TURNAMEN BELADIRI (1)
(Translator : Theten)

Bahu kananku yang baru saja diserang sekarang terasa panas karena rasa sakit dan terus menganggu konsentrasiku. Sudah 1 minggu sejak kami dipanggil ke dunia ini. Dalam beberapa hari terakhir, diwaktu siang hari aku telah berlatih bagaimana cara menggunakan pedang.
Di tengah-tengah tempat latihan, aku melihat kesatria paruh baya yang berdiri di depanku dengan terengah-engah. Entah itu prajurit lain yang berlatih di sini atau Souichi dan yang lainnya, mereka semua lebih terbiasa menggunakan senjata dibandingkan denganku. Mereka terlihat lebih tampak alami dalam menggunakan senjata. Dan mereka semua menatapku, dengan rasa ingin tahu.
Sambil memegang pedang tumpul yang digunakan untuk latihan dengan kedua tangan, aku mengatur nafasku.
Aku menarik napas dalam-dalam sebanyak tiga kali, jantungku mulai berdetak lebih cepat, seolah-olah memintaku untuk beristirahat. Mengabaikannya, aku mengambil ancang-ancang dengan pedang. Mengenakan baju besi mithril, melihat kondisinya, ksatria tua itu tampaknya tidak lelah sama sekali saat dia mengayunkan pedang latihannya. Bahkan, dia tampak bersenang-senang. Dia menikmati berlatih denganku. Meskipun aku dipukuli di mana-mana, terlempar, membuat tubuhku sakit sekali. Pedang yang dia pegang juga lebih tebal dan lebih panjang dari milikku. Meskipun itu seharusnya jauh lebih berat, dia sepertinya bersenang-senang dengannya. Orang ini jelas tidak normal. Dia terlihat lebih energik, bertentangan dengan usianya, nama ksatria itu adalah O'brien Arbelia.
"Bagus sekali. Sungguh menyenangkan menjadi muda, eh. Aku benar-benar khawatir kalian semua menjadi sombong karena diberi gelar pahlawan, tetapi tidak buruk, kamu punya nyali. ”(Ob)
“Wah, terima kasih.” (Renji)
"Kuku. Sangat jarang sekali aku memuji seseorang, kau tahu? Kamu seharusnya lebih bahagia, yamada-dono. ”
"Di malam hari, aku akan diam-diam bahagia tentang ini sendirian."
Beberapa hari setelah dipanggil ke dunia ini, aku belajar banyak hal saat bertarung dengan pria tua ini. Pria ini adalah pengganggu.
Jika aku menjadi santai karena kata-kata itu, dia benar-benar akan mengalahkanku, tidak diragukan lagi. Dan seperti biasa, aku akan berakhir dengan berguling-guling di tanah. Sebuah penglihatan yang sangat tepat muncul di kepalaku sehingga membuat wajahku sedikit kram.
Meski dia lebih pendek dariku, saat menghadapinya seperti ini, akulah yang merasa lebih kecil. Kehadiran dan tekanannya berada di level yang berbeda. Dia bukan manusia sepertiku yang bergantung pada cheat yang diberikan oleh dewi untuk bertarung. Kekuatannya berasal dari keterampilan mental dan fisik yang ditempa selama bertahun-tahun pelatihan terus menerus. Dia membawa hal-hal semacam itu bersamanya.
Tubuhku rasanya sakit sekali, dan aku benar-benar merasa lelah tapi aku masih berterima kasih kepadanya karena telah melatihku. Prajurit lain akan selalu menahan dirinya saat melawanku karena formalitas dan Souichi dan yang lainnya begitu kuat sehingga itu bahkan tidak bisa lagi disebut sebagai pelatihan.
"Ayo, mulai lagi."
“guh.”
Seolah mengejekku, ujung pedangnya bergoyang-goyang. Apakah dia akan bergegas ke arahku, atau akankah dia mencoba menekanku secara mental. Aku bertanya-tanya apakah reaksiku yang ragu-ragu itu lucu ketika O'brien-san tertawa pendek.
Karena ujung pedangnya menghalangi, aku tidak bisa mendekatinya dan setiap kali dia mengambil langkah maju aku akhirnya mengambil satu langkah mundur. aku tahu ini akan berakhir dengan diriku dipukuli lagi jika terus seperti ini, tetapi tubuhku sama sekali tidak bergerak. Bahkan meskipun ini hanyalah pedang tumpul yang digunakan untuk latihan, itu masih terasa sakit ketika aku terkena serangan, dan terlebih lagi, ada ketakutan bahwa dengan kekuatan O'brien-san, dia bisa memotong daging dan tulangku, bahkan hanya dengan ini.
"Yamada-san, lakukan yang terbaik !!"
"Komandan, tunjukkan sisi kerenmu sekali lagi!"
Mendengar kata-kata itu, O'brien-san dengan santai melambaikan tangannya ke arah mereka. Santai sekali. Bahkan dengan diriku sebagai lawan, aku kira dia tidak perlu terlalu fokus.
Souichi memanggil namaku juga, tetapi aku tidak punya keberanian untuk membalas. Hanya berfokus pada jarak antara kami saja sudah lebih dari yang bisa aku tangani saat ini. Keringat menetes di pipiku saat aku lebih kuat menggenggam pedang.
“Oioi, kita hanya latihan, tidak berusaha saling membunuh. Lebih tenang. ”
"meskipun anda mengatakan seperti itu."
“Kamu masih tidak mundur dan juga tidak maju ke depan untuk mengambil inisiatif . Apa yang kurang dari dirimu, pertama dan terpenting, adalah tekad. "
Diberitahu seperti tiu, aku menelan air liur di mulutku. Ya itu benar. Aku mengingat kembali kejadian-kejadian yang membuatku dilatih olehnya. Di dunia ini, dipenuhi monster, bahaya di setiap sudut, dan di mana kematian akan selalu ada di sisimu, untuk bertahan hidup di dunia seperti itu, dan agar aku tidak menjadi beban, aku ingin menjadi lebih kuat.
Mendengar kata-kata O'brien-san, aku menghela nafas dan menenangkan pikiranku. aku tidak bisa menenangkan diri sepenuhnya tetapi aku meyakinkan diriku sendiri. Aku melangkah maju. Aku menghadap pedangnya. Untuk memotong, mendapatkan luka, membunuh, dibunuh. Pertempuran dengan nyawa sebagai taruhannya. Tekadku masih kurang untuk melakukan semua itu tapi pada saat ini, aku melangkah maju.
"Aku datang."
