior

Penerjemah: Fahrenheit32


“Kamu berhenti tepat pada saat kelas 2 SMA?! Serius?!!”

Senpaiku, yang sedang menyimpan sandwich di rak, menghentikan tangannya dan menatapku dengan mata terbelalak karena terkejut.

“Ya.”

“Betulkah?! Sial! Itu gila, Sayu-chaso[1], sungguh.”

“Apa iya?”

“Kupikir kamu adalah tipe orang yang manis dan penurut. Aku bisa merasakannya, kau tahu apa yang kumaksud kan? Oh ya, tolong pastikan stok lama tetap di depan dan kamu memasukkan stok baru lewat belakang, oke?.”

“Oke.”

Asami Yuuki - Dia senpaiku di toko swalayan tempat aku memulai bekerja baru-baru ini.

Dia memiliki rambut pirang dan kulit coklat keemasan. Dari kelihatannya, kukira penampilannya dipoles di salon.

Berlawanan dengan intensitas rambut dan kulitnya, riasan tipis dan matanya yang agak sipit memberinya penampilan yang agak rapi dan tajam. Kupikir dia terlihat sangat keren seperti itu.

Aku benar-benar kewalahan oleh getaran yang dia pancarkan pada awalnya, tetapi dia telah mengajariku segalanya dengan cermat. Dan yang paling penting, dia juga orang yang sangat mudah diajak bicara.

“Katakan, mengapa kamu berbicara denganku secara formal? Kedengarannya sangat aneh, bukan? Kita seumuran.”

“Yah, lagipula kamu adalah senpaiku di tempat kerja, Yuuki-san.”

“Jangan khawatir tentang hal seperti itu. Panggil saja aku Asami.”

“Oh, oke… Ah, mm…”

Aku menganggukkan kepalaku dengan tegas. Asami menyeringai cepat kepadaku dan buru-buru kembali untuk menyimpan sandwich di rak.

“Jadi, kenapa kamu tidak pergi ke SMA? Apakah kamu memiliki hal lain yang ingin kau lakukan?”

“Yah, tidak juga, um... kurasa aku hanya ingin melakukannya?”

“Kamu baru saja merasa seperti itu? Yah, kurasa itu juga alasan yang bisa diterima pada akhirnya.”

Sementara dia dengan lancar membimbingku dengan hal-hal dasar, dia kadang-kadang bertanya tentang diriku sendiri. Maksud di balik pertanyaan-pertanyaan ini agak aneh. Bukannya dia sangat tertarik padaku atau apa pun, tapi juga bukannya dia sama sekali tidak ingin tahu tentang aku. Sepertinya dia juga tidak menanyakan pertanyaan itu hanya untuk kepentingannya. Rasanya lebih seperti dia hanya bertanya tentang apa pun yang menarik minatnya tetapi tidak terlalu melampaui batas.

Adapun aku berhenti belajar pada kelas 2 SMA - itu bohong.

Akan terlalu merepotkan untuk menjelaskan bahwa aku saat ini terdaftar di SMA, tetapi sebenarnya tidak pernah masuk; jauh dari itu, menjelaskan apa yang aku lakukan sejauh ini dari sekolah itu sendiri akan membuatku sangat terikat. Belum lagi, aku benar-benar khawatir bahwa mengajukan pertanyaan seperti itu mungkin akan menghasilkan serangkaian pertanyaan yang cukup bermasalah. Mengingat reaksinya ketika aku mengatakan bahwa aku adalah ‘anak SMA’, sebuah pilihan yang berisiko tinggi secara tidak wajar di zaman sekarang ini, sepertinya dia tidak akan mempermasalahkannya bahkan jika aku mengatakan yang sebenarnya tentang masalah tersebut.

“Pada dasarnya, yang lainnya pun sama. Pindahkan yang lama ke depan dan masukkan yang baru ke belakang. Sederhana bukan? Nah, sebelum kamu memperbarui stoknya, kamu seharusnya mencatat inventaris dengan benar terlebih dahulu, tetapi sampai kamu mengambil beberapa hal mendasar lainnya, kamu masih dalam zona oke.”

“Baik.”

Ini adalah pertama kalinya aku melihat seorang gadis SMA benar-benar menggunakan istilah “zona oke.” Mau tak mau aku menyeringai sedikit saat aku membalasnya, tapi untungnya dia tidak menyadarinya.

Asami juga berumur 17 tahun sama sepertiku. Berdasarkan penampilannya dan cara berbicaranya, aku kurang lebih bisa menebak bahwa dia jelas-jelas tipe gadis “gyaru”.

“Ngomong-ngomong Sayu-chaso, kamu tinggal dimana?”

Um, 'chaso' perlahan membuatku tertawa terbahak-bahak, jadi aku benar-benar berharap dia menghentikannya.

“Sekitar 5 menit berjalan kaki dari sini.”

“Oh, jarak rumahku juga hampir sama. Mungkin kita tinggal sangat dekat?”

“Rumahku berada dari arah stasiun.”

“Ah… jadi kamu pergi ke stasiun kalau begitu. Aku berada di arah yang berlawanan. “

Asami menggaruk kepalanya dan menghela napas sambil menjawab.

