CARA MENGHILANGKAN JARAK TEMPUH DARI FOTO PAPARAZZI

Penerjemah: Fahrenheit32 | Proofreader: Reinette

“KPB (Klub Peneliti Budaya) tidak akan bisa terhentikan saat kita menyatukan pikiran, bukankah begitu?” Iori Nagase bertanya, tanpa diminta sama sekali oleh Yaegashi Taichi.

Terkadang gadis cantik ini cukup sulit untuk dimengerti.

“Apa maksudmu?” Jawab Taichi.

“Kau tahu, hanya… tak terhentikan!”

“Apa? Itu tidak jelas. Bagaimana aku bisa merespon itu?

“Ya, menurutku kita bisa melakukan banyak hal… dan ada banyak hal yang hanya bisa dilakukan secara berkelompok kau tahu?”

Yaegashi Taichi, Nagase Iori, Inaba Himeko, Kiriyama Yui, Aoki Yoshifumi, mereka adalah roda penggerak penting bagi Klub Peneliti Budaya.

“Kau benar. Setiap orang memiliki kelebihannya masing-masing… ya, kecuali aku. Aku tidak istimewa.” Dia tidak berusaha untuk mencela dirinya sendiri - hanya mengungkapkan fakta. Dibandingkan yang lain, dia adalah rata-rata orang yang baik.

“Itu tidak semuanya benar. Kita tidak akan menjadi tim tanpa kamu.” Dia [Nagase] memutar untaian kuncir kudanya di sekitar jarinya.

“Kamu berpikir seperti itu? Bukannya aku mau mencoba berdebat denganmu atau apa pun.”

Mungkin tindakan yang “tepat” untuk saat ini hanyalah mengangguk, tetapi untuk beberapa alasan dia tidak bisa melepaskannya.

“Oke, mari kita tentukan, siapa yang menurutmu anggota klub yang paling penting? Tidak ada jawaban yang benar maupun salah, hanya bertanya”

“Yap, pasti itu kamu kan? Kamu adalah presiden klub”

“Oh nak… kamu benar-benar tidak mengerti ya?” Nagase menghela napas dan melemaskan bahunya untuk menunjukkan rasa kekesalan.

“Anggota yang paling penting adalah kamu Taichi. Tidak ada alasan lain”

Kata-katanya menembus ke dalam hatinya, dan untuk sesaat, dia hampir menerimanya

Hampir

Sebaliknya, Dia [Taichi] buru-buru menggeleng-gelengkan kepalanya. “ Tidak, tidak, tidak, itu tidaklah benar.”

“Ya, benar.”

“Tidak, itu tidak-”

“Benar”

“TIDAK!”

“BENAR!”

“... Baiklah, terserah! Bolehkah aku berkata bagianku?!”

“Kau benar-benar benci ide bahwa kamu adalah yang paling penting bukan?”

“Tidak, aku tidak membencinya. Itu hanya… agak sulit untuk dipercaya, mungkin”

“Hmph… baiklah, menurutku kau harus mencobanya. Tidak ada salahnya menjalani hidup dengan percaya pada dirimu sendiri kau tahu?”

“... Poin yang tepat. Itu terlihat bagus sebenarnya”

Tetapi dia [Taichi] belum bisa menerima dirinya sebagai tokoh sentral di klub mereka.

“Sialan Taichi… Aku benar-benar berharap kau melihat semuanya dengan caraku…” Nada suaranya ringan dan santai, tapi Taichi tahu dia [Nagase] benar-benar kecewa.

“Kau berpikir terlalu tinggi tentangku. Aku benar-benar tidak sehebat itu, aku jamin.” Tetap saja, Taichi menginginkan dirinya menjadi pria yang seperti Nagase kira. Taichi bisa berbicara seusai dengan keinginannya, tetapi tidak bisa sampai dia [Taichi] membuktikan dirinya mampu, ada sesuatu yang tidak beres. “Apa sih harga diri itu sebenarnya…?” dia merenung dengan keras.

Tapi pertanyaannya menghilang di udara, tanpa disadari oleh Nagase, dan suasana ruang klub berubah menjadi sunyi kembali-

Holly, molly, macaroni aku lapar!” Nagase berkata entah dari mana, dan akibatnya, ketegangan dramatis memudar juga.

□■□

Klub Peneliti Budaya SMA Yamaboshi, yang dikenal juga dengan KPB memiliki tujuan : “Lingkup penelitian luas yang tidak dibatasi oleh kerangka kerja yang ada”. (Artinya : Jalanin aja. Gabut) Saat ini klub tersebut diisi oleh 5 siswa tingkat tahun pertama.

Terlepas namanya yang klasik, itu adalah klub setengah-setengah tanpa peraturan atau batasan yang nyata, kecuali satu : memproduksi tiap bulan buletin dengan judul “Buletin Budaya.”

Saat itu sedang berada di pertengahan liburan musim panas, dan lima anggota KPB duduk mengelilingi meja di ruang klub.

“Mulai sekarang, kami akan mempresentasikan topik artikel kami untuk dikirimkan ke Edisi Khusus Festival Budaya dari Buletin Budaya,” kata wakil presiden Inaba Himeko, semuanya memperhatikan. Inaba duduk di ujung meja, Rambut hitam pendeknya yang sebahu mengkilap dan raut wajahnya yang serius memberikan kesan professional.

Mulai hari ini mereka menjadwalkan untuk membahas Festival Budaya yang akan datang, yang mana akan berlangsung pada awal September, langsung setelah liburan musim panas berakhir.

“Ayo dimulai dari searah jarum jam, dimulai dari Yui.” Tanpa ragu, Inaba menunjuk seorang gadis mungil dengan rambut panjang berwarna kastanye [coklat kemerahan] dengan nama Kiriyama Yui yang kikuk.

“Oh, tunggu saja sampai kamu mendapatkan beban milikku! Semua gadis pasti akan menyukainya - terutama semua siswa SMA yang berkunjung! Mereka pasti ingin mendaftar ke sekolah kita, pasti!” Kiriyama menyatakannya sembari menarik selembar kertas dari tasnya. “Lihatlah : ‘Sempurnakan Gayamu Dengan Sepuluh Aksesoris Terpopuler Yang Dipilih Oleh SMA Fashionista’!”Dia membusungkan dadanya dengan bangga saat dia mengangkat draft tersebut untuk dilihat oleh semua -

“Keren. Iori, kau selanjutnya,” lanjut Inaba.

“T-Tunggu sebentar! ‘Keren’? itu saja yang kudapat? Hanya perkataan ‘keren’?!” Kiriyama melompat berdiri, kursinya bergemerincing di belakangnya.

“Itu saja,” balas Inaba datar. Sekilas terlihat jelas bahwa dia jauh, jauh lebih tidak peduli tentang ini daripada Kiriyama.

“ Itu tidak bisa diterima! Aku tidak peduli jika kamu ingin mengabaikan laki-laki, tapi jika menyangkut kami para gadis, kamu tidak boleh membuat kami marah seperti itu!”

Inaba menoleh ke Nagase. “Apa yang seharusnya kukatakan sekarang Iori?”

“Entahlah… Tidak banyak yang bisa kita katakan tentang hal-hal fashion,” Nagase mengangkat bahu sambil menyeringai.

“B-Baiklah, terserah! Aku mengerti! Tidak seperti kalian berdua sangat peduli dengan fashion! Inaba benar-benar hebat, dia bahkan tidak perlu untuk mencobanya… dan semua siswa bilang bahwa Iori adalah gadis tercantik di kelas kami…”

“Aww, ayolah Kiriyama. Kamu tidak perlu khawatir. Kau sama cantiknya dengan mereka,” Taichi meyakinkannya.

“Ap-Apa?! O-Oh… Benar. Terima kasih Taichi,” jawab Kiriyama, terlihat sedikit terkejut.

“Tunggu sebentar… Itu pekerjaanku! Maksudku, kau benar sekali, jangan salah paham,”Aoki Yoshifumi menyela. (Pemuda kurus ini sama sekali bukan pacar Kiriyama, tapi bukan karena kurang berusaha.) “Tapi ya, apa yang dia katakan. Kamu terlihat cantik hari ini!”

“Aku tidak peduli apa yang kau pikirkan tentangku,” bentaknya

Sekali lagi, perbedaan antusiasme diantara keduanya terlihat sangat menyakitkan.

“Baiklah, baiklah. Jika kamu ingin saranku… aku pikir para gadis pasti akan menyukainya, mungkin. Dan mungkin memasukkannya ke dalam Buletin Budaya akan lebih menarik banyak pembaca. Tidak ada keluhan dariku,Yui”

Kiriyama kembali duduk bersandar ke kursinya dengan kondisi cemberut… Tidak, sudut mulutnya terangkat. Benar saja, sikap tidak tahu malu Inaba memiliki efek yang diinginkan.

“Oke, sekarang Yui mendapat lampu hijau dari Inaban, ini giliranku! Kupersembahkan!” Nagase (yang seharusnya menjadi presiden klub, ingat itu) dengan gembira membuka lembaran kertasnya yang kusut. “ ‘Keseharian seorang siswa Yamaboshi: Sudut pandang khusus tentang Inaba Himeko.’”