“Tidak perlu dikasih tau. Datang saja ke arahku, dasar bodoh. ”
O'brien-san mengambil ancang-ancang. Konon, dia hanya akan menaruh pedangnya di bahunya. Itu adalah sikapnya yang alami. Terlihat tidak memiliki kekuatan, tapi tekanannya terasa meningkat. Kemampuan pedang pria ini luar biasa. Setiap serangan adalah serangan yang mematikan. Jika kamu menerimanya begitu saja, kamu akan dihancurkan bersama dengan pedangmu. Kamu akan terpotong beserta dengan baju besi mu. Itu sama saja bunuh diri. Tapi aku tidak memiliki kemampuan untuk menghindarinya juga. Meskipun begitu, aku tidak punya pilihan selain melangkah maju. Untuk membuktikan bahwa aku juga memiliki tekad.
Aku bertanya-tanya apakah dia menyadari pikiranku, karena wajahnya menunjukkan banyak ketenangan. Sambil tertawa senang, dia tetap tenang seperti biasa. Menghadapinya, aku bergegas masuk lansung kearahnya. Perlindungan dari dewi dan kekuatan cheat sama-sama hampir tidak ada dalam diriku saat ini. Aku hanya memiliki kemampuan fisik yang sedikit lebih baik dari biasanya. Dan ketika aku bergegas menerobos dengan sekuat tenaga, pria tua itu dengan tenang mengambil tindakan. Tepat ketika aku mengira pedangnya bergerak, saat berikutnya dia menghantamkannya ke tanah. Awan debu naik untuk menghalangi penglihatanku.
Tapi, aku telah menduga serangan itu. Berbalik menuju titik buta ke arah bahu kananku, aku mencengkeram pedangku dengan erat. Aku merasa ragu-ragu sejenak. Mengarahkan pedang ke arah manusia masih membuatku lelah secara mental. Tapi aku melepaskan pikiran itu, dan mengayunkan pedangku. Dengan bunyi dentang, dampak kejutan yang nyaris membuat tanganku mati rasa. Tebasan pedangku telah dilemparkan hanya dengan serangan dari pedangnya yang bergerak dengan kecepatan yang tidak bisa dilacak. Padahal sedetik yang lalu pedang itu menempel di tanah, trik macam apa ini !? Mataku membelalak karena terkejut.
Di celah kecil itu, aku benar-benar merasakan tekanan yang datang dari O'brien-san meningkat. Tubuhnya, seluruh kehadirannya, terasa meningkat. Aku hanya bisa melihat ketika kesatria tua itu mengangkat pedangnya yang panjang. Saat berikutnya, tubuhku bergerak lebih cepat daripada yang bisa dipikirkan oleh pikiranku dan aku entah bagaimana melakukan serangan itu dengan pedangku. Terlempar karena benturan, aku berguling di tanah.
Tidak dapat memahami bagaimana nafasku menjadi tersengal-sengal, aku hanya menatap langit sambil berbaring di tanah. Aku tidak bisa merasakan pedang di tanganku lagi. Tanganku benar-benar mati rasa. Semua sendi tubuhku terasa sakit dan tenggorokanku terasa sakit karena terlalu banyak bernapas.
“Mari kita akhiri di sini hari ini. Setelah makan malam, datanglah ke perpustakaan. ”(Ob)
"Ya."
Saat aku menjawab itu, Souichi mendekat dan menatapku dengan wajah khawatir.
"Apakah kamu baik-baik saja?"
"Hm, yaah, maaf tentang itu."
"Tidak, kamu tidak harus meminta maaf"
Souichi, bertubuh kecil dan berwajah seperti anak-anak, lebih mirip seorang gadis. Mungkin karena saudara perempuannya, Yayoi-chan, terlihat lebih dewasa, keduanya tampak seperti kembar. Jika aku mengatakan itu, dia akan mulai merajuk. tetapi, oh well. Entah bagaimana, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menggodanya. Dan cara dia bertindak juga ……….
Misalnya, saat ini, ketika aku meminta maaf, dia memberikan ekspresi malu. Benar-benar mengacaukan pikiranku. Setelah kalah di depannya, aku berdiri kembali.
Setelah aku berdiri, selanjutnya para prajurit mendatangiku satu per satu untuk menghargai upaya yang ku lakukan. Untuk beberapa alasan, dibandingkan Souichi dan yang lainnya yang memiliki kekuatan gila, para prajurit ini sepertinya lebih tertarik kepadaku yang dipukuli oleh O'brien-san. Aneh sekali. Yah, kurasa lebih baik daripada mereka yang tidak menyukaiku. Jika mereka mengatakan sesuatu seperti aku sangat lemah meskipun aku seharusnya dipanggil untuk menyelamatkan dunia, aku mungkin tidak akan pulih dari rasa shock.
Ketika aku berjalan sambil memikirkan hal-hal seperti itu, aku pergi minum air hangat dari kendi air yang disimpan di dekat tempat latihan. Pada titik tertentu, Souichi telah kembali dan mengayunkan pedangnya di tengah lapangan. Dia tidak benar-benar memiliki bentuk atau ancang-ancang tetapi karena kekuatannya yang terlalu kuat, gelombang kekuatan dari pedang saja sepertinya dapat memotong apapun. Betapa iri, serius. Karena aku tidak memiliki kemampuan seperti yang dimiliki orang lain, aku tidak punya pilihan selain belajar cara menggunakan pedang secara normal. Menyadari bahwa aku merasa cemburu pada seorang anak laki-laki yang jauh lebih muda dariku, aku menggelengkan kepala. Minum satu teguk air lagi. Sangat enak. Rasanya sangat enak sehingga aku minum terlalu banyak dan akhirnya menumpahkan air dari mulutku dan sedikit membasahi pakaian. Tapi itu terasa menyenangkan juga. Karena rasa panas dari luka-luka yang kudapatkan dan karena tubuhku terlalu banyak bekerja keras, bahkan air hangat ini terasa nyaman dan dingin.
"Ah."
"Hm."
Ketika aku menoleh pada suara itu, seorang gadis dengan rambut setengah panjang, rok lipit dan blus putih dengan blazer berdiri di sana. Sepertinya seragam sekolah menengah dari dunia asli kita. Di sisinya ada gadis lain dengan rambut hitam. Dia adalah saudara perempuan Souichi, Yayoi-chan. Dia mengenakan pakaian abad pertengahan seperti yang kita lihat di film dan lainnya. Dan gadis berseragam itu adalah Yayoi-chan dan teman masa kecil Souichi, Fuyou-san.
Merasakan tatapan dinginnya, aku menggaruk pipiku.