“Rumahku hanya beberapa menit berjalan kaki dari stasiun. Nah, 5 menit plus 5 menit itu masih hanya 10 menit jalan kaki ke rumahmu kurasa Sayu-chaso. Itu dekat.”

“Benarkah?”

Sejauh ini percakapannya cukup santai, tetapi aku merasa percakapan itu secara bertahap mengarah ke arah yang tidak diinginkan.

Dengan perkembangannya, kata-kata Asami selanjutnya pasti adalah—

“Baiklah, aku akan datang mengunjungi tempatmu kapan-kapan, Sayu-chaso.”

‘Ini’ tentu saja.

Itu bukan “Bolehkah aku datang?” melainkan “Aku akan datang”, yang menurutku mirip dengannya.

Aku segera menunjukkan senyum pura-pura di wajahku dan melambaikan tangan padanya.

“Oh, aku tidak terlalu yakin tentang itu. Aku sebenarnya tinggal dengan orang lain saat ini dan aku tidak terlalu yakin apakah mereka akan mengizinkan orang lain berkunjung.”


“Hmm? kamu tinggal dengan seseorang?”

Alis Asami sepertinya terangkat karenanya.

“Dari caramu mengatakannya, kurasa 'seseorang' ini sebenarnya bukan keluargamu? Jadi, apakah itu seseorang yang mirip dengan pacar? “

“Tidak, tidak, dia bukan pacarku, tapi…”

“Bukan pacarmu tapi juga bukan keluargamu?”

Dia bertanya dengan nada yang aneh.

Aku ragu-ragu bagaimana menjawab pertanyaannya ketika tiba-tiba kata-kata dari seorang pria yang pernah hidup bersamaku dulu muncul di benakku.

Saat kamu benar-benar perlu menyembunyikan sesuatu, diam-diam sembunyikan apa yang paling kamu butuhkan dan biarkan sisanya di tempat terbuka. Kamu tidak dapat melihat kedua sisi pada saat yang sama, jadi kamu harus mempersempit ranjau darat yang kamu miliki menjadi hanya satu dan kemudian mengawasinya dengan cermat.

Pria itu adalah orang yang agak aneh yang berhasil mempertahankan hubungan dengan tujuh wanita pada saat yang bersamaan. Teleponnya akan terus berdering tanpa henti sepanjang hari dan peneleponnya adalah wanita yang berbeda setiap saat. Dia akan selalu mengatakan hal-hal seperti “Love you dear” dan semacamnya saat di telepon, tetapi ketika dia melakukannya denganku, dia hanya akan mengatakan ‘kamu manis’ dan tidak lebih dari itu. Memikirkan kembali, dia benar-benar tidak pernah berbohong tanpa perlu.

“Kami tidak benar-benar berhubungan dengan darah. Dia hanya pria yang lebih tua yang kukenal sejak aku masih kecil. “

“Pria yang lebih tua yang tidak ada hubungannya denganmu? Kedengarannya aneh bagiku.”

“Ini sama sekali tidak aneh, dia orang yang sangat baik.”

“Maksudku, untuk kamu ketahui, dia bisa saja berpura-pura menjadi baik dan yang lainnya.”

Tentu saja, fakta mengenalnya sejak aku masih kecil juga bohong.

Tapi aku punya perasaan jika aku memperkenalkan dia sebagai keluarga, maka kebohongan itu akhirnya akan berantakan.

“Dia tidak menyerangmu atau apapun seperti itu, kan? Kau baik-baik saja?”

“Aku baik-baik saja, sungguh! Dia tidak melakukan hal seperti itu sama sekali!”

Tidak ada yang seperti itu yang terjadi sama sekali, sampai-sampai aku sejujurnya merasa sedikit kesal padahal sebenarnya tidak terjadi.

Bagian yang mengejutkan tentang percakapan ini adalah bahwa aku tidak pernah menyangka Asami memiliki rasa kebajikan yang begitu kuat. Aku agak mendapat kesan bahwa dia mungkin tipe orang yang 'mencolok dan memberontak', jadi perbedaan antara penampilannya dan orang yang sebenarnya cukup mengejutkan. Sebaliknya, aku tidak bisa membantu tetapi benar-benar mempertimbangkan di benakku bahwa aku mungkin orang yang tidak tahu apa-apa karena tidak benar-benar merasa enggan untuk tinggal sendirian dengan seorang pria.

“Terus terang saja, Sayu-chaso, kamu adalah gadis yang sangat manis. Laki-laki normal mungkin akan terangsang ketika mereka melihatmu, belum lagi dia bahkan bukan keluargamu.”

Aku juga berpikir begitu.

“Hmm, aku juga tidak begitu mengerti kenapa, tapi tidak ada yang seperti itu yang benar-benar terjadi.”

“Tidak juga, aku yakin dia hanya menahan diri untuk saat ini. Dia mungkin tipe yang akan menunjukkan taringnya nanti.”