What The Fuck?! Kamu ingin menyebarkan identitas pribadiku?! Tanpa izin dariku?!”

“Aku baru saja berfikir, kau tahu, karena ini seharusnya merupakan buletin sekolah dan sebagainya, akan sangat menyenangkan untuk menyorot siswa Yamaboshi sesekali.”

“Aku mengerti, dan itu ide yang bagus secara konsep, tapi aku tidak ingin hal itu menyoroti kehidupanku, terima kasih!”

“Aww, ayolah! Pikirkan kembali! Ketika aku berfikir untuk artikelku, aku bertanya pada diriku sendiri ‘Jika aku membaca Buletin Budaya, hal apa yang ingin kuketahui lebih dari apa pun?’ dan jawabannya tentu ‘kehidupan pribadi Inaban’!”

“Ku akui, aku sedikit penasaran,” gumam Taichi pelan.

“Ooh, aku juga!” teriak Aoki.

“Aku juga!” teriak Kiriyama

“Yesus Kristus, seberapa besar kalian menyukaiku?! Sadarlah!”

“Bukan salahmu untuk merahasiakannya Inaban. Jelas sekali bahwa kita sedikit penasaran” [Iori]

“Kamu sendiri yang memulainya Iori!” Inaba membalas, tapi Nagase mengangkat bahu tanpa merasa bersalah. “Baiklah, terserah lah. Pengungkapan kecil identitasku tidak akan terjadi, mengerti?! aku tidak akan memberikan informasi pribadiku kepada orang yang tidak dikenal! Oh, aku tahu, beberapa waktu yang lalu seseorang menyarankan untuk memuat artikel di National Athletic Meet bukan? Itu aja yang dikerjain.”

“Aww, ayolaaah! Aku hanya mencoba untuk membuka privasimu, itu saja!”

“Apakah kamu bermaksud membujukku. Karena sekarang aku semakin mempercayaimu? Dengar, aku tidak akan memberitahu sedikit privasiku, dan itu sudah final! Sekarang kau buat artikel tentang Athletic Meet! Selesai dan Selesai!” Nagase mulai membujuk, tetapi Inaba mengabaikannya. “Sekarang mari bekerja! Aoki!”

“Karena ini adalah Edisi Khusus Festival Budaya, ku pikir aku akan pergi mencari sesuatu dan kembali dengan membawa sesuatu yang spesial dan partisipasi pembaca serta kegembiraan”

“Kedengarannya menarik,” komentar Taichi.

“Aku tahu, aku akan memberikan judul ‘Calling All Love Gurus! Rescue This Romance… For a Reward!’”

“Terdengar jelas seperti artikel Festival Budaya. Tidak buruk, mengingat siapa yang membuatnya.” Rupanya dia pernah memenangkan penghargaan Inaba, cukup aneh.

“Yesss! Inabacchan setuju dengan itu! Kau bisa saja meninggalkan bagian setelah ‘Lumayan’!”

“Jadi, tentang apa ini?” Nagase bertanya.

“Oho, sepertinya aku telah memancing rasa ingin tahu Iori-chan! Baiklah, izinkan aku untuk menjelaskan! Penulis surat yang bermasalah, A.Y naksir seseorang - kami akan menyebutnya K.Y - Tetapi dia terlalu malu untuk pergi berkencan dengannya. Jadi kami akan membuat daftar semua informasi yang sesuai dan meminta saran dari pembaca - “

Kiriyama menampar meja dengan telapak tangannya. “Stop di situ! A.Y. dan K.Y?! Itu jelas ‘Aoki Yoshifumi’ dan ‘Kiriyama Yui’!”

“Bb-Bagaimana kau tahu?!”

“Siapa pun dengan setengah otaknya akan mengetahuinya pinter! Dan apa yang kamu maksud dengan ‘informasi yang sesuai’?!”

“Ya, kau tahu, orang membutuhkan tema sebelum mereka dapat memberikan ide-ide bagus… Jadi, aku akan menerima semua saran, kemudian aku akan memberikan hadiah kepada orang yang idenya berhasil-”

“Tahan sebentar! Jadi untuk itu hadiahmu?! Secara harfiah tidak ada yang akan menang bodoh!”

“K-Kamu tidak bisa mengatakan itu dengan pasti. Maksudku, oke, mungkin itu seperti level ‘memenangkan lotre’ yang tidak mungkin menang, tetapi meskipun begitu masih ada peluang kecil bukan?”

“Jadi, Kamu telah menerima bahwa peluangmu sangatlah kecil, aku terima” Taichi terkesan dengan keberanian Aoki.

Secara natural, Kiriyama melempar ide tersebut sampai ide itu secara resmi dihentikan.

“Kembali ke pembahasan awal, Aoki. Taichi, kau selanjutnya.”

Atas permintaan Inaba, Taichi mengeluarkan draft artikelnya dan membukanya. “ Seperti kalian semua, kali ini aku menulis sesuatu dengan daya tarik yang lebih umum. Ini berjudul ‘Pro Wrestling 101 : Kiat Meningkatkan Pengalaman Menonton Anda.” Tentu, aku berfokus terutama pada pilihanku sendiri -”

“Sial, aku lupa untuk tidak bertanya padamu!” Inaba berteriak.

“Waspada! Waspada! Mode fanboy terlihat!” Nagase mengikuti.

“Tunggu teman-teman, diam dulu sebentar. Sekarang, aku tahu artikelku biasanya membutuhkan terlalu banyak pengetahuan khusus untuk dipahami banyak orang, tapi kali ini aku sengaja menulisnya agar semua orang -”

“Jika kamu ingin orang-orang mengerti artikelmu, berhenti untuk menulis tentang gulat professional!” Inaba berteriak kembali.

“Aku yakin artikelmu baik-baik saja Taichi!” Nagase menutur kembali…

“Tidak, serius, dengarkan aku! Kuakui, aku menyentuh beberapa konsep tingkat tinggi, seperti ‘teknik yang lebih dasar (kepiting Boston, dll.) Yang ada di babak pembukaan, semakin menarik acara utamanya,’ tapi -”

“Cukup! Tulis saja apa pun yang kau inginkan!” Jengkel, Inaba melambaikan tangannya dengan acuh.

“Mari kita dengar artikelmu kalau begitu” balas Taichi kesal.

“Yah… Mengingat ini adalah festival dan sebagainya, kupikir kita berhak untuk sedikit lebih liar.” Saat dia berbicara, dia mengeluarkan sebuah foto.

Penasaran untuk mengetahui definisi Inaba tentang sedikit lebih liar”, Taichi mencondongkan tubuhnya untuk melihat dengan lebih baik - dan dia terdiam.

Dia menatap dengan tatapan kosong, terpaku di tempat. Mulutnya tidak mau bekerja.

Di sampingnya, tiga anggota KPB lainnya sedang gempar ... dan untuk alasan yang bagus.

Di sana, terlihat dalam fotonya, dua anggota fakultas yang bekerja di SMA Yamaboshi… berpegangan tangan di sebuah kafe.

Itu adalah skandal yang setara dengan apa pun yang kamu baca di berita selebriti.

“Da-dari mana kamu mendapatkan foto ini…?” Taichi bertanya dengan sedikit ngeri.

Inaba terkekeh. “Tidak tahu.” Dia ingin bermain teka-teki, seperti biasa.

“T-Tunggu… Oke, mungkin tidak masalah caramu dalam mendapatkan itu, tapi… tentunya kami tidak dapat menerbitkannya di surat kabar yang disetujui sekolah!”

Dia melirik ke tiga yang lainnya, semuanya sibuk meneriaki “Apakah ini asli?! Tidak pake Photoshop?!” Dan “dia [Laki-laki] dengan dia [Perempuan]?! Kau bercanda kan?!” dan “Makarel suci!” dan seterusnya.

“Tidak mungkin dia [Laki-laki] akan menyetujuinya! Dan bahkan jika dia melakukannya, dan kita mencetaknya… bagaimana kita akan membagikannya? Jika ada guru yang melihatnya - terutama keduanya - kita akan menjadi daging yang mati!

“Hmph! Itu bukan masalah. Bukan untuk kita berlima kok.”

- KPB tidak dapat terkalahkan jika bersatu, bukankah begitu?

“Kau mengatakannya sekarang, tapi kamu tahu mereka tidak akan membiarkan kita meninggalkan ini hanya dengan tamparan di pergelangan tangan!” Taichi memperingatkan.

Ekspresi Inaba mengeras. “harus kuakui, bahkan jika kita memikirkan semuanya dengan sempurna, kita masih mungkin tidak dapat melakukannya tanpa beberapa langkah… terutama jika kita melakukannya dengan cara yang sama seperti yang dilakukan orang lain. Tapi kita akan melakukan ini dengan cara kita, dan kita akan berhasil. Bagaimana aku bisa mengatakan ini?” Dia menyeringai dan dengan bangga melipat tangannya. “ Karena saat kita bersatu, kita berlima tidak akan terkalahkan… jika hanya di lingkungan sekolah.”

Keyakinannya [keyakian Inaba] sama sekali tidak berdasar. Taichi tahu itu. Namun Taichi menginginkan dirinya untuk percaya padanya.