"Kamu terluka lagi"
"Ugh "
"Serahkan saja pertarungannya kepada kami, Yamada-san. Aku benar-benar berpikir akan lebih baik jika kamu tinggal di sini di kastil bersama dengan Toudou-san dan Yui. ”(Aya)
Ketika dia mengatakan itu sambil menghela nafas, akhirnya aku mengalihkan pandanganku dengan perasaan sedih. Seperti yang dia katakan. Sama seperti gadis ini, 10 tahun lebih muda dariku, mengatakan bahwa aku tidak cocok untuk bertarung. Kesampingkan Souichi dan yang lainnya yang mendapat berkat yang sangat luar biasadari sang dewi, aku yakin aku tidak bisa menang melawan gadis penyihir ini. Benar-benar menyedihkan, namun aku tidak punya jawaban.
Aku ingin tahu apa yang dia pikirkan tentangku, atau mungkin dia kehilangan minat.
"Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu."
Sambil membungkuk, Fuyou-san berjalan lurus menuju Souichi. Sebagai gantinya, Yayoi-chan mengarahkan telapak tangannya ke lengan kiriku. Aku mulai merasakan kehangatan, kelelahan dan rasa sakit ditubuhku mulai hilang.
“Ini benar-benar nyaman. Sihir dan keajaiban. Benar-benar dunia fantasi ya? ”(Renji)
“Fufu, kamu mengatakan hal yang sama dengan Inoue-san.” (Yayoi)
Sambil mengguncang lenganku yang sudah pulih, Yayoi-chan tertawa.
Seperti yang diharapkan, lebih baik ketika mereka tertawa seperti ini. Aku tidak benar-benar membenci orang-orang jujur ​​seperti Fuyou-san tapi, aku benar-benar buruk dalam berurusan dengan mereka. Juga, aku belum pernah melihatnya tersenyum sekali pun. Bagaimana aku harus mengatakan ini, dia selalu bersikap kuat. Aku juga merasa gadis itu juga kurang memiliki ketenangan sekarang.
“Tolong jangan membenci Aya-chan.” (Yayoi)
"hmm ?"
"Yah, dia benar-benar parah ketika berbicara dengan orang-orang yang tidak dia kenal dengan baik kau tau ?"
"Ahh..yah, aku tidak terlalu memikirkannya."
"Baguslah kalau begitu."
Tidak, tapi yah, ya ..
Fuyou-san sendiri saat ini sedang berbicara dengan Souichi dan Hiyuu-san yang juga berlatih.
“Aya-chan mengkhawatirkanmu dengan caranya sendiri. Sehingga semua orang bisa kembali ke rumah dengan tenang dan selamat. ”
"Aku tahu. Yayoi-chan, kamu benar-benar baik, bukan? ”
"Fufu, kalau begitu, permisi dulu."
Mengatakan itu, dia berjalan menuju Souichi. The Brave sungguh menakjubkan. Meskipun aku sendirian, dia dikelilingi oleh 3 wanita cantik. Salah satunya adalah saudara perempuannya.
Sambil menatap langit, aku menghela nafas. Aku butuh senjata. Senjata untuk membunuh dewa. Sehingga aku tidak akan menjadi beban. Bahkan jika aku tidak dapat sepenuhnya melindungi mereka, setidaknya aku ingin bertarung bersama mereka.
Oh, Dewi. Anda masih belum memenuhi keinginanku.
Saat aku melihat Souichi, dikelilingi oleh tentara, perasaan sedih hinggap di dadaku. Sambil menggelengkan kepala, aku menghela napas dalam-dalam, dan melepaskan pikiran itu dengan senyum masam.
--Aku juga ingin menjadi seorang pahlawan.
Kemudian, merasa sedikit penasaran, aku mengambil medali yang diberikan kepadaku oleh Dewi. Medali emas. Selain permata yang tertanam, tidak ada yang terlalu aneh tentang itu. Dewi itu berkata bahwa itu adalah senjata untuk membunuh para dewa. Medali yang terlihat sederhana ini. Apakah aku harus membeli beberapa senjata hebat dengan menjual ini? aku tidak bisa memahaminya sama sekali. Bahkan kemarin Utano-san mengatakan kepadaku bahwa mungkin saja itu adalah sebuah kegagalan.
~~000~~

(T / N: kembali ke masa sekarang)
"Puhahahaha...ini, ini sama sekali tidak cocok untukmu!"
“Apa yang kamu tertawakan begitu keras, dasar lalat!"
"Siapa yang kau sebut lalat!?!"
[berisik!]
Ketika aku mencoba menyisir rambutku dengan gel, gadis yang berbaring di tempat tidur mulai menertawakanku. Apakah ini memang tidak cocok untukku? Meskipun aku baru saja mengumpat di luar, di dalam hati, aku menjadi khawatir. Di dunia ini, jumlah hal yang bisa kamu gunakan untuk merawat diri sendiri dapat dihitung dengan tangan. Aku menyadari hal itu, tapi pada akhirnya, itu hanya pengetahuan sepele. Dibandingkan dengan ini, akan lebih mudah jika hanya mengenakan armor mewah seperti ketika aku bertemu Raja. Setidaknya, yang harus aku lakukan saat itu hanyalah mengenakannya.
Gadis di tempat tidurku-- peri dengan fitur seperti boneka, Anastasia, berguling sambil tertawa tidak memikirkan bahwa bajunya semakin kusut saat dia melakukan itu. Kadang-kadang, kain putih bisa terlihat di bawah gaun itu saat dia berguling-guling juga. Mengatakan seperti itu, aku bukan seorang pria mesum yang bernafsu terhadap makhluk kecil yang berukuran seperti boneka. Tanpa menghiraukannya, aku mulai mencoba memperbaiki rambutku. Berdasarkan apa yang aku lihat di cermin, seharusnya tidak seburuk itu tetapi ditertawakan begitu banyak telah membuatku menjadi gelisah. Aku rasa begitulah cara kerja pikiran manusia.
Ketika aku mengenakan kemeja rapi dan dasi hitam, aku merasa seperti seorang pegawai yang bekerja di beberapa perusahaan. Mengingat masa lalu, aku merasa sedikit nostalgia tetapi sungguh, ini tidak cocok untukku. Tidak seperti Anastasia, aku juga tertawa pendek. Itu mungkin karena setelah datang ke dunia ini, aku telah menghabiskan sebagian besar waktu dengan pakaian petualangan.
"Ermenhilde, bagaimana menurutmu?"
[Yah, tidak apa-apa kurasa? Masalahnya adalah pakaian. Apakah kamu masih memiliki pakaian tersisa?]
“Dari apa yang kulihat, ya masih ada. Meskipun begitu, aku tidak yakin pakaian itu masih cocok denganku ”
Karena kamarku sama dengan setahun yang lalu, pakaian yang disiapkan untukku dan penataan perabotan, semuanya tetap sama. Di antara itu, ada banyak pakaian kelas atas yang terbuat dari kain berkualitas juga. Tapi masalahnya adalah pakaian tersebut dipersiapkan untukku 3 tahun yang lalu. Aku ragu karena tinggi badanku telah banyak berubah karena otot-otot yang aku peroleh, ukuran tubuhku hampir bertambah 1 ukuran. Aku bertanya-tanya apakah aku masih bisa mengenakan pakaian itu.