Aku tidak mengerti kenapa dia sebegitu ngototnya, tapi jelas dia tidak percaya sedikitpun pada Yoshida-san, semua ini meski tidak pernah bertemu dengannya. Aku juga memahami sepenuhnya sentimen Asami; hubunganku dengannya sama sekali tidak biasa.

“Baiklah, karena beberapa keadaan, aku akhirnya tinggal di rumahnya.”

“Huh… Apa orang tuamu tidak punya pendapat tentang itu?” Dia bertanya.

Seolah teringat akan tugas yang harus dikerjakannya, ia terus berbicara sambil mengisi onigiri di rak.

Istilah “orang tua” mengejutkanku untuk sesaat, tetapi aku dengan cepat menunjukkan senyum di wajahku dan mengangguk.

“Yah, orang tuaku adalah tipe yang hidup dan membiarkan hidup, jika kamu tahu apa yang aku maksud."

Aku menoleh untuk melihatnya saat aku mengatakan itu, bertemu dengan tatapan mata Asami secara langsung.

Matanya tidak lagi menunjukkan ketidakpedulian. Sekarang matanya sedikit tajam dan fokus dan aku bisa merasakan ada semacam sentimen di balik tatapannya.

Itu membuatku sedikit gak enak.

“Hmm, yah, kurasa orang tua seperti itu memang ada, dan kurasa tidak jarang ada orang tinggal dengan seseorang yang tidak benar-benar kamu kenal.”

Setelah dia mengatakan itu, dia dengan cepat berpaling dariku dan kembali ke penyimpanan rak. Suasananya tampak agak suram beberapa saat yang lalu, tapi sekarang sudah kembali seperti biasanya.

Tentang apa tatapan itu tadi?

Aku bisa dengan jelas merasakan detak jantungku semakin cepat.

“Yah, bagaimanapun aku akan datang, Sayu-chaso.”

Asami bergumam, lalu berbalik menghadapku lagi.

“Aku ingin melihat sendiri orang seperti apa yang kamu bicarakan ini.”

“Ah, oke…”

Tapi aku tidak memintanya.

Karena sepertinya dia sudah memutuskan untuk datang ke rumah, aku hanya bisa menunjukkan senyum tegang dan setuju dengan pasrah.

Tekanan aneh yang ada di balik kata-katanya telah membuat aku sulit untuk menolaknya atau keluar dari situasi ini.

“"Bagaimana kalau hari ini?”

“… Hmm?”

“Jam kerja kita berakhir pada waktu yang sama hari ini kan? Aku bisa ikut setelah itu.”

“Hah, hari ini?”

Aku berkeringat dingin. Bukankah ini terlalu cepat?

“Apakah orang itu seorang pegawai kantoran? Atau mungkin dia seorang NEET?” [NEET : Pengangguran]

Pekerja atau NEET? Aku merasa bahwa dua opsi yang disajikan agak ekstrim relatif satu sama lain.

“Dia seorang pegawai kantoran, dan orang yang serius dalam hal itu.”

“Jadi dia tipe yang tetap keluar saat kamu pulang.”

“Ya.”

“Kalau begitu aku akan menunggunya sampai dia kembali.”

Sekali lagi, mengapa dia berkata seperti itu lagi? Mengapa dia tidak bertanya 'Bisakah aku datang?' Atau 'Bisakah aku menunggu?'. Aku membalasnya di dalam hati, tetapi aku merasa aku akan semakin frustrasi karena hal ini terus berlanjut.

Aku bertanya-tanya bagaimana aku harus menjelaskan hal ini kepada Yoshida-san.

Tentu saja, aku ingin langsung menolaknya sekarang, tapi aku merasa hal itu hanya akan memperburuk keadaan. Itu akan seperti mengakui bahwa hubunganku dengan Yoshida-san adalah salah atau memalukan. Maksudku, jika itu benar-benar masalahnya maka aku akan baik-baik saja dengan itu; Aku hanya akan memintanya untuk tidak terlibat lebih jauh dalam kasus itu. Namun, hubungan kami benar-benar tidak seperti itu, meskipun aku hanya berurusan dengan senpai di tempat kerja sekarang, akan salah untuk menolaknya. Seakan-akan aku seperti menginjak-injak martabat Yoshida-san.

Setelah bimbang beberapa saat —

“Yah, kurasa, tidak apa-apa.”

Aku menjawabnya dengan tanggapan setengah matang.

Asami lalu mengangguk dan mengacungkan jempol sebagai balasan.

“Serahkan sisanya padaku.”

Serahkan sisanya apa?

Aku hanya bisa mengangguk tanpa daya dengan senyum tegang.

Pekerjaan paruh waktuku akan berakhir sekitar jam 6 sore dan dia biasanya kembali sekitar jam 8 malam.

Setelah aku selesai dengan shiftku, aku harus mengirim pesan kepadanya tentang hal ini.

Untuk kali ini, aku senang Yoshida-san membelikanku smartphone.


Sebelumnya | Daftar Isi | Selanjutnya



[1] Akhiran penyebutan nama "-chaso" (チ ャ ソ) adalah ‘bahasa slang’ dari biasa "-chan" (チ ャ ン) karena adanya kesamaan antara "-n" dan bunyi “-so” dalam teks tertulis.