“Sekarang semuanya! Mulai bekerja!”

□■□

Festival Budaya tinggal satu minggu lagi, dan SMA Yamaboshi dipenuhi dengan suara gedoran palu, latihan paduan suara, dan obrolan. Sementara itu, rencana KPB berjalan dengan baik. 

Hari ini Taichi, Nagase, dan Inaba berada di ruang staf, naskah Buletin Budaya berada di tangan, berharap mendapatkan lampu hijau agar bisa dipublikasikan dari pengawas klub mereka, Gotou Ryuuzen (Guru Fisika, usia 25). ini akan menjadi rintangan pertama mereka.

“Yah, jika bukan dari anak KPB! Atau ketiganya dari 1-C. Ada apa, teman? Bagaimana keadaan kafenya?”

Taichi, Nagase, dan Inaba berasal dari kelas 1-C, kelas di mana Gotou menjabat sebagai penasihat. Jadi, dia adalah guru yang paling dekat dengan mereka.

“Ketua kelas kita menjalankan kelasnya cukup ketat, seperti yang kalian ketahui, jadi semuanya sesuai dengan jadwal… Mungkin sedikit terlalu sesuai jadwal. Ngomong-ngomong, Gotou, kami ingin Anda menandatangani naskah kami, jadi jika anda berbaik hati berpura-pura membacanya, seperti yang selalu bapak lakukan, aku akan menghargainya.”

Memang, hubungan ini betapa pun dekatnya, tidak bisa menjadi alasan untuk tidak menghormati Inaba yang terang-terangan.

“Inaba, aku akan terus memberitahumu, jika kamu tidak bisa memanggilku Senses. Setidaknya panggil aku dengan Gossan. Jika tidak, kamu merusak reputasi bapak sebagai - tunggu, apa ini? Kiriman kalian tampaknya sedikit berbeda bulan ini.”

Ternyata “otoritasnya”-nya tidak sekeras Edisi Khusus Festival Budaya. Taichi sangat ingin untuk menunjukkan hal ini, tentu saja, dia menahan niatnya itu.

“Ada apa dengan foto dan judul raksasa itu? Tunggu… Apakah itu… Tanaka, guru IPS dengan satu dari sejuta orang yang paling cantik Hirata Ryouko-sensei?! Apakah mereka berpacaran selama ini?! Saya tidak pernah mendengar tentang ini!”

“Gossan, tolong jangan membuat komentar yang tidak pantas tentang rekan kerja Anda,” balas Taichi, tidak bisa menahan diri.

“Mereka sebenarnya tidak pacaran, belum” Kata Inaba

Gotou menghela napas lega. “Oh, terima kasih Tuhan. Mereka harus terpisah, seperti, dua puluh tahun!”

“Tapi ternyata itu hanya masalah waktu sebelum mereka bertemu.”

“Apa?! Kukira Tanaka-sensei sangat menyukai pekerjaannya! Sialan, dan saya merasa khawatir tentang dia… Sementara itu dia keluar sebagai tangkapan utama!” Gotou mencengkeram rambutnya dengan frustrasi.

Sementara itu, Inaba mencibir. Dari cara dia mempermainkannya, kamu [Pembaca] tidak akan pernah mengira bahwa dia secara teknis adalah gurunya.

“Uggghhh… Itu baru saja membangkitkan motivasi apa pun yang saya miliki untuk bekerja hari ini… blegh. Malam ini aku akan pulang dan langsung tidur”

“Jadi, Gossan! Bisakah kami mendapatkan cap persetujuan Anda untuk bocah nakal ini?” Nagase bertanya, melambaikan naskah itu di udara.

“Kamu sangat menginginkannya, cap saja sendiri. Saya percaya kalian, anak-anak, kalian tidak akan menulis apa pun yang tidak seharusnya kalian tulis hah…”

Itu kabar baik, Gotou tampaknya mempercayai mereka… untuk beberapa alasan.

“Ya, kupikir kau akan mengatakan itu, jadi aku sudah mencapnya,” jawab Nagase, berseri-seri

“Kalian berdua anehnya sinkron hari ini…” Taichi bergumam dengan dirinya sendiri, sedikit khawatir.

Jadi, berkat perang psikologis Inaba, mereka menyelesaikan rintangan pertama seperti hampir tidak ada rintangan sama sekali.

Sekarang izin untuk publikasi sudah beres, mereka memanggil Kiriyama dan Aoki untuk bergabung di ruang klub. Baru-baru ini, mereka berdua agak sibuk dengan latihan menari untuk acara yang akan diadakan kelas mereka untuk Festival Budaya, dan ini adalah kesempatan langka untuk berkumpul sebagai sebuah group.

Topik hari ini, tentu saja, Edisi Khusus.

“Aku benar-benar tidak yakin kita harus mempublikasikan foto paparazzi itu tanpa persetujuan mereka,” kata Taichi kepada Inaba

“Kita akan baik-baik saja Taichi. Menurut penyelidikanku, perasaan mereka sama, tapi Tanaka-sensei terkenal kaku, dna mereka berdua khawatir tentang perbedaan usia untuk lanjut ke hubungan berikutnya. Tapi ini di sini? Ini akan memberi mereka dorongan yang mereka butuhkan untuk mengambil risiko. Kita tidak melampaui batas - aku 99% yakin akan hal itu”

“Nah, bagaimana dengan peluang 1% itu? Kau tahu, aku tidak bisa berhenti bertanya-tanya… bagaimana sih kamu bisa mendapatkan semua informasi ini?”

“Seperti yang sudah ku katakan, itu rahasia.” Dia terkekeh.

“Tawa jahatmu tidak terlalu meyakinkan di sini Inaba…”

Itu bahkan lebih menakutkan datang dari seseorang yang secantik dia.

“Kita harus mempercayainya dalam hal ini,” kata Kiriyama.

“Sekarang ayo bergegas dan cari tahu bagaimana kita akan membagikan semua salinannya. Kita harus membuatnya sehingga guru tidak bisa menyitanya sebagian bukan?” Rambut panjang coklat kemerahannya bergoyang saat dia mengipasi dirinya dengan papan jepitnya.

“Kita secara teknis memiliki izin untuk mempublikasikan foto itu ... tapi hanya dari Gossan. Dan ini benar-benar tidak dia pikirkan,” gumam Taichi. Dia sangat meragukan Gotou memiliki pengaruh di antara fakultas.

“Lihatlah teman-teman, ini bukan masalah,” Inaba menyeringai.

“Kamu punya rencana? saya akan menerimanya” Tanya Taichi. Apa pun itu, jika dia [Inaba] begitu percaya diri tentang itu, maka pastinya itu harus dipikirkan dengan sangat matang dan rumit— 

“Kita membagikan semuanya sekaligus. Ujung-ujungnya." 

-atau tidak.

“Ya, itu mungkin pilihan terbaik kita. Terus terang dan to the point,” Nagase mengangguk. Dia membungkuk. "Ooh, aku tahu! Mengapa kita tidak membuatnya menjadi sesuatu yang berkesan? Buang mereka dari atap atau apa pun itu! ”

“Aku suka caramu berpikir Iori-chan! Tambahkan sedikit bumbu ke festival ini! Ooh, dan kau tahu apa yang akan membuat ini lebih baik? kita menyalakan akan kembang api pada saat yang bersamaan! ” [Aoki]

“Aoki, kau jenius! Nah, begitulah cara kau membuat kesan! " Mereka agak terlalu bersemangat tentang ini, menurut perkiraan Taichi.

“Jika kita membuat pertunjukan besar tentang diri kita sendiri, itu akan membuat semua orang membaca Buletin ... dan jika kita membagikan semuanya sekaligus, kita akan selesai dalam waktu yang singkat! Dua burung dengan satu batu! [pribahasa : sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui]” Kiriyama menimpali dengan antusias.

“Hey! Itu tidak buruk. Kita harus memastikan tidak ada apa-apa yang mudah terbakar di dekatnya, tentu saja... Dan kita tidak bisa begitu saja membuang tumpukan penuh. Kita harus membatasi jumlah yang kita bagikan... lalu kita meninggalkan sisanya di suatu tempat atau membagikannya, kurasa... Oh, dan kita perlu memeriksa kondisi angin untuk hari festival ... Dan kita akan perlu mengambil kelebihannya setelah kita selesai ... ”

Rupanya Inaba sudah memasukkan ide tersebut ke dalam rencana mereka. “Kau tahu Inaba, terkadang aku tidak tahu apakah kamu itu jenius atau benar-benar gila.” “Jangan konyol Taichi. Aku setidaknya orang terpintar di klub ini. " Dia tampak yakin dengan hal itu.

“Baiklah, jika kita sepakat...” Tiba-tiba, Aoki melompat berdiri. "AKU MENGERTI!" 

Kiriyama memutar matanya. “Ya Tuhan, apa lagi sekarang? Lebih baik tidak terjadi sesuatu yang bodoh. "

“Percayalah Yui, ini brilian! Aku sedang mood hari ini! Dengar teman-teman. Jika kita melakukan ini, kita harus menunggu sampai jadwal panggung utama yang paling hype tiba! Dan kapan itu? Tepat saat mereka mengumumkan pemenang Kontes Nona Yamaboshi! Bagaimana dengan itu ?! ”

"... Itu sangat biasa, aku bahkan tidak tahu harus berkata apa." 