Entah bagaimana, aku masih ingat bagaimana cara mengikat dasi dan bahkan aku sendiri merasa terkejut, aku bisa memakainya dengan benar. Dan selesai , aku rasa kamu tidak akan melupakan hal-hal yang telah kamu pelajari.
"Eeh, sungguh terampil."(Ana)
"Lagipula aku sudah mempelajarinya."(Renji)
"Sungguh tidak biasa."
[Yah, bagaimanapun juga, Renji tidak terlalu peduli dengan penampilan dan hal-hal semacamnya.]
"Umu."
“Jangan katakan itu dengan bangga. Itu tidak keren. ”(Ana)
Anastasia tampaknya adalah tipe yang melakukan perawatan pribadi juga, tapi itu sama sekali tidak berguna sekarang karena yang dia lakukan hanyalah menertawakan atau menghela nafas padaku. Ratu yang kasar. Setiap kali aku ingat bahwa ia adalah yang teratas dari semua peri, aku menjadi sangat khawatir untuk masa depan ras peri.
Nah, para peri lainnya tidak terlalu berbeda dari Anastasia dan bersenang-senang sebagai prioritas pertama mereka.
“Tapi tetap saja, ada apa hari ini? Itu benar-benar tidak cocok untukmu sama sekali. ”(Ana)
"Aku akan makan malam dengan Aya malam ini."
[Untuk itu, aku harus memaksakan arti 'penampilan dan perawatan' di kepalanya. Kamu sungguh mengganggu jadi kembalilah, dasar serangga.]
"Siapa yang kamu bilang serangga, wanita medali !?  tunggu sebentar."
Ada apa dengan suara terkejut itu? Ketika saya melihat ke arah tempat tidur, peri yang telah tertawa seperti orang gila sampai sekarang berdiri tegak. Mungkin bukan imajinasiku kalau ekspresinya terlihat marah. Mungkin karena tingginya, dia memelototiku sambil menatapku. Ini sama sekali tidak menakutkan.
"Mengapa kamu tidak mengundangku!?"
"Mengapa aku harus mengundangmu ? Bodoh. ”
Jika aku melakukannya, aku hanya bisa membayangkan apa yang akan dikatakan Aya, atau lebih tepatnya, apa yang akan dia lakukan padaku.
Dia tidak mengatakannya lansung dihadapanku, tapi aku yakin dia berharap untuk pergi makan malam sendirian, hanya kita berdua. Dan jika aku menentang harapannya--------tubuhku sangat sadar apa yang akan dia lakukan. Tidak, bahkan aku tidak akan bisa menertawakannya seperti biasa. Ya, aku tidak bisa bertingkah seperti anak kecil. aku sudah berumur 28 tahun. Hati saya masih muda tetapi aku berada pada usia di mana aku diharapkan mampu membaca suasana hati dengan benar.
Tapi, Anastasia sepertinya dia benar-benar ingin pergi makan malam bersamaku saat dia cemberut sekarang. Apakah itu bentuk keberatan darinya?
"Jadi, giliran Aya kali ini ..." (Ana)
"Apa maksudmu 'kali ini'?" (Renji)
Tolong jangan bicara seolah-olah aku mengejar banyak gadis. Aku menatapnya dengan wajah yang sudah muak ketika Anastasia menggigit jarinya sambil membuat wajah yang serius. Kamu melihatku seperti apa? Atau lebih tepatnya, karakter seperti apa aku ini dipikiran semua orang ? Bahkan beberapa saat yang lalu, Kuuki juga mengingatkanku tentang hubunganku dengan wanita, itu akan membuatku menangis, kau tahu? Yah, tidak juga.
Tapi selain itu, bahkan Utano-san terlihat lebih ketat dari biasanya tentang kasus dengan Solnea. Bagaimana saya harus membujuknya? Cara termudah adalah membiarkan mereka bertemu besok dan mengakhirinya sekali dan untuk selamanya. Aku benar-benar ingin menyingkirkan semua tuduhan palsu ini. Yah, aku percaya bahwa Solnea itu cantik, tapi itu tidak berarti aku akan mulai bernafsu mengejarnya. Aku bukan orang seperti itu. Jika aku melakukannya, aku yakin suatu hari, seseorang di suatu tempat akan berakhir terluka. Bahkan si idiot pun mengerti itu. Belum lagi aku masih belum menyelesaikan perasaanku tentang Eru, dan kemudian ada Utano-san dan Aya juga.
Harem itu hebat, aku benar-benar berpikir begitu. Tapi itu hanya bagus ketika bukan akulah orang yang terlibat dengan semua itu.

"Aku sudah muak! Setelah mengalahkan Dewa Iblis, kamu menyembunyikan dirimu sendiri, dan akhirnya ketika kita bertemu disini di ibukota kamu tidak banyak bermain denganku dan kamu bahkan tidak mengajakku makan malam sekarang. Bukankah kamu terlalu dingin? ”(Ana)
"Yah, bagaimanapun juga melelahkan untuk menghabiskan waktu bersamamu." (Renji)
"Kamu bersikap terlalu kasar sekarang."
[Yang benar saja.]
"Kau tidak bernasib lebih baik daripada aku, wanita medali."
[Mana mungkin. Lagipula aku ini adalah partner Renji.]
Tidak, tunggu. Selama ini kamu selalu merasa kesal ketika aku menyebutmu rekanku, mengapa kamu mengatakannya dengan gembira pada saat seperti ini?
Apakah aku satu-satunya yang merasa sangat rumit saat ini? Aku senang namun tidak bisa benar-benar merasa senang tentang hal itu. Ermenhilde tampaknya tidak memahami pikiran batinku. Jika aku mempunyai cara untuk melihat ekspresinya, dia pasti membuat ekspresi kemenangan sekarang.
"Berhentilah bertengkar, kalian berdua. Kalau tidak kalian akan dimarahi oleh Yui-chan. "(Renji)
[Muu.]
"Ugh"
Aku menghela nafas melihat mereka berdua diam hanya dengan menyebutkan nama Yui-chan. Sungguh menakjubkan bagaimana mereka tidak bisa menang melawan seorang anak kecil. Mereka tahu bahwa Yui-chan akan sedih jika mereka bertarung; keduanya benar-benar jujur ​​dalam hati. Yah, aku tidak berbeda.
"Tidak adil menggunakan nama Yui, Renji."
[Ya itu benar. Tidak adil.]