“Aww, ayolah! Apakah itu hal biasa yang buruk kalau itu aku ?! ” 

“Ini bukan ide yang buruk, tapi... kau melewatkan sesuatu kau tahu?” Nagase memberitahunya. [Aoki]

“Apa yang kalian inginkan dariku ?! Eh, apa. Tidak masalah." Dan dengan itu, Aoki mengabaikannya dengan cepat.

"Kalau begitu mari kita permanis kesepakatannya," potong Inaba. Dia berhenti bicara sampai semua orang tertuju padanya, lalu melanjutkan, "Bukankah lucu jika pemenang kontes adalah salah satu dari kita?"

Yang lain bergumam karena terkejut

“Itu gila!” Nagase merenung. “Tapi siapa di antara kita yang bisa—”

"Kamu idiot," sela Inaba. “Apa itu seharusnya sarkasme atau semacamnya? Tidak, siapa yang aku bercandai... kamu mungkin bermaksud di setiap kata itu. "

"Oh, Bisa aja! Dengar, aku tahu aku cantik, tapi kurasa aku tidak secantik itu..."

“Jadi kamu mengakui kamu pikir kamu cantik,” balas Taichi. Memang, dia tidak sepenuhnya salah, Mungkin terlalu jujur.

“Kamu bisa melakukannya, Iori! Mereka memilih pemenang untuk setiap tingkat kelas, dan kamu secara obyektif adalah gadis tercantik di kelas kami, jadi jelas kamu sudah mendapatkannya! Percayalah, aku tahu ‘imut’ saat aku melihatnya,” kata Kiriyama.

“Kau terdengar agak bangga dengan dirimu sendiri,” balas Taichi lagi.

“Ayolah teman-teman! Kalian berdua memiliki potensi yang sama seperti aku! Kamu bisa memenangkannya! ” Nagase bersikeras.

"Baiklah. Saya dianggap menarik secara konvensional, seperti yang saya pahami, ” jawab Inaba

“Dan aku sendiri juga sangat imut,” Kiriyama menambahkan.

Koreksi: Semua gadis CRC terlalu jujur.

Sebagai catatan, saya pikir Yui adalah pr — GAH! ” Aoki berteriak saat Inaba meninju pundaknya.

“Diam bodoh! Argh, terserah! Intinya adalah, Iori adalah orang yang tepat! Tch... Aku harus menggunakan kartu trufku ... Katakan padanya [Nagase], Taichi! "

Katakan padanya apa? Taichi bertanya, bingung.

“Jika kamu memberi tahu Nagase bahwa dia bisa melakukannya, aku yakin semuanya akan berhasil!”

Benar-benar menyegarkan, karena Inaba menyerahkan semua tanggung jawab padanya atas perubahan.

“Aku tidak yakin ini akan semudah itu, tapi ... maksudku, menurutku Nagase memang terlihat berkeinginan untuk memenangkan kontes ini," Taichi mengakui.

“Jadi... apakah benar jika aku berpikir... kamu mengatakan bahwa aku sangat cantik?” Tatapan polosnya tertuju pada pria itu.

"Y-Ya, pada dasarnya," dia mengangguk.

Keheningan beberapa detik berlalu saat Nagase memikirkan tanggapan itu. Lalu dia tersenyum — sangat malu-malu, begitu manis, sampai-sampai dia hampir kehabisan napas.

“Itu aneh... Entah kenapa, saat kau mengatakannya seperti itu, aku hampir tergoda untuk melakukannya ... Oke, baik! Aku akan mengikuti kontes! Dan aku akan menang! Dan saat itulah kita akan membuat Buletin Budaya Hujan! " Nagase menyatakan dengan keras, mengacungkan tinjunya ke udara.

“Anak pintar, Iori-chan! Kamu bisa melakukannya!" Aoki bersorak.

“Mereka mengizinkanmu memakai kostum apa pun yang kamu ingin gunakan untuk kontes kan?! Ya ampun, apa yang harus kamu pakai?! Hee hee! Aku akan membuatmu menjadi super-duper-manis, atau namaku bukan Kiriyama Yui! ”

Saat Kiriyama menjerit kegirangan, Taichi melirik ke arah Inaba untuk menemukannya menatapnya kembali, kepalanya terangkat tinggi, dengan seringai di wajahnya yang mengatakan ‘aku sudah memberitahumu’.

“Aku yakin itu hanya kebetulan,” Taichi berkeras.

"Hah!" Inaba mendengus. “Kamu terus mengatakan itu pada dirimu sendiri, sobat. Bagaimanapun, kita akan membutuhkan kembang api terbesar yang bisa kita dapatkan... Selain itu, kita harus siap... "Inaba menarik laptopnya dan mulai mengetik.

“Ayo lakukan ini, Taichi! Mari kita jadikan Festival Budaya berkesan! " Nagase berseru, menyeringai dari telinga ke telinga saat dia mengulurkan tinjunya ke arahnya.

Jadi apa yang Taichi bawa ke meja grup ini? Dia tidak yakin. Tetapi bahkan jika itu tidak banyak... dia masih ingin memberikan semuanya. 

“Benar sekali. Jika kita melakukan ini, kita akan melakukannya dengan benar. ” 

Dia menekan buku-buku jarinya ke tangannya dalam kepalan tangan.

□■□

Dan akhirnya hari Festival Budaya tiba.

Cuaca sangat cocok untuk tujuan mereka — langit cerah dengan sedikit angin sepoi-sepoi. Hal ini menghasilkan jumlah pemilih yang lebih besar dari perkiraan, dan Sekolah Yamaboshi penuh dengan energi.

Beberapa saat setelah tengah hari, KPB (minus Nagase) menuju ke panggung utama. Tempat itu penuh sesak seperti ikan sarden; Taichi khawatir dia mungkin secara tidak sengaja menendang tumit orang di depannya. 

Ketika mereka tiba, kontes sedang berlangsung, menampilkan setiap kontestan tahun pertama. Ini adalah momen yang akan menentukan nasib “Operasi Buletin Blitz,” demikian Inaba suka menyebutnya. Tentu saja, bahkan jika Nagase kalah, ini tidak akan memengaruhi rencananya sendiri; tentu saja, Inaba telah membuat rencana cadangan untuk memperhitungkan itu. Tetap saja, mereka beroperasi dengan asumsi bahwa dia akan menang, dan mereka berharap mereka tidak perlu mengganti persneling di saat-saat terakhir... Yah, itu dan mereka ingin misinya sukses total, jelas.

“Saya mencari semua kontestan di tingkat kelas satu. Mereka semua lumayan cantik, tapi mereka tidak punya peluang melawan Iori,” kata Kiriyama, membawa nampan berisi bola takoyaki yang rupanya dia beli dalam perjalanan ke sini. Rambut panjangnya diikat menjadi ekor kuda, kemungkinan besar akan menutupi wajahnya selama pertunjukan tari Kelas 1-A.

Di atas panggung, pembawa acara yang bersemangat mengajukan berbagai pertanyaan yang tidak pantas kepada para kontestan yang memancing napas dan sorakan dari penonton. Ayolah, bung, kamu tidak bisa bertanya padanya berapa ukuran cangkirnya — aaaa dan dia memukulnya. Sebut saja.

Di sekitar mereka, beberapa penonton meneriakkan hal-hal seperti "Tangkap dia!" dan "Tendang pantatnya!" Tak perlu dikatakan, kerumunan itu heboh. 

“Maaf, aku tidak bisa membantumu dalam pemasangan kostum. Bagaimana hasilnya? " Inaba bertanya pada Kiriyama. 

“Ghhck...! lidahku terbakar...! Gah, bola takoyaki ini terlalu panas!" dia tersedak.

“Benarkah? Biarku coba! ” Aoki membuka mulutnya lebar-lebar.

"Aku tidak akan memberikan ini kepadamu, kamu aneh!" bentaknya.

tidak ada yang berubah di bagian itu.

“Ngomong-ngomong, apa yang kita bicarakan? Oh, kostumnya! Ya, itu berjalan dengan sempurna! Aku memiliki waktu yang sangat lama untuk memutuskan, tetapi pada akhirnya kuputuskan untuk memilih yang ku suka saja! ”

“Oh nak…” gumam Taichi.

“Aku selalu ingin membuatnya setidaknya sekali memakainya, kau tahu? Aku tidak sabar menunggu kau melihatnya — itu akan menjadi luar biasa! Semua orang mengatakan padanya betapa cantiknya dia sehingga kita bisa membuatnya memakai banyak kostum lain nanti, oke? ”

“Siapa sebenarnya yang mendapat keuntungan dari Nagase dalam kostum?” Taichi membalas lagi.

“Yah, aku, duh,” Kiriyama (pencinta terkenal dari semua hal lucu) menjawab seolah-olah itu adalah hal yang paling jelas di dunia.“Apa salahnya menjadikannya sebagai hal yang menarik bagi kita? Astaga, pasti luar biasa menjadi imut itu! Aku berharap aku bisa menjadi dia sehari ... Aku bisa memakai begitu banyak pakaian berbeda! Tuhan, aku suka imut! Imut atau payah! Imut untuk hidup! " Rupanya Kiriyama bisa menghibur dirinya sendiri dengan atau tanpa ada orang lain yang ikut serta dalam percakapan. “Ghhck — sangat panas! Terlalu panas! Ap... Inaba! Jangan geser makananku! ”

“Mmm… Kamu tahu apa yang kupikirkan? kupikir kau memiliki lidah yang sensitif! " Inaba menyatakan, mengarahkan tusuk giginya ke wajah Kiriyama.

"Pffft ... Inabacchan ... Ada sedikit rumput laut yang menempel di gigimu — OUCH! Apakah kau benar-benar harus memukulku?! Jangan tembak si pembawa pesan, bung! "

“Berasal darimu, itu merendahkan martabatku sebagai manusia.”

"Gah ...! Kupikir itu adalah hal paling kejam yang pernah dikatakan orang kepadaku... "

Mereka bahkan hampir tidak menonton panggung pada saat ini.

"...Terima kasih banyak! Selanjutnya, kontestan #4! ”

“Oh, itu nomor Iori-chan!” Aoki berseru.

"Apa? Cepat sekali! Ya Tuhan, di mana kameraku ... Ugh, aku tidak bisa melakukan ini dengan satu tangan! Takoyaki bodoh! ”

“Itu yang kamu dapatkan dengan membelinya,” balas Taichi pelan saat dia mengarahkan perhatiannya kembali ke panggung.

Di sana, seorang gadis berjalan keluar dari belakang panggung, mengenakan yukata bermotif bunga berwarna pink muda. Itu adalah warna yang sempurna — tidak terlalu mencolok,

tidak terlalu membosankan; jenis warna yang Taichi hanya bisa gambarkan sebagai warna menawan.

Gadis yang memakainya juga memiliki kulit porselen yang sempurna ... Secara keseluruhan, dia mengingatkan pada kelopak bunga sakura di atas salju yang baru turun.

Bahkan dari kejauhan, mudah untuk melihatnya besar, cerah

mata dan fitur simetris. Rambut hitamnya yang halus dan panjang sedang diikat ke belakang dengan satu pita merah tua.

Kemudian, akhirnya, di tengah panggung, dia berhenti, miring

kepalanya sedikit, dan tersenyum — senyuman yang menular dan menghangatkan hati.

Kerumunan meledak dalam sorak-sorai. Dan di sana, disambut dengan tepuk tangan meriah, berdiri tak lain adalah Nagase Iori mereka sendiri.

Tanpa berkata-kata, Taichi menatapnya, terpesona.

"Sialan, bung! Aku selalu tahu Iori-chan cantik, tapi ini lain! ” Aoki melolong gembira.

“Hmph! Apa yang ingin kuberitahukan padamu? Jika ada satu hal yang kutahu, itu adalah bagaimana memadukan pakaian. Dan aku juga berusaha keras untuk menata rambutnya! Tapi sebagian besar itu hanya kecantikan alaminya sendiri,” Kiriyama menyeringai, mengarahkan kameranya ke panggung.

“Kita belum melihat semua kontestan, dan itu akan sangat bergantung pada berapa banyak yang memilihnya ... tapi menurutku aman untuk mengatakan kita menang,” Inaba menyeringai.

Dan sementara yang biasanya Taichi mungkin memarahinya karena terlalu terburu-buru, dalam hal ini, tidak ada keraguan dalam pikirannya bahwa dia benar.

□ ■ □

Di SMA Yamaboshi, dilarang keras untuk berlari di lorong. Taichi tahu ini, tentu saja, tapi bagaimanapun dia di sana, berlari cukup cepat sehingga dia tidak akan menabrak siapa pun.

Di sampingnya adalah Kiriyama dan Aoki, masih berpakaian sama mantel happi tradisional yang mereka kenakan selama pertunjukan tarian mereka.

Sejauh ini, semua berjalan sesuai rencana — tetapi sekarang Operasi Buletin Blitz telah bertemu hambatan kritis pertamanya. Dalam beberapa menit, panggung utama akan mengumumkan pemenang Kontes Nona Yamaboshi, itu tepat pada saat di mana mereka dijadwalkan untuk membuang Buletin Budaya dari atap, tetapi secara harfiah semua orang terlambat, dan sekarang ada kemungkinan besar mereka tidak akan melakukannya tepat waktu.

“Bagaimana kalian berdua bisa tertahan?! Aku pikir kamu bilang kamu akan punya banyak waktu! ” Seru Taichi pada yang lain.

“Kami tidak... tahu di sana... ada... encore ...!" Aoki menghela nasfas. Setelah dua pertunjukan dansa berturut-turut, lari cepat di menit-menit terakhir ini membuatnya benar-benar kehabisan napas. “A… Bagaimana dengan… kamu…? Aku pikir kamu... mengatakan... shiftmu akan... berakhir lebih awal ...! “

“Seharusnya begitu, tapi orang-orang terus meminta bantuanku ...”

Mendengar ini, Kiriyama menghela nafas berat. "Helper-itismu [Jiwa penolong] menyerang lagi..."

Tidak seperti Aoki, dua pertunjukan tari tersebut nyaris tidak mengurangi staminanya. Meskipun dia sudah lama berhenti karate, dia jelas masih dalam kondisi yang lebih baik daripada mayoritas siswa lainnya.

Tapi kemudian, tiga pria muncul di hadapan mereka, masing-masing dengan tubuh seperti pemain rugby, masing-masing mengenakan celemek berenda. Mereka tampaknya berfungsi sebagai penjaga gerbang, memblokir aula.

“Kalian bertiga! Aku yakin kalian semua kelaparan, bukan? "

“Oh, mereka kelaparan, oke!”

“Meja untuk tiga orang, segera datang!”

Orang-orang itu berbicara satu demi satu, dengan senyum layanan pelanggan palsu terpampang di wajah mereka.

“Makanan kombo di kafe kami benar-benar murah!”

“Ayo pergi kesana!”

“Hei, chef! Tiga kali paket makan kombo!”

Taichi menginjak rem dan berhenti. “A... Apa yang terjadi ...?”

Dua lainnya mengikuti.

“Aku pernah mendengar rumor tentang ini ... Ini adalah taktik di mana mereka mulai mengejar pelanggan secara agresif menjelang akhir festival sehingga mereka dapat menghabiskan semua bahan mereka. Banyak klub yang menjalankan kedai makanan, jadi seringkali itu adalah satu-satunya pilihan mereka jika mereka ingin bersaing. Benar-benar tidak keren, ”gumam Kiriyama, melihat ke suatu tempat antara terkesan dan jijik.

Sementara itu, ketiga petugas celemek itu mendekat. Tidak mungkin mereka akan membiarkan mangsanya melewati mereka... dan itu akan menghabiskan terlalu banyak waktu untuk berputar balik dan mengambil rute yang berbeda.

Jadi apa yang Taichi bisa lakukan untuk tim?

“Aku akan menjadi umpannya. Kalian menyelinap lewat saat mereka terganggu, dan aku akan menyusul nanti.”

“Umpan? Oh, saudara... Baiklah, orang bijak, mari kita dengarkan rencanamu.” Kiriyama terdengar agak kesal.

“Rencana saya? Yah, jelas saya hanya akan makan makanan kombo. Atau ketiganya, jika harus. Dengan begitu, hal itu juga membantu kafe mereka. ” [Aoki]

Dia menghela napas. “Kamu benar-benar bodoh, bukan? Ya Tuhan, bagaimana bisa satu orang menjadi penurut?! Siapa yang peduli membantu kafenya sekarang?! ” Dia telah berubah dari kesal menjadi marah, dan Taichi meringis."Lupakan. Kami TIDAK melakukan itu, oke ?! Kita sudah kekurangan waktu dengan kepergian Iori ... Kita tidak punya waktu! "

“Lalu apa yang kita lakukan?”

“Aku akan menjadi umpannya. Aku akan menarik perhatian mereka, dan kalian berlari melewati mereka. Mengerti?”[Yui]

“Tidak! Jangan korbankan dirimu, Yui! ” Aoki berteriak secara dramatis.

“Percayalah, saya akan baik-baik saja. Untuk siapa kamu menganggapku? Sekarang... ini dia! “

Tanpa menunggu balasan mereka, Kiriyama melesat ke depan menuju apron-men, terlihat sangat mungil, kontras dengan sosok raksasa mereka.

"Nngh ... Taichi ... Haah ... haah ... Kita harus pergi!" Aoki berteriak sambil berlari.

Taichi tidak punya pilihan selain mengikutinya. Bagaimanapun, dia tidak bisa membiarkan pengorbanan Kiriyama menjadi sia-sia.

“Wah, nona!”

"Kemana kau terburu-buru?"

“Pintu masuknya ke sana!”

Benar saja, ukuran drastisnya [tubuh mungil Yui] telah menarik perhatian mereka ...dan saat perhatian mereka teralihkan, Taichi dan Aoki menyelinap melewati mereka.