"Mengapa tiba-tiba kalian menjadi akrab sekarang?" (Renji)
"Kita tidak akrab! Benar kan, wanita medali? ”
[Benar sekali, wanita serangga.]
Serius, apa-apaan ini. Saat mengobrol dengan Anastasia yang sudah melupakan amarahnya sebelumnya, aku membuka lemari kayu untuk memilih beberapa pakaian. Tampaknya terbuat dari beberapa kayu berkualitas bagus karena kelihatannya sangat kokoh namun sebenarnya cukup ringan. Hampir tidak memerlukan usaha untuk membuka pintu ganda lemari. Mengambil beberapa set pakaian dari dalam, aku menutupnya kembali.
Malam ini kita menuju restoran Toudou, tempat yang tersembunyi namun sangat populer. kamu akan berpikir itu tidak akan masalah mengingat salah satu dari 13 pahlawan memiliki tempat karena lokasinya yang khusus, itu biasanya tidak populer. Bagaimanapun juga, itu terletak di salah satu lorong belakang dengan struktur rumit.
Selain itu, dia bahkan tidak mencoba mengiklankan tempat itu sekali pun. Jujur, bahkan Utano-san mengatakan bahwa dia tampaknya tidak benar-benar tertarik untuk menjadikan tempat itu sebagai bisnis yang sebenarnya. Ngomong-ngomong, aku juga tidak bisa menemukan restorannya dan harus meminta Utano-san untuk menunjukkan kepadaku lokasinya di peta ibukota. Tempatnya sungguh tersembunyi dengan baik.
"Suatu hari nanti, aku akan membawamu keluar juga oke? Jadi biarkan aku pergi untuk hari ini. "(Renji)
"Benarkah?" (Ana)
"Mungkin. Jika aku menginginkannya, suatu hari nanti. "
"Jadi pada dasarnya kamu tidak akan mengajakku bukan !?"
Sambil memutar otak untuk memutuskan pakaian mana yang akan dipilih, aku dengan ringan mengatakannya pada Anastasia. Tentu saja, bahkan dompetku tidak cukup tebal untuk membawa siapapun untuk makan malam keluar, meskipun aku tidak menginginkannya. Sambil mengabaikan suara protes Anastasia, ali mencoba beberapa baju. Karena sudah hampir dua tahun sejak ini dibuat, seperti yang kamu pikirkan, pakaian ini terasa ketat. Ini merepotkan; Aku menggaruk kepalaku sambil melihat ke cermin. Akan sulit untuk mengatur satu set pakaian baru sebelum malam sekarang. Aku kira satu-satunya jalan yang tersisa adalah pergi ke toko dan membeli pakaian jadi. Sambil memeriksa apakah aku punya cukup uang, saya berencana membelinya malam ini.
Tampaknya tidak senang dengan tanggapanku, Anastasia bangkit dari tempat tidur. Saat dia menggunakan kekuatan roh angin, roknya berkibar-kibar, membuat pahanya yang tipis, putih namun bagus menjadi terlihat. Serius, ini terlalu menggoda bagiku.
"Aku akan membelikanmu sate daging orc panggang untukmu dari kios saat kembali, oke?"
"Mati saja kau!"
Sungguh kejam hal yang dikatakan makhluk kecil ini. Hanya penampilannya saja yang imut, aku yakin dia akan populer dengan pria dengan fetish aneh. Seperti Koutarou, mungkin Koutarou, oh dan juga Koutarou. Dia bertingkah seperti chunni tetapi jauh di lubuk hatinya dia seperti itu . Sementara aku memikirkan hal-hal seperti itu, pintu kamarku diketuk. Dan setelah jeda sesaat, pintu terbuka dan Yui-chan mengintip ke dalam. Di belakangnya adalah ksatria bayangan yang mengenakan armor hitam, Knight. Apakah mereka datang mencari Anastasia?
"Oh, Yui."(Ana)
“Permisi, Renji-san.” (Yui)
“Yo, ada apa yui-chan? Jika kamu sedang mencari Anastasia, bawa dia kembali bersama mu. Dia selalu saja bertengkar dengan Ermenhilde, itu menjengkelkan. ”(Renji)
"Tunggu, apa yang kamu katakan!?" (Ana)
Anastasia berteriak pada saat yang sama ketika KNIGHT menutup pintu di belakangnya. Yui-chan, dengan ekspresi sedih, datang lebih dekat ke Anastasia yang melayang di dekat tempat tidur.
Bagaimana aku harus mengatakannya, meskipun aku adalah orang yang memulainya, tetap saja aku merasa sedikit tidak enak sekarang. Melihat Yui-chan seperti itu, Anastasia kehilangan ekspresi percaya diri yang dia miliki ketika berbicara denganku dan ermenhilde dan bertingkah melihat sekeliling dengan perasaan gugup. Terkadang dia menatapku, tetapi aku tidak bisa membantunya. Menyerah saja.
Dan saat KNIGHT berjalan di belakang Yui-chan seperti bayangan yang menjaga jarak yang sama, dia terlihat sangat nyata.
“Ana?” (Yui)
“Itu, bukan seperti itu, itu bukanlah pertengkaran. Itu bukan pertengkaran, kan Renji? Bukan, kan !? ”
Mengabaikan permohonannya untuk bantuan, aku terus mencoba pakaian lain. Seperti yang diharapkan mereka semua terlihat agak kecil, tapi buka berarti aku tidak bisa memakainya sama sekali. Yang ini seharusnya cukup baik aku rasa ?
Yui-chan diam-diam mencela Anastasia dan Anastasia terus meminta bantuan. KNIGHT tetap diam seperti biasa dan hanya berdiri di belakang Yui-chan menunjukkan bahwa dia jelas berada di pihak Yui-chan. Ermenhilde dan Anastasia sendiri membuat ruangan terasa sangat hidup, tapi sekarang terasa lebih hidup lagi jadi aku hanya bisa tersenyum masam. Aku kira pepatah yang mengatakan suasana menjadi bising setiap kali wanita berkumpul juga tidak salah.
"Yui-chan, coba lihat kesini sebentar, mana yang menurutmu lebih cocok untukku?" (Renji)
Mengumpulkan pakaian yang masih bisa aku kenakan, aku meminta pendapat Yui-chan. Setelah dibebaskan dari tatapan Yui-chan, Anastasia juga menghela nafas lega. Kenapa dia begitu lemah dihadapan Yui-chan? Yah, aku kira siapa pun pasti akan merasa bersalah jika dimarahi oleh seorang anak kecil.
Sambil mendengarkan pendapat Yui-chan dan Ermenhilde, aku mulai memilih pakaianku selagi Anastasia, yang mungkin karena bosan, menjatuhkan diri kembali ke tempat tidur. Karena Yui-chan ada di sini, dia tampaknya tidak mempermasalahkan untuk tidak merusak bajunya kali ini.
"Katakan, Renji." (Ana)
"Apa?"
"Apakah kencan dengan Aya, menyenangkan?"
"Yah, mengesampingkan fakta apakah ini bisa disebut kencan yang sebenarnya, ya, itu menyenangkan."
“Ini sudah pasti kencan. Kamu akan makan malam bersama kan? ”
"tunggu sebentar, darimana kamu mempelajari arti dari kata kencan'?"
"Baru saja, dari Yui."
Aku menanyakan itu semata-mata hanya untuk menghindari topik tetapi aku agak terkejut dengan nama tak terduga yang datang darinya. Yui-chan tampaknya tidak mempermasalahkannya. Lagipula, aku rasa dia juga berusia 16 sekarang. Itu normal baginya untuk dalam hal-hal seperti itu. Haruskah aku senang dengan pertumbuhannya atau harus khawatir tentang hal itu? Ngomong-ngomong, aku ingin tahu apakah ada seseorang yang dia sukai.
Ketika aku melihat ke arah Yui-chan, dia sudah tidak ada lagi. Sejak kapan dia berpindah? Dia saat ini mendorong Anastasia di tempat tidur dengan wajah merah. Mungkin mencoba untuk menutup mulutnya tetapi karena Yui-chan bukan tipe yang cocok secara fisik, itu hanya tampak seperti keduanya telah jatuh satu sama lain di tempat tidur. Dan di atas itu, keduanya mengenakan rok jadi itu cukup berbahaya. Sambil membatuk, aku mengalihkan tatapanku ke arah jendela, tetapi tekanan dalam diam yang datang dari KNIGHT dan Ermenhilde terlalu luar biasa. Jika orang itu memiliki hati yang lemah, ia akan mengalami kejang.
Di dalam ini, yah yang terjadi bukan benar-benar adegan 'pembantaian' (shuraba), aku hanya menatap keluar jendela.
"Sungguh bagus semua orang jadi sangat bersemangat, ya."
[Kemana kamu melihat? Apa yang kamu lihat? Hm ??]
OI, KNIGHT-san, tolong jangan berdiri di sampingku sambil memancarkan tekanan kuat seperti itu. Juga Ermenhilde, jika aku melihat Yui-chan dan Anastasia seperti itu, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri, jadi tenanglah. Tetap tenang.
~~000~~

Tapi tetap saja, pikirku.
“Apa terjadi sesuatu, Renji-san?” (Aya)
"Tidak, tidak ada apa-apa."
Mengenakan gaun biru ketat dan syal tebal yang terbuat dari bulu monster, Aya mendongak ke arahku dan berbicara. aku harus mencoba untuk tidak khawatir tentang kenyataan bahwa kami berada pada jarak di mana siku kami pada dasarnya saling menyentuh. Biasanya Ermenhilde yang tidak bisa membaca suasana hati akan berbicara sesuatu secara acak sekarang, tetapi saat ini dia telah dititipkan kepada Utano-san untuk berjaga-jaga sehingga saat ini suasananya terasa tenang.
Saat ini sudah malam hari. Saat aku berjalan di sepanjang jalan utama, jumlah orang-orang yang berlalalu lalang jauh lebih sedikit daripada biasanya, aku mengingat jalan ke tempat Toudou di kepalaku.
"Apakah kamu tidak kedinginan?"
"Fufu, tidak, aku baik-baik saja."
Mengatakan itu, Aya bersandar sedikit lebih dekat ke arahku. Sementara bertingkah seolah aku tidak menyadarinya, aku menggaruk pipiku dengan tangan yang lain. Dia dalam suasana hati yang sangat baik. Jika aku mengatakan itu dengan lantang, aku ingin tahu apa yang akan dia katakan. Aku menjadi sedikit penasaran tapi memutuskan untuk tidak menanyakan itu dan sedikit memperlambat kecepatan berjalanku.
Hari ini Aya terasa lebih tinggi daripada biasanya, mungkin karena sepatu berhak tinggi yang dia kenakan. Rambutnya yang terurai berayun-ayun tertiup angin dan bersinar dalam cahaya redup dari lampu sihir. Make up tipis yang dia kenakan sangat cocok untuknya karena dia selalu sedikit lebih dewasa daripada teman-temannya.
Sambil mencuri lirikan wajah bahagia Aya yang menikmati dinginnya malam, tanpa aku ketahui, aku mulai mengikuti rambutnya yang berayun. 18 tahun. Usia tepat antara seorang gadis dan seorang wanita dewasa, jika aku harus mengatakannya. Dia benar-benar tumbuh, atau lebih tepatnya, dia telah menjadi sangat cantik. Aku bertanya-tanya apakah seperti inilah rasanya seorang ayah melihat putrinya tumbuh dewasa. Aku merubah suasana hatiku sambil memikirkan hal-hal bodoh seperti itu.
"Mungkin seharusnya kita menyewa kereta." (Renji)
"Jangan khawatir tentang itu. lagipula, apakah kamu memiliki uang lebih sebanyak itu"(Aya)
"Muu."
"Lagi pula, bukankah lebih menyenangkan berjalan dan berbicara seperti ini?"
Diberitahu seperti itu, aku tidak punya cara untuk membantahnya. Aku juga berpikir bahwa tidak buruk untuk mengobrol sambil berjalan seperti ini. Ketika kami melewati berbagai jalan kecil, kami akhirnya mencapai toko item yang telah disebutkan. Gang yang menuju kearah dalam dari sini adalah dimana lokasi restoran Toudou berada. Sepertinya Aya juga telah mengetahui tempat itu ketika dia dengan ringan menarik lengan bajuku untuk memberi tahu ke mana kami harus pergi.
Itu sedikit menggelitik. Aku dengan cepat menyembunyikan senyumku dengan tanganku yang lain ketika kami memasuki gang. Tampaknya cukup bersih untuk gang belakang dan tidak benar-benar terasa kotor. Tapi seperti yang diharapkan, ada jauh lebih sedikit pejalan kaki. Kecuali kami, hanya beberapa pasangan lagi yang sepertinya berjalan di sini.
"Seperti yang diharapkan, benar-benar tidak ada banyak orang di sini, kan?" (Renji)
"Benar. Kenyataan bahwa restoran Toudou-san menjadi populer menunjukkan betapa menakjubkannya dia dalam memasak. ”
"ya. Karena itu, mengapa dia membuka restorannya di tempat seperti ini? ”
Mengingat dia orang yang sedang kita bicarakan, alasannya sudah pasti akan seperti, dia hanya ingin seseorang menikmati makanannya. Jumlah pelanggan semakin sedikit semakin baik.