“Apa-apaan ini?!”

"Sial!"

“Kita telah mendapatkannya!”

Para pria celemek berbalik, tapi sudah terlambat.

Taichi kembali menatap Kiriyama. Dia tampak sedikit ketakutan … tapi tatapannya tajam, menusuk, dan yang terpenting, membara seperti semangat seorang pejuang. Satu-satunya pilihan mereka adalah percaya padanya. Tentunya keterampilan karate-nya tidak terlalu kuat—

“Kita harus menangkap yang ini ... Gotcha!”

Tapi saat itulah Taichi mendengar pernyataan yang paling buruk. Dia tidak bisa mempercayai telinganya. Mereka menangkap Kiriyama? Dia berhenti sebentar dan berbalik—

“A-Apa... Itu hanya tipuan?!”

Mereka hanya bercanda tentang itu, bukan? Kiriyama sebenarnya tidak bisa bergerak secepat itu ... kan?

Taichi mengatakan pada dirinya sendiri bahwa apron-men hanyalah olahragawan yang handal, Taichi pergi berlari sekali lagi... dan sepersekian detik kemudian, Kiriyama berlari di sampingnya. Ketika dia melihat ke arahnya, dia memberinya seringai nakal dan memberinya acungan jempol.

“Sial, dasar keren! Aku jatuh cinta lagi! " Aoki berteriak, kelelahannya secara ajaib sembuh.

Seperti biasa, sungguh menakutkan betapa Kiriyama mampu melakukannya.

□ ■ □

Jadi mereka berhasil datang tepat waktu, untungnya terjadi penundaan kontes. Ketika mereka tiba, Inaba sudah menunggu mereka; sekarang yang tersisa hanyalah mengambil kembali cetakan Buletin Budaya dari ruang kelas tepat di bawahnya, lalu menyiapkan kembang api... Atau begitulah yang mereka pikirkan.

Ketika mereka mencapai atap, mereka menemukan masalah yang jauh lebih besar daripada masalah yang baru saja mereka hindari.

“Bagaimana ini bisa terjadi?!” Taichi mendesis pada Inaba, berhati-hati untuk menjaga suaranya tetap rendah.

“Yah, kita harus pergi dan mendapatkan izin dari Komite Festival untuk menyalakan kembang api dan, uh ... konfetti [jelasnya search di google]. Dan saat kita menjelaskannya kepada mereka, mereka memberi tahu kita bahwa kita membutuhkan seorang guru untuk mengawasi kita... kuharap aku tahu tentang ini sebelumnya, sialan...!” Inaba meludah dengan sengit, tatapannya tertuju pada pengasuh anak mereka yang didelegasikan.

Pengasuh anak ini, tentu saja, tidak lain adalah Tanaka-sensei, guru IPS yang mana salah satu bagian dari skandal yang akan mereka bicarakan.

Saat ini, Taichi diam-diam melihat Kiriyama dan Aoki menyiapkan kembang api; seperti biasa, dia memasang ekspresi tidak puas di wajahnya seperti seseorang yang telah mengambil ulang tahunnya.

“Sepertinya kembang api sudah siap, tapi... apa yang akan kita lakukan tentang Buletin Budaya dengan skandal Tanaka-sensei di dalamnya?” Taichi tidak dapat membayangkan dia akan duduk santai dan membiarkan mereka membagikan foto dirinya berpegangan tangan dengan sesama rekan kerja.

“Tidak ada jalan lain. Dia akan merebutnya langsung dari tangan kita, dijamin. Ugh... Dengan keberadaanya di sekitar, kita sudah mati di tenggelam…” Biasanya Inaba selalu percaya diri sampai ke titik arogansinya, tetapi kemunduran ini membuatnya menundukkan kepalanya karena putus asa.

“Ini tidak mungkin terjadi ...”

Taichi tidak percaya apa yang dilihatnya—

“Tapi... apakah kamu benar-benar berpikir aku hanya akan berbaring dan menerima kekalahan? Coba tebak.”

Dalam sekejap, keputusasaannya telah lenyap, dan sebagai gantinya Taichi hanya bisa mengambarkan dirinya sedang tersenyum sombong.

“Taukah kamu? Pasti sama sekali tidak.” Secara internal Taichi mengejek dirinya sendiri karena pernah berpikir dia akan menyerah. Ini adalah Inaba. Begitu dia berkomitmen pada sesuatu, dia akan melakukan apa pun untuk mewujudkannya.

“Ada ide?”

“Tentu saja. Aku punya rencana sempurna untuk menyingkirkan Tanaka dari kita—dan kita akan membuatnya terlihat seperti kecelakaan, kebanyakan dari rencana itu.”

“Kebanyakan dari rencana itu? Haruskah aku khawatir?” gumam Taichi, berdoa akal sehatnya [Inaba] masih utuh.

“Satu-satunya hal yang dibutuhkan adalah, kita membutuhkan semua orang untuk bekerja sama... dan itu akan berisiko.”

“Kau tahu, aku akan melakukan apapun dengan kekuatanku untuk membantu,” jawab Taichi segera, nada suaranya tegas. “Dan apapun risikonya, kami semua tahu kamu akan mendukung kami.”

Inaba membeku sesaat. Kemudian dia melihat ke bawah dan tertawa. Entah bagaimana, senyumnya terasa sedikit lebih berbeda... Lebih lembut, mungkin.

“Ya, kamu benar... Tapi, aku tidak butuh bantuanmu untuk yang ini.”

“... Kamu tidak?”

Sekarang Taichi merasa bodoh karena terlalu memikirkannya.

“Oke, baiklah. Kamu bisa menjadi temanku. Pertama, bawa Yui dan Aoki ke sini. Lalu aku minta kamu menyesuaikan lokasi ember air darurat. Aku mengandalkanmu, gofer!”

“Gofer... bagus…” gumam Taichi sambil menjalankan perintahnya.

Dia bisa melihat Inaba menjelaskan rencananya kepada Aoki dan Kiriyama, yang lainnya menggelengkan kepalanya dengan putus asa. Kemudian Inaba membungkuk untuk membisikkan sesuatu padanya — dan Kiriyama menutup mulutnya dengan tangan. Setelah beberapa saat, dia mengangguk dengan ragu-ragu.

Astaga... Kuharap aku tidak pernah mendapatkan sisi buruknya...

Saat itu, Inaba menepuk pahanya. Itu pasti tandanya, karena Kiriyama dan Aoki segera pergi, dengan acuh tak acuh membuat jarak di antara mereka. Dia melihat kembali pada Inaba, menunggu untuk melihat apa instruksi selanjutnya, dan dia mengangkat tangan (apa yang dia tafsirkan sebagai) isyarat "tetap". Lalu dia menepuk pahanya lagi—

“Oh tidak! Aku lupa untuk mendapatkan surat-suratnya!” Kiriyama berteriak, dengan suara paling membosankan dan tak bernyawa yang bisa dibayangkan, saat dia mulai berlari.

Secara alami, perhatian Taichi beralih padanya... dan dari sudut matanya, dia bisa melihat bahwa Tanaka-sensei juga memperhatikannya.

Lalu-

"Uh oh! Saya lupa meminjam korek api! ” Aoki berseru, berlari ke depan.

Bagaimana semua ini bisa menghilangkan Tanaka-sensei dari hadapan mereka? Taichi memperhatikan dengan penuh perhatian. Dia bisa merasakan telapak tangannya mulai berkeringat

Dan kemudian sesuatu yang sangat luar biasa terjadi.

"OH TIDAK! AKU TERSANDUNG! ” Aoki berteriak saat dia jatuh ke tanah, lengannya terentang dengan cara yang spektakuler. Sebelum Taichi mulai bereaksi, selanjutnya muncul Kiriyama, berlari dengan kecepatan penuh, dengan Aoki berbaring tepat di hadapannya.

“Oh tidak! Lihat” dia berteriak. Tepat ketika sepertinya Aoki akan diinjak-injak, dia melompat ke udara dan membubung di atasnya… tapi momentumnya membuatnya tersandung ke depan. "Whoa whoa whoa ...!" serunya, berjuang untuk menginjak rem.

Tepat di depannya adalah ember air darurat—

Seketika, Taichi merasa tidak enak karena dia tahu persis apa yang akan terjadi selanjutnya.

Berjuang untuk memahami bagaimana rencana bodoh ini bisa berhasil, dia hanya bisa melihat untuk melihat apakah prediksinya benar. Dan tentu saja—

“Tanaka-sensei! Minggir!... Karena aku datang! "

Dengan teriakan peringatan (sebagian memberatkan), Kiriyama menendang ember air ke udara!

Ya Tuhan! Ini sangat bodoh!

Untungnya, ember itu sendiri tidak mengenai siapa pun — tapi isinya dibuang ke seluruh tubuh Tanaka-sensei. Itu terlalu sempurna untuk menjadi kebetulan. Ya Tuhan, rencana yang sangat berani.