Toudou Hiiragi. Salah satu rekan kami, dan seorang juru masak. Orang aneh yang meminta keterampilan yang berhubungan dengan memasak bahkan setelah datang ke dunia fantasi. Seorang mantan NEET (shut-in), dan buruk dalam interaksi sosial. Tidak bisa berkomunikasi dengan baik, dan selalu menyembunyikan perasaannya sendiri. Tapi tetap saja, dia berusaha keras untuk berjalan bersama kami, dan bepergian bersama kami semua.
Ketika aku mengingat penampilannya dari tahun lalu, kami akhirnya melihat tujuan kami.
"Akhirnya"
“Hah?” (Aya)
"Aku mencari tempat ini berkali-kali setelah datang ke ibukota tetapi tidak pernah menemukannya."
Juga, ada masalah tentang hutangku pada Utano-san jadi aku lebih memprioritaskan upaya menghasilkan uang daripada mencari tempat dimana Toudou berada.
Sambil memikirkan itu, melihat ke tempat itu. Penampilan luarnya pada dasarnya adalah sebuah bangunan batu dengan rangka kayu. Tampaknya dibangun dengan cukup baik. Bahkan bagian-bagian yang katanya rusak ketika ia membeli tempat itu telah diperkuat dengan benar. Ketika aku mencoba menyentuhnya, akumerasakan sesuatu yang tidak ada di dunia ini. Apakah ini nyata?
Ketika aku melihat Aya, dia tersenyum samar. Pasti Kudou yang menyiapkan ini. aku tidak tahu bagaimana dia menyiapkan hal-hal seperti semen dll tapi kemampuannya adalah [Item Creation]. Dia pasti berhasil dengan itu. Nah, ada suatu waktu di mana dia membuat bom dari batu yang tergeletak di jalan selama perjalanan kami, jadi aku tidak benar-benar terkejut dengan apa yang dia lakukan. Aku hanya bisa mengatakan 'oh, keren.' Itu saja.
Nama restoran itu adalah [Burung Kebahagiaan]. Karena bangunan itu sendiri terasa lebih seperti rumah, namanya kurasa kurang cocok.
“Sepertinya tempat yang bagus.” (Renji)
"Ya. Aku juga telah datang ke sini beberapa kali sebelumnya. Ini memiliki suasana yang hebat. "
"Kedengarannya bagus."
Ketika aku memasuki tempat itu, tatapan orang-orang di dalam bergerak ke arah kami. Tetapi jumlah mereka tidak banyak sama sekali. Sekilas, hanya 10 pelanggan dan 2 karyawan tampaknya ada di sana. Mungkin satu karyawan lagi berada di dapur. Pintu masuk ke dapur berada di titik buta sehingga aku tidak bisa memastikannya. Mungkin, Toudou ada di sana juga. Tempat itu memiliki dua lantai dan aku bisa melihat tangga menuju lantai atas. Karena restoran itu sendiri sepertinya tidak terlalu sibuk, lantai dua mungkin adalah ruang tamu Toudou.
Dengan salam, pelayan membawa kami ke kursi kami. Ngomong-ngomong, para karyawan mengenakan pakaian pelayan. Mereka bahkan memiliki ikat kepala berjumbai yang sangat cocok untuk mereka. Seperti yang diharapkan, dia seorang pria dengan selera juga.
Tepat ketika aku memikirkan hal-hal seperti itu, Aya mencubit bagian belakang tanganku. Senyumnya lebih menakutkan daripada rasa sakit yang aku rasakan, jadi aku cepat-cepat berjalan ke meja kami.
"Melihat dia telah mempekerjakan karyawan, kurasa dia telah menghasilkan keuntungan." (Renji)
"Itu benar. Dia tidak banyak melakukan promosi tetapi tampaknya tempat itu menjadi populer dari mulut ke mulut. ”
Mengatakan itu, Aya menyerahkan kartu menu kepadaku. Seperti yang dikatakan jumlah menu hidangannya tidak banyak.
Karena dunia ini tidak memiliki konsep home delivery, aku kira mendapatkan bahannya akan cukup sulit, tapi itu tidak bisa dihindari. Karena kita berada di ibukota, itu akan lebih mudah daripada berada di beberapa desa tapi tetap saja, mendapatkan barang-barang murah akan sangat sulit. Tetapi tetap saja, untuk memiliki salad lengkap pada menu, apakah dia memiliki hubungan dengan keluarga petani? Adapun untuk dagingnya, menggunakan daging Orc. itu tidak terlalu sulit untuk didapatkan.
Sisanya adalah jenis hidangan berbasis mie / gandum yang biasanya tidak pernah kamu lihat di dunia ini. Melirik kearah orang lain, semua orang sepertinya memakannya juga.
"Kurasa masakan dari dunia kita jarang ada di dunia ini ?" (Renji)
"Kurang lebih begitu. kamu hanya bisa makan hal-hal seperti itu di sini sehingga itulah kenapa tempat ini menjadi populer di kalangan pecinta makanan. Yah itu tidak terlalu sepopuler itu. Hidangan yang bisa kita dapatkan di kastil juga tidak muncul di sini. ”
"Yah, tentu saja."
Yah, akan lebih baik jika itu terjadi. Seperti yang diharapkan, tidak mudah membuat hidangan dari dunia lain menjadi populer dengan mudah. Bagaimanapun, hal-hal seperti bahan-bahan dasar dll. Semuanya berbeda di dunia ini. Aku ingat dia mengatakan sesuatu seperti mengalami kesulitan menemukan pengganti untuk hal-hal tertentu. Selain itu, berbagai cara memasak yang berbeda juga merupakan hambatan. Aku bukan ahlinya tetapi jika aku ingat dengan benar, untuk membuat udon, kamu membutuhkan tepung terigu, air dan garam, bukan?
Sambil mencoba mengingat resep yang aku yakini salah, aku memutuskan pesanan. Tentu saja, itu makanan yang terbuat dari gandum. Aku memesan Tsukimi Udon dan salad sedangkan Aya memesan pasta Carbonara. Hmm tapi yah, aku jadi bertanya-tanya apakah aneh memesan sesuatu seperti Udon pada saat kencan ? tapi, aku benar-benar sedang ingin makan itu. Aku ingin tahu apakah Toudou akan membuat makanan ini sendiri?
"Apakah itu cukup ?"
"Ya. Lagipula aku tidak makan terlalu banyak. ”
"Jika kamu mengkhawatirkan tentang keuanganku, kamu tidak perlu mengkhawatirkannya oke "
“kamu terdengar seperti seorang ayah, Renji-san.”