“Sensei, apakah sensei baik-baik saja?!” Inaba berteriak panik saat dia bergegas. "Oh tidak, sensei basah kuyup... Kami harus mengeluarkanmu dari pakaianmu yang basah itu! Apakah ada hal lain yang bisa Sensei pakai? ”

“Brrrr… Baju ganti, katamu? Tentu, aku punya... Dengar, aku tidak percaya aku menanyakan ini, tapi... Kalian anak-anak tidak melakukannya dengan sengaja, kan—”

“Dari kecelakaan sial ini! Kami benar-benar perlu membuat Anda mengganti baju! Lebih cepat lebih baik!"

Dan dengan itu, Inaba setengah menyeret Tanaka-sensei melewati pintu dan turun. Setelah mereka pergi, tiga anggota KPB yang tersisa hanya bisa menatap kosong ke pintu yang perlahan menutup.

Setelah beberapa saat, pintu itu terbuka lagi, dan Inaba mengintip keluar.

“Cepat siapkan Buletinnya! Kita kehabisan waktu!”

Adapun Taichi, dia mulai khawatir aksi kecil ini akan datang kembali menggigit mereka.

Dari sana, waktu berlalu. Pertama, mereka berempat berlari untuk mendapatkan cetakan Buletin Budaya. Ketika mereka kembali, mereka dengan hati-hati meletakkan tumpukan itu sehingga mereka siap untuk membuangnya pada saat itu juga. Dengan pengeras suara yang memberi tahu mereka tentang kemajuan kontes, mereka masing-masing memastikan masing-masing memiliki dua roket... dan kemudian penantian dimulai.

Benar saja, hampir seolah-olah Inaba telah melihat masa depan—

“... Jadi, tanpa basa-basi lagi, Nona Yamaboshi tahun pertama kita adalah... kontestan # 4, Nagase Iori dari Kelas 1-C! Tentunya! Aku berani bertaruh kita semua melihatnya datang, bukan begitu, teman-teman!”

Selanjutnya, mereka mengumumkan pemenang tahun kedua, lalu pemenang tahun ketiga. Untungnya, berkat pembawa acara yang terlalu antusias untuk menghentikannya dan menyeret semuanya keluar dari efek komedi, ini membuat KPB memiliki banyak waktu untuk bersiap sepenuhnya... tetapi sekarang mereka semua gelisah, sangat berharap momen besar akan tiba sebelum Tanaka-sensei kembali. Penantian itu menjadi menyiksa.

Tepat saat kontes akan segera berakhir, sebuah suara yang akrab memanggil melalui pengeras suara—

“Bisakah aku mengatakan sesuatu?” Respon penonton adalah sorak sorai dan tepuk tangan meriah. “Hai, semuanya! Aku Nagase Iori, dan mulai hari ini, aku adalah Nona Yamaboshi tahun pertama kalian! Soalnya, aku adalah presiden dari klub kecil bernama Klub Riset Budaya, dan mulai sekarang, kami ingin mengadakan acara khusus hanya untuk kalian! Semuanya, lihat ke atas! ”

Saat ini, sisa KPB menyalakan roket mereka. Dengan suara menderu-deru, mereka melesat ke langit dan meledak menjadi warna-warna cerah — lebih keras dan lebih berasap daripada yang mereka berempat perkirakan. Tapi mereka terus maju, dan atas isyarat Inaba, mereka mulai menjatuhkan Buletin Budaya dari atap.

Satu demi satu, hasil kerja mereka menghujani orang banyak, membawa foto besar guru mereka yang tertangkap basah.

Sorak-sorai pecah ... diikuti dengan terengah-engah.

“Ini Buletin Budaya bulanan kami! Pembaca baru selalu diterima! ”

Dan dengan itu, misi mereka berakhir dengan sempurna. Yang tersisa sekarang hanyalah duduk santai... dan menikmati kembang api.

Taichi tidak tahu apa yang akan terjadi dari sini, tapi hal berikutnya yang dia tahu, dia tertawa. Tidak, bukan hanya dia — mereka semua tertawa terbahak-bahak, bertepuk tangan, berpegangan pada sisi tubuh, dan sebaliknya biasanya mempermalukan diri sendiri. Dan di bawah, dia yakin Nagase sedang tertawa bersama mereka, bersinar seperti matahari, bahkan mungkin melompat kegirangan.

Di bawah, mereka bisa mendengar suara-suara — gumaman rahasia, teriakan marah, jeritan kaget, jeritan kegembiraan. Dan pengetahuan yang mereka sebabkan membuatnya semakin lucu.

“Demi nama tuhan. apa yang terjadi?!” pembawa acara berseru melalui pengeras suara. “Apakah artikel ini benar-benar nyata?! Ya Tuhan, benar, bukan? Lagi pula, Nona Yamaboshi tahun pertama kita adalah presiden klub! Hah? Apa maksudmu, itu tidak ada hubungannya dengan ini? Persetan denganmu, sobat! ”

Rupanya dia bertengkar dengan penonton. [MC]

“Dan apa maksudmu, 'sumber kami mengatakan keduanya belum resmi'?! Sudah lah mari berkumpul! Siapa kamu, dua belas?! Apa itu tadi? 'Hirata-sensei adalah gadis impianku'? Pssh! Kamu dan aku sama-sama, sobat! ”

Pada titik ini, sepertinya dia lupa bahwa dia masih menggunakan mikrofon.

“Apa? Mereka perlu memutuskan apakah mereka berkencan atau tidak? Percayalah, aku setuju sepenuhnya. Hmm? Buat mereka menentukan hubungan mereka di sini dan sekarang?! Nah, bagaimana dengan itu, teman-teman ?! ”

Penonton menjadi liar.

“Terima kasih terima kasih! Sekarang, kita perlu membawa pasangan kita ke atas panggung, segera! Sebenarnya... Mari kita seret mereka ke sini untuk memulai pesta setelahnya! Baiklah, semuanya! AYO CARI HIRATA-SENSEI DAN TANAKA-SENSEI! Dan siapkan api unggun itu sekaligus! AYO PERGIIII! ”

Langkah kaki yang bergemuruh memenuhi udara saat kerumunan siswa berlari. Didukung oleh pembawa acara yang antusias dan kegembiraan umum yang meliputi semua festival sebagai aturan, seluruh sekolah bekerja bersama-sama untuk secara spontan mengadakan acara tambahan.

...Semua hal telah dipertimbangkan, hasil ini mungkin, sedikit berlebihan.

□ ■ □

Maka, di bawah sinar matahari terbenam yang memudar, pesta setelahnya dimulai.

Api unggun mewarnai lapangan atletik dengan kilauan merah. Sementara itu, pembawa acara yang energik dan kerumunan yang berubah menjadi massa masih dalam kekuatan penuh, dan segera kedua guru yang dibujuk menjadi pengakuan publik di depan tidak hanya seluruh siswa, tetapi juga semua tamu yang berkunjung. Pada awalnya mereka menentangnya — sebaliknya, Tanaka-sensei ingin — tetapi titik kritisnya datang ketika sebagian besar anggota fakultas memihak siswa, mendesak mereka untuk "terima saja!"

Pada akhirnya, siswa mendapatkan akhir yang membahagiakan; upaya mereka dihargai dengan pengakuan cinta yang begitu murahan hingga hampir menyakitkan, dan ini menandai kelahiran pasangan guru guru baru yang disetujui sekolah. Sekarang pertanyaannya tetap: apakah salah satu dari mereka dapat mengajar kelas mereka dengan wajah lurus setelah ini?

Segera setelah berakhirnya ... upacara (?), Beberapa teman sekelas melampiaskan kecemburuan mereka pada Taichi, tapi untungnya mereka mendingin seiring waktu. Sementara itu, beberapa laki-laki memutuskan untuk menggunakan suasana romantis untuk keuntungan mereka untuk secara spontan menyatakan perasaan mereka sendiri. Tetapi sementara momen besar membuat semua orang merasa sedikit emosional, pasti para gadis tidak sebodoh itu membiarkan hal itu mempengaruhi mereka... 

Sebagian dari dirinya takut untuk memikirkan seperti apa suasana kelas itu pada Senin pagi.

Setelah memikirkan itu, dia melihat Inaba menuju dari gedung sekolah dan memanggilnya.

“Inaba! Kemana saja kamu? Orang-orang bertanya kepadaku, dari mana kami mendapatkan foto itu! ”

“Oh, benar. Ku yakin kau bertahan seperti juara. Ngomong-ngomong, maaf sudah menghilang darimu, tapi ada beberapa hal yang harus kuurus.”

"Apa itu?"

Inaba menanggapi pertanyaannya dengan cemberut yang mengatakan apakah kamu sudah mati otak?

“Kamu benar-benar berpikir kita bisa lolos dengan menyelundupkan foto paparazzi dari guru kita dan menyebarkannya ke seluruh sekolah tanpa meminta maaf kepada orang-orang yang secara langsung terkena dampak skandal itu? Apakah hal tersebut yang kau pikirkan? Ya Tuhan, kamu benar-benar bodoh.”

... Dia tidak bisa membantahnya. Sebaliknya, dia memutuskan untuk meminta maaf.

“Benar ... Maaf.”