“Nah, aku belum setua itu, mungkin. Setidaknya anggap aku 'saudara'. "
“Fufu. Tapi seperti itulah aura yang kamu miliki. Bahkan Souichi melihatmu seperti itu, kau tau. ”
Tapi menjadi seorang ayah itu benar-benar...... Orang yang mengatakan hal yang merepotkan itu tertawa ketika melihat reaksiku. Bahkan gerakan manisnya yang biasa tampak lebih dewasa hanya karena dia membiarkan rambutnya terurai.
Menyadari tatapanku, seolah berusaha menyembunyikan senyumnya, dia melihat ke bawah untuk mengalihkan pandangannya. Di bawah cahaya redup dari lampu sihir, aku tersenyum melihat Aya mengecilkan dirinya sendiri seperti itu untuk menyembunyikan rasa malunya.
"Entah bagaimana, itu benar-benar terasa nostalgia." (Renji)
"Eh?"
Mendengar kata-kataku, wajahnya bangkit kembali.
"Dulu ketika kita baru saja datang ke dunia ini, seperti, kita tidak banyak bicara, kan?" (Renji)
"Ya, tapi itu..."
"Dulu, bahkan saat makan malam seperti ini, aku hanya berbicara dengan Souichi dan Yayoi-chan."
"uuu..."
Bagaimana aku harus mengatakan ini, pada awalnya Aya itu pemalu, atau lebih tepatnya, dia selalu membangun tembok antara dirinya dan orang lain ku rasa. Aku tahu dia memiliki keadaan keluarga yang rumit, dan aku telah mendengarnya secara mendetail. Jadi aku bisa mengerti mengapa dia seperti itu, dan itulah mengapa sekarang aku bisa berbicara dengannya seperti ini tentang hal itu.
Aya sendiri tersipu mengingat kepribadian masa lalunya sendiri.
“Renji-san juga telah berubah.” (Aya)
"Benarkah?"
"Iya."
Ketika dia mengatakan itu, aku merasa sedikit sedih dengan artian yang berbeda. Mengarahkan tatapanku untuk melihat keluar jendela, aku menghela nafas dalam-dalam.
"Aku pada saat itu, seperti apa diriku?" (Renji)
"Eh?"
"Aya, bagaimana---"
Pada saat itu, aku menghentikan kata-kataku sendiri. Bagaimana aku harus bertanya padanya? Aku tidak bisa memikirkan caranya. Sangat memalukan untuk bertanya bagaimana dia bisa menyukaiku. Dan sebelum itu, bagaimana aku bisa bertindak sepercaya diri itu? Jika aku seorang wanita, aku tidak akan pernah mau bergaul dengan pria tua seperti itu.
Seperti itu, aku tidak bisa memikirkan kata-kata yang lebih baik. Masih nyangkut, Aya menungguku untuk melanjutkan.
“----saat itu, sejak kita bepergian, apakah aku sudah berubah?"
Pada akhirnya, aku mengajukan pertanyaan yang aman. Sambil mendesah pada diriku sendiri, aku mengalihkan pandanganku kembali ke Aya. Matanya yang jernih menatap langsung ke arahku. Saat tatapan kami terhubung, aku merasa seperti dikalahkan oleh matanya yang kuat.
"Ya." (Aya)
Masih menatapku dengan mata kuat itu, dia mengangguk.
"Renji-san saat itu, jauh lebih keren."
"Keren, huh?"
Kata yang samar. aku tidak tahu bagaimana aku telah berubah sejak saat itu, tetapi sepertinya aku tidak sekeren sebelumnya. Yah, aku juga tidak bisa menyangkalnya. Aku masih terjebak dengan masa laluku. Tapi--
"Aku mengerti."
"Fufu."
Mata gadis ini, wanita yang selalu mendukungku, kawan-kawan yang menganggapku sebagai pemimpin,----Aku tidak ingin mengkhianati mereka. Aku ingin melindungi mereka. Pergerakan di antara iblis, keberadaan Solnea, ketiadaan Dewa Iblis. Melalui berbagai pertanda ini, aku yakin dunia akan mulai bergerak lagi. Pada saat itu, aku harus bertarung bersama Ermenhilde sekali lagi. Tidak peduli betapa aku benci bertarung, aku tidak bisa lari darinya.
Pada saat itu, sama seperti waktu itu ---bagaimana aku mengorbankan Eru untuk membunuh Dewa Iblis, untuk tidak pernah kehilangan siapa pun lagi. Aku meyakinkan diriku untuk maju sekali lagi.
“Yah, sepertinya aku tidak keren sama sekali sekarang.” (Renji)
"Tidak juga. Bahkan sekarang, Renji-san masih cukup keren sih? ”(Aya)
“Jujur saja, kamu tidak harus memaksakan diri untuk mengatakannya, Lihat, wajahmu merah semua. "
"mouu, kamu seharusnya mengabaikan hal-hal seperti itu!"
Sambil melihat cemberut Aya, aku tertawa. Meskipun dia berpakaian sangat dewasa, ekspresinya masih kekanak-kanakan. aku kira penampilannya yang sesungguhnya adalah penampilan dengan ekspresi kekanak-kanakan. Ketika aku memikirkan itu, dia menatapku dengan senyum lebar.
Ketika kami terus berbicara seperti itu, pesanan kami datang dan diatur di atas meja. Udon yang mengepul merangsang rasa laparku. Carbonara Aya juga terlihat lezat.
"Aku juga akan terus berusaha" (Renji)
"Hah?"
"Tidak ada. Mari makan."
Aku menyeruput Udon-ku. Aya sepertinya ingin aku mengatakannya lagi, tapi, yah, Udon ini benar-benar enak. Seperti yang diharapkan dari Toudou, dia memiliki pekerjaan terbaik yang pernah ada. Sambil memikirkan hal-hal seperti reporter gourmet, aku melirik ke arah Aya.
Apakah dia menyerah melihat bahwa aku tidak akan mengulanginya lagi, saat ini dia fokus pada pasta carbonara yang dia pesan. Melihat gerakan kecilnya seperti memegang rambutnya sedikit ke belakang, aku merasa terpikat. Sambil menatapnya, aku berpikir.
----Aku tidak bisa menjadi seorang pahlawan.
Maka setidaknya, aku bisa bergerak maju dengan percaya diri. Sama seperti sebelumnya. Seperti setahun yang lalu.
“Turnamennya” (Renji)
"Hmm ?"
"Tidak, yah, aku berpikir mungkin aku bisa mencoba sedikit lebih keras di turnamen nanti."
Aku ragu jika hanya mencoba saja akan bisa membuatku menang, tapi tetap saja, aku mungkin akan sedikit berubah.
Itu saja akan memiliki arti yang cukup bagiku.
Aku bukanlah seorang Pahlawan.
Tetapi bahkan diriku, pernah mengagumi para pahlawan itu.