“Hmph! Yah, bagaimanapun, aku sudah mengatur semuanya, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”

“Aku berani bertanya, bagaimana kamu mengaturnya ...?” Dia mendapati dirinya sangat berharap dia bisa menjadi lalat di dinding itu. “Sungguh, aku ingin tahu dari mana kamu mendapatkan fotonya... tapi aku tidak akan bertanya. Namun, apa yang membuatmu ingin membuat artikel tentangnya? Kau pasti tahu bahwa akan ada konsekuensinya.”

Itu adalah pertanyaan yang telah membekas di benaknya selama beberapa waktu, mengingat dia tahu betapa Inaba tidak menyukai usaha yang berlebihan (sampai pada titik di mana dia biasanya akan berusaha keras untuk menghindarinya).

Setelah jeda beberapa saat, Inaba berkata, “Aku tahu perasaan mereka satu sama lain sama-sama suka. Aku tahu mereka hanya menunggu waktu yang tepat. Dan ku pikir jika Aku bisa membantu pengecut tua itu, dia mungkin pada akhirnya akan membayarku... Tentu saja, pertama-tama aku harus meyakinkan dia bahwa itu adalah hutang yang harus dilunasi, tapi untuk itulah permintaan maaf itu.” Dia menyeringai. “Tahukah kamu bahwa Tanaka memiliki hak dalam menentukan alokasi anggaran untuk setiap klub? Mungkin aku akan meminta dia untuk menyesuaikan pendanaan kita. Heh heh heh! ”

“Kamu monster...” Lebih dari sebelumnya, Taichi sangat ingin tahu dari mana dia mendapatkan informasinya. "Jadi, kamu melakukannya untuk keuntunganmu pribadi?" Taichi tertawa. Itu Inaba kami, saya rasa.

Tapi dia sepertinya tidak mendengarnya.

“... Kemudian lagi, itu bukan satu-satunya alasan. Sebagian diriku hanya ingin bercanda dengan kalian,”gumamnya. “Lagi pula, jika aku hanya ingin peningkatan anggaran, ada banyak cara lain yang dapat aku lakukan.”

Ini bukanlah yang dia harapkan dari Inaba dari semua orang. Aku tidak menyadari kamu berpikir seperti itu.

"Goof off" bukanlah frasa yang biasanya dia kaitkan dengan seorang pragmatis seperti dia... tapi entah kenapa itu membuatnya tersenyum. Inaba ingin bersenang-senang dengan kami.

Seketika, dia tersipu merah. "HEI! Jangan menyeringai padaku, tuan! Hapus seringai itu dari wajahmu! "

"Apa yang salah? Kau malu?"

“Aku TIDAK malu!”

Tapi rasa frustrasinya membuatnya semakin menyeringai.

“Sudah kubilang, berhentilah menyeringai padaku! Rrrgh! Persetan! Aku selalu berakhir ribut saat bersamamu! " Dia mencengkeram rambutnya, sedikit cemberut. “...Hah? Oh, Iori memanggilmu. Pergi ke sana, Taichi! Pergilah kesana, sekarang! Shooo!"

Taichi berbalik untuk mencari Nagase, yang sekarang sudah mengganti yukata dan kembali ke seragam sekolahnya sambil berlari. Ketika dia melihatnya, dia melambai padanya.

“aku akan pergi. Sampai jumpa." Dia bukan orang ketiga, namun dia tetap pergi.

Sementara itu, Nagase berhenti di depannya. “Maaf, membuatmu menunggu! Sekelompok orang mengajakku kencan karena suatu alasan! ”

Ini hampir membuat Taichi terkena serangan jantung. "Untuk beberapa alasan?! Ya benar! Siapa itu?! Teman-teman dari kelas kita?! ”

“Beberapa dari mereka, ya. Tapi tidak semuanya. ”

"...Jadi bagaimana hasilnya?" dia bertanya dengan gugup.

“Oh, aku menolak semuanya, mudah!”

“Jangan bilang itu mudah! Hormatilah! " balasnya, namun entah kenapa dia merasa lega mendengarnya ... tapi kenapa?

“Maksudku, aku senang mereka sangat menyukaiku, dan bukannya aku membenci mereka karena itu atau apa pun... Aku hanya tidak yakin aku ... siap untuk itu, kau tahu? Aku tak yakin mampu melakukannya,” dia mengatakannya dengan suara yang goyah dan rapuh, sikap riangnya tiba-tiba menghilang.

Itu adalah perubahan yang drastis dan tiba-tiba, Taichi tidak yakin bagaimana meresponnya... tapi kemudian dia bangkit kembali seperti bukan apa-apa.

“Bagaimanapun! Kita membuat hari yang luar biasa, bukan?! Kita mengadakan pertunjukan yang luar biasa, membuat romansa dongeng seseorang menjadi kenyataan ... dan lihat saja akibatnya! Cinta ada di udara! Aku beritahu ya, ini masuk ke dalam buku sejarah!’ Sambil menyeringai, dia mengangkat jari-jarinya membentuk huruf V untuk meraih kemenangan.

"Ya, pasti... Bahkan aku sedikit tersentuh." Taichi tidak pernah membayangkan bahwa mereka bisa menciptakan efek domino ini... menyatukan begitu banyak orang... menginspirasi perubahan.

“Kita berlima membuat ini terjadi sebagai satu tim,” kata Nagase, ekspresi kepuasan terlihat di wajahnya.

“Biasanya aku ingin sekali setuju denganmu, tetapi... aku rasa aku tidak benar-benar berkontribusi banyak kali ini …”

“Maksudku, oke, Inaban jelas merupakan otak dari operasi, dan Aoki membuat saran yang bagus, dan aku menang dalam kontes, dan aku diberitahu Yui mengalami segala macam masalah hari ini... Kurasa sebagai perbandingan, ya, kau baru saja di sana! ”

“Guh ...!” Taichi mencengkeram dadanya. Dia tahu itu benar, tentu saja, tapi masih menyakitkan jika ada orang lain yang mengatakannya di depan mukanya.

Nagase mencibir. “Tapi aku masih berpikir kamu adalah anggota klub yang paling penting. Kami membutuhkanmu." Matanya yang sangat indah menatap ke dalam mata Taichi. “Tentu, terkadang orang lain mendapat giliran dalam sorotan, tapi ketika sampai pada itu, orang yang tampaknya paling tidak berguna seringkali menjadi pemain kuncinya, kau tahu?”

“Mereka?”

“Tidak selalu. Hanya kadang-kadang.”

"... Apakah kamu mencoba untuk menghiburku atau tidak?"

Nagase tertawa, senyumnya lebih cerah dari api unggun manapun. “Dengar, aku tidak tahu tentang orang lain, tapi aku pasti tidak bisa melakukan apa yang kulakukan tanpamu... Tunggu, huh? Apakah itu aneh?” Dia memiringkan kepalanya, bingung. “Yah, bagaimanapun, ku pikir cukup aman untuk mengatakan bahwa hal-hal akan berjalan berbeda jika kelompok kita sedikit berbeda dari lima kelompok yang kita miliki sekarang. Seperti efek kupu-kupu atau apapun! Terkadang yang terpenting adalah memiliki orang yang tepat di sisimu. “

“Terkadang kamu bisa mengutarakan hal yang menyentuh, kamu tahu itu?” Taichi merasa seperti melihat Nagase dengan cara yang benar-benar baru.

“Tunggu… Bukankah aku seharusnya sangat menyentuh pada saat ini?! Oh, ku rasa tidak. Bagaimanapun, ini adalah festival! Kalau begitu, mari kita cari event yang lain! Kita harus menyelesaikan semuanya sebagai klub! ”

“Menyelesaikan apa, tepatnya ...?"

Tapi Nagase meraih lengan Taichi dan terus berlari tanpa mempedulikannya... jadi Taichi mengikutinya, ditarik oleh tangan yang lembut dan hangat di kulitnya.

Bersama-sama mereka berlari melewati udara malam, melalui kerumunan orang, semuanya tersenyum... dan beberapa dari senyuman itu pasti diilhami oleh KPB. Tentu, pikiran ini juga membuat Taichi tersenyum — dan sekarang dia menjadi bagian dari kerumunan.

Dia tidak tahu apakah dia sebenarnya adalah "pemain kunci", tapi malam ini, hanya malam ini, saat sedang semangat-semangatnya, Taichi rela membiarkan dirinya mempercayainya.


>

TL Note :

Untuk chap ini, TL sengaja menambahkan beberapa keterangan pada penulisan dia dengan nama orangnya. Kebetulan memang agak sulit pada saat awal-awal untuk mengingat tipe bicara semua karakter. Jadi sengaja ada penambahan sedikit. Semoga tidak mengganggu. Dan untuk chapter-chapter berikutnya, untuk beberapa pertimbangan, nampaknya tidak akan dimunculkan lagi nama karakter yang berbicara (pada kata ‘dia’ dsbg) agar pembaca dapat lebih merasakan ‘novel’nya. Juga ini sebenernya termasuk Translatetan saya yang pertama. Jadi mohon maklum. Kalau ada yang typo atau bagaimana, silahkan menghubungi penerjemah di discord. Saya menantikan masukan-masukan dari temen-temen sekalian.

Sankyu~



Sebelumnya | Daftar Isi | Selanjutnya